ISO 3951-1
Sampling procedures for inspection
by variables
Part 1:
Specification for single sampling plans
indexed by acceptable quality limit (AQL)
for lot-by-lot inspection for a single
quality characteristic and a single AQL
Scope
• Diaplikasikan pada lot yang kontinyu oleh satu
produsen menggunakan satu proses produksi.
• Karakteristik dapat diukur dalam masa skala
kontinyu, jika hanya satu karakteristik produk.
• Dimana kesalahan pengukuran dapat diabaikan
(standar deviasi proses tidak lebih dari 10%)
• Ketika produksi stabil (dibawah kontrol statistik)
dan karakteristik kualitas terdistribusi normal.
AQL ; acceptable Quality Limit
• Adalah level qualitas yang merupakan praksi
ketidaksesuaian terburuk yang masih bisa ditoleransi
ketika proses kontinyu dinilai.
• AQL dirancang dalam spesifikasi produk, kontrak, atau
oleh pemilik otoritas
• Biasa digunakan pada rentang 0,01% - 10 %
• AQL yang disetujui bukan berarti supplier memiliki hak
untuk mensupply barang yang buruk secara disengaja
• Pemilihan AQL merupakan kesetimbangan antara biaya
dan resiko non-conforming item yang diperbolehkan
Metode-s vs Metode-σ
• Sampling pertama-tama dilakukan dengan
metode-s
• Setelah didapatkan nilai-s, bisa berubah ke
metode-σ
Pemilihan Sampling Plan
1. Rencana Standar ;
• Dilakukan ketika produksi sedang dalam
keadaan kontinyu
• Dilakukan dengan metode-s dan level inspeksi
II
Pemilihan Sampling Plan…cont.
2. Rencana Khusus ;
• dilakukan jika standar sampling tidak bisa
dilaksanakan
• dibuat dengan menggabungkan AQL, Batas
qualitas, dan jumlah contoh.
• diperlukan statistician yang berpengalaman
dalam quality control.
Sebelum Pelaksanaan
• Cek bahwa produksi dalam keadaan kontinyu dan
karakter qualitas dalam keadaan normal
• Cek apakah akan menggunakan metode-s dahulu,
atau menggunakan metode- σ
• Cek apakah level inspeksi sudah ditetapkan. Jika
tidak, gunakan level inspeksi II
• Untuk karekteristik antara dua limit, cek apakah
kriteria ada diantaranya dua limit tersebut .
• Ceka apakah AQL sudah ditetapkan dan AQL-nya
ada pada standar
Prosedur untuk Metode-s
1. Penetapan rencana dan
perhitungan awal
• Pada level inspeksi yang ditetapkan (biasanya level II), dan
pada jumlah lot, tentukan kode hurup dan jumlah sample
dengan Tabel 1.A
• Untuk batas spesifikasi tunggal, pada AQL dan kode letter
yang cocok, tetapkan jumlah contoh (n) dan konstanta
keberterimaan (k) dengan menggunakan Tabel B.1, B.2, atau
B.3
• Untuk batas spesifikasi ganda, tentukan kurva keberterimaan
yang sesuai dari kurva s-D hingga s-R
• Ambil sejumlah contoh random n, uji karakteristik dan hitung
rata-rata (𝑥)ҧ dan standar deviasi sampel (s)
• Jika (𝑥)ҧ diluar batas spesifikasi, maka lot ditolak
2. Kriteria Keberterimaan untuk batas
spesifikasi tunggal
• Quality statistik Batas atas QU = (U- 𝑥/sҧ atau
• Quality statistik Batas bawah QL = (𝑥-L)/s
ҧ
• Bandingkan dengan konstanta keberterimaan
(k) yang didapatkan dari Tabel B.1, B.2, atau
B.3
• u. spek batas atas, Lot diterima jika :QU ≥k
• u. spek batas bawah, Lot diterima jika QL ≥ k
Contoh 1. Soal u. Spek Batas atas
• Temperatur maksimum operasi alat adalah 60 °C.
• Jumlah lot = 100 items.
• Digunakan Inspection level II, normal inspection
dengan AQL = 2,5 % .
• Dari Table A.1, kode letter F; Dari Table B.1 sample size
(n) = 13 dan konstanta keberterimaan (k) 1,405.
• Data pengukuran sbb : 53 °C; 57 °C; 49 °C; 58 °C; 59 °C;
54 °C; 58 °C; 56 °C; 50 °C; 50 °C; 55 °C; 54 °C; 57 °C;
• Tentukan kesesuaian dengan kriteria keberterimaan!
Jawaban
Contoh 2 ; Batas Spek bawah
• Minimun delay time suatu pyroteknik adalah 4,0 s. Ukuran lot
adalah 1 000 items. Digunakan inspection level II, normal
inspection, pada AQL 0,1 %.
• Dari Table A.1 kode huruf ; J, Dari Table A.2 n =35 untuk metode-s
• Table B.1 kode hurup ; J and AQL 0,1 huruf K, n= 50 dan
konstanta keberterimaan k = 2,569. Diambil 50 sample random,
• Suppose the sample delay times, in seconds, are as follows:
6,95 6,04 6,68 6,63 6,65 6,52 6,59 6,86 6,57 6,91
6,40 6,44 6,34 6,04 6,15 6,29 6,63 6,70 6,67 6,67
6,44 7,15 6,70 6,59 6,51 6,80 5,94 5,92 6,56 6,53
6,35 7,17 6,83 6,25 6,96 7,00 6,38 6,83 6,29 6,39
6,80 5,84 6,16 6,25 6,57 6,71 6,77 6,55 6,87 6,25
• Compliance with the acceptability criterion is to be determined.
Jawaban
Metode Grafik
untuk Batas Spek Tunggal
• Jika kriteria grafik dibutuhkan, gambarkan
grafik
• 𝑥=ҧ U - ks ;untuk batas atas versus s
Atau
• 𝑥= ҧ L + ks ; untuk batas bawah versus s
Contoh
• Dengan data pada contoh 1, tandai U = 60 pada sumbu
𝑥(vertical)
ҧ axis dan gambarkan garis dengan slope– k.
[karena k = 1,405, artinya garis melalui titik-titik (s = 1,
𝑥ҧ = 58,595), (s = 2, 𝑥ҧ = 57,190), (s = 3, 𝑥ҧ = 55,785),
etc.]. (s adalah sumbu Y)
• Pilih sejumlah titik dan gambarkan garis lurus (s = 0, 𝑥ҧ
= 60), i.e. (0, U).
• Daerah keberterimaan adalah area dibawah garis.
• Nilai terhitung s = 3,330 and 𝑥ҧ = 54,615.
• Titik (s, x ) ini tampak berada di bawah garis terletak di
bawah zona keberterimaan; maka lot diterima
Contoh Penggunaan Metode Grafik
untuk Batas Spek Tunggal
4. Kriteria keberterimaan untuk batas
spesifikasi ganda
• Untuk Sample size 3
• Hitung rata-rata sample(𝑥),
ҧ dan standar
deviasi sample (s), tentukan koefisien fS dari
baris pertama Tabel D.1, D.2, atau D.3.
• Tentukan standar deviasi sample maksimum
dengan rumus smax = (U-L)fs
• Bandingkan s dengan smax. Jika s > smax, lot
ditolak.
• Jika diterima, tentukan QU=(U-𝑥)/s
ҧ dan
QL =(𝑥-L)/s
ҧ
• Kalikan QU dan QL dengan √3/2
• Gunakan tabel F.1 untuk mengestimasi ṔU dan
ṔL
• Tentukan Ṕ = (ṔU + ṔL)
• Jika Ṕ>p* pada tabel G.1,
• lot ditolak
Tentukan keberterimaan untuk batas spesifikasi
ganda dengan jumlah contoh = 3
• 100 torpedo dalam lot diuji akurasinya pada area
horizontal. Batas spesifikasi diset 10 m baik atas
maupun bawah dari jarak 1 km, pada AQL of 4 %.
Karena mahal dan merusak, disetujui inspection
level S-2.
• Dari A.1, kode huruf = B. dari Table A.2, n= 3
Kesalahan didapatkan -5,0 m, 6,7 m and 8,8 m.
• Tetapkan kesesuaian dengan kriteria
keberterimaan pada inspeksi normal!
Jawaban :
Jawaban (cont)
• Untuk Sample size 4
• Hitung rata-rata sample(𝑥),
ҧ dan standar
deviasi sample (s), tentukan koefisien fS dari
baris kedua Tabel D.1, D.2, atau D.3.
• Tentukan standar deviasi sample maksimum
dengan rumus smax = (U-L)fs
• Bandingkan s dengan smax. Jika s > smax, lot
ditolak.
• Jika diterima, tentukan QU=(U-𝑥)/s
ҧ dan
QL =(𝑥-L)/s
ҧ
• Tentukan ṔU dan ṔL
• Jumlahkan, Ṕ= ṔU dan ṔL.
• Jika Ṕ >p* pada tabel G.1, lot ditolak
Contoh, n = 4
• Items are being manufactured in lots of size 50. The lower
and upper specification limits on their diameters are 82
mm to 84 mm. Items with diameters that are too large are
equally unsatisfactory as those with diameters that are too
small, and it has been decided to control the total fraction
nonconforming using an AQL of 2,5 % at inspection level II.
Normal inspection is to be instituted at the beginning of
inspection operations. From Table A.1, the sample-size
code letter is found to be C. From Table A.2, it is seen that a
sample of size 4 is required. The diameters of four items
from the first lot are measured, yielding diameters 82,4
mm, 82,2 mm, 83,1 mm and 82,3 mm. Compliance with the
acceptability criterion under normal inspection is to be
determined.
Jawaban
• Untuk Sample size lebih dari 4
• Hitung rata-rata sample(𝑥),
ҧ dan standar
deviasi sample (s), tentukan koefisien fS dari
Tabel D.1, D.2, atau D.3.
• Tentukan standar deviasi sample maksimum
dengan rumus smax = (U-L)fs
• Bandingkan s dengan smax. Jika s > smax, lot
ditolak.
• Jika diterima, pilih diantara grafik s-D hingga s-
R, pilih jumlah sample yang sesuai dan pilih
kurva keberterimaan dengan AQL untuk batas
ganda
• Hitung nilai s/(U-L) dan (𝑥ҧ − L)/(U − L)dan
plot pada grafik. Jika titik berada dalam kurva,
lot diterima. Jika diluar, lot ditolak
Contoh
• Temperatur minimum dan maksimum suatu alat
adalah 60 °C dan 70 °C. Ukuran lot = 96 buah.
Digunakan Inspection level II, normal inspection,
dan AQL = 1,5 %.
• From Table A.1, kode huruf = F; Dari Table A.2 n =
13 dan dari Table D.1 nilai fs untuk MSSD pada
inspeksi nmormal adalah 0,274.
• Hasil penmgukuran sbb: 65,5 °C; 60,0 °C; 65,2 °C;
61,7 °C; 69,0 °C; 67,1 °C; 60,0 °C; 66,4 °C; 62,8 °C;
68,0 °C; 63,4 °C; 60,7 °C; 65,8 °C;
• Tentukan kriteria keberterimaan.
Jawaban
• Jika AQL berubah jadi 4,0 %, nilai fs menjadi
0,328, dan MSSD {(=U-L)fs} jadi 3,28. Nilai s
(2,86) sekarang kurang dari MSSD, pada tahap ini
kriteria keberterimaan tidak bisa ditetapkan.
Kurva keberterimaan yang cocok diambil dari
Chart s-F.
• Setelah skala diset pada skala pengukuran,
gambarkan titik pada kurva(s = 2,86; 𝑥ҧ = 64,28).
• Titik ini terletak di dalam kurva untuk AQL of 4,0
%, sehingga lot diterima.
Normalisasi
• Jika skala tidak diset pada nilai s dan x, dihitung
• Standardized sample mean
• Standardized sample std deviation
• Gambarkan kurva ‘standarized samp mean”
vs”standarized sample std deviation”
• Plot 0,286 dan 0,428 pada Grafik, berada pada
kurva keberterimaan pada AQL=4%, Lot diterima
Normalized scale
Prosedur untuk Metode-σ
1. Penetapan rencana dan
perhitungan awal
• Diketahui nilai standard deviasi proses σ
• Tetapkan jumlah sampel (Tabel A.1), dan kode
huruf.
• Pada level inspeksi yang ditetapkan (Tabel C.1,
C.2, atau C.3) dan AQL yang ditetapkan, tentukan
jumlah sample (n) dan konstanta keberterimaan
(k)
• Ambil sejumlah contoh random, ukur
karakteristik (x) dan hitung rata-rata (𝑥).
ҧ
• Hitung pula standar deviasi (s) - untuk mengecek
stabilitas standar deviasi proses
2. Kriteria keberterimaan untuk
spesifikasi tunggal
• Seperti metode s, hanya s dinanti dengan σ
• Bandingkan hasil perhitungan Q dengan nilai
kriteria keberterimaan (k) pada tabel C.1, C.2,
atau C.3
• U. Batas spec atas, lot diterima jika 𝑥ҧ ≤ 𝑥ҧ U
• U. batas spec bawah, lot diterima jika 𝑥ҧ ≥ 𝑥ҧ L
Contoh soal
• The specified minimum yield point for certain steel castings
is 400 N/mm2 . A lot of 500 items is submitted for
inspection. Inspection level II, normal inspection, with AQL
= 1,5 %, is to be used. The value of σ is considered to be 21
N/mm2.
• From Table A.1 it is seen that the sample-size code letter is
H. Then, from Table C.1, it is seen that for an AQL of 1,5 %
the sample size n is 12 and the acceptability constant k is
1,613.
• Assume that the yield points of the sample specimens are
431; 417; 469; 407; 450; 452; 427; 411; 429; 420; 400; 445.
• Compliance with the acceptability criterion is to be
determined.
Jawaban
3. Kriteria keberterimaan
untuk batas spek ganda
• Sebelum sampling, gunakan Tabel E.1,
tetapkan faktor fσ
• Hitung standar deviasi proses maksimum yang
diperbolehkan (MPSD) = σmax
• σmax = (U-L) fσ
• Bandingkan σ dengan σmax.
• Jika σ > σmax , proses tidak bisa diterima
• Jika σ ≤ σmax , gunakan lot size dan level inspeksi untuk
menentukan sample-size code letter dari Tabel A.1
• Tentukan jumlah sample (n), dan konstanta
keberterimaan (k) dari Tabel C.1, C.2 atau C.3.
• Hitung batas atas (𝑥ҧ U) = U – kσ dan batas bawah (𝑥ҧ L) =
L + kσ
• Ambil sampel random sejumlah n dari lot, lakukan
inspeksi dan hitung rata-rata sample x.
• Lot diterima jika 𝑥ҧ L≤ 𝑥ҧ ≤ 𝑥ҧ U
• Lot ditolak jika 𝑥ҧ < 𝑥ҧ L atau 𝑥ҧ > 𝑥ҧ U
Contoh Soal
• Spesifikasi resistor adalah (520 ± 50) Ω.
Kecepatan produksi 2 500 buah per lot.
Digunakan inspeksi level II, Normal inspeksi dan
AQL 4 %, untuk dua spek limit (470 and 570).
Standar deviasi proses (σ) adalah 21,0.
• Dari A.1 code letter is K; dari Table A.2 jumlah
sampel n adalah 18 untuk inspeksi normal.
• Jika hasil uji resistan adalah sbb: 515; 491; 479;
507; 543; 521; 536; 483; 509; 514; 507; 484; 526;
552; 499; 530; 512; 492.
• Tentukan lot diterima atau ditolak!
Jawaban
Soal Pe Er
• Bagaimana jika standar deviasi proses = 25 ??
Keadaan Normal dan Outlier
• Pihak yang bertanggungjawab harus
mengecek keadaan sebelum dilaksanakan
sampling.
• Outlier dapat menaikkan variabilitas, merubah
mean hingga menjadikan lot tidak diterima
Record
• Digunakan untuk mendeteksi trends
• Biasanya plot s versus 𝑥ҧ
• Lot yang tidak bisa diterima ; tidak bisa di
submit lagi
Switching Rule
• Mendorong produsen tetap melaksanakan proses
produksi secara kontinyu dalam AQL
• Pertama-tama digunakan Inspeksi normal, hingga
titik dimana diperlukan inspeksi diperketat atau
diperlonggar
• Diperketat jika dua dari lima lot berturut-turut
tidak diterima
• Dari diperketat bisa di kembali ke normal, jika
lima inspeksi ketat yang berturut dapat diterima
• Inspeksi diperlonggar dapat dilakukan setelah 10 kali
inspeksi berturutan pada inspeksi normal dapat
diterima, dengan syarat
1. lot masih tetap diterima dengan AQL setahap lebih
ketat.
2. Produksi dalam kontrol statistik
3. Dipertimbangkan oleh pemegang otoritas
• Kembali ke inspeksi normal jika terjadi
1. Satu lot ditolak
2. Produksi menjadi tidak biasa atau tertunda
3. Keputusan pemegang otoritas
Diskontinyu
• Jika pada inspeksi diperketat didapat lima lot
berturutan yang ditolak
Perpindahan metode-s dan metode-σ
• Nilai σ harus diestimasi ulang setiap interval 5 lot.
(kecuali pemegang otoritas menghendaki lain)
• Batas kontrol atas dihitung setiap 10 lot,
dinyatakan sebagai cUσ, dimana cU adalah factor
(Tabel H.1) yang bergantung pada jumlah sample
n. Jika tidak ada standar deviasi (sj) melampaui
batas kontrol, proses dinyatakan dalam batas
statistik
• Jika proses dinyatakan dalam batas statistik pada
metode-s, bisa pindah ke metode-σ
• Kurva s tetap dijalankan pada metode-σ.
• Jika ditemukan diluar batas kontrol, inspeksi
harus kembali ke metode-s
Summary