0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
1K tayangan30 halaman

Abses Submandibula

Dokumen tersebut membahas tentang abses submandibula, yang merupakan infeksi pada ruang leher dalam. Dibahas anatomi, etiologi, patogenesis, diagnosa, terapi, dan prognosis dari kondisi tersebut."

Diunggah oleh

ghaisani humairah
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
1K tayangan30 halaman

Abses Submandibula

Dokumen tersebut membahas tentang abses submandibula, yang merupakan infeksi pada ruang leher dalam. Dibahas anatomi, etiologi, patogenesis, diagnosa, terapi, dan prognosis dari kondisi tersebut."

Diunggah oleh

ghaisani humairah
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAGIAN ILMU KESEHATAN THT-KL LAPORAN KASUS

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN FEBRUARI 2020

ABSES
SUBMANDIBULA Disusun Oleh:
Muh. Nur Cholish C014182020
Tri Retno Awaluddin C014182067
Sari Miftahul Jannah C014182067
Supervisor Pembimbing: Residen Pembimbing:
Dr. dr. Masyita Gaffar, Sp.T.H.T.K.L (K) dr. Eka Utami Makmur
PENDAHULUAN

ABSES SUBMANDIBULA
• Abses leher dalam terbentuk di dalam ruang potensial diantara fasia leher
dalam sebagai akibat penjalaran infeksi dari berbagai sumber, seperti gigi,
mulut, tenggorok, sinus paranasal, telinga tengah, dan leher. Gejala dan
tanda klinik biasanya berupa nyeri dan pembengkakan di ruang leher
dalam yang terlibat

Fachruddin, D. Abses leher dalam. Dalam : Iskandar M, Soepardi AE editor. Buku ajar ilmu penyakit telinga hidung tenggorok. Edisi ke 7 Cetakan kelima. Jakarta: Balai
Penerbit FKUI; 2016. p. 204-8.

2
Anatomi Leher
Leher terdiri atas fasia servikal superfisial dan profunda yang memisahkan struktur menjadi
beberapa bagian. Fasia servikal : Otot, pembuluh, dan struktur visceral leher dibungkus oleh
Fasia servikal, Fasia servikal terbagi menjadi dua bagian yaitu fasia servikal superfisial dan fasia
servikal profunda.
Fasia servical
Superfisial fasia servical profunda
superfisial
Fasia servical
media fasia servical
Fasia Servical profunda
profunda/pretrakheal

Prfunda fasia servical


profunda/prevertebral

Jaryszak EM, Choi, SS, Deep Neck Infection. Dalam : Scoem SR, Darrow DH, editors Pediatric Ototlarhyngology. United State of America :
American Acedemy of Pediatrics; 2012. p.249-96

3
Anatomi Leher

Fasia serviks superfisial terdiri dari jaringan subkutan


yang menutupi seluruh kepala dan leher dan berlanjut ke
muskulus platisma di sebelah anteriornya

Jaryszak EM, Choi, SS, Deep Neck Infection. Dalam : Scoem SR, Darrow DH, editors Pediatric Ototlarhyngology. United State of America :
American Acedemy of Pediatrics; 2012. p.249-96

3
Anatomi Leher
Fasia servikalis profunda atau yang disebut juga deep cervical fascia terbagi menjadi tiga lapis yaitu lapisan superfisial, lapisan
media dan lapisan profunda

Jaryszak EM, Choi, SS, Deep Neck Infection. Dalam : Scoem SR, Darrow DH, editors Pediatric Ototlarhyngology. United State of America :
American Acedemy of Pediatrics; 2012. p.249-96

3
Anatomi Leher
Fascial space  terdapat tiga ruang diantara fasia servikal profunda yang berguna untuk kepentingan klinis, yaitu
ruang submandibula, ruang parafaring, dan ruang retrofaringeal.
submandibular space :

Jaryszak EM, Choi, SS, Deep Neck Infection. Dalam : Scoem SR, Darrow DH, editors Pediatric Ototlarhyngology.
United State of America :
3
American Acedemy of Pediatrics; 2012. p.249-96
Etiologi
Sumber infeksi
• Infeksi gigi (46,9%)
• Faring
• sialadenitis kelenjar submandibular
• Limfadenitis
• Trauma
• pembedahan
Mikrobiologi
• Streptococcus pyogenes (30,37%)
• Staphylococcus aureus (22,97%)

Rizzo P, Mosto MCD. Submandibular Space Infection: A Potentially Lethal Infection. International Journal of Infectious Diseases. 2009;13:327-33
Gujrathi AB, Ambulgekar V, Kathait P. Infeksi Leher Dalam – studi retrospektif 270 kasus pada pusat kesehatan tersier. Dr. S. C. Government Medical College, India. 2016.p.1-11

7
Patogenesis
Riwayat infeksi dari berbagai sumber seperti gigi, mulut,
tenggorok, sinus paranasal, telinga tengah dan leher.

Port de entri Bakteri Gram Positif atau Negatif

Mengeluarkan enzim hyaluronidase dan enzim koagulase

Merusak jembatan antar sel

Transpor nutrisi antar sel terganggu


Jaringan terinfeksi

Jaringan rusak/ mati/ nekrosis


Sel darah putih mati

Media bakteri yang baik


Jaringan menjadi abses
Novaldi, Pulungan MR. Pola Kuman Abses Leher Dalam. Unand. [cited 6 Februari 2020].
Available from: http://tht.fk.unand.ac.id/makalah/80-pola-kuman-abses-leher-dalam.html 8 dan berisi PUS
Diagnosis
Gejala, tanda, dan anamnesis yang bisa didapatkan:
 Demam
 Nyeri leher disertai pembengkakan di bawah mandibula dan atau di bawah lidah
 Trismus
 Disfagia
 Sasak napas
 Riwayat Infeksi gigi, faring, trauma serta kelanjutan infeksi dari ruang leher dalam lainnya
 Oral hygiene, diabetes melitus, imunodefisiensi

Litha Y, Gazali M, Lopo C, Nayoan RC. Submandibular Abscess.Jurnal


9
Medical Profession (Medpro).2019;1(2):144-150
Diagnosis
Pemeriksaan Penunjang
 Laboratorium
• Darah rutin
• Biakan guna uji resistensi antibiotic

 Radiologis
• Foto X-ray jaringan lunak kepala AP
• Foto X-ray panoramic : dilakukan apabila penyebab abses submandibuka berasal dari gigi.
• Foto x-ray thoraks: perlu dilakukan untuk evaluasi mediastinum, empisema subkutis,
pendorongan saluran nafas, dan pneumonia akibat aspirasi abses.
• CT-scan: CT-scan dengan kontras merupakan pemeriksaan gold standard pada abses leher dalam.

Litha Y, Gazali M, Lopo C, Nayoan RC. Submandibular Abscess.Jurnal Medical


Profession (Medpro).2019;1(2):144-150
10
Diagnosis Banding

• Angina Ludovici • Tumor Kepala-leher

Fachruddin, D. Abses leher dalam. Dalam : Iskandar M, Soepardi AE editor. Buku ajar ilmu penyakit telinga hidung tenggorok. Edisi ke 7 Cetakan kelima. Jakarta:
Balai Penerbit FKUI; 2016. p. 204-8.
11
TERAPI

 Obat-obatan :
• Terapi antibiotik Untuk pasien dengan infeksi ruang prevertebral, sebaiknya menggunakan rejimen
antibiotik awal yang memiliki aktivitas terhadap S. aureus (termasuk MRSA), basil gram negatif, dan
anaerob.
• Ciprofloxacin (400 mg IV setiap 12 jam) ditambah metronidazol (500 mg IV setiap delapan jam)
• Cefepime (2 g IV setiap 8 jam) plus metronidazole (500 mg setiap delapan jam) 
• Untuk pasien dengan infeksi terkait perawatan kesehatan atau dengan faktor risiko infeksi dengan
organisme penghasil beta-laktamase (ESBL) spektrum luas, pengobatan empiris dengan agen aktif-
MRSA (mis., Vankomisin ) ditambah karbapenem ( imipenem 1 g IV setiap enam jam atau 
meropenem 2 g IV setiap delapan jam)

 Drainase abses

Oliver ER, Gillespie MB. Deep Neck Space Infections. In: Flint PW, Haughey BH, Lund VJ,
Niparko JK, Richardson MA, Robbins KT, et al., editors. Cummings Otolaryngology Head
12 and Neck Surgery. 5th ed. Philadelphia: Mosby, Inc.; 2010. p. 201-8.
PROGNOSIS

Tergantung pada
Lorem Ipsum is simply beberapa
dummy faktor
text of the printing :
and typesetting industry. Lorem Ipsum has been the industry's standard dummy text
ever since the 1500s, when an unknown printer took a galley of type and scrambled it to make a type specimen book.

 Diagnosis dini
 Penanganan yang tepat
 Komplikasi yang dapat terjadi mediastinitis, sepsis,
obstruksi jalan napas.

Novaldi, Pulungan MR, Pola Kuman Abses Leher Dalam. Unand. 2012 [cited 6 Februari 2020]. Available
from:
http://tht.fk.unand.ac.id/makalah/80-pola-kuman-abses-leher-dalam.html 13
LAPORAN KASUS
LAPORAN KASUS

Identitas Pasien
Nama : Andi Alif
Umur : 20 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Pekerjaan : Mahasiswa
Status Perkawinan : Belum Kawin
Anamnesis Tgl : 30/01/2020

15
LAPORAN KASUS
Anamnesis
Keluhan Utama: Nyeri rahang kanan bawah
Riwayat Penyakit Sekarang:
Lorem Ipsum is simply dummy text of the printing and typesetting industry. Lorem Ipsum has been the industry's standard dummy text
Pasien datangever kesince
IGDthe 1500s, when an unknown printer took a galley of type and scrambled it to make a type specimen book.
RS Dr.Wahidin Sudirohusodo dengan keluhan nyeri pada rahang kanan bawah.
Nyeri dirasakan sejak 2 hari yang lalu dan dirasakan semakin memberat, Nyeri bertambah terutama saat
penekanan. Pasien kesulitan untuk membuka mulut.
Bengkak dirasakan sejak 1 minggu yang lalu. Awalnya ada pembengkakan muncul dirahang kanan
bawah dan semakin lama semakin besar dan terasa nyeri. Demam ada sejak 4 hari yang lalu, bersifat naik
turun. Odinofagi ada, disfagi ada, batuk ada, cephalgia kadang ada terutama saat pasien merasakan
nyeri. Gigi berlubang tidak ada, penurunan berat badan secara drastis tidak ada, sesak tidak ada, disfoni
tidak ada, odinofoni tidak ada, rinore tidak ada, post nasal drip tidak ada, gangguan penghidu tidak ada,
otalgia tidak ada, tinnitus tidak ada, vertigo tidak ada.
Riwayat trauma pada kepala dan telinga tidak ada. Pasien tidak memiliki riwayat diabetes melitus,
hipertensi, penyakit jantung dan stroke. Riwayat berobat ke puskesmas sejak 2 hari yang lalu dan
diberikan obat Cefadroxil dan Paracetamol, namun tidak ada perbaikan.

16
LAPORAN KASUS

Riwayat Penyakit Dahulu:


Lorem Ipsum is simply dummy text of the printing and typesetting industry. Lorem Ipsum has been the industry's standard dummy text
Pasien tidak pernah mengalami
ever since the 1500s, whenpenyakit yangtooksama
an unknown printer a galley sebelumnya,
of type and scrambledpasien
it to make amemiliki
type specimenriwayat
book. penyakit
maag.

Riwayat Penyakit Keluarga:


Tidak ada anggota keluarga yang menderita penyakit seperti ini.

Riwayat Sosial:
Pasien merokok elektronik sejak 3 tahun yang lalu, mengonsumsi alkohol maupun obat-obatan
disangkal.

17
LAPORAN KASUS
Pemeriksaan Status Generalis
Keadaan umum : Sakit sedang
Lorem Ipsum is simply dummy text of the printing and typesetting industry. Lorem Ipsum has been the industry's standard dummy text
Kesadaran ever since : Compos
the 1500s, whenMentis
an unknown printer took a galley of type and scrambled it to make a type specimen book.

Tekanan darah : 110/70mmHg


Frekuensi nadi : 89x/menit
Frekuensi napas : 20x/menit
Suhu : 38.9°C.

Pemeriksaan Sistemik
Mata, thoraks, Abdomen dan Ekstremitas dalam batas normal

18
LAPORAN KASUS
Pemeriksaan Hidung
Pemeriksaan Telinga
Kanan Kiri 1) Bagian luar hidung : Dalam Batas Normal
a. Daun telinga : normal normal 2) Bagian dalam hidung : Dalam Batas Normal
b. Bentuk : normal normal 3) Dinding Lateral
c. Ukuran : normal normal a. Meatus Nasi Inferior : Dalam Batas Normal
d. Sikatriks : tidak ada tidak ada b. Meatus Nasi Medial : Dalam Batas Normal
e. Infeksi : tidak ada tidak ada c. Konka medial : Dalam Batas Normal
f. Tumor : tidak ada tidak ada 4) Dinding Media
1) Depan Telinga : Dalam Batas Normal a. Warna : tidak hiperemis
2) Belakang Telinga : Dalam Batas Normal b. Permukaan (Deviasi) : ada (deviasi ke kiri)
3) Liang Telinga Luar : Dalam Batas Normal c. Edema (Hipertrofi) : tidak ada
4) Selaput Gendang : Dalam Batas Normal d. Eksoriasi : tidak ada
5) Telinga Tengah (Bila ada perforasi) : Tidak ada kelainan e. Perforasi : tidak ada
5) Dinding Belakang : tidak dapat dilakukan pemeriksaan
oleh karena buka mulut terbatas pada pasien
6) Sinus paranasal
Transiluminasi : tidak dilakukan pemeriksaan
19
Pemeriksaan Gigi, Mulut,
LAPORAN KASUS Kerongkongan, Tenggorokan
1) Gigi 4. Arkus Posterior : normal
a. Karies : tidak ada 5. Tonsil
b. Abses : tidak ada a. Warna : hiperemis (+) hiperemis (+)
c. Gusi : hiperemis tidak ada b. Pembesaran : T2 T2
2) Mulut c. Detritus : ada ada
a. Abses/Fistel : tidak ada d. Kripte : tidak ada tidak ada
b. Sikatriks : tidak ada e. Perlengketan : tidak ada tidak ada
c. Nyeri Tekan : tidak ada 6. Hipofaring : tidak dapat dilakukan pemeriksaan oleh karena buka
3) Kerongkongan mulut terbatas pada pasien
1. Orofaring  
a. Dinding Dorsal 4) Tenggorokan : tidak dapat dilakukan pemeriksaan oleh karena
- Mukosa : hiperemis hiperemis buka mulut terbatas pada pasien
- Granula : ada ada  
- Deformitas : tidak ada tidak ada 5) Kelenjar Limfe Regional : ditemukan pembesaran pada regio
- Post Nasal Drips : negatif negatif submandibula dextra Massa 6x4x1,5 cm, konsistensi keras, terfiksir,
b. Dindng Lateral nyeri tekan ada
- Mukosa : hiperemis (+) hiperemis (+)  
- Granula : ada ada 6) Kelainan Lain : tidak ditemukan kelainan
2.Ismus Faucium : normal  
3. Arkus Anterior : normal 20
LAPORAN KASUS
Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan
WBC 12.2 4.00-10.00 x 10*3/ul
Pemeriksaan Laboratorium RBC 5.40 4.00-6.00 x 10*6/uL
1.Darah (30-01-2020) HGB 15.1 12.0-16.0 gr/dl
2. Urine : Tidak dilakukan pemeriksaan HCT 43 37.0-48.0 %
3. Bakteriologis : Tidak dilakukan pemeriksaan PLT 296 150-400 x 10*3/uL
Neut. 65.0 52.0-75.0 %
Lymph 21.6 20.0-40.0 %
Mono 11.1 2.00-8.00 x 10*3/ul
Eos 1.6 1.00-3.00 x 10*3/ul
Baso 0.7 0.00-0.10 x 10*3/ul
Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan
GDS 99 140 mg/dl Natrium 139 136-145 mmol/l
Ureum 17 10-50 mg/dl
Kalium 3.9 3.5-5.1 mmol/l
Kreatinin 1.17 <1.3 mg/dl
SGOT 31 <38 U/L Klorida 101 111. ol/l
SGPT 62 <41 U/L
HbsAg Non reaktif Non reaktif

21
LAPORAN KASUS

Foto Thorax (30-01-2020)

Kesan : tidak tampak kelainan

22
LAPORAN KASUS
Foto CT Cervical (tanpa kontras)
(30-01-2020)
- Tampak lesi hipodens (29HU) batas tegas, permukaan regular,
tanpa kalsifikasi dengan ukuran +/- 2.1 x 3.6 x 1.9 cm disertai fat
stranding pada regio submandibular dextra
- Tampak perbesaran KGB submandibular dextra
- Area nasopharynx tampak simetris, ruang parapharyngeal dan
larynx tampak normal. Fossa Rossenmuller baik.
- Kedua sinus piriformis tampak normal
- Tidak tampak deviasi septum nasi
- Kedua lobus thyroid dalam batas normal
- Parenkim cerebri yang terscan dalam batas normal
- Tulang-tulang intak
Kesan :
- Suspek abses regio submandibular dextra
- Lymphadenopathy submandibular dextra

23
LAPORAN KASUS Foto Klinis

24
LAPORAN KASUS
Diagnosa Prognosis
Abses Submandibula Quo at vitam : Dubia ad bonam
Diagnosa Banding Quo at sanationem : Bonam
Angina Ludovici Quo at functionam : Bonam

Pengobatan
• Ringer laktat 20 tetes/menit
• Cefotaxime 1 gram/12 jam/intravena
• Metronidazole 500mg/8 jam/intravena
• Ketorolac 30mg/8 jam/intravena
• Methylprednisolon 62,5 mg/8 jam/intravena
• Omeprazole 40mg /12 jam/intravena

25
DISKUSI KASUS
KASUS TINJAUAN
Lorem Ipsum is simply dummy text of the printing and typesetting industry. Lorem Ipsum has been the industry's standard dummy text
ever since the 1500s, when an unknown printer took a galley of type and scrambled it to make a type specimen book.
Pasien laki-laki, 20 tahun, • Abses leher dalam, abses submandibula
Keluhan nyeri pada rahang kanan bawah sejak 2 merupakan abses leher dalam yang paling sering
hari yang lalu, disertai bengkak sejak 1 minggu terjadi (60%), diikuti oleh abses parafaring (16%),
yang lalu semakin lama semakin besar dan nyeri, abses parotis (6%) dan abses retrofaring (4%).
Angka kejadian abses submandibula lebih banyak
nyeri tekan ada, kesulitan untuk membuka mulut ditemukan pada laki-laki (51,9%) dibanding
ada, demam ada, odinofagi ada, disfagi ada, perempuan (48,1%).
batuk ada. • Bengkak dan nyeri merupakan keluhan utama
sebagian besar dari abses leher dalam.
• Gejala lain yang sering ditemukan adalah disfagi
dan trismus dikarenakan keterlibtan dari muskulus
pterigoides.

37
DISKUSI KASUS
KASUS TINJAUAN PUSTAKA
Lorem Ipsum is simply dummy text of the printing and typesetting industry. Lorem Ipsum has been the industry's standard dummy text
ever since the 1500s, when an unknown printer took a galley of type and scrambled it to make a type specimen book.

• riwayat penyakit infeksi lain yang dapat


menjadi sumber infeksi dari abses
submandibula diantaranya adalah infeksi
Pada pasien ini tidak ditemukan adanya gigi gigi, dasar mulut, faring, kelenjar limfe
berlubang, penurunan berat badan secara submandibula, adanya trauma serta
drastis tidak ada. Ditemukan infeksi pada kelanjutan infeksi dari ruang leher dalam
faring yaitu T2-T2, hiperemis yang disertai lainnya.
detritus serta oral hiegene yang buruk • Adanya faktor predisposisi dari abses
submandibula yaitu hyiene orodental
yang buruk, diabetes melitus serta
adanya penyakit imunodefisiensi

38
DISKUSI KASUS
KASUS TINJAUAN PUSTAKA
• Pada pemeriksaan fisis infeksi di ruang
submandibula biasanya ditandai dengan
Lorem Ipsum is simply dummy text of the printing and typesetting industry.pembengkakan
Lorem Ipsum has been di bawahstandard
the industry's rahang,
dummybaik
text unilateral
• Pada pemeriksaan fisiswhen an
ever since the 1500s, leher ditemukan
unknown printer atau
took a galley of type bilateral
and scrambled yang
it to make a typenyeri
specimentekan,
book. hiperemi dan
pembesaran pada regio submandibula dextra berfluktuasi.
Massa 6x4x1,5 cm, konsistensi keras, terfiksir, nyeri • Pasien dapat menjadi dehidrasi karena kurangnya
tekan ada asupan nutrisi dan cairan
• Mata cekung tidak ada, turgor kulit normal dan • Pemeriksaan foto polos dada dilakukan untuk
pemeriksaan elektrolit darah dalam batas normal. mengetahui adanya komplikasi dengan
• Foto thoraks kesan normal didapatkannya gambaran pneumotoraks serta
• Ct Scan Cervical (tanpa kontas) kesan Suspek abses pneumomediastinum yang merupakan indikator
regio submandibular dextra, lymphadenopathy pembentukan abses yang berasal dari leher dalam.
submandibular dextra • pemeriksaan Computed Tomography scan atau CT
scan dapat menentukan lokasi dan perluasan abses,
adanya pelebaran mediastinum akibat mediastinitis,
adanya edema paru serta pneumomediastinum
akibat komplikasi.

39
DISKUSI KASUS

KASUS TINJAUAN PUSTAKA


Lorem Ipsum is simply dummy text of the printing and typesetting industry. Lorem Ipsum has been the industry's standard dummy text
ever since the 1500s, when an unknown printer took a galley of type and scrambled it to make a type specimen book.

Terapi yang diberikan: • Sebagian besar penyebab abses leher dalam


• Ringer laktat 20 tetes/menit adalah polimikrobial termasuk bakteri
• Cefotaxime 1 gram/12 jam/intravena anaerob dan aerob. pemberian antibiotika
• Metronidazole 500mg/8 jam/intravena kombinasi yang merupakan terapi yang
• Ketorolac 30mg/8 jam/intravena disarankan untuk penetalaksanaan abses
• Methylprednisolon 62,5 mg/8 jam/intravena leher dalam. pada kasus ini pasien
• Omeprazole 40mg/12 jam/intravena responsive terhadap antibiotik tersebut.

40
BAGIAN ILMU KESEHATAN THT-KL LAPORAN KASUS
FAKULTAS KEDOKTERAN FEBRUARI 2020
UNIVERSITAS HASANUDDIN

TERIMA KASIH

Anda mungkin juga menyukai