Anda di halaman 1dari 9

Hubungan Antara Asas Pacta Sun Servanda dengan Asas Rebus Sic Stantibus

A. Latar Belakang Permasalahan Interaksi antar negara dalam kemajuan era globalisasi saat ini menjadi semakin meningkat dikarenakan semakin saling membutuhkannya antara negara yang satu dengan yang lain. Tidah hanya antar negara saja akan tetapi juga meliputi subyek hukum internasional lain seperti organisasi internasional.1 Saat ini hubungan antar negara tidak hanya terikat pada batas wilayah akan tetapi juga terkait politik, ekonomi, perdagangan, pertahanan, hukum dan kebudayaan. Oleh sebab itu perjanjian internasional sebagai suatu dokumen hukum telah menjadi keseharian kegiatan suatu negara.2 Hubungan antar negara ini seringkali dituangkan dalam suatu perjanjian internasional. Pengertian perjanjian internasional sendiri dapat kita temukan dalam pengertian yuridis, diantaranya adalah sebagai berikut : 1. Konvensi Wina 1969 An international agreement concluded between states in written form and governed by international law, whether embodied in a single instrument or in two or more related instruments and whatever its particular designation3 Perjanjian Internasional adalah semua perjanjian yang dibuat oleh negara sebagai salah satu subyek Hukum Internasional, yang diatur oleh hukum internasional dan berisi ikatan-ikatan yang mempunyai akibat-akibat hukum 2. Konvensi Wina 1986 Perjanjian internasional sebagai persetujuan internasional yang diatur menurut hukum internasional dan ditanda tangani dalam

JG Starke, Perngantar hukum Internasional, Edisi Kesepuluh, Sinar Grafika, Jakarta, 2010, hlm 815 2 Eddy Pratomo, Hukum Perjanjian Internasional, PT Alumni, Bandung, 2011, hlm 1 3 Pasal 2 Konvensi Wina 1969 1

bentuk tertulis antara satu negara atau lebih dan antara satu atau lebih organisasi internasional, antar organisasi internasional. 3. UU No 37 Tahun 1999 tentang Hubungan Luar Negeri Perjanjian internasional adalah perjanjian dalam bentuk dan sebutan apapun yang diatur oleh hukum internasional dan dibuat secara tertulis oleh pemerintah RI dengan satu atau lebih negara, organisasi internasional atau subjek hukum internasional lainnya, serta menimbulkan hak dan kewajiban pada pemerintah RI yang bersifat hukum publik. 4. UU No. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional Perjanjian internasional adalah perjanjian dalam bentukdan nama tertentu yang diatur dalam hukum internasional yang dibuat secara tertulis serta menimbulkan hak dan kewajiban di bidang hukum publik. Dari beberapa pengertian diatas maka dapat kita tarik unsur-unsur dari suatu perjanjian internasional, yaitu (1) Dilakukan oleh subyek hukum internasional; (2) tertulis; (3) Bersifat Publik; (4) Diatur oleh hukum internasional; (5) Menimbulkan hak dan kewajiban.4 Secara lengkap ketentuan terkait perjanjian internasional telah diatur dalam vienna convention. Vienna Convention on the Law of Treaties 1969 (Vienna Convention 1969) mengatur mengenai Perjanjian Internasional Publik antar Negara sebagai subjek utama hukum internasional. Konvensi ini pertama kali open for ratification pada tahun 1969 dan baru entry into force pada tahun 1980. Sebelum adanya Vienna Convention 1969 perjanjian antar negara, baik bilateral maupun multilateral, diselenggarakan semata-mata berdasarkan asas-asas seperti, good faith5, pacta sunt servanda dan perjanjian tersebut terbentuk atas consent dari negara-negara di dalamnya. Singkatnya sebelum keberadaan Vienna Convention 1969 Perjanjian Internasional antar Negara diatur berdasarkan kebiasaan internasional yang berbasis pada praktek Negara dan keputusankeputusan Mahkamah Internasional atau Mahkamah Permanen Internasional

Mochtar Kusumaatmadja, Pengantar Hukum Internasional, Putra Abardin, Jakarta, 1999, hlm 84

Perjanjian internasional harus dilakukan dengan itikad baik. 2

(sekarang sudah tidak ada lagi) maupun pendapat-pendapat para ahli hukum internasional (sebagai perwujudan dari opinion juris).6 Akan tetapi setelah diberlakukannya konvensi vienna maka segala hal yang berkaitan dengan perjanjian internasional akan didasarkan pada konvensi ini. Dalam konvensi vienna terdapat beberapa asas hukum internasional. Antara lain adalah asas yang paling penting yaitu pacta sunservanda dengan good faith. Pacta sunservanda dikatan sangat penting dan fundamental dikarenakan asas tersebut yang melandasi lahirnya perjanjian, termasuk perjajian internasional dan melandasi dilaksanakannya perjanjian sesuai dengan apa yang diperjanjikan oleh para pihak.7 Pacta sun servanda dikatakan sangat fundamental karena menururt asas inilah yang menjadi dasar suatu perjanjian mengikat sebagaimana undangundang bagi yang membuatnya. Selain itu terdapat pula asas dasar hukum internasional yang menakibatkan ketidakberlakuan dan/atau dibatalkannya suatu perjanjian internasional, yaitu asas jus cogens dengan asas rebus sic stantibus. Jus cogens merupakan suatu asas dasar yang digunakan sebagai rem darurat untuk perjanjian internasional yang berkaitan dengan pelanggaran nilai kemanuasiaan, antara lain genosida, perbudakan dan kejahatan kemanusiaan lainnya. Apabila terdapat perjanjian yang bertentangan dengan jus cogen maka perjanjian tersebut akan batal. Berbeda dengan jus cogens, asas rebus sic stantibus menerangkan bahwa suatu perjanjian yang telah berlaku akan terganggu berlakunya bila terjadi perubahan keadaan yang fundamental. Jika kita memahami secara mendalam pengertian dari pacta sun servanda dengan rebus sic stantibus, maka kita akan menemukan sesuatu yang sangat mengganjal diantara kedua asas ini bahkan cenderung bertentangan. Oleh karena itu sangat menarik untuk kita kaji hubungan antara kedua asas tersebut.

Anonim, 2005, http://www.hukumonline.com/ klinik/detail/cl4268/ konvensi-wina-1969induk-pengaturan -perjanjian-internasional, diakses 8 Oktober 2013 Harri Purwanto, Keberadaan asas rebus sic stantibus dalam perjanjian inernasional, 2010, Jurnal Opini Juris, Direktorat Jenderal Hukum Dan Perjanjian Internasional Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia. Jakarta 3

B. Hubungan Antara Asas Pacta Sun Servanda dengan Asas Rebus Sic Stantibus. Perjanjian internasional merupakan salah satu sumber hukum internasional. Dapat pula dikatakan bahwa didalam tubuh hukum internasional terdapat perjanjian internasional. Didalam tubuh hukum internasional sendiri sebagaimana dikemukakan oleh Starke, terdiri atas sekumpulan hukum yang sebagian besar terdiri atas prinsip-prinsip dan aturan tingkah laku yang mengikat negara-negara dan oleh karenannya ditaati dalam hubungan antar negara. Dalam perkembangannya, perjanjian internasional telah dijadikan sumber hukum dalam hubungan internasional dan telah menjadi bagian utama dalam hukum internasional. Dewasa ini hukum internasional sebagian besar terdiri dari perjanjian-perjanjian hukum internasional.8 Walaupun demikian perjanjian internasional yang merupakan perjanjian yang dilakukan antar negara yang saling mempunyai kedaulatan tidaklah boleh dibuat bertentangan dengan asas-asas hukum internasional. Ada suatu hal yang menarik untuk dikaji terkait asas dasar mengenai hubungan pacta sun servanda dengan asas rebus sic stantibus. Hubungan antara kedua asas ini menimbulkan pertanyaan apakah kedua asas ini bertentangan atau malah saling melengkapi. Jika kita melihat pengertian dari asas itu sendiri maka asas hukum merupakan sebuah aturan dasar atau merupakan prinsip hukum yang masih bersifat abstrak. Dapat pula dikatakan bahwa asas hukum merupakan dasar yang melatarbelakangi suatu peraturan yang bersifat kongkrit dan bagaimana hukum itu dapat dilaksanakan.9 Asas dalam bahasa inggris disebut dengan istilah principle sedangkan di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia asas dapat berarti hukum dasar atau dasar yakni sesuatu yang menjadi tumpuan berpikir atau berpendapat. Selain itu, asas juga diartikan sebagai dasar cita-cita.
8 9

internasional.

Bahkan

perjanjian

internasional

telah

mendesak dan menggeser posisi hukum kebiasaan internasional sebagai sumber

Ibid, hlm 63 Anonim, 2012, Asas Hukum, http://statushukum.com/asas-hukum.html, diakses 8 oktober 2013 4

Dari pengertian asas diatas maka tidaklah elok apabila kita mengatakan terdapat suatu pertentangan diantara hukum dasar. Asas sebagai suatu hukum dasar akan menjadi suatu landasan atau dasar dibentuknya suatu peraturan yang lebih konkrit. Maka apabila terdapat suatu pertentangan antara hukum dasar akan mengakibatkan pertentangan yang lebih luas pula pada hukum yang lebih konkrit. Sehingga hukum dasar harus bersinergi dan saling melengkapi. Memang dalam sejarahnya, hubungan antara pacta sun servanda dengan rebus sic stantibus adalah suatu pertentangan. Asas pacta sun servanda yang mengedepankan kepastian hukum sedangkan asas rebus sic stantibus lebih mengedepankan keadilan. Istilah Rebus sic stantibus berasal dari suatu kalimat bahasa latin yaitu contractus qui habent tractum succesivum et depentiam de future rebus sic stantibus intelligentur yang dapat diterjemahkan sebagai Perjanjian menentukan perbuatan selanjutnya untuk melaksanakannya pada masa yang akan datang harus diartikan tunduk kepada persyaratan bahwa lingkungan dan keadaan di masa yang akan datang tetap sama. Konsep rebus sic stantibus pertama kali diperkenalkan oleh pengadilanpengadilan agama (gereja) oleh ahli-ahli hukum kanonik pada abad XII dan XIII. Penerapannya pun semakin berkembang pada abad-abad berikutnya karena semakin banyak pengadilan dan ahli hukum yang menerapkan clausula rebus sic stantibus. Namun, pada sekitar akhir abad XVII, seiring dengan berkembangnya paham Liberalisme yang sepaham dengan aliran Lasse Faire10 atau lassez passe. Maka muncul perlawanan yang dilakukan oleh kaum burjois terhadap klausula tersebut karena ketidakamanan dan ketidaknyamanan dalam pelaksanaan kontrak bisnis yang dijalankan oleh kaum burjouis akibat menyebarluasnya konsep Rebus sic

10

Adalah sebuah frasa bahasa Perancis yang berarti "biarkan terjadi" (secara harafiah "biarkan berbuat"). Istilah ini berasal dari diksi Perancis yang digunakan pertama kali oleh parapsiokrat pada abad ke 18 sebagai bentuk perlawanan terhadap intervensi pemerintah dalam perdagangan. Laissez-faire menjadi sinonim untuk ekonomi pasar bebas yang ketat selama awal dan pertengahan abad ke-19. Secara umum, istilah ini dimengerti sebagai sebuah doktrin ekonomi yang tidak menginginkan adanya campur tangan pemerintah dalam perekonomian. 5

stantibus, sehingga pamornya sempat memudar dan secara perlahan digantikan oleh paham Pacta sunt servanda. Oleh karena itu kitab undang-undang yang dikeluarkan pada masa itu, yaitu Kode Napoleon dan Italian Civil Code tidak mengadopsi asas rebus sic stantibus. Tidak diakuinya asas rebus sic stantibus nampak dalam artikel 1134 Kode Napoleon yang berbunyi: Agreements legally made take the place of law for those who make them. They may be revoked only by mutual consent or for causes which the law authorize. They must be executed in good faith.11 Akan tetapi saat ini asas rebus sic stantibus telah diakui lagi keberadaannya dengan suatu modifikasi dan pembatasan yang jelas agar asas rebus sic stantibus dapat berjalan berdampingan dengan asas pacta sun servanda. Walaupun dalam asas pacta sun servanda perjanjian harus dilakukan tapi dalam perjalanannya banyak suatu keadaan yang berubah sehingga diperlukanlah suatu negosiasi ulang. Dalam hukum internasional asas rebus sic stantibus mendapatkan pengaturan dalam Konvensi Wina 1969, dalam Seksi 3 tentang Pengakhiran dan Penundaan bekerjanya perjanjian internasional. Pengaturan asas rebus sic stantibus bersamaan dengan berakhirnya atau penundaan berlakunya perjanjian, karena memang asas rebus sic stantibus merupakan salah satu alasan yang dapat digunakan untuk mengakiri atau menunda berlakunya suatu perjanjian.12 Rebus Sic Stantibus atau yang disebut pula dengan Fundamental Change of Circumstances sebagaimana Pasal 62 Vienna Convention on The Law of Treaties 1969, mengatur sebagai berikut: 1. A fundamental change of circumstances which has occurred with regard to those existing at the time of the conclusion of a treaty, and which was not foreseen by the parties, may not be invoked as a ground for terminating or withdrawing from the treaty unless: (a) the existence of those circumstances constituted an essential basis of the consent of the parties to be bound by the treaty; and (b) the effect of the change is radically to transform the extent of obligations still to be performed under the treaty.
11

Anonim, http:// perjanjian internasionalhilawyers.com /blog/?p=16, Pacta Sunt Servanda dan Rebus Sic Stantibus dalam Hukum Perjanjian, diakses tanggal 8 oktober 2013 12 Opcit, Harry Purwanto, Keberadaan asas rebus sic stantibus dalam perjanjian inernasional, hlm 72 6

2. A fundamental change of circumstances may not be invoked as a ground for terminating or withdrawing from a treaty: (a) if the treaty establishes a boundary; or (b) if the fundamental change is the result of a breach by the party invoking it either of an obligation under the treaty or of any other international obligation owed to any other party to the treaty. 3. If, under the foregoing paragraphs, a party may invoke a fundamental change of circumstances as a ground for terminating or withdrawing from a treaty it may also invoke the change as a ground for suspending the operation of the treaty. Terjemahan :
1. Suatu perubahan mendasar keadaan-keadaan yang telah terjadi terhadap

keadaan-keadaan yang ada pada saat penutupan traktat, dan yang tidak terlihat oleh para pihak, tidak dapat dikemukakan sebagai dasar untuk pengakhiran atau penarikan diri dari traktat tanpa: a) keberadaan keadaan-keadaan itu merupakan suatu dasar esensial bagi setujunya pihak-pihak untuk terikat pada traktat; dan b) pengaruh perubahan-perubahan itu secara radikal menggeser luasnya kewajiban-kewajiban yang masih harus dilaksanakan di bawah traktat itu. 2. Suatu perubahan mendasar keadaan-keadaan tidak boleh dikemukakan sebagai dasar untuk mengakhiri atau menarik diri dari traktat, jika: a) traktat itu menetapkan perbatasan; atau b) perubahan itu sebagai hasil dari pelanggaran oleh pihak yang mengemukakannya baik atas suatu kewajiban di bawah traktat itu atau setiap kewajiban internasional lainnya terhadap pihak lainnya pada traktat tersebut. 3. Jika sesuai dengan ayat-ayat di atas, suatu pihak boleh menuntut suatu perubahan keadaan-keadaan sebagai dasar untuk mengakhiri atau menarik diri dari suatu traktat maka pihak itu juga dapat menuntut perubahan itu sebagai dasar untuk menunda bekerjanya traktat itu. Walaupun tidak ditemukan secara tertulis bahwa ini merupakan asas rebus sic stantibus, akan tetapi apabila kita lihat dari pengertian dan ciri-ciri dari asas rebus sic stantibus maka kita akan menemukan kesamaannya dan tentu dengan suatu modifikasi agar dapat berjalan bersamaan dengan asas pacta sun servanda. Berdasarkan segala ketentuan tersebut di atas, yang dimaksud dengan Keadaan Memaksa sebagaimana yang dianut dalam KUHPer di Indonesia, merupakan definisi dari Force Majeure, yang tidak dapat dipersamakan dengan ketentuan rebus sic stantibus. Force Majeure merupakan suatu keadaan memaksa yang mengakibatkan suatu pelaksanaan perjanjian menjadi benar-benar tidak mungkin (impossible)

dikarenakan alasan secara fisik atau secara hukum, dengan mengabaika kesulitan ekonomi atau ketidakpastian-ketidakpastian ekonomi (economic imposibility), sedangkan dalam rebus sic stantibus, alasan tidak dilaksanakan perjanjian tersebut adalah karena pelaksanaan perjanjian tersebut sangat menyulitkan (onerous). Berdasarkan hal tersebut Mieke Komar Kantaatmadja jika terjadi perubahan yang mendasar sebagaimana diisyaratkan oleh Pasal 62 ayat 1 Konvensi Wina 1969 dan para pihak akan menghentikan perjanjian internasional atau menarik diri dari suatu perjanjian internasional apabila dipenuhi syaratsyarat sebagai berikut:13 1) perubahan suatu kedaan tidak terdapat pada waktu pembentukan perjanjian, 2) perubahan tersebut adalah perihal suatu keadaan yang fundamental bagi perjanjian tersebut, 3) perubahan tersebut tidak dapat diramalkan sebelumnya oleh parapihak, 4) akibat perubahan tersebut haruslah radikal, sehingga mengubah luas lingkup kewajiban yang harus dilaksanakan menurut perjanjian itu, 5) penggunaan asas tersebut tidak dapat diterapkan pada perjanjian perbatasan dan juga terjadinya perubahan keadaan akibat pelanggaran yang dilakukan oleh pihak yang mengajukan tuntuta.

Apabila digambarkan maka hubungan antara pacta sun servanda dengan rebus sic stantibus adalah :
Bertentangan dengan kemanusiaan Perjanjian Internasional Tidak bertentangan dan tidak mengalami perubahan keadaan fundamental Mengalami Perubahan Keadaan Fundamental Perubahan dasar esensial Perubahan batas wilayah Sumber : Kreatifitas Penulis
13

Batal

Tidak Batal Batal

Tidak Batal

Mieke Komar dalam Harri Purwanto, Keberadaan asas rebus sic stantibus dalam perjanjian inernasional, 2010, Jurnal Opini Juris, Direktorat Jenderal Hukum Dan Perjanjian Internasional Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia. Jakarta 8

C. Kesimpulan

1. Bahwa antara asas Pacta Sun Servanda dengan asas Rebus Sic Stantibus dalam konvensi vienna bekerja saling melengkapi untuk mendapatkan keadilan diantara para pihak yang melakukan perjanjian. Asas Rebus Sic Stantibus telah diatur dan diberikan batasan dalam penerapannya sehingga tidak mengurangi kepastian hukum dalam asas Pacta sun Servanda. 2. Bahwa asas rebus sic stantibus tidak dapat dijadikan sebagai alasan untuk melakukan perubahan perjanjian tanpa adanya alasan yang jelas dan perubahan situasi yang fundamental seperti yang telah diatur dalam konvensi vienna.

DAFTAR PUSTAKA
Eddy Pratomo. Hukum Perjanjian Internasional. Bandung. PT Alumni. 2011 Harri Purwanto. Keberadaan asas rebus sic stantibus dalam perjanjian inernasional. Jurnal Opini Juris. Jakarta; Direktorat Jenderal Hukum Dan Perjanjian Internasional Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia. 2010 JG Starke. Pengantar Hukum Internasional Edisi Kesepuluh. Jakarta; Sinar Grafindo. 2001 Mochtar Kusumaatmaja. Pengantar Hukum Internasional. Jakarta. Putra Abardin. 1999 Anonim, 2005, http://www.hukumonline.com/ klinik/detail/cl4268/ konvensi-wina-1969induk-pengaturan -perjanjian-internasional, diakses 8 Oktober 2013 Anonim, 2012, Asas Hukum, http://statushukum.com/asas-hukum.html, diakses 8 oktober 2013 Anonim, Pacta Sunt Servanda dan Rebus Sic Stantibus dalam Hukum Perjanjian, http:// perjanjian internasionalhilawyers.com /blog/?p=16, diakses tanggal 8 oktober 2013