Anda di halaman 1dari 16

Pendingin Evaporatif

Proses pendinginan evaporatif terjadi saat uap air ditambahkan ke udara yang memiliki yang memiliki kelembahan relatif di bawah 100%. Kelembaban relatif adalah besaran yang tergantung pada temperatur tabung kering dan temperatur tabung basah udara. Makin rendah kelembaban relatif, makin besar potensi terjadinya pendinginan evaporatif. Sensasi pendinginan yang dapat dirasakan manusia saat angin sepoi-sepoi bertiup dan menguapkan keringat di kulit sehingga terasa sejuk merupakan salah satu contoh fenomena tersebut. Penggunaan kipas elektrik untuk menghembuskan udara pada permukaan media basah, sebagaimana yang banyak dilakukan pada masa sekarang, adalah pengembangan dari konsep tadi. Makin besar selisih antara temperatur tabung kering dan temperatur tabung basah udara (atau dikenal dengan wetbulb depression), makin besar penurunan temperatur yang dapat dicapai pada proses pendinginan evaporatif. Pada suatu daerah dengan temperatur tabung kering 1050F dan temperatur tabung basah 650F, sebuat mesin pendingin evaporatif dengan efektivitas 75% dapat menurunkan temperatur udara hingga 75 0F. Secara umum, penggunaan pendingin evaporatif memiliki kelebihan dalam hal:

Mengurangi beban chiller/mesin refrigerasi untuk mendinginkan udara luar. Mengurangi biaya pendinginan udara (hingga 25% sampai 65%). Meningkatkan kapasitas mesin pendingin yang telah terpasang tanpa menambahkan peralatan pendingin mekanik.

Meningkatkan umur kompresor. Meningkatkan umur penukar kalor.

Mesin pendingin evaporatif akan bekerja lebih efektif pada temperatur udara yang lebih tinggi (pada kondisi tersebut, efektivitas mesin DX justru lebih rendah). Mesin ini juga dapat bekerja pada seluruh kondisi udara, bukan hanya pada daerah yang beriklim panas dan kering.

Jenis Pendingin evaporatif langsung Pendingin evaporatif jenis langsung (Gambar 6.1) akan mendinginkan udara dengan cara udara dialirkan melalui media basah (biasanya dari bahan selulosa). Saat melewati media basah, udara akan mendingin akibat adanya penguapan air. Pada pendingin jenis ini, alat akan menambah jumlah uap air di udara sampai mendekati saturasi. Temperatur tabung kering akan turun dan temperatur tabung basah relatif konstan.

Udara hangat

Udara dingin

Gambar .1. Pendingin evaporatif langsung. 0

Pendingin evaporatif tidak langsung Pendingin evaporatif jenis tidak langsung (Gambar 6.2) mendinginkan udara dengan cara aliran udara sekunder didinginkan oleh air. Udara sekunder yang telah didinginkan akan dilewatkan pada penukar kalor yang mendinginkan aliran udara primer. Udara primer yang telah dingin aakan disirkulasikan dengan sebuah blower. Pendingin evaporatif tak langsung tidak menambah kandungan uap air di udara primer, sedang temperatur tabung kering dan temperatur tabung basah akan mengalami penurunan. Pada musim dingin, sistem tidak langsung ini dapat menghangatkan udara luar jika udara buang digunakan sebagai udara sekunder.

Udara hangat

Udara dingin

Gambar .2. Pendingin evaporatif tidak langsung. 0

Pendingin evaporatif tidak langsung/langsung Pada pendingin evaporatif jenis tidak langsung/langsung (Gambar 6.3) udara primer didinginkan dalam dua tahap. Mula-mula udara primer didinginkan dengan pendingin evaporatif tidak langsung, dan selanjutnya didinginkan lebih lanjut dengan pendingin evaporatif langsung.
Udara sekunder keluar

Tak langsung

Langsung

Udara hangat

Udara dingin

Udara lebih dingin

Udara sekunder masuk

Gambar .3. Pendingin evaporatif tidak langsung/langsung. 0

Pendingin evaporatif tidak langsung/tidak langsung Pada jenis ini (Gambar 6.4), udara primer didinginkan dalam dua tahap. Tahap pertama, udara primer didinginkan dengan pendingin evaporatif tidak langsung. Tahap kedua, air yang digunakan pada pendinginan tahap pertama dilewatkan pada sisi basah koil. Dalam hal ini, terdapat tambahan kalor sensibel yang diambil dari udara primer dan tak ada penambahan uap air pada udara primer.

Udara sekunder keluar

Udara hangat

Tak langsung

Udara dingin

Tak langsung

Udara lebih dingin

Udara sekunder masuk

Gambar .4. Pendingin evaporatif tidak langsung/tidak langsung. 0

Pendingin evaporatif tidak langsung/DX Pada jenis ini (Gambar 6.5), udara primer didinginkan dalam dua tahap. Tahap pertama, udara primer didinginkan dengan pendingin evaporatif tidak langsung. Secara umum, sebagian besar proses pendinginan berlangsung di sini. Jika dibutuhkan pendinginan lebih lanjut, modul/koil DX dapat digunakan untuk mendinginkan udara lebih lanjut ke temperatur yang diinginkan.
Udara sekunder keluar

Tak langsung

Udara sekunder masuk

Gambar .5. Pendingin evaporatif tidak langsung/DX. 0

Prinsip Kerja, dan Komponen Pendingin evaporatif jenis langsung atau direct evaporative cooler terdiri atas kombinasi sebuah kabinet dari logam atau plastik yang berisi sebuah bak penampung/reservoir, media evaporatif, pompa resirkulasi, katup pelampung, kipas dan sistem distribusi. Konfigurasi pendingin evaporatif jenis langsung dapat dilihat pada Gambar 6.6.

DX

Udara hangat

Udara dingin

Udara lebih dingin

Gambar .6. Contoh konstruksi pendingin evaporatif jenis 0 langsung/direct evaporative cooler.

Pada pendingin evaporatif jenis langsung, air yang mengisi reservoir dijaga pada level tertentu dengan menggunakan katup apung atau saklar yang mengontrol aliran air dari sumber air. Saat level air turun akibat adanya penguapan, katup apung akan membuka sampai reservoir terisi kembali ke level semula. Selama pendingin evaporatif bekerja, air disirkulasikan oleh oleh sebuah pompa melalui sistem distribusi ke media evaporatif untuk menjaganya agar tetap basah. Kips suplai akan menghisap udara luar melalui media basah tersebut sehingga mengalami pendinginan dan humidifikasi. Pendingin evaporatif langsung merupakan pendingin evaporatif yang paling sederhana dan paling murah. Pendingin evaporatif jenis ini akan menaikkan kelembaban udara, sehingga udara hasil pendinginan yang dilakukannya berbeda dengan udara hasil pendinginan dengan sistem kompresi uap, yang cenderung untuk mengurangi kelembaban udara. Pendingin evaporatif langsung akan menghasilkan udara dengan kelembaban yang tinggi, yang merupakan kelemahan utama pendingin evaporatif. Makin kering udara lingkungan dan makin rendah beban pendinginan, maka udara hasil pendinginan evaporatif cenderung memenuhi syarat kenyamanan. Meisin pendingin evaporatif jenis langsung dapat dipasang dengan saluran udara yang menembus dinding atau jendela, atau dipasang di atas atap dengan saluran udara dipasang

menembus atap. Relief damper yang dipasang pada plafon akan berfungsi mengalirkan udara di atas langit-langit sehingga dapat mengurangi beban pendinginan. Pendingin evaporatif jenis tak langsung/langsung memiliki bagian tambahan berupa penukar kalor evaporatif tak langsung yang dipasang di depan pendingin evaporatif langsung (Gambar 6.7). Tergantung pada kondisinya, pendingin evaporatif langsung dapat mendinginkan udara lebih lanjut hingga lebih rendah daripada temperatur tabung basah udara. Hasilnya, udara akan lebih dingin dan lebih kering.

Gambar .7. Contoh konstruksi pendingin evaporatif jenis tak 0 langsung/langsung (indirect/direct evaporative cooler).

Proses Psikrometrik pada Pendingin Evaporatif Pendingin evaporatif langsung Pada jenis ini, temperatur tabung kering udara akan turun, sementara temperatur tabung basah konstan. Proses ini dapat dilihat pada Gambar 6.8.

Gambar .8. Proses psikrometrik pendingin evaporatif jenis langsung. 0

Pendingin evaporatif tidak langsung Pada jenis ini, temperatur tabung kering dan temperatur tabung basah udara akan turun. Proses ini dapat dilihat pada Gambar 6.9.

Gambar .9. Proses psikrometrik pendingin evaporatif jenis tidak langsung. 0

Pendingin evaporatif tidak langsung/langsung Pada jenis ini, temperatur tabung kering dan temperatur tabung basah udara akan turun. Proses ini dapat dilihat pada Gambar 6.10. Untuk jenis ini mula-mula dihitung dulu berapa penurunan temperatur yang dapat diperoleh dengan pendingin evaporatif tak langsung. Dari hasil ini, selanjutnya kondisi udara yang keluar dari pendingin evaporatif langsung dapat ditentukan.

Gambar .10. Proses psikrometrik pendingin evaporatif jenis tidak langsung/langsung. 0

Pendingin evaporatif tidak langsung/langsung Proses ini dapat dilihat pada Gambar 6.11, di mana keluaran pendingin tahap pertama akan menjadi masukan pendingin evaporatif tahap kedua. Perhitungan dilakukan pada masing-masing tahap. Kondisi udara keluaran pendingin evaporatif tahap pertama dan tahap kedua tergantung pada temperatur air dan efektivitas dari pendingin evaporatif.

Gambar .11. Proses psikrometrik pendingin evaporatif jenis tidak langsung/tidak langsung. 0

Aplikasi Pendingin Evaporatif: Pencuci Udara: Pencuci Udara Pencuci udara, atau air washer (Gambar 6.12) terdiri atas wadah yang memiliki nosel penyembur, bak untuk menampung air semburan yang jatuh, dan eliminator yang berfungsi mengurangi laju kehilangan air. Alat ini juga dilengkapi dengan pompa untuk mensirkulasikan air pada laju yang lebih tinggi dibanding laju penguapan. Kontak langsung antara udara dan air tidak saja menyebabkan terjadinya perpindahan panas, namun juga perpindahan massa.

Pada proses pendinginan dan dehumidifikasi, penyerapan panas dan kandungan uap air akan diikuti dengan naiknya temperatur air. Proses dehumidifikasi terjadi jika air yang meninggalkan pencuci udara memiliki temperatur di bawah titik embun udara. Selanjutnya, temperatur air akhir ditentukan oleh laju pengurangan kalor sensibel dan laten udara dan jumlah air yang disirkulasikan. Temperatur air akhir tidak akan lebih tinggi dibanding dengan temperatur tabung-basah udara akhir. Dalam prakteknya, temperatur air akhir akan berada 0.5 sampai 10C di bawah temperatur titik embun udara.
dV

ma,h,W

ma h+dh W+dW
udara

udara mw hf,w air tw mw-madW hf,w

t2,W2,h2

air tambahan

pompa

Gambar .12. Diagram pencuci udara. 0

Udara keluaran pencuci udara akan berada pada kondisi jenuh atau hampir jenuh. Pada umumnya, beda temperatur antara tabung-kering dan tabung basah udara kurang dari 0.50C. Beda temperatur antara udara keluaran dan air keluaran pencuci udara tergantung pada beda temperatur antara beda temperatur tabung-kering dan tabung-basah udara masukan. Di samping itu, panjang dan tinggi dari ruang penyembur air, kecepatan udara, debit air, dan pola semburan juga akan mempengaruhi besarnya selisisih antara temperatur udara dan air keluaran pencuci udara. Pada sistem pencuci udara yang dilengkapi dengan sistem refrigerasi penyedia air dingin, kenaikan temperatur air akan sangat kecil. Semakin rendah temperatur air, maka akin semakin besar pula pengurangan kelembaban yang dapat dilakukan. Meski demikian, temperatur air yang digunakan tidak boleh terlalu rendah agar terhindar dari pembekuan. Di samping itu, temperatur air yang rendah menuntut temperatur evaporasi yang rendah pula. Rendahnya temperatur evaporasi akan menurunkan koefisien prestasi (coefficient of performance atau COP) dari sistem refrigerasi.

Proses termodinamika udara pada pencuci udara Udara yang melewati pencuci udara dapat mengalami pendinginan, pemanasan, penambahan kelembaban (humidifikasi), atau pengurangan kelembaban

(dehumidifikasi), tergantung pada temperatur air yang digunakan. Gambar 2 menunjukkan beberapa kemungkinan proses termodinamika yang dialami udara setelah melewati pencuci udara.
Proses 1-A: pemanasan dan humidifikasi Proses ini dapat dilakukan dengan menggunakan air pada temperatur yang lebih tinggi dari temperatur udara. Pada proses ini, temperatur dan kelembaban udara akan mengalami kenaikan akibat perpindahan kalor dari air ke udara dan penguapan air. Proses 1-B: humidifikasi Proses ini dilakukan dengan menggunakan air yang memiliki temperatur yang sama dengan udara. Udara yang mengalami proses ini tidak mengalami perubahan temperatur, tetapi kelembabannya mengalami kenaikan.

S C

B A
W

S E S

D 1

W1

td

t1' t

t1

Gambar .13. Proses psikrometrik pada pencuci udara. 0

Proses 1-C:

pendinginan dan humidifikasi

Pendinginan dan dehumidfikasi dapat dilakukan dengan menggunakan air yang memiliki temperatur lebih rendah dari udara namun lebih tinggi daripada temperatur titik embun udara. Proses ini dapat dilakukan dengan menggunakan air biasa yang tidak diproses, karena secara alamiah temperatur air akan berada di bawah temperatur udara dan di atas temperatur titik embun udara. Pada proses ini udara akan mengalami penurunan temperatur dan kenaikan kelembaban. Proses 1-D: pendinginan sensibel Pendinginan sensibel adalah proses penurunan temperatur udara tanpa mengubah kandungan uap air di udara. Proses ini dapat dilakukan dengan menggunakan air yang memiliki temperatur sama denga temperatur titik embun udara. Jika diasumsikan temperatur Kota Bandung adalah 25 0C dengan kelembaban relatif 65%, maka proses ini dapat dilakukan dengan menggunakan air pada temperatur kurang lebih18 0C. Proses 1-E: pendinginan dan dehumidifikasi Udara pada proses ini akan mengalami penurunan temperatur dan kandungan uap air. Proses ini memerlukan air dengan temperatur di bawah titik embun udara. Udara yang mengalami proses ini akan turun temperatur dan kelembabannya.

Pada Gambar 6.13, titik-titik S menyatakan variasi harga temperatur air yang digunakan. Analisis Pertukaran Kalor pada Pencuci Udara Perpindahan panas pada pencuci udara meliputi penguapan tetesan air dan perpindahan panas konveksi dari udara ke air. Pada kondisi tunak, kesetimbangan energi dapat dinyatakan dengan (lihat Gambar 6.12) ma dh = ma dW hf,w atau (6.1)

q'

dh h f ,w dW

(6.2)

di mana
ma h W q hf,w : : : = : Laju aliran massa udara [kg/s] Entalpi udara basah [kJ/kg] Rasio kelembaban [kg air/kg udara] dh/dW [kJ/kg] Entalpi udara jenuh dihitung pada t = tw

Karena temperatur air tidak berubah, kondisi pada karta psikrometrik akan lurus dengan arah q = hf,w. Entalpi udara didefinisikan dengan dh = cp,a dt + hg,t dW (6.3)

sehingga kombinasi persamaan (6.2) dan (6.3) menghasilkan

(hg ,t h f , w ) dt dW c p ,a
dengan cp,a hg,t : : Kalor jenis udara pada tekanan konstan [kJkg.K]

(6.4)

Entalpi spesifik udara jenuh dihitung padatemperatur t [kJ/kg]

Pertukaran kalor untuk penguapan dari air yang ditambahkan berasal dari pendinginan udara alir secara konveksi, sehingga hD AV dV (Ws,w W) hfg,w = hc AV dV (t tw) di mana hD Av V Ws,w : : : : Koefisien perpindahan massa konveksi [kJ/jam.m2.K] Luas tetesan air, m2 Volume kontak, m3 Rasio kelembaban dalam kesetimbangan dengan air [ka air/kg udara] (6.5)

Ws,a hfg,w hc t tw

: : : : :

Rasio kelembaban dalam kesetimbangan dengan udara [ka air/kg udara] Kalor laten penguapan air [kJ/kg] Koefisien perpindahan kalor konveksi [W/m2.K] Temperatur tabung-kering udara [0C] Temperatur air [0C]

Substitusi bilangan Lewis Le = hc/(hD cp,a) pada persamaan (6.5) memberikan (Ws,w W)hfg,w = Le cp,a (t tw) (6.6)

Jika Le dan tw konstan, maka diferensiasi persamaan (6.6) terhadap W akan memberikan

(hg ,t hg , w h fg , w / Le) dt dW c p ,a

(6.7)

Karena persamaan (6.2) dan (6.5) harus dipenuhi, maka (Ws,w W)hfg,w = cp,a(t tw) (6.8)

Temperatur air pada persamaan (6.8) haruslah sama dengan temperatur tabung basah termodinamika t*. Laju penguapan dari elemen volume dV dapat dituliskan sebagai ma dW =hD AV dV(W*s W) (6.9)

Jika ma, hDAV, dan tw dianggap konstan, maka

Ws* W2 eZ * Ws W1

(6.10)

dengan

hD AV V ma

(6.11)

Efisiensi dari pencuci udara w didefinisikan dengan hubungan

W2 W1 Ws* W1

(6.12)

Atau, dengan mengkombinasikan persamaan (6.10) dan (6.12) diperoleh

w = 1 e-Z

(6.13)

Jika cp,a dianggap konstan maka didapat hubungan

t1 t 2 t1 t *

(6.14)

dengan subskrip 1 menyatakan kondisi udara masuk dan subskrip 2 menyatakan kondisi udara keluar. Persamaan (6.12) berlaku baik untuk pendinginan dan humidifikasi atau penambahan kelembaban udara, maupun pendinginan dan dehumidifikasi atau pengurangan kelembaban udara. Pada proses pendinginan dan pelembaban udara, air yang digunakan adalah air yang memiliki temperatur di bawah temperatur tabung kering udara dan di atas titik embun udara. Proses ini dapat dilakukan dengan menggunakan air biasa yang belum mengalami proses apa-apa, karena secara alamiah air akan memiliki temperatur di atas titik embun udara dan di bawah temperatur tabung kering udara. Jika proses yang diinginkan adalah pendinginan dan dehumidifikasi, maka air yang digunakan haruslah memiliki temperatur di bawah titik embun udara. Sebagai contoh, jika temperatur udara kota Bandung adalah 27
0

C dengan

kelembaban 65% maka pendinginan dan dehumidifikasi hanya dapat dilakukan dengan menggunakan air dengan temperatur di bawah 19
0

C. Jika diinginkan penurunan

kelembaban yang cukup signifikan, maka temperatur air harus lebih rendah lagi (lihat proses 1-E pada Gambar 2). Jenis-jenis Pencuci Udara Pencuci udara untuk pendinginan dan dehumidifikasi jenis spray umumnya memiliki dua pipa penyalur air dengan beberapa nosel penyembur (spray nozzles). Pada pencuci udara jenis fill, air tidak disemburkan melalui nosel melainkan dijatuhkan pada fill atau packing atau cell yang berfungsi untuk memperluas bidang kontak antara air dan udara yang melewatinya. Pencuci udara jenis kedua ini memiliki keunggulan dalam hal menangkap partikel pengotor karena permukaan fill yang terbasahi akan menjadi medium yang baik untuk menempelnya kotoran yang beterbangan di udara. Agar luas bidang kontak maksimum, maka fill harus dibuat sebesar dan serapat mungkin. Seringkali, fill disusun dalam beberapa lapis untuk maksud ini. Meski demikian, drop tekanan udara yang ditimbulkannya harus

dipertimbangkan dalam menentukan bahan, jumlah, ukuran, dan kerapatan fill. Faktor Prestasi Pencuci Udara Jika suatu pencuci udara dapat melakukan proses pendinginan dan dehumidifikasi sampai temperatur tabung basah udara sama dengan temperatur air akhir, maka alat tersebut dikatakan memiliki faktor prestasi Fp =1. Prestasi aktual dari suatu pencuci udara didefinisikan sebagai perbandingan antara perubahan entalpi aktual udara dengan perubahan entalpi udara pada faktor prestasi = 1, atau

Fp
dengan h1 h2 h3 : : : Entalpi udara masuk [kJ/kg]

h1 h2 h1 h3

(6.15)

Entalpi udara keluar aktual [kJ/kg] Entalpi udara keluar pada Fp = 1 [kJ/kg]

Dengan demikian, prestasi dari suatu pencuci udara dapat diukur dengan tingkat kedekatan antara temperatur udara akhir dengan temperatur air akhir.