Anda di halaman 1dari 18

MARSUPIALIA ENDEMIK

PAPUA BANDICOOT
( E C H Y M I P E R A S P. )

IFAN SUN ANDY 0611 15 010


NOOR FITRI FADHILLAH 0611 15 030
Bandikut (Echymipera sp.) merupakan salah satu satwa
endemik Papua yang saat ini statusnya masih sebagai hewan liar
dan populasinya masih berlimpah pada habitat yang sesuai
(Leary et al. 2008). Hewan ini merupakan hewan berkantung
(Marsupialia) yang hidup di atas tanah (ground-dwelling)
bandikut diburu di alam dan dikonsumsi dagingnya, untuk itu,
diperlukan suatu upaya konservasi agar spesies bandikut dapat
tetap lestari (Warsono, 2009).
DESKRIPSI
• Merupakan hewan marsupialia
• Omnivora
• Soliter
• Nokturnal
• Kaki belakang memanjang seperti pada kangguru
• Bandikut tersebar luas di wilayah papua dan australia
• Hidup pada daerah terbuka
• Wilayahnya mulai dari 60 – 1900 mdpl
• Jantan memilki berat tubuh hingga 3,9 kg
• Dan betina 2,5 kg
KLASIFIKASI
E. kalubu

E. rufescenes
M O R F O LO G I
D A N A N AT O M I
• Bandikut dapat mudah diketahui dari jari kaki belakang kedua dan
ketiga padapangkal cakarnya disatukan oleh kulit sementara ujung
sendi terakhir kukunnya terpisah
• Memilki 4 jari dan 2 jari yang menempel digunakan sebagai
membersihkan diri dari ektoparasit dan mencakar, dan 3 buah cakar
untuk menggali
• Bandikut memilki gigi poliprotodon
REPRODUKSI
Bandikut memiliki laju reproduksi yang paling tinggi diantara semua marsupialia,
dengan jumlah anak perkelahiran 2-4 ekor dan frekuensi beranak sebanyak 5-6
kali dalam setahun, dengan masa bunting selama12-13hari dan menyusui selama
53-60 hari. Dengan siklus estrus selama 21 hari.

• Proses kelahiran dari bandikut sama seperti hewan-hewan marsupialia


lainnya. Anak-anak bandikut lahir dalam kondisi terlalu muda, tetapi mampu
merayapi rambut induknya dan masuk ke kantung. Bandikut mempunyai
plasenta korialantois. Ini merupakan ciri khas yang unik dari semua hewan
marsupialia. Plasenta ini merupakan saluran berbentuk bebat panjang yang
menghubungkan dinding uterus induk dan embrio.
• Rata-rata panjang anak bandikut yang baru dilahirkan sekitar 13 mm dengan
berat 0,2 gram.
• Sistem reproduksi hewan jantan secara
umum terdiri atas sepasang testis, vas
deferens, epididimis, kelenjar asesoris dan • Testis berfungsi untuk menghasilkan
penis. Marsupial jantan memiliki saluran spermatozoa dan sekresi hormon
reproduksi yang terdiri atas testis, androgen yang berbentuk elipsoid.
epididimis, vas deferens, kelenjar prostat,
kelenjar Cowper, penis dan glans penis • Epididimis dihubungkan dengan testis
yang berbentuk bhipid atau tunggal oleh duktus efferens yang berfungsi
(Renfree 1993). menyalurkan spermatozoa dan
menyerap sebagian besar cairan yang
• Echymipera sp. jantan ditandai dengan
dikeluarkan oleh testis.
adanya dua buah testes yang terbungkus
dalam skrotum menggantung keluar • Kelompok hewan marsupial memiliki
abdomen sekitar tiga cm dari anus. Saluran jumlah kelenjar Cowper yang
akhir alat reproduksi, saluran kencing dan bervariasi dari satu hingga tiga buah.
saluran pembuangan kotoran bermuara
dalam satu saluran anus mirip kloaka pada
unggas (Tethool, 2011).
PENCERNAAN • Esofagus bandikut berukuran panjang 10,92 cm dan
diameter 0,28-0,6 cm. Ukuran esofagus relatif panjang
kira-kira mencapai sepertiga panjang badan. Hal ini
disebabkan oleh ruang toraks yang luas.
• Ditemukan kelenjar esofagus yang sangat banyak,
diduga berkaitan dengan ukuran esofagus yang cukup
panjang, dan dibutuhkan untuk melicinkan makanan
sehingga makanan dapat dengan mudah menuju ke
lambung selain dibantu oleh gerakan peristaltik yang
dilakukan oleh otot dinding esofagus (Maker, 2016).

Mukosa esofagus tersusun atas epitel pipih


banyak lapis dan tidak mengalami keratinisasi. Ada
Gambar 1. Situs viscerum bandikut (a=
Esofagus: Berukuran panjang dan bermuara tidaknya keratin terkait dengan adaptasi terhadap
ke bagian kranial lambung, b= Lambung: jenis pakan yang dikonsumsi. Hewan yang
Sebagian besar tertutup oleh hati, c= Hati
yang berukuran besar, d= Limpa, e= Usus
mengonsumsi pakan yang keras atau mengandung
halus, f= Usus besar yang berukuran pendek serat kasar umumnya berkeratin.
dan bermuara ke anus, g= Anus)
• Bentuk lambung bandikut mirip dengan bentuk lambung kelelawar Pteropus alecto yang
membesar, panjang dan kompleks dengan ukuran panjang lambung 7-10 cm dengan rataan
8,45 cm pada jantan dan 8,04 cm pada betina.
• Bentuk lambung tunggal yang dimiliki bandikut menunjukkan bahwa jenis pakan yang
dikonsumsi umumnya adalah pakan yang lebih mudah dan tidak membutuhkan waktu yang
lama untuk proses pencernaannya, seperti buah-buahan yang masak dan lunak, umbi-
umbian, cacing dan serangga.

Morfologi lambung bandikut (Mukosa lambung membentuk lipatan-lipatan yang berjalan longitudinal. Pada batas daerah
pilorus dengan duodenum terdapat otot sfringter, A= Eksterior, B= Interior. Cma=Curvatura mayor: Panjang, Cmi= Curvatura
minor: Pendek. Py= Pilorus, Duo= Duodenum, Anak panah= Otot sfringter, Eso = Esofagus)
• Lambung memiliki tiga daerah kelenjar yaitu daerah kelenjar kardia yang sempit,
sedangkan daerah kelenjar fundus yang luas, dan daerah kelenjar pilorus yang
mencapai sepertiga bagian lambung.

Gambar 8. Kelenjar lambung bandikut (Cg= Di daerah kardia, Eso= Esofagus, Fd= Fundus, Py= Pilorus:
Berbatasan dengan duodenum, Duo= Duodenum: Menghasilkan mukopolisakarida yang bersifat asam dan netral
yang terdeteksi hampir di semua bagian lambung dengan konsentrasi yang bervariasi, Pewarnaan AB dan PAS,
Bar= 100 µm).
• Bandikut (Echymipera sp.) merupakan salah satu satwa endemik Papua yang
saat ini statusnya tidak termasuk jenis dalam daftar CITES (Convention on
International Trade in Endangered Species of wild fauna and flora), baik pada
appendix I maupun appendix II. Artinya, bandikut dapat diperdagangkan
secara internasional dan populasinya tidak dalam taraf yang membahayakan.
• Menurut Flannery (1995), bandikut termasuk dalam kategori squre dan tidak
masuk kedalam kategori dan kriteria kelangkaan menurut IUCN (International
Union for Conservation of Nature and Natural Resources). Hal ini berarti satwa
bandikut di Indonesia masih aman dan tidak terancam punah atau tingkat
kepunahannya masih rendah (Warsono 2009).
PERANAN
• Bandikut adalah hewan marsupialia (berkantung) yang dimanfaatkan sebagai
sumber protein hewani dan memiliki nilai etno-zoologis (rambut, tulang dan anak
bandikut umur 12 hari dipercaya berkhasiat untuk pengobatan) bagi masyarakat
Papua (Warsono 2009).
• Pemanfaatan satwa liar secara umum yang berasal dari alam, nantinya dapat
menyebabkan menurunnya jumlah populasi sehingga perlu adanya suatu upaya
penanganan yang mengarah pada kegiatan konservasi.
MARSUPIALIA ENDEMIK
PAPUA BANDICOOT
( E C H Y M I P E R A S P. )
IFAN SUN ANDY 0611 15 010
NOOR FITRI FADHILLAH 0611 15 030