Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PENGUKURAN BERAT ISI DAN BERAT JENIS TANAH (PRAKTIKUM DIT)

BAB I PENDAHULUAN 1. 1 Latar Belakang Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak pernah lepas dari tanah. Dalam dasar ilmu tanah, dapat dipelajari mengenai penentuan Berat isi dan Berat jenis partikel. Berat isi berhubungan dengan padatan, porositas dan bahan organik. Selain itu, dalam pengaplikasiannya, kondisi Berat isi sangat mempengaruhi infiltrasi, konsistensi, pergerakan akar dan pengolahan lahan. Hal inilah yang menunjukkan bahwa Berat isi masih berhubungan dengan sifat-sifat tanah yang lain. Oleh karena itu, Berat isi dan Berat jenis partikel sangat penting untuk dipelajari sehingga pengetahuan mengenai Berat isi dan Berat jenis partikel semakin bertambah. Dan kita dapat menghitung dan menentukan Berat jenis dan Berat Isi suatu tanah. Data sifat-sifat fisik tanah tersebut diperlukan dalam perhitungan penambahan kebutuhan air, pupuk, kapur, dan pembenah tanah pada satuan luas tanah sampai kedalaman tertentu. Berat isi tanah juga erat kaitannya dengan tingkat kepadatan tanah dan kemampuan akar tanaman menembus tanah. Berat isi tanah juga diperlukan dalam perhitungan pemberian pupuk, penambahan kapur dan pembenah tanah untuk satu satuan luas lahan. Hal ini karena pada luas lahan dengan kedalaman tertentu menggunakan satuan volume (m3), sedangkan pupuk, kapur atau pembenah tanah dalam satuan berat, sehingga volume tanah harus diubah terlebih dahulu menjadi satuan berat (kg atau ton). Untuk mengubah menjadi satuan berat maka diperlukan data berat isi tanah. Oleh karena itu sangat diperlukan pemahaman tentang berat isi dan berat jenis tanah. 1.2 Tujuan Untuk memahami pengertian dari berat isi dan berat jenis tanah Untuk memahami faktor faktor yang mempengaruhi berat isi dan berat jenis tanah. Untuk memahami cara menentukan berat isi dan berat jenis tanah

BAB II TINJAUN PUSTAKA 2. 1 Definisi Berat Isi dan Berat Jenis Berat isi adalah perbandingan antara massa tanah dengan volume partikel ditambah dengan ruang pori diantaranya. (Tim Dosen, 2009)

Definisi berat isi tanah adalah berat tanah utuh (undisturbed) dalam keadaan kering dibagi dengan volume tanah, dinyatakan dalam g/cm3 (g/cc). (Lembaga Penelitian Tanah, 1979) Berat jenis tanah adalah perbandingan antara berat butir tanah dan berat air suling dengan isi yang sama pada suhu tertentu. (Anonymous, 2010) Berat Jenis adalah berat tanah kering per satuan volume partikel-partikel padat (tidak termasuk volume pori-pori tanah). (Hardjowigeno, 1992) Soil bulk density is the size of packaging or compression of soil particles (clay, silt, and sand). Bobot isi tanah (Bulk Density) adalah ukuran pengepakan atau kompresi partikel-partikel tanah (pasir, debu, dan liat). (Pearson et al., 1995). 2. 2 Metode Pengukuran Berat Isi a. Metode Silinder Metode silinder sangat mudah dan sederhana serta praktis untuk tanah-tanah yang tidak bersifat mengembang mengerut, dan pengukuran bobot isi denngan menggunakan silinder yaitu pipa PVC yang berbentuk tabung ditancapkan kedalam tanah sampai bagian atas silinder tanah. b. Metode Clod Pengukuran bobot isi dengan metode clod digunakan pada tanah yang bersifat mengembang dan mengkerut serta sulit diambil contohnya dengan silinder. c. Metode Wash Boring Tanah dikikis dengan menggunakan mata bor cross bit yang mempunyai kecepatan putar 375 rpm dan tekanan 200 kg. pengikisan dibantu dengan tiupan air lewat lubang stang bor yang dihasilkan pompa seniri fulgar 3. Hal ini yang menyebabkan tanah yang terkikis terdorong keluar dari lubang bor. d. Metode Radioaktif / sinar gamma Metode ini pada pengukuran Berat Isi (BI) digunakan secara langsung ditempat terbuka (lapangan) pada tanah-tanah yang mudah mengembang serta mengerut, sehingga dalam penetapanya diperhitungkan pada kondisi hisapan bor. (Anonymous, 2009) 2. 3 Faktor faktor yang mempengaruhi Berat Isi (BI) dan Berat Jenis (BJ) Faktor yang Mempengaruhi Berat Isi (BI) a. Struktur Tanah Tanah yang mempunyai struktur yang mantap (lempeng) mempunyai (BI) yang lebih tinggi daripada tanah yang mempunyai struktur yang kurang mantap (remah) b. Pengolahan Tanah Jika suatu tanah sering diolah tanah tersebut memiliki berat isi yang tinggi daripada tanah yang dibiarkan saja, dan didalam pengolahan tanah yang baik akan meanghasilkan tanah yang baik pula. c. Bahan Organik Jika didalam tanah tersebut banyak ditemukan bahan organik tanah tersebut memiliki Berat Isi lebih banyak disbanding tanah yang tidak terdapat bahan organik . jadi bahan organik sebanding lurus dengan bobot isi. d. Agregasi Tanah Agregasi merupakan proses pembentukan agregrat-agregrat tanah dengan terbentuknya agregatagregat itu, tanah menjadi berpori-pori, sehingga tanah menjadi gembur, dapat menyimpan dan mengalirkan udara dan air. Agregat tanah memiliki ukuran yang lebih besar daripada partikel-partikel tanah. (Hakim, 1986) Faktor yang Mempengaruhi Berat Jenis (BJ) a. Tekstur Tanah Partikel-partikel tanah yang ukuran partikelnya kasar, memilki nilai berat jenis yang tinggi misalnya

pasir, ukuran partikel pasir lebih besar daripada ukuran partikel liat sehingga berat jenis pasir lebih tinggi dari pada liat dan sebaliknya. (Darmawijaya, 1997) b. Bahan Organik Tanah Bahan organik tanah merupakan penimbunan dari sisa-sisa tanaman dan binatang yang sebagaian telah mengalami pelapukan dan pembentukan kembali. Bahan Organik tanah memiliki berat jenis tanah. Semakin banyak kandungan bahan organik tanah, menyebabkan semakin rendahnya berat jenis tanah. (Rahardjo, 2001) 2. 4 Hubungan Berat Isi (Bi) dan Berat Jenis (BJ) Berat Isi dan Berat Jenis tanah saling berhubungan. Salah satu manfaat nilai berat isi tanah, yaitu untuk menghitung porositas. Untuk menghitung porositas kita harus mengetaui berat jenis partikelnya terlebih dahulu. Sedangkan salah satu manfaat berat jenis, yaitu untuk menentukan perhitungan ruang pori dalam tanah. Untuk menghitung ruang pori dalam tanah, kita harus mengetahui berat isi tanah terlebih dahulu. (Tim Dosen FPUB, 2010) 2. 5 Pengaruh Pengolahan Lahan Pengaruh terhadap pengolahan lahan dari berat isi dan berat jenis tanah sangat banyak, di antaranya dalam proses infiltrasi tanah, jika sebuah tanah memiliki rongga atau pori-pori yang banyak maka penyerapan air akan baik atau cepat. Seperti halnya pada tanah berpasir, tanah ini sering digunakan dalam pembuatan lapangan sepak bola yang memerlukan penyerapan air lebih cepat namun tidak untuk media pembudidayaan tanaman.

Grafik pengaruh pengolahan tanah terhadap berat isi pada 3 minggu setelah tanam Pengolahan lahan sangat diperlukan untuk menjaga kesuburan tanah. Tanah yang berstruktur mantap berat isinya juga akan tinggi. Itu dikarenakan tanah tersebut memiliki kerapatan yang tinggi, sehinga akar dari tumbuhan atau tanaman tesebut akan sulit menembus atau memecah tanah dan air akan sulit untuk meresap kedalam tanah, sehingga air akan mudah tergenang di atas permukaan tanah. Untuk mengatasi itu, maka diperlukan pengolahan tanah yang baik, diantaranya dengan cara membajak tanah dan menggemburkan tanah. Dengan membajak tanah, akan membuat ronga atau pori-pori dalam tanah menjadi lebih banyak, sehingga penyerapan air, udara, dan berbagai mineral yang dibutuhkan tanaman dapat lebih mudah. Dalam mempelajari berat isi dan berat jenis tanah dapat ditentukan berapa pupuk yang dibutuhkan untuk pemupukan lahan tersebut sehingga kita dapat meminimalisir pemakaian pupuk. Dengan kata lain dalam teorinya, pengolahan lahan dapat mengurangi berat isi dan berat jenis tanah pada suatu jenis lahan. Sehingga akar tanaman bisa menembus tanah dengan baik dan tanaman bisa tumbuh dengan subur, baik pada lahan semusim, lahan produksi, dan lahan kampus. ( Hanafiah, 2005 ) BAB III METODOLOGI 3. 1 Alat dan Bahan Alat : - Ring (pipa PVC)

- Kayu - Palu - Timbangan Digital - Oven - Buku dan Alat Tulis Bahan :- Sampel tanah A (tanah sampel yang diambi dari tanaman semusim) - Sampel tanah B (tanah sampel yang diambil dari hutan produksi) - Sampel tanah C (tanah sampel yang diambil dari lahan kampus FP UB) 3. 2 Metode Praktikum Metode yang dipakai dalam pengamatan adalah metode ring. Cara kerjanya sangat mudah yaitu contoh tanah dalam ring sample yang telah diketahui volumenya (volume tanah sama dengan volume ring) ditimbang dengan timbangan digital, kemudian ditetapkan kadar airnya. Untuk selanjutnya, dimasukkan ke dalam oven dan dihitung berat kering tanahnya. Metode ini tidak tepat untuk tanah yang bersifat mengembang dan mengkerut. 3. 3 Tahapan Praktikum Untuk alur kerja pada tanah lahan semusim, tanah pada hutan produksi dan tanah lahan kampus samasama menggunakan cara yang sama, yaitu : Menyiapkan Alat dan Bahan Mengambil sampel tanah pada masing-masing lahan Membersihkan tanah yang ada di bagian luar ring Menimbang Berat Basah (BB) tanah Oven tanah dengan suhu 100oC selama 24 jam Menimbang Berat Kering (BK) tanah labu ukur diukur beratnya Tanah seberat 20 gr dimasukkan ke dalam labu dan diukur beratnya Kemudian labu ukur diberi air dan ditimbang beratnya semua hasil pengamatan kemudian dicatat. BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Data Hasil Pengamatan Lokasi BTB ( gr ) BTO ( gr ) V tanah ( cm3 ) V partikel ( cm3 ) Ring ( gr ) Hutan Produksi 227,21 167,96 125,89 10,44 33.7 Semusim 215,90 170,15 109,87 11,36 48.66 Kampus 218,50 164,18 114,45 9,61 31.64 Tabel pengamatan 1 Keterangan : BTB : Berat Tanah Basah BTO : Berat Tanah Oven Lokasi Labu ( gr ) Labu + Tanah ( gr ) Labu + Tanah + Air ( gr )

Hutan Produksi 57,06 77,06 166,62 Semusim 55,72 75,72 164,36 Kampus 56,68 76,68 167,07 Tabel pengamatan 2 LOKASI BI (gr / cm3 ) BJ (massa labu ukur + tanah ) massa labu ukur (gr / cm3 ) Hutan Produksi 1,334 1.915 Semusim 1,548 1.760 Kampus 1,434 2.081 Tabel pengamatan 3 4.2 Interpretasi Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan pada tiga lahan yang berbeda yaitu lahan hutan produksi, komposit semusim, dan lahan kampus mempunyai nilai berat isi dan berat jenis yang berbeda-beda sehingga dapat dilakukan analisis. Namun, disini lebih ditekankan kepada dua jenis lahan yaitu lahan hutan produksi dan lahan komposit semusim karena mempunyai hubungan yang erat dalam pengembangan dunia pertanian. Diantaranya adalah jumlah kandungan partikelnya, untuk lahan hutan produksi dapat disimpulkan bahwa kandungan partikel-partikel dalam tanahnya lebih banyak dibandingkan dengan lahan komposit semusim terbukti dari berat tanah basah hutan produksi lebih besar dibandingkan dengan lahan komposit semusim. Namun, setelah dilakukan pengovenan, berat tanah kering yang berada di lahan komposit semusim mempunyai nilai berat yang lebih besar sehingga dapat diindikasikan bahwa tanah komposit semusim mempunyai kandungan air dalam tanah lebih sedikit daripada lahan hutan produksi. BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan Berat isi adalah perbandingan antara massa tanah dengan volume partikel ditambah dengan ruang pori yang berada diantaranya. Sedangkan berat jenis adalah perbandingan massa total dari partikel padatan dengan total volume yang di dalamnya tidak termasuk ruang pori yang ada. Faktor yang mempengaruhi berat isi tanah adalah struktur tanah, pengolahan tanah, bahan organik, dan agregasi tanah. Sedangkan faktor yang mempengaruhi berat jenis tanah adalah tekstur tanah dan bahan organik tanah. Untuk mengetahui berat isi dan berat jenis tanah dapat digunakan metode ring. Cara kerjanya adalah dengan contoh tanah dalam ring sample yang telah diketahui volumenya (volume tanah sama dengan volume ring) ditimbang dengan timbangan digital, kemudian ditetapkan kadar airnya. Untuk selanjutnya, dimasukkan ke dalam oven dan dihitung berat kering tanahnya. Namun metode ini tidak tepat untuk tanah yang bersifat mengembang dan mengkerut. 5.2 Saran Praktikum mengenai materi berat isi dan berat jenis tanah sangat bermanfaat bagi mahasiswa. Tetapi dalam kegiatan praktikum sebaiknya praktikan diberikan kesempatan seluruhnya untuk aktif dalam kegiatan pengamatan, dan asisten hanya memberi petunjuk dan membenarkan jika praktikan ada kesalahan. Selain itu, untuk lebih mendukung apabila dalam melakukan praktikum harus dengan melakukan praktikum untuk kedua jenis lahan agar praktikan bisa mengerti perbedaan antara hutan produksi dan tanaman semusim.

DAFTAR PUSTAKA Anonymous. 2009. http : // google.ci.id / metode berat isi. (diakses tanggal 16 april 2010)

Anonymous. 2010. http : // ilmusipil.com / cara mengetahui berat jenis tanah. (diakses tanggal 02 Mei 2010) Darmawijaya, M. isa. 1997. Klasifikasi Tanah. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta Hakim. 1986. Dasar-Dasar Fisika Tanah. Jurusan Tanah Fakultas Pertanian UB. Malang Hanafiah, K. A. 2005. Dasar-Dasar Ilmu Tanah.Jakarta : Divisi Buku Perguruan Tinggi. PT. Raja Grafindo Persada. Hardjowigeno, Sarnono. 1992. Ilmu Tanah. Jakarta : Maduatama Sarana Pratama. Lembaga Penelitian Tanah. 1979. Penuntun Analisa Fisika Tanah. Bogor : Lembaga Penelitian Tanah. Pearson, C.J., Norman, D.W., & Dixon, J. 1995. Sustainable Dryland Cropping in Relation to Soil Productivity. Dalam FAO Soils Bulletin 72. Rome:FAO. http://www.Fao.org/docrep/V9926E/V996e04.htm. [10 Nopember 2003]. Rahardjo, pudjo dkk. 2001. Peranan Beberapa Macam Sumber dan Dosis Bahan Organik terhadap ketersediaan Air bagi Tanaman. Pusat Penelitian The dan Kina. Gambung Tim Dosen Jurusan Tanah FPUB. 2010. Panduan Praktikum Dasar Ilmu Tanah. Universitas Brawijaya. Malang Lampiran Perhitungan Berat Isi dan Berat Jenis Tanah o Berat Isi Tanah BI = Keterangan : MP : massa padatan dalam keadaan kering oven V tanah = V pipa silinder BI hutan produksi BI = =1,334 gr / cm3 BI lahan semusim BI = =1,548 gr / cm3 BI lahan kampus BI = =1,434 gr / cm3

o Berat Jenis Tanah BJ = Keterangan : MP : ( massa labu ukur + tanah ) massa labu ukur V partikel : 100 (massa labu ukur + tanah + air massa labu ukur + tanah ) BJ hutan produksi BJ= =1.915 gr / cm3 BJ lahan semusim BJ= =1.760 gr / cm3 BJ lahan kampus BJ= =2.081 gr / cm3 yogafp.blogspot.com/.../laporan-pengukuran-berat-isi-dan-berat.html Berat jenis tanah adalah perbandingan antara berat butir tanah dan berat air suling dengan isi yang sama pada suhu tertentu. berat jenis tanah diperlukan untuk merencanakan konstruksi bangunan yang kekuatanya dipengaruhi oleh berat jenis tanah. Untuk melakukan tes berat jenis tanah diperlukan alat alat antara lain : Piknometer dengan kapasitas minimum 100 ml atau botol ukur dengan kapasitas minimum 50 ml. Desikator

Oven yang dilengkapi dengan pengatur suhu untuk memanasi sampai ( 110 5 ) C. Neraca dengan ketelitian 0,01 gram. Termometer ukuran 0 50C dengan ketelitian pembacaan 1C Saringan dan penadahnya. Botol berisi air suling. Bak perendam. Pompa hampa udara ( vacuum, 1 1 PK ) atau tungku listrik ( Kookplaat ). pada suhu 105

Benda uji berupa tanah juga harus dipersiapkan untuk di lakukan tes berat jenisnya. Sebelumnya Keringkan benda uji tanah terlebih dahulu dalam oven pembuat roti 110C dan dinginkan sesudah itu dalam desikator. dan satu benda uji tanah lagi dalam keaadaan tidak dikeringkan.

Cara melaksanakan tes berat jenis tanah sebagai berikut: a. Cuci piknometer dengan air suling dan keringkan. Timbang piknometer dan tutupnya dengan ketelitian 0,01 gram ( W1 ). b. Masukkan benda uji kedalam piknometer dan timbang bersama tutupnya dengan ketelitian 0,01 gram ( W2 ). c. Tambahkan air suling sehingga piknometer terisi dua pertiga. Untuk bahan yang mengandung lempung diamkan benda uji terendam selama paling sedikit 24 jam. d. Didihkan isi piknometer dengan hati hati selama minimal 10 menit, dan miringkan botol botol sekali sekali untuk mempercepat pengeluaran udara yang tersekap. e. saat mempergunakan pompa vacum tekanan udara didalam piknometer atau botol ukur tidak boleh dibawah 100 mm Hg. Kemudian isilah piknometer dengan air suling dan biarkan piknometer beserta isinya untuk mencapai suhu konstrat didalam bejana air atau dalam kamar. Sesudah suhu konstrat tambahkan air suling seperlunya sampai tanda batas atau sampai jenuh.Tutuplah piknometer, keringkan bagian luarnya dan timbang dengan ketelitian 0,01 gram ( W3 ). Ukur suhu dari isi piknometer dengan ketelitian 1C. f. Bila isi piknometer belum diketahui maka tentukan isinya sebagai berikut. Kosongkan piknometer dan bersihkan. Isi piknometer dengan air suling yang suhunya sama dengan suhu pada c dengan ketelitian 1C dan pasang tutupnya. Keringkan bagian luarnya dan timbang dengan ketelitian 0,01 gram dan dikoreksi terhadap suhu, ( W4 ). g. Pemeriksaan dilakukan ganda ( duplo ) dengan sampel benda uji lain. Setelah proses tes berat jenis tanah selesai, berikutnya kita menghitung berat jenis tanah dengan rumus sebagai berikut : Gs = ( W2 W1 ) / ( ( w4 w1 ) ( W3 W2 ) ) Gs = Berat jenis tanah W1 = berat piknometer ( gram ). W2 = berat piknometer dan bahan kering ( gram ). W3 = berat piknometer, bahan dan air ( gram ). W4 = berat piknometer dan air ( gram ). Apabila hasil kedua pemeriksaan berbeda lebih dari 0,03 pemeriksaan harus diulang. setelah selesai melakukan percobaan yang benar, dan mengulang ngulang lagi , langkah terakhir adalah menentukan rata rata hasil percobaan tersebut. http://www.ilmusipil.com/cara-mengetahui-berat-jenis-tanah JUDUL PENENTUAN BERAT VOLUME TANAH

TUJUAN Untuk mengetahui berat volume tanah Untuk menentukan bulk density atau kerapatan lindak tanah TEMPAT DAN WAKTU Hari : Rabu Tanggal : 13 Oktober 2010 Waktu : 12.00-14.00 WIB Tempat : Laboratorium Ilmu Tanah ALAT DAN BAHAN Alat : - Ring mistar tissu alat tulis Bahan : - Tanah PRINSIP TEORI Berat volume adalah menunjukkan perbandingan antara berat tanah kering dengan volume tanah termasuk volume pori pori tanah. Bulk density = berat tanah kering/ volume tanah BD merupakan petunjuk kepadatan tanah. Makin padat suatu tanah, makin tinggi bulk density yang berarti makin sulit meneruskan air akar tanaman. Pada umumnya BD berkisar dari 1,1-1,6 gr/cc. Faktor yang Mempengaruhi Berat Isi (BI) Struktur Tanah Tanah yang mempunyai struktur yang mantap (lempeng) mempunyai (BI) yang lebih tinggi daripada tanah yang mempunyai struktur yang kurang mantap (remah) PengolahanTanah Jika suatu tanah sering diolah tanah tersebut memiliki berat isi yang tinggi daripada tanah yang dibiarkan saja, dan didalam pengolahan tanah yang baik akan meanghasilkan tanah yang baik pula. Bahan Organik Jika didalam tanah tersebut banyak ditemukan bahan organik tanah tersebut memiliki Berat Isi lebih banyak disbanding tanah yang tidak terdapat bahan organik. Jadi bahan organik sebanding lurus dengan bobot isi. Agregasi Tanah Agregasi merupakan proses pembentukan agregrat-agregrat tanah dengan terbentuknya agregatagregat itu, tanah menjadi berpori-pori, sehingga tanah menjadi gembur, dapat menyimpan dan mengalirkan udara dan air. Agregat tanah memiliki ukuran yang lebih besar daripada partikel-partikel tanah. CARA KERJA Bersihkan ring. Ukur diameter dan tinggi tabung untuk mencari volume tabung Hitung Bulk density. HASIL PENGAMATAN

Diketahui : Diameter ring = 5cm Tinggi ring = 5 cm Ditanya : Volume tabung dan menghitung Bulk Density Penyelesaian : Volume tabung =r^2. t = 3, 14 (2, 5)2. 5 = 3, 14 (6, 25) 5 = 98, 125 cm3 Bulk Density = perbandingan tanah kering open Volume tanah = 116, 1 gr 98, 125 cm3 = 1, 183 gr/ cm3 PEMBAHASAN Bulk density merupakan petunjuk kepadatan tanah. Makin padat suatu tanah makin tinggi bulk density, yanag berarti makin sulit meneruskan air atau diteruskan akar tanaman. Pada umumnya bulk density berkisar dari 1,1 1.6 g/cc. beberapa jenis tanah mempunyai bulk density kurang dari 0,90 g/cc (misalnya tanah andisol), bahkan ada yang kurang dari 0,10 g/cc (misalnya tanah gambut). Bulk density penting untuk menghitung kebutuhan pupuk atau air untuk tiap-tiap hektar tanah , yang didasarkan pada berat tanah per hektar. Besar kecinya bulk density suatu tanah tergantungpada struktur tanahnya juga, dan bahan yang menyusun tanah tersebut serta iklim yang membentuk tanah itu. KESIMPULAN Kerapatan lindak atau bulk density adalah bobot kering suatu isi tanah dalam keadaan utuh yang dinyatakan dalam g/cc. besar bulk density yang yang kami peroleh adalah 1,183 g/cc atau sesuai dengan kisaran dari literature.

DAFTAR PUSTAKA Sukartono, Inkorena G.S. 2008. Penuntun Praktikum Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Fakultas Petanian Universitas Nasional. SHardjowigeno, Prof.Dr.Ir.H.Sarwono, 1987, Ilmu Tanah Akademik Persindo ; Jakarta. S.Pedro A., 1993. Sifat dan Pengelolaan Tanah, Tropika; Bandung http;//www.ilmutanahl+bulkl+density.com

Tekstur tanah
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook
Object 1

Tekstur tanah merupakan satu sifat fisik tanah yang secara praktis dapat dipakai sebagai alat evaluasi atau jugging ( pertimbangan ) dalam suatu potensi penggunaan tanah. Tekstur tanah menunjukkan perbandingan relatif antara Pasir ( sand ) berukuran 2 mm 50 mikron, debu ( silt ) berukuran 50 2 mikron dan liat ( clay ) berukuran < 2 mikron. Klasifikasi tekstur ini berdasarkan jumlah partikel yang berukuran < 2 mm. Jika dijumpai partikel yang > 2 mm dengan jumlah yang nyata, maka penambahan / penyisipan kata kata berkerikil atau berbatu ditambahkan pada nama kelas tekstur tadi. Sebagai contoh lempung berbatu. Untuk keperluan pemilihan ada 12 kelas tekstur tanah. Dan pembagian itu kemudian disederhanakan

menjadi 7 kelas yang terdiri dari pasir, lempung kasar, lempung halus, debu kasar, debu halus, liat debu dan liat sangat halus. Tekstur merupakan sifat yang sangat penting karna berpengaruh pada sifat sifat kimia, fisik dan biologi tanah. Tanah secara garis besar dapat dibagi menjadi 2 kelas yaitu tanah bertekstur kasar dan tanah bertekstur halus. Tanah bertekstur halus ( dominant liat ) memiliki permukaan yang lebih halus dibanding dengan tanah bertekstur kasar ( dominan pasir ). Sehingga tanah tanah yang bertekstur halus memiliki kapasitas adsorpsi unsur unsur hara yang lebih besar. Dan umumnya lebih subur dibandingkan dengan tanah bertekstur kasar. Karna banyak mengandung unsure hara dan bahan organik yang dibutuhkan oleh tanaman. Tanah bertekstur kasar lebih porus dan laju infiltrasinya lebih cepat. Walaupun demikian tanah bertekstur halus memiliki kapasitas memegang air lebih besar dari pada tanah pasir karna memiliki permukaan yang lebih luas. Tanah tanah berliat memiliki persentase porus yang lebih banyak yang berfungsi dalam retensi air ( water retension ). Tanah tanah bertekstur kasar memiliki makro porus yang lebih banyak, yang berfungsi dalam pergerakan udara dan air. Penetapan tekstur tanah secara garis besar dapat dibagi dua, yaitu : 1. Penetapan kasar yaitu menurut perasaan di lapang 2. Penetapan di laboratorium Analisis Tekstur Penetapan Tekstur Tanah Menurut Perasaan di Lapang. Penetapan tekstur tanah di lapang dapat dilakukan dengan cara merasakan atau meremas contoh tanah antara ibu jari dan telunjuk. Adapun metodenya adalah sebagai berikut : 1. Ambil segumpal tanah kira-kira sebesar kelereng, basahi dengan air hingga dapat ditekan 2. Pijit contoh tanah dengan ibu jari dan telunjuk, kemudian bentuk seperti benang sambil dirasakan. Langkah pertama yang perlu ditetapkan adalah apakah tanah tersebut bertekstur liat, lempung berliat, lempung atau pasir. a. Jika bentukan benang tersebut terbentuk dengan mudah dan tetap, maka contoh tanah tersebut besar kemungkinan adalah liat. b. Jika bentukan benang tersebut terbentuk tapi mudah patah, maka kemungkinan lempung berliat. c. Jika tidak terbentuk benang, kemungkinan lempung berpasir. d. Jika terasa lembut (halus dan licin) seperti tepung, maka debu yang dominan. Tetapi jika terasa berbentuk butir-butir, maka yang dominan adalah pasir. 3. Untuk menentukan kelas tekstur selanjutnya dapat digunakan pedoman penetapan tekstur di lapang seperti di bawah ini.

Pasir (s), Rasa kasar jelas, tidak membentuk bola dan gulungan serta tidak melekat. Pasir berlumpur (ls), Rasa kasar sangat jelas, membentuk bola yang mudah sekali hancur serta sedikit sekali melekat. Lempung berpasir (sl,Rasa kasar agak jelas, membentuk bola agak keras, mudah hancur serta melekat. Lempung berdebu (si.l,Rasa licin, membentuk bola teguh, membentuk pita, lekat. Lempung (l),Rasa tidak kasar dan tidak licin, membentuk bola teguh, dapat sedikit digulung dengan permukaan mengkilat serta melekat. Debu (si), Rasa licin sekali, membentuk bola teguh, dapat sedikit digulung dengan permukaan mengkilat serta agak melekat. Lempung berliat (ci.l), Rasa agak kasar, membentuk bola teguh (kering), membentuk gulungan jika dipijit, gulungan mudah hancur serta melekatnya sedang Lempung liat berpasir(s.cl.l), rasa kasar agak jelas, membentuk bola teguh (kering), membentuk gulungan jika dipijit, gulungan mudah hancur serta melekat.

Lempung liat berdebu (si.cl.l),Rasa jelas licin, membentuk bola teguh, gulungan, gulungan mengkilat serta melekat. Liat berpasir (si.cl),rasa licin agak kasar, membentuk bola dalam keadaan kering sukar dipijit, mudah di gulung serta melekat sekali. Liat berdebu (si.cl),Rasa agak licin, membentuk bola dalam keadaan kering sukar dipijit, mudah digulung serta melekat. Liat (cl), Rasa berat membentuk bola baik serta melekat sekali Liat berat (K),Sama seperti rasa dan sifat tanah liat, tetapi rasa berat sekali. Macam-Macam Tekstur Tanah Ada 3 macam tekstur tanah yang utama, yaitu pasir (sand), lempung (loam), dan liat (clay). Tanah dikatakan pasir bila jandungan pasirnya lebih dari 70%. Sedangkan lait apabila kandungan litany lebih dari 35%. Jika suatu fraksi bukan fraksi liat ataupun pasir, maka itu adalah fraksi debu. Departemen Pertanian Amerika Serikat membagi tekstur tanah menjadi 12 kelas tekstur. Penetapan tekstur tanah ada 2, yaitu : a. Penetapan di Laboratorium b. Penetapan Tekstur di Lapang 3.3 Perbedaan Tekstur Utama dari Kemampuan Fisik, Kimia dan Biologi. Tekstur merupakan sifat yang sangat penting karena berpengaruh terhadap sifat-sifat kimia, fisik dan biologi tanah. Tanah secara garis besar dapat dibagi menjadi dua kelas yaitu tanah bertekstur kasar dan halus. Dan tekstur kasar dan halus inipun bisa diklasifikasikan menjadi beberapa bagian lagi sesuai dengan kandungan liat, pasir dan debu. Tanah bertekstur halus ini didominhasi oleh tanah liat dengan tekstur yang lembut dan licin yang memiliki permukaan yang lebih halus dibandingkan dengan tanah bertekstur kasar yang biasanya berbentuk pasir. Sehingga tanah-tanah yang bertekstur halus memiliki kapasitas dalam proses penyerapan unsur-unsur hara yang lebih besar dibandingkan dengan tanah yang bertekstur kasar. Namun, pada tanah bertekstur lembut ini umumnya lebih subur dibandingkan dengan tanah bertekstur kasar. Karena banyak mengandung unsure hara dan bahan organic yang dibutuhkan oleh tanaman serta mudah dalam menyerap unsur hara. Sedangkan pada tanah bertekstur kasar lebih porus dan laju infiiltrasinya lebih cepat. Walaupun demikian tanah bertekstur halus memiliki kapasitas memegang air yang lebih besar daripada tanah pasir karena memiliki permukaan yang lebih banyak yang berfungsi dalam retensi air (water retension). Tanah-tanah bertekstur kasar memiliki makro porus yang lebih banyak, yang berfungsi dalam pergerakkan udara dan air. Semakin halus tekstur tanahnya maka kapasitas adsorpsi menahan unsur unsur hara lebih besar, dan lebih banyak mengandung unsure hara dan bahan organik yang dibutuhkan tanaman, kapasitas memegang air juga lebih besar sebab memiliki permukaan yang lebih luas. Sedangkan tanah bertekstur kasar memiliki laju infiltrasi yang cepat dan lebih porus. Sehingga unsure hara akan ikut hanyut dan yang tertahan didalam tanah semakin sedikit. Faktor yang Mempengaruhi tekstur dan yang Dipengaruhi Tekstur. Faktor Faktor yang mempengaruhi tekstur tanah yaitu : 1.iklim 2. bahan induk 3. topografi 4. waktu 5. organisme Faktor faktor yang dipengaruhi tekstur tanah yaitu :

1.kemampuan tanah memegang dan menyimpan air 2. aerasi, serta permeabilitas 3. kapasitas tukar kation 4. kesuburan tanah. 5 infiltrasi 6. aju pergerakan air (perkolasi) Hubungan Tekstur Tanah dengan Sifat Fisik Tanah Lainnya. Hubungan Tektstur tanah dengan kadar air dalam tanah. Kadar dan ketersediaan air tanah sebenarnya pada setiap koefisien umum bervariasi terutama tergantung pada tekstur tanah. Hubungan Tekstur Tanah dengan Struktur Tanah Pada Dasarnya tekstur tanah itu adalah perbandingan antara partikel-partikel pasir, debu dan liat yang menyusun suatu tanah. Dari partikel tersebut beragresi (berkumpul) membentuk struktur tanah. Hubungan Tekstur Tanah dengan Ruang Pori Total Tanah dengan tekstur halus mempunyai kisaran ukuran dan bentuk partikelnya yang luas. Hal ini telah ditekankan bahwa tanah permukaan yang berpasir mempunyai porositras kecil daripada tanah liat. Berarti bahwa tanah pasir mempunyai volume yang lebih sedikit ditempati oleh ruang pori. Ruang pori total pada tanah pasir mungkin rendah tetapi mempunyai proporsi yang besar yang disusun daripada komposisi pori-pori yang besar yang sangat efisien dalam pergerakan udara dan airnya. Persentase volume yang dapat terisi oleh pori-pori kecil pada tanah pasir rendah yang menyebabkan kapasitas menahan airnya rendah. Sebaliknya tanah-tanah permukaan dengan tekstur halus memiliki ruang pori total lebih banyak dan proporsinya relatif besar yang disusun oleh pori kecil. Akibatnya adalah atanah mempunyai kapasitas menahan air yang tinggi. Kajian Mengenai Pengaruh Tekstur Tanah dalam Usaha Pertanian Dalam Usaha pertanian, kondisi tekstur tanah menjadi perhatian utama bagi petani. Karena dengan mengetahui tekstur tanah maka akan diketahui pula vegetasi apa yang cocok untuk dikembangbiakan, mengetahui cara pengolahannya seperti apa dan bagaimana. Karena tekstur tanah dapat mempangaruhi tanaman yang tumbuh di atas tanah. Pengaruhnya antara lain : 1. Resistensi, terhadap menembusnya akar-akar kedalam tanah. Tanah dengan kandungan silt dan clay yang tinggi sangat sukar ditembus oleh akar-akar tanaman sehingga percabangan dan perkembangan akar terhambat. Hal ini akan berpengaruh pada daerah yang mempunyai iklim kering panjang. Terutama pada tanaman-tanaman yang masih berumur muda sangat peka terhadap tekstur tanah sehingga dapat menghasilkan tanaman dewasa yang berbeda. 2. Peresapan air Pada tanah-tanah yang kasar, air hujan yang jatuh akan segera masuk kedalam tanah. Kalau kita mendapatkan tanah yang miring pada tanah yang kadar akan terjadi air aliran sedikit dan sebaliknya pada tanah bertekstur halus. Sehingga pada umumnya pada tanah-tanah yang lebih berat (tekstur halus) akan mudah terjadi erosi sehingga banyaknya air yang mengalir akan mempengaruhi erosifitas tanah terutama oleh air hujan. 3. Kecepatan gerakan air dalam tanah Pada umumnya hal di atas sangat ditentukan oleh tekstur tanah, yaitu makin halus tekstur makin lambat gerakan air. Umumnya pada tanaman muda (annual crop) tidak menghendaki tanah yang bertekstur halus dan sebaliknya termasuk tanaman keras lebih resisten terhadap tanah bertekstur halus. Sehingga dengan demikian kebanyakan tanaman-tanaman muda mempunyai areal tanah pada daerah-daerah bertekstur kasar. Dengan sendirinya pada tanaman padi justru menghendaki sistem lempung ini karena tanaman padi termasuk tanaman yang memerlukan air berlebihan. Kedua macam tekstur ini mempunyai kebaikan dan kelemahan pada masing-masing tanaman. Kalau kita tinjau masalah ini pada tanah pasir maka air akan bergerak lebih cepat dibanding pada tanah-tanah bertekstur halus. Kecepatan gerakan air pada tanah pasir ini begitu cepat sehingga sampai keluar dari daerah perakaran, dan tidak berguna. Ini ada hubungannya dengan mengapa tanaman muda

menghendaki tanah pasir karena sistem perakarannya lebih dangkal daripada sistem perakaran tanaman keras sehingga dengan demikian walaupun air bergerak cepat tetapi kedalaman tertentu masih mempunyai kelembaban tertentu sehingga daerah ini masih mengandung air yang cukup untuk mensuplai air. Bila musim kemarau datang dan tanaman sangat tergantung pada air kapiler dari bagian tanah kecepatan naiknya kembali air tanah akan lebih cepat pada tanah-tanah bertekstur kasar. Dengan mengetahui tektur tanah maka akan mengetahui pula bagaimana cara pengolahannya dan hasil panen yang didapat akan memungkinkan mencapai hasil maksimal. I. JUDUL PENENTUAN KADAR AIR LAPANG DAN KADAR AIR KERING UDARA II. TUJUAN - Untuk mengetahui kadar air tanah lapang. - Untuk mengetahui kadar air tanah kering udara. - Untuk mengetahui sifat fisik dan kimia tanah. III. TEMPAT DAN WAKTU Hari : Rabu Tanggal : 13 Oktober 2010 Waktu : 12.00-14.00 WIB Tempat : Laboratorium Ilmu Tanah IV. ALAT DAN BAHAN Alat : - timbangan - ayakan - oven - alat tulis - cawan - tumbukan Bahan : - Tanah

V. PRINSIP TEORI Tanah merupakan media pertimbuhan tanaman yang memiliki sifat-sifat morfologi. Sifat morfologi adalah sifat-sifat tanah yang dapt di amati dan dipelajari dilapang. Sebagian dari sifat-sifat morfologi tanah adalah sifat-sifat fisik dari tanah tersebut. Di dalam setiap tanah terdapat zat-zat lain yang berupa gas dan zat cair, zat cair dalam tanah dapat ditentukan dengan menngunakan rumus kadar air. Kadar air dalam tanah berbeda-beda antara satu tempat dengan tempat yang lain. VI. CARA KERJA A. Kadar Air Tanah Kering Angin (Udara) 1. ambil 10 gr sampel tanah terganggu yang sudah ditumbuk dan diayak.

2. masukkan kedalam cawan ( berat cawan harus ditimbang) angin 3. timbang tanah beserta cawan untuk mengetahui BTKA 4. oven tanah selama 1x24 jam 5. keluarkan sampel tanah dari oven dan timbang kembali untuk mencari BTKO 6. tentukan kadar air kering angin B. Kadar Air Kapasitas Lapang 1. timbang sampel tanah utuh untuk mengetahui BTB 2. oven sampel tanah utuh selama 2x24 jam 3. keluarkan dari oven untuk mengetahui BTKO 4. bersihkan ring, timbang berat ring. 5. hitung BTK ( BTKO-BR-BA) 6. tentukan kadar air lapang.

VII. HASIL PENGAMATAN Diketahui : Berat tanah basah + ring = 192, 8 gr Berat tanah kering open + ring + alas = 161, 0 gr Berat alas = 3, 2 gr Berat ring = 41, 7 gr Ditanya : Berat tanah kering (BTK) dan kadar air lapang Penyelesaian : Berat tanah kering = BTKORA BR BA = 161 41, 7 3, 2 = 116, 1 gr Berat tanah basah = 192, 8 41, 7 = 151, 1 Kadar air lapang = BTB BTK x 100% BTKO = 151, 1 116, 1 x 100% 116, 1 = 35, 0 x 100% 116, 1 = 30, 14 % Diketahui : Berat Cawan = 2,8 gr BTKO + Cawan = 12, 5 gr Ditanya : Kadar air kering udara ? Jawab : BTKO = 12,5 2,8 = 9,7 gr Kadar air kering udara = BTKU BTKO x 100% BTKO = 10 - 9,7 x 100 % 9,7 = 3, 09 % VIII. KESIMPULAN Dari hasil Pengamatan kami, dapat di simpulkan bahwa tanah kering angin yang di ambil dari

sampel tanah terganggu memiliki kadar air yang lebih tinggi di bandingkan dengan kadar air sampel tanah utuh. Hal ini disebabkan pada sampel tanah terganggu, sampel di keringkan dengan cara di angin-anginkan terlebih dahulu sebelum di oven, sehingga kandungna kadar air lebih sedikit. Kadar air kapasitas lapang dan kadar air kering udaracmemiliki hubungandengan tekstur tanah, antara fraksi pasir dengan kadar air kapasitas lapang IX. DAFTAR PUSTAKA Hardjowigeno, Prof.Dr.Ir.H.Sarwono, 1987, Ilmu Tanah Akademik Persindo ; Jakarta. S.Pedro A., 1993. Sifat dan Pengelolaan Tanah, Tropika; Bandung http;//www.ipb.ac.id/kadar_air_tanah http;//laporan_ilmutanah.ac.id/blogieo I. JUDUL Pengamatan Profil Tanah II. TUJUAN - Mengetahui warna dasar beberapa jenis tanah dengan menggunakan buku munsell soil color chart. - Menetapkan tekstur dan struktur dari beberapa jenis tanah. - Menetapkan konsistensi berbagai jenis tanah dalam keadaaan basah, lembab, dan kering. - Pengenalan profil dari beberapa jenis tanah.

III. TEMPAT DAN WAKTU Hari : Jumat Tanggal : 08 Oktober 2010 Waktu : 08.00-09.40 WIB Tempat : Laboratorium Ilmu Tanah Fakultas Pertanian. IV. ALAT DAN BAHAN Alat : - Cangkul - Pisau profil - Buku - Meteran - Buku Munsell Soil Color Chart - Buku pedoman pengamatan tanah di lapang Bahan : - Tanah

V. PRINSIP TEORI Lapisan-lapisan tanah yang mempunyai sifat yang berbeda-beda. Disuatu tempat ditemukan lapisan berseling-seling dengan lapisan liat, lempung atau debu, sedang ditempat lain ditemukan tanah yang semuanya terdiri dari liat, tetapi dilapisan bawah berwarna kelabu dengan bercak-bercak merah, dibagian tangah berwarna merah, dan lapisan atasnya berwarna kehitam-hitaman. Lapisan tersebut terbentuk karena dua hal, yaitu : 1. Pengendapan yang berulang-ulang oleh genangan air. 2. Proses pembentukan tanah. Horison tanah adalah lapisan-lapisan tanah yang terbentuk karena hasil dari proses pembentukan tanah. Proses pembentukan horison-horison tersebut akan menghasilkan benda alam baru yang disebut tanah. Penampang vertikal tanah tersebut akan menunjukan susunan horison yanag disebut profil tanah. Profil dari tanah mineral yang telah berkembang lanjut biasanya memiliki horison-horison sebagai berikut: O A E B C R Keterangan: 1. Horison O adalah horison yang terdiri dari bahan serasah atau sisa-sisa tanaman (Oi) dan bahan organik tanah (BOT) hasil dekomposisi serasah (Oa). Horison ini ditemukan terutama pada tanah-tanah hutan yang masih utuh. Merupakan horison organik yang terbentuk diatas lapisan tanah mineral. 2. Horison A adalah horison mineral berbahan organik tanah (BOT) tinggi sehingga berwarna agak gelap. A2 Horison dimana terdapat pencucian (eluviasi) maksimum terhadap liat, Fe, A dan bahan organik. A3 Horison peralihan ke B, lebih menyerupai A Horison dipermukaan tanah yang terdiri dari campuran bahan organik dan bahan mineral. Merupakan horison eluvasi, yaitu horison yang mengalami pencucian. 3. Horison E adalah horison mineral yang telah tereloviasi (tercuci) sehingga kadar BOT, liat silikat, Fe dan Al rendahtetapi kadar pasir & debu kuarsa (seskuoksida) dan mineral resisten lainnya tinggi serta berwarna terang. 4. Horison B adalah horison illuviasi yaitu horison akumulasi bahan eluvial dari horison diatasnya. 5. Horison C adalah lapisan yang bahan penyusunnya masih sama dengan bahan induk atau belum terjadi perubahan secara kimiawi. 6.Horizon R adalah bahan induk tanah. Ada tiga istilah yang sering diutarakan dalam ilmu tanah, yaitu: 1. Solum tanah yaitu lapisan tanah yang meliputi horison: O A E B. 2. Lapisan tanah atas (top soil) yaitu lapisan tanah yang meliputi horison:O A. 3. Lapisan tanah bawah yaitu lapisan tanah yang meliputi horison: E B. Perlu dijelaskan bahwa tanah tidak selalu mempunyai susunan tanah seperti tersebut diatas. Horison O hanya terdapat pada tanah hutan yang belum digunakan untuk usaha pertanian. Banyak tanah yang tidak mempunyai horison A2 karena tidak terjadi proses pencucian dalam proses pembentukan tanah tersebut. Di samping itu ada juga tanah yang hanya mempunyai horison A dan C saja karena prosese pembentuikan tanahnya baru pada tingkat permulaan.

VI.CARA KERJA 1. Pembuatan batas dan simbol horizon 1 Batas dan simbol horozon dapat terlihat jelas atau baur 2 Tingkatan horizon yaitu nyata, jelas dan baur 3 Bentuk topografi sdari batas horizon dapat rata, berombak tidak teratur atau baur

2. Penentuan warna tanah 1 Warna tanah ditentukan dengan warna pada buku munsell soil color chart 2 Tanah yang berdrainase baik akan berwarna kuning atau merah yang merata 3 Tanah yang berdrainase buruk akan mengalami bercak-bercak kuning atau merah 4 Tanah yang selalu tergenang air akan berwarna pucat 3. Penentuan struktur tanah 1 Denganm mengambil segumpal tanah, kemudian dipecahkan perlahan-lahan dengan ibu jari 2 Untuk hasil yang lebih jelas pindahkan gumpalan tanah ketangan yang satu lagi bergantian 4. Penentuan tekstur tanah 1. Penentuan tekstur tanah dilakukan dsengan cara mengambil sedikit tanah 2. Lalu dibasahi dengan sedikit air 3. Kemudian tanah itu dipijat-pijat perlahan-lahan untuk merasakan rasa halus, kasar, licin, dan lekat 5. Penentuan konsistensi tanah 1 konsistensi tanah menunjukan kekuatan daya kohesi butir-butir tanah atau daya adhesi butirbutir tanah dengan benda lain. 2 Dalam keadaan kering atau lembab keadaan konsistensi tanah ditentukan dengan meremas segumpal tanah 3 Dalam keadaan basah ditentukan mudah tidaknya melekat pada jari atau mudah tidaknya membentuk bulatan 6. Penentuan ciri lain Lereng : lereng diukur kemiringannya dengan menggunakan clinometer, abney level atau teodolit 7. Penentuan tingkat perkembangan tanah -Tanah muda Proses pelapukan berupa proses pelapukan bahan organik dan bahan mineral. Terdapat pada horizon A dan horizon C -Tanah dewasa Proses pelapukannya dari tanah muda menjadi tanah dewasa yaitu proses pembentukan horizon B -Tanah tua Proses pembentukannya dihorizon A dan B. Pelapukan mineral adalah pencucian basa meningkat. VII. HASIL DAN PEMBAHASAN Horizon Kedalaman Warna Tekstur Konsistensi I 0 - 22 cm 7,5 YR 3/2 (Dark Brown) Pasir berlempung Lembab = Gembur II 22 - 35 cm 7,5 YR 5/6 ( Strong Brown) Lempung Berliat Lembab = Gembur III 35 - 49 cm 10 YR 4/6(Yellowish Dark Brown) Lempung berpasir Lembab= Teguh IV 49 - 74 cm 7,5 YR 5/8(Strong Brown) Lempung berliat Lembab=Teguh V 74 - 96 cm 7,5 YR 5/8(Strong Brown) Liat keras Lembab= Teguh VI 96 - 122 cm 7,5 YR 5/8 (Strong Brown) liat Lembab=Sangat Teguh 1. Batas dan simbol horison Berdasarkan hasil pengamatan pada profil tanah didapat data-data dibawah ini: Pada lapisan I terdapat simbol lapisan A dengan ketebalan batas lapisan 0-22cm. Pada lapisan ini, tanah memiliki warna lebih gelap(dark brown) dibandingkan dengan tanah lapisan lain, menandakan bahwa kandungan bahan organik masih banyak terdapat di lapisan ini. Pada lapisan II terdapat simbol lapisan A denganketebalan batas lapisan 22-35 cm. Pada

lapisan ini, terdapat tanah berwarna Strong Brown. Pada lapisan ini terdapat kandungan bahan organik. Pori-pori mikro, karena hanya dapat ditembus oleh akar-akar halus. Pori-pori mikro berisi air kapiler dan udara, sehingga menyebabkan terjadinya drainase tanah buruk ditandai dengan adanya bercak-bercak kuning. Pada lapisan III terdapat simbol lapisan B dengan ketebalan batas lapisan 35-49cm. Pada lapisan ini, terdapat warna yellowish dark brown hampir sama dengan lapisan II, hanya bedanya pada lapisan III tidak bisa ditembus lagi oleh akar. Pada lapisan IV terdapat simbol lapisan B dengan ketebalan batas lapisan 49-74 cm. Pada lapisan ini tanah berwarna Strong Brown, dan pada lapisan ini terjadi penumpukan liat dengan kelas drainase baik karena terdapat sedikt bercak-bercak coklat. Pada lapisan V terdapat simbol lapisan sama dengan lapisan IV yaitu B, dengan ketebalan lebih kurang 74-122 cm.pada lapisan ini terdapat berwarna tranah yang sama yaitu Strong Brown 2.Warna tanah Warna merupakan petunjuk untuk beberapa sifat tanah,karena warna dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yang terdapat dalam tanah tersebut. -lapisan I berwarna coklat tua, menandakan bahwa tanah tersebut mengandung bahan organik. -Lapisan II berwarna strong brown. -Lapisan III Berwarna yellowish dark brown. -Lapisan IV, V dan VI dan berwarna coklat kekuning-kekuningan. Hal ini disebabkan karena bahan organik yang dikandung oleh tanah tersebut tidak banyak. Dan drainase tanah kurang baik, menyebabkan bercak-bercak kuning pada tanah. 3. Tekstur tanah Tanah terdiri dari butir-butir tanah berbagai ukuran. Bahan-bahan tanah yang lebih halus (<2 mm ) disebut fraksi tanah halus (fine earth fraction ) dan dapat dibedakan menjadi : 1 Pasir : 2 mm 5 m 2 Debu : 50 m- 2 m 3 Liat : kurang dari 2m Tekstur tanah menunjukkan kasar halusnya tanah dariu fraksi tanah halus (2 mm). Berdasarkan atas perbandingan banyaknya butir- butir pasir, debu, dan liat maka tanah dikelompokkan dalam beberapa kelas tekstur : 1 Kasar 2 Agak kasar 3 Sedang 4 Agak halus 5 Halus Tanah lapisan I berstekstur pasir berlempung dengan sifat rasa kasar jelas,sedikit sekali melekat,dapat dibentuk bola yang mudah sekali hancur. Tanah lapisan II bertekstur Lempung Berliat dengan sifat rasa agak licin,agak melekat,dapat dibentuk bola agak teguh,dapat dibuat gulungan yang agak mudah hancur. Tanah lapisan III bertekstur Lempung berpasir dengan sifat rasa kasar agak jelas,sedikit melekat,dapat dibuat bola tetapi mudah hancur. Tanah lapisan IV berstekstur lempung berliat dengan sifat rasa agak licin,agak melekat,dapat dibentuk bola agak teguh, dapat dibuat gulungan yang agak mudah hancur. Tanah lapisan V dan VI bertekstur Lliat Keras dan Keras dengan sifat rasa berat, halus, sangat lekat dan dapat dibentuk bola dengan baik,mudah digulung. 4. Konsistensi tanah

Konsistensi tanah menunjukkan daya kohesi butir-butir tanah atau daya adhesi butir-butir tanah dengan benda lain. Konsistensi tanah pada keadaan Lembab, Lapisan I dan II Lembab,Gembur karena tanah sedikit tekanan untuk menghancurkan gumpalan tanah dengan meremas. Lapisan III ,IV dan VI Lembab,Teguh karena tanah ini memerlukan tekanan yang makin besar untuk menghacurkan tanah sampai sama sekali tidak dapat hancur dengan remasan tanah. Lapisan VI Lembab sangat Teguh karena tanah ini memerlukan tekanan yang makin besar untuk menghacurkan tanah sampai sama sekali tidak dapat hancur dengan remasan tanah.

VI. KESIMPULAN 1.Warna dominan adalah kuning kecoklatan berarti memiliki drainase air yang baik 2.Tekstur tanah yang dominan adalah Lempung Berliat dan pasir 3.Konsistensis tanah dominan dengan Lembab,Teguh 4.Penyidikan tubuh tanah secara utuh hanya berdasarkan pada profil tanah tidak lengkap adalah tidak sahih. DAFTAR PUSTAKA Foth, Henry D dan Soenarto A. 1994. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Erlangga. Jakarta. Hanafiah, K.A. 2007. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Raja Grafindo Persada. Jakarta Poerwowidodo. 1991. Genesa Tanah Jilid II. Rajawali. Jakarta. Sarwono,R. 1995. Ilmu Tanah. Akapres. Bogor Lembaga Penelitian Tanah dan Pemupukan.1960. Peta Tanah Eksplorasi Jawa Madura. I. JUDUL PENENTUAN TOTAL RUANG PORI/ POROSITAS II. TUJUAN - Untuk mengetahui total ruang pori atau porositas III. TEMPAT DAN WAKTU Hari : Rabu Tanggal : 13 Oktober 2010 Waktu : 12.00-14.00 WIB Tempat : Laboratorium Ilmu Tanah IV. ALAT DAN BAHAN Alat : - Ring - timbangan - oven Bahan : - Tanah V. PRINSIP TEORI Kerapatan ruang pori adalah bobot kering, suatu isi tanah dalam keadaan utuh yang dinyatakan dalam g/cm3. Isi tanah terdiri dari bahan padatan dan isi ruangan diantaranya.

Bagian isi tanah yang tidak berisi oleh bahan padat, baik bahan mineral maupun bahan organik disebut ruang pori tanah. Ruang pori tanah adalah isi seluruh pori-pori dalam suatu isi tanah yang utuh yang dinyatakan dalam persen, yang terdiri atas ruang diantara zarah pasir (sand), debu (silt), liat (clay) serta ruang diantara agregat-agregat tanah. Kerapatan Limbak Ruang Pori Total = [ 1 ] x 100 % Kerapatan Jenis Zarah Untuk mendapatkan kerapatan jenis zarah tidaklah mudah, karena variabel ini merupakan fungsi dai nisbah antara komponen mineral dan bahan organik tanah. Untuk komponen mineral tanpa memperhatikan banyaknya Fe dan mineral-mineral berat, keapatan jenis zarah adalah 2,65 (angka rata-rata). Sedangkan untuk bahan organik dari tanah normal (tanah gambut) diambil rata-rata 1,45. Jika kadar bahan organik > 1 %, kerapatan jenis tanah harus dikurangi dengan 0,0 untuk tiap bahan organik. Tetapi untuk tanah gambut, hal ini tidak berlaku karena harus dilakukan pengukuran langsung. Metode pengerjaan untuk mendapatkan Kerapatan Limbak (Bulk Density) adalah sebagai berikut : Bobot tabung sebelumnya sudah diketahui (Y gram). Pengambilan contoh dari lapang dilakukan dengan tabung kuningan (lihat cara pengambilan contoh tanah utuh). Timbang contoh tanah tadi dengan tabungnya (A gram). Bobot Tanah (A Y) gram. Tetapkan kadar airnya (P %) (A Y) x 100 Bobot kering tanah = P + 100 Bobot kering tanah Kerapatan Limbak/isi = Isi tanah Isi tanah = isi tabung = 22/7 . r2 . t Tanah digunakan sebagai medium pertumbuhan tanaman yang mampu menghasilkan makanan, sandang, obat-obatan serta keperluan lainnya yang diperlukan oleh makluk hidup. Praktikum ini dilakukan di belakang laboratorium Bambu Kuning dan didapatkan data analisis tanah yang didapat dengan Nisbah Luas (NL) 0,052. Berat ring 165 gr, dan berat isi 637 gr, didapat bobot tanah sebesar 472 gr. Dengan bobot kering tanah 377,6 gr dan isi tanah 275,57 cm3, didapat kerapatan limbak/isi sebesar 1,37 gr/cm3. VI. CARA KERJA 1. Timbang sampel tanah utuh untuk mengetahui BTB 2. Oven sampel tanah utuh 2x24 jam 3. Setelah dioven timbang kembali sampel tanah utuh untuk mengetahui BTKO 4. Bersihkan ring, kemudian timbang berat ring 5. Hitung BTK 6. Hitung volume tabung/tanah 7. Hitung bulk density 8. Tentukan total ruang pori tanah VII. HASIL PENGAMATAN Diketahui : Bulk Density = 1, 183 gr/ cm3 Particle Density = 2, 5 gr/ cm3 Volume tabung = 98, 125 cm3 Berat tanah kering = 116, 1 gr Ditanya : Total ruang pori tanah ?

Penyelesaian : Ruang pori total (%) = ( 1 bulk density ) x 100% Particle density = (1 1, 183 gr/ cm3) x 100 % 2, 5 gr/ cm3 = (1 0, 4732) x 100 % = 0, 5268 x 100 % = 52, 68 % VIII. PEMBAHASAN Isi tanah terdiri dari bahan padatan dan isi ruangan diantaranya. Bagian isi tanah yang tidak berisi oleh bahan padat, bahan organic disebut ruang pori tanah. Ruang pori tanah adalah isi seluruh pori-pori dalam suatu tanah yang utuh yang dinyatakan dalam persen, yang terdiri atas ruang diantara zarah pasir (sand), debu (silt), liat (clay) serta rung diantar agregat-agregat tanah. Pori-pori tanah dapat dibedakan menjadi pori-pori kasar (macro pore) dan Pori-pori halus (micro pore). Pori-pori kasar berisi udara atau gravitasi (air mudah hilang karena gaya gravitasi), sedang pori-pori halus air kapiler atau udara Prositas tanah dipengaruhi oleh : - Kandungan bahan organic - Struktur tanah. - Tekstur tanah. Porositas tinggi kalau bahan organic tinggi.tanh-tanah dengan struktur granuler atau remah, mempunyai porositas yang lebih tinggi daripada tanah-tanah dengan struktur massive (pejal). Tanah dengan struktur pasir banyak mrmpunyai banyak pori-pori makro sehingga sulit menahan air. IX. KESIMPULAN Dari hasil praktikum ini dapat didefinisikan bahwa sebagai tubuh alam yang memiliki sistem tiga fase yang mengandung air, udara, bahan-bahan mineral dan bahan organik serta jasadjasad hidup yang berpengaruh pada faktor lingkungan terhadap permukaan bumi dan jangka waktu tertentu akan membentuk berbagai hasil perubahan yang memiliki ciri yang khas tertentu, sehingga memiliki peran sebagai tempat tumbuh bermacam-macam tanaman. Tanah tersusun dari air, udara dan bagian padat yang terdiri dari bahan-bahan mineral dan organik. Perbandingan air dan udara yang terkandung dalam tanah selalu berubah-ubah, hal ini dipengaruhi iklim dan faktor lainnya X. DAFTAR PUSTAKA Hardjowigeno, Prof.Dr.Ir.H.Sarwono, 1987, Ilmu Tanah Akademik Persindo ; Jakarta. S.Pedro A., 1993. Sifat dan Pengelolaan Tanah, Tropika; Bandung http;//www.blogie_ilmutanah_porositas.com