Anda di halaman 1dari 22

TPA SANGGRAHAN KABUPATEN TEMANGGUNG

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Pengelolaan Sampah Dosen Pengampu : Eram Tunggul Pawenang, S.KM, M.Kes

Disusun Oleh : 1. Putri Januar Puspa A.P. 2. Nining Prastiwi 3. Rizky Ayu F.A. 4. Dian Wisnu Wardani 5. Zulfa Kamalia Amin 6. Dany Noviyani (6411411047) (6411411051) (6411411052) (6411411062) (6411411069) (6411411078)

Rombel 02

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2013

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1

LATAR BELAKANG Sampah merupakan segala sesuatu dari sisa kegiatan manusia yang berbentuk padat dan semi padat, yang terdiri dari organk dan anorganik. Sampah adalah zat kimia, energi, atau makhluk hidup yang tidak mempunyai nilai guna dan cenderung merusak. Sampah merupakan konsep buatan manusia, dalam proses-proses alam tidak ada sampah, yang ada hanya produk-produk yang tidak bergerak. Di Indonesia sendiri, sampah merupakan masalah yang masih sulit untuk diatasi. Dari tahun ke tahun, volume sampah yang dihasilkan semakin bertambah. Hal ini dikarenakan kebutuhan manusia semakin beragam dan bertambah. Juga karena adanya pembangunan yang menyebabkan berkurangnya lahan untuk pengelolaan sampah. Dalam kehidupan manusia, sampah dalam jumlah besar, datang dari aktivitas industri, misalnya saja pada pertambangan dan konsumsi. Hampir pada semua produk industri yang dihasilkan oleh suatu perusahaan, akan menimbulkan sampah pada akhirnya. Apalagi jumlah produksinya semakin lama semakin meningkat, sedangkan laju pengurangan samapah dari produk yang dihasilkan lebih kecil. Hal inilah yang menyebabkan sampah semakin menumpuk disetiap penjuru kota. Besarnya timbunan sampah yang tidak dapat ditangani, dapat menyebabkan berbagai permasalahan baik secara langsung maupun secara tidak langsung bagi penduduk kota dan penduduk yang berada disekitar tempat penimbunan sampah. Dengan adanya penimbunan sampah yang tidak terurus di Tempat Pembuangan Sementara (TPS), maka pemerintah daerah mencanangkan program untuk pembuatan Tempat Pengelolaan Akhir (TPA) didaerahnya masing-masing. Seperti pada Pemerintah Daerah Kabupaten Temanggung, yang membuat Tempat Pengelolaan Akhir (TPA) di Dukuh Losari, Desa Sanggrahan, Kecamatan Kranggan, Kabupaten Temanggung.

Berdasarkan hal diatas, kami perlu mengangakat masalah Pengelolaan Sampah yang ada di Kabupaten Temanggung, karena berhubungan dengan kerusakan alam sekitar dan kehidupan manusia. Dampak yang ditimbulkan dari pencemaran akibat sampah, tidak bisa diselesaikan dalam jangka waktu yang sebentar, melainkan memerlukan waktu yang lama karena efek yang ditimbulkan akan bersifat permanen.

1.2

RUMUSAN MASALAH Berdasarkan latar belakang tersebut dirumuskan permasalahan sebagai berikut: 1. Bagaimana Sejarah dari Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) di Dukuh Losari, Desa Sanggrahan, Kecamatan Kranggan, Kabupaten

Temanggung ? 2. Bagaimana Mekanisme Pengelolaan Sampah di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) di Dukuh Losari, Desa Sanggrahan, Kecamatan Kranggan, Kabupaten Temanggung ? 3. Apakah Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) di Dukuh Losari, Desa Sanggrahan, Kecamatan Kranggan, Kabupaten Temanggung

memberikan dampak negatif bagi kesehatan masyarakat sekitar ?

1.3

TUJUAN PENELITIAN 1.3.1 Tujuan Umum: Memenuhi tugas mata kuliah Pengelolaan Sampah. 1.3.2 Tujuan Khusus 1. Untuk mengetahui sejarah Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) di Dukuh Losari, Desa Sanggrahan, Kecamatan Kranggan, Kabupaten Temanggung. 2. Untuk mengetahui mekanisme Pengelolaan Sampah Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) di Dukuh Losari, Desa Sanggrahan, Kecamatan Kranggan, Kabupaten Temanggung.

3. Untuk mengetahui dampak negatif dari Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) di Dukuh Losari, Desa Sanggrahan, Kecamatan Kranggan, Kabupaten Temanggung. 4. Menemukan penyelesaian dari masalah yang timbul akibat adanya Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) di Dukuh Losari, Desa Sanggrahan, Kecamatan Kranggan, Kabupaten

Temanggung.

1.4

MANFAAT PENELITIAN 1.4.1 Bagi Masyarakat Desa Sanggrahan Dengan disusunnya makalah ini diharapkan masyarakat lebih memahami dampak positif maupun negatif dengan adanya Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Sanggrahan sehingga mereka mampu untuk melakukan tindakan pencegahan sedari dini dari dampak negatif yang ditimbulkan dengan ikut memantau kegiatan di TPA dan mendukung adanya TPA tersebut karena dampak positif yang diberikannya. 1.4.2 Bagi Mahasiswa Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat UNNES Penyusunan makalah ini dapat dijadikan sebagai bahan informasi mengenai pengelolaan sampah, khususnya pengelolaan sampah di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) di kabupaten Temanggung, sehingga dapat digunakan sebagai bahan masukan untuk penelitian selanjutnya khususnya pada penelitian

pengelolaan sampah.

1.4.3

Bagi Penyusun Peneliti berharap dengan disusunnya makalah ini dapat menambah wawasan peneliti lebih dalam dan dapat bermanfaat selama perkuliahan peneliti selanjutnya sebagai wahana

pengembangan ilmu khususnya pengelolaan sampah.

BAB 2 ISI

2.1

Sejarah TPA Sanggrahan Di setiap kota pasti tidak terlepas dari sampah, begitupun dengan kota Temanggung. Setiap hari volume sampah yang dihasilkan semakin bertambah. Hal tersebut dikarenakan tingkat konsumsi untuk menghasilkan sampah juga semakin meningkat. Untuk mengatasi hal tersebut, Pemerintah Daerah (Pemda) bekerja sama dengan Dinas Pekerjaan Umum (DPU) berusaha untuk membuka Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). TPA Sanggrahan dibangun pada tahun 2009 karena berbagai alasan yang mendukung pembangunan. Sebelum dibangunnya TPA Sanggrahan, TPA lama bernama TPA Badran di Dusun Bangunsari, Desa Badran, Kecamatan Kranggan dengan luasan sebesar 2,133 Ha. TPA Badran mulai beroperasi pada tahun 1991 dengan rencana operasional 15 tahun. Kondisi sekarang ini sudah overload dan habis masa lakunya sehingga tidak layak untuk dipergunakan dan diperpanjang masa lakunya. Pengelolaaan TPA yang sudah tidak memenuhi syarat dapat dianggap melanggar Undang-undang Nomor 18 Tahun 2008. Volume sampah yang terangkut di TPA Badran, rata-rata setiap harinya pada tahun 2006 sebesar 129,90 m3/hari, tahun 2007 sebesar 131,50 m3/hari, tahun 2006 sebesar 134,30 m3/hari. Kondisi TPA Badran yang sudah tidak layak menjadikan pemerintah kabupaten Temanggung memulai pembangunan TPA baru pada tahun 2009 yang bernama TPA Sanggrahan. Pemilihan Desa Sanggrahan dijadikan sebagai lokasi TPA yang baru dikarenakan masyarakat Desa Sanggrahan menerima dengan baik rencana pembangunan TPA di Sanggrahan, sebagian masyarakatnya bekerja sebagai pemulung, dan lokasi tapak proyek yang jauh dari pemukiman penduduk (kurang lebih 500-600 m). Ditinjau dari aspek legalitasnya, pengadaan atau pembangunan

TPA di setiap kota diatur oleh Perda No 19 tahun 2011 tentang K4

(Kebersihan, Keindahan, Ketertiban, dan Keamanan Lingkunagn), Perda No 29 tahun 2011 tentang Pengelolaan Sampah, dan Perda No 2 tahun 2012 tentang Retribusi Kebersihan / persampahan. Mengacu pada peraturan tersebut, maka Pemda Temanggung membuka lahan untuk area TPA. Tetapi, setelah beroperasi 2 tahun yaitu pada tahun 2011 TPA Sanggrahan tersebut mengalami kelongsoran sehingga mengakibatkan area-area yang sudah digunakan untuk pemilahan sampah rusak. Setelah terjadi longsor, pembangun pada TPA dilakukan kembali dan Pemda melakukan perluasan dengan cara pembebasan lahan. Luasan TPA Sanggrahan sekarang adalah 33.940 m2 yang diperoleh dari pengadaan lahan pada tahun 2008 dan perluasan lahan TPA Sanggrahan tahun 2012.

2.2

Design Report TPA Sanggrahan TPA Sanggrahan terletak di Desa Sanggrahan, Kecamatan Kranggan. Jarak dari pusat kota sekitar 5 km. Jarak terjauh dari pelayanan persampahan di Kecamatan Candiroto sejauh 31 km. Pengelolaan sampah di TPA Sanggrahan menggunakan system controlled landfill sesuai dengan tuntutan Undang-undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Persampahan dan PP 16 Tahun 2005. Luas TPA Sanggrahan yang ada sebesar 33.940 m2 dengan proyeksi untuk menampung sampah sampai dengan tahun 2021 membutuhkan tambahan perluasan lahan TPA. Pembangunan TPA baru dilakukan melalui 5 tahap dengan pembagian 3 zona pembuangan sampah. Realisasi dana dalam pembangunan TPA Sanggrahan cukup besar yaitu pembangunan Tahap I pada tahun 2009 sebesar Rp.2.336.189.000,- dan pembangunan Tahap II-V sebesar Rp. 4.332.646.226,-. Anggaran operasional TPA

Sanggrahan setiap tahunnya sekitar Rp.600.000.000,-. Pembangunan TPA Sanggrahan merealisasikan beberapa site-site, sebagai berikut : 1. Perspektif Parsial Gerbang TPA 2. Perspektif Parsial Jembatan Timbang 3. Perspektif Parsial Kantor TPA

4. Perspektif Parsial Garasi 5. Perspektif Parsial Bengkel 6. Perspektif Parsial Komposting 7. Perspektif Parsial Peralatan Sampah 8. Perspektif Parsial Instalasi Pengolah Leachate (Lindi) 9. Perspektif Parsial zona I dan zona II 10. Perspektif Parsial Lapak Pemulung 11. Perspektif Parsial Area Parkir 12. Perspektif Parsial Jalan Operasional 13. Perspektif Parsial Tower Air dan Sumur Dalam 14. Perspektif Parsial Sumur Pantau 15. Perspektif Parsial Pengolahan Limbah Rata-rata volume timbulan sampah pada bulan Maret 2013 adalah 170 m /hari. Timbulan sampah tersebut paling banyak berasal dari Kota Temanggung. Pelayanan sampah diberikan kepada semua lapisan
3

masyarakat di kabupaten Temanggung, sebagai berikut : No Uraian Volume Satuan Keterangan


Temanggung, Bulu, Parakan, Ngadirejo, Candiroto, Kedu, Kranggan, Kandangan, Tlogomulyo, Pringsurat

Jumlah IKK (Ibu Kota Kecamatan) yang terlayani

10

IKK

2 3 4 5 6

Jumlah Kelurahan yang terlayani Jumlah Desa yang terlayani Jumlah RW yang terlayani Jumlah RT yang terlayani Jumlah KK yang terlayani Jumlah Jiwa yang

24 25 161 696 31.858 127.432

Kelurah an Desa RW RT KK Jiwa Asumsi 1 KK ada 4

terlayani 7 Jumlah Pasar yang terlayani Jumlah timbulan sampah Kabupaten Temanggung Jumlah volume sampah terangkut ke TPA ratarata/hari Jumlah timbulan sampah wilayah perkotaan Jumlah timbulan sampah Kota Temanggung Jumlah volume sampah terangkut ke TPA Kota Temanggung Tingkat pelayanan sampah Kecamatan Temanggung berdasarkan timbulan sampah Tingkat pelayanan sampah Kecamatan Temanggung berdasarkan wilayah terlayani Tingkat pelayanan sampah terhadap wilayah perkotaan (termasuk IKK) Tingkat pelayanan sampah Kota Temanggung terhadap wilayah Kota Temanggung Tingkat pelayanan sampah terhadap 10 Pasar

Jiwa 4 pasar Desa, 6 Pasar Kabupaten tahun 2011 Penduduk Kabupaten Temanggung 719.533 jiwa, timbulan sampah 2 liter/org/hari. Data volume sampah yang masuk ke TPA tahun 2012 Jumlah penduduk wilayah perkotaan 233.540 jiwa (termasuk IKK) Jumlah penduduk Kecamatan Temanggung 83.473 jiwa

1.439,07

M3/hari

171,37

M3/hari

10

467

M3/hari

11

166.95

M3/hari

12

119

M3/hari Timbulan sampah kota dibanding sampah kota yang terangkut ke TPA Dari 25 Kelurahan/Desa ada 4 Kelurahan/Desa yang belum dilayani 7 IKK terlayani, 13 IKK belum terlayani 25 Desa/Kelurahan Kecamatan Temanggung, 3 Desa/Kelurahan yang belum terlayani Timbulan sampah kabupaten dibanding

13

71.07

14

84

15

35

15

88

16

8,9

timbulan sampah Kabupaten 17 Jarak terjauh sumber sampah dengan TPA Sanggrahan Jarak terdekat sumber sampah dengan TPA Sanggrahan 33 KM

sampah terangkut Terjauh pasar Candiroto Terdekat Kelurahan Kranggan

18

2,5

KM

2.3

Sumber Daya Manusia di TPA Sanggrahan TPA Sanggrahan mempunyai 10 pekerja tetap yang terdiri dari 1 kepala seksi pengelolaan sampah, 2 operator alat berat, 6 tenaga TPA, dan 1 petugas jaga malam. Sementara pemulung yang menetap di TPA Sanggrahan sekitar 67 orang. Masing-masing tenaga memiliki tugas-tugas sebagai berikut : 1. Tugas Operator Alat Berat : Merawat dan mengoperasikan alat berat Menata dan mengelola sampah Mencatat volume sampah

2. Tugas Tenaga TPA Menata, merawat lingkungan TPA Membantu operator mengelola sampah Mengompos sampah organik Menjaga dan merawat peralatan di TPA Merawat kolam-kolam lindi dan drainase

3. Tugas Tenaga Kompos Mengelola dan merawat peralatan kompos Mengkompos sampah organic Mencatat hasil pengkomposan

4. Tugas Pengawas TPA Bertanggung jawab terhadap keberlangsungan pengelolaan sampah di TPA

Mengawasi proses kegiatan di TPA

2.4

Mekanisme Kerja TPA Sanggrahan Mekanisme kerja di TPA Sanggrahan terdiri dari beberapa tahapan yang dilakukan, sebagai berikut : 1. Pengumpulan a. Langsung Pengumpulan langsung dengan alat pengangkut (truk/pick up) oleh petugas langsung ke TPA. Metode ini untuk daerah komersial, perdagangan, perkantoran, jalan protokol dan daerah dengan timbulan sampah tinggi. b. Tak langsung Pengumpulan sampah dari wadah di tiap sumber sampah oleh petugas dengan menggunakan gerobak/sepeda motor roda tiga, untuk dikumpulkan di transfer depo/TPS kemudian diangkut dengan dump truk atau kontainer untuk dibawa ke TPA. Metode ini diberlakukan untuk daerah permukiman/perkampungan, pasar. 2. Sistem Pemindahan a. Tidak Langsung Terdiri dari 2 tahapan, yaitu : Pembuangan sampah dari alat pengumpul ke lokasi pemindah (Transfer depo/TPS atau Kontainer) Pemindahan sampah dari lokasi pemindah ke alat pengangkut ke TPA b. Langsung Sampah dari sumber langsung kea lat pengangkut ke TPA. Metode ini diberlakukan untuk daerah jalan protokol dan kawasan perumahan. 3. Sistem Pengangkutan a. Sistem Stasiun Pemindahan (Transfer Depo) Pada sistem ini, kendaraan pengangkut sampah dari pool akan langsung menuju transfer depo untuk mengangkut sampah yang telah

terkumpul menuju ke TPA. Selanjutnya dari TPA kendaraan pengangkut sampah akan kembali lagi ke transfer depo untuk pengambilan rit berikutnya. Di Kabupaten Temanggung ada 5 Transfer depo, sebagai berikut : TD Banyuurip TD Seklontong TD Jampirejo TD Pasar Kranggan TD Nggandu Wetan

b. Sistem kontainer Prinsip sistem ini adalah tempat pembuangan sementara bersifat tidak tetap dan dapat dipindahkan . Di kabupaten Temanggung ada 9 lokasi kontainer yaitu : Kontainer Gor Temanggung Kontainer Pasar Temanggung Kontainer Pasar Legi Parakan Kontainer Pasar Entho Parakan Kontainer Pasar Wage Ngadirejo Kontainer Pasar Kranggan Kontainer Pasar Kranggan pagi Kontainer Pasar Medono Kebumen Pringsurat Kontainer Pasar Pingit Pringsurat

4. Pemilahan Setelah dilakukannya pengangkutan sampah dikumpulkan di TPA pada zona-zona tertentu yang ada di TPA Sanggrahan. TPA Sanggrahan mempunyai 3 zona aktif pengumpulan sampah, diantaranya zona aktif 1, zona aktif 2, zona aktif 3. Selanjutnya dilakukan pemilahan sampah oleh para pemulung. Mereka memiliki lapak-lapak khusus untuk memilah sampah yang mereka ambil dari zona aktif tersebut. Sampah yang mereka pilah adalah sampah anorganik laku jual, seperti botol, plastik (baik hitam maupun putih), kertas, kardus. Sampah anorganik laku jual

tersebut dijual kepada pengepul sekitar yang datang setiap 2 kali dalam satu minggu. Setelah pemilahan oleh pemulung maka tersisa sampah organik dan sampah anorganik tidak laku jual. Sampah tersebut selanjutnya dipilah oleh petugas untuk dijadikan kompos (sampah organik) dan sampah anorganik tidak laku jual untuk ditimbun menggunakan tanah yang diambil dari Bank Tanah dengan menggunakan system control landfill setiap 3-4 hari sekali. Rerata prosentase komposisi sampah di kabupaten Temanggung paling banyak adalah sampak organik sebesar 58,6 %

2.5

Dampak Adanya TPA di Sanggrahan dan Upaya Pengendalian 2.4.1 Dampak terhadap Kualitas Udara dan Kebisingan 2.4.1.1 Jenis Dampak Kualitas udara semakin menurun dan terjadi peningkatan kebisingan yang disebabkan karena adanya mobilisasi material dan alat berat, pembuatan akses jalan masuk dan operasional, pembangunan sarana fisik TPA yang masih terus berlanjut setiap tahunnya. 2.4.1.2 Upaya Pengendalian Dampak Dikelola dengan penurunan gas buang kendaraan,

penjadwalan pengangkutan material dan penjadwalan kegiatan konstruksi, pembatasan muatan material sesuai dengan kapasitas drump truck, dan menutup material yang diangkut. 2.4.2 Dampak terhadap Kualitas Tanah 2.4.2.1 Jenis Dampak Penurunan kualitas tanah di TPA Sanggrahan dan peningkatan kesuburan tanah karena banyaknya

mikroorganisme di TPA.

2.4.2.2 Upaya Pengendalian Dampak Penurunan kualitas tanah di tapak proyek dapat dikelola dengan pembuatan lapisan geotekstil dan geomembran,

instalasi pengolahan leachate yang telah dibangun oleh pihak Pemda Kabupaten Temanggung. 2.4.3 Dampak terhadap Kualitas Air 2.4.3.1 Jenis Dampak Pada tahun 2010 terjadi penurunan kualitas air sungai yang berlokasi dibelakang TPA sebelum terjadi longsor. Kualitas air di tapak proyek TPA juga menurun karena adanya air hujan dan pembangunan sumur bor dan sumur uji (sebagai langkah untuk memantau kualitas air) menjadi keruh. 2.4.3.2 Upaya Pengendalian Dampak Kualitas air sungai yang menurun karena longsor dapat dikelola dengan membuat box cluvert untuk mengantisipasi pencemaran dari sampah. Penurunan kualitas air dikelola dengan pembuatan saluran air sementara di dalam pembangunan sumur bor dan sumur uji serta di dalam tapak proyek selama kegiatan konstruksi. Serta pengoperasian instalasi pengolahan leachate sebelum di buang ke badan sungai (Kali Sari). 2.4.4 Dampak terhadap Kesehatan 2.4.4.1 Jenis Dampak Masyarakat mengeluhkan bau yang menyengat dan pada tahun 2010 tercemarnya air limbah sehingga aktifitas mereka sedikit terganggu. 2.4.4.2 Upaya Pengendalian Dampak Pelaksanaan system control landfill dengan baik dan benar. System control landfill yang di laksanakan secara benar dengan berkala setiap 3-4 hari akan mengurangi bau menyengat yang timbul dari timbulan sampah. Manfaat lain

adalah terputusnya rantai vektor seperti lalat yang sebelumnya belum pernah dihitung tingkat kepadatannya di TPA Sanggrahan. 2.4.5 Dampak terhadap Komponen Sosial, Ekonnomi, Budaya 2.4.5.1 Jenis Dampak Adanya persepsi masyarakat karena adanya pengadaan dan perluasan lahan di TPA Sanggrahan akan meningkatkan harga tanah di Desa Sanggrahan atau sebaliknya kegiatan pengadaan dan perluasan lahan akan memaksa masyarakat untuk menyerahkan tanah kepada Pemerintah Kabupaten Temanggung. Disamping itu dengan adanya pembangunan TPA Sanggrahan akan membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar dan membuka lapangan usaha baik formal maupun non formal (pemulung). 2.4.5.2 Upaya Pengendalian Dampak Pengelolaan dampak terhadap persepsi masyarakat adalah dengan mengadakan pertemuan rutin untuk pencarian kata mufakat tentang harga ganti rugi lahan yang menjadi objek pembebasan lahan dan pendekatan terhadap tokoh-tokoh masyarakat Desa Sanggrahan.

BAB 3 PENUTUP

3.1 Simpulan Osteoartritis didefinisikan sebagai penyakit kronis yang belum diketahui secara pasti penyebabnya, ditandai dengan kehilangan tulang rawan sendi secara bertingkat. Kadang-kadang kondisi ini disebut juga penyakit sendi degeneratif atau osteoarthrosis (NIAMS, 2002). Terdapat 2 kelompok Osteoartritis yang selanjutnya akan disingkat OA, yaitu OA primer dan OA sekunder. Osteoartritis biasanya terjadi pada usia diatas 40 tahun. Di Amerika, dilaporkan bahwa terdapat lebih dari 60 juta penderita osteoartritis, sampai penyakit ini disebut sebagai penyakit pasca pensiun. Di Indonesia, OA merupakan penyakit reumatik yang paling banyak ditemui dibandingkan kasus penyakit reumatik lainnya. Berdasarkan data Badan Kesehatan Dunia (WHO), penduduk yang mengalami gangguan OA di Indonesia tercatat 8,1% dari total penduduk. Osteoartritis dapat terjadi lebih cepat jika Anda memiliki faktor risiko (hal-hal yang

meningkatkan risiko terkena OA). Diagnosis OA didasarkan pada gambaran klinis yang dijumpai dan hasil radiografis (Soeroso, 2006). Pada umumnya, gambaran klinis osteoartritis berupa nyeri sendi, terutama bila sendi bergerak atau menanggung beban, yang akan berkurang bila penderita beristirahat. OA dapat dicegah dengan menghindari setiap faktor risiko OA.

3.2 Saran Penyusun berharap akan ada banyak mahasiswa yang meneliti dan mengembangkan ruang lingkup penelitian pengelolaan sampah dengan berbagai pendekatan metode sehingga lebih luas dan terspesialisasi informasi yang bisa kita peroleh.

DAFTAR PUSTAKA

Bappeda Temanggung. 2012. Gambar Rencana TPA Sanggrahan Kabupaten Temanggung Tahun 2012. Temanggung : CV Tumbuh Jaya Design Konsultan. ------------. 2011. Gambar DED (Penyusunan Detail Engineering Design) TPA Baru Sanggrahan Tahun. Temanggung : CV Nirmana Konsultan Teknik. ------------. 2012. Gambar Rencana Kegiatan Peningkatan TPA Sanggrahan Tahap IV tahun 2013. Temanggung : CV Karsa Nusantara. ------------. 2008. Laporan Akhir Penyusunan UKL-UPL TPA Baru Sanggrahan Kabupaten Temanggung tahun anggaran 2008. Temanggung : CV Paramida Kreasi Mandiri. Winarni, Sri. 2009. Pengolahan Sampah Terpadu. Yogyakarta : Kanisius.

Lampiran I

Lampiran II