Anda di halaman 1dari 34

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Sampah pada dasarnya merupakan suatu bahan yang terbuang atau dibuang dari suatu sumber hasil aktivitas manusia maupun proses-proses alam yang tidak mempunyai nilai ekonomi, bahkan dapat mempunyai nilai yang negatif karena dalam penanganannya, baik untuk membuang atau membersihkannya memerlukan biaya yang cukup besar. Pertumbuhan jumlah penduduk serta pergeseran gaya hidup atau lifestyle di kalangan masyarakat modern akan terus meningkatkan laju konsumsi masyarakat. Hal ini akan mengakibatkan semakin bertambahnya volume sampah yang dihasilkan. Sedangkan pengelolaan sampah yang umumnya dilakukan saat ini adalah menggunakan sistem open dumping (penimbunan secara terbuka) serta tidak memenuhi standar yang memadai. Keterbatasan lahan tempat pembuangan akhir (TPA) sampah di kota besar dan metropolitan juga berpotensi menimbulkan persoalan baru. Daerah pinggiran kota masih dianggap sebagai tempat paling mudah untuk membuang sampah. Sehingga daerah tersebut kehilangan peluang untuk memberdayakan sampah, memanfaatkannya serta meningkatkan kualitas lingkungannya. Apabila hal ini tidak tertangani dan dikelola dengan baik, peningkatan sampah yang terjadi tiap tahun itu bisa memperpendek umur TPA dan membawa dampak pada pencemaran lingkungan, baik air, tanah, maupun udara. Di samping itu, sampah berpotensi menurunkan kualitas sumber daya alam, menyebabkan banjir dan konflik sosial, serta menimbulkan berbagai macam penyakit. Penanganan sampah harus segera ditanggulangi. Apabila ditangani secara serius, maka sampah bukan lagi musuh tapi sahabat, karena bisa didaur ulang, dan dapat menghasilkan peningkatan ekonomi. Air limbah bila diolah tidak akan merugikan dan harus ada keterpaduan antara pemerintah, swasta, dan masyarakat. Pemberdayaan masyarakat di lokasi pembuangan sampah mutlak harus dilakukan, Selama ini sampah hanya dihargai oleh para pemulung, dan nilai ekonomis sampah hanya dilihat dalam kegiatan pengumpulan dan pengangkutan ke lokasi terakhir. Sebagai perbandingan, setiap satu ton sampah di TPA rata-rata menghasilkan 0,235 m gas metana sedangkan jika dikomposkan akan dapat menghasilkan 0,5 ton kompos1. Kita harus mengubah orientasi pengelolaan sampah dari masyarakat yang menghasilkan sampah secara massal ( mass waste - producing society ) menjadi masyarakat yang mampu melakukan suatu siklus suatu material secara menyeluruh (sound material-cycle society)2(http: //www.kompas.com; edisi Senin, 19 Juni 2006). Kota Semarang memiliki TPA Jatibarang untuk pembuangan sampah akhir yang perlu ditinjau manajemen operasinya dan apa saja upaya yang sudah dilakukan oleh

pemerintah kota Semarang dalam meningkatkan manajemen operasinya. Dengan diketahuinya manajemen operasi dan peningkatan manajemen operasi TPA Jatibarang diharapkan dapat menjadikan inspirasi bagi perencana dalam mengatasi permasalahan persampahan di perkotaan.

1.2 Tujuan dan Sasaran 1.2.1 Tujuan Tujuan dari tugas ini adalah mengetahui upaya peningkatan manajemen operasi dan pemeliharaan sektor persampahan di Kota Semarang, khususnya pada TPA Jatibarang. 1.2.2 Sasaran Adapun Sasaran dari tugas ini adalah teridentifikasinya proses perencanaan, pengorganisasi, pelaksanaan dan pengawasan dalam kegiatan operasi dan pemeliharaan TPA Jatibarang.

1.3 Ruang Lingkup Dalam penyusunan laporan ini, TPA Jatibarang Kota Semarang merupakan obyek yang penulis. TPA Jatibarang terletak di Kelurahan Kedungpane, Kecamatan Mijen, Kota Semarang dengan luas lahan 46.1830 Ha. Adapun batas administratif TPA Jatibarang yaitu : 1. Sebelah utara 2. Sebelah selatan 3. Sebelah timur 4. Sebelah barat : Kelurahan Bambankerep, Kecamatan Ngaliyan, : Dk. Kedawung Kel. Kedungpane Kec. Mijen, : Desa sadeng, Kecamatan Gunung Pati, : Dukuh Pucung, kecamatan Ngaliyan.

1.4 Sistematika Penulisan Sistematika penulisan yang digunakan dalam penyusunan laporan ini dibagi ke dalam lima bagian, yakni: Bab I Pendahuluan Berisi latar belakang, tujuan dan sasaran, ruang lingkup dan sistematika penyusunan laporan. Bab II Permasalahan di TPA Jatibarang Menguraikan kondisi permasalahan yang terjadi di TPA Jatibarang Bab III Karakteristik Peningkatan MOP Infrastruktur (prasarana) terpilih Berisi identifikasi dan review pengelolaan infrastruktur Bab IV Penutup Berisi tentang kesimpulan dari kajian diatas. TPA Jatibarang, meliputi:

perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasannya.

BAB II PERMASALAHAN TPA JATIBARANG

2.1 Teori Tempat Pengelolaan Akhir (TPA) Sampah Menurut WHO, sampah adalah sesuatu yang tidak digunakan, tidak dipakai, tidak disenangi atau sesuatu yang dibuang berasal dari kegiatan manusia dan tidak terjadi dengan sendirinya. Dalam Kamus Istilah Lingkungan (1996), sampah adalah bahan yang tidak mempunyai nilai atau tidak berharga untuk maksud biasa atau utama dalam pembikinan atau pemakaian barang rusak atau bercacat dalam pembikinan manufaktur atau materi berkelebihan atau ditolak atau buangan. Pengelolaan sampah merupakan salah satu tanggung jawab pemerintah dalam pengadaannya, tentunya dengan ikut serta masyarakat sebagai penghasil sampah itu sendiri. Pengelolaan sampah perkotaan di Indonesia secara umum terbagi dalam lima tahap, yaitu pewadahan, pengumpulan, pemindahan, pengangkutan, dan terakhir pembuangan akhir dan/atau pengolahan. Gambar alur pengelolaan sampah perkotaan dapat dilihat pada Gambar 3.1.

Sumber: Departemen Pemukiman dan Prasarana Wilayah, 2003

Gambar 3.1 Alur Pengelolaan Sampah Perkotaan

Alur pengelolaan sampah yang terakhir adalah pembuangan akhir dan/atau pengolahan yang lokasinya biasa disebut Tempat Pembuangan Akhir Sampah atau TPA Sampah. TPA sampah adalah tempat mengkarantinakan sampah atau menimbun sampah yang diangkut dari sumber sampah sehingga tidak mengganggu lingkungan. TPA sampah memiliki beberapa metode dalam pengelolaannya. Beberapa metoda atau cara penimbunan sampah, yaitu:

a. Open Dumping Cara ini cukup sederhana yaitu dengan membuang sampah pada suatu legokan atau cekungan tanpa mengunakan tanah sebagai penutup sampah, cara ini sudah tidak direkomendasi lagi oleh Pemerintah RI karena tidak memenuhi syarat teknis suatu TPA Sampah, Open dumping sangat potensial dalam mencemari lingkungan, baik itu dari pencemaran air tanah oleh Leachate (air sampah yang dapat menyerap kedalam tanah), lalat, bau serta binatang seperti tikus, kecoa, nyamuk dll. b. Control Landfill Control landfill adalah TPA sampah yang dalam pemilihan lokasi maupun pengoperasiannya sudah mulai memperhatikan Syarat Teknis (SK-SNI) mengenai TPA sampah.Sampah ditimbun dalam suatu TPA Sampah yang sebelumnya telah dipersiapkan secara teratur, dibuat barisan dan lapisan (SEL) setiap harinya dan dalam kurun waktu tertentu timbunan sampah tersebut diratakan dipadatakan oleh alat berat seperti Buldozer maupun Track Loader dan setelah rata dan padat timbunan sampah lalu ditutup oleh tanah, pada control landfill timbunan sampah tidak ditutup setiap hari, biasanya lima hari sekali atau seminggu sekali. Secara umum control landfill akan lebih baik bila dibandingkan dengan open dumping dan sudah mulai dipakai diberbagai kota di Indonesia. c. Sanitary Landfill Sanitary landfill adalah sistem pembuangan akhir sampah yang dilakukan dengan cara sampah ditimbun di TPA sampah yang sudah disiapkan sebelumnya dan telah memenuhi syarat teknis, setelah ditimbun lalu dipadatkan dengan menggunakan alat berat seperti buldozer maupun track loader, kemudian ditutup dengan tanah sebagai lapisan penutup setiap hari pada setiap akhir kegiatan. Hal ini dilakukan terus menerus secara berlapis-lapis sesuai rencana yang telah ditetapkan. d. Improved Sanitary Landfill Improved Sanitary landfill merupakan pengembangan dari sistem sanitary landfill, dilengkapi dengan isntalasi perpipaan sehingga air sampah atau LEACHATE (dibaca :licit) dapat dialirkan dan ditampung untuk diolah sehingga tidak mecemari lingkungan, bila air sampah yang telah diolah tersebut akan dibuang keperairan umum, maka harus memenuhi peraturan yang telah ditentukan oleh Pemerintah RI. mengenai buangan air limbah. Pada Improved Sanitary landfill juga dilengkapi dengan fasilitas pengelolaan Gas yang dihasilkan oleh proses dekomposisi sampah di landfill e. Semi Aerobic Sanitary Landfill Sistem ini merupakan pengembangan dari teknik improved sanitary landfill, dimana usaha untuk mempercepat proses penguraian sampah oleh bakteri (dekomposisi

sampah) dengan memompakan udara (Oksigen) kedalam timbunan sampah. Teknologi ini sangat mahal tetapi sangat aman terhadap lingkungan. 2.2 Gambaran Umum TPA Jatibarang Semarang 2.2.1 Lokasi TPA Jatibarang Kota Semarang memiliki Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPA) satu buah, berada di Kelurahan Kedungpane Kecamatan Mijen. TPA Jatibarang mulai dioperasikan sejak bulan Maret 1992 untuk mengganti beberapa TPA di Kota Semarang yang telah ditutup, berturut-turut dari TPA Tapak, TPA Gombel Lama, TPA Mangunharjo dan TPA Kedungmundu. Pada saat awal perencanaan luas areal TPA Jatibarang Semarang adalah 460.183 m2 (46.02 ha) dengan perincian berikut : Luas areal buang 276.469.8 m2 (27.64 ha) Intrastruktur Kolam lindi Sabuk hijau Lahan cover 46.018 m2 ( 4,6 ha) 46.018 m2 ( 4,6 ha) 46.018 m2 ( 4,6 ha) 46.018 m2 ( 4,6 ha)

Lokasi TPA Jatibarang berjarak 13 km dari pusat Kota Semarang dimana lokasi tersebut sudah memiliki prasarana jalan aspal dengan lebar 6 meter. Dari alokasi pemanfaatan lahan tersebut, sabuk hijau dan lahan cover saat ini dimanfaatkan untuk zona buang. Wilayah lokasi TPA Jatibarang mempunyai batas-batas wilayah sebagai berikut: Sebelah Utara Sebelah Timur Sebelah Barat : Kelurahan Banbankerep Kecamatan Ngaliyan

Sebelah Selatan : Dukuh Kedawung Kelurahan Kedungpane Kecamatan Mijen : Desa Sadeng Kecamatan Gunung Pati : Dukuh Pucung Kecamatan Ngaliyan

TPA Jatibarang merupakan daerah bukit bergelombang dengan kemiringan lereng yang sangat curam yaitu lebih besar dari 25%. Ketinggian bervariasi antara 75 meter sampai 195 meter dari muka laut dengan kondisi lereng yang sangat curam. Daerah di sekitar termasuk dalam formasi Notopuro yang mempunyai umur geologis pleistosin atas (upper pleictocene) dan termasuk dalam batuan sedimen (sedimentary rock). Secara litologi formasi ini terdiri dari batuan produk vulkanik, konglomerat kasar, endapan lahar dan tufa. Satuan litologi tertua di Jatibarang yaitu lapisan marin (Tm), terdiri atas selang-seling batu lempung, napal, batu pasir, konglomerat dan breksi vulkanik. Sekitar lokasi Jatibarang yaitu adanya dua sesar yang mengapit TPA yaitu daerah patahan Kalipancur, berada di sebelah utara TPA dengan jarak sekitar satu kilometer.

Gerakan tanah daerah Semarang sebagian besar terjadi pada tanah dari batuan dari formasi cipluk dan formasi Kalibiuk yang mempunyai rekah kerut yang kuat (slacking effect) juga diperkuat pada daerah sesar intensif dan tepi aliran sungai. Jenis gerakan tanah pada daerah ini kebanyakan adalah aliran tanah gelinciran tanah dan aliran lumpur. Sehingga di lokasi TPA resiko terjadinya gerakan atau longsoran tanah cukup besar mengingat kemiringan rata rata yang lebih dari 50 % terutama di daerah aliran Sungai Cebong. Lokasi TPA Jatibarang ini berada di daerah hulu Sungai Kreo yang alirannya menuju ke Sungai Kaligarzang. Sekitar lokasi TPA Jatibarang terdapat sebuah aliran air permukaan yang biasa disebut masyarakat setempat sebagai alur Cebong. Alur Cebong ini akan bersatu dengan Sungai Kreo selanjutnya alirannya ke daerah hilir dari Sungai Kreo bersatu dengan Sungai Kripik dan Sungai Kaligarang dengan gradasi yang besar dan bertebing terjal. Air tanah di sekitar lokasi TPA berupa air sumber dan juga air sumur penduduk dengan kedalaman antara 10-20 m dari permukaan tanah. Untuk mengetahui dampak akibat resapan air tanah maka dibangun sumur kontrol yang berada 300 m di sebelah utara TPA. Tinggi muka air tanah di TPA Jatibarang 60m dari muka tanah setempat. Permeabilitas (kelulusan air) di lokasi TPA sebesar 2,32 x 10-5 cm/det. Berdasarkan laporan Survey Konservasi Air Tanah Daerah Semarang dan sekitarnya (Juli 1991) daerah Jatibarang termasuk kelompok III yaitu daerah penyadapan yang diizinkan untuk keperluan di luar rumah tangga. Hal ini disebabkan karena kualitas air tanah di daerah Jatibarang kurang baik.

2.2.2 Sistem Pengolahan Sampah TPA Jatibarang Sistem Pengolahan Sampah TPA Jatibarang mengalami pergeseran dari waktu ke waktu. Pada saat awal operasional, TPA dikelola dengan sistem sanitary landfill, tetapi dalam pelaksanaannya tidak sepenuhnya sesuai dengan ketentuan yang berlaku untuk model pembuangan sanitary landfill namun merupakan modified controll landfill. Hal ini dikarenakan pengurugan tanah di TPA Jatibarang hanya bisa dilaksanakan pada musim panas sedangkan pada musim hujan penutupan sampah dengan tanah setelah pada ketinggian tertentu sangat sulit dilakukan. Pengelolaan sampah tidak dapat dilakukan dengan modified controll landfill dan dilakukan pengelolaan dengan Open Dumping. Penataan sampah dengan alat berat bukan untuk membentuk sel akan tetapi lebih berfungsi sebagai perataan dan pemadatan. Banyaknya ternak sapi di TPA pada saat operasional mengganggu dalam penataan sampah. Tahap awal ketika sampah yang dibawa menuju TPA menggunakan truk, dump truk, arm roll, yaitu penimbangan dan pencatatan jumlah sampah yang masuk serta ritasi alat angkut. Kemudian dilanjutkan dengan pengaturan pembuangan sampah (zoning) lokasi dan

pembagian sel. Kegiatan pemilahan sampah dilakukan oleh para pemulung yang berada di lokasi tersebut. Barang-barang yang bisa di daur ulang atau digunakan kembali diambil secara periodik dijual kepada lapak.

Sumber: Dinas Kebersihan Kota Semarang, 2009

Gambar 3.2 Jembatan Timbang di TPA Jatibarang

Fasilitas jalan untuk lalu lintas kendaraan sampah yang menghubungkan zona-zona yang ada di TPA Jatibarang berupa jalan aspal, namun tidak semua jalan menuju zona-zona TPA berupa jalan aspal menuju daerah zoning yang baru masih berupa makadam dan jalan tanah, yang merupakan perkerasan dari tanah penutup TPA. Untuk prasrana dan sarana TPA Jatibarang Kota Semarang secara lengkapnya dapat dilihat tabel berikut ini :
Tabel III.1 Data Teknis TPA Jatibarang, Kota Semarang Luas TPA Terdiri dari Sistem yang digunakan Karyawan Kepala TPA Operator alat Berat Operator Jembatan Timbang Tenaga Kebersihan Penjaga (siang/malam) Koordinator Lapangan Peralatan alat berat Buldozer D 575 Back Hoe D 65 p Wheel loader (WL) : : : : 1 orang 4 orang 2 orang 4 orang 2 orang 3 orang : 2 unit : 1 unit rusak 2 unit : 1 unit rusak 1 unit 1 unit 46.1830 Ha (sudah terpakai +25 Ha) 27.7098 Ha (60%) untuk lahan ruang Control landfill (menuju sanitary landfill)

WA Dump Truck Fasilitas yang tersedia di TPA Jatibarang

3 unit : a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. k. l. Kantor Pos Jaga MCK Jalan Masuk Sumber air bersih / bak penampung Taman Kolam pengolahan air lindi Lampu Penerangan Jalan Garasi / bengkel dan gudang Jembatan timbang Tempat cuci kendaraan Bangunan composting (milik Swasta)

Sumber : Dinas Kebersihan Kota Semarang, 2009

Di TPA Jatibarang selalu ada kegiatan pemulung, dimana mereka banyak mendirikan rumah untuk memudahkan pekerjaan mereka di lokasi tersebut. Jumlah pemulung yang ada di lokasi TPA Jatibarang berkisar 200 orang. Kegiatan mereka memilahmilah sampah yang baru datang. Kemudian sampah tersebut dijual kepada lapak. Identifikasi terhadap sampah yang dimanfaatkan pemulung untuk dijual kepada lapak sangat sulit, karena identifikasi terhadap banyaknya sampah yang diambil pemulung ratarata 4 rit truck per minggu. Sampah ini meliputi sampah logam, sampah plastik.

Sumber: Dinas Kebersihan Kota Semarang, 2012

Gambar 3.3 Lokasi Pemulung di TPA Jatibarang

Selain keberadaan pemulung yang setiap hari memilah-milah sampah, di TPA Jatibarang ini juga terdapat ribuan sapi yang diternakkan di area TPA. Keberadaan sapi saat awal merupakan sumbangan dari Dinas Kebersihan dan merupakan uji coba. Saat ini keberadaan sapi sudah bukan menjadi milik menjadi milik masyarakat sekitar, bahkan telah

dikuasai oleh masyarakat di luar TPA. Jumlah sapi yang ada kurang lebih 2.000 ekor. Namun disisi lain populasi sapi yang sangat besar mengganggu proses operasional di TPA, seperti operasional alat berat, menghalangi kendaraan yang lewat dan sebagainya. Selain dengan metode open dumping, pengelolaan akhir sampah di Kota Semarang juga dilakukan dengan metode komposting. Kegiatan komposting merupakan salah satu metode untuk mereduksi laju timbulan sampah di TPA, dengan memanfaatkan sampah organik untuk kegiatan daur ulang. Tahun 1989 di TPA Jatibarang dibangun Unit Daur Ulang Pupuk Kompos ( UDPK ), namun hingga saat ini alat tersebut tidak pernah digunakan, bahkan kondisinya rusak berat karena tidak digunakan dan tidak dilakukan perawatan. pada awal tahun 2009 diadakan kerjasama dengan PT Narpati Agung Karya Persada Lestari untuk melakukan kerjsama pengelolaan sampah menjadi kompos.

Sumber: Dinas Kebersihan Kota Semarang, 2012

Gambar 3.4 Tempat Pembuatan Kompos di TPA Jatibarang Kerjasama dengan PT. NARPATI

Dasar kerjasama yang dilakukan antara adalah berdasar Surat Perjanjian Nomor: 568.1/21 Tahun 2007 tentang Kerjasama Pemanfaatan Dalam Rangka Pengolahan Sampah menjadi Pupuk Organik di Kota Semarang, kemudian dilakukan penyempurnaan/addendum I tanggal 13 Juli 2009 dan addendum II Perjanjian Kerjasama tanggal 29 Maret 2010. Uji coba produksi awal pada tanggal 12 dan 13 Januari 2011 sebanyak 70 truk / 450 m sampah kota. Jumlah sampah yang akan diolah pada tahap I (tahun ke 1 5) sebanyak 350 ton sampah Kota (250 ton sampah organik) menjadi pupuk organik. Kemudian peningkatan kapasitas dilakukan setiap 5 tahun berikutnya beserta nilai kontribusi yang diberikan ke Pemerintah Kota Semarang. Besarnya kontribusi untuk Tahun 1 5 yaitu Rp. 580.000.000,per tahun untuk kapasitas pengolahan 350 ton sampah kota, pada tahap awal telah dibayarkan kontribusi kepada Pemerintah Kota Semarang pada tanggal 13 Januari 2011.

Bila kerjasama berjalan lancar, maka akan mengurangi beban TPA, sehingga umur TPA bisa lebih panjang, demikian juga biaya O & M (Operasional dan Pemeliharaan) TPA dapat dikurangi. Jangka waktu kerjasama selama 25 tahun, sehingga akan berakhir pada tahun 2035.

2.2.3 Sistem Organisasi Hubungan kerja antara instansi yang berhubungan dengan pengelolaan sampah lebih bersifat koordinatif dimana masing-masing instansi mempunyai tanggungjawab masalah pengelolan sampah di wilayah masing-masing. Dinas Kebersihan hanya bertanggungjawab secara teknis langsung dalam pengelolaan TPA. Pengelolaan TPA ini di bawah tanggung jawab Sub Operasional seksi TPA dan IPLT. Sedangkan pengelolaan sampah mulai dari depo kontainer TPS beserta pengangkutan menuju ke TPA Jatibarang sesuai dengan Keputusan Walikota Semarang No. 660.2/133 tahun 2005 tentang Petunjuk teknis Pengelolaan Kebersihan di Kota Semarang menjadi tanggungjawab Kecamatan termasuk dalam mengelola sarana dan prasarana kebersihan hingga tenaga kebersihan.

Sumber: Dinas Kebersihan Kota Semarang, 2009

Gambar 3.5 Kantor UPTD TPA Jatibarang

Pada tingkat kelurahan pengelolaan kebersihan menjadi tanggungjawab lurah, kelurahan bertanggungjawab atas kebersihan di wilayahnya. Lurah memfasilitasi

pembentukan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) yang bertugas melakukan penyapuan jalan protokol di wilayahnya. Sedangkan hubungan kerja antara kelurahan dan kecamatan bersifat koordinatif dimana kecamatan hanya melakukan pemantauan terhadap pelaksanaan

pengelolaan

sampah pada

kelurahan-kelurahan

di

wilayahnya.

Sedangkan

untuk

pengelolaan sampah pasar pengelolaannya diserahkan pada Dinas Pasar, Dinas Pasar bertugas melakukan penyapuan dan mengangkutnya ke TPS, disamping itu juga bertugas menarik retribusi kebersihan kepada para pedagang.

2.3 Permasalahan TPA Jatibarang Semarang Volume sampah di Kota Semarang terus meningkat seiring dengan pertumbuhan penduduk. Setiap hari lebih dari 4.000 meter kubik sampah dihasilkan dari aktivitas warga. Namun, baru sekitar 75% yang terangkut petugas kebersihan kota ke tempat pembuangan akhir dan sisanya dibuang di lingkungan warga. Berikut adalah data produksi dan volume sampah di Kota Semarang dalam kurun waktu lima tahun dari tahun 2006-2010.
Tabel III.2 Produksi dan Volume Sampah Terangkut Perhari menurut Kecamatan di Kota Semarang Tahun 2010 Volume Sampah Terangkut (m) 226.93 82.70 125.35 228.04 125.49 170.16 169.47 225.35 300.45 137.37 137.69 178.40 267.49 168.36 319.79 52.65 3395.39 3339.78 3285.09 3231.29 3178.37

Kecamatan Kec.Ngaliyan Kec.Mijen Kec.Gunungpati Kec.Banyumanik Kec.Gajahmungkur Kec.Semarang Selatan Kec.Candisari Kec.Tembalang Kec.Pedurungan Kec.Genuk Kec.Gayamsari Kec.Semarang Timur Kec.Semarang Utara Kec.Semarang Tengah Kec.Semarang Barat Kec.Tugu Kota Semarang 2010 2009 2008 2007 2006

Perkiraan Produksi Sampah (m) 302.57 110.27 167.13 304.05 167.32 226.88 225.96 300.46 400.6 183.16 183.58 237.87 356.65 224.48 426.38 70.2 4527.18 4453.04 4380.12 4308.38 4237.83

Persentase Terangkut (%) 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75% 75%

Sumber : Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Semarang, 2010

Dari data di atas dapat dilihat tingginya produksi sampah dan sebarannya yang meliputi seluruh wilayah kota, apabila tidak dilakukan pengelolaan dengan baik akan sangat berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan dimana-mana. Volume sampah di masingmasing wilayah kota Semarang ini berbeda-beda jumlahnya dan berbanding lurus dengan jumlah penduduk. Namun penanganannya sepertinya belum optimal bila dibandingkan dengan jumlah maupun persebaran lokasi kontainer sampah di Kota Semarang. Masyarakat yang tidak terlayani sistem pengangkutan sampah harus mengelola sampahnya secara mandiri. Penanganan sampah secara tradisional seperti itu sulit dipertahankan. Hal ini karena penanganan sampah oleh warga tergantung lahan yang dimilikinya. Warga di pinggiran kota mungkin dapat mengelola sampahnya sendiri dengan dibuang atau dibakar. Sebaliknya, warga di daerah padat penduduk tidak dapat memiliki banyak pilihan karena keterbatasan lahan. Padahal, kelompok masyarakat ini lah yang justru menghasilkan sampah lebih banyak dibanding lainnya. Cakupan pelayanan persampahan Kota Semarang sampai tahun 2010 baru mencapai 74%. Jumlah kelurahan yang telah memperoleh pelayanan sebanyak 127 Kelurahan dari 177 Kelurahan. Daerah pelayanan ini mempunyai kontribusi yang besar terhadap beban TPA, yang tentunya berpengaruh terhadap umur TPA. Cakupan wilayah pelayanan yang dilayani oleh TPA Jatibarang yaitu: a. Permukiman Permukiman yang memperoleh pelayanan diprioritaskan pada wilayah dengan kepadatan > 100 jiwa/ha b. Daerah Komersial/Niaga Khusus Seluruh pasar yang ada dan daerah / lokasi perdagangan kaki lima telah ditangani Dinas Kebersihan dan Pertamanan, Pertokoan, pusat perbelanjaan, hotel, losmen dan restoran / warung makan di daerah pertokoaan juga juga telah dilayani dengan baik c. Perkantoran dan Fasilitas Umum. Pelayanan Kebersihan oleh Dinas Kebersihan dan Pertamanan d. Industri, sebagai daerah sentra industri telah dilayani Dinas Kebersihan dan Pertamanan sebagian ada industri yang membuang sampahnya langsung ke TPA Jatibarang. e. Jalan, pelayanan kebersihan khususnya penyapuan di jalan, kolektor dan sebagian jalan lokal telah dilayani oleh kelurahan dan swadaya masyarakat. Adapun untuk pengangkutan ditangani oleh Kecamatan.

Kapasitas TPA untuk menampung volume sampah yang masuk merupakan aspek penting dalam pengelolaan TPA. Untuk memaksimalkan kapasitas yang ada maka perlu

adanya pengelolaan TPA yang sesuai dengan standar yang ada sehingga umur TPA dapat sesuai dengan rencana yang ditetapkan. Dalam pengelolaan TPA ini tentunya memiliki beberapa permasalahan yang muncul, diantaranya adalah: 1. Tempat Pembuangan Akhir sampah (TPA) terkonsentrasi pada satu lokasi di TPA Jatibarang, sehingga untuk wilayah semarang bagian timur dan semarang baigan

selatan, banyak memerlukan biaya untuk pembuangan sampah sampai ke TPA 2. Jalan menuju TPA banyak yang berlubang dan rusak. Hal ini menyebabkan banyak sampah yang tercecer di jalan. Selain itu, jalan yang rusak menyebabkan truk menjadi mudah rusak dan akibatnya biaya untuk perawatan truk pun menjadi lebih besar. 3. Kolam leachate (stabilisation pond) yang di rencanakan untuk mengendalikan leachate dari dekomposisi sampah. Efektifitas ini tidak optimal sehingga effuent yang dihasilkan masih sangat tinggi. Pada saat ini unit pengolah leachate masih rusak, sehingga tidak beroperasi dengan baik dan dikawatirkan sebaran leachate akan menyebabkan perubahan kualitas air sungai kaligarang. 4. Lingkungan pemukiman sekitar TPA yang kumuh dan tidak sehat. Bau sampah dari TPA sudah tercium radius 3 km dari TPA. Hal ini tentunya mengganggu kenyamanan dan tingkat kesehatan masyarakat sekitar. 5. Biaya operasional untuk TPA serta biaya untuk pengangkutan dari TPS ke TPA yang berasal dari retribusi masyarakat dipungut melalui kerjasama PDAM dan pihak kelurahan. Sedangkan penarikan rertibusi Non-PDAM tidak ada mekanisme kontrol, sehingga efektifitas penarikan belum dapat diprediksi. 6. Masih kurangnya sarana prasarana dalam upaya menuju pengelolaan TPA dengan metode sanitary landfill. 7. Untuk pengolahan sampah oleh PT Nerpati masih kurang maksimal, karena sebagian lokasi yang belum mengalami perkerasan sehingga saat musim hujan truk sulit untuk masuk ke area penurunan sampah. Beberapa permasalahan di atas tentunya memerlukan penanganan yang serius agar TPA Jatibarang dapat beroperasi sesuai dengan rencana yang dilakukan, baik dari segi kapasitas, jangka waktu atau umur TPA, serta keberlanjutan TPA terkait aspek lingkungan, ekonomi, dan sosial.

BAB III KARAKTERISTIK PENINGKATAN MANAJEMEN OPERASIONAL TPA JATIBARANG


3.1 Perencanaan Operasional TPA Jatibarang Rencana operasional TPA Jatibarang dikelola dengan sistem Sanitary Landfill yang terdiri dari beberapa pokok kegiatan operasional TPA, diantaranya : 1. Pendataan truk bermuatan sampah yang masuk ke TPA Pendataan dilakukan seperti pemeriksaan registrasi atau penerimaan izin masuk. Setiap kendaraan yang ingin melakukan penimbunan di lokasi sanitary landfill harus memiliki Surat Izin Penimbunan (SIP) yang dikeluarkan oleh Dinas Kebersihan Kota Semarang, dengan tujuan untuk mencegah adanya pembuangan sampah di luar wilayah pelayanan. 2. Penimbangan beban truk sampahpenimbangan dilakukan terhadap berat kendaraan pengangkut dalam keadaan penuh, sehingga dari data berat kendaraan yang kosong yang tercantum dalam SIP didapat berat sampah yang terangkat. Penimbangan ini bertujuan untuk mengetahui jumlah sampah yang sudah masuk ke dalam lahan berdasarkan data yang tercatat dalam satuan waktu tertentu (harian, mingguan, atau bulanan). 3. Sortasi dan daur ulang sampah Setelah melakuakan pendataan dan penimbangan, truk menuju ruang penerimaan untuk membongkar sampah yang terangkut pada ruang penerimaan. Sampah yang sudah ada di ruang penerimaan , selanjutnya dipindahkan ke konveyor. Pemilahan sampah dilakukan diatas konveyor pemilah secara manual yang dilakukan oleh 8 orang pekerja. Pemilahan dilakukan pada sampah berbahan anorganik, untuk sampah organik yang dapat dikompos dibagi menjadi dua bagian, yaitu untuk bahan kompos dan pakan sapi. Sampah anorganik yang masih bernilai ekonomi dipindahkan ke gudang anorganik kemudian disimpan dan dijual. Residu yang sudah terpisah kemudian diangkut menuju ke zona penimbunan untuk ditimbun. 4. Pengangkutan dan penimbunan residu Pengangkutan residu dilakukan oleh truk pengangkut residu yang selalu standby diluar ruang pemilahan, pengangkutan dilakukan dari ruang pemilahan menuju zona timbunan yang sedang beroperasi sesuai dengan petunjuk petugas TPA. Operasi penimbunan sampah dimulai dari zona timbunan lama dan selanjutnya menggunakan zona timbunan baru setelah kapasitas zona timbunan lama habis. Operasi penimbunan sampah terbagi kedalam empat tahapan utama, yaitu :

a. Operasi penurunan sampha (tipping atau unloading), yang dilakukan di lokasi kerja penurunan yaitu penurunan sampah dari truk di tempat curah ke tempat penimbunan. b. Operasi pemindahan sampah yang bertujuan untuk memindahkan sampah dari lokasi kerja penurunan ke suatu lokasi yang dekat dengan lokasi kerja penimbunan. Lokasi ini disebut lokasi perletakan sampah sementara. c. Operasi penimbunan sampah merupakan operasi yang bertujuan untuk

memindahkan sampah menuju ke dalam lokasi kerja penimbunan. Operasi ini meliputi : 1) Pengambilan dan penyebaran sampah (feeding dan spreading-in) 2) Pemadatan sampah (compacting). Perataan sampah oleh alat berat yang dilakukan lapis demi lapis agar tercapai kepadatan yang optimum yang diinginkan dengan menggunakan bulldozer. 3) Operasi penutupan sampah (covering), merupakan operasi yang bertujuan untuk melapisi atau menutup timbunan sampah padat dengan tanah. Penyebaran tanah bertujuan untuk menutup timbunan sampah padat dengan tanah penutup. Penyebaran tanah dilakukan dengan menggunakan alat berat. Operasi ini merupakan kegiatan terakhir dalam satu hari kerja. Operasi penutupan sampah secara keseluruhan meliputi : a) Penggalian tanah (soil exavation) b) Pengangkutan tanah (soil removing) c) Pengumpulan tanah (stockpilling) d) Penyebaran tanah diatas timbunan sampah padat (soil spreading) e) Pemadatan tanah penutup (soil compacting) 3.2 Pengorganisasian Operasional TPA Jatibarang Pengoperasian TPA dapat berjalan dengan baik dan sesuai dengan konsep serta desain yang telah dirancang apabila organisai pengelolanya terstruktur dengan baik. untuk mencapai tujuan tersebut maka perlu dibentuk suatu organisasi yang dapat menangani operasional dan seluruh kegiatan TPA. Secara umum TPA Jatibarang berada dibawah tanggung jawab Dinas Kebersihan kota Semarang dan penanggung jawab lapangan dipegang oleh Kepala Kantor TPA Jatibarang. Kepala TPA dibantu oleh dua Kepala Bagian, yaitu Kabag Umum dan Kabag Pemeliharaan. Kabag Umum membawahi seksi administrasi sedangkan Kabag Pemeliharaan membawahi Seksi Mekanis dan Seksi Fasilitas Pendukung. Di bawah kedua seksi tersebut terdapat Seksi Peralatan Mekanis, Instalasi pengolahan Lindi, Pekerjaan Operasional, Perencanaan dan pengawasan serta Seksi pengomposan.

Dinas Kebersihan Kota Semarang

Kepala TPA Jatibarang

Kabag Umum

Kabag Pemeliharaan

Seksi Administrasi

Seksi Mekanik

Seksi Fasilitas Pendukung

Peralatan Mekanik

Pekerjaan Operasional

Instalasi Pengolahan Lindi

Perencanaan dan Pengawasan

Pengomposan

Struktur Organisasi TPA Jatibarang Adapun uaraian tiap komponen dalam struktur organisasi tersebut, adalah sebagai berikut : 1. Kepala TPA Jatibarang, memiliki tugas dan kewajiban sebagai berikut : a. Merupakan orang pertama yang mewakili Dinas Kebersihan Kota Semarang dalam menangani masalah-masalah yang dijumpai di lapangan. b. Bertanggung jawab kepada Dinas Kebersihan Kota Semarang mengenai kelangsungan operasi dan kelancaran administrasi pada TPA Jatibarang. c. Memimpin koordinasi antar kepala bagian. d. Memberikan informasi atau hubungan yang diperlukan untuk masyarakat atau pemerintah daerah Kota Semarang. 2. Kepala Bagian Umum, memiliki tugas dan kewajiban sebagai berikut : a. Bertanggung jawab kepada kepala TPA Jatibarang mengenai masalah

administrasi, keuangan dan kepegawaian guna menunjang kelangsungan operasi TPA. b. Melakukan koordinasi dengan setiap kepala bagian. c. Membawahi seksi administrasi, keuangan dan kepegawaian. d. Memberi persetujuan mengenai suatu permohonan untuk pengeluaran biaya.

3. Kepala Bagian Pemeliharaan, memiliki tugas dan kewajiban sebagai berikut : a. Bertanggung jawab kepada kepala TPA Jatibarang mengenai masalah

pemeliharaan seluruh peralatan dan fasilitas TPA. b. Melakukan koordinasi dengan setiap kepala bagian. c. Membawahi seksi pemeliharaan peralatan mekanis dan seksi pemeliharaan fasilitas pendukung. d. Mengajukan usulan anggaran biaya pemeliharaan dan penyampaian laporan pengguanaan keuangan kepada kepala TPA. 4. Seksi Administrasi, memiliki tugas dan kewajiban sebagai berikut : a. Bertanggung jawab kepada kepala bagiannya mengenai kelancaran seluruh urusan administrasi. b. Melakukan pencatatan dan penyimpanan arsip-arsip. 5. Seksi Perencanaan, memiliki tugas dan kewajiban sebagai berikut : a. Bertanggung jawab kepada Kabag pemeliharaan mengenai masalah yang berkaitan dengan tugasnya. b. Melakukan koordinasi dengan seksi pengawasan mengenai rencana pelaksanaan operasi. c. Menyusun rencana mengenai operasi penimbunan, seperti penentuan arah lalulintas, penentuan lokasi penurun, penentuan lokasi penimbunan, penentuan lokasi penentuan tanah penutup, penentuan lokasi penutupan tanah, usulan pembukaan sub-zona kerja, penentuan penggunaan alat, dan pemindahan subzona kerja, misalnya karena perubahan musim. 6. Seksi Pengawasan, memiliki tugas dan kewajiban sebagai berikut : a. Bertanggung jawab kepada Kabag pemeliharaan mengenai pengawasan

kelangsungan operasi Sanitary Landfill. b. Melakukan koordinasi dengan seksi perencanaan mengenai rencana pelaksanaan operasi. c. Melakukan pengawasan dari pelaksanaan rencana. d. Melakukan pengukuran lapangan untuk membagi kapling pembuangan sampah (memasang tanda batas lokasi kerja). e. Melakukan persiapan daerah penurunan dan penimbunan, termasuk memasang jaring pelindung angin. f. Melakukan kegiatan pemantauan lingkungan.

7. Seksi Pemeliharaan Peralatan Mekanik, memiliki tugas dan kewajiban sebagai berikut : a. Bertanggung jawab kepada kepala bagiannya mengenai pemeliharaan peralatan mekanis yang dimiliki, seperti alat-alat berat dan jembatan timbang. b. Memberi laporan mengenai kondisi peralatan mekanis.

c. Mengusulkan penggantian beberapa komponen peralatan atau bahan lain yang dibutuhkan. d. Melakukan pemanasan dan pemeriksaan mesin setiap pagi sebelum beroperasi. e. Melakukan penambahan atau penggantian pelumas mesin sesuai dengan aturan pemeliharaan mesin. f. Melakukan perbaikan bila diperlukan.

g. Melakukan pemeriksaan setiap peralatan setiap hari pada saar tenaga operasi bekerja dan setiap sore hari setelah melakukan pencucian alat mesin, pengisian bahan bakar. h. Melakukan pemeliharaan mesin-mesin sesuai dengan aturan pemeliharaannya. i. Melakukan pemeliharaan jembatan timbang dengan aturan pemeliharaannya.

8. Seksi Pemeliharaan Fasilitas Pendukung, memiliki tugas dan kewajiban sebagai berikut : a. Bertanggung jawab kepada kepala bagiannya mengenai pemeliharaan fasilitas gedung kantor, hanggar, bangunan penunjang. b. Memberi laporan mengenai kondisi fasilitas penunjang. c. Mengusulkan penggantian atau bahan lain yang dibutuhkan dalam pemeliharaan. d. Memberi masukan terhadap kepala bagian mengenai biaya pemeliharaan fasilitas pendukung bulanan atau tahunan. e. Tugas dan kewajiban yaitu setiap hari melakukan pembersihan pada bangunan kantor, penyapuan halaman kantor, pembersihan bagian jalan, garasi, tempat cuci, IPL dan lain-lain. 9. Seksi Operasi Instalasi Pengolahan Lindi (IPL), memiliki tugas dan kewajiban sebagai berikut : a. Bertanggung jawab kepada kepala bagiannya mengenai operasi IPL. b. Menghidupkan dan mematikan mesin pompa pada saat dibutuhkan, melakukan penjagaan operasi pompa. c. Melakukan penambahan bahan kimia atau lainnya sesuai dengan tata cara operasional. d. Membawahi dan mengkoordinasikan berupa tenaga operasi IPL. e. Memberikan laporan mengenai pemakaian dan kondisi peralatan di dalam IPL. f. Memberi masukan kepada kepala bagian mengenai biaya operasi IPL kepada bagian pemeliharaan. 10. Seksi Pengomposan, bertugas untuk melakukan pengolahan sampah TPA Jatibarang menjadi kompos. PT Narpati merupakan investor yang ditunjuk oleh Pemerintah Kota Semarang sebagai seksi pengomposan.

3.3 Pembiayaan Operasional TPA Jatibarang Pengelolaan sampah membutuhkan dana besar dalam pembiayaan operasionalnya karena penerimaan retribusi sampah yang tidak dapat memberikan pemasukan yang signifikan. Adapun dengan besarnya biaya pengelolaan tersebut mengakibatkan dampak pada besarnya subsidi yang harus ditanggung oleh pemerintah Kota Semarang yaitu 60% dari APBD. Dimana seharusnya dana pengolahan sampah suatu kota besarnya 5-10% dari APBD. Diusahakan agar pembiayaan pengolahan sampah dapat diperoleh dari masyarakat (retribusi) 80%, dan pemerintah daerah menyediakan 20% untuk pelayanan umum, diantaranya penyapuan jalan, pembersihan saluran dan tempat-tempat umum. Adapun pemungutan retribusi dilakukan oleh : 1. PDAM, dilakukan untuk persil yang berlangganan air PDAM. 2. RT/RW/ Kelurahan, dilakukan untuk persil yang tidak berlangganan air PDAM. 3. Dinas Pasar, dilakukan untuk persil dilingkungan pasar. 4. Dinas / DKP, dilakukan untuk persil niaga. Pemungutan retribusi dilakukan sesuai dengan Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2012 Tentang Retribusi Jasa Umum di Kota Semarang. Besarnya tarif retribusi pengolahan sampah dapat dilihat pada tabel sebagai berikut : Tabel Besar Tarif Retribusi
Besarnya Tarif Retribusi 1. Persil Rumah Tangga - Jalan Kelas I ( Lebar Jln >10m) & Ii (Lebar Jln 8<10m) - Jalan Kelas III ( Lebar Jln 6<8m) & IV (Lebar Jln 4<6m) - Jalan Kelas V ( Lebar Jln <4m) 2. Persil Niaga - Terletak Di Jalan Kelas I &II - Terletak Di Jalan Kelas III, IV - Terletak Di Jalan Kelas V 3. Lingkungan Pasar - Kios - Los - Dasar terbuka 4. Bagi yang membuang sampah langsung ke TPA 5. Jasa Penyedotan /Pengurasan Jamban 6. Pembuangan,pengusaha/perorangan langsung ke IPLT 7. PKL - Terletak di jalan kelas I &II - Letak di jalan kelas III, IV - Terletak di jalan kelas V Baru Rp. 10.000,-/bln Rp. 6000,-/bln Rp. 2000,-/bln Rp. 50.000,-/bln Rp. 25.000,-/bln Rp. 10.000,-/bln Rp. 500,-/hari Rp. 300,-/hari Rp. 400,-/hari 3 Rp. 7500,-/m 3 Rp. 80.000,-/m 3 Rp. 15.000,-/m Rp. 2000,-/hari Rp. 1000,-/hari Rp. 500,-/hari Lama Rp. 5000,-/bln Rp. 3000,-/bln Rp. 1000,-/bln Rp. 6000,-/bln Rp. 4000,-/bln Rp. 4000,-/bln Rp. 150,-/hari Rp. 100,-/hari 3 Rp. 2500,-/m 3 Rp. 12.500,-/m 3 Rp. 4.000,-/m -

3.4 Pelaksanaan Operasional TPA Jatibarang 1. Sistem pengolahan sampah TPA Jatibarang Sistem pembuangan TPA Jatibarang mengalami pergeserandari waktu ke waktu. Pada saat awal operasional, TPA dikelola dengan sistem sanitary landfill, tetapi dalam pelaksanaannya tidak sepenuhnya sesuai dengan ketentuan yang berlaku untuk model

pembuangan sanitary landfill namun merupakan. Hal ini dikarenakan pengurugan tanah di TPA Jati barang hanya bisa dilaksanakan pada musim panas, sedangkan pada musim hujan penutupan sampah dengan tanah setelah pada ketinggian tertentu sangat sulit dilakukan. Pada saat ini pengelolaan sampah tidak dapat dilakukan dengan modified control landfill , dan dilakukan dengan open dumping. Penataan sampah dengan alat berat bukan untuk membentuk sel akan tetapi lebih berfungsi sebagai perataan dan pemadatan. Banyaknya ternak sapi di TPA pada operasionalnya mengganggu dalam penataan sampah. Secara skematis sistem pengolahan sampah TPA Jatibarang digambarkan dengan skema sebagai berikut :

Sampah

Pengomposan oleh PT. Narpati

Ternak Sapi

Kegiatan Pemulung

Pemulung

Pengolahan lindi dan gas

Sampah tidak terolah

Penataan dengan alat berat

Sistem Pengolahan Sampah di TPA Jatibarang

2. Sumber dan tibulan sampah Kota Semarang sebagai kota metropolitan menghasilkan sampah yang berasal dari kegiatan domestik dan non domestik. Sampah domestik berasal dari permukiman, sedangkan sampah non domestik berasal dari non pemukiman. Samapah domestik dan non domestik masing-masing mempunyai karakteristik yang berbeda. Sampah domestik berasal dari kegiatan hotel, pasar, pusat perdagangan, industri dan kegiatan lain. Berdasarkan data dari Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Semarang tahun 2010 menunjukkan bahwa data produksi sampah harian Kota Semarang sebesar 4.500 m3/hari ( 3000m3/hari sampah domestik, 1500m3/hari sampah non domestik). Adapun perincian besarnya sampah domestik dapat dilihat pada tabel di sebagai berikut :

Tabel PRODUKSI SAMPAH DOMESTIK KOTA SEMARANG TAHUN 2010


No. 1 2 KECAMATAN Mijen Gunungpati JUMLAH PENDUDUK ( JIWA ) 47.154 63192 JUMLAH KK 9.069 12.665 PRODUKSI SAMPAH (M3/HARI) 92,23 124,34

3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16

Banyumanik Gajah Mungkur Semarang Selatan Candisari Tembalang Pedurungan Genuk Gayamsari Semarang Timur Semarang Utara Semarang Tengah Semarang Barat Tugu Ngaliyan Jumlah

114.508 61.061 85.607 80.554 122.295 160.295 77.196 69.609 82.152 125.757 74.167 158.535 26.454 104.815 1.453.549

22.724 12.233 17.555 16.256 23.832 31.780 14.943 13.527 16.827 25.050 15.452 31.522 5.183 20.449 289.067

217,06 161,19 231,32 214,12 175,00 248,81 196.91 178,24 221,72 221,35 203,61 216,08 68,02 230,00 3.000

Dari tabel tersebut terlihat wilayah kecamatan dengan jumlah sampah terbanyak yang dihasilkan per harinya adalah kecamatan Pedurungan ( 248, 81 m3/hari), Kecamatan Semarang Selatan (231,32 m3/hari), Kecamatan Ngaliyan (230 m3/hari), Kecamatan Semarang Timur (221,72 m3/hari), Kecamatan Semarang Utara (221,35 m3/hari), Kecamatan Banyumanik (217,06 m3/hari), Kecamatan Semarang Barat (216,08 m3/hari) dan Kecamatan Candisari (214,12 m3/hari). 3. Cakupan pelayanan Cakupan pelayanan memberikan gambaran tentang wilayah yang telah dilayani pada tahun 2010, jumlah kelurahan yang telah memperoleh pelayanan sebanyak 127 Kelurahan dari 177 Kelurahan, Bila dibandingkan dengan seluruh kelurahan di Kota Semarang sebanyak 177 maka cakupan pelayanan sebanyak 74% yang meliputi : f. Permukiman Daerah pelayanan mempunyai kontribusi yang besar terhadap beban TPA, yang berpengaruh terhadap umur TPA. Permukiman yang memperoleh pelayanan

diprioritaskan pada wilayah dengan kepadatan > 100 jiwa/ha g. Daerah Komesial/Niaga Khusus Seluruh pasar yang ada dan daerah / lokasi perdagangan kaki lima telah ditangani Dinas Kebersihan dan Pertamanan, Pertokoan, pusat perbelanjaan, hotel, losmen dan restoran / warung makan di daerah pertokoaan juga juga telah dilayani dengan baik h. Perkantoran dan Fasilitas Umum. Pelayanan Kebersihan oleh Dinas Kebersihan dan Pertamanan i. Industri, sebagai daerah sentra industri telah dilayani Dinas Kebersihan dan Pertamanan sebagian ada industri yang membuang sampahnya langsung ke TPA Jatibarang.

j. Jalan, pelayanan kebersihan khususnya penyapuan di jalan, kolektor dan sebagian jalan lokal telah dilayani oleh kelurahan dan swadaya masyarakat. Adapun untuk pengangkutan ditangani oleh Kecamatan. Adapun alur pengangkutan sampah dari pemukiman, perdagangan/niaga,

perkantoran/fasilitas umum, serta jalan raya digambarkan pada alur sebagai berikut : a. Rumah tangga

Gambar alur pengangkutan sampah rumah tangga ke TPA b. Niaga

Gambar alur pengangkutan sampah niaga ke TPA

c. Fasilitas umum

Gambar diagram alur sampah fasilitas umum ke TPA d. Jalan

Gambar diagram alur sampah jalan ke TPA 4. Jenis sampah Jenis sampah yang dihasilkan Kota Semarang sebagian besar merupakan sampah organik (61,23%), sedangkan sisanya 38,77% merupakan kontribusi dari sampah jenis lain. Jenis sampah yang dihasilkan selengkapnya disajikan pada tabel berikut ini : KOMPOSISI SAMPAH DI KOTA SEMARANG TAHUN 2010
KOMPOSISI SAMPAH TAHUN 2010 ( % ) Sampah Organik 61,95 Sampah Anorganik a. Kertas 12,26 b. Plastik 13,39 c. Logam 1,80 d. Karet 0,50 e. Kain/tekstil 1,55 f. Gelas/Kaca 1,72 g. Lain lain 6,83 Jumlah 100,00 Sumber: Dinas Kebersihan dan Pertamanan2010

5. Kegiatan pengolahan sampah TPA Jatibarang a. Kegiatan Pengomposan oleh PT. Narpati PT. Narpati merupakan investor yang ditunjuk oelh Pemerintah Kota Semarang untuk melakukan pengolahan sampah TPA Jatibarang menjadi kompos. Secara riil, PT. Narpati mulai beroperasi pada bulan Mei 2011. Sampai saat ini PT. Narpati telah mampu mengolah sampah sampai dengan 350 m3. Total luas lahan yang digunakan oleh PT. Narpati sekitar 4 ha. Lahan tersebut digunakan antara lain untuk ruang perkantoran, ruang satpam, tempat penimbangan sampah, tempat tangki air bersih, lahan fermentasi, tempat pemilahan atau sortir sampah, ruang penyaringan (screening), ruang pengepakam (packing), gudang, tempat parkir, dan lain-lain. PT. Narpati berencana untuk mengolah sampah menjadi kompos dalam bentuk granule atau pelet. Sisa hasil pengolahan nantinya akan digunakan sebagai bahan bakar antara lain untuk boiler, pabrik semen, dan batu bata. Rencana ke depan sisa hasil pengolahan sampah akan dimanfaatakan menjadi biogas. Proses pengolahan sampah oleh PT. Narpati dapat dijelaskan sebagai berikut : 1) Proses penimbangan sampah di tempat penimbangan sampah yang dimiliki PT. Narpati. 2) Proses pemilahan atau sortir sampah yang dilakukan secara manual. 3) Proses fermentasi menggunakan mikroba untuk mempercepat proses

pengomposan. 4) Proses penyaringan atau pengayakan (screening) pada ukuran mesh tertentu. 5) Proses pengurangan kadar air dengan menggunakan oven. 6) Proses pengekapan (packing). 7) Proses pengangkutan hasil kompos ke PT. Petro kimia Gresik menggunakan truk. Sebelum dilakukan proses fermentasi, dari jumlah sampah sebanyak 350 ton per hari dipilah atau disortir terlebih dahulu dengan tujuan untuk memisahkan bahan yang akan diproses fermentasi dan bahan yang tidak di proses fermentasi. Sekitar 4% (10 ton) sampah yang dipisahkan dan tidak diolah dalam proses fermentasi antara lain berupa kayu, logam, dan sebagainya. Sedangkan sisanya sekitar 96% sampah dilakukan proses fermentasi. Dari hasil proses fermentasi sekitar 34% menjadi kompos dan sisanya 66% merupakan sisa hasil ayakan. Sisa hasil ayakan (66%) ini akan digunakan sebagai bahan bakar antara lain untuk boiler, pabrik semen, dan batu bata. Rencana kedepan sisa hasil ayakan ini akan dimanfaatkan menjadi biogas.

PT. Narpati akan terus melakukan peningkatan kapasitas yang dilakukan setiap 5 tahun berikutnya beserta nilai kontribusi yang diberikan ke Pemerintah Kota Semarang. Besarnya kontribusi untuk Tahun 1 5 yaitu Rp. 580.000.000,- per tahun untuk kapasitas pengolahan 350 ton sampah kota, pada tahap awal telah dibayarkan kontribusi kepada Pemerintah Kota Semarang pada tanggal 13 Januari 2011. Bila kerjasama berjalan lancar, maka akan mengurangi beban TPA, sehingga umur TPA bisa lebih panjang, demikian juga biaya O & M (Operasional dan Pemeliharaan) TPA dapat dikurangi. Jangka waktu kerjasama selama 25 tahun, sehingga akan berakhir pada tahun 2035.

Tambahin gambar granule dari tian fotonya yang waktu kita kunjungan b. Kegiatan pemulung Di TPA Jatibarang selalu ada kegiatan pemulung, dimana mereka banyak mendirikan rumah untuk memudahkan pekerjaan mereka di lokasi tersebut. Jumlah pemulung yang ada di lokasi TPA Jatibarang berkisar 200 orang. Kegiatan mereka memilah-milah sampah yang baru datang. Kemudian sampah tersebut dijual kepada lapak. Identifikasi terhadap sampah yang dimanfaatkan pemulung untuk dijual kepada lapak sangat sulit, karena identifikasi terhadap banyaknya sampah yang diambil pemulung rata-rata 4 rit truck per minggu. Sampah ini meliputi sampah logam, sampah plastik jenis high density poluethilene (HDPE) dan polyethylene (PE).

Lokasi Pemulung di TPA Jatibarang - Semarang

c. Keadaan sapi di TPA Keberadaan sapi saat awal merupakan sumbangan dari Dinas Kebersihan dan merupakan uji coba. Saat ini keberadaan sapi sudah bukan menjadi milik menjadi milik masyarakat sekitar, bahkan telah dikuasai oleh masyarakat di luar TPA. Jumlah sapi yang ada kurang lebih 2.000 ekor. Namun disisi lain populasi sapi yang sangat besar mengganggu proses operasional di TPA, seperti operasional alat berat, menghalangi kendaraan yang lewat dan sebagainya.

Keberadaan Sampi di TPA d. Proses sanitary landfill Jumlah timbulan sampah yang masuk ke TPA Jatibarang pada tahun 20124757,1 m3/hari. Penetapan sanitary landfill pada lahan yang saat ini harus dilengkapi dengan sistem pencegahan rembesan air lindi ke deposit air tanah dengan menambahkan lapisan dasar (liner geomembran bahan HDPE/tanah lempung yang dipadatkan) diatas tanah dasar. Untuk meminimalkan rembesan air lindi kedalam deposit air tanah maka pengelola TPA dapat segera menutup areal penimbunan sampah controlled landfill.

Dalam operasionalnya juga dilakukan perataan dan pemadatan sampah untuk meningkatkan efesiensi pemanfaatan lahan dan kestabilan permukaan TPA. metode controlled landfill dianjurkan untuk diterapkan di kota sedang dan kecil. Untuk dapat melaksanakan metoda ini diperlukan penyediaan beberapa fasilitas, diantaranya: 1) Saluran drainase untuk mengendalikan aliran air hujan. 2) Saluran pengumpul lindi dan kolam penampungan. 3) Pos pengendalian operasional. 4) Fasilitas pengendalian gas metan. 5) Alat berat. Frekuensi penutupan sampah dengan tanah disesuaikan dengan metode/teknologi yang diterapkan. Penutupan sel sampah pada sistem sanitary landfill dilakukan setiap hari, sementara pada controlled landfill dianjurka tiga kali sehari. Metode ini merupakan metode standar yang dipakai secara internasional dimana penutupan sampah dilakukan setiap hari sehingga potensi gangguan yang timbul dapat diminimalkan. Namun demikian diperlukan penyediaan prasarana dan sarana yang cukup mahal bagi penerapan metode ini sehingga sampai saat ini baru dipakai dikota besar atau metropolitan. Ketebalan tanah penutup yang perlu dilakukan adalah : 1) Untuk penutupan sel (sering disebut dengan penutup harian) adalah dengan lapisan padat setebal 20 cm. 2) Untuk penutupan antara (setelah 2-3 lapis harian) adalah tanah padat setebal 30 cm. 3) Untuk penutupan terakhir, yang dilakukan adalah pada saat satu blok pembuangan telah terisi penuh, dilapisi dengan tanah padat setebal minimal 50 cm. TPA Jatibarang dengan luas area 460.183 m2 dengan rincian luas areal buangan (60%) 276.109,8 m2 yang dibagi menjadi lima zona dan (40%) 184.073,2 m2 untuk infrastruktur. Zona yang sudah dilakukan penutupan final adalah zona I, II, III, dan IV. Zona V saat ini akan dilakukan penutupan sampah antara maupun final. Luas zona timbunan I adalah 12.465,064 m2 dan kapasitasnya 117.263,95 m3. Zona ini merupakan zona timbunan non aktif TPA Jatibarang yang terletak pada level paling bawah dan di sebelah timur sehingga untuk mencapai zona ini perlu dilakukan perbaikan jalan operasi agar slope jalan tidak terlalu curam. Zona timbunan II berada di atas zona timbunan I atau sebelah barat zona timbunan I. Kondisi tanah dan topografinya relatif sama dengan zona timbunan I.

Luas zona timbunan II adalah 11.924,929 m2 dan kapasitasnya adalah 123.140,83 m3. Lokasi zona timbunan III berada di bagian barat atau di atas zona timbunan II. Kondisi tanah dan topografinya juga hampir sama dengan zona I dan zona II, yaitu sebagian tanahnya merupakan timbunan sampah dan topografinya tidak rata. Luas zona timbunan III adalah 11.985,207 m2 dan kapasitasnya adalah 172.392,85 m3. Zona timbunan IV dibagi lagi menjadi dua zona timbunan, yaitu zona timbunan IV A dan IV B. Zona timbuanan IV A letaknya pada level paling tinggi dan berada di depan kantor TPA. Zona timbunan IV A merupakan zona yang terletak paling dekat dengan pintu masuk TPA sehingga paling mudah dijangkau oleh truk pengangkut sampah. Kondisi tanah zona ini sebagian besar telah ditimbun sampah dan topografinya relatif lebih datar bila dibanding dengan zona I, II dan III. Luas zona timbunan IV A adalah 56.644,015 m2 dan kapasitasnya adalah 146.079,70 m3. Zona timbunan IV B terletak dibagian selatan zona timbuanan II dan III dan sebelah timur zona timbunan IV A. Kondisi tanah sebagian besar belum ditimbun sampah dan topografinya relatif datar. Zona timbunan IV B belum memiliki jalan operasi sehingga dibutuhkan akses jalan operasi baru agar dapat dioptimalkan penimbunan sampahnya. Adapun luas zona timbunan IV B adalah 15.654,238 m2 dan kapasitasnya adalah 370.696,15 m3. Luas zona timbunan V adalah 44.763,31 m2 dan kapasitasnya adalah 489.501,14 m3. Lokasi zona ini berada di TPA Jatibarang bagian selatan. Zona ini belum digunakan dan masih berupa tanaman semak dan pepohonan. Kondisi topografi zona timbunan V tidak datar bahkan cenderung berbukit. Oleh karena itu akan dilakukak penggalian hingga elevasi 75 dpl sehingga lahan tersebut menjadi relatif datar. Zona timbunan V terletak disebrang Sungai Cebong yang mengalir di tengah TPA Jatibarang sehingga dibutuhkan jembatan dan jalan operasi baru dalam operasionalnya.

3.5 Pengawasan dan Pengendalian Operasional TPA Jatibarang

Pengawasan dan pengendalian sanitary landfill dimaksudkan untuk meyakinkan bahwa setiap kegiatan pada sanitary landfill dilaksanakan sesuai denganrencana yang telah ditentukan dan dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut : 1. Apakah sampah yang dibuang merupakan sampah perkotaan dan bukan jenis sampah yang lain 2. Apakah volume dan berat sampah yang masuk diukur dan dicatat dengan baik. 3. Apakah sel pembuangan dan titik bongkar sudah ditentukan. 4. Apakah pengemudi sudah diarahkan ke lokasi yang benar. 5. Apakah truk pengangkut membongkar pada lokasi yang benar. 6. Apakah tanah penutup telah tersedia. 7. Apakah perataan dan pemadatan dilakukan sesuai dengan rencana. 8. Apakah penutupan telah dilakukan dengan baik. 9. Apakah prasarana dan sarana dioperasikan dan dipelihara dengan baik. Pengawasan dilakukan dengan kegiatan pemeriksaan yang meliputi : 1. Pemeriksaan kedatangan sampah. 2. Pemeriksaan rute pembuangan. 3. Pemeriksaan operasi pembuangan. 4. Pemeriksaan unjuk kerja fasilitas. Pengendalian aktifitas TPA untuk mengerahkan operasional pembuangan dan kinerja fasilitas sesuai dengan fungsinya, seperti : 1. Pemberian petunjuk operasi pembuangan. 2. Pemeriksaan kualitas pengolahan lindi dan pemberian petunjuk cara pengoperasian yang baik. Beberapa pengendalian yang dilakukan guna memaksimalkan kinerja operasional TPA Jatibarang diantaranya : 1. Pengendalian lalat Pengembangan lalat pada umumnya disebabkan oleh terlambatnya penutupan sampah dengan tanah. Karenanya perlu diperhatikan dengan seksama jangka waktu paling lama untuk penutupan tanah. Semakin pendek periode penutupan tanah akan semakin kecil pula kemungkinan pengembangan lalat. Tersedianya pepohonan dalam hal ini sangat membantu pencegahan penyebaran lalan ke lingkungan luar TPA. 2. Pencegahan kebakaran dan asap Kebakaran didalam TPA dapat ditimbulkan oleh hal-hal yang bersumber dari alat berat, kelalaian atau kesengajaan oleh manusia, serta hal-hal yang bersumber dari timbunan sampah. Untuk itu dilakukan langkah-langkah pencegahan, seperti : a. Melakukan pemeriksaan berkala terhadap semua alat berat yang akan

dioperasikan.

b. Melengkapi setiap alat berat dengan pemadam kebakaran. c. Melarang seluruh pekerja untuk merokok atau melakukan pembakaran di dalam lahan. d. Melakukan pemeriksaan singkat terhadap jenis sampah yang masuk ke dalam lokasi. e. Menyiapkan suatu sarana hubungan komunikasi dengan unit pemadam kebakaran terdekat. f. Sampah yang tidak tertutup tanah sangat mudah terjadi kebakaran, untuk mencegahnya dilakukan pemeliharaan lapisan tanah tertutup. 3. Pencegahan pencemaran air Pencegahan pencemaran air dilakukan dengan membuat instalasi Pengolahan limbah (IPL) berdekatan dengan sumber lindi, membuat drainase keliling dan drainase dalam lahan TPA, membuat sumur pemantauan di hulu dan hilir lokasi, serta membuat lapisan dasar lahan sanitary landfill yang kedap air. 4. Pemulungan sampah Pemulungan sampah seharusnya dilarang keras dilakukan di dalam lokasi TPA, namun hal ini tidak dapat dihindari. Untuk itu dapat dilakukan pengendalian dengan cara sebagai berikut : a. Pembatasan lokasi kerja pemulung dengan tegas, lokasi yang diperbolehkan adalah area komposting, lokasi kerja penurunan, dan lokasi perletakan sampah sementara. b. Pemulung tidak diizinkan bekerja di dalam lokasi penimbunan. c. Pembatasan jumlah pemulung dan melakukan pendaftaran pemulung. d. Membuat suatu program penerangan atau penyuluhan bagi para pemulung yang ada di daerah tersebut. Selain dilakukan pengawasan dan pengendalian TPA perlu juga dilakukan pemantauan lingkungan pada TPA Jatibarang yang bertujuan untuk mendeteksi adanya perubahan kondisi lingkungan, menemukan adanya dampak negatif yang diakibatkan karena keberadaan TPA, menentukan tindakan-tindakan perbaikan atau penanganan terhadap dampak negatif yang timbul, mendapatkan parameter-parameter acuan rencana yang dapat digunakan untuk perencanaan TPA berikutnya. Pemantauan ini dilakukan terhadap air tanah, air permukaan, gas, dan lindi. Setiap selesainya dilakukan pengawasan dan pengendalian dilakukan juga

pendataan dan pelaporan guna memberikan gambaran mengenai kondisi pengoperasian dan pemeliharaan TPA kepada para pengambil keputusan maupun perencana bagi pengembangan TPA berikutnya

BAB IV PENUTUP

DAFTAR PUSTAKA

Bappeda Kota Semarang. Rencana Induk Sistem Persampahan Kota Semarang Tahun Anggaran 2006. Semarang : 2006. Departemen Pemukiman dan Prasarana Wilayah. 2003. Pedoman Pengelolaan Persampahan Perkotaan. Direktorat Jendral Tata Perkotaan dan Tata Pedesaan Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Semarang. Dokumen Evaluasi Lingkungan Hidup TPA Jatibarang Kota Semarang Tahun 2009. Semarang : 2009. Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Semarang. Standar Operasional Prosedur (SOP) dan Manajemen TPA Jatibarang dengan 3R. http://tpasampah.blogspot.com/2009/08/tempat-pempuangan-akhir-sampah.html diakses pada tanggal 23 Juli 2012 http://digilib-ampl.net/detail/detail.php?row=&tp=kliping&ktg=sampahluar&kode=11899 diakses pada tanggal 23 Juli 2012 http://www.suaramerdeka.tv/view/video/29933/awal-mei-pabrik-pengolahan-sampah-tpajatibarang-beroperasi diakses pada tanggal 23 Juli 2012