P. 1
Makalah Pengantar Manajemen 1

Makalah Pengantar Manajemen 1

|Views: 770|Likes:
Dipublikasikan oleh Paulo M.P. Harianja
Disusun Oleh: Paulo M.P. Harianja.

Fakultas Ekonomi,
Jurusan Manajemen,
Universitas Darma Agung,
Medan,
2012.

Disusun Oleh: Paulo M.P. Harianja.

Fakultas Ekonomi,
Jurusan Manajemen,
Universitas Darma Agung,
Medan,
2012.

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: Paulo M.P. Harianja on Nov 30, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/08/2015

pdf

text

original

( Tugas I

)

Disusun Oleh:

Paulo M.P. Harianja
( NPM: 11.032.111.006 )

Fakultas Ekonomi Jurusan Manajemen Universitas Darma Agung Medan 2012

PENGANTAR MANAJEMEN
I. Manajemen dan Perkembangannya
A. Pengertian Manajemen
Kata Manajemen berasal dari bahasa Perancis kuno ménagement, yang memiliki arti "seni melaksanakan dan mengatur". Dalam bahasa Inggris manajemen berasal dari kata “to manage” yang artinya mengatur. Istilah manajemen (management) telah diartikan oleh berbagai pihak dengan perspektif yang berbeda, misalnya pengelolaan, pembinaan, pengurusan, ketatalaksanaan, kepemimpinan, pemimpin, ketatapengurusan,

administrasi, dan sebagainya. Berikut ini adalah definisi manajemen menurut beberapa ahli: Definisi dari manajemen oleh George R. Terry, menurutnya manajemen adalah: “Management is distinct process consisting of planning, organizing, actuating and controlling performed to determine and accomplish stated objectives by the use of human being and other resources”, (manajemen adalah suatu proses khas yang terdiri dari tindakan-tindakan perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian yang dilakukan untuk menentukan serta mencapai sasaran-sasaran yang telah ditentukan melalui pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber lainnya). Harold Koontz dan Cyrill O’Donnel, mengartikan manajemen sebagai berikut: “Management is getting things done through people. In bringing about this coordinating of group activity, the manager, as a manager plans, organizes, staffs, direct, and control the activities other people”, (manajemen adalah usaha mencapai suatu tujuan tertentu melalui kegiatan orang lain. Dengan demikian manajer mengadakan koordinasi atas sejumlah aktivitas orang lain yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, penempatan, pengarahan, dan

pengendalian). John D. Millett membatasi definisi dari manajemen menjadi: ”Management is the process of directing and facilitating the work of people organized in formal groups to achive a desired goal”,

2

(manajemen adalah suatu proses pengarahan dan pemberian fasilitas kerja kepada orang yang diorganisasikan dalam kelompok formal untuk mencapai tujuan). Paul Hersey dan Kenneth H. Blanchard, mendefinisikan manajemen sebagai: “Management as working with and through individuals and groups to accomplish organizational goals”, (manajemen sebagai suatu usaha yang dilakukan dengan bersama individu atau kelompok untuk mencapai tujuan organisasi). Menurut Andrew F. Sikula, definisi manajemen adalah: “Management in generals refers to planning, organizing, controlling, staffing, leading, motivating, communicating, and decision making activities performed by any organization in order to coordinate the varied resource of the enterprise so as to being an efficient creation of some product or service”, (manajemen pada umumnya dikaitkan dengan aktivitas-aktivitas perencanaan, pengorganisasian, pengendalian, penempatan, pengarahan, pemotivasian, komunikasi dan pengambilan keputusan yang dilakukan oleh setiap organisasi dengan tujuan untuk mengkoordinasikan berbagai sumber daya yang dimiliki oleh perusahaan sehingga akan dihasilkan suatu produk atau jasa secara efisien). Menurut Drs. Malayu S.P. Hasibuan definisi manajemen adalah: “Ilmu dan seni mengatur proses pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber lainnya secara efektif dan efisien untuk mencapai suatu tujuan tertentu” Menurut Prof. Oey Liang Lee: “Manajemen adalah ilmu dan seni mengkoordinasikan serta mengawasi tenaga manusia dengan bantuan alat-alat untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan”. Menurut Richard L.Daft mendefinisikan sebagai berikut: “Manajemen adalah pencapaian sasaran-sasaran organisasi dengan cara yang efektif dan efisien melalui perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan dan pengendalian sumberdaya organisasi.” Menurut James A.F. Stoner: “Manajemen adalah suatu proses perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengendalian upaya dari anggota organisasi serta penggunaan sumua sumber daya yang

3

ada pada organisasi untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan sebelumnya”. Menurut Dr. Sondang P. Siagian, pengertian manajemen dapat didefinisikan sebagai: “Kemampuan atau keterampilan untuk memperoleh suatu hasil dalam rangka pencapaian tujuan melalui orang lain” Menurut Mary Parker Follet manajemen dapat didefinisikan sebagai: “Manajemen adalah seni untuk melaksanakan suatu pekerjaan melalui orang lain”.

Dari sekian banyak definisi tersebut ada satu yang kiranya dapat dijadikan dasar pegangan dalam memahami manajemen tersebut, yaitu: Manajemen adalah ilmu dan seni yang mengatur proses pemanfaatan sumberdaya manusia dan sumbersumber lainnya secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan. Dari beberapa pandangan terhadap manajemen, dapat disimpulkan ada tiga alasan mendasar, mengapa manajemen diperlukan di dalam sebuah organisasi, yaitu : 1. Untuk mencapai tujuan organisasi. Manajemen dibutuhkan untuk mencapai tujuan organisasi dan juga tujuan individu yang ada dalam organisasi tersebut. 2. Untuk menjaga keseimbangan diantara tujuan-tujuan yang saling bertentangan. Manajemen dibutuhkan untuk menjaga keseimbangan antara tujuan, sasaran dan kegiatan yang bertentangan dari pihak-pihak yang berkepentingan dengan organisasi, seperti; pimpinan, pegawai, pelanggan, serikat kerja, masyarakat, pemerintah (pemerintah daerah), dll. 3. Untuk mencapai efisiensi dan efektifitas. Efisiensi adalah kemampuan untuk menyelesaikan pekerjaan dengan benar, sedangkan efektifitas merupakan kemampuan untuk memilih tujuan yang tepat atau peralatan yang tepat untuk pencapaian tujuan yang telah ditetapkan.

B. Perkembangan Manajemen
Manajemen pada dasarnya sudah ada sejak adanya pembagian kerja, tugas, tanggung jawab, dan kerja sama formal dari sekelompok orang untuk mencapai tujuan. Tegasnya, manajemen sudah ada sejak adanya pemimpin dan ada bawahan yang diatur untuk mencapai tujuan bersama, walaupun masalahnya masih sangat sederhana. Pada saat itu

4

manajemen belum merupakan suatu ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri, tetapi masih tergabung dalam ilmu sosiologi, hukum, filsafat, dan ilmu-ilmu lainnya. Perhatian terhadap manajemen mulai berkembang pada tahun 1856, didorong oleh halhal berikut: 1. Terjadinya pemisahan antara rumah tangga konsumen dan rumah tangga produsen serta penawaran menciptakan permintaan dan produksi massal semakin berkembang. 2. Timbulnya persaingan yang tajam di antara rumah tangga produsen, sehingga mengharuskan setiap rumah tangga produsen untuk bekerja secara lebih efektif dan efisien supaya produksinya dapat bersaing di pasaran. 3. Persediaan faktor-faktor produksi yang semakin berkurang, sehingga timbul persaingan di antara rumah tangga produsen untuk mendapatkannya. 4. Adanya kemajuan teknologi yang cepat, mengakibatkan timbulnya revolusi industri. 5. Timbulnya serikat-serikat buruh yang menuntut adanya perbaikan-perbaikan jaminan sosial, jaminan keselamatan kerja, perpendekan jam kerja, dan penolakan kerja paksa.

Akibat perkembangan perhatian terhadap manajemen ini, mendorong para ahli untuk melakukan penelitian terhadap manajemen. Para peneliti manajemen ini berasal dari berbagai negara dan meneliti jenis perusahaan yang berbeda seperti: Frederik Winslow Taylor (AS), Henry Fayol (Perancis), Charles Babbage (Inggris), dan Alexei Stakhanov (Rusia). Berdasarkan hasil penelitian (time and motion study) dari Frederik Winslow Taylor, maka pada tahun 1915 manajemen diakui menjadi “suatu ilmu pengetahuan (scientific management)” yang berdiri sendiri. Dewasa ini manajemen telah dipandang sebagai sebuah ilmu karena telah dapat memenuhi kaidah-kaidah keilmuan, yaitu dapat diuraikan secara sistematis, mengandung prinsip, dalil, rumus, hukum dan teori yang diperoleh dari hasil pengalaman, pengamatan, pemikiran dan penelitian secara objektif, universal serta dapat dibuktikan kebenarannya berdasarkan kenyataan yang ada. Artinya ilmu, adalah

5

sesuatu yang dapat dipelajari dan diajarkan sedangkan hakekat ilmu, adalah sebagai suatu kenyataan yang objektif, logis dan universal.

C. Manajemen sebagai Ilmu dan Seni
Manajemen (management) adalah merupakan perpaduan dari ilmu dan seni, di mana dalam implementasinya/penerapannya di dalam kehidupan manusia, kita harus mengetahui apa itu manajemen secara teori ilmu (konsep) dan bagaimana melakukan dan melaksanakan manajemen itu secara seni. Uraian ini mengandung arti bahwa manajemen sebagai sebuah ilmu adalah dengan menerapkan prinsip-prinsip, kaidah, dan konsep manajemen dalam pengelolaan kehidupan manusia sehari-hari. Namun dalam prakteknya, perlu diingat, bahwa manusia adalah makhluk sosial, dalam pengertian bahwa manusia selalu berhubungan dengan manusia lainnya, yang satu sama lainnya adalah unik: tidak ada yang sama: setiap individu memiliki karakter maupun pribadi yang berbeda-beda. Dalam hal inilah, manajemen adalah sebagai sebuah seni, karena dibutuhkan suatu kreatifitas pribadi yang kuat dan disertai keterampilan dalam mengidentifikasi me-manage perbedaan-perbedaan karakter di antara manusia. Contoh terbaik penerapan manajemen adalah dalam kehidupan berkeluarga, terutama di dalam hubungan antara orangtua dan anak-anaknya. Dalam kehidupan berkeluarga, tidak bisa dipungkiri bahwa orang tua selalu mengharapkan bahwa anak-anaknya selalu patuh, rajin, dan proaktif terhadap orangtuanya. Namun, hal ini tidak selalu sesuai dengan kenyataan. Anak-anak tidak selalu sejalan/sesuai dengan harapan orangtuanya, ada juga anak-anak yang nakal, malas, pembangkang, dan sifat-sifat negatif lainnya yang tentu saja sangat tidak diharapkan okeh orang tua. Dalam membina anak-anaknya ini, orang tua dapat menerapkan prinsip, kaidah serta konsep manajemen terhadap anak-anaknya. Di sini manajemen berfungsi sebagai suatu ilmu. Namun karena adanya perbedaan-perbedaan karakter di antara anak-anak tersebut, seperti yang telah disebutkan di atas, orang tua dituntut untuk memiliki kreatifitas pribadi dan disertai sebuah keterampilan dalam menghadapi perbedaan-perbedaan karakter tersebut. Orang tua harus mampu “membaca” pribadi dari anak-anaknya dan dapat mengambil sebuah cara dalam mengelola perbedaan karakter anak-anaknya, sehingga orangtua dapat memberikan jenis motivasi yang sesuai dengan pencapaian anak-anaknya. Bila si anak
6

memang rajin, pintar, patuh, proaktif, tentu saja orangtua harus memberikan motivasi positif berupa pujian, hadiah, dukungan moril terhadap anak tersebut. Namun jika si anak malas, nakal, pasif, tentu saja mau tidak mau orang tua harus memberikan motivasi negatif berupa teguran, hukuman (dalam hal ini tidak berbentuk hukuman fisik) maupun peringatan yang diharapkan dapat mendorong anak tersebut ke arah yang lebih baik. Dalam hal inilah dapat dikatakan penerapan manajemen adalah sebagai sebuah seni.

D. Unsur, Tujuan dan Fungsi Manajemen
1. Unsur Unsur Manajemen Untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan diperlukan alat-alat sarana (tools). Alatalat sarana ini merupakan syarat suatu usaha untuk mencapai hasil yang ditetapkan dan merupakan unsur-unsur yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya di dalam manajemen. Unsur-unsur tersebut dikenal dengan 6M, yaitu: a. Man Man merujuk pada sumber daya manusia yang dimiliki oleh organisasi. Dalam manajemen, faktor manusia adalah yang paling menentukan. Manusia yang membuat tujuan dan manusia pula yang melakukan proses untuk mencapai tujuan. Tanpa ada manusia tidak ada proses kerja, sebab pada dasarnya manusia adalah makhluk kerja. Oleh karena itu, manajemen timbul karena adanya orang-orang yang bekerja sama untuk mencapai tujuan. b. Money Money atau uang merupakan salah satu unsur yang tidak dapat diabaikan. Uang merupakan alat tukar dan alat pengukur nilai. Besar-kecilnya hasil kegiatan dapat diukur dari jumlah uang yang beredar dalam perusahaan. Oleh karena itu uang merupakan alat (tools) yang penting untuk mencapai tujuan karena segala sesuatu harus diperhitungkan secara rasional. Hal ini akan berhubungan dengan berapa uang yang harus disediakan untuk membiayai gaji tenaga kerja, alat-alat yang dibutuhkan dan harus dibeli, serta berapa hasil yang akan dicapai dari suatu organisasi.

7

c. Material Material terdiri dari bahan mentah (raw material) dan bahan jadi. Pengertian material juga dapat merujuk pada bahan baku/bahan setengah jadi/bahan yang akan diproses lebih lanjut untuk menciptakan atau menambah kegunaan (utility) suatu barang atau jasa. Dalam dunia usaha untuk mencapai hasil yang lebih baik, selain manusia yang ahli dalam bidangnya juga harus dapat menggunakan bahan/materi-materi sebagai salah satu sarana. d. Machine Machine atau mesin digunakan untuk memberi kemudahan dalam menghasilkan jumlah output produksi yang lebih besar, keuntungan yang lebih besar serta menciptakan efisiensi kerja. Pengertian machine pada uraian ini juga dapat merujuk pada sarana atau peralatan (infrastruktur) dan teknologi yang digunakan. e. Method Method atau metode adalah suatu tata cara kerja yang memperlancar jalannya pekerjaan manajer. Sebuah metode dapat dinyatakan sebagai penetapan cara pelaksanaan kerja suatu tugas dengan memberikan berbagai pertimbangan-pertimbangan kepada sasaran, fasilitas-fasilitas yang tersedia dan penggunaan waktu, serta uang dan kegiatan usaha. f. Market Market atau pasar adalah tempat di mana organisasi menyebarluaskan (memasarkan) produknya. Market atau pasar adalah orang-orang atau sekelompok orang dengan keinginan dan kebutuhan untuk dipenuhi atau dipuaskan, uang untuk dibelanjakan (daya beli) dan kemauan untuk berbelanja.

2. Tujuan Manajemen Tujuan-tujuan manajemen, sebagai berikut: 1. Menurut tipenya, yaitu: a. Manajemen untuk mencari laba (profit objectives). b. Manajemen untuk memberikan pelayanan yang baik bagi konsumen dengan mempertinggi nilai barang dan jasa yang ditawarkan kepada konsumen (service objectives).

8

c. Manajemen untuk menciptakan atau meningkatkan nilai guna untuk kesejahteraan masyarakat (social objectives). d. Manajemen untuk tujuan kepuasan individu pekerja (personal objectives). 2. Menurut jangka waktunya, yaitu: a. Manajemen jangka pendek. b. Manajemen jangka menengah. c. Manajemen jangka panjang. 3. Menurut prioritasnya, yaitu: a. Tujuan primer. b. Tujuan sekunder. c. Tujuan individual. d. Tujuan sosial. 4. Menurut sifatnya, yaitu: a. Management objectives, tujuan dari segi efektifitas yang harus ditimbulkan oleh manajer. b. Managerial objectives, tujuan yang harus dicapai daya upaya atas kreatifitas-kreatifitas yang bersifat manajerial. c. Administrative objectives, tujuan-tujuan yang pencapaiannya

memerlukan administrasi. d. Economic objectives, tujuan-tujuan yang bermaksud memenuhi

kebutuhan-kebutuhan dan memerlukan efisiensi untuk pencapaiannya. e. Social objectives, tujuan suatu tanggung jawab, terutama tanggung jawab moral. f. Technical objectives, tujuan berupa detail teknis, detail kerja, dan detail karya. g. Work objectives, tujuan-tujuan yang merupakan kondisi kerampungan suatu pekerjaan.

9

5. Menurut tingkatnya, yaitu: a. Overall enterprise objectives, adalah tujuan generalis yang harus dicapai secara keseluruhan. b. Divisional objectives, tujuan yang harus dicapai oleh setiap divisi. c. Departemental objectives, tujuan yang harus dicapai oleh setiap bagian/departemen. d. Sectional objectives, yaitu tujuan yang harus dicapai oleh oleh setiap seksi. e. Group objectives, yaitu tujuan yang harus dicapai oleh oleh setiap kelompok urusan. f. Individual objectives, yaitu tujuan yang harus dicapai okeh masingmasing individu. 6. Menurut bidangnya, yaitu: a. Top level objectives, tujuan-tujuan umum, menyeluruh, dan menyangkut berbagai bidang sekaligus. b. Finance objectives, tujuan-tujuan tentang modal. c. Production objectives, tujuan-tujuan tentang produksi. d. Marketing objectives, tujuan-tujuan mengenai bidang pemasaran barang dan jasa. e. Office objectives. Tujuan-tujuan mengenai bidang ketatausahaan dan administrasi. 7. Menurut motifnya, yaitu: a. Public objectives, tujuan-tujuan yang harus dicapai berdasarkan ketentuan-ketentuan undang-undang negara. b. Organizational objectives, tuuan-tujuan yang harus dicaoai berdasarkan ketentuan Anggaran Dasar, Anggaran Tumah Tangga, dan statuta organisasi. c. Personal objectives, tujuan pribadi/individual.

10

3. Fungsi Manajemen Fungsi manajemen dapat diartikan sebagai tugas karakteristik yang harus dilakukan oleh manajer dalam suatu perusahaan untuk mencapai tujuan, atau dapat dikatakan pula, fungsi manajemen adalah fungsi yang harus dilakukan dalam bidang manajemen. Ada beberapa macam pendapat dari pada ahli manajemen tentang fungsi manajemen, antara lain sebagai berikut: Menurut Henry Fayol, fungsi-fungsi manajemen ada lima yaitu: planning (perencanaan), organizing (pengorganisasian), commanding (pemberian perintah), coordinating (pengkoodinasian), dan controlling (pengawasan). Sedangkan menurut Harold Koontz dan Cyrill O’Donnel, fungsi manajemen yaitu: planning (perencanaan), organizing (pengorganisasian), staffing (pengisian jabatan), directing (pengarahan), dan controlling (pengawasan). Adapun menurut George R. Terry, fungsi manajemen yaitu: planning (perencanaan), organizing (pengorganisasian), actuating (penggerakan), dan controlling (pengawasan). Sedangkan menurut Dr.Sondang P. Siagian, fungsi manajemen yaitu: planning (perencanaan), organizing (pengorganisasian), motivating (pemberian motivasi), controlling (pengawasan), dan evaluating (pengevaluasian). Menurut John F. Mee, fungsi manajemen yaitu: planning (perencanaan), organizing (pengorganisasian), motivating (pemberian motivasi), dan controlling (pengawasan), Sedangkan menurut Prof. Oey Liang Lee, fungsi manajemen yaitu: planning (perencanaan), organizing (pengorganisasian), directing (pengarahan), coordinating (pengkoodinasian), dan controlling (pengawasan). Berdasarkan beberapa pendapat yang dikemukakan para ahli manajemen, dapat disimpulkan secara umum bahwa ada lima fungsi manajemen, sebagai berikut: 1. Perencanaan (Planning) Perencanaan (planning) merupakan proses pemikiran awal tentang penentuan tujuan dan pedoman pelaksanaan yang akan dilakukan agar mencapai tujuan organisasi atau perusahaan. Rencana-rencana ini dibutuhkan untuk memberikan dasar kepada organisasi atau perusahaan tentang tujuan-tujuan dan menetapkan prosedur yang terbaik untuk mencapai tujuan tersebut.

11

Kegiatan-kegiatan di dalam fungsi perencanaan (planning), yaitu: a. Menetapkan tujuan dan target organisasi b. Merumuskan strategi untuk mencapai tujuan dan target organisasi tersebut c. Menentukan sumber-sumber daya yang diperlukan untuk mencapai tujuan dan target organisasi. d. Menetapkan standar/indikator keberhasilan dalam pencapaian tujuan dan target organisasi

2. Pengorganisasian (Organizing) Pengorganisasian (organizing) adalah proses yang dilakukan dalam menentukan, mengelompokkan, dan pengaturan berbagai aktivitas yang diperlukan dalam mencapai tujuan serta menciptakan hubungan kerja antar personal dan unit dalam organisasi atau perusahaan, sehingga antar personal (unit) dalam organisasi atau perusahaan dapat bekerja secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan organisasi atau perusahaan. Kegiatan-kegiatan di dalam fungsi pengorganisasian (organizing), yaitu: a. Mengalokasikan sumber daya, merumuskan dan menetapkan tugas, dan menetapkan prosedur yang diperlukan. b. Menetapkan struktur organisasi yang menunjukkan adanya garis kewenangan dan tanggungjawab di dalam organisasi

3. Pengisian Jabatan (Staffing) Pengisian jabatan (staffing) adalah fungsi manajemen yang berkenaan dengan penarikan, penempatan, pemberian latihan dan pengembangan serta orientasi pada karyawan di lingkungan kerja yang menguntungkan dan produktif. Kegiatan-kegiatan di dalam fungsi pengisian jabatan (staffing), yaitu: a. Kegiatan pengadaan (procurement), merupakan proses untuk mendapatkan karyawan, baik kualitas maupun kuantitasnya sesuai dengan kebutuhan organisasi atau perusahaan.

12

b. Kegiatan

perekrutan

(recruiting),

merupakan

kegiatan

mencari

dan

mempengaruhi tenaga kerja agar mau melamar lowongan pekerjaan yang masih kosong di organisasi atau di perusahaan c. Kegiatan penyeleksian (selection), merupakan kegiatan pemilihan dan penentuan pelamar yang diterima atau yang ditolak untuk menjadi karyawan organisasi/perusahaan berdasarkan job specification dari organisasi/perusahaan yang bersangkutan. d. Kegiatan penempatan (placement) dan pelatihan (training), merupakan kegiatan untuk menempatkan orang-orang yang telah lulus seleksi pada jabatan-jabatan tertentu sesuai dengan uraian pekerjaan dan klasifikasi-klasifikasi pekerjaannya serta kegiatan pemberian pelatihan-pelatihan yang sesuai dengan posisi di mana karyawan tersebut ditempatkan. e. Kegiatan pemberhentian (separation), merupakan kegiatan dalam memutuskan hubungan kerja seorang karyawan dengan suatu organisasi/perusahaan (PHK).

4. Pergerakan (Actuating/Directing) Pergerakan (actuating/directing) merupakan fungsi manajemen yang berhubungan dengan usaha memberikan pengarahan, bimbingan dan perintah kepada bawahan (karyawan) agar mau bekerja dengan sendirinya atau dengan penuh kesadaran untuk secara bersama-sama mencapai tujuan yang dikehendaki secara efektif serta efisien, dan dalam hal ini yang dibutuhkan adalah kepemimpinan (leadership). Kegiatan-kegiatan di dalam fungsi pergerakan (actuating/directing), yaitu: a. Mengimplementasikan proses kepemimpinan, pembimbingan, dan pemberian motivasi kepada karyawan agar dapat bekerja secara efektif dan efisien dalam pencapaian tujuan b. Memberikan tugas dan penjelasan rutin mengenai pekerjaan c. Memberikan penjelasan mengenai kebijakan-kebijakan yang ditetapkan

5. Pengendalian (Controlling) Pengendalian (controlling) adalah proses kegiatan menentukan dan menerapkan metode, cara maupun peralatan guna mengetahui bahwa rencana yang telah
13

dilaksanakan sesuai dengan yang telah ditetapkan

sekalipun terjadi berbagai

perubahan di dalam lingkungan internal dan eksternal organisasi. Dengan pengendalian, kita dapat mengukur dan mengadakan perbaikan terhadap pelaksanaan kerja dalam pencapaian tujuan. Kegiatan-kegiatan di dalam fungsi pengendalian (controlling), yaitu: a. Mengevaluasi keberhasilan dalam pencapaian tujuan dan target organisasi sesuai dengan indikator yang telah ditetapkan b. Mengambil langkah klarifikasi dan koreksi atas penyimpangan yang mungkin ditemukan. c. Melakukan berbagai alternatif solusi atas berbagai masalah yang terkait dengan pencapaian tujuan dan target organisasi

E. Tingkatan Manajemen
Beberapa tingkatan manajemen, sebagai berikut:

1. Manajemen Tingkat Puncak (Top Management), adalah tingkatan manajemen
yang bertanggung jawab atas keseluruhan manajemen perusahaan, bertugas merencanakan kegiatan dan strategi perusahaan secara umum dan mengarahkan jalannya perusahaan. Manajemen tingkat puncak terdiri dari direktur utama, presiden direktur, atau wakil direktur. Keahlian yang diperlukan adalah keahlian dalam hal konseptual, komunikasi, pengambilan keputusan, dan manajemen waktu.

2. Manajemen Tingkat Menengah (Middle Management), mencakup semua
tingkatan manajemen yang berada di antara manajemen lini pertama dan manajemen tingkat puncak. Manajemen tingkat menengah membawahi dan bertugas mengarahkan kegiatan manajemen lini serta sebagai penghubung antara manajemen lini pertama dan manajemen tingkat puncak. Manajemen tingkat menengah terdiri dari para pemimpin proyek, manajer pabrik, kepala divisi atau departemen, atau kepala cabang. Keahlian yang diperlukan di dalam manajemen tingkat menengah diantaranya adalah keahlian konseptual, komunikasi, pengambilan keputusan, manajemen waktu, dan juga teknikal.

14

3. Manajemen lini (first line management), dikenal pula dengan istilah manajemen
operasional, merupakan manajemen tingkatan paling rendah yang bertugas memimpin dan mengawasi karyawan non-manajerial yang terlibat dalam proses produksi. Terdiri dari para penyelia (supervisor), manajer shift, manajer area, manajer kantor, manajer departemen, atau mandor (foreman). Keahlian yang terutama perlu dimiliki pada manajemen lini adalah keahlian komunikasi, pengambilan keputusan, manajemen waktu, dan juga teknikal.

F. Bidang Bidang Manajemen
Beberapa bidang-bidang terapan dalam ilmu manajemen, sebagai berikut: 1. Manajemen Pemasaran Manajemen pemasaran adalah proses perencanaan dan pelaksanaan pemikiran, penetapan harga, promosi serta penyaluran gagasan, barang dan jasa untuk menciptakan pertukaran yang memuaskan tujuan-tujuan individu dan organisasi (William J. Stanton). 2. Manajemen Keuangan Manajemen keuangan adalah suatu kegiatan perencanaan, penganggaran, pemeriksaan, pengelolaan, pengendalian, pencarian dan penyimpanan dana yang dimiliki oleh organisasi atau perusahaan, dan juga termasuk di dalam manajemen keuangan adalah penyaluran atau penggunaan dana yang dimiliki organisasi atau perusahaan pada bidang-bidang usaha yang menguntungkan. 3. Manajemen Produksi Manajemen produksi adalah merupakan kegiatan untuk mengatur dan

mengkoordinasikan penggunaan sumber-sumber daya berupa sumber daya manusia, sumber daya alat, dan sumber daya dana serta bahan secara efektif dan efisien, untuk menciptakan dan menambah kegunaan (utility) suatu barang atau jasa. 4. Manajemen Sumber Daya Manusia Manajemen sumber daya manusia, disingkat MSDM, adalah suatu ilmu atau cara bagaimana mengatur hubungan dan peranan sumber daya manusia (tenaga kerja) yang dimiliki secara efektif dan efisien, serta dapat digunakan secara maksimal sehingga tujuan (goal) bersama perusahaan, karyawan dan masyarakat dapat tercapai. MSDM

15

didasari pada suatu konsep bahwa setiap karyawan adalah manusia - bukan mesin – dan bukan semata menjadi sumber daya bisnis. 5. Manajemen Informasi Sistem Sistem informasi manajemen (management information system, MIS) adalah bagian dari pengendalian internal suatu bisnis yang meliputi pemanfaatan manusia, dokumen, teknologi, dan prosedur, untuk memecahkan masalah-masalah bisnis seperti biaya produk, layanan, atau penciptaan suatu strategi bisnis. 6. Manajemen Resiko Manajemen resiko adalah suatu pendekatan terstruktur/metodologi dalam mengelola ketidakpastian yang berkaitan dengan dunia uasaha; suatu rangkaian aktivitas manusia termasuk: penilaian risiko, pengembangan strategi untuk mengelolanya

dan mitigasi risiko dengan menggunakan pemberdayaan serta pengelolaan sumberdaya. 7. Manajemen Akuntansi Akuntansi Manajemen atau Akuntansi Manajerial adalah sistem akuntansi yang berkaitan dengan ketentuan dan penggunaan informasi akuntansi untuk manajer atau manajemen dalam suatu organisasi dan untuk memberikan dasar kepada manajemen untuk membuat keputusan bisnis yang akan memungkinkan manajemen akan lebih siap dalam pengelolaan dan melakukan fungsi pengendalian. 8. Manajemen Perbankan Manajemen perbankan adalah ilmu dan seni dalam mengatur kegiatan pengumpulan dana, penyaluran kredit dan pelaksanaan lalu lintas pembayaran agar efektif dalam mencapai tujuan

G. Sistem Manajemen
Sistem-sistem dalam manajemen, sebagai berikut: 1. Manajemen Bapak Dikatakan “manajemen bapak“, karena dalam setiap usaha/kegiatan dari organisasi selalu mengikuti perintah “bapak” (pimpinan/pemilik perusahaan), apa yang dikatakan pimpinan itulah yang benar. Untuk manajemen semacam ini terdapat aspek baik buruknya. Kebaikannya adalah kalau pemimpin tetap pada proporsi yang sebenarnya dan berlaku objektif, pekerjaan dapat dilaksanakan dengan cepat sesuai tujuan

16

organisasinya. Keburukannya adalah kalau pimpinan berlaku tidak baik, maka bawahannyapun akan berlaku seperti pimpinan, maka lambat laun

perusahaan/organisasinya akan hancur. Keburukan lainnya adalah kalau pimpinan sudah tidak mampu memimpin dan diganti dengan pimpinan yang baru (tidak mengikuti cara lama), maka akan mengalami hambatan dalam memimpin bawahannya karena semua hal sudah berdasarkan cara dari pimpinan yang lama dan akan menjadi kendala dalam penerapan dan pelaksanaan “cara-cara” manajerial menurut pimpinan yang baru. 2. Manajemen Tertutup Di dalam sistem manajemen tertutup ini, staf maupun bawahan tidak dapat intervensi terhadap apa yang terjadi pada manajemen tingkat puncak, karenanya, staf maupun bawahan tidak mengetahui informasi mengenai apa yang terjadi pada manajemen tingkat puncak. Dengan kata lain, pengambilan keputusan adalah hak mutlak dari manajemen tingkat puncak, staf maupun bawahan hanya menjadi pelaksana dari keputusan-keputusan yang ditetapkan oleh manajemen tingkat puncak. 3. Manajemen Terbuka Manajemen terbuka (open management) sering menimbulkan salah pengertian, yang dimaksud dengan “terbuka“ di sini adalah di mana pimpinan sebelum mengambil suatu keputusan terlebih dahulu memberi kesempatan kepada staf dan bawahannya untuk memberikan saran-saran, ide-ide atau pendapat-pendapat, namun keputusan tetap ditentukan oleh pimpinan. Dengan demikian bawahan dapat mengetahui seluruh informasi yang terdapat pada manajemen puncak, Dengan sifat keterbukaan ini yaitu dengan diberikan kesempatan untuk mengemukakan gagasan-gagasan, pendapatpendapat atau saran-saran dapat menimbulkan semangat kerja, apalagi kalau gagasangagasan, pendapat pendapat atau saran-saran dapat diterima dan digunakan, maka yang mempunyai ide tersebut akan merasa senang. Selain itu akan timbul suatu kompetisi (rivalry) yang sehat dalam mengembangkan inisiatif dan daya kreasi. 4. Manajemen Demokrasi Yang dimaksud dengan demokratis di sini adalah mengarah ke demokrasi Pancasila (berdasarkan asas musyawarah untuk mufakat), Jadi para staf dan bawahan bukan sekedar menyumbangkan pemikiran, prakarsa serta pertimbangan semata, tetapi ikut

17

serta menentukan keputusan atas dasar musyawarah untuk mufakat. Jadi berdasarkan sistem ini, para bawahan ikut berpartisipasi aktif dalam tingkat perumusan dan penciptaan sasaran serta arah pengelolaan perusahaan. Pengambilan keputusan tidak lagi menjadi hak mutlak manajemen puncak (top management), melainkan milik seluruh komponen individu karyawan di dalam perusahaan tersebut. Sehingga dengan sistem ini, karyawan sudah pasti mengetahui secara sempurna informasi mengenai kegiatan-kegiatan perusahaan dari setiap lini tingkatan manajerial pada perusahaan tersebut.

II.

Manajer dan Pengambilan Keputusan

A. Manajer
1. Pengertian Manajer Manajer adalah seseorang yang bekerja melalui orang lain dengan mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan mereka guna mencapai sasaran organisasi. Jadi dapat dikatakan bahwa manajer adalah sumber aktifitas dari fungsi manajemen agar tujuan organisasi tercapai. 2. Tugas manajer Tugas-tugas pokok seorang manajer, yaitu: a. Manajerial Cycle, siklus “pengambilan keputusan, planning, organizing, staffing, actuating, contolling, lalu penilaian dan pelaporan”. Dengan demikian tugas manajer adalah siklus yang berulang-ulang dari pengambilan keputusan sampai menerima laporan. b. Menjalankan fungsi fundamental, seorang manajer bertugas untuk menjalankan fungsi fundamental, yaitu fungsi dasar perencanaan dalam membentuk atau memilih dasar maupun arah dari proses-proses atau konsep yang akan diterapkan di dalam masing-masing fungsi manajemen (planning, organizing, staffing, actuating dan controlling). c. Melakukan tugas eksternal, manajer harus mewakili dan membina hubungan (relasi) yang harmonis dengan pihak-pihak luar.

18

d. Memotivasi, manajer harus dapat mendorong para bawahan untuk bekerja giat dan membina bawahan dengan baik, sehingga tercipta suasana kerja yang baik dan harmonis. e. Manajer harus berusaha memenuhi kebutuhan-kebutuhan para bawahannya, supaya loyalitas dan partisipasinya meningkat. f. Manajer harus dapat menciptakan kondisi yang akan membantu bawahannya mendapatkan kepuasan dalam pekerjaannya. g. Manajer harus berusaha agar para bawahan bersedia memikul tanggung jawab dalam menyelesaikan tugas-tugasnya dengan baik. h. Manajer harus membina bawahannya, agar dapat bekerja secara efektif dan efisien. i. Manajer harus bertanggung jawab atas keselamatan kerja para bawahannya selama melakukan pekerjaan. j. Manajer harus mengadakan pembagian kerja dan mengkoordinasi tugas-tugas supaya terintegrasi kepada tujuan yang diinginkan. k. Manajer harus bersedia menjadi penanggung jawab terakhir mengenai hasil yang dicapai dari proses manajemen tersebut.

Agar konsep tentang manajer menjadi lebih jelas, berikut ini diuraikan secara terperinci apa peran-peran penting yang dilakukan oleh seorang manajer : 1. Manajer bekerja dengan dan melalui orang lain. Istilah “orang” tidak hanya mencakup para bawahan dan atasan, tetapi juga manajer-manajer lainnya dalam organisasi. Disamping itu, “orang” juga termasuk individu-individu dari luar organisasi, langganan, penyedia (supplier), konsumen, pengurus serikat karyawan, pejabat dan karyawan kantor-kantor pemerintah dan sebagainya. 2. Manajer memadukan dan menyeimbangkan tujuan-tujuan yang saling bertentangan dan menetapkan prioritas-prioritas. Setiap manajer akan selalu menghadapi sejumlah tujuan, masalah dan kebutuhan individu/organisasional yang saling bertentangan. Supaya sejumlah tujuan, masalah dan kebutuhan individu/organisasional yang saling bertentangan tersebut tidak menimbulkan konflik internal, seorang manajer harus dapat menjaga keseimbangan di antara

19

berbagai

tujuan dan

dan

kebutuhan

individu/organisasional prioritas-prioritas dalam

yang

saling

bertentangan,

menetapkan

pelaksanaan

aktivitas/pekerjaan di dalam organisasi untuk mencapai tujuan organisasi. 3. Manajer bertanggung jawab dan mempertanggungjawabkan. Para manajer ditugaskan untuk mengelola pekerjaan-pekerjaan tertentu secara sukses. Mereka biasanya dievaluasi atas dasar seberapa baik mereka mengatur dan mengkoordinasi tugas-tugas yang harus diselesaikan. Lebih lanjut, manajer juga bertanggung jawab atas kegiatan-kegiatan para bawahannya. Sukses atau kegagalan bawahan adalah cerminan langsung sukses atau kegagalan dari seorang manajer. 4. Manajer harus berpikir secara analitis dan konseptual. Untuk menjadi pemikir yang analitis, manajer harus mampu mengidentifikasi, merinci dan memisahmisahkan suatu masalah menjadi komponen-komponen masalah, menganalisa komponen-komponen tersebut, dan kemudian mencari penyelesaian yang layak (feasible) dengan akurat. Dan yang lebih penting bagi manajer adalah menjadi pemikir konseptual, yang mampu memandang keseluruhan tugas dan mengkaitkan suatu tugas dengan tugas-tugas lain. 5. Manajer adalah seorang mediator. Organisasi terdiri dari orang-orang, dan kadang-kadang mereka saling tidak bersetuju atau saling bertentangan. Bila hal itu terjadi dalam suatu unit kerja atau organisasi, maka bisa menurunkan semangat kerja dan produktivitas, atau bisa merusak suasana kerja, menimbulkan konflik internal atau bahkan para karyawan yang handal bisa meninggalkan organisasi. Kejadian-kejadian seperti ini menuntut peranan manajer sebagai mediator (penengah). 6. Manajer adalah seorang politisi. Seperti apa yang dilakukan politisi dalam mengkampanyekan program-programnya, manajer harus mengembangkan hubungan-hubungan baik untuk mendapatkan dukungan atas kegiatan-kegiatan, usulan-usulan atau keputusannya. Setiap manajer yang efektif “memainkan politik” dengan mengembangkan jaringan kerjasama timbal balik dengan para manajer lain dalam organisasi. 7. Manajer adalah seorang diplomat. Manajer mungkin harus berperan sebagai wakil (representative) resmi kelompok kerjanya pada pertemuan-pertemuan

20

organisasional. Manajer juga mungkin mewakili organisasi dalam berurusan dengan kontraktor, langganan, pejabat pemerintah atau personalia organisasi lain. 8. Manajer mengambil keputusan-keputusan sulit. Organisasi selalu menghadapi banyak masalah (misalnya, kesulitan finansial, masalah personalia, dan sebagainya). Manajer adalah seorang yang diharapkan dapat menemukan pemecahan berbagai masalah sulit dan mengambil keputusan yang akurat, dan bahkan seorang manajer diharapkan dapat memprediksi (forecasting) situasi di masa yang akan datang.

3. Keahlian Manajer Dalam menjalankan tugasnya, seorang manajer membutuhkan beberapa keahliankeahlian dasar, yaitu: a. Keahlian konseptual (conceptual skills) Yaitu keahlian dalam berpikir secara abstrak, sistematis, termasuk di dalamnya mendiagnosa dan menganalisa berbagai masalah dalam situasi yang berbeda-beda, bahkan keahlian untuk memprediksi di masa yang akan datang (forecasting). b. Keahlian berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain (humanity skills) Yaitu keahlian dalam memahami dan melakukan interaksi dengan berbagai jenis orang di masyarakat. Di antara contoh keahlian ini adalah keahlian dalam bernegosisasi, memotivasi dan lain sebagainya. c. Keahlian teknis (technical skills) Yaitu keahlian yang diperlukan untuk melakukan pekerjaan spesifik dengan menggunakan alat-alat tertentu, seperti mengoperasikan komputer, mesin-mesin. Didalam keahlian ini juga termasuk keahlian dalam menerapkan metode-metode atau prosedur ilmu dalam pekerjaan, seperti metode akuntansi, statistik, dan lain sebagainya.

Selain tiga keterampilan dasar di atas, Ricky W. Griffin menambahkan dua keahlian dasar yang perlu dimiliki seorang manajer, yaitu:

21

a. Keahlian dalam pengambilan keputusan (decision making skills) Yaitu keahlian untuk mengidentifikasi masalah, sekaligus menawarkan berbagai alternatif solusi atas permasalahan yang dihadapi. b. Keahlian dalam mengelola waktu (time management skills) Yaitu keahlian dalam memanfaatkan waktu secara efektif dan efisien.

4. Tingkatan Manajer Tingkatan-tingkatan manajer dalam sebuah organisasi/perusahaan, sebagai berikut: a. Manajer tingkat atas (top manager) Manajer tingkat atas (top manager), dikenal pula dengan istilah executive officer, bertugas merencanakan kegiatan dan strategi perusahaan secara umum dan mengarahkan jalannya perusahaan. Contoh top manajer adalah CEO (Chief Executive Officer), CIO (Chief Information Officer), dan CFO (Chief Financial Officer). Top manager, tugas-tugasnya lebih banyak pada fungsi planning dan organizing daripada kepada fungsi actuating/directing dan controlling. Untuk manajer tingkat ini, keahlian yang diperlukan adalah keahlian konseptual, komunikasi, pengambilan keputusan dan manajemen waktu. b. Manajer tingkat menengah (middle manager) Manajer tingkat menengah (middle manager) mencakup semua manajer yang berada di antara manajer lini pertama dan manajer puncak dan bertugas sebagai penghubung antara keduanya. Jabatan yang termasuk manajer menengah di antaranya kepala bagian, pemimpin proyek, manajer pabrik, atau manajer divisi. Middle manager, tugastugasnya terhadap planning dan organizing seimbang dengan actuating/directing dan controlling. Untuk manajer tingkat ini, keahlian yang diperlukan adalah keahlian konseptual, komunikasi, pengambilan keputusan dan manajemen waktu dan juga kemampuan teknikal. c. Manajer tingkat bawah Manajer tingkat bawah dikenal pula dengan istilah manajemen operasional, merupakan manajemen tingkatan paling rendah yang bertugas memimpin dan mengawasi karyawan non-manajerial yang terlibat dalam proses produksi. Mereka sering disebut penyelia (supervisor), manajer shift, manajer area, manajer kantor, manajer departemen, atau mandor (foreman). Manajer tingkat bawah, tugas-tugasnya lebih
22

banyak kepada fungsi actuating/directing dan controlling daripada ke fungsi planning dan organizing. Untuk manajer tingkat ini, keahlian yang diperlukan adalah keahlian komunikasi, manajemen waktu dan juga kemampuan teknikal.

B. Pengambilan Keputusan
1. Definisi Pengambilan Keputusan Pengambilan keputusan (decision making) adalah melakukan penilaian dan menjatuhkan pilihan. Pengambilan keputusan mengandung arti pemilihan altematif terbaik dari sejumlah alternatif yang tersedia. Teori-teori pengambilan keputusan bersangkut paut dengan masalah bagaimana pilihan-pilihan semacam itu dibuat. Sebelum pilihan dijatuhkan, ada beberapa tahap yang mungkin akan dilalui oleh pembuat keputusan. Tahapan tersebut bisa saja meliputi identifikasi masalah utama, menyusun alternatif yang akan dipilih dan sampai pada pengambilan keputusan yang terbaik. Secara umum, pengertian pengambilan keputusan telah dikemukakan oleh banyak ahli, diantaranya adalah: Menurut George R. Terry: “Decision making can be defined as the selection based on some criteria of one behavior alternative from two or more possible alternative”, (pengambilan keputusan dapat didefinisikan sebagai pemilihan alternatif kelakuan tertentu atas dua atau lebih alternatif yang mungkin). Menurut Harold Koontz dan Cyrill O’ Donell: “Decision making the selection from among alternatives of a course of action - is at the core of planning. A plan cannot be said to exist unless a decision - commitment of resources, direction or reputation has been made”, (pengambilan keputusan adalah pemilihan di antara alternatif-alternatif mengenai suatu cara bertindak - adalah inti dari perencanaan. Suatu rencana dapat dikatakan tidak ada, jika tidak ada keputusan - suatu sumber yang dapat dipercaya, petunjuk atau reputasi yang telah dibuat).

23

Menurut Theo Haiman: “At the heart of all planning is decision making, the selection of a course of action. The come to a decision means to out if deliberation and to come to a conclusion. In connection we will look at decision as a source of action chosen by the manager as the effective means at his disposal for achieving goals and solving problems”, (inti dari semua perencanaan adalah pengambilan keputusan, suatu pemilihan cara bertindak. Dalam hubungan ini kita melihat suatu keputusan sebagai suatu cara bertindak yang dipilih oleh manajer sebagai suatu yang paling efektif, berarti penempatan untuk mencapai sasaran dan pemecahan masalah). Menurut Drs. Malayu S.P. Hasibuan: “Pengambilan keputusan adalah suatu proses penentuan keputusan yang terbaik dari sejumlah alternatif untuk melakukan aktifitas-aktifitas pada masa yang akan datang”. Menurut Chester I. Barnard: “Decision are characteristic of organization behavior as contracted with individuaks behavior, and the description of the process of decision are relatively more important to understanding of organization behavior than the core of individual”, (keputusan adalah perilaku organisasi, berintisari perilaku perorangan dan dalam gambaran proses keputusan ini secara relatif dapat dikatakan bahwa pengertian tingkah laku organisasi lebih penting daripada kepentingan perseorangan). Menurut Claude S. George, Jr: “Proses pengambilan keputusan itu dikerjakan oleh kebanyakan manajer berupa suatu kesadaran, kegiatan pemikiran yang termasuk pertimbangan, penilaian dan pemilihan diantara sejumlah alternatif”. Menurut Dr. Sondang P. Siagian: “Pengambilan keputusan adalah suatu pendekatan sistematis terhadap hakikat suatu masalah, pengumpulan fakta-fakta dan data. Penentuan yang matang dari alternatif yang dihadapi dan pengambilan tindakan yang menurut perhitungan merupakan tindakan yang paling tepat”. Menurut Dee Ann Gullies: “Pengambilan keputusan sebagai suatu proses kognitif yang tidak tergesa-gesa, terdiri dari rangkaian tahapan yang dapat dianalisa, diperhalus, dan dipadukan untuk

24

menghasilkan ketepatan serta ketelitian yang lebih besar dalam menyelesaikan masalah dan memulai tindakan”. Menurut James A.F. Stoner: “Pengambilan keputusan adalah teknik pendekatan yang digunakan dalam proses pengambilan keputusan atau proses memilih tindakan sebagai cara pemecahan masalah”.

2. Tujuan Pengambilan Keputusan Tujuan pengambilan keputusan dapat dibedakan sebagai berikut: a. Tujuan yang bersifat tunggal Tujuan pengambilan keputusaan yang bersifat tunggal terjadi apabila keputusan yang dihasilkan hanya menyangkut satu masalah. b. Tujuan yang bersifat ganda Tujuan pengambilan keputusan yang bersifat ganda terjadi apabila keputusan yang dihasilkan itu menyangkut lebih dari satu masalah.

3. Syarat Keputusan yang Baik Penelitian para ahli dan praktisi menunjukkan bahwa keputusan yang baik adalah keputusan yang memenuhi berbagai persyaratan. Syarat-syarat itu antara lain adalah sebagai berikut: a. Keputusan yang dibuat, baik yang bersifat strategis, taktis maupun operasional, harus berkaitan dengan berbagai sasaran yang ingin dicapai. b. Keputusan yang diambil harus memenuhi persyaratan rasionalitas dan logika yang berarti menuntut pendekatan ilmiah berdasarkan teori para ahli. c. Keputusan yang diambil dengan menggunakan pendekatan ilmiah digabung dengan daya pikir yang kreatif, inovatif, intuitif dan bahkan emosional. d. Keputusan yang diambil harus bisa dilaksanakan. e. Keputusan yang diambil harus dapat diterima dan dipahami baik oleh kelompok pemimpin yang bertanggung jawab atas penyelenggaraan berbagai kegiatan dalam melaksanakan keputusan itu maupun oleh para pelaksana kegiatan operasional.

25

f. Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan.

III.

Wewenang dan Tanggung Jawab

A. Wewenang
1. Pengertian Wewenang Wewenang (authority) adalah hak untuk melakukan sesuatu atau memerintah orang lain untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu, dimana di dalamnya terkandung kekuatan untuk dipatuhi dan ditaati, agar tercapai tujuan tertentu Definisi wewenang menurut para ahli: Menurut Drs. Malayu S.P. Hasibuan: “Authority adalah kekuasaan yang sah dan legal yang dimiliki seseorang untuk memerintah orang lain, berbuat atau tidak berbuat sesuatu; authority merupakan dasar hukum yang sah dan legal untuk dapat mengerjakan sesuatu pekerjaan”. Menurut Louis A. Allen dalam bukunya, Management and Organization: “Authority is the sum of the power and rights entrusted to make possible the performance of the work delegated”, (wewenang adalah jumlah kekuasaan (powers) dan hak (rights) yang didelegasikan pada suatu jabatan). Menurut Harold Koontz dan Cyril O’Donnel dalam bukunya, The Principles of Management: “Authority is legal or right full power, right to command or to act”, (wewenang adalah kekuasaan yang sah, suatu hak untuk memerintah atau bertindak). Menurut George R. Terry :
“Authority is the

official and legal right to command by others and enforce

compliance”, (wewenang adalah kekuasaan resmi dan kekuasaan pejabat untuk menyuruh pihak lain supaya bertindak dan taat kepada pihak yang memiliki wewenang itu). Menurut Ralph C. Davis dalam bukunya, Fundamentals of Management: “Authority is the corresponding right that enables the individual to discharge the particular obligation”,
26

(wewenang adalah hak yang cukup, yang memungkinkan seseorang dapat menyelesaikan suatu tugas kewajiban tertentu).

Jadi,

wewenang

adalah

dasar

untuk

bertindak,

berbuat

dan

melakukan

kegiatan/aktivitas perusahaan. Tanpa wewenang orang-orang dalam perusahaan tidak dapat berbuat apa-apa. Dalam wewenang selalu terdapat kekuasaan dan hak, tetapi dalam kekuasaan belum tentu terdapat wewenang dan hak.

2. Pendelegasian Wewenang a. Pengertian Pendelegasian Wewenang Beberapa pengertian pendelegasian wewenang oleh para ahli: Menurut Drs. Malayu S.P. Hasibuan: “Pendelegasian wewenang adalah memberikan sebagian pekerjaan atau wewenang oleh delegator kepada delegate untuk dikerjakannya atas nama delegator”. Menurut Louis A. Allen: “Delegation in the dynamic of management; it is the process a manager follow in dividing the work assigned to him so that the performs that part which only he, and so that he can get others to help him with remains”, (pendelegasian wewenang adalah dinamika manajemen. Pendelegasian wewenang adalah proses yang diikuti oleh seorang manajer dalam pembagian kerja yang dipikulkan kepadanya, sehingga ia melakukan bagian kerja itu hanya karena penempatan organisasi yang unik; dapat mengerjakan dengan efektif, sehingga ia dapat memperoleh orang-orang lain untuk membantu pekerjaan yang tidak dapat ia kerjakan). Menurut Harold Koontz dan Cyril O’Donnel: “All delegation of authority are subject to recovery by the granter. It is a characteristic of authority that the original possessor does not permanently dispose himself of this power by delegating it”, (semua pendelegasian wewenang merupakan pokok yang didapat kembali oleh pemberi wewenang. Hal itu adalah suatu sifat wewenang, si pemilik wewenang (manajer) tidak selamanya menyelesaikannya sendiri kekuasaan ini dengan menyerahkan wewenang itu).

27

Menurut Ralph C. Davis: “Delegation of authority is merely the phase of the process in which authority of assigned function is released to position to be exercise by their incumbent”, (pendelegasian wewenang hanyalah tahapan dari suatu proses ketika penyerahan wewenang, berfungsi melepaskan kedudukan dengan melaksanakan

pertanggungjawaban).

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa pendelegasian wewenang adalah memberikan wewenang kepada seseorang untuk melaksanakan tugas-tugas atas nama delegator. Di mana dalam wewenang tersebut terkandung hak untuk memerintah dan kekuatan (kekuasaan) untuk dipatuhi dan ditaati.

b. Asas Pendelegasian Wewenang Asas-asas dalam pendelegasian wewenang: 1. Asas kepercayaan Pimpinan hanya akan mendelegasikan sebagian wewenangnya kepada bawahan, jika bawahan tersebut dapat dipercaya. 2. Asas delegasi atas hasil yang diharapkan Pemimpin dalam mendelegasikan wewenang harus berdasarkan atas hasil (pekerjaan) yang akan dilakukan oleh si penerima wewenang. Tidak boleh kurang ataupun lebih. 3. Asas kejelasan tugas Yaitu dalam pendelegasian wewenang, seorang pimpinan harus menetapkan dengan jelas batasan-batasan tugas/pekerjaan yang diberikan kepada bawahan untuk menghindari terjadinya tumpang tindih (overlapping) dalam pelaksanaan

tugas/pekerjaan. 4. Asas rantai berkala Yaitu pendelegasian wewenang dan pertanggungjawaban harus berdasarkan struktur (hierarki) kepemimpinan yang terdapat pada organisasi atau perusahaan.

28

5. Asas tingkat wewenang Yaitu tiap manajer berhak memberikan wewenang kepada bawahan dan memperluas cakupan/ruang lingkup wewenang yang diterima dari pimpinannya sesuai dengan kebutuhan bidang tugas maupun pekerjaan yang diembannya (sesuai dengan divisi atau departemen yang dipimpinnya). 6. Asas kesatuan komando Yaitu setiap bawahan seharusnya hanya menerima wewenang (perintah) hanya dari satu orang pimpinan saja. Namun, seorang pimpinan dapat mendelegasikan wewenang (perintah) kepada beberapa orang bawahannya. 7. Asas keseimbangan wewenang dan tanggung jawab Yaitu adanya keseimbangan/kesesuaian antara wewenang yang didelegasikan dengan pertanggungjawaban terhadap wewenang tersebut (authority = responsibility) 8. Asas pembagian kerja Yaitu pendelegasian wewenang berdasarkan adanya pembagian kerja (division of work) yang jelas dalam organisasi/perusahaan. 9. Asas efisiensi Yaitu dengan adanya pendelegasian wewenang, maka manajer akan lebih leluasa melaksanakan tugas-tugas penting daripada melaksanakan hal-hal yang dapat dikerjakan bawahan, sehingga dapat lebih fokus dalam memikirkan perkembangan perusahaan. 10. Asas kemutlakan tanggung jawab Yaitu setiap bawahan yang menerima wewenang, mutlak harus bertanggung jawab kepada pimpinannya mengenai wewenang (pekerjaan) yang dilakukannya.

c. Seni Pendelegasian Wewenang Selain asas-asas di atas yang perlu diperhatikan adalah The Art of Delegation atau seni mendelegasikan wewenang. Seni pendelegasian wewenang (the art of delegation) didasarkan pada sikap pribadi manajer yang melakukan pendelegasian wewenang itu. Seni pendelegasian wewenang yang harus dimiliki dan dikuasai oleh manajer adalah:

29

1. Personal receptiveness Seorang manajer harus mampu dan bersedia menerima keberadaan pribadi (personal existence) bawahan. Manajer harus bersedia memberikan kesempatan kepada bawahan untuk memberikan pendapat-pendapat dan menunjukkan kreatifitasnya, demi kemajuan perusahaan. 2. Willingness to let go Seorang manajer harus mampu dan bersedia melepaskan sebagian wewenang yang dimilikinya kepada bawahan. Manajer dalam pendelegasian wewenangnya supaya efektif, harus bersedia untuk memberikan kepercayaan kepada bawahannya untuk membuat suatu keputusan. 3. Willingness to let others make mistakes Seorang manajer dalam pendelegasian wewenangnya harus mampu dan bersedia untukmenerima serta memaafkan kesalahan yang dilakukan oleh bawahan, sepanjang kesalahan itu wajar dan dianggap biasa (dapat ditolerir) 4. Willingness to trust subordinate Seorang manajer dalam pendelegasian wewenangnya supaya efektif, harus bersedia untuk memberikan kepercayaan kepada bawahannya untuk melaksanakan pekerjaannya dengan efektif dan sebaik-baiknya. 5. Willingness to establish and use broad control Seorang manajer harus mampu dan bersedia untuk melakukan pengawasan dan pengendalian yang luas, ketat, efektif, dan intensif dengan alat-alat dan sistem-sistem pengawasan dan pengendalian yang baik.

d. Permasalahan dalam pendelegasian wewenang Dalam pendelegasian wewenang, sering kali timbul masalah-masalah yang bersumber pada fakta berikut: 1. Tugas yang didelegasikan terlampau banyak (kelebihan beban kerja), atau terlalu sedikit, yang dalam kenyataannya tidak sesuai dengan kapasitas bawahan. 2. Tidak ada pelatihan bagi tugas, baik pelatihan tugas, atau latihan di dalam tugas (in-service training).
30

3. Informasi yang kabur. Yang bersumber dari pemimpin yang "kurang jelas" dalam berkomunikasi dengan para bawahan, atau gengsi dari bawahan, yang walaupun tidak memahami suatu informasi, tetapi malu untuk bertanya. 4. Komando dari atas yang datang dari dua sumber yang berbeda. Ini menciptakan kebingungan bagi dan di antara para bawahan yang dihadapkan dengan pertanyaan, "perintah yang mana yang harus dituruti?" 5. Bawahan tidak mengerti nilai dari tugas yang diinformasikan. Apakah tugas tersebut sangat mendesak karena bernilai primer atau dapat ditunda karena sifatnya yang kurang penting, dan sebagainya. 6. Harapan pemimpin yang berlebihan, tanpa mengetahui dengan jelas akan kemampuan para bawahannya dengan pasti. 7. Motivasi dan harapan para bawahan yang bersifat kompleks terhadap pemimpin, tugas, imbalan, situasi atau kondisi. 8. Sikap dan pandangan bahwa pihak bawahan tidak dapat menggunakan dan melaksanakan wewenang yang diberikan dengan tepat (ketidakpercayaan terhadap bawahan). 9. Adanya kecenderungan sifat egosentris dan keinginan untuk mendominasi (berkuasa) dari para pimpinan yang ingin menunjukkan kehebatan mereka masing-masing di dalam organisasi atau perusahaan 10. Adanya keengganan menerima resiko, baik dari pihak pimpinan maupun dari pihak bawahan.

e. Sentralisasi dan Desentralisasi Sentralisasi berarti sebagian besar wewenang/kekuasaan masih tetap dipegang oleh manajer puncak (top manajer). Hanya sebagian kecil saja disebarkan ke seluruh struktur organisasi. Misalnya: 75% wewenang tetap dipegang oleh manajer puncak, 25% wewenang disebarkan ke seluruh struktur organisasi. Sentralisasi di sini bukan sentralisasi mutlak, tetapi relatif. Sentralisasi mutlak berarti seluruh wewenang (100%) tetap dipegang oleh manajer puncak. Dengan kata lain, tidak ada pendelegasian wewenang.

31

Desentralisasi berarti sebagian kecil wewenang/kekuasaan dipegang oleh manajer puncak (top manajer), sedang sebagian besar kekuasaan menyebar pada seluruh struktur organisasi. Misalnya: 25% wewenang dipegang oleh manajer puncak dan 75% wewenang disebarkan ke seluruh struktur organisasi. Desentralisasi di sini pun bukan desentralisasi mutlak, tetapi relatif. Pada desentralisasi mutlak, seluruh wewenang atau kekuasaan disebarkan pada seluruh struktur organisasi, sedangkan manajer puncak tidak mempunyai wewenang untuk memerintah bawahannya.

B. Tanggung Jawab
Tanggung jawab menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah keadaan wajib menanggung segala sesuatunya, sehingga bertanggung jawab adalah

berkewajiban menanggung, memikul jawab, menanggung segala sesuatunya, dan memberikan jawab serta menanggung akibatnya. Ridwan Halim mendefinisikan tanggung jawab sebagai suatu akibat lebih lanjut dari pelaksanaan peranan, baik peranan itu merupakan hak maupun kewajiban ataupun kekuasaan.

Secara umum tanggung jawab (responsibility) dapat diartikan sebagai keharusan untuk melakukan semua kewajiban atau tugas-tugas yang dibebankan, sebagai akibat dari wewenang yang telah diterima atau dimilikinya. Tanggung jawab hanya dapat tercipta apabila ada penerimaan wewenang dan kewajiban.

IV.

Koordinasi dalam Manajemen

A. Pengertian Koordinasi
Pengertian koordinasi menurut para ahli, sebagai berikut: Menurut George R. Terry: “Koordinasi adalah suatu usaha yang sinkron dan teratur untuk menyediakan jumlah dan waktu yang tepat dan mengarahkan pelaksanaan untuk menghasilkan suatu tindakan yang seragam dan harmonis pada sasaran yang telah ditentukan”.

32

Menurut Drs. Malayu S.P. Hasibuan: “Koordinasi adalah kegiatan mengarahkan, mengintegrasikan, dan mengkoordinasikan unsur-unsur manajemen dan pekerjaan-pekerjaan para bawahan dalam mencapai tujuan oganisasi”. Menurut James A.F. Stoner dan Charles Wankel dalam buku Management, edisi ketiga, 1986: “Coordination is the process of integrating the objectives and activites of the separate units (department or functional areas) of an organization in order to achieve organizational goals efficiently”, (koordinasi adalah proses menyatupadukan tujuan-tujuan dan kegiatan-kegiatan dari unit-unit/bagian-bagian/bidang-bidang fungsional suatu organisasi yang terpisah untuk mencapai sasaran-sasaran organisasi secara efisien). Menurut Ricky W. Griffin: “Coordination is the process of linking the activities of the various department of the organization”, (koordinasi adalah suatu proses menghubungkan kegiatan-kegiatan dari bermacammacam bagian organisasi). Menurut David R. Hampton: “For successful performance, organizations require an integration of the contribution of special units, for our purposes, this is what coordination means”, (agar pelaksanaan pekerjaan menjadi sukses maka organisasi memerlukan

penyatupaduan sumbangan dari unit-unit khusus. Untuk tujuan kita, ini yang di maksud koordinasi). Menurut Dr. Sondang P. Siagian dalam bukunya Peranan Staf dalam Manajemen, 1978. “Koordinasi adalah pengaturan tata hubungan dari usaha bersama untuk memperoleh kesatuan tindakan dalam usaha pencapaian tujuan bersama pula. Koordinasi adalah suatu proses yang mengatur agar pembagian kerja dari berbagai orang atau kelompok dapat tersusun menjadi suatu kebutuhan yang terintegrasi dengan cara seefesien mungkin”.

33

Menurut Dr. Ateng Syafrudin, S.H, dalam bukunya Pengaturan Koordinasi Pemerintah di Daerah, 1976. “Koordinasi disini adalah suatu proses rangkaian kegiatan menghubungi, bertujuan menserasikan tiap langkah dan kegiatan dalam organisasi agar tercapai gerak yang cepat untuk mencapai sasaran dan tujuan-tujuan yang telah ditetapkan”. Menurut E.F.L Brech: “Koordinasi adalah mengimbangi dan menggerakkan tim dengan memberikan lokasi kegiatan pekerjaan yang cocok kepada masing-masing dan menjaga agar kegiatan itu dilaksanakan dengan keselarasan yang semestinya di antara para anggota itu sendiri”. Menurut Dr. Awaluddin Djamin, M.P.A: “Koordinasi adalah suatu usaha kerja sama antara badan, instansi, unit dalam pelaksanaan tugas-tugas tertentu sedemikian rupa, sehingga terdapat saling mengisi, saling membantu, dan saling melengkapi”.

Dari uraian para ahli di atas, secara umum, dapat diambil kesimpulan bahwa koordinasi adalah suatu usaha yang teratur untuk menyediakan sarana yang tepat, untuk mengarahkan pelaksanaan yang menghasilkan tindakan harmonis pada sasaran yang telah ditentukan. Dari uraian di atas, “sarana yang tepat” mengacu pada unsur-unsur dalam manajemen (man, money, material, method, market, machine), dan “mengarahkan pelaksanaan” mengacu pada pelaksanaan dari fungsi-fungsi manajemen (planning, organizing, staffing, actuating, controlling).

B. Syarat Syarat Koordinasi
Terdapat 4 (empat) syarat-syarat koordinasi, yaitu: 1. Sense of Cooperation Yaitu suatu perasaan untuk dapat saling bekerja sama antara unit/divisi/departemen yang terdapat dalam sebuah organisasi atau perusahaan, dan bukan bekerja secara orang per orang.

34

2. Rivalry Bahwa suatu perusahaan harus berusaha untuk menciptakan lingkungan kerja yang kompetitif, sehingga terdapat kompetisi yang sehat antar divisi atau departemen pada perusahaan, yang dapat memajukan perusahaan dan berguna dalam pencapaian tujuan. 3. Team spirit Artinya bahwa setiap divisi/departemen dalam sebuah organisasi atau perusahaan harus saling menghargai. 4. Esprit de Corps Artinya bahwa setiap unit/divisi/departemen dalam sebuah organisasi atau perusahaan harus saling mendukung di dalam pencapaian sasaran organisasi/perusahaan. Sehingga setiap unit/divisi/departemen yang diikutsertakan didalam pencapaian sasaran organisasi/perusahaan akan merasa dihargai dan akan menambah semangat dalam menjalankan pekerjaan mereka.

C. Sifat Sifat Koordinasi
Terdapat 3 (tiga) sifat-sifat koordinasi, yaitu: 1. Koordinasi adalah dinamis bukan statis. 2. Koordinasi menekankan pandangan menyeluruh oleh seorang koordinator (manajer) dalam rangka mencapai sasaran 3. Koordinasi hanya meninjau suatu pekerjaan secara keseluruhan.

Dari sifat-sifat di atas, dapat disimpulkan bahwa koordinasi harus dilakukan berdasarkan wawasan yang luas serta pandangan yang menyeluruh terhadap suatu hal atau situasi, dan tidak secara bagian per bagian (komponen per komponen). Koordinasi juga mencakup penyelarasan pelaksanaan fungsi-fungsi manajemen (planning, organizing, staffing, actuating, controlling), agar seluruh fungsi manajemen dapat berhubungan secara harmonis, dalam rangka pencapaian tujuan organisasi atau perusahaan.

35

D. Cara Mengadakan Koordinasi Cara-cara dalam mengadakan koordinasi: 1. Memberikan keterangan langsung dan secara bersahabat 2. Mengusahakan agar pengetahuan dan penerimaan tujuan yang akan dicapai oleh anggota sama dan tidak menurut pendapat/persepsi masing-masing individu anggota dengan tujuan sendiri-sendiri. Tujuan itu adalah tujuan bersama 3. Mendorong para anggota untuk saling bertukar pikiran, mengemukakan ide, saran-saran, pendapat, gagasan dan sebagainya. 4. Mendorong para anggota untuk ikut berpartisipasi dalam tingkat perumusan dan penciptaan sasaran 5. Membina human relations yang baik antara sesama karyawan. 6. Sering melakukan komunikasi informal dengan para bawahan, sehingga koordinasi akan lebih baik karena memperoleh dukungan dan partisipasi dari para bawahan.

E. Hubungan Koordinasi dengan Fungsi Manajemen
Manajemen adalah proses dari fungsi-fungsi manajemen (planning, organizing, staffing, actuating, controlling) dan di dalam implementasinya dibutuhkan koordinasi agar seluruh fungsi manajemen berhubungan secara harmonis dalam pencapaian tujuan. Hal ini dapat dijelaskan pada uraian berikut: 1. Perencanaan dan koordinasi Dalam suatu organisasi semua rencana harus saling berkaitan dan saling mempengaruhi. Oleh karena itu, perlu sekali pengkoordinasian yang tepat dan sinkronisasi dari semua rencana tersebut. Dalam hal ini perencanaan akan mempengaruhi koordinasi, maksudnya semakin baik dan terincinya suatu rencana maka akan semakin mudah melakukan koordinasi. Jika perencanaan disusun dengan baik, terintegrasi dengan baik serta harmonis maka penerapan koordinasi akan lebih mudah. 2. Pengorganisasian dan koordinasi Pengorganisasian berhubungan dengan koordinasi, artinya jika organisasi baik, maka pelaksanaan koordinasi akan lebih mudah. Pengorganisasian menghendaki tercapainya

36

hubungan yang serasi antara unit-unit organisasi yang terbentuk sebagai dasar atau alat untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Organisasi yang baik, apabila hubunganhubungan antara individu karyawan baik, hubungan pekerjaan baik, dan job description setiap karyawan jelas. 3. Pengisian jabatan dan koordinasi Penempatan karyawan membantu koordinasi, artinya jika setiap karyawan sudah ditempatkan sesuai dengan keahliannya maka koordinasi akan lebih mudah. 4. Pergerakan dan koordinasi Kedua hal ini sangat erat hubungannya, karena koordinasi ini dapat dilaksanakan dengan baik apabila penggerakan terhadap orang-orang yang melaksanakan tugas-tugas dalam proses manajemen berjalan dengan baik pula. Sukses dalam penggerakan memperlancar koordinasi tugas-tugas pengorganisasian. 5. Pengendalian dan koordinasi Pengendalian berhubungan langsung dengan koordinasi. Penilaian yang terus menerus atas kemajuan pekerjaan akan membantu menyelaraskan usaha-usaha, sehingga tujuan yang ditentukan semula dihasilkan, diperoleh dan tercapai dengan baik. Dengan demikian, maka tindakan-tindakan perbaikan yang terjadi dalam fungsi pengendalian membantu dalam mendapatkan koordinasi yang dibutuhkan.

**********

37

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->