Anda di halaman 1dari 18

Laporan Praktikum Pengawasan Mutu

Hari, tanggal : Selasa, 25 September 2012 Dosen Asisten : Sapta Raharja : 1. Arum Nur F34080027 2. Lela Melawati N D F34080057

UJI PEMBEDAAN

Oleh: Jonathan Purba F34100129 Khairunnisa F34100148 Maya Ramadhayanti F34100149 Daniel Kristianto F34100151 Devi Umi Puspasafitri F34100153

DEPARTEMEN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2012

Laporan Praktikum Pengawasan Mutu Kelompok 1

I.

PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang Dalam dunia industri khususnya industri pangan, industri akan selalu

berusaha untuk mendapatkan produk dengan karakteristik yang dapat diterima oleh konsumen, dengan asumsi bahwa pada suatu saat konsumen akan mengalami rasa bosan terhadap suatu produk yang dikonsumi meskipun sebenarnya produk itu tetap diperlukan atau dibutuhkan. Antisipasi terhadap kemungkinan tersebut diantaranya adalah dengan menawarkan produk yang sejenis dengan karakter tertentu yang berbeda. Karakter tertentu itu harus menyebabkan konsumen tetap mengkonsumsi produk tersebut karena ada perasaan atau kesan mendapatkan sesuatu yang baru dari produk yang sama. Fenomena ini sudah sangat dicermati oleh dunia industri. Kini, akan dengan mudah dijumpai produk di pasaran yang sejenis dengan tampilan yang sangat bervariasi. Mulai dari bentuk kemasan, aroma, citarasa, ukuran, bobot dan tambahan aksesoris lainnya. Tampilan produk yang demikian dimaksudkan untuk

menimbulkan kesan yang lebih baik, lebih besar, lebih enak, lebih menarik dan lain sebagainya. Keberanian industri untuk menampilkan produk yang sangat beragam adalah bagian upaya pemenuhan kepuasan konsumen yang selalu ada titik jenuh, rasa bosan, ingin suatu yang baru atau berbeda, selalu coba-coba, dan selalu berhitung untuk mendapatkan nilai lebih dari setiap uang yang dibelanjakan Uji pembedaan adalah satu kebutuhan yang tidak dapat dihindarkan bagi industri pangan atau industri lainnya yang menghasilkan produk untuk masyarakat baik itu barang atau jasa. Adanya pembedaan dilakukan untuk mempertimbangkan harga, banyaknya barang yang bisa dibeli, kualitas, rasa, dan kepuasan (untuk produk jasa). Untuk mempertahankan agar produk tetap dipilih oleh kosumen, produk tidak hanya harus dapat mempertahankan karakter dasarnya tetapi juga harus bisa menampilkan atribut mutu organoleptiknya demi meningkatkan kepuasan pelanggan. Ada banyak uji dalam uji pembedaan, namun di Fakultas Teknologi Pertanian, karena produk yang diuji adalah produk pangan, maka yang akan dibahas

Laporan Praktikum Pengawasan Mutu Kelompok 1

dalam praktikum adalah uji organoleptik kepekaan lidah. Uji yang dibahas meliputi uji pembedaan pasangan, uji pembedaan segitiga, dan uji duo trio.

B.

Tujuan Tujuan dari praktikum uji pembedaan ini adalah untuk mengetahui fungsi uji

pembedaan dan aplikasinya, melatih kepekaan lidah dalam membedakan rasa antara beberapa produk yang sama dengan rasa yang sedikit berbeda, serta mempelajari cara menganalisis perbedaan rasa lewat beberapa respon panelis.

Laporan Praktikum Pengawasan Mutu Kelompok 1

II.

METODOLOGI

A.

Alat dan bahan Alat yang dipakai dalam praktikum uji pembedaan ini adalah bilik pencicip

(booth) sendok, gelas, lidah panelis, dan alat tulis sebagai alat mencatat. Sedangkan bahan yang digunakan dalam praktikum uji pembedaan adalah sirup, keripik, dan susu. Masing masing sedikit dibedakan dalam pembuatan larutan/produksinya untuk melatih kepekaan lidah dalam membedakan.

B.

Metode a. Uji Pembedaan Pasangan


Panelis mulai dengan meminum air mineral

Memakan dan mengamati contoh pembanding (Keripik A)

Panelis meminum air mineral

Memakan dan mengamati contoh baku (Keripik B)

Mencatat hasil mengenai perbedaan kerenyahan dan rasa

Laporan Praktikum Pengawasan Mutu Kelompok 1

b. Uji Pembedaan Segitiga


Panelis mulai dengan meminum air mineral

Memakan dan mengamati contoh 1 (Sirup A)

Panelis meminum air mineral

Memakan dan mengamati contoh 2 (Sirup B)

Panelis meminum air mineral

Memakan dan mengamati contoh 3 (Sirup C)

Mencatat hasil mengenai perbedaan warna, kekentalan, dan rasa

c. Uji Pembedaan Duo Trio


Panelis mulai dengan meminum air mineral Memakan dan mengamati contoh baku (Susu A) Panelis meminum air mineral Memakan dan mengamati contoh yang berbeda (Susu B) Panelis meminum air mineral Memakan dan mengamati contoh yang sama (Susu C) Mencatat hasil mengenai perbedaan warna, kekentalan, dan rasa

Laporan Praktikum Pengawasan Mutu Kelompok 1

III.

HASIL DAN PEMBAHASAN

A.

Hasil Terlampir

B.

Pembahasan Uji pembedaan digunakan untuk mengetahui adanya perbedaan pada sampel

dengan perlakuan-perlakuan tertentu. Macam-macam uji pembedaan antara lain, uji pasangan, uji duo trio, dan uji segitiga. Di dalam uji organoleptik diperlukan beberapa panelis, baik panelis terlatih maupun agak terlatih tergantung jenis dan tujuan uji sensori tersebut. Menurut Larmond (1975) tidak ada ketentuan yang pasti mengenai jumlah panelis yang digunakan, akan tetapi semakin banyak jumlah panelis maka hasil uji organoleptik tersebut semakin baik pula karena variasi data antar individu semakin kecil. Akan tetapi, penggunaan panelis agak terlatih maupun terlatih jauh lebih efisien dari segi keakuratan data dan waktu. Uji pembedaan yang terdiri dari uji pembeda pasangan, uji pembeda duo trio, dan uji pembeda segitiga memiliki beberapa manfaat. Salah satu manfaat dari uji pembedaan yaitu untuk menetapkan adanya perbedaan sifat sensorik dan organoleptik antara dua bahan/sampel. Aplikasi dari uji ini dalam suatu industri yaitu uji ini dapat digunakan untuk menilai pengaruh beberapa macam perlakuan modifikasi proses atau bahan dalam pengolahan pangan suatu industri. Selain itu, uji ini juga untuk mengetahui adanya perbedaan dan persamaan antara dua produk dari komoditi yang sama (Susiwi, 2009). Pada uji pasangan atau yang sering disebut paired comparation, paired test, atau dual comparation dilakukan analisa terhadap dua macam produk. Pada umumnya, produk yang digunakan adalah jenis baru yang kemudian dibandingkan dengan produk terdahulu yang sudah diterima di konsumen. Pada uji pasangan, umumnya jumlah panelis yang disertakan adalah 15-25 orang panelis agak terlatih dan 7-15 orang panelis terlatih. Produk yang digunakan dapat berupa dua sampel yang sama atau satu sampel uji dengan sampel baku (yang sudah diterima oleh konsumen). Masing-masing produk diberi kode yang berbeda. Faktor yang diamati

Laporan Praktikum Pengawasan Mutu Kelompok 1

adalah kerenyahan dan rasa. jika terdapat perbedaan antara produk sampel dengan sampel baku maka diberikan nilai 1 pada form penilaian, sebaliknya jika tidak terdapat perbedaan maka diberikan nilai 0 pada form penilaian. Produk yang digunakan untuk uji pasangan adalah keripik singkong. Pada uji pembedaan yang dilakukan oleh panelis didapatkan 3 perolehan data yang tidak sama untuk jenis uji yang berbeda. Pembahasan pertama yang akan dipaparkan yakni pada uji pembeda pasangan. Pada 26 panelis yang melakukan pengujian pada keripik kode 827 dengan sampel baku ternyata diperoleh data seperti yang ada pada lampiran. Berdasarkan tabel jumlah terkecil untuk menyatakan beda nyata dengan jumlah panelis sebanyak 26 diperoleh tingkat beda nyata 5%, 1%, dan 0,1% berurutan 18, 20, dan 21 panelis. Rupanya dari data panelis yang melakukan uji pembeda pasangan untuk perbedaan kerenyahan memberikan kesan sebanyak 23 orang panelis. Hal ini jelas menyatakan bahwa sampel baku dan contoh kode 827 merupakan sampel yang berbeda. Artinya tingkat beda nyata-nya tergolong pada tingkat 0,1%. Hal ini sesuai dengan kunci jawaban yang ada bahwa jenis sampel yang digunakan berbeda. Jadi pada kriteria kerenyahan yang diperoleh dapat disimpulkan untuk uji pembeda pasangan ini panelis sudah terlatih untuk memberikan kesan yang berbeda terhadap dua sampel. Sedangkan uji pembeda pasangan pada keripik yang dilakukan lainnya yakni pada kriteria rasa. Berdasarkan kesan yang diberikan oleh sejumlah panelis ternyata jumlah panelis yang memberikan kesan berbeda pada kedua sampel yakni 18 orang. Berdasarkan jumlah terkecil yang dibutuhkan untuk beda nyata pada jumlah panelis 26 orang adalah seperti yang disebutkan sebelumnya. Maka dengan menyocokan antara jumlah panelis yang memberikan kesan berbeda dengan jumlah terkecil yang dibutuhkan. Dari perbedaan tersebut maka disimpulkan tidak ada perbedaan nyata antara sampel baku dengan contoh dengan kode 827 pada kriteria rasa. Artinya antara sampel baku dengan contoh 827 meskipun berasal dari contoh yang berbeda namun dari segi rasa rupanya tidak memberikan perbedaan yang signifikan. Berdasarkan kriteria rasa maka dapat dinyatakan bahwa ada sebagian besar panelis yang terlatih dan sisanya kurang terlatih. Uji duo trio dapat digunakan untuk mendeteksi adanya perbedaan yang kecil antara dua sampel. Uji ini relatif lebih mudah karena adanya sampel baku atau

Laporan Praktikum Pengawasan Mutu Kelompok 1

pembanding dalam pengujian. Biasanya uji duo trio digunakan untuk melihat perlakuan baru terhadap mutu produk ataupun menilai keseragaman mutu bahan (Muda, 2011). Panelis diminta untuk mengenal sampel pembanding terlebih dahulu lalu memilih salah satu dari kedua sampel uji yang memiliki perbedaan dengan sampel pembanding dengan memberi tanda 1dan tanda 0 jika tidak ada perbedaan atau sama. Produk yang digunakan untuk uji duo trio adalah larutan sirup. Uji duo trio dilatihkan kepada panelis dengan sampel baku sirup merek Marjan dan sampel kode 342 dan 734. Perbedaan ini dititik beratkan pada tiga kriteria yakni rasa, aroma, dan warna. Kriteria pertama yang dibahas adalah pada rasa, diperoleh kesan berbeda pada kode 342 sebanyak 15 dan pada kode 734 sebanyak 16. Berdasarkan data yang diperoleh maka panelis memberikan beda yang nyata pada kedua sampel. Perbedaan nyata ini termasuk keduanya dalam tingkat error 1%. Seharusnya pada sampe 734 tidak memberikan kesan yang berbeda karena kode tersebut merupakan jenis yang sama dengan sampel baku yang ada. Hal demikian terjadi bisa disebabkan oleh dua faktor. Faktor pertama adalah karena perbedaan komposisi yang berbeda saat pembuatan sirup sampel baku dengan kode 734. Dan faktor yang kedua disebabkan panelis kurang terlatih untuk memberikan kesan. Kemudian ada satu faktor tambahan lainnya yang menurut asumsi bisa diberikan yakni, memang merek sirup Marjan memiliki kesamaan rasa dengan merek sirup Indomaret sehingga sebagian panelis memberikan kesan yang sama terhadap kode 342 dengan sampel baku. Selanjutnya adalah uji aroma dengang duo trio pada sirup sampel baku dan kedua sampel yang ada. Diperoleh kesan berbeda pada kode 342 sebanyak 8 dan pada kode 734 sebanyak 15. Hal ini bila dicocokan dengan kunci jawaban panelis kurang sesuai. Karena seharusnya yang memiliki beda nyata adalah pada kode 342. Sedangkan data yang diperoleh berdasarkan kesan yang diberikan panelis adalah cenderung mengacu pada kode 734 yang notabene merupakan sirup yang sama dengan sampel baku. Hal demikian terjadi karena beberapa faktor yang telah disebutkan sebelumnya. Yakni diasumsikan pertama, memang panelis yang belum terlatih untuk memberikan kesan berbeda pada sampel. Yang kedua karena memang kemiripian formulasi antar kedua merk sirup tersebut. Dan asumsi yang terakhir adalah komposisi yang berbeda antara sampel baku dan sampel. Sehingga

Laporan Praktikum Pengawasan Mutu Kelompok 1

memberikan efek yang berbeda pada warna, aroma dan rasa. Sehingga kesan berebeda nyata justru diberikan pada kode 734. Kriteria yang terakhir pada uji duo trio pada sirup ini memberikan hasil kesan yang berbeda pada kode 342 dan 734 sebesar 8 dan 17. Hal ini disimpulkan bahwa kode 734 memiliki kesan yang berbeda dengan error sebesar 0,1%. Dengan signifikan beda nyata yang diperoleh cukup tinggi. Berdasarkan kunci jawaban yang diberikan hal ini tidak sesuai. Maka diambilah asumsi seperti yang telah dipaparkan pada uji ini saat kriteria rasa dan aroma. Kesan beda nyata justru tidak diperoleh pada sampel yang berbeda namun pada sampel yang sama. Perbedaan antara merek Marjan dan merek Indomaret ini juga menjadi salah satu titik acuan mengapa pembedaan susah diidentifikasi. Tetapi, dapat disimpulkan bahwa dari segi rasa, aroma, dan warna keduanya memiliki karakteristik yang sama kuat dan relatif sama. Uji segitiga (triangle) merupakan salah satu bentuk pengujian pembedaan pada uji organoleptik, dimana dalam pengujian ini digunakan 3 macam sampel, dan sampel disajikan tanpa menggunakan pembanding. Uji ini digunakan untuk mengetahui perbedaan antar sampel yang disajikan, baik dari warna, rasa, maupun aroma. Dalam pengujian triangle, panelis diminta untuk memilih salah satu sampel dari tiga sampel yang disajikan, sehingga dapat diketahui perbedaan sifat di antara ketiga sampel tersebut. Pada uji pembeda segitiga diberikan satu sampel baku dan dua contoh yang diberikan. Sampel baku yang digunakan adalah susu dengan merek Ultra dan sampel lain dengan merek Indomilk. Sampel susu tersebut adalah sampel dengan kode 285, 513, dan 678. Dari kriteria warna diperoleh kesan yang berbeda pada sampel berbeda sebanyak 14. Dari jumlah terkecil untuk beda nyata maka diperoleh sampel yang berbeda berdasarkan panelis pada susu kode 285 sebanyak 5%. Maka dapat dikatakan untuk uji segitiga dalam kriteria warna ini, panelis bisa dikatakan terlatih karena memberikan kesan yang berbeda nyata pada tingkat 5%. Sedangkan untuk melakukan uji segitiga pada susu untuk kriteria kekentalan, rupanya panelis belum bisa melakukan pembedaan terhadap sampel baku dan sampel yang diberikan. Hal ini dibuktikan dengan ketidakjelasan dari hasil data yang diperoleh pada uji segitiga. Yakni kesan berbeda tidak memenuhi jumlah terkecil untuk dikatakan berbeda nyata. Dapat dikatakan bahwasannya panelis belum terlatih 8

Laporan Praktikum Pengawasan Mutu Kelompok 1

untuk melakukan uji pembeda segitiga untuk membedakan secara nyata tingkat kekentalan susu dengan sampel yang berbeda. Hasil yang diperoleh untuk perbedaannya kurang signifikan yakni secara berurutan pada kode 285, 513, dan 628 adalah 10, 5, dan 10. Penyimpul yang tidak memiliki kunci jawaban akan mengalami kesulitan dalam membaca data yang ada. Sampel yang seharusnya memiliki kesan berbeda terbesar adalah pada sampel 285. Jadi pada data kekentalan susu ini datanya kurang mengkualifikasi jumlah terkecil untuk beda nyata. Untuk kriteria lainnya yang diujikan pada uji pembeda segitiga ini adalah rasa. Pada uji ini jumlah panelis yang melakukan uji pada rasa susu sebanyak 25 orang. Jumlah panelis ini berkurang karena terdapat panelis yang tidak menyukai susu, sehingga tidak dapat melakukan terhadap uji pembeda segitiga pada kriteria rasa. Diperoleh kesan beda yang diperoleh pada ketiga sampel adalah secara berurutan untuk kode 285, 513, dan 628 adalah 18, 6, 3. Jumlah beda ini masuk dalam kriteria beda nyata yakni pada tingkat kesalahan 0,1%. Tinkat error minimal untuk jumlah panelis 25 adalah 13, 15 dan 17 untuk error 5%, 1%, dan 0,1%. Hal ini membuktikan bahwasanya beda nyata bisa dikenali oleh panelis yang melakukan uji ini. Dan panelis mengidentifikasi bahwa pada sampel kode 285 merupakan sampel yang berbeda dengan sampel baku yang ada. Panelis dikatakan cukup terlatih untuk membedakan secara nyata dengan memberi kesan berbeda pada uji ini. Hasil ini setelah dicocokkan dengan kunci jawaban benar, bahwasannya pada kode susu 285 merupakan susu yang memiliki merek berbeda dengan dua sampel lainnya yang memiliki kecendrungan sama karena berasal dari satu sumber. Pada praktikum kali ini, bahan-bahan yang digunakan untuk diuji secara organoleptik yaitu sirup, susu, dan keripik. Secara umum, sirup merupakan minuman yang memiliki rasa manis karena telah dicampur dengan gula (glukosa) dan susu yang digunakan merupakan produk susu yang biasa dijual di pasaran dengan rasa plain. Sedangkan untuk keripik sendiri rasa yang ditonjolkan yaitu rasa asin. Sirup yang digunakan pada uji pembedaan duo trio ada dua macam, yaitu sirup bermerk Marjan dan sirup bermerk Indomaret. Untuk contoh bakunya, yang digunakan adalah sirup Marjan. Kedua jenis sirup ini memiliki kandungan yang hampir sama sehingga dari rasa, warna, dan aromanya pun tidak terlalu berbeda atau tidak memiliki perbedaan yang sangat menonjol. Meskipun terdapat perbedaan diantara

Laporan Praktikum Pengawasan Mutu Kelompok 1

keduanya, baik rasa, warna, atau viskositasnya, hal ini disebabkan karena kualitas dari kedua produk tersebut yang belum tentu bisa disamakan. Untuk bahan atau sampel yang kedua yang digunakan pada uji pembeda pasangan yaitu keripik. Keripik yang digunakan adalah keripik singkong yang kandungan dasarnya antara lain singkong, garam, dan bahan tambahan lainnya. Keripik yang diberi kode 827 merupakan keripik singkong yang sama namun sudah mengalami penurunan mutu sehingga ketika digigit terasa lebih keras. Bahan atau sampel yang ketiga yaitu susu. Susu yang digunakan pada uji pembeda segitiga yaitu susu merk Ultra dengan kode 678 dan 513, sedangkan susu yang lainnya adalah susu merk Indomilk dengan kode 285. Secara umum, kedua brand susu ini memiliki rasa, aroma, dan kekentalan yang hampir sama namun masing-masing brand mungkin memiliki perlakuan khusus pada masing-masing produknya sehingga terdapat sedikit perbedaan dari kedua brand susu tersebut. Dalam melakukan penilaian, ada beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan dalam suatu pengujian, antara lain: motivasi, sensitivitas fisiologis, kesalahan psikologis, posisi bias, sugesti, Expectation error, dan Convergen error. Untuk memperoleh hasil pengujian yang berguna sangat tergantung pada terpeliharanya tingkat motivasi secara memuaskan, tetapi motivasi yang buruk ditandai dengan pengujian terburu-buru, melakukan pengujian semaunya,

partisipasinya dalam pengujian tidak sepenuh hati. Satu faktor penting yang dapat membantu tumbuhnya motivasi yang baik ialah dengan mengusahakan agar panelis merasa bertanggung jawab dan berkepentingan pada pengujian yang sedang dilakukan. Kedua, sensitivitas fisiologis, faktor-faktor yang dapat mencampuri fungsi indera terutama perasa dan pembauan. Ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan agar fungsi normal indera perasa dan pembauan tidak tercampuri antara lain tidak melakukan pengujian dalam periode waktu 1 jam setelah makan, tidak menggunakan panelis yang sedang sakit terutama yang mengganggu fungsi indera, pada pengujian rasa disarankan kepada panelis untuk berkumur dengan air tawar sebelum melakukan pengujian. Ketiga, kesalahan psikologis. Pada pengujian yang terutama dilakukan oleh panelis yang kurang paham dalam tipe pengujian dan bahan yang diuji sering terjadi kesalahan dalam cara penilaian. Adanya informasi yang diterima oleh seorang
Laporan Praktikum Pengawasan Mutu Kelompok 1

10

panelis sebelum pengujian akan berpengaruh pada hasilnya. Keempat, posisi bias. Dalam beberapa uji terutama uji segitiga. Gejala ini terjadi akibat kecilnya perbedaan antar sampel sehingga panelis cenderung memilih sampel yang ditengah sebagai sampel paling berbeda. Kelima, sugesti. Respon dari seoarang panelis akan mempengaruhi panelis lainnya. Oleh karena itu pengujian dilakukan secara individu. Keenam, efek kontras. Pemberian sampel yang berkualitas lebih baik sebelum sample lainnya mengakibatkan panelis terhadap sample yang berikutnya, sebab lebih rendah.panelis cenderung memberi mutu rata-rata. Ketujuh, Expectation error, terjadi karena panelis telah menerima informasi tentang pengujian. Oleh karena itu sebaiknya panelis diberikan informasi yang mendetail tentang pengujian dan sample diberi kode 3 digit agar tidak dapat dikenali oleh panelis. Kedelapan, Convergen error. Panelis cenderung memberikan penilaian lebih baik atau lebih buruk apabila didahului pemberian sample yang lebih baik atau lebih buruk. Kesembilan, Logical error. Mirip dengan stimulus error, dimana panelis memberikan penilaiannya berdasarkan karakteristik tertentu menurut logikanya. Karakteristik tersebut akan berhubungan dengan karakteristik lainnya (Permadi, 2011).

Laporan Praktikum Pengawasan Mutu Kelompok 1

11

IV.

PENUTUP

A. Kesimpulan Aplikasi dari uji ini dalam suatu industri yaitu uji ini dapat digunakan untuk menilai pengaruh beberapa macam perlakuan modifikasi proses atau bahan dalam pengolahan pangan suatu industri. Selain itu, uji ini juga untuk mengetahui adanya perbedaan dan persamaan antara dua produk dari komoditi yang sama. Diantara ketiga uji pembeda, uji segitiga adalah yang paling baik digunakan. Karena, pada uji ini terdapat contoh baku dan panelis diminta untuk memilih salah satu sampel dari tiga sampel yang disajikan, sehingga dapat diketahui perbedaan sifat di antara ketiga sampel tersebut. Tingkat beda nyata kerenyahan keripik adalah 0,1%. Sedangkan tidak ada perbedaan signifikan pada rasa karena hanya 18 dari 26 jumlah minimal. Beda nyata untuk uji segitiga susu adalah warna 5%, kekentalan tidak dapat disimpulkan karena data berbeda dengan hasil yang sebenarnya. Sedankan untuk rasa sebesar 0,1%. Untuk uji duo trio memiliki tingkat error 1%. Tetapi dapat disimpulkan bahwasannya dari segi rasa, aroma, dan warna keduanya memiliki karakteristik yang sama kuat dan relatif sama.

B. Saran Untuk mendapatkan hasil yang akurat dibutuhkan panelis yang terlatih sebagai acuan dan koreksi agar lebih baik.

Laporan Praktikum Pengawasan Mutu Kelompok 1

12

DAFTAR PUSTAKA

Larmond, E. 1975. Methods for Sensory Evaluation of Food. Ottawa: Canada Department of Agriculture. Muda M. 2011. Uji Duo Trio. [terhubung berkala]

http://achmadgusfahmi.blogspot.com (01 Oktober 2012) Permadi R. 2011. Uji Organoleptik Metode Duo Trio dan Triangle Test. terhubung berkala] http://permadikakak.wordpress.com (01 Oktober 2012) Susiwi S. 2009. Penilaian organoleptik. Bandung: Fakultas Matematika dan IPA,Universitas Pendidikan Indonesia. http://scribd.com. [1 Oktober 2012]

Laporan Praktikum Pengawasan Mutu Kelompok 1

13

LAMPIRAN
Uji Pembeda Pasangan Keripik Kerenyahan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 Jumlah 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 1 0 1 1 1 23 Rasa 0 0 1 1 0 0 1 1 1 1 1 1 0 0 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 18 25 26 Jumlah Panelis Jumlah Terkecil untuk Beda Nyata Tingkat 5% 13 14 1% 15 15 0,10% 17 17 Tabel jumlah terkecil untuk menyatakan beda nyata pada uji segitiga dengan hipotesis berekor dua Jumlah Panelis 26 Jumlah Terkecil untuk Beda Nyata Tingkat 5% 19 1% 20 0,10% 22 Tabel jumlah terkecil untuk menyatakan beda nyata pada uji pasangan, uji duo trio dengan hipotesis berekor dua

Panelis

Uji Duo Trio

Laporan Praktikum Pengawasan Mutu Kelompok 1

14

Sirup Panelis 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 Jumlah 342 0 0 1 1 1 1 1 0 1 1 0 0 1 1 1 0 0 0 1 1 1 0 1 0 1 0 15 Rasa 734 1 0 0 0 1 0 1 0 1 0 0 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 16 342 0 0 1 1 0 0 1 0 1 1 0 1 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 8 Aroma 734 0 1 0 0 1 1 0 1 0 0 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 1 1 15 342 0 0 1 0 0 0 0 0 0 1 0 1 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1 0 8 Warna 734 1 1 0 1 1 1 1 1 1 0 1 0 0 1 0 1 0 1 0 1 1 1 0 0 1 1 17

Uji Pembeda Segitiga

Laporan Praktikum Pengawasan Mutu Kelompok 1

15

Susu Panelis 285 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 Jumlah 0 0 0 1 1 1 1 1 0 1 0 0 1 1 1 0 0 0 0 1 0 0 1 1 1 1 14 Warna 513 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 4 678 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1 0 0 0 0 6 285 0 1 0 1 1 1 0 1 0 1 1 1 0 0 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 10 Kekentalan 513 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1 0 1 0 0 0 0 0 1 0 0 5 678 1 0 0 0 0 0 1 0 1 0 0 0 0 1 0 1 0 0 0 0 1 1 1 0 1 1 10 285 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 1 0 * 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 0 18 Rasa 513 0 0 0 0 0 0 1 0 1 1 1 0 0 * 0 0 0 0 1 0 1 0 0 0 0 0 6 678 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 * 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 1 3

* : tidak mencicipi karena tidak suka

Laporan Praktikum Pengawasan Mutu Kelompok 1

16

Kunci Jawaban 1. Pembeda Pasangan 827 dan contoh baku berbeda Pembeda Segitiga Susu Ultra : 678 dan 513 Susu Indomilk : 285 Pembeda Duo Trio Contoh baku : Marjan Kode 734 : Marjan Kode 342 : Indomart

2.

3.

Laporan Praktikum Pengawasan Mutu Kelompok 1