Anda di halaman 1dari 26

BAB I PENDAHULUAN

Kornea merupakan bagian anterior dari mata, yang merupakan bagian dari media refraksi, kornea juga berfungsi sebagai membran pelindung dan jendela yang dilalui berkas cahaya menuju retina. Kornea terdiri atas 5 lapis yaitu epitel, membran bowman, stroma, membran descemet, dan endotel. Endotel lebih penting daripada epitel dalam mekanisme dehidrasi dan cedera kimiawi atau fisik pada endotel jauh lebih berat daripada cedera pada epitel. Kerusakan sel-sel endotel menyebabkan edema kornea dan hilangnya sifat transparan. Sebaliknya cedera pada epitel hanya menyebabkan edema lokal sesaat pada stroma kornea yang akan menghilang bila sel-sel epitel itu telah beregenerasi.1,2 Keratitis adalah suatu peradangan kornea yang disebabkan oleh bakteri, virus, dan jamur. Keratitis dapat diklasifikasikan berdasarkan lapis kornea yang terkena seperti keratitis superficial dan profunda, atau berdasarkan penyebabnya. Keratitis diklasifikasikan berdasarkan lapisan pada kornea yang terkena, keratitis superfisial dan keratitis profunda, atau berdasarkan penyebabnya yaitu keratitis karena berkurangnya sekresi air mata, keratitis karena keracunan obat, keratitis reaksi alergi, infeksi, reaksi kekebalan, reaksi terhadap konjungtivitis menahun.
2,3,4

Pada Keratitis sering timbul rasa sakit yang berat oleh karena kornea bergesekan dengan palpebra, karena kornea berfungsi sebagai media untuk refraksi sinar dan merupakan media pembiasan terhadap sinar yang yang masuk ke mata maka lesi pada kornea umumnya akan mengaburkan penglihatan terutama apabila lesi terletak sentral dari kornea. Fotofobia terutama disebabkan oleh iris yang meradang Keratitis dapat memberikan gejala mata merah, rasa silau dan merasa ada yang mengganjal atau kelilipan. 3,4

Beberapa faktor resiko yang dapat meningkatkan kejadian terjadinya keratitis antara lain perawatan lensa kontak yang buruk, Herpes genital atau infeksi virus lain, kekebalan tubuh yang menurun karena penyakit lain, higienis dan nutrisi yang tidak baik Klasifikasi keratitis berdasarkan lokasi yang terkena dari lapisan kornea : 1. Keratitis superfisialis a. Keratitis epitelial 1) Keratitis pungtata superfisialis 2) Herpes simplek 3) Herpes zoster b. Keratitis subepitelial 1) Keratitis didiformis dari Westhoff 2) Keratitis numularis dari Dimmer c. Keratitis stromal 1)Keratitis neuroparalitik 2. Keratitis profunda a. Keratitis sklerotikan b. Keratitis intersisial c. Keratitis disiformis 3 Di Indonesia kekeruhan kornea masih merupakan masalah kesehatan mata sebab kelainan ini menempati urutan kedua penyebab kebutaan dan bila terlambat di diagnosis atau diterapi secara tidak tepat akan mengakibatkan kerusakan stroma dan meninggalkan jaringan parut yang luas. Pada referat ini akan dibahas mengenai keratitis numularis

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1. Anatomi dan Fisiologi Kornea

Gambar 1. Kornea

Kornea (latin cornum = seperti tanduk) adalah selaput bening mata, bagian selaput mata yang tembus cahaya. Kornea transparan (jernih), bentuknya hampir sebagian lingkaran dengan diameter vertikal 10-11mm dan horizontal 11-12mm, tebal 0,6-1mm terdiri dari 5 lapis .Kemudian indeks bias 1,375 dengan kekutan pembiasan 80%. Sifat kornea yang dapat ditembus cahaya ini disebabkan oleh
3

struktur kornea yang uniform, avaskuler dan diturgesens atau keadaan dehidrasi relative jaringan kornea, yang dipertahankan oleh pompa bikarbonat aktif pada endotel dan oleh fungsi sawar epitel dan endotel. Endotel lebih penting daripada epitel dalam mencegah dehidrasi, dan cedera kimiawi atau fisik pada endotel jauh lebih berat daripada cedera pada epitel. Kerusakan sel-sel endotel jauh menyebabkan sifat transparan hilang dan edema kornea, sedangkan kerusakan epitel hanya menyebabkan edema lokal sesaat karena akan menghilang seiring dengan regenerasi epitel. Kornea dipersarafi oleh banyak serat saraf sensoris terutama saraf siliaris longus, saraf nasosiliaris, saraf ke V saraf siliaris longus berjalan supra koroid , masuk kedalam stroma kornea, menembus membrane bowman melepaskan selubung Schwannya. Seluruh lapis epitel dipersarafi sampai kedua lapis terdepan tanpa ada akhir saraf. Bulbus Krause untuk sensasi dingin ditemukan didaerah limbus. Daya regenerasi saraf sesudah dipotong didaerah limbus terjadi dalam waktu 3 bulan. Trauma atau penyakit yang merusak endotel akan mengakibatkan system pompa endotel terganggu sehingga dekompensasi endotel dan terjadi edema kornea. Endotel tidak mempunyai daya regenerasi.

Gambar 2. Lapisan Kornea

Kornea merupakan lapis jaringan yang menutup bola mata sebelah depan dan terdiri atas lapis:

1. Epitel Bentuk epitel gepeng berlapis tanpa tanduk. Bersifat fat soluble substance. Ujung saraf kornea berakhir di epitel oleh karena itu kelaianan pada epitel akan menyebabkan gangguan sensibilatas korena dan rasa sakit dan mengganjal. Daya regenerasi cukup besar, perbaikan dalam beberapa hari tanpa membentuk jaringan parut. Tebalnya 50um, terdiri atas sel epitel tidak bertanduk yang saling tumpang tindih; satu lapis sel basal, sel poligonal dan sel gepeng. Pada sel basal sering terlihat mitosis sel, dan sel muda ini
5

terdorong kedepan menjadi lapis sel sayap dan semakin maju kedepan menjadi sel gepeng, sel basal berikatan erat dengan sel basal disampingnya dan sel poligonal didepannya melalui desmosom dan makula okluden; ikatan ini menghambat pengaliran air, elektrolit dan glukosa yang merupakan barrier. Sel basal menghasilkan membran basal yang melekat erat kepadanya. Bila terjadi gangguan akan menjadi erosi rekuren. Epitel berasal dari ektoderm permukaan.2 2. Membrana Bowman Terletak di bawah membran basal epitel kornea yang merupakan kolagen yang tersusun tidak teratur seperti stroma dan berasal dari bagian depan stroma. Mempertahankan bentuk kornea Lapis ini tidak mempunyai daya regenerasi. Kerusakan akan berakhir dengan terbentuknya jaringan parut.2 3. Stroma Lapisan yang paling tebal dari kornea. Bersifat water soluble substance. Terdiri atas jaringan kolagen yang tersusun atas lamel-lamel, pada permukaan terlihat anyaman yang teratur sedang dibagian perifer serat kolagen bercabang. Stroma bersifat higroskopis yang menarik air, kadar air diatur oleh fungsi pompa sel endotel dan penguapan oleh sel epitel. Gangguan dari susunan serat kornea terlihat keruh. Terbentuknya kembali serat kolagen sampai 15 bulan. Keratosit memakan waktu lama yang kadang-kadang

merupakan sel stroma kornea yang merupakan fibroblast terletak di antara serat kolagen stroma. Diduga keratosit membentuk bahan dasar dan serat kolagen dalam perkembangan embrio atau sesudah trauma.2 4. Membran Descemet Lapisan tipis yang bersifat kenyal, kuat dan tidak berstruktur dan bening terletak dibawah stroma dan pelindung atau barrier infeksi dan masuknya pembuluh darah. Merupakan membrane selular dan merupakan batas belakang stroma kornea dihasilkan. sel endotel dan merupakan membrane basalnya. Bersifat sangat elastis dan berkembang terus seumur hidup, mempunyai tebal 40um.2
6

5. Endotel Satu lapis sel terpenting untuk mempertahankan kejernihan kornea, mengatur cairan didalam stroma kornea, tidak mempunyai daya regenerasi, pada kerusakan bagian ini tidak akan normal lagi. Dapat rusak atau terganggu fungsinya akibat trauma bedah, penyakit intra okuler dan usia lanjut jumlah mulai berkurang. Berasal dari mesotalium, berlapis satu bentuk heksagonal besar 20-40um. Endotel melekat pada mebran descemet melalui hemi desmosom dan zonula okluden.2 Kornea dipersyarafi oleh banyak saraf sensorik terutama berasal dari saraf siliar longus, saraf nasosiliar, saraf V saraf siliar longus berjalan suprakoroid, masuk ke dalam stroma kornea, menembus membran bowman melepaskan selubung Schwannya. Seluruh lapis epitel di persyarafi sampai pada kedua lapis terdepan tanpa ada akhir syaraf. Bulbus Krause untuk sensasi dingin ditemukan di daerah limbus. Daya regenerasi syaraf sesudah dipotong di daerah limbus terjadi dalam waktu 3 bulan. Kornea bersifat avaskular, mendapat nutrisi secara difusa dari humor aquos dan dari tepi kapiler. Bagian sentral kornea menerima oksigen secara tidak langsung dari udara, melalui oksigen yang larut dalam lapisan air mata, sedangkan bagian perifer, menerima oksigen secara difusa dari pembuluh darah siliaris anterior. 4 Trauma atau penyakit yang merusak endotel akan mengakibatkan sistem pompa endotel terganggu sehingga dekompensasi endotel dan terjadi edema kornea. Endotel tidak memiliki daya regenerasi. 4 Pembiasan sinar terkuat dilakukan oleh kornea, dimana 40 dioptri dari 50 dioptri pembiasan sinar masuk kornea dilakukan oleh kornea. Transparansi kornea disebabkan oleh strukturnya yang seragam, avaskularitas dan detrugensi.4 Lapisan epitel merupakan sawar yang efisien terhadap masuknya mikroorganisme ke dalam kornea. Cedera pada epitel mengakibatkan stroma dan membran bowman mudah terkena infeksi, seperti bakteri, amuba dan jamur.
7

Kortikosteroid lokal maupun sistemik akan mengubah reaksi imun hospes dengan berbagai cara dan memungkinkan terjadi infeksi oportunistik.2 Kornea memiliki banyak serabut nyeri sehingga lesi kornea dapat menimbulkan rasa sakit dan fotofobia. Rasa sakit diperhebat oleh gesekan palpebra (terutama palpebra superior) pada kornea dan menetap sampai sembuh. Lesi kornea pada umumnya dapat mengaburkan penglihatan terutama pada lesi di tengah kornea.2 Fotofobia kornea terjadi akibat kontraksi dari iris yang meradang. Dilatasi pembuluh darah iris merupakan fenomena refleks yang disebabkan oleh iritasi pada ujung saraf kornea. Meskipun mata berair dan fotofobia umumnya menyertai penyakit kornea namun kotoran mata hanya terjadi pada ulkus bakteri purulenta.

2.2 Keratitis 2.2.1 Definisi Keratitis adalah suatu kondisi dimana kornea bagian depan mata mengalami inflamasi. Kondisi ini sering ditandai dengan rasa nyeri,kemudian berkembang menjadi photofobia atau rasa silau bila terkena cahaya dan dapat terjadi gangguan penglihatan. Keratitis dapat terjadi pada setiap kelompok usia dan tidak dipengaruhi oleh jenis kelamin.

Gambar 3. Keratitis 8 2.2.2 Etiologi Penyebab keratitis bermacam-macam, seperti infeksi bakteri, virus maupun jamur (virus herpes simpleks merupakan penyebab tersering), kekeringan kornea, pajanan cahaya yang terlalu terang, benda asing, reaksi alergi terhadap kosmetik, debu, polusi atau bahan iritan lainnya, kekurangan vitamin A dan penggunaan lensa kontak yang kurang baik.2

2.2.3 Gejala dan Tanda Keratitis a. Gejala keratitis 1,2,4


Mata terasa sakit Gangguan penglihatan Trias keratitis (lakrimasi, fotofobia dan blefarospasme)

b. Tanda keratitis 1,2,4

Infiltrat (berisi infiltrat sel radang, kejernihan kornea berkurang, terjadi supurasi dan ulkus)

Neovaskularisasi (superfisial bentuk bercabang-cabang, profunda berbentuk lurus seperti sisir)

Injeksi perikornea Kongesti jaringan yang lebih dalam (iridosiklitis yang dapat disertai hipopion)

2.2.4 Stadium Perjalanan Keratitis Stadium infiltrasi. Infiltrasi epitel stroma, sel epitel rusak, edema, nekrosis lokal. Hanya stadium 1 yang terjadi pada keratitis, sedangkan stadium 2 dan 3 terjadi pada keratitis lanjut seperti pada ulkus kornea. Gejala objektif pada stadium ini selalu ada dengan batas kabur, disertai tanda radang, warna keabu-abuan dan injeksi perikorneal.9 Stadium regresi. Ulkus disertai infiltrasi di sekitarnya,

vaskularisasi meningkat dengan tes flouresensi positif.9 Stadium sikatrik. Pada stadium ini terjadi epitelisasi, ulkus menutup, terdapat jaringan sikatrik dengan warna kornea kabur. Tanpa disertai tanda keratitis, batas jelas, tanpa tanda radang, warna keputihan dan tanpa injeksi perikorneal.9

2.3. Patofisiologi Karena kornea avaskular, maka pertahanan sewaktu peradangan tidak dapat segera datang. Maka badan kornea, sel-sel yang terdapat di dalam stroma segera bekerja sebagai makrofag baru kemudian disusul oleh pembuluh darah yang terdapat di limbus dan tampak sebagi Injeksi perikornea. Sesudahnya baru
10

terjadi infiltrat, yang tampak sebagai bercak bewarna kelabu, keruh, dan permukaan yang licin. Kemudian dapat terjadi kerusakan epitel kornea dan timbul ulkus yang dapat menyebar ke permukaan dalam stroma. Pada peradangan yang hebat, toksin dari kornea dapat menyebar ke iris dan badan siliar dengan melalui membran descemet dan endotel kornea. Baru demikian iris dan Badan siliar meradang dan timbullah kekeruhan dicairan COA, disusul dengan terbentuknya hipopion. Bila peradangan terus mendalam, tetapi tidak mengenai membran descemet dapat timbul tonjolan membran descement yang disebut mata lalat atau descementocele. Pada peradangan dipermukaan kornea, penyembuhan dapat berlangsung tanpa pembentukan jaringan parut. Pada peradangan yang lebih dalam, penyembuhan berakhir dengan terbentuknya jaringan parut yang dapat berupa nebula, makula, atau leukoma. Bila ulkusnya lebih mendalam Lagi dapat timbul perforasi yang dapat mengakibatkan endoftalmitis, panoftalmitis, dan berakhir dengan ptisis bulbi.2

2.4. Klasifikasi Keratitis Keratitis diklasifikasikan menurut lapisan kornea yang terkena yaitu keratitis superfisialis apabila mengenal lapisan epitel atau Bowman dan keratitis profunda atau interstisialis (atau disebut juga keratitis parenkimatosa) yang mengenai lapisan stroma. Pada keratitis epitelial dan keratitis stromal, tes fluoresin (+), sedangkan pada keratitis subepitelial dan keratitis profunda, tes fluoresin (-). Menurut tempatnya, keratitis diklasifikasikan sebagai berikut:

I. Keratitis Superfisial 1. Keratitis epitelial a. Keratitis punctata superfisialis b. Herpes simpleks c. Herpes zoster 2. Keratitis subepitelial

11

a. Keratitis nummularis b. Keratitis disiformis 3. Keratitis stromal a. Keratitis neuroparalitik b. Keratitis et lagoftalmus II. Keratitis Profunda 1. Keratitis interstisial 2. Keratitis sklerotikans 3. Keratitis disiformis

2.5. Keratitis Superfisial

Keratitis superfisial dapat dibagi menjadi keratitis superfisial nonulseratif dan keratitis superfisial ulseratif.

2.5.1 Keratitis Superfisial nonulseratif a. Keratitis Pungtata Superfisial dari Fuchs Merupakan suatu peradangan akut, yang mengenai satu, kadang-kadang dua mata, mulai dengan konjungitivitis kataral, disertai dengan infeksi dari traktus respiratorius bagian atas. Disusul dengan pembentukan infiltrat yang berupa titik-titik pada kedua permukaan membran Bowman. Infiltrat tersebut dapat besar atau kecil dan dapat timbul hingga berratus-ratus. Infiltrat ini di dapatkan di bagian superfisial dari stroma, sedang epitel di atasnya tetap licin sehingga tes fluoresin (-) oleh karena letaknya di subepitelial.

12

Gambar 5. Keratitis pungtata superfisial

Penyebabnya adalah infeksi virus, bakteri, parasit, neurotropik, dan nutrisial.

b. Keratitis Numularis atau Keratitis Dimmer

Gambar 6. Keratitis Numularis Keratitis numularis disebut juga keratitis sawahica atau keratitis punctata tropica. Keratitis numularis diduga diakibatkan oleh virus. Diduga virus yang masuk ke dalam epitel kornea melalui luka setelah trauma. Replikasi virus pada sel epitel diikuti penyebaran toksin pada stroma kornea sehingga menimbulkan kekeruhan atau infiltrat berbentuk bulat seperti mata uang. Pada kornea terdapat
13

infiltrat bulat-bulat subepitelial dan di tengahnya lebih jernih, seperti halo. Tes fluoresinnya (-).2,3,7 Untuk melihat adanya defek pada epitel kornea dapat dilakukan uji fluoresin. Caranya, kertas fluoresin dibasahi terlebih dahulu dengan garam fisiologis kemudian diletakkan pada saccus konjungtiva inferior setelah terlebih dahulu penderita diberi anestesi lokal. Penderita diminta menutup matanya selama 20 detik, kemudian kertas diangkat. Defek kornea akan terlihat berwarna hijau dan disebut sebagai uji fluoresin positif.

c. Keratitis Disiformis dari Westhoff

Gambar 7. Keratitis disiformis

Disebut juga sebagai keratitis sawah, karena merupakan peradangan kornea yang banyak di negeri persawahan basah. Penyebabnya adalah virus yang berasal dari sayuran dan binatang. Pada anamnesa umumnya ada riwayat trauma dari lumpur sawah. Pada mata tanda radang tidak jelas, mungkin terdapat injeksi silier. Apabila disertai dengan infeksi sekunder, mungkin timbul tanda-tanda
14

konjungtivitis. Pada kornea tampak infiltrat yang bulat-bulat, di tengahnya lebih padat dari pada di tepi dan terletak subepitelial. Tes Fluoresin (-). 3 Terletak terutama dibagian tengah kornea. Umumnya menyerang orang-orang berumur 1530 tahun. d. Keratokonjungtivitis Epidemika

Keratokonjungtivitis epidemika umumnya bilateral. Awalnya sering pada satu mata saja, dan biasanya mata pertama lebih parah. Kekeruhan subepitel bulat. Sensasi kornea normal. Nodus preaurikuler yang nyeri tekan adalah khas. Edema palpebra, kemosis, dan hiperemia konjungtiva menandai fase akut. Folikel dan perdarahan konjungtiva sering muncul dalam 48 jam. Dapat membentuk pseudomembran dan mungkin diikuti parut datar atau pembentukan simbelfaron. 2,
4

Konjungtivitis berlangsung paling lama 3-4 minggu. Kekeruhan subepitel terutama terdapat di pusat kornea, bukan di tepi, dan menetap berbulan-bulan namun tidak meninggalkan jaringan parut ketika sembuh. 4 Keratokonjungtivitis epidemika pada orang dewasa terbatas pada bagian luar mata. Namun, pada anakanak mungkin terdapat gejala sistemik infeksi virus seperti demam, sakit tenggorokan, otitis media, dan diare.4 Keratokonjungtivitis epidemika disebabkan oleh adenovirus tipe 8, 19, 29, dan 37 (subgroub D dari adenovirus manusia). Virus-virus ini dapat diisolasi dalam biakan sel dan diidentifikasi dengan tes netralisasi. Kerokan konjungtiva menampakkan reaksi radang mononuklear primer; bila terbentuk pseudomembran, juga terdapat banyak neutrofil. 2 Transmisi nosokomial selama pemeriksaan mata sangat sering terjadi melalui jari-jari tangan dokter, alat-alat pemeriksaan mata yang kurang steril, atau pemakaian larutan yang terkontaminasi. Larutan mata, terutama anastetika topikal, mungkin terkontaminasi saat ujung penetes obat menyedot materi terinfeksi dari konjungtiva atau silia. Virus itu dapat bertahan dalam larutan itu, yang menjadi sumber penyebaran. 2,4
15

Kontaminasi botol larutan dapat dihindari dengan memakai penetes steril pribadi atau memakai tetes mata dengan kemasan unit-dose. Cuci tangan secara teratur di antara pemeriksaan dan pembersihan serta sterilisasi alat-alat yang menyentuh mata khususnya tonometer. Tonometer aplanasi harus dibersihkan dengan alkohol atau hipoklorit, kemudian dibilas dengan air steril dan dikeringkan dengan hati-hati. 4 2.5.2. Keratitis Superfisial Ulseratif a. Keratitis Pungtata Superfisial Ulserativa Penyakit ini didahului oleh konjungtivitis kataral, akibat stafilokok ataupun pneumokok. Tes fluoresin (+).4 b. Keratokonjungtivitis Flikten

Gambar 8.

Keratokonjungtivitis flikten

Merupakan radang kornea dan konjungtiva akibat dari reaksi imun yang mungkin sel mediated pada jaringan yang sudah sensitif terhadap antigen. Pada mata terdapat flikten yaitu berupa benjolan berbatas tegas berwarna putih keabuan yang terdapat pada lapisan superfisial kornea dan menonjol di atas permukaan kornea. 2,5

16

Bentuk ditemukannya

keratitis infiltrat

dengan dan

gambaran

bermacam-macam, pada kornea.

dengan Gambaran

neovaskularisasi

karakteristiknya adalah dengan terbentuknya papul dan pustula pada kornea ataupun konjungtiva. Pada mata terdapat flikten pada kornea berupa benjolan berbatas tegas berwarna putih keabuan, dengan atau tanpa neovaskularisasi yang menuju kearah benjolan tersebut. Biasanya bersifat bilateral yang dimulai dari daerah limbus. Pada gambaran klinis akan terlihat suatu keadaan sebagai hiperemia konjungtiva, kurangnya air mata, menebalnya epitel kornea, perasaan panas disertai gatal dan tajam penglihatan yang berkurang. Pada limbus di dapatkan benjolan putih kemerahan dikelilingi daerah konjungtiva yang hyperemia. Bila terjadi penyembuhan akan terjadi jaringan parut dengan noevaskularisasi pada kornea. Pada anak-anak keratitis flikten disertai gizi buruk dapat berkembang menjadi tukak kornea karena infeksi sekunder. Tukak flikten sering ditemukan berbentuk sebagai benjolan abu-abu, yang pada kornea terlihat sebagai: Ulkus fasikular, berbentuk ulkus yang menjalar melintas kornea dengan pembuluh darah jelas dibelakangnya. Flikten multipel di sekitar limbus Ulkus cincin, yang merupakan gabungan ulkus. c. Keratitis Herpetika

Keratitis herpes simpleks merupakan radang kornea yang disebabkan oleh infeksi virus herpes simpleks tipe 1 maupun tipe 2. Kelainan mata akibat infeksi herpes simpleks dapat bersifat primer dan kambuhan. lnfeksi primer ditandai oleh adanya demam, malaise, limfadenopati preaurikuler, konjungtivitis folikutans, bleparitis, dan 2/3 kasus terjadi keratitis epitelial. Kebanyakan kasus bersifat unilateral, walaupun dapat terjadi bilateral khususnya pada pasien-pasien atopi.
17

Berat ringannya gejala-gejala iritasi tidak sebanding dengan luasnya lesi epitel, berhubung adanya hipestesi atau insensibilitas kornea. Dalam hal ini harus diwaspadai terhadap keratitis lain yang juga disertai hipestesi kornea, misalnya pada: herpes zoster oftalmikus, keratitis akibat pemaparan dan mata kering, pengguna lensa kontak, keratopati bulosa, dan keratitis kronik. Gejala spesifik pada keratitis herpes simpleks ringan adalah tidak adanya fotofobia. Infeksi herpes simpleks laten terjadi setelah 2-3 minggu paska infeksi primer dengan mekanisme yang tidak jelas. Virus menjadi inaktif dalam neuron sensorik atau ganglion otonom. Dalam hal ini ganglion servikalis superior, ganglion nervus trigeminus, dan ganglion siliaris berperan sebagai penyimpan virus. Namun akhir-akhir ini dibuktikan bahwa jaringan kornea sendiri berperan sebagai tempat berlindung virus herpes simpleks6.

Gambar 9. Keratitis dendritik Keratitis superfisial dapat berupa pungtata, dendritik, dan geografik. Keratitis dendritika merupakan proses kelanjutan dari keratitis pungtata yang diakibatkan oleh perbanyakan virus dan menyebar sambil menimbulka kematian
18

sel serta membentuk defek dengan gambaran bercabang. Keratitis dendritika dapat berkembang menjadi keratitis geografika, hal ini terjadi akibat bentukan ulkus bercabang yang melebar dan bentuknya menjadi ovoid. Dengan demikian gambaran ulkus menjadi seperti peta geografi dengan kaki cabang mengelilingi ulkus. Keratitis herpes simpleks bentuk dendrit harus dibedakan dengan keratitis herpes zoster, pada herpes zoster bukan suatu ulserasi tetapi suatu hipertropi epitel yang dikelilingi mucus plaques; selain itu, bentuk dendriform lebih kecil. Keratitis epitelial dapat berkembang menjadi ulkus metaherpetik, dalam hal ini terjadi perobekan membrana basalis. Ulkus metaherpetik bersifat steril, deepitelisasi meluas sampai stroma. Ulkus ini berbentuk bulat atau lonjong dengan ukuran beberapa milimeter dan bersifat tunggal. Pada kasus ini dapat dijumpai adanya edema stroma yang berat disertai lipatan membrana descemet. Reaksi iritasi konjungtiva bersifat ringan akibat adanya hipestesia. Reflek lakrimasi berkurang, sehingga produksi tear film menjadi relatif tidak cukup. Ulkus metaherpetik dapat menetap dalam beberapa minggu sampai beberapa bulan. Untuk penyembuhannya memerlukan waktu sekurang-kurangnya 6 minggu. Klasifikasi Diagnosis: Hogan dkk. (1964) membuat klasifikasi diagnosis keratitis herpes simpleks sebagai berikut: 1. Superfisial, dibedakan atas bentuk dendritika, dendritika dan stroma, geografika. 2. Profunda, dibedakan atas stroma dan disciform, stroma dan penyembuhan, stroma dan ulserasi. 3. Uveitis, dibedakan atas kerato uveitis dan uveitis; dalam hal ini keratouveitis dibedakan atas bentuk ulserasi dan non ulserasi. Klasifikasi tersebut ternyata kurang sempurna, karena bentuk keratitis pungtata yang merupakan awal keratitis dendnitik tidak dimasukkan. Selain itu, pada beberapa kasus yang berat ternyata dijumpai glaukoma sekunder yang diakibatkan oleh radang jaringan trabekulum.
19

Untuk membuat diagnosis, sekarang ini dianut kiasifikasi yang dibuat oleh Pavan-Langston (1983) sebagai berikut: 1. Ulserasi epitelial, dibedakan atas bentuk pungtata, dendritika, dendrogeografika, geografika. 2. Ulserasi trophik atau meta herpetika. 3. Stroma, dibedakan atas bentuk keratitis disciform, keratitis interstitialis. 4. Uveitis anterior dan trabekulitis. Klasifikasi menurut Pavan-Langston inipun belum sempurna, mengingat sangat jarang ditemukan kasus uveitis anterior maupun trabekulitis yang berdiri sendiri tanpa melibatkan adanya keratitis.

d. Keratokonjungtivitis Sika

Gambar 10. Keratokonjungtivitis sika Keratokonjungtivitis sika adalah suatu keadaan keringnya permukaan kornea dan konjungtiva. Kelainan ini terjadi pada penyakit yang mengakibatkan : 1. Defisiensi komponen lemak air mata. Misalnya: blefaritis menahun, distikiasis dan akibat pembedahan kelopak mata. 2. Defisiensi kelenjar air mata: sindrom Sjogren, sindrom Riley Day, alakrimia congenital, aplasi congenital saraf trigeminus, sarkoidosis limfoma kelenjar air mata, obat-obat diuretik kimia, atropin dan usia tua.
20

3. Defisiensi komponen musin: benign ocular pemphigoid, defisiensi vitamin A, trauma kimia, sindrom Stevens Johnson, penyakit-penyakit yang mengakibatkan cacatnya konjungtiva. 4. Akibat penguapan yang berlebihan seperti pada keratitis neroparalitik, hidup di gurun pasir, keratitis lagoftalmus. 5. Karena parut pada kornea atau menghilangnya mikrovili kornea. Pada keratokonjungtivitis sika terdapat rasa gatal pada mata. Pada mata didapatkan sekresi mukus yang berlebihan. Sukar menggerakkan kelopak mata. Mata kering karena dengan erosi kornea. Pada pemeriksaan lama celah didapatkan miniskus air mata pada tepi kelopak mata bawah hilang, edema konjungtiva bulbi, filamen (benang-benang) melekat di kornea.1 2.6. Penatalaksanaan 2.6.1 Keratitis Superfisial nonulseratif a. Keratitis Pungtata Superfisial dari Fuchs Pengobatan yang dapat diberikan pada keratitis pungtata superfisial dari Fuchs adalah pengobatan lokal, yaitu salep antibiotik atau sulfa untuk mencegah terjadinya infeksi sekunder, dan dapat dikombinasi dengan kortikosteroid. b. Keratitis Numularis atau Keratitis Dimmer Tidak ada pengobatan yang spesifik terhadap penyakit ini. Obat-obatan hanya diberikan untuk mencegah infeksi sekunder. Untuk terapi lokal diberikan salep antibiotika yang dapat dikombinasi dengan kortikosteroid. c. Keratitis Disiformis dari Westhoff Untuk keratitis Disiformis dari Westhoff dapat diberikan salep mata antibiotik yang dapat dikombinasikan dengan kortikosteroid. Pada keratitis ini, biasanya perjalanan penyakit lama hingga berbulan-bulan.3

21

d. Keratokonjungtivitis Epidemika Pengobatan pada keadaan akut sebaiknya diberikan kompres dingin dan pengobatan penunjang lainnya. Lebih baik diobati secara konservatif. Bila terjadi kekeruhan pada kornea yang menyebabkan penurunan visus yang berat dapat diberikan steroid tetes mata 3 kali sehari. 2 Antibiotik sebaiknya diberikan apabila terdapat superinfeksi bakteri. 2.6.2. Keratitis Superfisial Ulseratif a. Keratitis Pungtata Superfisial Ulserativa Salep antibiotika atau sulfa yang sesuai dengan kumannya yang didapatkan atau memakai obat antibiotika yang berspektrum luas. b. Keratokonjungtivitis Flikten Pengobatan keratokonjungtivitis flikten adalah dengan memberi steroid lokal maupun sistemik. Flikten kornea dapat menghilang tanpa bekas namun apabila telah terjadi ulkus akibat infeksi sekunder dapat terjadi parut kornea. Dalam keadaan yang berat dapat terjadi perforasi kornea. c. Keratitis Herpetika Pengobatan kadang-kadang tidak diperlukan karena dapat sembuh spontan atau dapat sembuh dengan melakukan debridement. Dapat juga dengan memberikan obat antivirus topikal dan antibiotika topikal. Antivirus seperti IDU 0.1% diberikan setiap 1 jam atau asiklovir. Sebagian besar para pakar menganjurkan melakukan debridement sebelumnya. Debridement epitel kornea selain berperan untuk pengambilan spesimen diagnostik, juga untuk menghilangkan sawar epitelial sehingga antiviral lebih mudah menembus. Dalam hal ini juga untuk mengurangi subepithelial "ghost" opacity yang sering mengikuti keratitis dendritik. Diharapkan debridement juga mampu mengurangi kandungan virus epithelial sehingga reaksi radang akan cepat berkurang.

22

d. Keratokonjungtivitis Sika Pengobatan harus langsung bertujuan untuk mempertahankan lapisan air mata dengan menggantinya dengan air mata buatan. Pada keratokonjungtivitis pemberian 2.7. Prognosis Prognosis pada setiap kasus tergantung pada beberapa faktor, termasuk luas dan dalamnya lapisan kornea yang terlibat, ada atau tidaknya perluasan ke jaringan orbita lain, status kesehatan pasien (contohnya immunocompromised), virulensi patogen,ada atau tidaknya vaskularisasi dan deposit kolagen pada jaringan tersebut, waktu penegakkan diagnosis klinis yang dapat dikonfirmasi dengan pemeriksaan penunjang seperti kultur pathogen di laboratorium. Pasien dengan infeksi ringan dan diagnosis mikrobiologi yang lebih awal memiliki prognosis yang baik; bagaimana pun, kontrol dan eradikasi infeksi yang meluas didalam sklera atau struktur intraokular sangat sulit. Diagnosis awal dan terapi tepat dapat membantu mengurangi kejadian hilangnya penglihatan. Imunitas tubuh merupakan hal yang penting dalam kasus ini karena diketahui reaksi imunologik tubuh pasien sendiri yang memberikan respon terhadap virus ataupun bakteri. Pada keratitis superfisialis pungtata penyembuhan biasanya berlangsung baik meskipun tanpa pengobatan . yang berhubungan dosis rendah dengan dan Sjogren topikal sindrom kortikosteroid siklosporin

menunjukkan keefektifan.

BAB III KESIMPULAN


23

Keratitis adalah peradangan pada kornea yang ditandai dengan adanya infiltrat di lapisan kornea. Keratitis dapat diklasifikasikan berdasarkan lokasinya, yaitu superfisial, interstisial dan profunda. Keratitis superfisial adalah radang kornea yang mengenai lapisan epitel dan membran bowman. Keratitis dapat terjadi pada anak-anak maupun dewasa. Keratitis dapat memberikan gejala mata merah, rasa silau, epifora, nyeri, kelilipan, dan penglihatan menjadi sedikit kabur. Keratitis superfisial dapat dibagi menjadi : Keratitis superfisial nonulseratif, yang terdiri atas:
1. Keratitis pungtata superfisial dari Fuchs 2. Keratitis numularis dari Dimmer 3. Keratitis disiformis dari Westhoff 4. Keratokonjungtivitis epidemika

Keratitis superfisial ulseratif, yang terdiri atas :


1. Keratitis pungtata superfisial ulserativa 2. Keratitis flikten 3. Keratitis herpertika 4. Keratitis sika

Setiap etiologi menunjukan gejala yang berbeda beda tergantung dari jenis pathogen dan lapisan kornea yang terkena. Diagnosis keratitis dapat ditegakkan melalui pemeriksaan lampu celah. Dengan pemeriksaan lampu celah, penatalaksanaan keratitis dapat dilakukan dengan tepat dan sesuai dengan etiologi penyebabnya. Prognosis pada setiap kasus tergantung pada beberapa faktor, termasuk luasnya dan kedalaman lapisan kornea yang terlibat, ada atau tidak nya perluasan ke jaringan orbita lain, status kesehatan pasien (contohnya immunocompromised), virulensi patogen, ada atau tidaknya vaskularisasi dan deposit kolagen pada jaringan tersebut.

DAFTAR PUSTAKA
24

1. American Academy of Ophthalmology. Externa disease and cornea. San


Fransisco 2007

2. Vaughan, Daniel G et al. 2010. Oftalmologi Umum edisi-14. Jakarta:


Widya Medika. Hal: 129 152

3. ILyas S. Mata merah dengan penglihatan turun mendadak. Dalam : Ilyas


S. Ilmu Penyakit Mata edisi 3; 2004. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Hal ; 149

4. Srinivasan M, et al. Distinguishing infectious versus non infectious


keratitis. Indian Journal of Opthalmology. 2006. 56:3; 50-56

5. Radjiman T, dkk. Ilmu Penyakit Mata. Airlangga. Surabaya, 1984 6. Zorab R A, Straus H,Dondrea, et.al. Fundamental and Principles of
Ophtalmology. Section 2. International ophtalmology american academy of ophtalmology. The Eye M.D;2008-2009. p.43

7. Lang G.Infectious Keratitis dalam Opthamology.A textbook Atlas.2nd


Edition 2006.

8. Kaye SB, Lynas C, Patterson A, Risk JM, McCarthy K, Hart CA.


Evidence for herpes simplex viral latency in the human cornea, Bri Ophthalmol 1991; 75: 195200

9. Anonym. 2010. Keratitis. Faculty of Harvard Medical School, National


Eye Institute. Diakses tanggal 29 Maret 2013

10. Wilson. SA. 2008. Management of Corneal Abrasion. www.aafp.com,


diakses tanggal 30 Maret 2013

11. Anatomy of Eye. 2010. www.medscape.com, diakses tanggal 30 Maret


2013
25

12. Opthalmology of Evaluation. 2010. www.medscape.com, diakses tanggal


30 Maret 2013

13. Keratitis. 2012. www.medscape.com, diakses tanggal 30 Maret 2013

26