0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
16 tayangan47 halaman

Penatalaksanaan Gigi Tiruan Lengkap Klas III

Diunggah oleh

Rizkiapr
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
16 tayangan47 halaman

Penatalaksanaan Gigi Tiruan Lengkap Klas III

Diunggah oleh

Rizkiapr
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Journal Reading

Prostodonsia
Pembimbing : drg. M Iqbal Baihaqi,
Sp. Pros
Tentang Jurnal

Judul Jurnal :
“Penatalaksanaan Gigi Tiruan Lengkap Dengan
Linggir Datar Dan Hubungan Rahang Klas III
Disertai Cerebrovascular Accident (Laporan
Kasus)”

Tahun terbit :
Juni 2015

Penulis :
Veronica Angelia, Syafrinani

Penerbit :
Journal B-dent Vol 2 No 1 Halaman 44-50
KASUS
Pasien perempuan, usia 70 tahun, datang
ke RSGMP FKG USU ingin dibuatkan gigi
tiruan rahang atas dan bawah dengan
keluhan sulit mengunyah makanan. Pasien
menderita penyakit sistemik CVA dan dalam
perawatan dokter saraf. Tekanan darah
pasien 120/70 mmHg.

EO : profil wajah tampak samping lurus .


IO : linggir datar pada RB dan ukuran
lengkung RA lebih kecil dari RB
Pencetakan anatomis dilakukan dengan
menggunakan bahan cetak algina dan
cetakan diisi gips tipe III untuk mendapatkan
model anatomis

Berdasarkan hasil pemeriksaan


diperoleh diagnosa edentulus rahang
atas dan bawah dengan linggir datar
pada rahang bawah disertai hubungan
relasi rahang klas III.
PENATALAKSAAN

Pasien dengan CVA perawatan dilakukan dalam waktu yang singkat dan suasana
nyaman di pagi hari, dan sebelum memulai perawatan dilakukan pemeriksaan tekanan
darah.

Penatalaksanaan RB linggir datar dengan memperluas desain basis sampai sulkus


alveolingual untuk mendapatkan retensi dan stabilisasi serta diperkuat dengan
kerangka logam (metal mesh) untuk mencegah patah basis gigi tiruan. Relasi rahang
Klas III diatasi dengan pemilihan gigi artifisial semi anatomis dan penyusunan gigi
crossbite bilateral.
sendok

cetak fisiologis
Pembuatan outline pada model anatomis.
Batas akhir sendok cetak berada 2 mm diatas forniks untuk tempat bahan modelling compound (green
kerr) pada saat muscle trimming. Sendok cetak fisiologis untuk rahang bawah didesain dengan
perluasan ke arah fossa retromylohyoid.
• Pembuatan spacer dari wax dan pembuatan stopper.

Bahan sendok cetak dibuat dari bahan resin akrilik swapolimerisasi. Sendok cetak fisiologis diuji coba
terlebih dahulu ke rongga mulut pasien untuk membebaskan daerah bergerak. Modelling compound
(green kerr) dilekatkan pada tepi sendok cetak yang dipanaskan dengan bunsen lalu dicelupkan ke
dalam air supaya tidak terlalu panas ketika dimasukkan ke dalam mulut. Muscle trimming dilakukan
regio per regio.
Pencetakan fisiologis

Pencetakan fisiologis pada kasus ini dengan


Teknik mukofungsional menggunakan bahan
cetak elastomer monophase. Sebelum
pencetakan, spacer dilepaskan dari sendok
cetak kemudian dilakukan pembuatan lubang
retensi pada sendok cetak selanjutnya
dilakukan pencetakan fisiologis

Hasil pencetakan dilakukan beading dan boxing


pada sekeliling sendok cetak, utility wax diletakkan
3 mm di bawah green kerr, ditutup dengan wax dan
diisi dengan gips tipe IV untuk mendapatkan model
fisiologis
Pembuatan basis gigi tiruan

Model fisiologis rahang atas dilakukan


desain basis gigi tiruan. Desain basis
seluas mungkin sampai struktur anatomi
pembatas gigi tiruan. Basis dibuat
dengan bahan resin akrilik polimerisasi
panas

Model fisiologis rahang bawah dibuat desain


kerangka logam (metal mesh) di atas linggir
sebagai bahan penguat dan dilanjutkan dengan
casting. Kerangka logam (metal mesh) di
adaptasikan di atas linggir rahang bawah, modelir
malam untuk pembuatan basis akrilik
Basis RA dan RB diuji coba ke
rongga mulut pasien. Pembuatan
oklusal rim dan garis pedoman
ditempatkan pada oklusal rim
rahang atas yang meliputi :
- garis tengah (mid line),
- garis bibir terendah (low lip
line),
- garis senyum,
- garis bibir tertinggi (high lip
line) dan
- garis kaninus.
Penentuan dimensi vertikal dan
relasi sentrik. Basis beserta oklusal
rim dengan dimensi vertikal dan
relasi sentrik yang sudah
ditentukan dilakukan fiksasi dan
ditanam pada artikulator semi
adjustable.
Penyusunan gigi artifisial dan oklusi

Pemilihan gigi artifisial semi anatomis


dan penyusunan gigi crossbite bilateral
dengan konsep bilateral balanced
occlusion

Setelah penyusunan gigi dilakukan


ujicoba ke pasien. Pada keadaan ini
dilakukan latihan memakai gigi tiruan
untuk mendeteksi bentuk benda yang
ditempatkan di rongga mulut dan latihan
menyesuaikan gigi tiruan dengan kontrol
otot untuk mendapatkan stabilitas gigi
tiruan
Selanjutnya dilakukan penggodokan dengan akrilik polimerisasi panas, remounting dan
Pemasangan gigi tiruan

Retensi dan stabilisasi dievaluasi pada saat pemasangan gigi tiruan. Instruksi pasca
pemasangan harus diberitahu kepada pasien dan orang terdekat yang merawat pasien
dan dapat disajikan dalam bentuk poster. Tiga bulan setelah tahap pemasangan pasien
melaporkan kepuasannya menggunakan gigi tiruan lengkap dalam hal retensi, estetik
dan fungsional.
Intruksi pasca insersi GTL

• Pasien dijelaskan mengenai cara insersi dan pelepasan GTL


• Edukasi pada pasien merupakan hal wajar apabila pasien mungkin
merasakan sensasi tidak nyaman dari peningkatan volume bibi dan pipi,
penting juga untuk menjelaskan bahwa gigi palsu baru akan terasa alami
seiring berjalannya waktu
• Setelah pemasangan gigi tiruan, pasien harus makan makanan lunak
berukuran kecil dan mengunyah secara bilateral. Makanan keras dapat
menyebabkan gerakan “tidak tepat” yang menghasilkan tekanan berlebih
dan cedera pada mukosa alveolar
• Diperlukan periode 6-8 minggu untuk memungkinkan penggunaan yang
memuaskan dengan gigi palsu baru karena periode ini berpotensi
membentuk pola memori baru untuk otot pengunyahan
• Kelebihan air liur dapat membuat sulit mengunyah selama periode awal
pemakaian protesis. Namun, kelenjar ludah beradaptasi dengan gigi palsu
baru dan menurunkan jumlah produksi air liur setelah waktu singkat
• Penempatan lidah juga penting untuk menstabilkan GTL bagian bawah,
terutama selama mengunyah, karena lidah harus beristirahat di dalam
Intruksi pasca insersi GTL

• Pasien sebaiknya sering melakukan latihan bicara untuk mengembalikan


fonetik
• Pasien diinstruksikan untuk melepas gigi tiruan selama tidur karena dapat
menyebabkan stomatitisedukasi pasien tentang cara menjaga kebersihan
mulut yang benar untuk menjaga kesehatan jaringan, terutama setelah
makan karena kebersihan yang buruk menghasilkan akumulasi plak,
kalkulus dan noda. Plak merupakan faktor etiologi untuk stomatitis
prostetik, hiperplasia inflamasi, kandidiasis kronis dan bau mulut
• Edukasi juga untuk membersihkan tidak hanya gigi palsu tetapi juga
permukaan mukosa dan punggung lidah. Jadi, sikat gigi yang lembut dan
pasta gigi abrasif rendah sering direkomendasikan, karena bahan abrasif
dapat, menimbulkan lekukan dan hilangnya lapisan akhir protesis, yang
dapat menyebabkan penumpukan plak dan sulit untuk dibersihkan.
Membersihkan lidah dan mukosa dapat menghilangkan plak dan
meningkatkan sirkulasi darah di jaringan ini
• Instruksikan untuk menjaga kebersihan gigi tiruan dengan pencelupan gigi
tiruan dalam larutan yang mengandung pelarut, detergen, bakterisidal,
Intruksi pasca insersi GTL

• Apabila pasien merasakan adanya keluhan seperti iritasi jaringan, harap


segera konsultasi ke dokter gigi
• Instruksi pasien untuk kontrol 24 jam setelah insersi, dan seminggu setelah
insersi
PEMBAHASAN
Cerebrovascular accident (CVA) adalah gangguan fungsional yang dapat
menyebabkan :
• Paralisis wajah (kelumpuhan saraf wajah) : kerusakan saraf fasial yang
berhubungan dengan berbicara, penelanan dan pengunyahan.
• Dysphagia (gangguan penelanan) : penurunan kemampuan menelan
melalui rongga mulut, faring dan esofagus.
• Aphasia : kehilangan kemampuan berbahasa akibat kerusakan bagian otak.
• Dysphasia : penurunan kemampuan komunikasi karena kerusakan bagian dari
otak.
• Dysarthria : penurunan kemampuan bicara karena gangguan neurogenik pada
kontrol otot dan paralisis.

perawatan gigi tiruan tergantung rencana perawatan yang berdasarkan evaluasi riwayat secara
keseluruhan dan pemeriksaan. Perawatan gigi tiruan merupakan pemeliharaan apa yang sudah
ada daripada mengganti apa yang hilang.
Prinsip Dasar GTL

01 02 03
Retensi Stabilisasi Suport

04 05
Estetik Arah Pasang
01

RETENSI
Retensi adalah kemampuan gigi tiruan bertahan terhadap pelepasan,
yang terdiri dari :
• Adhesi
Daya Tarik menarik antara dua molekul yang berbeda. Adhesi
terjadi antara: saliva dan landasan gigi tiruan, dan saliva dan
mukosa/jaringan pendukung. Karena yang dibutuhkan gaya tarik
menarik antara landasan dan mukosa, dibutuhkan syarat lain yaitu
adaptasi landasan, sehingga hanya ada selapis tipis saliva diantaranya.
• Kohesi
daya Tarik menarik antara dua molekul yang sejenis. Kohesi
terjadi antara molekul saliva dengan saliva. Kohesi dan adhesi bekerja
bersamaan, dalam satu kesatuan.
• Retensi Undercut
di rahang atas biasanya terdapat pada daerah antero-labial. Di
daerah tuberositas maksila, akan menguntungkan bila terdapat pada
satu sisi dengan permukaan yang dapat sejajar dengan arah pasang. Di
rahang bawah terdapat pada daerah retromylohioid.
Faktor-faktor yang mempengaruhi retensi GTL

• Faktor fisis
 Peripherial seal, efektivitas peripherial seal sangat mempengaruhi
efekretensi dari tekanan atmosfer. Posisi terbaik peripherial seal adalah
disekeliling tepi gigi tiruan yaitu pada permukaan bukal gigi tiruan atas,
pada permukaan bukal dan lingual gigi tiruan bawah
 Postdam, diletakkan tepat disebalah anterior garis getar dari palatum
molle dekat fovea palatine
• Adaptasi yang baik antara gigi tiruan dengan mukosa mulut. ketepatan
kontak antara basis gigi tiruan dengan mulut, tergantung dari efektivitas
gaya-gaya fisik adhesi dan kohesi
• Perluasan basis gigi tiruan yang menempel pada mukosa (fitting surface).
Retensi gigi tiruan berbanding langsung dengan luas daerah yang ditutupi
oleh basis gigi tiruan
• Residual ridge, karena disini tidak adalagi gigi yang dapat dipakai sebagai
pegangan terutama pada rahang atas
• Faktor retentif
 Adhesif
 Kohesif
 Tegangan permukaan interfasial : tahanan terhadap pemisahan yang
dihasilkan oleh lapisan cairan diantara 2 permukaan yang beradaptasi
dengan baik
 Tekanan atmosfer : tekanan yang dihasilkan pada sisi gigi tiruan, dengan
memanfaatkan tekanan atmosfer secara selektif
 Mechanical lock : adanya ceruk atau undercut pada jaringan pendukung
merupakan salah satu pendukung retensi, misal : mylohyoid
ridge/retromylohyoid
 Otot-otot fasial mulut : gigi tiruan dalam mulut mendapatkan retensi dari
otot-otot bibir, lidah, dan pipi yang beradaptasi dengan baik dengan gigi
tiruan
 Kapilarisasi (daya tarik kapiler) : gaya yang dihasilkan dari tekanan
permukaan yang dapat menyebabkan naik turunnya permukaan cairan
saat berkontak dengan benda padat
 Gesekan atau friksi : gesekan antara dua permukaan, misal antara
landasan dengan mukosa, gigi sandaran dengan gigi buatan, lingir
 gaya kunyah ke apikal : menahan gigi tiruan lepas dari mukosa
bawahnya
 Muskular : retensi dari otot didapatkan pada saat pencetakan sehingga
didapatkan hasil tarikan otot. Otot yang berperan adalah otot pipi, bibir,
lidah, dan palatum
 Tegangan permukaan : bekerja pada permukaan zat cair yaitu pada saliva
yang berada diseluruh landasan gigi tiruan
 Implan
 Magnet
 Gravitasi
• Faktor kompresibilitas jaringan lunak dan tulang dibawahnya untuk :
 Menghindari rasa sakit dan terlepasnya gigi tiruan saat berfungsi
 Ketebalan GTL
 Ketepatan kontak antara basis GT dengan mukosa mulut
 Perluasan basis GT
 Peripheral seal
02

STABILISASI
Stabilisasi merupakan kemampuan gigi tiruan bertahan terhadap
perpindahan tempat / kegoncangan saat fungsi. cara mendapatkan
stabilisasi yang baik sebagai berikut :
• Menentukan garis median
• Penarikan garis fulcrum
• Menyusun gigi di atas puncak linger
• Menyusun gigi mengikuti konsep oklusi berimbang
• Adaptasi landasan
• Perluasan landasan
• Mengunyah 2 sisi
• Menyusun gigi sesuai dengan kurva speed an kurva monson
• Mengurangi jumlah gigi
• Mengurangi lebar bukolingual gigi
• Menentukan dimensi vertikal dan relasi sentrik dengan benar
03

SUPPORT
Kemampuan gigi tiruan untuk
mempertahankan jaringan yang masih
ada (dalam hal ini mukosa dan jaringan
yang ada di bawah gigi tiruan). Usaha
untuk memperoleh support untuk gigi
tiruan lengkap sudah dilakukan pada
saat pencetakan dengan bahan cetak
mukostatis, yaitu bahan cetak yang tidak
menekan jaringan. Dukungan gigi tiruan
lengkap termasuk dukungan mukosa
04

ESTETIK
• Dimensi vertikal dan relasi sentrik yang sesuai
• Dukungan bibir dan pipi
• Bentuk dan warna gigi buatan berdasarkan jenis
kelamin dan usia
• Penyusunan gigi simetris, dengan cara menentukan
garis media terlebih dahulu
• Kontur gigi
• Menentukan ukuran gigi tiruan :
• Lebar gigi buatan berdasarkan garis kaninus kiri
dan kanan
• Tinggi gigi tiruan berdasarkan garis insisal dan high
lip line
• Inklinasi gigi sesuai dengan inklinasi normal
masing-masing gigi
05
ARAH
PASANG
Ditentukan dengan cara surveying
model. Tentukan arah pemasangan yang
paling parallel dari seluruh permukaan
jaringan pendukung yang terlibat.
ANATOMI
ANATOMI RA
Supporting structure
Sebagai menempelnya fitting surface dan menjadi stress bearing area
a) Primer - ketahanan terhadap gaya vertikal/oklusi
a. Residual ridge
b. Palatum keras - paling besar
b) Sekunder - menahan gaya lateral oklusi dan dapat membantu ketahanan terhadap
gaya vertikal
a. Rugae
b. Tuberositas maksilaris - paling besar
ANATOMI RA
Limiting structure
Area yang dapat mengurangi retesi dan stabilisasi
a) Frenulum labialis, bukalis, lingualis
b) Vestibulum/sulkus labialis, bukalis
c) Hamular notch
a. Area penurunan antara tuberositas dan pterigoid plate
b. Daerah lunak dengan jaringan ikat longgar areolar
c. Mudah berubah bentuk/tahanan jaringan tinggi
d. Tepi dari GTL harus sampai hamular notch
i. Retentif
e. Posterior palatal seal/post dam - retensi utama RA
i. Persimpangan antara palatum keras dan lunak
ii. Pasti bergerak ketika mastikasi & berbicara/tahanan jaringan tinggi
iii.Harus tertutup - menahan udara masuk
1. Retentif
ANATOMI RA
Relief area
Menghilangkan tekanan berlebihan pada jaringan pendukung
a) Papilla insisif
b) Median palatal raphe
c) Fovea palatina
ANATOMI RB
Supporting structure
Sebagai menempelnya fitting surface dan menjadi stress bearing area
a) Buccal shelf area - support primer
b) Ridge alveolar
c) Ruang retromylohyoid - retensi utama
ANATOMI RB
Limiting structure
Area yang dapat mengurangi retesi dan stabilisasi
a) Frenulum labialis, bukalis, lingualis
b) Vestibulum/sulkus labialis, bukalis
c) Retromolar pad
d) Pterigomandibular raphe
ANATOMI RB
Relief area
Menghilangkan tekanan berlebihan pada jaringan pendukung
a) Foramen mentalis
b) Tubercle genial
c) Torus mandibularis
d) Sulcus lingualis
e) Mylohyoid ridge
Bag. GTL
FITTING SURFACE
- Bagian yang menghadap mukosa
- Terdapat bangunan khusus
o Post dam / posterior palatal seal
POLISHING SURFACE
- Bagian GTL yang menghadap ke permukaan
- Terdapat bangunan khusus
o Periferal seal
o Daerah lingual RB tidak dibuat periferal seal
o Post dam + periferal seal = circulair seal
OKLUSAL SURFACE
- Permukaan okklusal/insisal yang berkontak dengan gigi antagonis
Perawatan lingir datar
• Dapat dilakukan tindakan bedah ataupun pembuatan gigi tiruan,
pada kasus ini dikarenakan pasien lansia disertai CVA dipilih tindakan
pembuatan gigi tiruan.
• Kesulitan yang ditemui yaitu dalam memperoleh retensi, stabilisasi,
dan dukungan.
• Prosedur pencetakan yang baik merupakan kunci awal keberhasilan
dalam pembuatan GT. diharapkap dapat mencapai daerah cakupan
yang maksimal. Pada RB diharapkan perluasan sampai daerah fossa
retromylohyoid untuk mendapatkan border seal yang lebih baik dan
retensi
Hubungan relasi klas II dengan resorpsi
lingir
• Dilakukan pemilihan gigi artifisial semi anatomis untuk mencegah
resorpsi lebih lanjut
• Gigi artifisial disusun crossbite bilateral dengan konsep bilateral
balanced occlusion untuk menjaga stabilitas GT dan mengurangi
beban pada lingir dan jaringan pendukung
Penanganan px lansia disertai CVA
• Perawatan dilakukan di jadwal khusus yaitu pagi hari, tidak
berlangsung lama, tanpa lelah, dan ditemani keluarga terdekat untuk
mencegah terjadinya serangan.
• Anamnesa harus singkat dan jelas (sebaiknya dengan pertanyaan
yang hanya membutuhkan jawaban ya/tidak)
• Sebelum perawatan dilakukan pemeriksaan tekanan darah
• Kontrol otot merupakan faktor penting untuk memperbaiki stabilitas
gigi tiruan
• Latihan menggunakan gigi tiruan diperlukan supaya px mampu
mendeteksi bentuk objek yang diletakkan dalam TM dan px harus
latihan mengunyah 2 sisi
Pasien dengan lingir datar dan
hubungan rahang klas II disertai CVA
memerlukan modifikasi dalam
penatalaksanaan GTL sehingga
menghasilkan retensi, stabilisasi,
oklusi, dan estetik yang baik untuk
dapat peningkatkan nutri, kesehatan
umum dan kualitas hidup pasien
KESIMPULAN

Anda mungkin juga menyukai