Anda di halaman 1dari 15

PAPER TENTANG HEWAN MAMALIA MARSUPIALIA BANDICOOT

(Echymipera sp.) TAKSONOMI, ANATOMI, FISIOLOGI


DAN PERANAN DI ALAM
IFAN SUNANDY (0611 15 010) NOOR FITRI FADHILLAH (0611 15 030)

Dosen Pengampu : Dra. Moerfiah, M.Si

PROGRAM STUDI BIOLOGI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS PAKUAN

BOGOR

2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan

rahmat serta hidayah-Nya sehingga penyusunan tugas ini dapat diselesaikan. Paper ini

saya susun sebagai tugas dari mata kuliah Mamalogi dengan judul “Paper Tentang

Hewan Mamalia Marsupialia Bandicoot (Echymipera sp.) Taksonomi, Anatomi,

Fisiologi Dan Peranan Di Alam”.

Terima kasih saya sampaikan kepada Ibu Dra. Moerfiah, M.Si selaku dosen

mata kuliah Mamalogi yang telah membimbing dan memberikan kuliah demi

kelancaran terselesaikannya tugas makalah ini.

Demikianlah tugas ini saya susun semoga bermanfaat dan dapat memenuhi

tugas mata kuliah Mamalogi dan penulis berharap semoga paper ini bermanfaat bagi

diri kami dan khususnya untuk pembaca. Dengan segala kerendahan hati, saran-saran

dan kritik yang konstruktif dan membangun sangat kami harapkan dari para pembaca

guna peningkatan pembuatan makalah pada tugas yang lain dan pada waktu

mendatang.

Terima kasih.

Wassalamualaikum, wr., wb.

Bogor, 06 Desember 2017


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Bandikut (Echymipera sp.) adalah hewan berkantung (marsupialia) yang hidup


di atas tanah (ground-dwelling) dikenal sebagai hewan omnivora, nokturnal, soliter,
polygamus, suka berkelahi (frugnacious) dan mudah stress (nervous). Lama hidup
potensial bandikut adalah 6 tahun, tetapi rata-rata 3-4 tahun (Lobert and Lee, 1990)
dengan spektrum habitat yang luas dan daerah jelajah (home range) 4-40 Ha
(Gemmell, 1988; Cockburn, 1990) (Warsono, 2009).
Bandikut (Echymipera sp.) merupakan salah satu satwa endemik Papua yang
saat ini statusnya masih sebagai hewan liar dan populasinya masih berlimpah pada
habitat yang sesuai (Leary et al. 2008). Satwa ini tergolong Ordo Peramelemorphia
dengan Famili Peramelidae dan Peroryctidae. Famili Peramelidae banyak terdapat di
Australia, sedangkan Famili Peroryctidae terutama genus Echymipera banyak
ditemukan pada daerah New Guinea termasuk Papua (Gordon & Hulberth 1989).
Hewan ini merupakan hewan berkantung (Marsupialia) yang memiliki sifat
nokturnal, soliter dan omnivora (Menzies 1991).
Bandikut bersifat nokturnal, soliter dan omnivora, memakan beberapa jenis
insekta, invertebrata, vertebrata kecil, dan beberapa bagian tanaman (Anderson et al.,
1988). Bandikut diburu di alam dan dikonsumsi dagingnya karena daging bandikut
memiliki daya mengikat air yang cukup tinggi sehingga kualitasnya lebih baik karena
dapat meningkatkan juiceness dan keempukan daging serta menurunkan susut masak.
Untuk itu, diperlukan suatu upaya konservasi agar spesies bandikut dapat tetap lestari
(Warsono, 2009).

1.2 TUJUAN

Paper ini bertujuan untuk mempelajari taksonomi, sistem fisiologi, morfologi


dan peranan bandikut dialam.
1.3 MANFAAT

Paper diharapkan bermanfaat untuk sebagai bahan belajar untuk mengenal


sistem fisiologi, peran bandikut dialam dan sistem anatomi jenis mamalia marsupialia
sebagai satwa endemik Papua dan sebagai dasar untuk mempelajari pola adaptasi dan
tingkah laku hewan ini yang berguna untuk mendukung upaya konservasi, baik insitu
maupun eksitu.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Klasifikasi Bandikut


Nama bandikut (bandicoot) pertama kali diberikan tahun 1799 oleh peneliti
pada beberapa marsupialia Australia dari bahasa Telugu (‘pandi-kokku’) dari suku
yang tinggal di dataran Deccan India Tengah yang berarti “tikus babi”, yaitu nama
tikus lokal India dari marga Bandicota (Petocz, 1994). Menurut Menzies (1991) dan
Chambers (2001) semua jenis bandikut dapat mudah dikenali karena ciri utamanya
yaitu jari kaki belakang kedua dan ketiga pada pangkal cakarnya disatukan oleh kulit
dan hanya ujung sendi terakhir dan kukunya yang terpisah. Kedua jari yang bersatu
tersebut berfungsi sebagai sisir untuk membersihkan diri dari ektoparasit dan kotoran.
Bandikut mempunyai susunan gigi poliprotodon yaitu mempunyai banyak pasang gigi
seri di rahang bawah dan di antara taring. Formula susunan gigi : I 4-5/3, C 1/1, P
3/3, M 4/4 (Tate, 1948 dan Lindenmayer, 1997) (Warsono, 2009).
Secara umum kedudukan bandikut dalam sistematika zoologis adalah sebagai
berikut (Van Der Zon, 1979; Strahan, 1990; Flannery, 1995a dan 1995b; Petocz,
1994) :

Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Sub Phylum : Vertebrata
Classis : Mammalia
Subclass : : Theria (Parker and Haswell,1897)
Infraclass : Metatheria (Huxley, 1880)
Superordo : Marsupialia (Illeger, 1811)
Ordo : Peramelemorphia (Kirsch,1968) – Bandicoots and bilbies
Familia : Peroryctidae (Groves and Flannery,1990) – Peroryctid
bandicoots
Genus : 1. Peroryctes, terdiri dari lima spesies yaitu :
a. Peroryctes broadbenti, (Giant Bandicoot)
b. Peroryctes raffrayanus, (Raffrays Bandicoot)
c. Peroryctes longicauda, (Stripped Bandicoot)
d. Peroryctes papuensis, (Papuan Bandicoot)
e. Microperoryctes murina, (Mouse Bandicoot)

2. Echymipera, terdiri dari 4 spesies yaitu :


a. Echymipera clara, (White Lipped Bandicoot)
b. Echymipera kalubu, (Kalubu Bandicoot)
c. Echymipera rufescens, (Rufous Spiny Bandicoot)
d. Rhyncomeles prattorum, (Scram Island Bandicoot)

3. Isoodon, terdiri dari 1 spesies yaitu :


a. Isoodon macrourus

2.2 Morfologi Bandikut

Bandikut dapat dengan mudah diketahui karena dua ciri utama yaitu pertama,
jari kaki belakang kedua dan ketiga pada pangkal cakarnya disatukan oleh kulit dan
hanya ujung sendi terakhir kukunya yang terpisah lalu jumlah jari-jari pada kaki
bandikut berjumlah empat. Bersama-sama kedua jari tersebut bekerja sebagai satu
digit dan membentuk sisir yang dapat dipakai untuk membersihkan tubuh dan
ektoparasit dan kotoran. Kedua, semua bandikut mempunyai susunan gigi
poliprotodon yang berarti mempunyai gigi tidak kurang dari tiga pasang gigi seri pada
rahang bawah dan diantara taring (Petocz, 1994).
Bandikut mempunyai kepala panjang dengan telinga agak berbulu dan
moncong runcing yang menandakan indera penciumannya yang tajam. Tubuhnya
agak kompak dan berukuran antara kelinci besar dan tikus. Kaki belakang memanjang
mirip kaki kuskus dan kanguru atau walabi yang memungkinkan bandikut untuk
berjingkrak, berlari kencang dan meloncat. Tungkai kaki depan jauh lebih pendek
tetapi kuat dan mempunyai tiga cakar yang mencolok untuk menggaruk dan menggali.
Panjang ekornya beragam dan tidak prehensile. Rambutnya halus tetapi ada yang
jarang, agak kasar dan kaku, terutama pada bandikut berduri dari genus Echymipera.
Warna bulunya beragam bergantung pada spesies, bisa orange, kelabu coklat atau
bergaris. Panjang bandikut berkisar antara 28-81 cm dengan panjang ekor sampai
20cm (Manzies, 1991). Populasinya tersebar luas di dataran rendah pada habitat hutan
tertutup, hutan terbuka, padang rumput dan semak belukar yang lebih kering di pulau
Waigeo, Biak dan Yapen serta bagian utara, timur, Manokwari, Merauke dan selatan
New Guinea dengan ketinggian 1550 m dari permukaan laut (Gordon et al. 1990)
(Yohanita 2009).

2.3 Anatomi Bandikut


Bandikut mempunyai laju reproduksi tertinggi 90% diantara semua
Marsupialia. Hal ini mirip tikus, dalam reproduksi banyak anak dan perawatan induk
yang relatif rendah. Tetapi karena binatang ini bersifat insektivor, maka di Papua
bandikut menghuni suatu relung ekologi yang di Indonesia bagian Barat dihuni oleh
celurut dan di Eropa oleh landak (Petocz, 1994) (Maker, 2016).
Sistem reproduksi hewan jantan secara umum terdiri atas sepasang testis, vas
deferens, epididimis, kelenjar asesoris dan penis. Marsupial jantan memiliki saluran
reproduksi yang terdiri atas testis, epididimis, vas deferens, kelenjar prostat, kelenjar
Cowper, penis dan glans penis yang berbentuk bhipid atau tunggal (Renfree 1993).
Echymipera sp. jantan ditandai dengan adanya dua buah testes yang terbungkus dalam
skrotum menggantung keluar abdomen sekitar tiga cm dari anus. Saluran akhir alat
reproduksi, saluran kencing dan saluran pembuangan kotoran bermuara dalam satu
saluran anus mirip kloaka pada unggas (Warsono 2009) (Tethool, 2011).
Bandikut mempunyai ciri yang unik diantara Marsupialia lain yaitu
mempunyai plasenta korianlantois, saluran ini berbentuk bebat panjang yang
menghubungkan antara dinding uterus ke embrio. Struktur ini masih primitif dan tidak
berfungsi karena tidak terjadi pertukaran nutrisi dan darah antara induk dan anaknya,
walaupun plasenta korianlantois yang panjang akan tetap melekat pada anak itu
sampai anak tersebut dapat menemukan puting dan melekat padanya. Plasenta itu
berguna untuk mengikat anak yang baru lahir dengan induknya, selama perjalanan ke
kantong yang sangat penting bila ada gangguan selama proses kelahiran (Heinsohn,
1966). Normalnya bandikut mempunyai delapan puting dan ada beberapa mempunyai
enam puting tetapi anak yang dilahirkan hanya berjumlah empat atau kurang. Kantung
membuka kearah bawah dan belakang (Menzies, 1991).
2.4 Fisiologi Bandikut

2.4.1 Sistem Reproduksi


Menurut Petocz (1994), di antara hewan marsupial, bandikut memiliki
laju reproduksi paling tinggi. Selama setahun seekor betina dewasa mampu
melahirkan 5-6 kali dengan jumlah anak per kelahiran 3-4 ekor, lama bunting
12-13 hari dan lama menyusui 50-60 hari. Selama menyusui induk bandikut
juga dalam keadaan mengasuh anak yang belum lepas sapih dan bunting,
sehingga mampu memelihara sekaligus tiga kali kelahiran anak dalam waktu
yang sama, yaitu selama bunting, anak di dalam kantung dan anak yang
sedang disapih (Stodart, 1977; Fishman, 2001). Satwa ini memiliki struktur
organ reproduksi yang unik, dimana saluran akhir alat reproduksi, saluran
kencing dan saluran pembuangan kotoran bermuara dalam satu saluran anus
mirip kloaka pada unggas (Warsono 2009).
Proses kelahiran dari bandikut sama seperti hewan-hewan marsupialia
lainnya (Hewan berkantung). Anak-anak bandikut lahir dalam kondisi terlalu
muda, tetapi mampu merayapi rambut induknya dan masuk ke kantung.
Bandikut mempunyai plasenta korialantois. Ini merupakan ciri khas yang unik
dari semua hewan marsupialia. Plasenta ini merupakan saluran berbentuk
bebat panjang yang menghubungkan dinding uterus induk dan embrio.
Struktur ini masih primitif dan tidak berfungsi karena tidak terjadi pertukaran
nutrisi dan darah antara induk dan anaknya, walaupun plasenta korianlantois
yang panjang akan tetap melekat pada anak itu sampai anak tersebut dapat
menemukan puting dan melekat padanya. Plasenta itu berguna untuk mengikat
anak yang baru lahir dengan induknya, selama perjalanan ke kantong yang
sangat penting bila ada gangguan selama proses kelahiran (Heinsohn, 1996).
Siklus estrus rata-rata 21 hari dan induk mulai kawin kembali setelah
anak di dalam kantung umur 49-50 hari (Lyne, 1976). Anaknya berhenti
menyusu pada umur 59-61 hari ketika induk melahirkan anak berikutnya.
Rata-rata kelahiran terjadi setiap 65 hari atau 6 kali kelahiran terjadi selama 13
bulan (Stodart, 1977) (Warsono 2009).
2.4.2 Sistem Pencernaan
Organ-organ yang terlibat dalam proses pencernaan makanan terdiri
atas saluran pencernaan dan organ atau kelenjar asesorisnya. Saluran
pencernaan terdiri atas rongga mulut, esofagus, lambung, usus halus dan usus
besar serta anus, sedangkan kelenjar asesoris terdiri atas sedikitnya tiga pasang
kelenjar ludah, pankreas, hati, dan kantung empedu (Pough et al., 2005).
Variasi jenis makanan yang dikonsumsi oleh setiap spesies mengakibatkan
adanya adaptasi morfologis pada saluran pencernaan. Secara makroskopis,
adaptasi morfologi dapat dilihat pada variasi bentuk dan ukuran setiap bagian
organ pencernaan dan situs viscerum. Secara mikroskopis, dapat dilihat
adanya variasi pada struktur mukosa, distribusi kelenjar pencernaan dan
macam sel, serta substansi mukus yang terkandung di dalamnya (Eurell dan
Frappier, 2006) (Maker, 2016).
Esofagus bandikut berukuran panjang 10,92±1,97 cm dan diameter
0,28±0,06 cm, berjalan di sepanjang dorsamedial trakea. Di daerah bifurcatio
tracheae, esofagus sedikit menurun ke arah distal dan kemudian menembus
diafragma di daerah hiatus esofagus dan bermuara di lambung (Gambar 1).
Ukuran esofagus relatif panjang kira-kira mencapai sepertiga panjang badan.
Hal ini disebabkan oleh ruang toraks yang luas. Hasil penelitian ini hampir
sama dengan esofagus pada burung walet meskipun tergolong aves, pada
burung walet tidak ditemukan adanya tembolok, dengan ukuran panjang rata-
rata esogafus 2,39 cm (Novelina et al., 1999) (Maker, 2016).

Gambar 1. Situs viscerum bandikut (a= Esofagus: Berukuran panjang dan bermuara ke bagian
kranial lambung, b= Lambung: Sebagian besar tertutup oleh hati, c= Hati yang berukuran besar, d=
Limpa, e= Usus halus, f= Usus besar yang berukuran pendek dan bermuara ke anus, g= Anus)

Mukosa esofagus Echymipera sp. tersusun atas epitel pipih banyak


lapis. Keratinisasi pada lapisan permukaan epitel mukosa esofagus bervariasi
pada setiap spesies. Umumya pada kelompok karnivora dan omnivora epitel
pipih banyak lapis tidak mengalami keratinisasi. Pada babi epitel esofagus
mengalami sedikit keratinisasi, kelompok herbivora dan ruminansia seperti
kuda, kambing dan domba esofagus umumnya mengalami keratinisasi. Ada
tidaknya keratin terkait dengan adaptasi terhadap jenis pakan yang
dikonsumsi. Hewan yang mengonsumsi pakan yang keras atau banyak
mengandung serat kasar umumnya berkeratin. Keratin berfungsi untuk
melindungi dinding mukosa terhadap abrasi oleh pakan yang dikonsumsi
(Eurell dan Frappier 2006) (Maker, 2016).
Ditemukannya kelenjar esofagus yang sangat banyak di bagian kranial
dan berkurang ke arah kaudal. Sebaran kelenjar esofagus berbeda antar spesies
hewan. Pada kuda, kambing, domba, dan kucing sebaran kelenjar terbatas
hanya di bagian kranial, sedangkan pada anjing ditemukan di sepanjang
esofagus (Eurell dan Frappier, 2006). Pada musang luak tidak ditemukan
kelenjar esofagus (Kusumastuti, 2012). Banyaknya kelenjar esofagus diduga
berkaitan dengan ukuran esofagus yang cukup panjang, sehingga dibutuhkan
untuk melicinkan makanan. Kelenjar mukus berfungsi membasahi dan
melicinkan makanan sehingga makanan dapat dengan mudah menuju ke
lambung selain dibantu oleh gerakan peristaltik yang dilakukan oleh otot
dinding esofagus (Eurell dan Frappier, 2006) (Maker, 2016).
Lambung berada di bagian kranial ruang abdomen sebelah kiri. Bagian
anteriornya berbatasan dengan otot diafragma, bagian ventro-medial ditutupi
oleh hati dan bagian lateral oleh limpa. Kondisi ini mirip seperti pada mamalia
umumnya, misalnya pada marsupialia insektivora kecil (Stannard dan Julie,
2013). Lambung bandikut bertipe tunggal dengan ukuran curvatura mayor
9,1±2,2 cm dan curvatura minor 2,1±0,6 cm (Gambar 2). Ukuran curvatura
minor yang pendek menyebabkan jarak antara permuaraan esofagus ke
lambung dengan duodenum relatif dekat. Bentuk lambung bandikut mirip
dengan lambung kelelawar Pteropus alecto dengan ukuran panjang lambung
7-10 cm dengan rataan 8,45 cm pada jantan dan 8,04 cm pada betina (Pendong
et al., 2015) dan trenggiling (Manis javanica) (Nisa, 2005).
Namun, sedikit berbeda dengan spesies omnivora Akodon cursor dari
kelompok rodensia yang juga lebih menyukai jenis serangga memiliki bentuk
lambung tunggal dengan adanya antrum yang lebih berkembang (Finotti et al.,
2012). Bentuk lambung tunggal yang dimiliki bandikut menunjukkan bahwa
jenis pakan yang dikonsumsi umumnya adalah pakan yang lebih mudah dan
tidak membutuhkan waktu yang lama untuk proses pencernaannya, seperti
buah-buahan yang masak dan lunak, umbi-umbian, cacing dan serangga.
Bentuk lambung bandikut mirip dengan kelelawar Pteropus alecto yang
membesar, panjang, dan kompleks memungkinkan tersedianya ruang dan areal
permukaan yang dibutuhkan untuk pencernaan dan absorbsi nutrien dari
volume makanan (Pendong et al., 2015).

A B
Gambar 2. Morfologi lambung bandikut (Mukosa lambung membentuk lipatan-lipatan yang
berjalan longitudinal. Pada batas daerah pilorus dengan duodenum terdapat otot sfringter, A=
Eksterior, B= Interior. Cma=Curvatura mayor: Panjang, Cmi= Curvatura minor: Pendek.
Py= Pilorus, Duo= Duodenum, Anak panah= Otot sfringter, Eso = Esofagus)

Lambung memiliki tiga daerah kelenjar yaitu daerah kelenjar kardia,


fundus, dan pilorus. Daerah kelenjar kardia sempit terdapat di permuaraan
esofagus. Kelenjarnya berbentuk tubular sederhana yang tersusun oleh sel-sel
kuboid dengan inti terletak di basal. Kondisi ini mirip dengan kelelawar
pemakan buah (Forman, 1990;), dan landak jawa (Wulansari, 2012), namun
berbeda dengan babi. Pada babi yang merupakan hewan omnivora daerah
kardia cukup luas mencapai hampir separuh ukuran lambung (Eurell dan
Frappier, 2006). Kelenjar kardia berfungsi menghasilkan mukus untuk
melindungi mukosa esofagus terhadap kemungkinan terjadinya reflux ingesta
dari lambung yang bersifat asam ke esofagus (Telford dan Bridgman, 1995)
(Maker, 2016).
Daerah kelenjar fundus bandikut memiliki daerah yang paling luas,
terutama di bagian curvatura mayor. Kelenjar fundus memiliki setidaknya
empat macam sel penyusun mukosa, yaitu sel parietal, sel utama, sel leher,
dan sel mukus. Sel parietal berfungsi menyekresikan HCl. Banyaknya sel
parietal pada kelenjar fundus menunjukkan bahwa sel tersebut memegang
peran penting dalam proses pencernaan di lambung bandikut.
Kelenjar pilorus berbentuk tubulus bercabang dan permukaan mukosa
memiliki gastric pit yang dalam. Kelenjar pilorus bertipe mukus, ditemukan
di daerah sepertiga akhir bagian lambung. Pada bagian perbatasan antara
pilorus lambung dengan usus, ditemukan adanya otot sfringter, yang tebal
namun tidak simetris. Kondisi ini berbeda dengan musang luak, yang tidak
nampak jelas adanya penebalan otot yang membentuk sfringter (Kusumastuti,
2012). Sfringter pilorus berperan dalam mengatur masuknya makanan dari
lambung menuju ke usus (Telford dan Bridgman, 1995) (Maker, 2016).
Kelenjar kardia menyekresikan mukopolisakarida yang bersifat netral
dengan konsentrasi tinggi di bagian lumen hingga ke epitel mukosa,
sedangkan mukopolisakarida yang bersifat asam dengan konsentrasi tinggi
ditemukan juga di bagian lumen, dan konsentrasi lemah ditemukan di epitel
mukosa (Gambar 8). Sifat dan konsentrasi mukopolisakarida yang
disekresikan kelenjar kardia bandikut yang ditemukan berbeda dengan
beberapa hewan.

Kardia Fundus Pilorus

Gambar 8. Kelenjar lambung bandikut (Cg= Di daerah kardia, Eso= Esofagus, Fd= Fundus,
Py= Pilorus: Berbatasan dengan duodenum, Duo= Duodenum: Menghasilkan
mukopolisakarida yang bersifat asam dan netral dengan konsentrasi yang bervariasi,
Pewarnaan AB dan PAS, Bar= 100 µm)

2.5 Peran Bandikut di Alam


Bandikut (Echymipera sp.) merupakan salah satu satwa endemik Papua yang
saat ini statusnya masih sebagai hewan liar yang tidak dilindungi undang-undang dan
populasinya belum diketahui. Satwa ini tidak termasuk jenis dalam daftar CITES
(Convention on International Trade in Endangered Species of wild fauna and flora),
baik pada appendix I maupun appendix II. Artinya, bandikut dapat diperdagangkan
secara internasional dan populasinya tidak dalam taraf yang membahayakan. Menurut
Flannery (1995), bandikut termasuk dalam kategori squre dan tidak masuk kedalam
kategori dan kriteria kelangkaan menurut IUCN (International Union for
Conservation of Nature and Natural Resources). Hal ini berarti satwa bandikut di
Indonesia masih aman dan tidak terancam punah atau tingkat kepunahannya masih
rendah (Warsono 2009).
Bandikut adalah hewan marsupialia (berkantung) yang dimanfaatkan sebagai
sumber protein hewani dan memiliki nilai etno-zoologis (rambut, tulang dan anak
bandikut umur 12 hari dipercaya berkhasiat untuk pengobatan) bagi masyarakat Papua
(Warsono 2009).
KESIMPULAN

Bandikut (Echymipera sp.) adalah hewan berkantung (marsupialia) yang hidup


di atas tanah (ground-dwelling) dikenal sebagai hewan omnivora, nokturnal, soliter,
polygamus, suka berkelahi (frugnacious) dan mudah stress (nervous). Bandikut
memakan beberapa jenis insekta, invertebrata, vertebrata kecil, dan beberapa bagian
tanaman.
Satwa ini memiliki struktur organ reproduksi yang unik, dimana saluran akhir
alat reproduksi, saluran kencing dan saluran pembuangan kotoran bermuara dalam
satu saluran anus mirip kloaka pada unggas.
Karakteristik esofagus bandikut berukuran panjang, memiliki kelenjar, dan
muskularis eksternanya tersusun oleh otot bergaris melintang. Karakteristik lambung
bandikut bertipe tunggal dengan curvatura minor pendek. Daerah kelenjar kardia
sempit, sedangkan daerah kelenjar fundus luas, dan daerah kelenjar pilorus mencapai
sepertiga bagian lambung.
Bandikut adalah hewan marsupialia (berkantung) yang dimanfaatkan sebagai
sumber protein hewani dan memiliki nilai etno-zoologis (rambut, tulang dan anak
bandikut umur 12 hari dipercaya berkhasiat untuk pengobatan) bagi masyarakat
Papua.
DAFTAR PUSTAKA

Maker, U. P., 2016. Karakteristik Morfologi Esofagus Dan Lambung Bandikut


(Echymipera kalubu). Manokwari: Laboratorium Zoologi Jurusan Biologi
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Papua.

Manufandu, J. S., 2000. Pola Tingkah Laku Bandikut Hidung Panjang (Echymipera
rufescens) Di Penangkaran. Manokwari: Fakultas Pertanian Unversitas
Cendrawasih.

Nisa, C. 2005. Morphological Studies of the Stomach of Malayan Pangolin (Manis


javanica). Dissertation. Bogor: Graduate School Bogor Agricultural
University.

Petocz RG. 1994. Mamalia Darat Irian Jaya. Penerbit Gramedia Pustaka Utama.
Jakarta. Hlm 69-77.

Tethool, A. N., 2011. Karakteristik Reproduksi Bandikut (Echymipera kalubu) Jantan.


Bogor: Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.

Menzies J, 1991. A Handbook of New Guinea Marsupials and Monotremes. Kristen


Inc. Papua New Guinea. Pp 51-60.

Warsono IU. 2009. Sifat Biologis dan Karakteristik Karkas dan Daging Bandikut
(Echymipera kalubu). [disertasi]. Bogor: Sekolah Pascasarjana, Institut
Pertanian Bogor.

Yohanita AM. 2009. Keragaman Jenis Mamalia di Hutan Lahan Basah Dataran
Rendah Kaliki Kabupaten Merauke. Dalam: Krey K, Kemp N editor. Survei
Keanekaragaman Hayati Areal Konsesi HTI Medco Group di Kaliki-Merauke,
Papua Indonesia [Laporan Akhir]. Manokwari: Universitas Negeri Papua. Hal.
80-85.