REFLEKSIKASUS
BELL’S PALSY
Wahyu Ratna Sari
Pembimbing :
dr. Wijoyo Halim, Sp.S
•Identitas
• Nama : Tn. I
• Jenis Kelamin : laki-laki
• Umur : 41 tahun
• Suku Bangsa : Indonesia
• Pekerjaan : Pedagang
• Alamat : Sigi Biromaru
•anamnesis
• Keluhan utama
• Merasa wajahnya mencong ke arah kanan
• Pasien datang diantar oleh keluarga ke poli saraf dengan
keluhan merasa wajahnya mencong ke arah kanan yang
dirasakan sejak 2 hari yang lalu, mencong dirasakan saat
beraktivitas, mata sebelah kiri selalu mengeluarkan air
mata, saat minum air mengalir dari bibirnya sebelah kiri,
susah makan (+), sakit kepala (+) rasa berdenyut sebelah
kiri, mual (-), muntah (-). BAB dan BAK (+) lancar,
Riwayat DM (+), riwayat hipertensi (-).
• Pasien tidak pernah merokok dan meminum minuman
keras
•Pemeriksaan fisik
• Keadaan umum
- Kesan : Sakit ringan
- Kesadaran : E4 V5 M6 GCS 15
- Tekanan darah : 120/80mmHg
- Respirasi : 20x/menit
- Nadi : 80x/menit
- Suhu : 37,2˚C
•Pemeriksaan neurologis
• Pemeriksaan refleks fisiologis
Biceps, Triceps, Radialis, Ulnae, Patella,
Achilles (++)
• Pemeriksaan refleks patologis
Babinski, Chaddock, Gordon, Chaefer, Oppenhim,
Rossolimo (-/-)
• Rangsangan meningeal
Kaku kuduk : (-)
Kernig sign : -/-
Brudzinski I : -/-
• Pemeriksaan nervus cranialis
- N I : DBN
- N II : DBN
- N III, IV, VI: DBN
- N V : Refleks kornea (+) DBN
- N VII :
- 1. mengerutkan dahi (+/-)
2. menutup mata (+/-)
3. tersenyum (+/-)
4. Pengecap 2/3 lidah: tidak dapat merasakan manis
- N VIII : TDP
- N IX, X : TDP
- N XI : TDP
- N XII : TDP
•Kolumna vertebralis
• Inspeksi : TDP
• Pergerakan : TDP
• Palpasi : TDP
• Perkusi : TDP
Superior Inferior
Dextra Sinistra Dextra Sinistra
Motorik
Pergerakan Normal Normal Normal Normal
Kekuatan 5 5 5 5
Tonus Otot + + + +
Refleks fisiologis
Biceps ++ ++
Triceps ++ ++
Radius ++ ++
Ulna ++ ++
Achilles ++ ++
Patella ++ ++
Refleks Patologis
Hoffman - - Chaddock: - Chaddock:-
Tromner - - Gordon: - Gordon: -
Schaefer: - Schaefer: -
Oppenheim: - Oppenheim: -
Babinsky : - Babinski : -
•
Pemeriksaan laboratorium
• Darah : tidak dulakukan
• Urine : tidak dilakukan
• LCS : tidak dilakukan
•Resume
• Pasien datang diantar oleh keluarga ke poli saraf dengan
keluhan merasa wajahnya mencong ke arah kanan yang
dirasakan sejak 2 hari yang lalu, mencong dirasakan saat
beraktivitas, mata sebelah kiri selalu mengeluarkan air
mata, saat minum air mengalir dari bibirnya sebelah kiri,
susah makan (+), sakit kepala (+) rasa berdenyut sebelah
kiri, mual (-), muntah (-). BAB dan BAK (+) lancar,
Riwayat DM (+), riwayat hipertensi (-).
• Pasien tidak pernah merokok dan meminum minuman
keras
- Pada pemeriksaan neurologis nervus VII didapatkan .
mengerutkan dahi (+/-), menutup mata (+/-), tersenyum
(+/-), Pengecap 2/3 lidah: tidak dapat merasakan manis.
- TD : 120/80, N : 80 x/menit, R : 20 x/menit, S : 37,2 ˚.
•DIAGNOSIS
• Diagnosis klinis : Ipsiparese nervus VII sinistra
• Diagnosis Topis : Nervus VII
• Diagnosis etiologis : Susp. Bells Palsy
•Penatalaksanaan
Non farmakologis
• Istirahat terutama pada keadaan akut
• Tiap malam mata di plester gunanya melatih
mata yang tidak dapat menutup dapat tertutup
secara bersamaan
Farmakologis
•PROGNOSIS
• Ad vitam : dubia ad bonam
• Ad functionam : dubia ad bonam
• Ad sanationam : dubia ad malam
• Anjuran :
• CT Scan
ANATOMI
Nervus facialis merupakn saraf motorik yang
menginervasi otot-otot ekspresi wajah.
Nervus facialis mempunyai 2 subdivisi , yaitu:
• Nervus facialis propius
• Nervus intermediet
Aferen otonom
Eferen otonom
Aferen somatic
Bell’s Palsy
Definisi
Bell’s Palsy (BP) ialah suatu kelumpuhan akut nervus
facialis perifer yang tidak diketahui sebabnya.
Prevalensi
laki-laki = wanita
wanita muda yang berumur 10-19 tahun lebih
rentan terkena daripada laki-laki pada kelompok
umur yang sama.
semua umur ( terutama umur 15-50 tahun )
Etiologi
kongenital
Infeksi
tumor
Trauma
gangguan pembuluh darah
idiopatik
penyakit-penyakit tertentu
Patofisiologi
Gejala klinik
- gejala kelumpuhan yang timbul mendadak
- gejala kelumpuhan otot wajah :
-dahi tidak dapat dikerutkan atau lipat dahi hanya
terlihat pada sisi yang sehat
-kelopak mata tidak dapat menutupi bola mata pada
sisi yang lumpuh (lagophthalmus)
-Gerakan bola mata pada sisi yang lumpuh lambat,
bola mata berputar ke atas bila memejamkan mata
(Bell's sign)
- sudut mulut tidak dapat diangkat, lipat nasolabialis
mendatar pada sisi yang lumpuh dan mencong ke sisi
yang sehat
- gangguan fungsi pengecap, hiperakusis dan
gangguan lakrimasi.
• Gejala dan tanda klinik yang berhubungan dengan lokasi lesi
a. Lesi di luar foramen stilomastoideus
Mulut tertarik kearah sisi mulut yang sehat + makanan terkumpul
di antara pipi dan gusi + lipatan kulit dahi menghilang + mata yang
terkena tidak ditutup maka air mata akan keluar terus menerus.
b. Lesi di canalis facialis (corda timpani)
Gejala (a) + hilangnya ketajaman pengecapan lidah 2/3 bagian
depan + salivasi di sisi yang terkena berkurang.
c.Lesi di canalis facialis lebih tinggi lagi (melibatkan musculus
stapedius)
Gejala (a) dan (b) + hiperakusis.
d. Lesi ditempat yang lebih tinggi lagi (melibatkan ganglion
genikulatum)
Gejala (a),(b),(c) + dengan nyeri di belakang dan didalam liang
telinga + kegagalan lakrimal + kegagalan pendengaran, gangguan
pengecapan, pengeluaran air mata dan salivasi.
e. Lesi di meatus acusticus internus
Gejala dan tanda klinik seperti diatas + tuli
f. Lesi ditempat keluarnya nervus facialis dari pons.
Gejala dan tanda klinik sama dengan diatas + gejala dan tanda
terlibatnya nervus trigeminus, nervus acusticus dan kadang –
kadang juga nervus abdusen, nervus aksesorius dan nervus
hipoglossus.
Diagnosa
• GejalaKlinis
• Pemeriksaan fisik :
- Pemeriksaan fungsi saraf motorik
- Tonus
- Gustometri
- Salivasi
- Schimer test
- Refleks stapedius
- Uji auditorik
- sinkinesis
Diagnosis Banding
• OMS dan Mastoiditis
• Herpes Zoster Otikus
• Trauma Capitis
• Tumor Intracranial
Pentalaksanaan
• Steroid
1 mg/kg atau 60 mg PO qd selama 7 hari diikuti
Dosis dewasa
tappering off dengan total pemakaian 10 hari.
1 mg/kg PO qd selama 6 hari diikuti tappering off
Dosis Anak
dengan total pemakaian 10 hari.
Hipersensitivitas, diabetes berat yang tak
Kontraindikasi terkontrol, infeksi jamur, ulkus peptikum, TBC,
osteoporosis.
• Antivirus
• Vitamin B (Metilcobalamin)
Prognosis
• Prognosis sangat bergantung kepada derajat kerusakan
nervus facialis.
• Pada anak prognosis umumnya baik (90% akan
mengalami penyembuhan tanpa gejala sisa)
• Jika dengan prednison dan fisioterapi selama 3 minggu
belum mengalami penyembuhan, besar kemungkinan
akan terjadi gejala sisa berupa kontraktur otot-otot
wajah, sinkinesis, tik fasialis.
Rehabilitasi Medik
• Fisioterapi
• Latihan otot wajah dan massage wajah
• Program psikologik
• Home programe
Terima Kasih