0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
27 tayangan50 halaman

Askep Post Op

Dokumen ini membahas asuhan keperawatan pasca operatif yang meliputi stabilisasi kondisi pasien, pengelolaan nyeri, dan pencegahan komplikasi. Terdapat penjelasan tentang tahapan perawatan pasca anastesi, kriteria penilaian kesiapan pasien, serta intervensi keperawatan yang diperlukan. Selain itu, dijelaskan juga tentang komplikasi pasca operatif dan langkah-langkah pencegahannya.

Diunggah oleh

Luqman Nurislam
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
27 tayangan50 halaman

Askep Post Op

Dokumen ini membahas asuhan keperawatan pasca operatif yang meliputi stabilisasi kondisi pasien, pengelolaan nyeri, dan pencegahan komplikasi. Terdapat penjelasan tentang tahapan perawatan pasca anastesi, kriteria penilaian kesiapan pasien, serta intervensi keperawatan yang diperlukan. Selain itu, dijelaskan juga tentang komplikasi pasca operatif dan langkah-langkah pencegahannya.

Diunggah oleh

Luqman Nurislam
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

ASUHAN

KEPERAWATAN
PASCA
OPERATIF

meirisma
KEPERAWATAN POST OPERATIF

– Selama periode ini proses keperawatan diarahkan pada

menstabilkan kondisi pasien pada keadaan equlibrium fisiologis

pasien, menghilangkan nyeri dan pencegahan komplikasi.

Pengkajian yang cermat dan intervensi segera membantu

pasien kembali pada fungsi optimalnya dengan cepat, aman

dan nyaman.
TAHAPAN PASCA OPERATIF

• Pemindahan pasien dari kamar operasi ke unit perawatan pasca

anastesi (recovery room)

• Perawatan post anastesi di ruang pemulihan (recovery room)

• Transportasi pasien ke ruang rawat

• Perawatan di ruang rawat


Kriteria penilaian untuk menentukan kesiapan pasien untuk dikeluarkan

dari PACU ( Post Anestesi Care Unit ) / RR adalah :

• Fungsi pulmonal yang tidak terganggu

• Hasil oksimetri nadi menunjukkan saturasi oksigen yang adekuat

• Tanda-tanda vital stabil, termasuk tekanan darah

• Orientasi pasien terhadap tempat, waktu dan orang

• Haluaran urine tidak kurang dari 30 ml/jam

• Mual dan muntah dalam kontrol

• Nyeri minimal
TUJUAN PERAWATAN PASIEN DI PACU

• Mempertahankan jalan nafas

• Mempertahankan ventilasi/oksigenasi

• Mempertahakan sirkulasi darah

• Observasi keadaan umum, observasi vomitus dan drainase

Balance cairan

• Mempertahanakn kenyamanan dan mencegah resiko injury


DIAGNOSA KEPERAWATAN

• Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan efek dari anesthesia


• Tidak efektif jalan napas berhubungan dengan peningkatan sekresi
• Nyeri berhubungan dengan insisi dan posisi selama operasi
• Gangguan integritas kulit berhubungan dengan luka operasi, drain
• Potensial injury efek anesthesia, sedasi dan imobilisasi
• Defisit volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan selama
operasi
• Intoleransi aktifitas berhubungan dengan pembedahan dan perawatan
yang lama
INTERVENSI KEPERAWATAN

• Memastikan fungsi pernafasan yang optimal


• Meningkatkan ekspansi paru
• Menghilangkan ketidaknyamanan pasca operatif : nyeri
• Menghilangkan kegelisahan
• Status nutrisi yang normal
• Meningkantkan fungsi urinarious yang normal
• Meningkatkan eliminasi usus
• Pengaturan posisi
• Ambulasi
• Latihan di tempat tidur
• Menghilangkan mual dan muntah
• Menghilangakn distensi abdomen
• Menghilangkan cegukan
• Mempertahankan suhu tubuh normal
• Menghindari cedera

KRITERIA PENILAIAN
PASCA ANASTESI

OLEH : TIM PAB


OLEH : TIM PAB
1. Pengertian Pasca Anastesi
⮚Pasca anastesi adalah perawatan pasien
setelah tindakan anastesi berakhir di ruang
pulih sadar / RR (Recovery Room).
Lanjutan pengertian……..

⮚ Penilaian kondisi pasien yang


Sudah tidak terpengaruhi obat anastesi
2. Tujuan

🠶Mengembalikan fungsi vital pasien


setelah tindakan anastesi
3. Jenis –Jenis Anastesi :
1). General / umum

2). Regional

3). Lokal
Lanjutan jenis-jenis anastesi

1). Anastesi General / Umum


Pengertian :
Tindakan yang dilakukan untuk
menghilangkan rasa sakit disertai
hilangnya kesadaran pasien.
Lanjutan Jenis-jenis anastesi

2). Anastesi Regional


– Pengertian :
Tindakan anastesi yang dilakukan dengan
cara menyuntikan obat anastesi melalui
tulang belakang (lumbal) atau area saraf,
pasien tetap tersadar selama operasi.
Lanjutan jenis jenis anastesi regional

a Anastesi Epidural
B
Anastesi Spinal
Lanjutan jenis-jenis anastesi

3). Anastesi Lokal


Adalah tindakan yang dilakukan dengan
memblokir sensasi atau rasa sakit pada area
tubuh yang akan dioperasi / suntikan tanpa
menghilangkan kesadaran.
Tindakan yang dapat dilakukan dengan
anastesi lokal :
⮚ Hecting
⮚ Insisi
⮚ Eksterpasi
⮚ sirkumsisi
⮚ Operasi mata
⮚ Perawatan gigi

Anastesi jenis ini dapat diberikan


dengan cara disuntik, disemprot,
atau dioleskan ke kulit
4. KRITERIA PENILAIAN PASIEN DENGAN ANASTESI UMUM :

a.
ALDRETE SCORE 🠶 Kesadaran
Sadar Penuh
Bangun Bila Dipanggil 1
Tidak Ada Respon

🠶 Tekanan Darah
TD 20 mmHg dari mulai Pra Anestesi
TD 20-50 mmHg dari mulai Pra Anestesi 1
TD 50 mmHg dari mulai Pra Anestesi 0
Lanjutan penilaian aldrete score

– Pernafasan
Dapat Bernafas Dalam dan Batuk 2
Dyspnea, Bernafas Dangkal & Terbatas 1
Apnea 0

– Aktifitas
4 Ekstremitas 2
2 Ekstremitas 1
1 Ekstremitas 0
Lanjutan penilaian aldrete score

– Saturasi 02
Dengan Udara Bebas Saturasi > 92% 2
Dengan Bantuan 02 Saturasi > 90% 1
Saturasi < 90% 0
b. Stewart Score

Adalah penilaian paska anastesi umum


Pada anak.
Penilaian Stewart Score

– Kesadaran
Menangis 2
Bereaksi terhadap rangsangan 1
Tidak Bereaksi 0
– Pernafasan
Batuk, Menangis 2
Pertahankan Jalan Nafas 1
Perlu Bantuan 0
Stewart Score

– Pergerakan
Gerak Bertujuan 2
Gerak Tak Bertujuan 1
Tidak Bergerak 0
c. Bromage Score
– Penilaian pasien pasca anestesi dengan anestesi regional seperti
spinal dan epidural.
Penilaian pasien pasca anastesi spinal / epidural :

BROMAGE SCORE

– Gerakan penuh dari tungkai 0


– Tak mampu ekstensi tungkai 1
– Tak mampu fleksi lutut 2
– Tak mampu fleksi pergelangan kaki 3
SYARAT RUANGAN RR
1. Tenang, bersih dan bebas dari peralatan yang tidak
dibutuhkan

2. Warna ruangan lembut dan menyenangkan

3. Pencahayaan tidak langsung

4. Plafon kedap suara

5. Peralatan yang mengontrol atau menghilangkan suara


(ex : karet pelindung tempat tidur supaya tidak
mengeluarkan suara saat terbentur)
…………………..Bersambung

6. Tersedia peralatan standart : alat bantu


pernafasan; oksigen, laringoskop, set
trakeostomi, peralatan bronkial, kateter,
ventilator mekanis dan perlatan suction)
7. Peralatan kebutuhan sirkulasi : aparatus tekanan
darah, peralatan parenteral, plasma ekspander, set
intravena, defibrilator, kateter vena, dan tourniquet

8. Balutan bedah, narkotik dan medikasi kedaruratan

9. Set kateterisasi dan peralatan drainage


…………………..Bersambung

10. Tempat tidur pasien yang dapat diakses


dengan mudah, aman dan dapat
digerakkan dengan mudah

11. Suhu ruangan berkisar antara 22,5 – 25oC


dengan ventilasi ruangan yang baik.
Perawatan Pasien Di Ruang Pemulihan/Recovery
Room
Uraian membahas tentang hal yang diperhatikan pada
• pasien post anaesthesi. Untuk lebih jelasnya maka dibawah
ini adalah petunjuk perawatan / observasi diruang
pemulihan :

1. Posisi kepala pasien lebih rendah dan kepala dimiringkan


pada pasien dengan pembiusan umum, sedang pada pasein
dengan anaesthesi regional posisi semi fowler.

2. Pasang pengaman pada tempat tidur.

3. Monitor tanda vital : TN, Nadi, respirasi / 15 menit.


………………bersambung

4. Penghisapan lendir daerah


mulut dan trakhea.
5. Beri O2 2,3 liter sesuai program.

6. Observasi adanya muntah.

7. Catat intake dan out put cairan.


Beberapa petunjuk tentang keadaan yang
memungkinkan terjadinya situasi krisis

• Tekanan sistolik < 90 –100 mmHg atau >


150 – 160 mmH, diastolik < 50 mmHg
atau > dari 90 mmHg.
• HR kurang dari 60 x menit > 10 x/menit
• Suhu > 38,3 o C atau kurang dari 35 o C.
• Meningkatnya kegelisahan pasien
• Tidak BAK + 8 jam post operasi.
Pengkajian;
• Setelah menerima laporan dari perawat
sirkulasi, dan pengkajian klien,
perawat mereview catatan klien yang
berhubungan dengan riwayat klien,
status fisik dan emosi, sebelum
pembedahan dan alergi.
• Pemeriksaan fisik dan manifestasi
klinik..
System pernafasan.
● Ketika klien dimasukan ke PACU, Perawat segera mengkaji klien:
● Potency jalan nafas, 🡪 meletakan tangan di atas mulut atau hidung.
● Perubahan pernafasan ( rata-rata, pola, dan kedalaman). RR < 10 X
/ menit 🡪 depresi narcotic, respirasi cepat, dangkal 🡪 gangguan
cardiovasculair atau rata-rata metabolisme yang meningkat.
● Auscultasi paru 🡪 keadekwatan expansi paru, kesimetrisan.
● Inspeksi: Pergerakan didnding dada, penggunaan otot bantu
pernafasan diafragma, retraksi sternal 🡪 efek anathesi yang
berlebihan, obstruksi.
● Thorak Drain
Sistem Cardiovasculer.
● Sirkulasi darah, nadi dan suara jantung dikaji tuiap
15 menit ( 4 x ), 30 menit (4x). 2 jam (4x) dan setiap
4 jam selama 2 hari jika kondisi stabil.
● Penurunan tekanan darah, nadi dan suara jantung 🡪
depresi miocard, shock, perdarahan atau
overdistensi.
● Nadi meningkat 🡪 shock, nyeri, hypothermia.
● Kaji sirkulasi perifer ( j\kualitas denyut, warna,
temperatur dan ukuran ektremitas.
● Homan’s saign 🡪 trombhoplebitis pada ekstrimitas
bawah ( edema , kemerahan, nyeri).
Keseimbangan cairan dan elektrolit

• Inspeksi membran mukosa : warna dan


kelembaban, turgor kulit, balutan.

• Ukur cairan 🡪 NG tube, out put urine, drainage


luka.

• Kaji intake / out put.

• Monitor cairan intravena dan tekanan darah.


Sistem Persyarafan.
• Kaji fungsi serebral dan tingkat
kersadaran 🡪 semua klien dengan
anesthesia umum.

• Klien dengan bedah kepala leher :


🡪 respon pupil, kekuatan otot, koordinasi.
Anesthesia umum 🡪 depresi fungsi motor.
Sistem perkemihan.
• Kontrol volunteer fungsi perkemihan kembali
setelah 6 – 8 jam post anesthesia inhalasi, IV,
spinal.
• Anesthesia , infus IV, manipulasi operasi 🡪
retemnsio urine.
• Pencegahan : Inspeksi, Palpasi, Perkusi🡪 abdomen
bawah (distensi buli-buli).
• Dower catheter 🡪 kaji warna, jumlah urine, out put
urine < 30 ml / jam 🡪 komplikasi ginjal.
Sistem Gastrointestinal.
• Mual muntah 🡪 40 % klien dengan GA selama 24 jam pertama dapat
menyebabkan stress dan iritasi luka GI dan dapat meningkatkan TIK
pada bedah kepala dan leher serta TIO meningkat.
• Kaji fungsi gastro intestinal dengan auskultasi suarar usus.
• Kaji paralitic ileus 🡪 suara usus (-), distensi abdomen, tidak
flatus.
• Insersi NG tube intra operatif mencegah komplikasi post
operatif dengan decompresi dan drainase lambung.
• Meningkatkan istirahat.
• Memberi kesempatan penyembuhan pada GI trac bawah.
• Memonitor perdarahan.
• Mencegah obstruksi usus.
• Irigasi atau pemberian obat.
• Jumlah, warna, konsistensi isi lambung tiap 6 – 8 jam.
Sistem Integumen.
• Luka bedah sembuh sekitar 2 minggu. Jika tidak ada
infeksi, trauma, malnutrisi, obat-obat steroid.
• Penyembuhan sempurna sekitar 6 bulan – satu
tahun.
• Ketidak efektifan penyembuhan luka dapat
disebabkan :
Infeksi luka.
Diostensi dari udema / palitik ileus.
Tekanan pada daerah luka.
Dehiscence.
Eviscerasi.
Drain dan Balutan
• Semua balutan dan drain dikaji setiap 15
menit pada saat di ruang PAR, ( Jumlah,
warna, konsistensi, dan bau cairan drain
dan tanggal observasi).
• Dan minimal tiap 8 jam saat di ruangan.
• Pengkajian Nyeri
Pemeriksaan Laboratorium.
• Dilakukan untuk memonitor komplikasi .
• Pemeriksaan didasarkan pada prosedur
pembedahan, riwayat kesehatan dan
manifestasi pot operative. Test yang lazim
adalah elektrolit, Glukosa, dan darah
lengkap.
KOMPLIKASI PASCA OPERATIF

1. Syok
Digambarkan sebagai tidak memadainya oksigenasi selular
yang disertai dengan ketidakmampuan untuk
mengekspresikan produk sampah metabolisme.
Tanda-tandanya :

• Pucat
• Kulit dingin dan terasa basah
• Pernafasan cepat
• Sianosis pada bibir, gusi dan lidah
• Nadi cepat, lemah dan bergetar
• Penurunan tekanan nadi
• Tekanan darah rendah dan urine pekat.
Pencegahan :
• Terapi penggantian cairan
• Menjaga trauma bedah pda tingkat minimum
• Pengatasan nyeri dengan membuat pasien
senyaman mungkin dan dengan menggunakan
narkotik secara bijaksana
• Pemakaian linen yang ringan dan tidak panas
(mencegah vasodilatasi)
• Ruangan tenang untuk mencegah stres
• Posisi supinasi dianjurkan untuk memfasilitasi
sirkulasi
• Pemantauan tanda vital
Pengobatan :

• Pasien dijaga tetap hangat tapi tidak sampai


kepanasan
• Dibaringkan datar di tempat tidur dengan tungkai
dinaikkan
• Pemantauan status pernafasan dan CV
• Penentuan gas darah dan terapi oksigen melalui
intubasi atau nasal kanul jika diindikasikan
• Penggantian cairan dan darah kristaloid (ex : RL)
atau koloid (ex : komponen darah, albumin, plasma
atau pengganti plasma)
• Penggunaan beberapa jalur intravena
• Terapi obat : kardiotonik (meningkatkan efisiensi
jantung) atau diuretik (mengurangi retensi cairan
dan edema)
2. Hemorrhagi
Jenis :

• H. Primer : terjadi pada waktu pembedahan


• H. Intermediari : beberapa jam setelah pembedahan
ketika kenaikan tekanan darah ke tingkat normalnya
melepaskan bekuan yang tersangkut dengan tidak
aman dari pembuluh darah yang tidak terikat
• H. Sekunder : beberapa waktu setelah pembedahan bila
ligatur slip karena pembuluh darah tidak terikat
dengan baik atau menjadi terinfeksi atau mengalami
erosi oleh selang drainage.
Tanda-tanda :
• Gelisah, gundah, terus bergerak, merasa haus, kulit
dingin-basah-pucat, nadi meningkat, suhu turun,
pernafasan cepat dan dalam, bibir dan konjungtiva
pucat dan pasien melemah.

Penatalaksanaan :
• Pasien dibaringkan seperti pada posisi pasien syok
• Sedatif atau analgetik diberikan sesuai indikasi
• Inspeksi luka bedah
• Balut kuat jika terjadi perdarahan pada luka
operasi
• Transfusi darah atau produk darah lainnya
• Observasi VS.
3. Trombosis Vena Profunda (TVP)

Merupakan trombosis pada vena yang letaknya


dalam dan bukan superfisial.
Manifestasi klinis :
• Nyeri atau kram pada betis
• Demam, menggigil dan perspirasi
• Edema
• Vena menonjol dan teraba lebih mudah
Pencegahan :
• Latihan tungkai
• Pemberian Heparin atau Warfarin dosis rendah
• Menghindari penggunaan selimut yang digulung, bantal
yang digulung atau bentuk lain untuk meninggikan yang
dapat menyumbat pembuluh di bawah lutut
• Menghindari menjuntai kaki di sisi tempat tidur dalam
waktu yang lama

Pengobatan :
• Ligasi vena femoralis
• Terapi antikoagulan
• Pemeriksaan masa pembekuan
• Stoking elatik tinggi
• Ambulasi dini.
4. Embolisme Pummonal
Terjadi ketika embolus menjalar ke sebelah kanan jantung
dan dengan sempurna menyumbat arteri pulmonal.
• Pencegahan paling efektif adalah dengan ambulasi dini
pasca operatif.

5. Retensi urine
• Paling sering terjadi setelah pembedahan pada rektum,
anus dan vagina.

6. Delirium
• Penurunan kesadaran dapat terjadi karena toksik,
traumatik atau putus alkohol.

Anda mungkin juga menyukai