Anda di halaman 1dari 11

Klasifikasi kehilangan gigi: (1) Klasifikasi Kennedy: (a) Klas I : Area edentulous terletak di bagian posterior dari gigi

yang masih ada dan berada pada kedua sisi rahang.

Gambar 2.1 Klas I Kennedy Sumber: Gunadi dkk., 1991. (b) Klas II : Area edentulous terletak di bagian posterior dari gigi yang masih ada, tetapi hanya berada pada salah satu sisi rahang saja.

Gambar 2.2 Klas II Kennedy Sumber: Gunadi dkk., 1991.

(c)

Klas III

: Area edentulous terletak di bagian posterior maupun anterior dari gigi-gigi yang masih ada dan hanya pada salah satu rahang saja .

Gambar 2.3 Klas III Kennedy Sumber: Gunadi dkk., 1991. (d) Klas IV : Area edentulous melewati garis tengah rahang dan terletak pada bagian anterior dari gigi-gigi yang masih ada.

Gambar 2.4 Klas IV Applegate-Kennedy Sumber: Gunadi, dkk., 1991.

(2)

Klasifikasi Applegate-Kennedy: Applegate membuat 8 aturan untuk memudahkan aplikasi atau penerapan klasifikasi yang dibuatnya, antara lain yaitu:

(a)

Penentuan klasifikasi dilakukan setelah semua pencabutan gigi selesai dilaksanakan.

(b)

Apabila gigi molar III hilang dan tidak ingin diganti, maka gigi ini tidak dilibatkan dalam penentuan klasifikasi.

(c)

Apabila gigi molar III masih ada dan digunakan sebagai gigi penyangga, maka gigi ini dilibatkan dalam penentuan klasifikasi.

(d)

Apabila gigi molar II sudah hilang dan tidak ingin diganti, maka gigi ini tidak dilibatkan dalam penentuan klasifikasi.

(e)

Area edentulous paling posterior selalu menentukan klas utama dalam klasifikasi.

(f)

Area edentulous lain dari yang sudah ditetapkan dalam klasifikasi masuk dalam modifikasi dan disebut sejumlah daerah atau ruangan

edentulousnya. Berikut ini adalah pembagian klas menurut Applegate: (a) Klas I Area edentulous sama seperti klasifikasi kehilangan gigi menurut Kennedy. Kondisi klas I lebih sering dijumpai pada pasien yang telah beberapa tahun kehilangan giginya dan pada rahang bawah. Kondisi klinis dari klas I antara lain terdapat variasi pada derajat resorpsi dari residual ridge, terjadi pengurangan jarak antar lengkung rahang bagian posterior dan stabilitas dari gigi tiruan yang akan dipasang dipengaruhi oleh tenggang waktu pasien tak bergigi. Gigi tiruan sebagian lepasan dengan desain bilateral dan perluasan basis distal menjadi pilihan perawatan prostodontik untuk klas ini. (b) Klas II Area edentulous sama seperti klasifikasi kehilangan gigi menurut Kennedy. Kondisi klinis pada klas II antara ain terlihat resorpsi tulang alveolar yang lebih banyak daripada klas I, gigi antagonis relatif lebih ekstrusi dan tidak teratur daripada klas I, terkadang diperlukan

pencabutan 1 atau lebih dari gigi antagonis yang ekstrusi, dan gangguan TMJ karena pengunyahan satu sisi. Gigi tiruan sebagian lepasan dengan desain bilateral dan perluasan basis distal menjadi pilihan perawatan prostodontik untuk klas ini. (c) Klas III Area edentulous paredental dengan kedua gigi tetangganya tidak lagi mampu member dukungan untuk protesa secara keseluruhan. Kondisi klinis pada klas III antara lain area edentulous panjang, bentuk atau panjang dari akar gigi tetangganya kurang memadai, resorspsi servikal pada tulang alveolar di sekitarnya disertai goyangnya gigi tetangga secara berlebihan dan adanya beban oklusal yang belebihan. Gigi tiruan sebagian lepasan dengan desain bilateral dan dukungan gigi (tooth borne) menjadi pilihan perawatan prostodontik untuk klas ini.

Gambar 2.5 Klas III Applegate-Kennedy Sumber: Gunadi, dkk., 1991 (d) Klas IV Area edentulous sama seperti klasifikasi kehilangan gigi menurut Kennedy. Pembuatan GTSL dapat dilakukan bila resopsi tulang alveolar yang cukup banyak, penyusunan gigi dengan overjet yang besar sehingga membutuhkan banyak gigi penyangga, jumlah gigi penyangga yang memadai lebih dari satu untuk mendistribusikan daya kunyah dengan rata, dibutuhkan retensi dan dukungan tambahan untuk gigi penyangga dan

mulut pasien depresif sehingga penebalan sayap akan meningkatkan nilai estetika. Gigi tiruan cekat diindikasikan untuk klas IV bila gigi tetangga masih kuat, alternatif lain yaitu GTSL dengan desain bilateral dan dukungan gigi atau jaringan atau kombinasi. Gigi Tiruan sebagian lepasan lebih dianjurkan bila kasus meragukan.

(e)

Klas V Area edentulous paredental dengan keadaan gigi pada sisi anteriornya tak mampu menjadi gigi penyangga. Alasan gigi anterior tidak mampu menjadi penyangga ialah karena bentuk atau panjang dari akar gigi kurang memadai sebagai gigi penjangkar, tulang alveolar yang lemah, daya oklusal yang besar, dan area edentulous yang luas. GTSL dengan desain bilateral dan basis yang berujung bebas di bagian anterior menjadi pilihan perawatan prostodontik untuk klas ini.

Gambar 2.6 Klas V Appplegate Kennedy Sumber: Gunadi dkk., 1991. (f) Klas VI Area edentulous paredental dengan gigi tetangga asli pada sisi anterior dan posteriornya dapat menjadi gigi penyangga. Kondisi klinis pada klas VI antara laon area edentulous tidak luas, bentuk atau panjang akar gigi tetanga mamdai sebagai gigi penyangga, sisa tulang alveolar

memadai, dan daya kunyah pasien tidak besar. Gigi tiruan cekat dan GTSL tooth borne dengan desain unilateral (protesa sadel) menjadi plihan perawatan prostodontik untuk klas ini.

Gambar 2.7 Klas VI Applegate Kennedy Sumber: Gunadi dkk, 1991. Klasifikasi Applegate Kennedy juga mengenal modifikasi untuk area edentulous tambahan selain keenam klas di atas. Berikut aturan penulisan untuk modifikasi: (a) Klasmodifikasi A apabila ada tambahan area edentulous yang terletak di area anterior. (b) Klasmodifikasi P apabila ada tambahan area edentulous yang terletak di area posterior. (c) Penambahan ruang lebih dari satu di muka huruf petunjuk modifikasi diberi tambahan angka Arab sesuai dengan jumlah area edentulous tambahan. Misalnya Klas V modifikasi 2A berarti klas V klasifikasi Applegate Kennedy dengan tambahan area pada bagian anterior. (d) Khusus klas IV Applegate Kennedy tidak ada tambahan modifikasi.

(3)

Klasifikasi Mauk (a) Klas I : Area edentulous bilateral posterior dengan gigi asli yang tersisa pada segmen dia bagain anterior.

Gambar 2.8 Klas I Klasifikasi Mauk Sumber: Bhaskaran, 2010. (b) Klas II : Area edentulous bilateral posterior dengan 1 atau lebih gigi asli yang tersisa berada di bagian posterior salah satu sisi rahang.

Gambar 2.9 Klas II Klasifikasi Mauk Sumber: Bhaskaran, 2010. (c) Klas III : Area edentulous bilateral posterior dengan 1 atau lebih gigi asli yang tersisa berada di bagian posterior pada kedua sisi rahang.

Gambar 2.10 Klas III Klasifikasi Mauk Sumber: Bhaskaran, 2010. (d) Klas IV : Area edentulous sama seperti Klas II Klasifikasi Kennedy.

Gambar 2.11 Klas IV Klasifikasi Mauk Sumber: Bhaskaran, 2010. (e) Klas V : Area edentulous sama seperti Klas IV Klasifikasi Kennedy.

Gambar 2.12 Klas V Klasifikasi Mauk Sumber: Bhaskaran, 2010.

(f)

Klas VI

: Area edentulous berpola irregular di sepanjang rahang. Gigi yang hilang dapat satu atau berkelompok.

Gambar 2.13 Klas VI Klasifikasi Mauk Sumber: Bhaskaran, 2010. (4) Klasifikasi Austin dan Lidge : (a) Klas A yaitu area edentulous terletak di segmen anterior. Terdapat 3 kelompok yaitu A1 dengan 1 area edentulous di bagian anterior, A2 dengan 2 area edentulous di bagian anterior dan A B1 dengan area edentulous di bagian anterior pada kedua rahang.

Gambar 2.14 Klas A1, A2 dan A B1 Klasifikasi Austin dan Lidge Sumber: Bhaskaran, 2010.

(b)

Klas P yaitu area edentulous terletak di segmen posterior. Terdapat 3 kelompok yaitu P1 dengan area edentulous di bagian posterior tanpa distal extension pada salah satu sisi rahang, P2 dengan area edentulous di bagian anterior di bagian posterior di kedua sisi rahang tanpa distal extension dan P B1 dengan area edentulous di bagian posterior pada kedua rahang dengan distal extension.

Gambar 2.15 Klas P1, P2 dan P B1 Klasifikasi Austin dan Lidge Sumber: Bhaskaran, 2010. (c) Klas AP area edentulous terletak di segmen anterior dan posterior. Terdapat 2 kelompok yaitu AP 1 dengan 1 area edotulous di segmen anterior dan posterior pada salah satu sisi rahang, dan AP 2 dengan area edotulous di segmen anterior dan posterior pada kedua sisi rahang.

Gambar 2.16 Klas AP1 dan AP2 Klasifikasi Austin dan Lidge Sumber: Bhaskaran, 2010.

(5)

Klasifikasi Swenson