Anda di halaman 1dari 23

PERANAN ORGANISASI

PROFESI PPNI DALAM


APLIKASI ETIKA DAN
KODE ETIK

KELOMPOK 10
Etika Hukum Keperawatan
 W.J.S. Poerwadarminta

Orgnss yaitu susunan dan aturan dari


berbagai bagian, sehingga merupakan
kesatuan yang teratur.
 James D. Mooney

Orgnss adalah bentuk setiap perserikatan


manusia untuk mencapai tujuan bersama.
 Chester I. Bernard

Orgnss merupakan suatu system aktivitas


kerjasama yang dilakukan oleh dua orang
atau lebih.
Dari berbagai pengertian di atas dapat kita simpulkan bahwa
organisasi merupakan suatu perserikatan manusia
antaradua orang atau lebih yang di dalamnya terdapat susunan
dan aturan serta system aktivitas kerja untuk mencapai tujuan
bersama.

Lalu, profesi dapat diartikan sbg suatu


pekerjaan yang dilakukan sebagai kegiatan
pokok untuk menghasilkan nafkah hidup dan
yang mengandalkan suatu keahlian.
ORGANISASI PROFESI
Merton mendefinisikan bahwa organisasi profesi adalah
organisasi dari praktisi yang menilai mempertimbangkan
seseorang atau yang lain mempunyai kompetensi professional
dan mempunyai ikatan bersama untuk menyelenggarakan fungsi
sosial yang mana tidak dapat dilaksanakan secara terpisah
sebagai individu.
Organisasi profesi mempunyai dua perhatian perhatian
utama:
1. Kebutuhan hukum untuk melindungi masyarakat dan
perawat yang tidak dipersiapkan dengan baik.
2. Kurangnya standar dalam keperawatan.
Organisasi profesi mempunyai ciri – ciri sebagai
berikut :
 Hanya ada satu organisasi untuk setiap profesi.
 Ikatan utama para anggota adalah kebanggan
dan kehormatan.
 Tujuan utama adalah menjaga martabat dan
kehormatan profesi.
 Kedudukan dan hubungan antar anggota bersifat
persaudaraan.
 Memiliki sifat kepemimpinan kolektif.
 Mekanisme pengambilan keputusan atas dasar
kesepakatan.
PERSATUAN PERAWAT NASIONAL
INDONESIA (PPNI)
Organisasi profesi ini lahir berdasarkan serangkaian
perundingan beberapa tokoh tenaga keperawatan dari
berbagai organisasi keperawatan yang berdiri sendiri.
PPNI didirikan pada tanggal 17 Maret 1974

PPNI Dan saat ini sudah dibentuk


kepengurusan INNA-K ( Indonesian National
Nurses Association in Kuwait).

Sejak Juni 2003, PPNI telah menjadi anggota ICN


Ibu Kota Negara (International Council Nursing) yang ke – 125.
(1 Pengurus Pusat )

dan lebih dari


Propinsi Kabupaten/Kota
2500
Pengurus Komisariat
(32 Pengurus) (358 Pengurus) (tempat kerja)
VISI MISI PPNI
Visi : menjadi suara yang kuat bagi komunitas
keperawatan dan komit terhadap pemberian asuhan
keperawatan professional yang berkualitas bagi
kepentingan masyarakat.

Misi :
1. Memantapkan manajemen dan kepemimpinan Pengurus PPNI untuk
mencapai suatu kepengurusan yang kokoh dan jejaring kerja yang
pada semua tingkat Pusat, Provinsi, Kabupaten atau Kota, dan
Komisaria.
2. Mendukung perawat Indonesia dalam melakukan praktik
keperawatan yang aman, kompeten dan professional bagi
masyarakat.
3. Membuka pintu gerbang dunia bagi perawat Indonesia melalui
kompetensi global yang dimiliki.
Adapun fungsi dari PPNI adalah sebagai:
1. Sebagai wadah tenaga keperawatan yang memiliki
persamaan kehendak sesuai dgn jenis/profesi dan
lingkungan kerja utk mencapai tujuan organisasi.
2. Mengemban, mengamankan &membela Pancasila
serta berorientasi pd program pembangunan manusia
seutuhnya tanpa membedakan thdp Tuhan YME.
3. Menampung, memadukan, menyalurkan dan
memperjuangkan aspirasi tenaga keperawatan serta
mengembangkan keprofesian dan kesejahteraan
tenaga keperawatan.
Dalam pengembangan keperawatan organisasi profesi PPNI berfungsi:
1. Secara aktif turut dalam merumuskan dan menetapkan standar
profesi untuk pendidikan tinggi keperawatan dan untuk pelayanan
dan asuhan keperawatan dan kompetensi lulusan pendidikan
tinggi keperawatan.
2. Turut mengidentifikasi berbagai jenis ketenagaan keperawatan
dengan berbagai jenjang kemampuan yang diperlukan dalam
pengembagan keperawatan dimasa depan.
3. Ikut menyusun criteria dan mekanisme penapisan serta
penerapan teknologi keperawatan maju secara tepat guna dan
demi kemaslahatan masyarakat secara keselurahan.
4. Bertanggung jawab dalam pengendalian dan pemanfaatan lulusan
pendidikan tinggi keperawatan khususnya dalam hal legislasi
keperawatan professional.
ETIKA DAN KODE ETIK KEPERAWATAN
Etika adalah ilmu tentang kesusilaan yang menentukan
bagaimana sepatutnya manusia hidup di dalam masyarakat
yang menyangkut aturan-aturan atau prinsip-prinsip yang
menentukan tingkah laku yang benar, yaitu baik dan buruk,
kewajiban dan tanggung jawab (Ismani: 2000).
Kode etik adalah suatu pernyataan formal mengenai suatu
standar kesempurnaan dan nilai kelompok. Kode etik
adalah prinsip etik yang digunakan oleh semua anggota
kelompok, mencerminkan penilaian moral mereka
sepanjang waktu, dan berfungsi sebagai standar untuk
tindakan profesional mereka.
Aturan yang berlaku untuk seorang perawat Indonesia
dalam melaksanakan tugas atau fungsi perawat adalah
kode etik perawat nasional Indonesia.
Tujuan kode etik adalah agar profesional memberikan jasa
sebaik-baiknya kepada pemakai atau penggunanya. Adanya
kode etik, akan melindungi perbuatan yang tidak
professional.
Prinsip bahwa dasar kode etik adalah menghargai hak dan
martabat manusia, tidak akan pernah berubah. Adapun fungsi
kode etik menurut Hypocrates, yaitu :
1. Menghindari ketegangan antar manusia
2. Memperbaiki status kepribadian
3. Menopang pertumbuhan dan perkembangan kehidupan
Kode etik bukan merupakan kode yang kaku karena akibat
perkembangan zaman maka kode etik mungkin menjadi usang
atau sudah tidak sesuai dengan tuntutan zaman.
Kode etik disusun oleh organisasi profesi sehingga masing-
masing profesi memiliki kode etik tersendiri. Misalnya, kode etik
dokter , perawat, dan lain-lain.
Kode etik disusun dan disahkan oleh organisasi atau wadah yang membina profesi
tertentu baik scr nasional maupun internasional. Kode etik keperawatan di
Indonesia telah disusun oleh Dewan Pimpinan Pusat PPNI melalui Musyawarah
Nasional PPNI di Jakarta [29 November 1989]
Kode etik keperawatan Indonesia tersebut terdiri dari 4 bab dan 16 pasal.
 Bab 1 terdiri dari 4 pasal, menjelaskan tentang tanggung jawab perawat terhadap
individu, keluarga dan masyarakat.
 Bab 2 terdiri dari 5 pasal, menjelaskan tentang tanggung jawab perawat terhadap
tugasnya.
 Bab 3 terdiri dari 2 pasal, menjelaskan tentang tanggung jawab perawat terhadap
sesama perawat dan profesi kesehatan lain.
 Bab 4 terdiri dari 4 pasal, menjelaskan tentang tanggung jawab perawat
terhadapa profesi keperawatan.
 Bab 5 terdiri dari 2 pasal, menejelaskan tentang tanggung jawab perawat
terhadap pemerintah, bangsa dan tanah air. (Ismani: 2000)
Tanggung Jawab Perawat terhadap Klien
 Perawat, dalam melaksanakan pengabdiannya
 Perawat, dalam melaksanakan pengabdian di
bidang keperawatan
 Perawat, dalam melaksanakan kewajibannya
terhadap individu
 Perawat menjalin hubungan kerjasama dengan
individu, keluarga dan masyarakat
Tanggung Jawab Perawat terhadap Tugas
 Perawat memelihara mutu pelayanan
 Perawat wajib merahasiakan segala sesuatu yang
diketahuinya
 Perawat tidak menentang norma-norma kemanusiaan
 Perawat,dalam menunaikan tugas dan kewajibannya
 Perawat mengutamakan perlindungan dan
keselamatan pasien
Tanggung Jawab Perawat terhadap Sejawat
 Perawat memelihara hubungan baik antar sesama perawat dan tenaga
kesehatan lainnya
 Perawat menyebarluaskan pengetahuan,keterampilan,dan
pengalamannya kepada sesama perawat
Tanggung Jawab Perawat terhadap Profesi
 Perawat berupaya meningkatkan kemampuan profesionalnya secara
sendiri-sendiri dan/atau bersama-sama
 Perawat menjunjung tinggi nama baik profesi keperawatan
 Perawat berperan dalam menentukan pembakuan pendidikan dan
pelayanan keperawatan
 Perawat secara bersama-sama membina dan memelihara mutu
organisasi profesi keperawatan sebagai sarana pengabdiannya.
Tanggung Jawab Perawat terhadap
Negara
 Perawat melaksanakan ketentuan-
ketentuan sebagai kebijaksanaan yang
telah di gariskan oleh pemerintah dalam
bidang kesehatan dan keperawatan.
 Perawat berperan secara aktif dalam
menyumbangkan pikiran kepada
pemerintah dalam meningkatkan
pelayanan kesehatan dan keperawatan
kepada masyarakat.
MAJELIS KEHORMATAN ETIK
KEPERAWATAN
 Salah satu hasil Musyawarah Nasional
Persatuan Perawat Nasional Indonesia
ke VII, yang diselenggarakan di Manado
pada tanggal 24 – 28 Juli 2005, pada
pasal 25 Bab III, adalah menjelaskan
tentang Majelis Kehormatan Etik
Keperawatan yang mengatur status,
Kewenangan, dan susunan pengurus.
Menurut KepPres No.56 Tahun 1995, Majelis Disiplin
Tenaga Kesehtan (MDKT), Presiden RI menimbang :
 Terhadap tenaga kesehatan yang melakukan kesalahan
atau kelalaian dalam melaksanakan tugas profesinya,
dapat dikenakan tindakan disiplin.
 Untuk memberikan penilian yang objektif ada atau tidak
adanya kesalahan atau kelalaian dalam penerapan
standar profesinya yang dilakukan oleh tenaga kesehatan,
dipandang perlu membentuk Majelis Disiplin Tenaga
Kesehatan dengan Keputusan Presiden.
PEMECAHAN MASALAH ETIS
Kode etik mengimbau perawat tentang hal yang boleh dan
tidak boleh dilakukan. Prinsip moral mempunyai nilai yang
penting dalam menentukan perilaku yang etis dalam
pemecahan masalah etik. Prinsip moral berfungsi untuk
membuat secara spesifik apakah suatu tindakan dilarang,
diperlukan, atau diizinkan dalam suatu keadaan. Terdapat
tiga prinsip moral (Johnstone, 1989), diantaranya yaitu:
1. Otonomi (mengatur diri sendiri)
2. Non-maleficience (tidak melukai)
3. Keadilan (Tindakan yang dilakukan untuk semua orang
sama)
KESIMPULAN

 Pengendalian praktek keperawatan secara internal adalah Kode Etik sedangkan


secara eksternal adalah hukum. Praktek keperawatan harus dilakukan secara
benar dalam arti keilmuannya dan baik dalam arti aspek Etik dan legalnya.
Praktek Keperawatan berkaitan erat dengan kehidupan manusia untuk itu praktik
keperawatan harus dilakukan oleh perawat profesional yang berkompeten. Setiap
perawat yang praktek wajib memiliki SIP, SIK, SIPP.
 Kode etik adalah pernyataan standar profesional yang digunakan sebagai
pedoman perilaku dan menjadi kerangka kerja untuk membuat keputusan.Aturan
yang berlaku untuk seorang perawat Indonesia dalam melaksanakan tugas/fungsi
perawat adalah kode etik perawat nasional Indonesia, dimana seorang perawat
selalu berpegang teguh terhadap kode etik sehingga kejadian pelanggaran etik
dapat dihindarkan.
 Kode etik keperawatan di Indonesia telah disusun oleh Dewan Pinpinan Pusat
Persatuan Perawat Nasioanl Indonesia (DPP PPNI) melalui munas PPNI di Jakarta
pada tangal 29 November 1989.
 Pelanggaran etika maupun pelanggaran kode etik keperawatan ditegakkan oleh
salah satu organisasi atau tim yang dibentuk oleh PPNI, yaitu Majelis Kode Etik
Keperawatan yang tugasnya adalah mengadili dan member sanksi profesi sesuai
dengan pelanggaran etika yang dilakukan.