Anda di halaman 1dari 38

HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN PELAKSANAAN INISIASI MENYUSU DINI PADA IBU POST PARTUM DI RSUD

PARIAMAN TAHUN 2012

Proposal Karya Tulis Ilmiah Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Menyelesaikan Proposal Karya Tulis Ilmiah Pendidikan Diploma III Kebidanan

Oleh :

OKTA NIRMALA DEWI


NIM. 100201035

PROGRAM STUDI DIII KEBIDANAN STIKES PIALA SAKTI PARIAMAN 2013

KATA PENGANTAR

Puji syukur peneliti haturkan ke hadirat Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga peneliti dapat menyelesaikan Proposal Karya Tulis Ilmiah (KTI) ini dengan baik. Adapun Proposal Karya Tulis Ilmiah ini berjudul

Hubungan Pengetahuan dan Dukungan Keluarga dengan Pelaksanaan Inisiasi Menyusu Dini Pada Ibu Post Partum di RSUD Pariaman Tahun 2012. Dalam menyelesaikan Proposal Karya Tulis Ilmiah ini, peneliti banyak mendapat bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini peneliti menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih kepada yang terhormat: 1. Bapak Prof. DR. H. Yunazar Manjang, direktur STIKES Piala Sakti Pariaman, dan Dosen Pembimbing yang telah memberikan kemudahan dan kelancaran dalam perkuliahan. 2. Staf Dosen STIKES Piala Sakti Pariaman yang telah membimbing selama perkuliahan, serta segenap karyawan Akademik yang telah memberikan pelayanan terbaik kepada peneliti. 3. Kepada orang tua dan orang-orang terdekat peneliti yang telah memberikan dorongan moril dan materil dalam penyelesaian Proposal KTI ini. 4. Rekan-rekan mahasiswa Stikes Piala Sakti Pariaman yang telah banyak membantu dalam diskusi dan perkuliahan.

Peneliti menyadari penulisan Proposal Karya Tulis Ilmiah ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu peneliti dengan hati terbuka bersedia menerima kritikan dan saran dari pembaca untuk kesempurnaan Proposal Karya Tulis Ilmiah ini.

Pariaman, Januari 2013

Penulis

ii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .......................................................................................i DAFTAR ISI ......................................................................................................iv

BAB I

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ............................................................................1 1.2 Perumusan Masalah ....................................................................5 1.3 Tujuan Penelitian ........................................................................5 1.4 Manfaat Penelitian ......................................................................6 1.5 Ruang Lingkup ..........................................................................6

BAB II TINJAUAN PUSTAKAAN 2.1 Konsep Berat Badan ...................................................................7 2.1.1 2.1.2 Pengertian Berat Badan ...............................................8 Berat Badan Ideal .........................................................8

2.2 Konsep Hipertensi ......................................................................8 2.2.1 2.2.2 2.2.3 Pengertian Hipertensi ...................................................8 Klasifikasi Hipertensi ...................................................8 Penyebab Hipertensi .....................................................9

2.3 Konsep Lansia ............................................................................11 2.3.1 Pengertian Lansia ............................................................12 2.3.2 Batas-batas Lansia ..........................................................13 2.3.3 Perubahan-Perubahan Yang Terjadi pada Lanjut Usia ...13 2.4 Kerangka Teori ...........................................................................14 2.5 Kerangka Konsep .......................................................................17 2.6 Defenisi Operasional ...................................................................18

iii

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Desain Penelitian ...........................................................................19 3.2 Tempat dan Waktu Penelitian .......................................................19 3.3 Populasi dan Sampel .....................................................................19 3.4 Sumber Data ..................................................................................20 3.5 Teknik Pengumpulan Data ............................................................20 3.6 Cara Pengolahan Data ...................................................................21 3.7 Analisa Data .................................................................................22

DAFTAR PUSTAKA

iv

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Menurut the World Health Organization (WHO) setiap tahunnya sekitar 132.000 bayi meninggal sebelum usia 1 tahun. Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia sendiri adalah sebesar 35 per 1000 kelahiran hidup (SDKI 2002-2003) masih diatas negara-negara seperti malaysia (7), Thailand (26), Filipina (36), dan Singapura (3). Sekitar 40% kematian bayi tersebut terjadi pada bulan pertama kehidupannya. (Depkes RI 2010). Saat ini, angka kematian bayi di seluruh dunia setiap tahun mencapai empat juta. Pada tahun 1997 lalu, dokter dari Swedia meneliti 72 ibu dan bayi. Bayi yang tali pusatnya dipotong, dilap, dan langsung diletakkan di perut ibunya dengan kulit bersentuhan memperlihatkan perkembangan menarik. Ternyata, pada usia 20 menit, bayi merangkak di atas perut ibunya dalam keadaan mata tertutup, persis anak kucing. Pada usia 50 menit, dia bisa menemukan payudara ibunya sendiri. Tahun 2003-2004, sekelompok peneliti dari Inggris meneliti 10.947 bayi yang diberi inisiasi yang benar di Ghana. Hasilnya, bayi-bayi itu bukan hanya lebih mudah menyusu, tapi juga menurunkan 22 % angka kematian bayi usia di bawah 28 hari. (Gupta, 2009 ; 18) Pemerintah Indonesia mendukung kebijakan WHO dan Unicef yang merekomendasikan inisiasi menyusu dini sebagai tindakan penyelamatan kehidupan. Menyusu satu jam pertama kehidupan yang diawali dengan

kontak kulit antara ibu dan bayi dinyatakan sebagai indikator global. Ini merupakan hal baru bagi Indonesia, dan merupakan program pemerintah, sehingga diharapkan semua tenaga kesehatan di semua tingkatan pelayanan kesehatan baik swasta, maupun masyarakat dapat mensosialisasikan dan melaksanakan mendukung suksesnya program tersebut, sehingga diharapkan akan tercapai sumber daya Indonesia yang berkualitas. (Depkes RI, 2009) Saat ini di Indonesia angka kematian bayi masih sangat tinggi yaitu 35 tiap 1.000 kelahiran hidup, itu artinya setiap hari 250 bayi meninnggal, dan sekitar 175.000 bayi meninggal sebelum mencapai usia satu tahun. Melakukan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dipercaya akan membantu meningkatkan daya tahan tubuh si bayi terhadap penyakit-penyakit yang beresiko kematian tinggi. Misalnya kanker syaraf, leukimia, dan beberapa penyakit lainnya. (Syafrudin, 2008 ; 78). Komplikasi dan kematian ibu maternal dan bayi baru lahir sebagian besar terjadi pada masa disekitar persalinan, hal ini disebabkan pertolongan tidak dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai kompetensi kebidanan (profesional). Hasil pengumpulan data/indikator kinerja Statistical Parametric Mapping (SPM) bidang kesehatan di 19 kabupaten/kota di Propinsi sumatera barat pada tahun 2007 menunjukkan bahwa jumlah persalinan 108.781 jumlah persalinan ditolong tenaga kesehatan 90.142 (82,87 %), dilihat untuk tahun 2006 yang ditolong oleh tenaga kesehatan mencakup 75,6 % adanya peningkatan yang ditolong oleh tenaga kesehatan pertanda masyarakat telah meyadari arti pentingnya keselamatan sewaktu persalinan

dibantu oleh tenaga kesehatan yang terlatih. (Profil Kesehatan Propinsi Sumatera Barat, 2007 ; 68). Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumatera Barat (Sumbar) menempatkan upaya menurunkan Angka Kematian Bayi (AKB) menjadi sasaran utama Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) kesehatan pada tahun 2009. (Dinkes Sumbar, 2009). Target Angka Kematian Bayi (AKB) itu adalah menjadi 28 orang per 1000 kelahiran hidup (KH) pada 2009 dari sebelumnya 32 orang per 1.000 kelahiran hidup ( KH) pada 2008, kata Kepala Dinkes Sumbar Dr. Rosnini Savitri, M.Kes di Padang (Ulfah, 2009 ; 103). Pemerintah telah melakukan berbagai upaya dalam menekan angka kematian bayi (AKB), salah satunya dengan mencanangkan program Inisiasi Menyusu Dini (IMD). Program ini diserukan karena tingkat kematian bayi maupun ibu saat melahirkan masih sangat tinggi. Ternyata dengan program Inisiasi Menyusu Dini (IMD) ini. Sementara kalangan medis di barat malah telah melaksanakan program ini sejak 10 tahun sebelumnya (Yuliarti, 2010 ; 23) Banyak orang tua yang merasa kasihan dan tidak percaya seorang bayi yang baru lahir dapat mencari sendiri susu ibunya. Ataupun rasa malu untuk meminta dokter yang membantu persalinan untuk melakukannya. Begitu juga dengan dokter atau bidan yang tidak mau direpotkan dengan kegiatan ini sehingga akhirnya bayi tidak diberi kesempatan untuk melakukan ini (Santosa, 2004 ; 42).

Penelitian Fika dan Syafik (2003) dalam Roesli (2008) menunjukkan bayi yang diberi kesempatan untuk menyusu dini, hasilnya delapan kali lebih berhasil ASI ekslusif dibanding dengan bayi yang tidak diberi kesempatan inisiasi menyusu dini. Menurut Hatta (2008) dalam Roesli (2008 ; 66) pengetahuan tentang inisiasi menyusu dini belum banyak diketahui masyarakat, bahkan juga petugas kesehatan. Hal ini wajar karena inisiasi menyusu dini adalah ilmu pengetahuan yang baru bagi Indonesia. ASI sebagai makanan yang terbaik bagi bayi tidak perlu diragukan lagi, namun akhir-akhir ini sangat disayangkan banyak diantara ibu-ibu menyusu melupakan keuntungan menyusu. Maka untuk itu, perlu dilakukan penelitian mengenai hubungan pengetahuan dan dukungan keluarga terhadap pelaksanaan inisiasi menyusu dini . hal ini dapat membantu kesadaran ibu-ibu tentang inisiasi menyusu dini ini, diharapkan dapat mengetahui bagaimana pengetahuan dan dukungan keluarga dengan pelaksanaan inisiasi menyusu dini. Berdasarkan data yang diperoleh dari RSUD Pariaman dari Januari sampai dengan Desember tahun 2011 yaitu 200 kelahiran dan berdasarkan keterangan yang penulis dapatkan dari tenaga kesehatan, pelaksanaan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) di rumah sakit ini belum berjalan dengan baik. Berdasarkan survey awal yang penulis lakukan di RSUD Pariaman pada 10 orang ibu post partum ternyata 8 orang diantaranya tidak mengerti tentang inisiasi menyusu dini, baik pengertian, manfaat maupun cara pelaksanaannya, selain itu ibu-ibu itu juga mengatakan keluarganya tidak

pernah memberitahu maupun menyuruh melakukan inisiasi menyusu ini. Sementara 2 orang ibu mengetahui tentang inisiasi menyusu dini dan memiliki inisiatif sendiri dari dalam dirinya maupun dari keluarganya untuk memberikan dukungan melakukan inisiasi menyusu dini pada bayi yang baru dilahirkannya. Berdasarkan latar belakang di atas maka penulis tertarik untuk membahas lebih lanjut bagaimana hubungan pengetahuan dan dukungan keluarga dengan pelaksanaan inisiasi menyusu dini pada ibu post partum di RSUD Pariaman tahun 2012.

B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana hubungan pengetahuan dan dukungan keluarga dengan pelaksanaan inisiasi menyusu dini pada ibu post partum di RSUD Pariaman tahun 2012. C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan umum Untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan dukungan keluarga dengan pelaksanaan inisiasi menyusu dini pada ibu post partum di RSUD Pariaman tahun 2012. 2. Tujuan khusus a. Diketahuinya distribusi frekuensi pengetahuan dengan pelaksanaaan inisiasi menyusu dini di RSUD Pariaman tahun 2012.

b. Diketahuinya

distribusi

frekuensi

dukungan

keluarga

tentang

pelaksanaan inisiasi menyusu dini pada ibu post partum di RSUD Pariaman tahun 2012. c. Diketahuinya distribusi frekuensi pelaksanaan inisiasi menyusu dini pada ibu post partum di RSUD Pariaman tahun 2012 d. Diketahuinya hubungan pengetahuan dengan pelaksanaan inisiasi menyusu dini pada ibu post partum di RSUD Pariaman tahun 2012 e. Diketahuinya hubungan dukungan keluarga dengan pelaksanaan inisiasi menyusu dini pada ibu post partum di RSUD Pariaman tahun 2012

D. Manfaat penelitian 1. Bagi peneliti Penelitian ini akan bisa menambah wawasan penulis dalam mempersiapkan, mengumpulkan, mengelolah, menganalisa, dan

mengimformasikan data hasil penelitian ini dan merupakan langkah awal dalam pengabdian penulis sebagai calon bidan dalam memberikan kontribusi ilmu pengetahuan tentang kesehatan, khususnya tentang inisiasi menyusu dini. 2. Bagi ibu Hasil penelitian ini diharapkan menambah pengetahuan ibu-ibu tentang pentingnya melakukan inisiasi menyusu dini pada bayi yang baru dilahirkan.

3. Bagi RSUD Pariaman Hasil penelitian ini diharapkan berguna bagi RSUD dalam upaya meningkatkan informasi mengenai inisiasi menyusu dini pada ibu-ibu post partum 4. Bagi Institusi Pendidikan Sebagai bahan masukan pustaka dan acuan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan khususnya dalam bidang penelitian tentang inisiasi menyusu dini dan dapat digunakan dimasa yang akan datang.

E. Ruang lingkup Penelitian ini dilakukan di RSUD Pariaman tahun 2012 pada bulan Mei s/d Juni 2012, tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan dukungan keluarga dengan pelaksanaan inisiasi menyusu dini. Dalam penelitian ini respondennya adalah ibu post partum. Pengambilan sampel pada penelitian ini yaitu secara accidental sampling. Jenis penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional study dimana variable independent dan dependen diteliti dalam waktu yang bersamaan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Inisiasi Menyusu Dini (IMD) 1. Pengertian Inisiasi menyusu dini (IMD) dalam istilah asing sering disebut early inisiation adalah memberi kesempatan pada bayi baru lahir untuk menyusu sendiri pada ibu dalam satu jam pertama kelahirannya (Roesli, 2008). Ketika bayi sehat di letakkan di atas perut atau dada ibu segera setelah lahir dan terjadi kontak kulit ( skin to skin contact ) merupakan pertunjukan yang menakjubkan, bayi akan bereaksi oleh karena rangsangan sentuhan ibu, dia akan bergerak di atas perut ibu dan menjangkau payudara. Roesli (2010 ; 53), menyatakan inisiasi menyusu dini disebut sebagai tahap ke empat persalinan yaitu tepat setelah persalinan sampai satu jam setelah persalinan, meletakkan bayi baru lahir dengan posisi tengkurap setelah dikeringkan tubuhnya namun belum dibersihkan, tidak dibungkus di dada ibunya segera setelah persalinan dan memastikan bayi mendapat kontak kulit dengan ibunya, menemukan puting susu dan mendapatkan kolostrom atau ASI yang pertama kali keluar. Inisiasi menyusu dini adalah proses menyusu bukan menyusu yang merupakan gambaran bahwa inisiasi menyusu dini bukan program ibu menyusu bayi tetapi bayi yang harus aktif sendiri menemukan putting susu ibu. Setelah lahir bayi belum menujukkan kesiapannya untuk menyusu. Reflek menghisap bayi timbul setelah 20-30 menit setelah lahir.

Roesli (2010 ; 59), menyatakan menyusu 30-40 menit setelah lahir.

bayi menunjukan kesiapan untuk

Kesimpulan dari berbagai pengertian di atas, inisiasi menyusu dini adalah suatu rangkaian kegiatan dimana bayi segera setelah lahir yang sudah terpotong tali pusatnya secara naluri melakukan aktivitas-aktivitas yang diakhiri dengan menemukan puting susu ibu kemudian menyusu pada satu jam pertama kelahiran. 2. Prinsip inisiasi menyusu dini (IMD) Prinsip dasar inisiasi menyusu dini adalah tanpa harus dibersihkan dulu, bayi diletakkan di dada ibunya dengan posisi tengkurap dimana telinga dan tangan bayi berada dalam satu garis, sehingga terjadi kontak kulit dan secara alami bayi mencari payudara ibu dan mulai menyusu. Prinsip dasar IMD adalah tanpa harus dibersihkan terlebih dahulu, bayi diletakkan di dada ibunya dan secara naluriah bayi akan mencari payudara ibu, kemudian mulai menyusu (Baskoro, 2008 ; 42). Kesimpulan dari pendapat di atas, prinsip IMD adalah cukup mengeringkan tubuh bayi yang baru lahir dengan kain atau handuk tanpa harus memandikan, tidak membungkus (bedong) kemudian

meletakkannya ke dada ibu dalam keadaan tengkurap sehingga ada kontak kulit dengan ibu, selanjutnya beri kesempatan bayi untuk menyusu sendiri pada ibu pada satu jam pertama kelahiran.

3. Manfaat inisiasi menyusu dini (IMD) Yuliarti (2010 ; 78), menyatakan bahwa IMD bermanfaat bagi ibu dan bayi baik secara fisiologis maupun psikologis yaitu sebagai berikut: a. Ibu Sentuhan dan hisapan payudara ibu mendorong keluarnya

oksitoksin. Oksitoksin menyebabkan kontraksi pada uterus sehingga membantu keluarnya plasenta dan mencegah perdarahan. Oksitoksin juga menstimulasi hormon-hormon lain yang menyebabkan ibu merasa aman dan nyaman, sehingga ASI keluar dengan lancer

(Arini, 2012 ;9). b. Bayi Bersentuhan dengan ibu memberikan kehangatan, ketenangan sehingga napas dan denyut jantung bayi menjadi teratur. Bayi memperoleh kolostrom yang mengandung antibodi dan merupakan imunisasi pertama. Di samping itu, kolostrom juga mengandung faktor pertumbuhan yang membantu usus bayi berfungsi secara efektif, sehingga mikroorganisme dan penyebab alergi lain lebih sulit masuk ke dalam tubuh bayi (Arini, 2012 ; 14).. 4. Langkahlangkah pelaksanaan inisiasi menyusu dini (IMD) Rosita (2008), menyatakan ada 10 langkah yang harus dilakukan untuk terlaksananya IMD yaitu : a. Ibu perlu ditemani seseorang yang dapat memberikan rasa nyaman dan aman saat melahirkan, baik itu suami, ibu, teman atau saudara yang lain.

10

b.

Membantu proses kelahiran dengan upaya-upaya di luar obat seperti pijatan, aromaterapi dan lain-lain kecuali jika dokter sudah memutuskan untuk menggunakan obat atau alat pemicu.

c.

Memberikan posisi yang nyaman bagi ibu saat proses persalinan atau memberikan posisi melahirkan sesuai keinginan ibu, karena tidak semua ibu merasa nyaman dengan posisi terlentang.

d.

Mengeringkan tubuh bayi dengan handuk halus segera setelah lahir tanpa dimandikan terlebih dahulu, biarkan cairan alami yang menyelimuti kulit bayi.

e. f.

Meletakkan bayi di dada ibu dalam posisi tengkurap. Membiarkan kulit bayi bersentuhan dengan kulit ibu hingga bayi menemukan puting susu ibu kemudian menyusunya.

g.

Membiarkan bayi bergerak secara alami mencari payudara ibu jangan arahkan menuju salah satu puting tetapi pastikan bayi dalam posisi nyaman untuk mencari puting susu ibu.

h.

Ibu yang melahirkan dengan secio caesar juga harus segera bersentuhan dengan bayinya setelah melahirkan yang tentu prosesnya membutuhkan perjuangan yang lebih.

i.

Kegiatan-kegiatan yang dapat mengganggu kenyamanan bayi seperti menimbang dan mengukur harus dilakukan setelah bayi bisa melakukan inisiasi menyusu dini.

j.

Jangan memberikan cairan atau makanan lain pada bayi kecuali ada indikasi medis.

11

5. Faktor-faktor yang mempengaruhi pelaksanaan IMD. a. Faktor-faktor pendukung. Terdiri dari faktor internal dan eksternal. Pengetahuan, sikap, pengalaman dan persepsi ibu merupakan faktor internal sedangkan fasilitas kesehatan, petugas penolong persalinan, keluarga dan orang terdekat serta lingkungan merupakan faktor eksternal (Idris-70publichealtdiscussion.blogspot.com) b. Faktor-faktor penghambat. Roesli (2008), menyatakan faktor-faktor penghambat Inisiasi Menyusu Dini adalah adanya pendapat atau persepsi ibu, masyarakat dan petugas kesehatan yang salah atau tidak benar tentang hal ini, yaitu sebagai berikut : 1) Bayi akan kedinginan Bayi berada dalam suhu yang aman jika melakukan kontak kulit dengan sang ibu, suhu payudara ibu akan meningkat 0,5 derajat dalam dua menit jika bayi diletakkan di dada ibu. Berdasarkan hasil penelitian Dr. Niels Bergman (2005) ditemukan bahwa suhu dada ibu yang melahirkan menjadi 1C lebih panas dari suhu dada ibu yang tidak melahirkan. Jika bayi yang diletakkan di dada ibu ini kepanasan, suhu dada ibu akan turun 1C. Jika bayi kedinginan, suhu dada ibu akan meningkat 2C untuk menghangatkan bayi. Jadi dada ibu merupakan tempat yang terbaik bagi bayi yang baru lahir dibandingkan tempat tidur yang canggih dan mahal.

12

2) Ibu kelelahan Memeluk bayinya segera setelah lahir membuat ibu merasa senang dan keluarnya oksitoksin saat kontak kulit ke kulit serta saat bayi menyusu dini membantu menenangkan ibu. 3) Tenaga kesehatan kurang tersedia. Penolong persalinan dapat melanjutkan tugasnya sementara bayi masih didada ibu dan menemukan sendiri payudara ibu. Libatkan ayah atau keluarga terdekat untuk menjaga bayi sambil memberi dukungan pada ibu. 4) Kamar bersalin atau kamar operasi sibuk. Ibu dapat dipindahkan keruang pulih atau kamar perawatan dengan bayi masih didada ibu, berikan kesempatan pada bayi untuk meneruskan usahanya mencapai payudara dan menyusu dini. 5) Ibu harus di jahit. Kegiatan merangkak mencari payudara terjadi di area payudara dan lokasi yang dijahit adalah bagian bawah ibu. 6) Suntikan vitamin K dan tetes mata untuk mencegah penyakit gonore harus segera diberikan setelah lahir. Menurut American college of obstetrics and Gynecology dan

Academy Breastfeeding Medicine (2007), tindakan pencegahan ini dapat ditunda setidaknya selama satu jam sampai bayi menyusu sendiri tanpa membahayakan bayi.

13

7) Bayi harus segera dibersihkan, dimandikan, ditimbang, dan diukur. Menunda memandikan bayi berarti menghindarkan hilangnya panas badan bayi. Selain itu, kesempatan vernix meresap, melunakkan, dan melindungi kulit bayi lebih besar. Bayi dapat dikeringkan segera setelah lahir. Penimbangan dan pengukuran dapat ditunda sampai menyusu awal selesai. 8) Bayi kurang siaga. Pada 1-2 jam pertama kelahirannya, bayi sangat siaga. Setelah itu, bayi tidur dalam waktu yang lama. Jika bayi mengantuk akibatnya obat yang diasup oleh ibu, kontak kulit akan lebih penting lagi karena bayi memerlukan bantuan lebih untuk bonding. 9) Kolostrom tidak keluar atau jumlah kolostrom tidak memadai sehingga diperlukan cairan lain. Kolostrom cukup dijadikan makanan pertama bayi baru lahir. Bayi dilahirkan .dengan membawa bekal air dan gula yang dapat dipakai pada saat itu. 10) Kolostrom tidak baik, bahkan berbahaya untuk bayi. Kolostrom sangat diperlukan untuk tumbuh-kembang bayi. Selain sebagai imunisasi pertama dan mengurangi kuning pada bayi baru lahir, kolostrom melindungi dan mematangkan dinding usus yang masih muda.

14

c.

Jenis kelahiran yang bisa melakukan IMD 1) Kelahiran normal Inisiasi secara tepat memotifasi ibu dan bayi untuk pemberian asi selanjutnya. 2) Kelahiran Vacum Ektraksi Walaupun tidak mengalami persalinan secara normal, ibu tetap dapat melakukan inisiasi menyusui dini. 3) Kelahiran Operasi Caesar Persalinan secara Caesar bukan menjadi hambatan ibu untuk melakukan inisiasi menyusui dini. (Roesli, 2010)

d.

Kriteria bayi yang tidak bisa lakukan IMD: 1) Bayi Prematur 2) Bayi Berat Lahir Rendah ( 2000-2500 gram ) 3) Bayi Asfiksia 4) Bayi dengan cacat bawaan berat, misalnya : hidrosefalus, meningokel, anensefali, atresiia ani, labio, omfalokel) Selain faktor-faktor penghambat di atas menurut Kristiyansari,

(2009) ada beberapa mitos yang menjadi penghambat pelaksanaan IMD yaitu : Kolostrom tidak baik dan berbahaya bagi bayi, bayi memerlukan cairan lain sebelum menyusu, kolostrom dan ASI saja tidak mencukupi kebutuhan minum bayi, bayi akan kedinginan saat dilakukan IMD, setelah melahirkan ibu terlalu lelah untuk menyusu bayi, IMD merupakan prosedur yang merepotkan bagi petugas kesehatan dokter, perawat, bidan

15

B. Pengetahuan 1. Defenisi Pengetahuan adalah hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang yang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu, penginderaan terjadi melalui panca indera manusia yakni indera penglihatan, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (over behavior) (Notoatmodjo, 2010 ; 53). Penelitian Roger dalam Notoatmodjo (2010 ; 67) mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru, didalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan, yakni: a. Awareness (kesadaran), yaitu orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui stimulus (objek) terlebih dahulu. b. Interest, yaitu orang mulai tertarik kepada stimulus. c. Evaluation (menimbang-nimbang baik dan tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya). Hal ini berarti sikap responden sudah baik lagi. d. Trial, orang telah mulai mencoba perilaku baru. e. Adoption, subjek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran dan sikap terhadap stimulus. Namun demikian dari penelitian selanjutnya Roger menyimpulkan bahwa perubahan perilaku tidak selalu melewati tahap-tahap diatas. Apabila penerimaan perilaku baru melalui proses baru melalui proses yang disadari oleh pengetahuan, kesadaran dan sikap yang positif, maka

16

perilaku tersebut akan bersifat langgeng (long tasting ). Sebaliknya apabila perilaku itu tidak disadari oleh pengetahuan dan kesadaran maka tidak akan berlangsung lama. Semakin tinggi pendidikan seseorang, maka semakin mudah untuk menerima dan menangkap informasi yang dibutuhkan (Notoatmodjo, 2010 ; 68) 2. Tingkatan pengetahuan Menurut Notoatmodjo (2010 ; 69) Pengetahuan merupakan tingkat terendah dari enam tingkat yang tergolong dalam domain kognitif mempunyai enam tingkatan yaitu: a. Tahu ( Know) Tahu diartikan sebagai pengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) terhadap sesuatu yang spesifik dari seluruh yang dipelajari atau rangsangan yang diterima. Oleh karena itu, tahu ini tingkat pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain menyebutkan, mengurangi, mengatakan. b. Memahami (Comprehension) Memahami diartikan suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diteliti dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi yang harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyampaikan, meramalkan dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari.

17

c.

Aplikasi (Application) Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi dan kondisi yang real ( sebenarnya).

d. Analisis (Analysis) Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih didalam struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari kata kerja seperti dapat menggambarkan (membuat bagan), membedakan, memisahkan, mengelompokkan dan sebagainya. e. Sistesis (Synthesis ) Sintesis menunjukkan suatu kemampuan untuk melakukan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru dengan kata lain sintesis adalah suatu keraampuan untuk menyusun formulasi-formulasi yang ada. f. Evaluasi (Evaluation) Evaluasi ini berkaitan dengan komponen untuk melaksanakan justifikasi atau penelitian terhadap suatu materi atau objek. Penelitianpenelitian itu berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria yang ada (Notoatmodjo, 2010 ; 72). Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau responden. Dalam pengetahuan yang

18

diketahui dan diukur, dapat disesuaikan dengan tingkat-tingkat tertentu. Menurut Lukman dalam Notoatmodjo (2010 ; 81), Ada beberapa yang mempengaruhi pengetahuan yaitu : a. Umur Singgih dalam Notoatmodjo (2010 ; 83), mengemukakan bahwa makin tua umur seseorang maka proses-proses perkembangan mentalnya bertambah baik, akan tetapi pada umur tertentu, bertambahnya proses perkembangan mental ini tidak secepat seperti ketika berumur belasan tahun. Daya ingat seseorang itu salah satunya dipengaruhi oleh umur. Dari uraian ini maka dapat kita simpulkan bahwa bertambahnya umur seseorang dapat berpengaruh pada pertambahan pengetahuan yang diperolehnya, akan tetapi pada umur-umur tertentu atau menjelang usia lanjut kemampuan penerimaan atau mengingat suatu pengetahuan akan berkurang. b. Intelegensi Intelegensi diartikan sebagai suatu kemampuan untuk belajar dan berfikir abstrak guna menyesuaikan diri secara mental dalam situasi baru. Intelegensi merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi hasil dari proses belajar. Intelegensi bagi seseorang merupakan salah satu modal untuk berfikir dan mengolah berbagai informasi secara terarah sehingga ia mampu menguasai lingkungan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa perbedaan intelegensi dari seseorang akan berpengaruh pula terhadap tingkat pengetahuan.

19

c. Lingkungan lingkungan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pengetahuan seseorang. Lingkungan memberikan pengaruh pertama bagi seseorang, dimana seseorang dapat mempelajari hal-hal yang baik dan juga hal-hal yang buruk tergantung pada sifat kelompoknya. Dalam lingkungan seseorang akan memperoleh pengalaman yang akan berpengaruh pada pada cara berfikir seseorang. d. Sosial budaya Sosial budaya mempunyai pengaruh pada pengetahuan seseorang. Seseorang memperoleh suatu kebudayaan dalam

hubunganya dengan orang lain, karena hubungan ini seseorang mengalami suatu proses belajar dan memperoleh suatu pengetahuan. e. Pendidikan Menurut Notoadmojo (2010) pendidikan adalah suatu kegiatan atau proses pembelajaran untuk mengembangkan atau meningkatkan kemampuan tertentu sehingga sasaran pendidikan itu dapat berdiri sendiri. Menurut Wied Hary A menyebutkan bahwa tingkat pendidikan turut pula menentukan mudah tidaknya seseorang menyerap dan memahami pengetahuan yang mereka peroleh, pada umumnya semakin tinggi pendidikan seseorang makin semakin baik pula pengetahuanya. f. Informasi Menurut Wied Hary A informasi akan memberikan pengaruh pada pengetahuan seseorang. Meskipun seseorang memiliki

20

pendidikan yang rendah tetapi jika ia mendapatkan informasi yang baik dari berbagai media misalnya TV, radio atau surat kabar maka hal itu akan dapat meningkatkan pengetahuan seseorang. g. Pengalaman Pengalaman merupakan guru yang terbaik. Pepatah tersebut dapat diartikan bahwa pengalaman merupakan sumber pengetahuan, atau pengalaman itu suatu cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan. Oleh sebab itu pengalaman pribadi pun dapat digunakan sebagai upaya untuk memperoleh pengetahuan. Hal ini dilakukan dengan cara mengulang kembali pengalaman yang diperoleh dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi pada masa lalu.(Notoadmojo 2010 ; 86)

C. Dukungan Keluarga Menurut Friedman (2008 ; 47), dukungan keluarga adalah sikap, tindakan dan penerimaan keluarga terhadap penderita yang sakit. Anggota keluarga memandang bahwa orang yang bersifat mendukung selalu siap memberikan pertolongan dan bantuan jika diperlukan. 1. Fungsi dukungan keluarga Caplan (1964) dalam Friedman (2008 ; 55) menjelaskan bahwa keluarga memiliki beberapa fungsi dukungan yaitu: a. Dukungan informasional Keluarga berfungsi sebagai sebuah kolektor dan diseminator (penyebar) informasi tentang dunia. Menjelaskan tentang pemberian saran, sugesti, informasi yang dapat digunakan mengungkapkan suatu

21

masalah. Manfaat dari dukungan ini adalah dapat menekan munculnya suatu stressor karena informasi yang diberikan dapat menyumbangkan aksi sugesti yang khusus pada individu. Aspek-aspek dalam dukungan ini adalah nasehat, usulan, saran, petunjuk dan pemberian informasi. b. Dukungan penilaian Keluarga bertindak sebagai sebuah bimbingan umpan balik, membimbing dan menengahi pemecahan masalah, sebagai sumber dan validator indentitas anggota keluarga diantaranya memberikan support, penghargaan, perhatian. c. Dukungan instrumental Keluarga merupakan sebuah sumber pertolongan praktis dan konkrit, diantaranya: kesehatan penderita dalam hal kebutuhan makan dan minum, istirahat, terhindarnya penderita dari kelelahan. d. Dukungan emosional Keluarga sebagai tempat yang aman dan damai untuk istirahat dan pemulihan serta membantu penguasaan terhadap emosi. Aspekaspek dari dukungan emosional meliputi dukungan yang diwujudkan dalam bentuk afeksi, adanya kepercayaan, perhatian, mendengarkan dan didengarkan. 2. Sumber dukungan keluarga Dukungan sosial keluarga mengacu kepada dukungan sosial yang dipandang oleh keluarga sebagai sesuatu yang dapat diakses/diadakan untuk keluarga (dukungan sosial bisa atau tidak digunakan, tetapi anggota keluarga memandang bahwa orang yang bersifat mendukung selalu siap

22

memberikan pertolongan dan bantuan jika diperlukan). Dukungan sosial keluarga dapat berupa dukungan sosial kelurga internal, seperti dukungan dari suami/istri atau dukungan dari saudara kandung atau dukungan sosial keluarga eksternal (Friedman, 2008 ; 61). 3. Manfaat dukungan keluarga Dukungan sosial keluarga adalah sebuah proses yang terjadi sepanjang masa kehidupan, sifat dan jenis dukungan sosial berbeda-beda dalam berbagai tahap-tahap siklus kehidupan. Namun demikian, dalam semua tahap siklus kehidupan, dukungan sosial keluarga membuat keluarga mampu berfungsi dengan berbagai kepandaian dan akal. Sebagai akibatnya, hal ini meningkatkan kesehatan dan adaptasi keluarga (Friedman, 2008 ; 90). Wills (1985) dalam Friedman (2008 ; 74) menyimpulkan bahwa baik efek-efek penyangga (dukungan sosial menahan efek-efek negatif dari stres terhadap kesehatan) dan efek-efek utama (dukungan sosial secara langsung mempengaruhi akibat-akibat dari kesehatan) pun ditemukan. Sesungguhnya efek-efek penyangga dan utama dari dukungan sosial terhadap kesehatan dan kesejahteraan boleh jadi berfungsi bersamaan. Secara lebih spesifik, keberadaan dukungan sosial yang adekuat terbukti berhubungan dengan menurunnya mortalitas, lebih mudah sembuh dari sakit dan dikalangan kaum tua, fungsi kognitif, fisik dan kesehatan emosi (Ryan dan Austin dalam Friedman, 2008 ; 78).

23

4.

Faktor yang mempengaruhi dukungan keluarga Menurut Feiring dan Lewis (1984) dalam Friedman (2008), ada bukti kuat dari hasil penelitian yang menyatakan bahwa keluarga besar dan keluarga kecil secara kualitatif menggambarkan pengalaman-pengalaman perkembangan. Anak-anak yang berasal dari keluarga kecil menerima lebih banyak perhatian daripada anak-anak dari keluarga yang besar. Selain itu, dukungan yang diberikan orangtua (khususnya ibu) juga dipengaruhi oleh usia. Menurut Friedman (2008 ; 81), ibu yang masih muda cenderung untuk lebih tidak bisa merasakan atau mengenali kebutuhan anaknya dan juga lebih egosentris dibandingkan ibu-ibu yang lebih tua. Faktor-faktor yang mempengaruhi dukungan keluarga lainnya adalah kelas sosial ekonomi orangtua. Kelas sosial ekonomi disini meliputi tingkat pendapatan atau pekerjaan orang tua dan tingkat pendidikan. Dalam keluarga kelas menengah, suatu hubungan yang lebih demokratis dan adil mungkin ada, sementara dalam keluarga kelas bawah, hubungan yang ada lebih otoritas atau otokrasi. Selain itu orang tua dengan kelas sosial menengah mempunyai tingkat dukungan, afeksi dan keterlibatan yang lebih tinggi daripada orang tua dengan kelas sosial bawah.

24

D. Kerangka Teori Menurut Roesli (2008 ; 58) ada berbagai faktor yang mempengaruhi dalam pelaksanaan inisiasi menyusu dini pada bayi. Faktor-faktor tersebut dapat digambarkan dalam kerangka teori berikut ini Gambar 2.1 Kerangka Teori Faktor-faktor yang mempengaruhi pelaksanaan Inisiasi Menyusu Dini (IMD)

Pengetahuan

Sikap

pengalaman dan persepsi ibu fasilitas kesehatan

Pelaksanaan inisiasi menyusu dini

petugas penolong persalinan Dukungan keluarga

25

E. Kerangka Konsep Pada penelitian ini pembaca dapat melihat bagaimana hubungan pengetahuan dan dukungan keluarga dengan pelaksanaan inisiasi menyusu dini pada ibu post partum di RSUD Pariaman. Sebagai kerangka berpikir memakai pendekatan konsep. Secara skematis dapat dilihat pada bagan berikut ini: Gambar 2.2 Kerangka Konsep Variabel Independent Pengetahuan Pelaksanaan inisiasi menyusu dini Dukungan keluarga Variabel Dependent

F. Defenisi Operasional N o 1 Pengetahuan Segala sesuatu yang diketahui oleh ibu post partum tentang inisiasi menyusu dini 2 Dukungan Tindakan yang keluarga dilakukan oleh keluarga dalam memberi motivasi pada ibu untuk melakukan inisiasi menyusu dini 3 Inisiasi Proses bayi menyusu menyusu segera setelah dini dilahirkan, dimana bayi dibiarkan mencari putting susu ibunya sendiri. Variabel Defenisi Operasional Cara Alat Ukur Ukur Hasil ukur Skala ukur

wawan Kuesioner Tinggi > median Ordinal cara Rendah < median

wawan Kuesioner Baik > median cara Kurang Baik < median

Ordinal

wawan Kuesioner Melakukan IMD ordinal cara Tidak melakukan IMD

26

G. Hipotesis penelitian Hipotesis adalah suatu jawaban atau praduga sementara terhdap hasil penelitian (Notoatmodjo, 2010 ; 105). Hipotesis yang dapat diajukan pada penelitian ini. Ha diterima : Terdapat hubungan pengetahuan dan dukungan keluarga dengan pelaksanaan inisiasi menyusu dini pada ibu post partum di RSUD Pariaman tahun 2012 Ho ditolak : Tidak terdapat hubungan pengetahuan dan dukungan keluarga dengan pelaksanaan inisiasi menyusu dini pada ibu post partum di RSUD Pariaman tahun 2012

27

BAB III METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian Metode penelitian yang dipakai adalah deskriptif analitik. Metode ini adalah suatu penelitian yang mencoba menggali bagaimana dan mengapa fenomena kesehatan itu terjadi. Di dalam penelitian deskriptif analitik ini pendekatan yang dipakai adalah cross sectional. Cross sectional adalah suatu penelitian untuk mempelajari dinamika korelasi antara faktor-faktor resiko dengan efek dalam waktu yang bersamaan. (Notoadmodjo, 2010 : 37).

B. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat Penelitian dilaksanakan di Bangsal Kebidanan RSUD Pariaman 2. Waktu Waktu penelitian dilaksanakan pada bulan Juni s/d Juli 2012

C. Populasi dan Sampel 1. Populasi Populasi adalah keseluruhan objek dari penelitian (Arikunto, 2006) sesuai dengan judul penelitian. Maka yang menjadi populasi adalah seluruh ibu-ibu post partum di RSUD Pariaman tahun 2012. 2. Sampel Sampel adalah sebagian atau wakil dari populasi yang diteliti (Arikunto, 2006). Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah

28

secara accidental sampling. Sesuai dengan teori dari Notoatmodjo (2010 ; 125), yaitu pengambilan sampel secara langsung di lokasi penelitian pada saat melakukan penelitian. dengan kriteria sampel sebagai berikut: Kriteria inklusi a. Ibu post partum di RSUD Pariaman b. Berada di tempat pada saat penelitian c. Bersedia menjadi responden Kriteria ekslusi a. Ibu perdarahan post partum dan ibu post SC. b. Bayi dengan gangguan saat lahir ( asfiksia, premature, BBLR, cacat bawaan seperti hidrosefalus, labio)

D. Teknik Pengumpulan Data. 1. Data Primer Data yang dikumpulkan pada penelitian ini adalah data primer. Data primer adalah data yang dikumpulkan dengan menggunakan lembar pelayanan kuesioner melalui observasi terhadap responden langsung. Dimana penelitian ini menghubungkan antara pengetahuan dan dukungan keluarga dengan pelaksanaan inisiasi menyusu dini pada ibu post partum di RSUD Pariaman. 2. Sekunder Data sekunder adalah data yang diperoleh dengan cara tidak meminta secara langsung kepada objek yang diteliti. Dalam penelitian ini data sekunder diperoleh dari RSUD Pariaman tahun pada saat penelitian.

29

E. Teknik Pengolahan data. Teknik pengolahan data dilakukan secara manual dengan langkahlangkah sebagai berikut : 1. Editing, (Pemeriksaan data). Setelah quisioner diisi dan dikembalikan oleh responden pada peneliti, maka semua perlanyaan diperiksa kembali apakah semua pertanyaan sudah di jawab. 2. Coding, (pengkodean data) Setelah dipastikan kelengkapan data lalu dilakukan pemberian kode untuk masing-masing data yang termasuk kategori yang sama. 3. proses transferring (pemindahan data) memindahkan jawaban atau kode jawaban kedalam master tabel dengan menggunakan skala yang sudah ditentukan. 4. Tabulasi, Setelah semua data terkumpul dengan baik, data tersebut diklasifikasikan kedalam beberapa kelompok menurut subvariasi penelitian. Kemudian dipindahkan ke dalam media tertentu yaitu master tabel dan disusun ke dalam bentuk tabel. Pengolahan data dilakukan secara komputerisasi F. Teknik Analisa Data. 1. Univariat Analisa univariat ini digunakan untuk melihat distribusi frekwensi masing-masing variabel, baik variabel Independen maupun dependen. Secara komputerisasi mengunakan SPSS.

30

2. Analisa Bivariat Analisa ini dapat melihat hubungan antara 2 variabel yaitu : variabel Independen dan dependen. Untuk mengetahui adanya hubugan kedua variabel digunakan uji chi-square dengan program SPSS versi 14 dan derajat kepercayaan 0,05 sehingga jika nilai p < 0,05 maka secara statistik disebut bermakna, jika p > 0,05 maka hasil hitung tersebut tidak bermakna. Hasil didapatkan dengan proses komputerisasi.

31

DAFTAR PUSTAKA

Arini. H. 2012. Mengapa Seorang Ibu harus Menyusu. Jakarta. FlashBooks Depkes RI 2009. Profil Kesehatan. Jakarta : Biro Humas Departemen Sosial Depkes RI 2010. Profil PMKS dan PSKS. Jakarta : Biro Humas Departemen Sosial Erina Santosa. 2004. Seni Menyusu Bayi. Jakarta Progress Friedman, Marlyn M., 2008. Keperawatan Keluarga, Teori dan Praktik, Edisi 3. Gupta, 2009. Mengenal ASI Eksklusif, Jakarta : Trumbus Agriwidya Nurheti Yuliarti.2010. Keajaiban ASI. Jakarta. Andi Notoatmodjo,Soekedjo.2003. Metodologi Penelitian Kesehatan.Jakarta:Rienka Cipta Notoatmodjo,Soekedjo.2010 Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta:Rienka Cipta Paramitha. 2011. http//www.asipasti.co.cc/2011/02/manfaat-inisiasi-menyusudini-ehealth.org/dkksurabaya Profil Kesehatan Propinsi Sumatera Barat, 2007 Profil Kesehatan Propinsi Sumatera Barat, 2009 Rasaid. 2009. http//www.lusa.web.id/tag/inisiasi-menyusu-dini Roesli Utami. 2010. Bayi Sehat Berkat ASI Eksklusif. Elex Media Komputindo, Jakarta Roesli, Utami. 2008. Inisiasi Menyusu Dini Plus ASI Eksklusif. Pustaka Bunda, Jakarta. Rosita Syarifah. 2009. ASI untuk Kecerdasan Bayi. Ayyana, Yogyakarta. Rahmiza Yuliastuti, 2011 Hubungan tingkat opengetahuan ibu dengan pelaksanaan inisiasi menyusu dini diwilayah kerja puskesmas pauh kambar kabupaten padang pariaman tahun 2011 Suharsimi Arikunto, 2006. Pendekatan Statistik. Jakarta Rineka Cipta

32

Syafrudin,2008. Menyusu Dini Selamatkan Bayi. Jakarta: Gempita Press Ulfah, 2009. Inisiasi Menyusu Dini. Jakarta : Penerbit Pustaka Bunda Wina Susanti, 2010 Hubungan pengetahuan ibu dan dukungan keluarga dengan pelaksanaan inisiasi menyusu dini pada ibu post partum di bps wilayah kerja puskesmas rama indra kecamatan seputih raman kabupaten lampung tengah tahun 2010

33