Anda di halaman 1dari 24

2011

EMA MAEMUNAH WIDIA MUJTIAWATI DIKY RIZKY

DEFINISI

EPIDEMILOGI

JENIS LABIRINITHIS
Menurut gejalanya Menurut bentuknya

TERAPI

Labirinitis adalah radang pada telinga dalam (labirin) yang disebabkan oleh bakteri, virus, atau toksik . Labirinitis terjadi oleh karena penyebaran infeksi ke ruang perilimfa. Labirinitis merupakan komplikasi intratemporal yang paling sering dari radang telinga tengah.

Secara etiologi labirinitis terjadi karena penyebaran infeksi ke ruang perlimfa. Infeksi dapat disebabkan oleh bakteri atau virus. Selain itu, labirinitis juga dapat disebebkan oleh penyakit vaskuler, demielinisasi, dan toksin. Hal ini juga dapat terjadi setelah trauma, tumor, atau setelah menelan zat-zat beracun.
Bakteri dan virus yang dapat menyebabkan labirinitis : Pada labirinitis akut (serous) mikroorganisme penyebab S. pneumoni, dan Hemofilus influenza. virus campak, mumps dan rubella (measles, mumps, rubella = MMR), virus herpes, influenza

Menurut gejalanya
1. Labirinitis umum (general), yaitu labirinitis

yang mengenai seluruh bagian labirin, dengan gejala vertigo berat dan tuli saraf berat.
2. Labirinitis

yang terbatas sirkumskripta) menyebabkan vertigo saja atau tuli saraf saja.

(labirinitis terjadinya

Menurut bentuknya 1. LABIRINITIS SEROSA

a. Labirinitis serosa difus Penyebab labirinitis serosa yang paling sering adalah absorpsi produk bakteri di telinga dan mastoid ke dalam labirin. Gejala vertigo spontan dan nistagmus rotatoar, biasanya ke arah telinga yang sakit. Kadang-kadang disertai mual dan muntah, ataksia dan tuli saraf. b. Labirinitis serosa sirkumskripta Labirinitis yang terbatas (labirinitis sirkumskripta) menyebabkan terjadinya vertigo saja atau tuli saraf saja.

2. LABIRINITIS SUPURATIF a. Labirinitis supuratif akut difus Labirinitis supuratif akut difus dapat merupakan kelanjutan dari labirinitis serosa yang infeksinya masuk melalui tingkap lonjong atau tingkap bulat. ditandai dengan tuli total pada telinga yang sakit diikuti dengan vertigo berat, mual, muntah, ataksia dan nistagmus spontan ke arah telinga yang sehat. Dalam beberapa jam pertama penyakit, sebelum seluruh fungsi labirin rusak, nistagmus dapat mengarah ke telinga yang sakit.

b. Labirinitis supuratif kronik difus Pada penyakit ini sesudah gejala vestibuler akut berkurang. Hal ini mulai dari 2-6 minggu sesudah awal periode akut. Terjadi tuli total di sisi yang sakit. Vertigo ringan dan nistagmus spontan biasanya ke arah telinga yang sehat dapat menetap sampai beberapa bulan atau sampai sisa labirin yang berfungsi dapat mengkompensasinya. Tes kalori tidak menimbulkan respon di sisi yang sakit dan tes fistula pun negatif, walaupun terdapat fistula.

3. LABIRINITIS KRONIK Labirintis toksik disebabkan karena keracunan zat-zat toksik seperti arsen, zink, kuinin dan pemakaian obat antibiotik yang ototoksik seperti streptomicin, aminoglikosida, dan dihydrostreptomicin.Gejala yang timbul seperti vertigo, tinitus dan tuli.

Pemberian antibiotik yang adekuat Pada fistula di labirin dilakukan eksplorasi mastoid
Mastoidektomi

Labirinektomi Rehabilitasi untuk ketulian dengan alat bantu dengar atau implant koklear.

1. Biodata pasien (umur, sex, pekerjaan, pendidikan). 2. Keluhan dan riwayat keluhan utama. 3. Riwayat Perkembangan. Biasanya terlihat pada anak-anak di bawah 2 tahun ketika anak-anak paling banyak resiko meningitis. 4. Riwayat Kesehatan keluarga. Penyakit ini tidak diturunkan, melainkan disebabkan oleh virus dan bakteri. 5. Riwayat sosial 6. Riwayat psikologis 7. Data spiritual.

8. Pemeriksaan fisik. a. Saat pemeriksaan mata, klien yang menderita labirinitis pergerakan mata diluar kehendak. Nistagmus yang juga penting sebagai pegangan dalam menentukan diagnosis adalah dengan tes nistagmus posisi. b. Saat pemeriksaan hidung, secara tidak langsung berimbas pada kondisi hidung yang terdapat ekisudat. c. Muka tampak pucat, bibir tampak kering d. Saat pemeriksaan telinga menggunakan otoskop saluran telinga terlihat memerah, saat perawat berbicara di dekat klien, klien hanya diam saja, menandakan bahwa fungsi pendengaran klien kurang baik. Saat di palpasi terasa sakit pada daun telinga. Kaji vertigo yang meliputi riwayat, awitan, gambaran serangan, durasi, frekwensi, dan adanya gejala telinga yang terkait (kehilangan pendengaran, tinnitus, rasa penuh di telinga).

e. Faring , inspeksi eksudat ulserasi dan juga bengkak akibat ISPA yang berhubungan dengan Labirinitis. Trakhea di palpasi hanya untuk mengetahui kedudukan trakhea. f. Inspeksi, Palpasi, Auskultasi Thorax g. Pemeriksaan klinis (Pemeriksaan keseimbnagan) Uji Romberg : Penderita berdiri dengan kedua kaki dirapatkan, mula-mula dengan kedua mata terbuka kemudian tertutup.

Tandem Gait : Penderita berjalan lurus dengan tumit kaki kiri/kanan diletakkan pada ujung jari kaki kanan/kiri ganti berganti.

Uji Unterberger : Berdiri dengan kedua lengan lurus horisontal ke depan dan jalan di tempat dengan mengangkat lutut setinggi mungkin selama satu menit

Risiko tinggi cedera yang berhubungan dengan perubahan

mobilitas karena gangguan cara jalan dan vertigo Kerusakkan penilaian yang berhubungan dengan ketidakmampuan yang memerlukan perubahan gaya hidup akibat vertiago yang tidak dapat diperkirakan, Risiko terhadap kekurangan volume cairan yang berhubungan dengan meningkatnya haluaran cairan, perubahan masukan, dan obat-obatan. Ansietas yang berhubungan dengan ancaman, atau perubahan status kesehatan dan efek ketidakmampuan vertigo Risiko terhadap trauma yang berhubungan dengan kesulitan keseimbangan. Koping individu tidak efektif yang berhubungan dengan kepekaan diri dan harapan keteguhan yang tidak tercapai dari vertigo.

DIAGNOSA KEPERAWATAN: Risiko tinggi cedera yang berhubungan dengan perubahan mobilitas karena gangguan cara jalan dan vertigo Intervensi Keperawatan Kaji vertigo yang meliputi riwayat, awitan, gambaran serangan, durasi, frekwensi, dan adanya gejala telinga yang terkait (kehilangan pendengaran, tinnitus, rasa penuh di telinga). Kaji luasnya ketidakmampuan dalam hubungannya dengan aktivitas hidup sehari-hari. Ajarkan atau tekankan terapi vestibuler/ keseimbangan sesuai ketentuan. Berikan, atau ajari cara pemberian obat antivertigo dan/atau obat penenang vestibuler, beri petunjuk pada pasien mengenai efek sampingnya.

DIAGNOSA KEPERAWATAN: Kerusakkan penilaian yang berhubungan dengan ketidakmampuan yang memerlukan perubahan gaya hidup akibat vertiago yang tidak dapat diperkirakan, Intervensi Keperawatan Dorong pasien untuk mengidentifikasi kekuatan dan peran diri yang tetap dapat dipenuhi. Beri informasi mengenai vertigo dan apa yang bisa diharapkan. Libatkan keluarga dan orang terdekat dalam proses rehabilitasi. Dorong pasien untuk menjaga rasa control dengan membuat keputusan dan memberikan tanggung jawab yang lebih untuk perawatan.

DIAGNOSA KEPERAWATAN: Risiko terhadap kekurangan volume cairan yang berhubungan dengan meningkatnya haluaran cairan, perubahan masukan, dan obat-obatan. Intervensi Keperawatan Kaji, atau minta pasien mengkaji, masukan dan haluaran termasuk emesis, tinja cair, urin, dan diaforesis). Pantau hasil laboraturium. Kaji indikator dehidrasi, termasuk tekanan darah (ortostatis), denyut nadi, turgor kulit, membrane mukosa, dan tingkat kesadaran. Dorong konsumsi cairan oaral sesuai toleransi,hindari minuman yang mengandung kafein (stimulant vestibuler). Berikan, atau ajari cara pemberian obat antiemetik dan antidiare sesuai resep dan kebutuhan. Berikan instruksi pada pasien mengenai efek sampingnya.

Implementasi keperawatan sesuai dengan

intervensi dan evaluasi dilakukan sesuai tujuan dan kriteria termasuk didalamnya evaluasi proses.

SEMOGA ILMU YG KAMI SAMPAIKAN DAPAT BERMANFAAT BAGI KALIAN SEMUA , AMIEN