Anda di halaman 1dari 7

PERBANDINGAN MASING-MASING PERUBAHAN TERHADAP UU HAK CIPTA DI INDONESIA Perbandingan UU Nomor 6 Tahun 1982 tentang Hak Cipta dengan

n UU Nomor 7 Tahun 1987 sebagai Perubahan Pertama atas UU Nomor 6 Tahun 1982 Pada UU No 7 Tahun 1987 sebagai Perubahan Pertama terhadap UU No 6 Tahun 1982, lebih diatur lebih jauh dan lebih khusus lagi terhadap perlindungan karya ciptaan di Indonesia. Pada Pasal 1 UU No. 7 Tahun 1987 ditambahkan lagi beberapa pengertian istilah yang sebelumnya tidak ada di dalam UU No 6 Tahun 1982, yaitu pengertian Pemegang Hak Cipta dan pengertian Program Komputer. Sehingga, Pasal 1 yang semula berjumlah 5 butir menjadi 7 butir yang masing-masing menjelaskan tentang pengertian: Pencipta, Pemegang Hak Cipta, Ciptaan, Pengumuman, Perbanyakan, Potret dan Program Komputer. Lalu, UU No 6 Tahun 1982 juga dilakukan berbagai perubahan dalam bunyi-bunyi pasalnya dalam UU No 7 Tahun 1987, namun secara inti isi dari pasal-pasal yang diubah tersebut tetap mengatur tentang hal yang sama tidak jauh berbeda. Dalam UU No 6 Tahun 1982, Pasal 10 ayat (3) dan (4), mengatur tentang suatu Hak cipta atas ciptaan yang dijadikan milik negara dengan sepengetahuan pemilik Hak Cipta tersebut dengan Keputusan Presiden dan diberikan sejumlah penghargaan kepada pemilik Hak Cipta tersebut oleh Presiden. Dalam UU No 7 Tahun 1987, kedua ayat tersebut dihapuskan. Ditambahkan juga ketentuan mengenai suatu ciptaan yang diketahui belum ada penciptanya, maka otomatis Negaralah yang memegang Hak Cipta atas karya ciptaan tersebut (Pasal 10 A). Mengenai jenis-jenis karya ciptaan yang dilindungi oleh UU Hak Cipta, dalam UU No 6 Tahun 1982, jenis karya ciptaan yang dilindungi adalah (Pasal 11 ayat (1)): Dalam undang-undang ini ciptaan yang dilindungi ialah ciptaan dalam bidang ilmu, sastra dan seni yang meliputi karya: a. Buku, pamflet dan semua hasil karya tulis lainnya; b. Ceramah, kuliah, pidato dan sebagainya; c. Karya pertunjukan seperti musik, karawitan, drama, tari, pewayangan, pantomim dan karya siaran antara lain untuk media radio, televisi, film dan rekaman; d. Ciptaan musik dan tari (koreografi), dengan atau tanpa teks; e. Segala bentuk seni rupa seperti seni lukis dan seni patung; f. Karya arsitektur; g. Peta; h. Karya sinematografi; i. Karya fotografi; j. Terjemahan, tafsir, saduran, dan penyusunan bunga rampai. Sedangkan, pada UU No 7 Tahun 1987, ayat tersebut diubah menjadi sebagai berikut: Dalam Undang-undang ini ciptaan yang dilindungi adalah ciptaan dalam bidang ilmu pengetahuan, seni, dan sastra yang meliputi karya :

a. Buku, pamflet, dan semua hasil karya tulis lainnya; b. Ceramah, kuliah, pidato, dan sebagainya; c. Pertunjukan seperti musik, karawitan,drama, tari, pewayangan, pantomim dan karya siaran antara lain untuk media radio, televisi, dan film, serta karya rekaman video; d. Ciptaan tari (koreografi), ciptaan lagu atau musik dengan atau tanpa teks, dan karya rekaman suara atau bunyi; e. Segala bentuk seni rupa sepertiseni lukis, seni pahat, seni patung ,dan kaligrafi yang perlindungannya diatur dalam Pasal 10 ayat (2); f. Seni batik; g. Arsitektur; h. Peta; i. Sinematografi; j. Fotografi; k.Program Komputer atau Komputer Program; l.Terjemahan, tafsir, saduran, dan penyusunan bunga rampai". Berdasarkan pada kedua bunyi pasal tersebut, dapat ditemukan bahwa UU No 7 Tahun 1987 memperluas jenis-jenis karya ciptaan yang dilindungi sebagai tambahan dari UU No 6 Tahun 1982. Mengenai ketentuan penerjemahan suatu karya ciptaan berbahasa asing ke dalam Bahasa Indonesia demi kepentingan nasional, yang diatur dalam Pasal 15, kedua undangundang tersebut menunjukkan perbedaan yang signifikan. Pada UU No 6 Tahun 1982, penerjemahan karya ciptaan berbahasa asing ke dalam bahasa Indonesia bukanlah suatu pelanggaran Hak Cipta jika ciptaan yang berasal dari negara lain tersebut sedikitnya 3 tahun sejak diterbitkan belum pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia atau bahasa daerah dan penterjemah telah meminta izin terjemahan dari pemegang hak cipta, tetapi izin itu tidak diperoleh dalam waktu 1 tahun sejak permintaan diajukan. Dan, untuk penterjemahan apabila izin terjemahan dari pemegang hak cipta tidak turun, dilakukan sesuai izin dari Menteri Kehakiman, dan Menteri Kehakiman juga harus memberikan imbalan kepada si pemegang hak cipta. Sedangkan pada UU No 7 Tahun 1987, ketentuan pasal tersebut diubah menjadi : (1). Untuk kepentingan pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kegiatan penelitian dan pengembangan, sesuatu ciptaan yang dilindungi Hak Cipta dan selama 3 (tiga) tahun sejak diumumkan belum diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia atau diperbanyak di wilayah Negara Republik Indonesia, Pemerintah setelah mendengar pertimbangan Dewan Hak Cipta dapat : a.mewajibkan Pemegang Hak Cipta untuk melaksanakan sendiri penerjemahan dan/atau perbanyakan ciptaan tersebut di wilayah Negara Republik Indonesia dalam waktu yang ditentukan; b.mewajibkan Pemegang Hak Cipta yang bersangkutan untuk memberikan izin kepada orang lain untuk menerjemahkan dan/ atau memperbanyak ciptaan tersebut di wilayah Negara Republik Indonesia dalam waktu yang ditentukan, dalam hal Pemegang Hak Cipta yang bersangkutan tidak melaksanakan sendiri atau menyatakan ketidaksediaan untuk melaksanakan sendiri kewajiban sebagaimana dimaksud dalam huruf a; c.melaksanakan sendiri penerjemahan dan/atau perbanyakan ciptaan tersebut, dalam hal Pemegang Hak Cipta tidak melaksanakan kewajiban sebagaimana dimaksud dalam huruf b.

(2). Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf b dan huruf c disertai pemberian imbalan yang besarnya ditetapkan oleh Pemerintah. (3). Pelaksanaan lebih lanjut ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 16 UU No 6 Tahun 1982 juga mengalami penghapusan, semula pasal ini mengatur tentang perbanyakan terhadap karya cipta bangsa asing yang diperbanyak di wilayah Indonesia yang sebelumnya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Namun, dalam UU No 7 Tahun 1987, ketentuan Pasal 16 tersebut dihapus dan diganti dengan ketentuan baru yang mengatur tentang pelarangan pengumuman setiap ciptaan yang bertentangan dengan kebijaksanaan Pemerintah di bidang pertahanan dan keamanan negara, kesusilaan dan ketertiban umum. Pengaturan tentang masa berlaku Hak Cipta yang telah diatur dalam UU No 6 Tahun 1982 Pasal 26 dan 27, mengalami perubahan di dalam UU No 7 Tahun 1987. Dalam UU No 7 Tahun 1987, Pasal 26 dan 27, masa berlaku Hak Cipta diperpanjang hingga 50 tahun setelah pencipta meninggal dunia yang sebelumnya hanya 25 tahun saja untuk jenis ciptaan : a.buku, pamflet dan semua hasil karya tulis lainnya; b.seni tari (koreografi); c.segala bentuk seni rupa seperti seni lukis, seni pahat, dan seni patung; d.seni batik; e.ciptaan lagu atau musik dengan atau tanpa teks, dan f.karya arsitektur. Untuk karya ciptaan : a.karya pertunjukan seperti musik, karawitan, drama, tari, pewayangan, pantomim dan karya siaran antara lain untuk media radio, televisi, dan film, serta karya rekaman video; b.ceramah, kuliah, pidato, dan sebagainya; c.peta; d.karya sinematografi, e.karya rekaman suara atau bunyi; f.terjemahan, dan tafsir; berlaku selama 50 (lima puluh) tahun sejak pertama kali diumumkan. Dan yang semula hanya 15 tahun, menjadi 25 tahun setelah karya ciptaan diumumkan untuk jenis ciptaan : a.karya fotografi; b.program komputer atau komputer program; c.saduran dan penyusunan bunga rampai. Jenis karya ciptaannya juga disebutkan dalam pasal-pasal tersebut, yang pada UU No 6 tahun 1982 tidak menyebutkan spesifikasi jenis karya ciptaan apa saja untuk mendapatkan masa berlaku hak ciptanya. Dalam UU No 6 Tahun 1982, telah diatur mengenai pendaftaran penciptaan sebagimana tertera dalam Bab III. Pada UU No 7 Tahun 1987, ditegaskan dalam Pasal 29 (4), yang merupakan ketentuan tambahan yang semula Pasal 29 hanya terdiri dari 3 pasal, mengenai apabila tidak dilakukan pendaftaran terhadap suatu karya cipta, bukan merupakan halangan bagi pencipta untuk tidak mendapatkan hak ciptanya. Jadi, ketentuan pendaftaran karya ciptaan itu bukanlah syarat mutlak untuk didapatkannya hak cipta atas suatu hasil karya cipta. Tentang ketentuan pidana apabila terdapat pelanggaran terhadap hak cipta, UU No 6 Tahun 1982 di dalam Pasal 44 telah menentukan sanksi-sanksi pidananya. Dan dalam UU No 7 Tahun 1987, ketentuan pidana dalam Pasal 44 diubah lagi. Berikut adalah perbandingan dari kedua pasal tersebut : - UU No 6 Tahun 1982 Pasal 44 : (1) Barangsiapa dengan sengaja melanggar hak cipta, dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun atau denda setinggi-tingginya Rp. 5.000.000,(lima juta rupiah). (2) Barangsiapa menyiarkan, memamerkan atau menjual kepada umum suatu ciptaan yang diketahuinya melanggar hak cipta, dipidana dengan pidana penjara

paling lama 9 (sembilan) bulan atau denda setinggi-tingginya Rp. 5.000.000,(lima juta rupiah). (3) Barangsiapa dengan sengaja melanggar ketentuan Pasal 18 dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) bulan atau denda setinggi-tingginya Rp. 500.000,- (limaratus ribu rupiah). (4) Tindak pidana tersebut dalam pasal ini adalah kejahatan. UU No 7 Tahun 1987 Pasal 44 : (1)Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak mengumumkan atau memperbanyak suatu ciptaan atau memberi izin untuk itu, dipidana dengan pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 100.000.000,- (seratus juta rupiah). (2)Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta sebagaimana *5853 dimaksud dalam ayat (1), dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah). (3)Barangsiapa dengan sengaja melanggar ketentuan Pasal 16, dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 25.000.000,-(dua puluh lima juta rupiah). (4)Barangsiapa dengan sengaja melanggar ketentuan Pasal 18, dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 15.000.000,-(lima belas juta rupiah)."

Jelas terlihat bahwa dalam UU No 7 Tahun 1987, perlindungan terhadap hak cipta lebih disorot dan diperhatikan dibandingkan dengan UU No 6 Tahun 1982 seiring dengan penambahan jumlah sanksi pidana apabila terjadi suatu pelanggaran terhadap hak cipta dan dikategorikan sebagai tindak kejahatan. Di dalam UU No 7 Tahun 1987 ditambahkan satu bab baru yang berbunyi B AB VI A PENYIDIKAN yang sebelumnya belum diatur dalam ketentuan UU No 6 Tahun 1982. Perbandingan UU Nomor 12 Tahun 1997 sebagai Perubahan Kedua atas UU Nomor 6 Tahun 1982 Tentang Hak Cipta UU Nomor 6 Tahun 1982 tentang Hak Cipta setelah dilakukan amandemen dengan UU No 7 Tahun 1987, dilakukan perubahan kembali untuk kedua kalinya dengan UU No 12 Tahun 1997. Perubahan ini memberikan beberapa perubahan dan tambahan ketentuan yang sebelumnya belum diatur dalam UU No 6 Tahun 1982 sebagaimana telah diubah dengan UU No 7 Tahun 1987. Pada Pasal 1 tentang Arti Beberapa Istilah, ditambahkan 4 ketentuan baru yang menjadikan Pasal 1 berubah jumlahnya dari 7 butir menjadi 11 butir. Ketentuan tersebut ialah pengertian tentang istilah Pelaku, Produser Rekaman Suara, Lembaga Penyiaran dan Kantor Hak Cipta. Ketentuan mengenai pengertian Pengumuman juga diubah dalam UU ini. Ketentuan pada Pasal 2 juga diubah dengan menambah ketentuan yang dijadikan ayat (2) dan (3) yaitu ketentuan mengenai hak untuk memberi izin atau melarang orang lain yang tanpa persetujuan dari Pencipta atau Penerima Hak Cipta menyewakan ciptaan tersebut untuk kepentingan yang bersifat komersial.

Dalam undang-undang ini pada Pasal 10A, diatur mengenai suatu karya ciptaan yang telah diterbitkan namun belum diketahui siapa pencipta dari karya tersebut. Hal ini belum ada dalam undang-undang sebelumnya pada pasal yang sama pula, yang hanya mengatur secara umum tentang karya ciptaan yang belum diketahui siapa penciptanya, tanpa memperhatikan apakah ciptaan itu telah atau belum diterbitkan. Apabila ciptaan belum diterbitkan, maka pemegang Hak Cipta adalah Negara, sedangkan apabila ciptaan telah diterbitkan maka yang memegang Hak Cipta adalah Penerbit. Keduanya dilakukan atas dasar untuk kepentingan penciptanya. Untuk jenis-jenis karya ciptaan yg dilindungi Undang-Undang Hak Cipta, dalam undangundang ini juga dilakukan perubahan lagi, sehingga Pasal 11 ayat (1) menjadi seperti berikut: (1) Dalam Undang-undang ini ciptaan yang dilindungi adalah ciptaan dalam ilmu pengetahuan, seni dan sastra yang meliputi karya: a. buku, program komputer, pamflet, susunan perwajahan karya tulis yang diterbitkan, dan semua hasil karya tulis lainnya; b. ceramah, kuliah, pidato dan ciptaan lainnya yang diwujudkan dengan cara diucapkan; c. alat peraga yang dibuat untuk kepentingan pendidikan dan ilmu pengetahuan; d. ciptaan lagu atau musik dengan atau tanpa teks, termasuk karawitan, dan rekaman suara; e. drama, tari (koreografi), pewayangan, pantomim; f. karya pertunjukan; g. karya siaran; h. seni rupa dalam segala bentuk seperti seni lukis, gambar, seni ukir, seni kaligrafi, seni pahat, seni patung, kolase, seni terapan yang berupa seni kerajinan tangan; i. arsitektur; j. peta; k. seni batik; l. fotografi; m. sinematografi; n. terjemahan, tafsir, saduran, bunga rampai, dan karya lainnya dari hasil pengalihwujudan. Dalam pasal tersebut ditambahkan lagi jenis karya ciptaan dan dijelaskan lebih spesifik lagi karya ciptaan apa saja yang dapat dilindungi oleh Undang-Undang Hak Cipta, yang sebelumnya belum diatur dalam UU No 6 Tahun 1982 sebagaimana telah diubah dengan UU No 7 Tahun 1987. Sedangkan untuk masa berlakunya suatu ciptaan, ada ketentuan baru yang memasukkan kategori karya susunan perwajahan karya tulis yang diterbitkan, diberikan hak cipta selama 25 tahun semenjak diumumkannya ciptaan tersebut. Ditambahkan pula pengaturan mengenai jangka waktu perlindungan bagi hak pencipta yang sebelumnya tidak ada dalam ketentuan UU No 6 tahun 1982. Disisipkan di antara Pasal 28 dan 29, aturan mengenai hal tersebut dicantumkan dalam Pasal 28A dan 28B.

UU No 12 Tahun 1997 mengatur tentang hal baru di dalam lingkup Hak Cipta, yaitu peraturan mengenai Lisensi, yang sebelumnya sama sekali belum muncul dalam UU No 6 Tahun 1982 maupun UU No 7 Tahun 1987. Peraturan baru ini dicantumkan dalam BAB IIIA tentang Lisensi. Pada bab tentang Lisensi diberikan 3 pasal sebagai dasar pengaturannya, yaitu Pasal 38A sampai Pasal 38C. Untuk judul pada BAB V diubah dari Hak dan Wewenang Menuntut menjadi Hak dan Wewenang Menggugat. Lalu pada Pasal 42 juga dilakukan perubahan dari : (1) Hak cipta memberikan hak untuk menyita benda yang diumumkan bertentangan dengan hak cipta itu serta perbanyakan yang tidak diperbolehkan, dengan cara dan dengan memperhatikan ketentuan yang ditetapkan untuk penyitaan benda bergerak baik untuk menuntut penyerahan benda tersebut menjadi miliknya ataupun untuk menuntut supaya benda itu dimusnahkan atau dirusak sehingga tidak dapat dipakai lagi. Hak cipta tersebut juga memberi hak yang sama untuk penyitaan dan penuntutan terhadap jumlah uang tanda masuk yang dipungut untuk menghadiri ceramah, pertunjukan atau pameran yang melanggar hak cipta itu. (2) Jika dituntut penyerahan benda sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), maka hakim dapat memerintahkan bahwa penyerahan itu baru dilaksanakan setelah dibayar ganti rugi oleh orang yang menuntut kepada pihak yang beritikad baik. (3) Jika ciptaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 merupakan pelanggaran, pemegang hak cipta berhak mengajukan gugatan ke pengadilan negeri, selain untuk mendapat ganti rugi juga supaya pengadilan negeri memerintahkan pelanggar mengadakan perubahan sedemikian rupa, sehingga pelanggaran hak cipta itu ditiadakan, dengan ketentuan bahwa pelanggar diharuskan membayar sejumlah uang sebagai ganti rugi apabila dalam waktu yang ditentukan perintah pengadilan negeri itu tidak dilaksanakan, dengan tidak mengurangi tuntutan pidana terhadap pelanggaran hak cipta . Menjadi : (1) Pemegang Hak Cipta berhak untuk mengajukan gugatan ganti rugi ke pengadilan negeri atas pelanggaran Hak Ciptanya dan meminta penyitaan terhadap benda yang diumumkan atau hasil perbanyakannya. (2) Dalam hal terdapat gugatan untuk penyebaran benda sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), maka Hakim dapat memerintahkan bahwa penyerahan itu baru dilaksanakan setelah Pemegang Hak Cipta membayar sejumlah nilai benda yang diserahkan kepada pihak yang beritikad baik. (3) Pemegang Hak Cipta juga berhak untuk meminta kepada pengadilan negeri agar memerintahkan penyerahan seluruh atau sebagian penghasilan yang diperoleh dari penyelenggaraan ceramah dan pertemuan ilmiah lainnya, atau pertunjukan atau pameran karya yang merupakan hasil pelanggaran Hak Cipta atau dengan cara melanggar Hak Cipta tersebut. (4) Untuk mencegah kerugian yang lebih besar pada pihak yang haknya dilanggar, Hakim dapat memerintahkan pelanggar untuk menghentikan kegiatan pembuatan, perbanyakan, penyiaran, pengedaran, dan penjualan ciptaan atau barang yang merupakan hasil pelanggaran Hak Cipta. Dan dalam Bab tersebut juga ditambahkan 2 pasal, yaitu Pasal 43A dan Pasal 43B. Pada UU No 12 Tahun 1997 ini muncul lagi sebuah bab baru yang sebelumnya belum ada dalam undang-undang yang sebelumnya, yaitu BAB VA mengenai HAK-HAK YANG

BERKAITAN DENGAN HAK CIPTA. Diberikan 3 pasal yang memberikan ketentuan untuk hal tersebut. Salah satu dari ketiga pasal tersebut memberikan ketentuan jangka waktu perlindungan bagi : a. Pelaku yang menghasilkan karya pertunjukan berlaku selama 50 (lima puluh) tahun sejak karya tersebut diwujudkan atau dipertunjukkan; b. Produser rekaman suara yang menghasilkan karya rekaman suara berlaku selama 50 (lima puluh) tahun sejak karya tersebut selesai direkam; c. Lembaga penyiaran yang menghasilkan karya siaran berlaku selama 20 (dua puluh) tahun sejak karya siaran tersebut pertama kali disiarkan. Pada UU No 7 Tahun 1987, Pasal 45 ditentukan mengenai ciptaan atau barang yang merupakan hasil pelanggaran Hak Cipta dirampas untuk Negara guna dimusnahkan. Dalam UU No 12 Tahun 1997, ditambahkan ketentuan baru untuk ciptaan yang merupakan hasil pelanggaran Hak Cipta diserahkan kepada Pemegang Hak Cipta, sepanjang Pemegang Hak Cipta yang bersangkutan telah mengajukan gugatan perdata atas perkara pelanggaran Hak Cipta tersebut sesuai dengan ketentuan Pasal 42.