0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
355 tayangan21 halaman

Biopharmaceutical Classification System

BCS digunakan untuk mengklasifikasikan obat berdasarkan kelarutan dan permeabilitasnya yang berkorelasi dengan bioavailabilitasnya. Sistem klasifikasi ini memberikan pendekatan ilmiah untuk memprediksi efek farmakokinetik obat setelah diminum dan digunakan sebagai patokan dalam regulasi bioekivalensi.
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
355 tayangan21 halaman

Biopharmaceutical Classification System

BCS digunakan untuk mengklasifikasikan obat berdasarkan kelarutan dan permeabilitasnya yang berkorelasi dengan bioavailabilitasnya. Sistem klasifikasi ini memberikan pendekatan ilmiah untuk memprediksi efek farmakokinetik obat setelah diminum dan digunakan sebagai patokan dalam regulasi bioekivalensi.
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Biopharmaceutical

Classification System
Biofarmasetika
Apt.Yulia R Rzki
Biopharmaceutical Classification System
• Klasifikasi/penggolongan obat berdasarkan solubilitas dan
permeabilitas yang dikorelasikan dengan bioavaibilitasnya di dalam
tubuh manusia
• Diusulkan oleh Amidon
• BCS banyak digunakan dalam design dan pengembangan inovasi obat,
bentuk sediaan yang baru, dan dalam farmakologi klinis
(obat-obat/obat-makanan).
BCS
BCS dikembangkan untuk memberikan pendekatan ilmiah untuk
memprediksi secara in vivo efek farmakokinetik obat setelah diminum, y
diklasifikasikan berdasarkan:
1. Kelurutan
2. Permebilitas
3. Disolusi
BCS memungkinkan untuk melakukan estimasi faktor utama
mempengaruhi penyerapan obat bentuk sediaan oral padat
BCS digunakan sebagai patokan dalam regulasi bioekivalensi obat
sediaan oral.
• Pemberian obat secara oral pada percobaan in vivo tergantung pada
karekteristik kelarutan dan permeabilitas obat tersebut.
• Laju pelepasan atau kelarutan bahan obat tidak akan menjadi
parameter tunggal dalam hal absorpsi jika tingkat permeabilitas
terbatas.
• Studi disolusi invitro dapat digunakan untuk menunjukkan
ketersediaan hayati (BA) atau bioekivalensi (BE) dari produk obat
melalui korelasi in vitro - in vivo (IVIVC).
• Jika disolusi terbatas  obat dengan mudah melewati cairan GI 
obat sukar dilepaskan dari sediaan  keterbatasan absorpsi.
• Studi in-vivo diperlukan dalam hal untuk menilai
tingkat penyerapan bioavailabilitas dan bioekivalensi.
• Jika obat solubilitas  laju disolusi lambat  pelepasan obat lebih lambat 
absorpsi sangat rendah  sehingga selanjutnya absorpsi obat diatur oleh laju
pengosongan lambung.
• Solver problem: Dibuat sediaan obat harus mampu bertahan di daerah absorpsi
dalam jangka waktu yang cukup lama.
• Masalah di atas menunjukkan pentingnya untuk mengetahui karakteristik
solubilitas dan permeabilitas obat  pengembangan formulasi.
• BCS  untuk membimbing pengembangan berbagai teknologi pemberian obat
oral.
• Pengetahuan BCS: membantu para peneliti untuk mengembangkan sediaan obat
berdasarkan mekanismenya dibandingkan dengan pendekatan secara empiris.
Klasifikasi BCS
High solubility Low solubility

Classs I
permeability
Classs II
High solubility
High
Low solubility
High permeability
High permeability
Rapid dissolusion
Solubility

permeability

Classs III Classs IV


Low

High permeability Low solubility


Low permeability Low permeability

Permeability
Class I
High solubility, High permeability (kelarutan tinggi, permeabilitas
tinggi)

• Obat golongan ini diabsorpsi dengan baik.


• Jumlah yang dibasorpsi > dibandingkan dengan eksresi.
• Jika waktu solubility obat > daripada laju pengosongan lambung 
maka laju solubilitas yang akan dibatasi.
• Contoh obat: Metoprolol, diltiazem, verapamil, propanolol.
Class II
Low solubility, High Permeability (kelarutan rendah,permeabilitas
tinggi)
• Absorpsi obat kelas II biasanya lebih lambat dibandingkan dengan
Class I.
• Contoh: Fenitoin, Danazol, Ketokonazol, asam mefenamat, dan
nifedipin.
Class III
High solubility, Low Permeability (kelarutan tinggi, permeabilitas
rendah)
• Absorpsi obat dibatasi oleh terbatasnya zat yang terlarut.
• Contoh: Simetidin, Acyclovir, Neomycin B, Captopril.
Class IV
• Low solubility, Low Permeability (kelarutan rendah, permeabilitas
rendah)

• Mempunyai BA yang buruk.


• Menunjukkan banyak masalah dalam pemberian sediaan oral.
• Sangat jarang untuk dikembangkan.
• Contoh: Taxol, HCT.
Co
nto
h
BC
S
beb
era
pa
oba
t
Extension to BCS: Containing Six Class
 Menurut Bergstrom C. dkk, (2003) BCS dapat dibagi menjadi 6 kelas dimana:
 Laju solubilitas diklasifikasikan menjadi 2 yaitu “Low” dan “High”
 Permeabilitas diklasifikasikan menjadi 3 yaitu “low”, “intermediate”, atau “high”.
 Klasifikasi ini berdasarkan:
1. Gambaran kalkulasi luas permukaan;
Berhubungan dengan bagian non polar molekul yang menghasilkan prediksi yang baik
tentang permeabilitas.
2. solubilitas serta permeabilitas.
 Model ini berguna untuk indikasi awal berkaitan dengan profil penyerapan senyawa
selama tahap awal penemuan obat sehingga diperlukan modifikasi untuk
mengoptimalkan parameter farmakokinetik obat baru tersebut
CLASS BOUNDARIES USED IN BCS
• Highly soluble: kekuatan dosis paling tinggi yang dapat larut dalam ≤
250 ml air pada rentang pH 1 sampai 7,5.
• Highly permeable: absorpsi obat pada tubuh manusia adalah ≥ 90%
dari dosis obat yang diberikan dibandingkan dengan dosis referensi
intravena.
• Rapidly dissolving: ketika  85% dari jumlah zat aktif yang tertera
pada label melarut dalam waktu 30 menit dalam volume ≤ 900 ml
larutan buffer.
Application of BCS
1. Oral Drug Delivery Technology
2. New Drug Application (NDA) & Abbreviated New Drug
Application (ANDA)
3. Optimization of new chemical entity
4. Pharmacological screening
1. Oral Drug Delivery Technology
• BCS  memberikan informasi karakteristik kelarutan dan
permeabilitas obat  memudahkan tugas para peneliti  untuk
memutuskan teknologi penghantarannya yang ideal.
• Pendekatan formulasi mencakup pengendalian kecepatan pelepasan
dan sifat fisikokimia obat tertentu seperti profil pH - kelarutan dari
obat.
• Class I
Tantangan utama: untuk mencapai profil target terkait dengan profil
farmakokinetik dan/atau farmakodinamik.
• Class II
Sistem yang dikembangkan untuk obat kelas II didasarkan pada mikronisasi,
liofilisasi, dan penambahan surfaktan, formulasi sebagai emulsi dan sistem
mikroemulsi dan penggunaan agen pengompleks seperti siklodekstrin.
• Class III
Obat kelas III memerlukan teknologi untuk memperbaiki keterbatasan
permeabilitas absolut. Peptida dan protein merupakan bagian dari kelas III.
• Class IV
Obat kelas IV menyajikan sebuah tantangan besar bagi pengembangan
sistem penghantaran obat dan rute pemberian seperti obat parenteral dengan
formulasi yang mengandung zat yang mempertinggi kelarutan.
Continue…
2. New Drug Application (NDA) & Abbreviated New
Drug Application (ANDA)
 Prinsip-prinsip sistem klasifikasi BCS dapat
diterapkan pada NDA dan ANDA yaitu dengan meningkatkan atau memodifikasi
pembuatan obat di industri farmasi.

 Klasifikasi obat berdasarkan BCS dapat menghemat waktu dan biaya


pengembangan sediaan farmasi oleh perusahaan farmasi.
3. Optimization of new chemical entity
• BCS memberikan kesempatan kepada ahli kimia sintetis untuk
memanipulasi dalam struktur kimia obat yang sudah ada untuk
mengoptimalkan sifat fisikokimia molekul sehingga memperbaiki
penghantaran dan penargetan obat.
4. Pharmacological screening
• Digunakan untuk studi Human Drug Absorption (HDA) untuk
mengetahui karakteristik biofarmaseutikal obat baru.

Anda mungkin juga menyukai