Anda di halaman 1dari 106

SEPTUM DEVIASI

Presentator : Nova Perdana Putra


Moderator : dr. Safitri
PENDAHULUAN
• Obstruksi nasal adalah keluhan yang
tergolong sering dikeluhkan di praktek
klinik.
• Kausanya melibatkan banyak faktor.
• Analisa yang mendalam terhadap semua
kemungkinan penyebab  sangat penting
sebelum memutuskan terapi definitif.1

Bailey BJ, 2006


PENDAHULUAN
• Deviasi septum adalah penyebab tersering
dari obstruksi nasal.
• Pada pasien dengan deviasi septum
nasal, adanya riwayat trauma sering
mengindikasikan bahwa perubahan
anatomis dari bentuk aslinya mungkin
telah terjadi.

Bailey BJ, 2006


PENDAHULUAN
• Riwayat trauma bukan hanya yang terjadi
dalam waktu dekat saja, tetapi riwayat
trauma pada saat persalinan atau bahkan
intra uterin juga harus diperhatikan.
• Penempatan forcep yang tidak tepat pada
saat proses persalinan dapat
menyebabkan deviasi septum.1

Bailey BJ, 2006


PENDAHULUAN
• Gray (1992): The birth moulding theory
(kedudukan abnormal di dalam uterus) 
penekanan pada hidung dan rahang atas.
• Kelainan akan terbawa sejak kecil dan
makin dewasa makin terasa pengaruhnya.
• Kelainan bentuk septum hidung
diperkirakan terjadi pada 1,25 – 23 % dari
bayi yang baru lahir.2

Gray RF, 1992


PENDAHULUAN
• Diperkirakan sekitar 80 persen septum
nasi tidak berada tepat di tengah dan
hanya sedikit yang lurus.
• Riwayat trauma sering tidak jelas
didapatkan, dan banyak juga didapatkan
riwayat trauma tetapi pada waktu yang
sudah sangat lama.1

Bailey BJ, 2006


PENDAHULUAN
• Septum deviasi menunjukkan
kecenderungan yang meningkat pada
beberapa tahun terakhir
• Gejalanya semakin lama akan semakin
memberat.
• Olahraga kelincahan tubuh banyak
digemari  kejadian trauma pada hidung
naik  peningkatan frekuensi deviasi
septum nasi.3

Nizar NW et al, 2007


ANATOMI

TINJAUAN PUSTAKA
Vaskularisasi Septum Nasi
Pleksus Kiesselbach
• ramus septalis anterior a. ethmoidalis anterior
cabang a. opthalmika dari cabang a. karotis
interna.
• Ramus septalis posterior a. ethmoidalis
posterior cabang a. opthalmika dari cabang a.
karotis interna.
• Ramus septalis posterior a. spenopalatina
cabang a. maksilaris dari cabang a. karotis
eksterna.
• Ramus septalis a palatina mayor
• Ramus a. labialis superior, cabang a. fasialis
dari cabang a. karotis eksterna.
Innervasi Septum Nasi
- n. olfaktrorius
- r. septalis n. ethmoidalis anterior (dari
n.ophtalmikus)
- r. septalis n. spenopalatina & r. septalis n.
palatina mayor (berasal dari n.maksilaris).
Area Septum Nasi
• area 1 : adalah area
vestibulum nasi,
terletak antara tepi
kaudal septum nasi
dan merupakan
pintu masuk udara
inspirasi.
• area II: pada daerah
limen nasi yang
merupakan daerah
tersempit kavitas
nasi, terletak antara
kartilago septi nasi
dan tepi kaudal
kartilago lateralis
superior.
Area Septum Nasi
• area III: area atik,
terletak antara septum
nasi dengan tepi
bawah os nasale.
• area IV: daerah
sekitar pertemuan
kartilago septi nasi, os
vomer dan lamina
perpendikulairs ossis
ethmoidalis
• area V: daerah
posterior septum nasi
yang berdekatan
dengan koana atau os
vomer
Fungsi Septum Nasi
Fungsi septum nasi antara lain adalah:
1) Fungsi tahanan terhadap udara napas.
2) Membentuk punggung hidung sekaligus
menyangga atap hidung.
3) Bersama kartilago nasi lateralis membentuk
katup hidung (nasal valve).
4) Membantu mengatur kecepatan arus udara.
5) Memperluas mukosa hidung yang penting
untuk penyaringan udara napas.
6) Membantu nasal cycle
7) Dapat melokalisasikan suatu proses penyakit
atau kelainan pada satu rongga hidung saja
Septum Deviasi

TINJAUAN PUSTAKA
Definisi
• Kondisi medis dimana septum nasi
bergeser dari garis tengahnya akibat
trauma atau pertumbuhan tulang rawan
yang tidak seimbang.8

Fatih M, 2007
Etiologi
• Penyebab yang paling sering adalah
trauma. Trauma dapat terjadi sesudah
lahir, pada waktu partus, atau bahkan
pada pada masa janin intra uterin.3
• Penyebab lainnya adalah
ketidakseimbangan pertumbuhan. Tulang
rawan septum nasi terus tumbuh,
meskipun batas superior dan inferior telah
menetap. Dengan demikian terjadilah
deviasi pada septum nasi itu.3

Nizar NW et al, 2007


Klasifikasi
• Tipe I : Benjolan unilateral yang belum
mengganggu aliran udara.
• Tipe II : Benjolan unilateral yang sudah
mengganggu aliran udara, namun masih
belum menunjukkan gejala klinis yang
bermakna.

Chmielik LP, 2006


Klasifikasi
• Tipe III : Deviasi pada konka media (area
ostiomeatal dan turbinasi tengah).
• Tipe IV : “S” septum (posterior ke sisi lain,
dan anterior ke sisi lainnya).
• Tipe V : Tonjolan besar unilateral pada
dasar septum, sementara di sisi lain masih
normal.

Chmielik LP, 2006


Klasifikasi
• Tipe VI : Tipe V ditambah sulkus
unilateral dari kaudal-ventral, sehingga
menunjukkan rongga yang asimetri.
• Tipe VII : Kombinasi lebih dari satu tipe,
yaitu tipe I-tipe VI

Chmielik LP, 2006


Tanda dan Gejala
• Gejala-gejala deformitas septum dapat tak
ada atau bervariasi dan sangat ringan
sampai obstruksi saluran pernapasan
hidung bilateral yang nyata disertai
pernapasan melalui mulut, termasuk tidur
yang gelisah, mengorok, iritabilitas.

Beiley BJ (2006) & Higler PA (1997)


Tanda dan Gejala
• Pada anamnesis, keluhan yang paling
sering muncul adalah sumbatan hidung.
Sumbatan bisa unilateral, dapat pula
bilateral.
• Perlu ditanyakan pada setiap orang
menderita obstruksi saluran pernapasan
hidung kronis, seberapa jauh keadaan
tersebut mempengaruhi kehidupannya.

Beiley BJ (2006) & Higler PA (1997)


Tanda dan Gejala
• Penurunan aliran udara di dalam rongga
hidung sebagai akibat adanya obstruksi
menyebabkan gangguan penciuman.
• Epitaksis juga merupakan manifestasi
umum dan gangguan aliran udara di
dalam kavum nasi.

Beiley BJ (2006) & Higler PA (1997)


Tanda dan Gejala
• Hal tersebut sebagai akibat peningkatan
turbulensi udara di kecenderungan kavum
nasi untuk menjadi kering sehingga
memudahkan terjadinya perdarahan.
• Keluhan lainnya adalah rasa nyeri di
kepala meskipun jarang terjadi dan nyeri
di sekitar mata.1,7

Beiley BJ (2006) & Higler PA (1997)


Tanda dan Gejala
• Pada pemeriksaan fisik, tampilan luar &
hidung dalam memberikan petunjuk
tentang apa yang terjadi pada struktur
bagian dalam.
• Rhinoskopi anterior: pergeseran septum
ke salah satu sisi sehingga terjadi
obstruksi pada salah satu sisi,
• Rhinoskopi posterior: biasanya tidak
didapatkan kelainan.9

Chmielik LP, 2006


Diagnosis
• Diagnosis kelainan septum nasi
ditegakkan berdasarkan anamnesis yang
teliti meliputi gejala yang dikeluhkan dan
riwayat penyakitnya.
• Pemeriksaaan rinoskopi anterior dan
endoskopi bisa dilakukan untuk melihat
perubahan morfologi pada septum nasi.

Abidin T (2009) & Probst R (2006)


Diagnosis
• Kadang-kadang diperlukan nasal
dekongestan untuk memperluas ruang
pandang.
• Pemeriksaan rhinomanometri diperlukan
untuk melihat derajat sumbatan hidung
dan pemeriksaan radiologi biasanya
dilakukan untuk memastikan diagnosis
septum deviasi.10,11

Abidin T (2009) & Probst R (2006)


Penatalaksanaan
• Pada pasien yang asimtomatik/tidak ada
gejala atau dengan keluhan yang sangat
ringan, tidak perlu dilakukan tindakan
koreksi septum. Analgesik & dekongestan
bisa diberikan sebagai terapi tambahan
untuk mengurangi gejala.1,10
• Tindakan pembedahan: reseksi
submukosa & septoplasti.

Beiley BJ (2006) & Abidin T (2009)


Penatalaksanaan
• Pada tindakan Reseksi Submukosa:
mukoperikondrium dan mukoperiosteum
kedua sisi dilepaskan dari tulang rawan
dan tulang septum, bagian tulang atau
tulang rawan dari septum kemudian
diangkat, sehingga muko-perikondrium
dan mukoperiosteum sisi kiri dan kanan
akan langsung bertemu di garis tengah.

Soetjipto D (2007) & Bhargava KB (2002)


Penatalaksanaan
• Pada tindakan Septoplasti atau Reposisi
Septum: tulang rawan yang bengkok
direposisi dan hanya bagian yang
berlebihan saja yang dikeluarkan. Dengan
cara operasi ini dapat dicegah komplikasi
yang mungkin timbul pada operasi reseksi
submukosa.5,6

Soetjipto D (2007) & Bhargava KB (2002)


LAPORAN KASUS
IDENTITAS
• Nama : Tn.T
• Jenis Kelamin : Laki-laki
• Umur : 19 tahun
• Alamat : Sinduadi, Sleman
• Pekerjaan : Pelajar
• No.CM : 1.50.32.50
ANAMNESA
• Keluhan utama : Hidung Tersumbat
• Riwayat penyakit sekarang :
Pasien mengeluhkan hidung terasa
tersumbat yang sudah dirasakan sejak
kecil. Tetapi sejak 1 tahun terakhir pasien
merasakan hidung tersumbat yang
semakin memberat, terutama pada hidung
sebelah kiri.
ANAMNESA
Hidung buntu dirasakan semakin
memberat akhir-akhir ini disertai kepala
pusing sehingga pasien tidak bisa
konsentrasi melakukan aktivitas sehari-
hari. Pasien juga mengeluhkan sering
pilek dengan ingus jernih terkadang
kental. Selama ini pasien berobat ke
dokter tetapi keluhan belum membaik.
ANAMNESA
• Pada pasien ini disangkal adanya riwayat
trauma pada hidung dan pasien mengaku
sejak kecil hidungnya bengkok ke kiri.
Pada saat ini pasien tidak mengeluhkan
adanya demam, pilek, nyeri pada hidung,
nyeri pada wajah, lendir yang mengalir ke
tenggorokan, bersin-bersin jika terpapar
udara dingin atau debu, gatal pada
hidung, atau mimisan.
ANAMNESA
Tidak ada keluhan pada telinga dan tidak
ada keluhan pada tenggorokan.

• Riwayat Kehamilan dan Persalinan :


Dari alloanamesis pada ibu pasien,
didapatkan keterangan bahwa selama
masa kehamilan, ibunya selalu selalu rutin
memeriksakan diri ke bidan.
ANAMNESA
Kehamilan cukup bulan. Konsumsi obat–
obatan selama kehamilan disangkal.
Persalinan normal dan dibantu oleh bidan,
disangkal adanya riwayat trauma setelah
lahir hingga sekarang, namun ibunya tidak
mengetahui apakah ada kelainan selama
kehamilan dan adanya trauma pada saat
lahir.
ANAMNESA
• Riwayat Penyakit Dahulu :
• Riwayat trauma (dipukul/kecelakaan) :
disangkal
• Riwayat alergi : disangkal

• Riwayat Penyakit Keluarga :


• Riwayat keluarga dengan keluhan serupa :
disangkal
• Riwayat alergi : disangkal
PEMERIKSAAN FISIK

• Keadaan umum pasien


Sedang, CM, kesan gizi cukup

• Tanda Vital
Tekanan darah : 110/70 mmHg
Nadi : 84x/menit
RR : 20x/mnt
Suhu : 37 oC
PEMERIKSAAN FISIK
• Pemeriksaan THT
Pemeriksaan Telinga Kanan :
• CAE : dalam batas normal
• MT : Intak
Pemeriksaan Telinga Kiri :
• CAE : dalam batas normal
• MT : Intak
PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan Hidung :
• Inspeksi : tampak dorsum nasi
membengkok ke kiri
• Rhinoskopi Anterior: deviasi septum ke
kiri, Konka inferior kanan oedema dan
konka inferior kiri menempel pada
septum nasi. Discharge (-).
• Rhinoskopi Posterior: oedema konka
kanan.
• Rhinohigrometri pre tampon: 3 cm/3 cm
• Rhinohigrometri post tampon: 5 cm/3cm
PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan Orofaring : dalam batas normal
Pemeriksaan Laringoskopi Indirek : dalam
batas normal
Pemeriksaan Penunjang
• Pada pemeriksaan CT scan sinus
paranasal potongan axial, sagital dan
koronal, Kesan deviasi septum nasi
kearah sinistra dengan derajat deviasi
17,2 derajat pada tampilan koronal.
DIAGNOSIS
• Deviasi septum sinistra
PENATALAKSANAAN
• Pada pasien ini dilakukan tindakan
operatif yaitu Septum Koreksi.
FOLLOW UP BANGSAL THT
MASALAH
• Prognosis
PLAN
• Kontrol ke poli THT 3 hari setelah pulang
dari Rumah Sakit
FOLLOW UP POLI THT
Kontrol 1 (3 hari setelah pulang dari RS)
• KU : Masih terpasang tampon anterior di
hidung, baik, CM
• Keluhan : nyeri (-), pusing (-), keluar darah
dari hidung (-), keluar lendir dari hidung (-
), demam (-)
• Plan :
• Aff tampon anterior
• Pasang tampon sufratulle
FOLLOW UP POLI THT
Kontrol 2 (6 hari setelah pulang dari RS)
• KU : Baik, CM
• Keluhan : hidung buntu (-), nyeri (-),
pusing (-), keluar darah dari hidung (-),
demam (-)
• Plan : kontrol 1 minggu lagi
FOLLOW UP POLI THT
Kontrol 3 (13 hari setelah pulang dari RS)
• KU: Baik CM
• Keluhan: hidung buntu (-), nyeri (-),pusing
(-),keluar darah dari hidung(-), demam (-)
• Pemeriksaan rhinohigrometri : 5 cm/4 cm
• Plan : kontrol tiap minggu
DISKUSI
• Pada kasus ini pasien didiagnosis dengan
deviasi septum berdasarkan dari
anamnesis, pemeriksaan fisik, dan
pemeriksaan penunjang. Dari anamnesis
pasien mengeluh adanya hidung buntu
terutama di sisi kiri disertai adanya kepala
pusing, pasien juga sering pilek dengan
ingus jernih terkadang kental. ke kiri.

Beiley BJ (2006) & Gray RF (1992)


DISKUSI
• Pada pemeriksaan rhinoskopi anterior
didapatkan deviasi septum ke arah sinistra
dan konka inferior kiri menempel pada
septum nasi. Dari hasil CT scan juga
terdapat adanya deviasi septum ke arah
sinistra. Pada pasien ini disangkal adanya
riwayat trauma pada hidung dan pasien
mengaku sejak kecil hidungnya bengkok

Beiley BJ (2006) & Gray RF (1992)


DISKUSI
• Penyebab terbanyak deviasi septum
adalah trauma. Trauma bisa saja terjadi
sesedah lahir, selama partus dan masa
janin intrauterine. Ketidakseimbangan
pertumbuhan tulang rawan septum nasi
yang terus tumbuh dapat pula
menyebabkan deviasi septum nasi dimana
pada saat bersamaan batas atas dan
batas bawah septum nasi telah menetap.

Beiley BJ (2006) & Gray RF (1992)


DISKUSI
• Literatur lain menyebutkan bahwa
kelainan pada intra uterin dan trauma post
partum dapat menyebabkan deviasi
septum.1,2 Pada pasien ini etiologi
terjadinya deviasi septum tidak diketahui
secara pasti, karena pada anamnesis
pasien tidak pernah mengalami trauma
pada hidung dan tidak mengetahui adanya
kelainan saat kehamilan ataupun riwayat
trauma pada proses kelahirannya dahulu.

Beiley BJ (2006) & Gray RF (1992)


DISKUSI
• Deviasi septum yang ringan tidak
menimbulkan gangguan, meskipun
gengguan minimal yang terjadi sering
diabaikan oleh penderita sehingga dapat
menimbulkan gangguan yang lebih berat.
Fungsi hidung akan terganggu dan lama–
kelamaan bisa menyebabkan komplikasi.

Beiley (2006), Nizar NW (2007), Bhargava KB (2002)


DISKUSI
• Gangguan fungsi hidung yang terjadi
dapat berupa obstruksi nasi, biasanya
pada daerah/ sisi yang mengalami
kelainan, perubahan mukosa, karena
adanya perubahan aliran udara inspirasi
sehingga menjadi kering dan mudah
timbul krusta.

Beiley (2006), Nizar NW (2007), Bhargava KB (2002)


DISKUSI
• Komplikasi yang bisa terjadi adalah
rekuren sinusitis, infeksi telinga tengah,
serta bernafas lewat mulut. Prinsip
penatalaksanaan pada hakekatnya tidak
dilakukan terapi pembedahan jika
asimtomatik dan pada beberapa kasus
perlu dilakukakan tindakan pembedahan
deviasi septum.1,3,6

Beiley (2006), Nizar NW (2007), Bhargava KB (2002)


DISKUSI
• Pada pasien ini dilakukan tindakan
septoplasti dengan tujuan untuk
mengurangi obstruksi saluran pernafasan
hidung dan mengurangi gejala sakit
kepala yang mengganggu aktivitas sehari-
hari.
DISKUSI
• Prognosis ditakutkan menjadi masalah
pada pasien ini karena sebagaimana
dilaporkan oleh Yeo dan Jang (2009)
bahwa walaupun septoplasty adalah salah
satu operasi yang paling sering dilakukan
pada praktek seorang dokter THT, tetapi
septoplasty memiliki beberapa risiko yang
potensial terjadi.

Yeo & Jang (2009)


DISKUSI
• Komplikasi yang tergolong sering terjadi
setelah dilakukannya septoplasty antara
lain hematom septum, perforasi septum,
perdarahan, infeksi, parestesi, dan sinekia.
Septoplasty dapat juga menyebabkan
deformitas nasi seperti dorsal saddling
dan deviasi.

Yeo & Jang (2009)


DISKUSI
• Insidensi rata-rata dari masalah estetik
yang tidak diinginkan setelah septoplasty
dilaporkan sekitar 1-8%. Karena itulah,
pasien harus diberi informasi tentang
kemungkinan mengalami problem estetik
yang tidak diinginkan tersebut.12

Yeo & Jang (2009)


DISKUSI
• Setelah dua hari perawatan pasca operasi
septoplasti didapatkan hasil yang baik,
pasien kemudian diperbolehkan pulang
dengan diberikan terapi antibiotik,
analgesik, antifibrinolitik, penghambat
pompa proton (PPI) dan setelah 3 kali
kontrol ke poli, pasien tidak lagi
mengeluhkan adanya hidung tersumbat
serta pusing.
KESIMPULAN
• Telah dilaporkan pasien laki-laki usia 19
tahun dengan diagnosis deviasi septum.
Pada pasien ini dilakukan tindakan septum
koreksi. Setelah dilakukan perawatan
selama 2 hari di rumah sakit pasien
dipulangkan dan kontrol kembali ke poli
THT RSUP Dr. Sardjito dengan kondisi
membaik.
MOHON ASUPAN

TERIMA KASIH
Innervations :

74
Innervations :

75
Vascularization of nasal mucous:

76
77
78
79
Nose function disorders of
septum deformities :

• Nasal obstruction
• Mucous alterations  inspiration
airway alteration  dry
• Rhinalgia
• Hiposmia/anosmia

80
Cottle’s area :

I = vestibulum area; caudal edge of nasal


septum; entrance of inspiration airway
II = limen area; narrowest area; between septum
cartilage and caudal edge of laterosuperior
cartilage
III = attic area; between nasal bone and nasal
septum
IV = nasal inferior
V = nasal posterior concha and choana
81
III

II IV
I
V

82
TABLE 29-8. Clinical indicators for nasal septal surgery (as proposed by
the American Academy of Otolaryngology Head and Neck Surgery)

Strategy
Indicators (one of the following):
Nasal airway obstruction secondary to septal deformity
Persistent or recurrent epistaxis
Evidence of sinusitis secondary to septal obstruction
Symptomatic septal perforation
Headaches secondary to intranasal deformity
(rhinogenic headache)
Lab tests (as indicated)
Other tests: Evaluation of nasal patency
Type of anesthesia (as indicated)
Location of service (as indicated)

Process
Criteria for discharge :
Recovery from anesthesia; No active bleeding ; Removal of packing
Absence of signs of toxic shock

Outcome
Results : Absence of signs of toxic shock; Patency of nasal airway
83
Follow-up : Treatment of nasal crusting
TABLE 29-9. Clinical indicators for turbinectomy (as proposed by the
American Academy of Otolaryngology Head and Neck Surgery)

Indicators
History
Chronic nasal obstruction with inadequate management (despite management
with medications, allergy therapy, duration).
Physical examination
Turbinate hypertrophy causing nasal obstruction
Description of remaining nasal anatomy
Optional tests
Allergy evaluation; Rhinomanometry; Radiographic imaging (e.g., CT scan)

Postoperative observations (instructions for nurses and residents)


Nasal packing in desired location or removed (depending on surgeon痴 specific
orders); Bleeding hange outer dressing, or if bleeding isactive at time of
discharge, notify surgeon

Outcome review
At 1 week: Was treatment required for bleeding or infection?
Beyond 1 month: Is the presenting problem improved?
Is there a crusting problem?84
85
86
87
88
89
• Hipertrofi konka : bertambah besarnya
ukuran sel-sel pada konka dimana
anatomi vessel dan saraf tidak ada
perubahan, membesarnya konka
disebabkan oleh infeksi proses infeksi dan
iritasi yang berulang kronis akan dapat
menyebabkan hipertrofi konka

90
• Etilogi
Penyebab umum konka hipertrofi adalah
infeksi hidung berulang, sinusitis kronis,
iritasi kronis mukosa hidung karena rokok
dan bahan-bahan iritan industri.
Penggunaan tetes hidung yang
berkepanjangan, rinitis alergi, dan rinitis
vasomotor juga dapat menyebabkan
penyakit ini.

91
Nose function disorders of
septum deformities :
• Nasal obstruction
• Mucous alterations  inspiration airway
alteration  dry
• Rhinalgia
• Hiposmia/anosmia

92
Komplikasi
• Perforasi septum
• Saddle nose
• Perdarahan
• Infeksi
• Obstruksi menetap

93
Klasifikasi/ pembagian
deviasi septum
• Dibagi 3 kelompok :
• 1. Deviasi Ringan
bila sudut kurang atau sama 100
2. Deviasi sedang
bial sudut > 10 0 dan kurang dari 20 0
3. Deviasi Berat
bila > 20 0

Yasan et al, 2005


Cara pengukuran derajat deviasi
septum dengan menggunakan kertas
milimeter dan busur derajat

• Garis septum dibuat dari krista


galli kr spina anaterior. Garis
deviasi dibuat dari krista galli ke
titik paling prominen dari deviasi
septum deviasi. Sudut antara
garis septi dan garis deviasi
merupaakan sudut derajat
septum deviasi
Kompleks osteo meatal (KOM)
1. Infundibulm ethmoid yang terdapat
dibekang prossesus usinatus, Ressesus
frontalis, Bula etmoid
2. Sel – sel etmoid anterior dengan
ostiumnya
3. Ostium sinis maksila
Tipe deviasi septum
• Tipe c
• Tipe s
• Tipe z
Deviasi septum berdasrkan letak
deviasi
• Tipe I : Benjolan unilateral yang belum
mengganggu aliran udara.
• TIPE II : Benjolan unilateral yang
sudah mengganggu
aliran udara, namun
masih belum
gejala klinis yang
bermakna
• Tipe III : deviasi pada konka media
(area osteomeatal dan
turbinasi tengah)
• Tipe IV : “S” septum (posterior ke
sisis lain,dan anterior kesisi
lainnya)
• Tipe V : tonjolan besar unilateral
pada dasar septum,
sementara sisi lain masih normal
• Tipe VI :tipe V ditambah sulkus dari
kaudal – ventral,sehingga
menunjukkan asimetri.
• Tipe VII : kombinasi lebih dari satu
tipe, yaitu tipe I – tipe VI
• Krista : Penonjolan tulang atau tulang
rawan septum, bila memanjang dari depan
ke belakang.
• Spina : bila penonjolan sangat pipih dan
runcing
• Sinekia bila deviasi atau krista septum
bertemu dan melekat dengan konka
dihadapannya
Alper, Myers. Decision Making in ENT Disorders
Clinical Indications for
Sepatoplasty (Bailey,2006)
• Deviation of the nasal septum, with partial or
complete unilateral/bilateral obstruction of
airflow
• Persistent or recurrent apistaxis
• Evidence of sinusitis secondary to septal
deviation and contact point
• Headache secondary to septal deviation and
contact point
• Anatomic obstruction that makes indicated
sinus procedures difficult to perform efficiently
• Obstructive sleep apnea/hypopnea syndrome
• As an approach to transseptal transsphenoidal
approach to pituitary fossa
Complication Septoplasty
(Bailey, 2006)
• Failure to resect adequate cartilage or
bone and hence persistent nasal
obstruction
• Hemorrhage
• Septal hematoma/abcess
• Synechia
• Septal perforation
• Anosmia
• Saddle deformity
• Toxic syok syndrome
• Aspiration pneumonitis -> rare
Contraindications surgical therapy
(Bhargava,2002)
• Acute upper respiratory tract infection
• Age -> usually after age of 17 years
• Bleeding disorders
• Diabetes (should be controlled)
• Hypertension
• Tuberculosis (must be treated first)
Post operative care
(Bhargava, 2002)
• Antibiotics and analgesics are given for 5
to 8 days
• Diet
• Nasal packs are removed after 48 hours
• Nasal decongestan after removing the
pack
• Lubrication
• Rest: should take rest for a week
• Blowing of the nose in a forcible manner
should be avoided
Septum deformities :
• Spina septum  fusion of os vomer,
septal cartilage and perpendicular plate
of ethmoid
• Crest septum  fusion of perpendicular
plate of ethmoid and septal cartilage or
vomer bone
• Deviation (C or S)  result from
enlargement of septal cartilage(s)
• Dislocation  frequently occurs between
septum cartilage and maxillary crest

106