Anda di halaman 1dari 21

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang

Gerak manusia dihasilkan oleh kontraksi otot yang menghasilkan gaya untuk menggerakkan anggota badan. Pada gerak sadar, sinyal perintah dari pusat sistem syaraf ditransmisikan melalui syaraf tulang belakang (spinal cord) lalu ke otot untuk menghasilkan gaya. Otot berfungsi dengan normal jika antara sistem syaraf, spinal cord, dan otot terhubung secara utuh dan bekerja dengan baik. Kerusakan pada sistem syaraf yang diakibatkan penyakit yang menyerang syaraf tulang belakang (spinal cord injury, SCI) akan mengganggu sinyal perintah mencapai otot. Pada pasien yang mengalami kerusakan pada otak atau syaraf tulang belakang kehilangan kemampuan motoriknya (paralisis) seperti berdiri, berjalan, menggenggam dan menjangkau. Ketidakmampuan ini dapat mencakup sebagian atau keseluruhan dari anggota gerak tubuh. Tipetipe paralisis tersebut antara lain : . Monoplegia : paralisis hanya pada satu anggota gerak saja, disebabkan oleh kerusakan pusat sistem syaraf Diplegia : paralisis pada bagian tubuh yang sama pada salah satu sisi tubuh, misalnya kedua tangan atau kedua sisi wajah Hemiplegia: paralisis pada salah satu sisi tubuh. Paralisis ini disebabkan oleh kerusakan pada otak, yaitu cerebral palsy Paraplegia : paralisis pada kedua anggota gerak dan penopangnya, disebabkan oleh kerusakan syaraf tulang belakang Quadriplegia: paralisis pada keempat anggota gerak tubuh dan penopangnya yang disebabkan oleh kerusakan syaraf tulang belakang.

1.2

Rumusan Masalah Dari latar belakang di atas, rumusan masalah dari makalah ini adalah : 1. Apa itu N. Tibialis menurut anatomi dan fisiologinya? 2. Apa saja penyebab patologis yang terjadi bila N. Tibialis tidak berfungsi ?

3. Bagaimana proses perjalanan penyakit yang menyerang N. Tibialis ? 4. Apa saja metode pemeriksaan dan terapi yang dapat dilakukan oleh fisioterapis dalam kasus N. Tibialis paralisis pada kasus fraktur tibia ? 1.3 Tujuan Penulisan Makalah Dari rumusan masalah di atas tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui: 1. Pengertian dari anatomi dan fisiologis dari N. Tibialis 2. Penyebab Patologis yang mengakibatkan N. Tibialis paralisis 3. Proses Perjalanan penyakit yang menyerang N. Tibialis 4. Metode Pemeriksaan dan Terapi yang dapat dilakukan pada penderita N.Tibialis Paralisis oleh fisioterapis 1.4 Manfaat Penulisan Makalah Manfaat dari makalah ini adalah : 1. Bagi lembaga, dapat menambah referensi perpustakaan Kampus A Universitas Airlangga, khususnya dalam hal pengetahuan N.Tibialis Paralisis. 2. Bagi mahasiswa, dapat berfungsi sebagai pengetahuan yang bisa dijadikan pedoman dalam memahami tentang N. Tibialis Paralisis. 3. Bagi masyarakat, dapat memberi tambahan pengetahuan tentang N. Tibialis Paralisis

BAB II PEMBAHASAN

2.1 ANATOMI NERVUS TIBIALIS Dari tibialis nervus adalah salah sau dua cabang utama dari ichiadicus nervus. Pada paha nervus tibialis terdapat cabang di beberapa otot hip.

Cabang untuk motorik persarafan dibeberapa otot paha: Musculi gamely

Musculus quadrates femoris Musculus obturatorius internus Musculus bisep femoris Musculus semitendinosus Musculus semimembranosus

Distribusi motorik ke: Musculus gastrocnemius adalah otot kerangka dan membentuk betis. Ia bekerja sama sangat dekat dengan para musculus soleus (Schollenmuskel).Fungsi dari Gastrocnemius di satu sisi lutut , di sisi lain bertanggung jawab bersama-sama dengan soleus untuk plantarflexion (menekuk kaki ke bawah, umumnya sebagai difraksi luar biasa) ketika akan, berlari dan melompat. Sebuah tugas selanjutnya adalah dengan Supinasi kaki. Dalam literatur terkadang juga partisipasi substansial dalam rotasi inferior Unterschenkels ditunjukkan oleh kepala internal Gastrocnemius.

Musculus soleus bekerja sama sangat dekat dengan para musculus gastrocnemius , itu Synergisten. itu menarik kaki ke bawah (plantarflexion), dengan demikian bahwa tempat itselfHumans pada jari kaki (saat pergi, berlari dan melompat). Selain itu ia bertanggung jawab untuk itu Supinasi kaki.

Musculus plantaris dari plantaris musculus secara fungsional hampir tidak signifikan, namun yang terlibat dalam difraksi lutut dan pergantian Unterschenkels ditekuk ke dalam. Beberapa sumber menyebut juga plantarflexion lemah dan Supinasi dari kaki sebagai fungsi lanjut. Ada akord M. plantaris calcanei medial muncul juga masuk akal data ini ditetapkan untuk tendon Achilles di Tuber tersebut.

Musculus Popliteus merupakan Condylus lateralis femoris (ball joint luar dari Femurs ). Berawal dari atas satu permukaan belakang dari Tibia. Mempunyai fungsi difraksi lutut, rotasi inferior Unterschenkels.

Musculus Tibialis posterior Musculus Flexor halucis longus fungsi dari tikungan luar 4 jari kaki ke bawah, di samping itu terlibat ke plantarflexion (membungkuk ke bawah) dari kaki.

Nervus lateral plantaris

Lateral saraf plantar (plantar saraf eksternal) adalah cabang dari saraf tibialis , pada gilirannya merupakan cabang dari saraf statis dan pasokan kulit kelima jari kaki dan setengah lateral keempat, serta sebagian besar otot yang mendalam, yang distribusi yang mirip dengan yang ada pada saraf ulnaris di tangan . Melewati miring ke depan dengan arteri plantaris lateralis ke sisi lateral kaki, terletak di antara: Abductor digiti minimi adalah otot yang terletak di sepanjang sisi (luar) perbatasan kaki ,dan dalam kaitannya dengan yang medial marjin dengan lateral yang plantar arteri , vena , dan saraf . persarafi oleh saraf plantar lateralis , sebuah cabang dari saraf tibialis . Origo insertio Ini muncul, dengan asal luas, dari proses lateral tuberositas dari kalkaneus , dari permukaan bawah dari calcaneus antara dua proses tuberositas, dari bagian depan dari proses medial, dari plantar aponeurosis , dan dari septum intermuskularis antara itu dan fleksor digitorum brevis .

Tendon nya, setelah meluncur di atas segi halus pada permukaan bawah dari dasar tulang metatarsal kelima , dimasukkan, dengan fleksor digiti quinti brevis , ke sisi fibula dari dasar pertama phalanx dari kaki kelima. Fungsi Fungsinya adalah fleksi dan penculikan dari kelima (sedikit) kaki di sendi metatarsophalangeal .

Abductor digiti mnimi Flelxor digiti minimi

Fleksor digiti minimi terletak di bawah metatarsal tulang jari kelingking kaki, dan menyerupai salah satu interosei . Hal ini muncul dari dasar tulang metatarsal kelima , dan dari selubung dari longus Peronus , tendon yang dimasukkan ke sisi lateral dasar pertama phalanx dari kaki kelima. Kadang-kadang beberapa dari serat lebih dimasukkan ke dalam bagian lateral setengah distal tulang metatarsal kelima, ini dijelaskan oleh beberapa sebagai otot yang berbeda, yang opponens digiti quinti .

flexor digiti minimi Adductor hallux muncul dengan dua kepala-miring dan melintang dan bertanggung jawab untuk adducting jempol kaki. Ini memiliki dua kepala, satu dipersarafi oleh saraf plantar medial dan yang lainnya dipersarafi oleh saraf plantar lateralis . miring kepala besar, tebal, massa berdaging, melintasi kaki miring dan menempati ruang kosong di bawah pertama, kedua, ketiga dan keempat tulang metatarsal. Hal ini muncul dari basis kedua, ketiga, dan keempat tulang metatarsal, dan dari selubung tendon longus Peronus, dan dimasukkan, bersama dengan bagian later fleksor halusis brevis , ke sisi lateral dasar yang pertama phalanx dari kaki besar.

adductor hallux Lumbricalis Para lumbrikalis empat kecil otot rangka , aksesori untuk tendon fleksor digitorum longus dan nomor dari sisi medial kaki, mereka muncul dari tendon tersebut, sejauh sudut mereka divisi, masing-masing bersumber dari dua tendon, kecuali pertama. Otot-otot di akhir tendon , yang melewati depan pada sisi medial dari empat jari kaki lebih rendah, dan dimasukkan ke dalam ekspansi tendon ekstensor digitorum longus pada permukaan dorsal proksimal falang . Keempat lumbrikalis masukkan ke tudung ekstensor falang, sehingga menciptakan ekstensi di antar-phalangeal (PIP dan DIP) sendi.

Namun seperti tendon juga melewati kalah dengan phalangeal metatarsal (MTP) sendi menciptakan fleksi di sendi ini. Tidak adanya satu atau lebih, dua kali lipat dari ketiga atau keempat bahkan kelima. Penyisipan sebagian atau seluruhnya ke falang pertama. Yang paling medial lumbrical dipersarafi oleh saraf plantar medial sedangkan sisanya tiga lumbrikalis disediakan oleh saraf plantar lateralis .

Lumbricalis Medial saraf plantar

Medial saraf plantar (plantar saraf internal), lebih besar dari dua divisi terminal dari saraf tibialis , menyertai arteri plantar medial .

Dari asal-usulnya di bawah ligamentum laciniate lewat di bawah penutup dari halusis abductor , dan, muncul antara otot ini dan fleksor digitorum brevis , memberikan dari saraf digital yang tepat plantar dan akhirnya membagi berlawanan dasar dari tulang metatarsal menjadi tiga umum digital plantar saraf. Cabang-cabang dari saraf plantar medial adalah: kulit, otot, artikular, saraf digital yang tepat ke sisi medial kaki besar, dan tiga saraf digital yang umum.

Cabang cutaneous Para kulit cabang menembus aponeurosis plantar antara halusis abductor dan fleksor digitorum brevis dan didistribusikan ke kulit telapak kaki. Cabang muscular Cabang-cabang otot memasok halusis abductor, yang fleksor digitorum brevis , yang fleksor halusis brevis , dan yang pertama Lumbrical , orang-orang untuk halusis abductor dan fleksor digitorum brevis muncul dari batang saraf dekat asal dan memasuki permukaan dalam dari otot , cabang dari fleksor halusis brevis muncul dari saraf digital yang tepat ke sisi medial kaki besar, dan bahwa untuk Lumbricalis pertama dari pertama saraf digital yang umum. Cabang artikular Cabang-cabang artikular memasok artikulasi dari tarsus dan metatarsus . Proper saraf digital ibu jari Saraf digital yang tepat dari jari kaki yang besar (n. digitales plantares proprii, cabang digital plantar) memasok fleksor halusis brevis dan kulit di sisi medial kaki besar. Tiga saraf digital yang umum Tiga saraf digital yang umum (n. digitales plantares komune) melewati antara divisi aponeurosis plantar, dan masing-masing terbagi menjadi dua saraf-orang digital yang tepat yang pertama umum pasokan saraf digital sisi berdekatan jari kaki besar dan kedua; orang kedua, sisi yang berdekatan dari jari kaki kedua dan ketiga, dan orang ketiga, sisi yang berdekatan dari jari kaki ketiga dan keempat. Ketiga saraf digital yang umum menerima cabang berkomunikasi dari saraf plantaris lateralis, yang pertama memberikan ranting yang pertama Lumbricalis .

Setiap saraf digital yang tepat mengeluarkan kulit dan filamen artikular, dan sebaliknya phalanx terakhir mengirimkan ke atas cabang dorsal, yang memasok struktur di sekitar kuku, kelanjutan saraf yang didistribusikan ke bola jari kaki. Ini akan diamati bahwa saraf digital serupa dalam distribusi mereka kepada orang-orang dari saraf median di tangan.

Saraf kulit dari telapak kaki

Otot-otot kruris profunda lateralis nervus tibialis Persyarafan : nervus tibialis 1. M. tibialis posterior Insersi :Tuberositas ossis navikulare, permukaan plantar os kunaiformi medial, ossa kunaiformi intermedium lateral dan basis metatarsal II IV Origo: fasies posterior, bagian prosimal tibia dan fasies medialis fibula. Fungsi: plantar fleksi dan supinasi kaki. 2. M. fLeksor digitorum longus Insersi: falang akhir jari kaki keII V Origo: fasies posterior, margo interosius tibia dan arkus tendimius dista fibula. Fungsi: fleksi bagian terakhir 4 jari lateral kaki, fleksi dan supinasi ke arah plantar

3.

M.fleksor hallucis longus Origo: fasies posterior dan margo posterior fibula Insersi: falang terakhir dari ibu jari Fungsi: fleksi ibu jari kaki, fleksi dan supinasi seluruh kaki ke arah plantar.

BAB III KERANGKA TEORI

3.1

ANAMNESIS

Anamnesis bertujuan untuk memperoleh informasi akurat dan relevan, sehingga pertanyaan harus jelas dan mudah dijawab. Anamnesis dikelompokkan menjadi: a. Heteroanamnesis, tanya jawab pada orang-orang/keluarga pasien yang mengetahui kondisi pasien, b. Autoanamnesis, tanya jawab secara langsung kepada pasien, dapat dibagi menjadi: 1) anamnesis umum, 2) anamnesis khusus. Keluhan utama mengenai keluhan yang mendorong pasien mencari pertolongan termasuk didalamnya lokasi keluhan, onset, penyebab, faktor faktor yang memperberat atau memperingan, irritabilitas dan derajat berat keluhan, sifat keluhan dalam 24 jam, dan stadium dari kondisi. Riwayat Penyakit Sekarang berupa perjalanan penyakit dan riwayat pengobatan 1. Pemeriksaan Objektif a. Tanda-tanda vital Tanda tanda vital adalah tanda / gambaran pada tubuh seseorang yang penting untuk diketahui sehingga kita dapat mengetahui keadaan tubuh seseorang,pemeriksaan tanda vital meliputi 1) 2) 3) 4) 5) 6) Tekanan darah Denyut nadi Frekuensi pernafasan Temperature Tinggi badan Berat badan

b. Inspeksi Inspeksi adalah pemeriksaan dengan cara melihat dan mengamati. Hal-hal yang bisa dilihat/diamati seperti keadaan umum, kondisi berat badan, sianosis, pucat, bentuk thorak,bentuk

vertebra,gerakan gerakan pernafasan abnormal,kontraksi otot bantu pernafasan, clubbing finger. Macam-macam inspeksi ada 2, yaitu: 1) Inspeksi statis: yaitu melakukan inspeksi dimana penderita dalam keadaan diam.

2) Inspeksi dinamis: yaitu melakukan inspeksi dimana penderita dalam keadaan bergerak, contoh waktu penderita bernafas,beraktivitas. c. Palpasi Palpasi adalah cara pemeriksaan dengan jalan meraba, menekan dan memegang organ/bagian tubuh pasien untuk mengetahui tentang adanya spasme otot, nyeri tekan, suhu, tumor/oedema, kontur organ , tingkat kesamaan ekspansi, atropi, kontraktur d. Pemeriksaan Gerak Dasar 1) Pemeriksaan Fungsi Gerak Aktif; untuk menentukan kekuatan otot, ROM aktif, nyeri dan koordinasi gerak. 2) Pemeriksaan Fungsi Gerak Pasif; untuk menentukan ROM pasif (normal, hypomobilitas, hypermobilitas), nyeri, end feel, bunyi, tonus dan panjang otot. 3) Pemeriksaan kontraksi isometrik; untuk menelaah rasa nyeri (provokasi myotendinogen) dan kelemahan otot (gangguan neuromuskular). e. Pemeriksaan Khusus antara lain; Palpasi yaitu untuk memeriksa temperature local, nyeri tekan, dan bengkak Antropometri yaitu untuk memeriksa adakah perbedaan panjang segmen, lingkar segmen, oedem, atropi otot. f. Pemeriksaan penunjang, seperti sinar X, MRI, CT scan, laboratorium. g. Muscle Test (Kekuatan Otot) adalah suatu usaha untuk menentukan atau mengetahui kemampuan seseorang dalam mengkontraksikan group ototnya secara voluntary. Nilai: 0 = Kontraksi otot tidak terdeteksi dengan palpasi 1 = Kontraksi otot bisa dipalpasi tapi tidak ada gerakan sendi 2 = Subyek bergerak dengan LGS penuh tanpa melaqwan gravitasi 3 = Subyek bergerak penuh dengan LGS penuh melawan gravitasi melawan tahanan tanpa

4 = Subyek bergerak dengan LGS penuh, melawan gravitasi dan tahanan sedang (moderat) 5 = Subyek bergerak dengan LGS penuh, melawan gravitasi dan tahanan maximal. h. Anthropometri (Pengukuran komposisi tubuh): Pengukuran lingkar segmen tubuh yaitu pada anggota gerak bawah untuk mengetahui ada tidaknya oedem. Dilakukan dengan menggunakan meteran (meter line), pelaksanaan pengukuran lingkar anggota gerak ini menggunakan patokan lingkar lutut yaitu tuberusitas tibia. i. ROM Test: menggunakan goniometer untuk mengetahui luas lingkup gerak sendi yang bisa dilakukan oleh suatu sendi. l. Pemeriksaan nyeri: dengan skala VAS, cara pengukuran derajat nyeri dengan menunjukkan satu titik pada garis skala nyeri (0-10cm). Salah satu ujung menunjukkan tidak nyeri dan ujung yang lain menunjukkan nyeri yang hebat. Panjang garis mulai dan tidak nyeri sampai titik yang ditunjuk menunjukkan besarnya nyeri. 3. Problem Fisioterapi Asuhan pelayanan fisioterapi yang diberikan pada penderita post ORIF open fraktur tibia plateu dextra dengan plate and screw dilakukan secara bertahan susuai dengan problem yang ditemukan pada saat dilakukan assesment. Untuk itu sebelum melakukan intervensi fisioterapi, hendaknya kita mengetahui problem fisioterapi apa saja yang ada pada penderita dengan post ORIF open fraktur tibia plateu dextra dengan plate and screw 1. Terdapat udema disekitar knee dan ankle 2. Adanya nyeri tekan dan gerak pada daerah cidera 3. Adanya penurunan LGS knee 4. Kelemahan otot otot flexor dan extensor knee 5. Adanya spasme otot quadriceps 4. Diagnosa Fisioterapi Impairment (gangguan), functional limitation (Keterbatasan fungsi), dan disability/participation restriction (ketidakmampuan) yang menyebabkan kecacatan. 5. Rencana Intervensi a. Target dan tujuan intervensi terapi dibuat setelah diagnosa fisioterapi ditetapkan berdasarkan penemuan atau hasil pemeriksaan yang ada.

b. Rencana intervensi fisioterapi meliputi: (1) Tujuan jangka pendek: Mengurangi udema, mengurangi nyeri, mengurangi spasme, meningkatkan dan memelihara ROM, meningkatkan dan memelihara kekuatan otot. (2) Tujuan jangka panjang: meningkatkan, mengembangkan dan memelihara kemampuan fungsional ADL pasien secra mandiri c. Rencana intervensi (1) Terapi latihan: passive movement, aktif movement (2) Transfer dan ambulasi (3) Edukasi 6. Metode intervensi a. Terapi latihan: Terapi latihan merupakan jenis terapi yang didalam pelaksanaannya menggunakan latihan-latihan tubuh, baik secara pasif maupun aktif (Kisher, 1996). Appley (1995) berpendapat bahwa penanganan pasca operasi dengan mobilisasi sedini mungkin betujuan untuk mengembalikan kapasitas fisik dan kemampuan fungsional serta memperbaiki fungsi tubuh. Modalitas fisioterapi yang digunakan dalam kasus ini adalah terapi latihan berupa: 1. Passive movement/ gerakan pasif Pasive movement adalah suatu latihan yang dilakukan dengan gerakan yang dihasilkan oleh kekuatan dari luar tanpa adanya kontraksi otot pasien ( Kisner, 1996). Tehnik yang digunakan adalah relaxed passive movement , yaitu pemberian gerak pasif sampai batas nyeri pasien tanpa pemberian kekuatan tambahan dari terapis. Menurut Gartland (1996) relaxed passive movement bermanfaat untuk mempertahankan LGS dan mencegah kontraktur otot. 2. Active movement/ gerakan aktif Active movement adalah gerakan yang timbul dari kontraksi otot pasien sendiri secara volunteer atau sadar ( Kisner, 1996). Dengan gerakan aktif akan menimbulkan kontraksi otot, meningkatkan sirkulasi darah dan nutrisi ke jaringan lunak di sekitar fraktur termasuk fraktur itu sendiri sehingga proses penyambungan tulang akan berlangsung lebih baik. b. Transver dan ambulasi: salah satu prinsip penanganan pasca operasi yaitu mobilisasi dini mungkin untuk mencegah komplikasi tirah baring lama (Appley, 1995). Latihan transfer dilakukan bertahap yaitu mulai dari tidur terlentang lalu duduk long sitting dengan bantuan tumpuan pada kedua elbow saat bangun kemudian kedua lengan lirus kebelakang menyangga tubuh setelah itu lakukan bridging untuk menggeser keduduk ongkang-ongkang dengan kedua tungkai digeser menuju ketepi bed dan menggantung dapat juga tungkai yang sakit dibabtu oleh

terapis lalu gerakan badan maju hingga kaki yang sehat menyentuh lantai dan kaki yang sakit menggantung dan lakukan latihan berdiri dengan kruk disertai latihan keseimbangan memberikan dorongan kesamping kanan kiri dan kedepan belakang juga kaki yang sakit diayun ayunkan dengan posisi menggantung. Latihan jalan dengan kruk dapat diberikan jika pasien telah mampu dan keseimbangan telah membaik dengan metode Non Weight Bearing (NWB), dengan cara pasien latihan jalan dengan kedua tangan menumpu pada kruk dan dimulai dari kruk kaki yang sehat sedang kaki yang sakit digantung. c. Edukasi: (1) Agar melakukannya sendiri dalam bentuk beraktif pada otot-otot yang tidak mengalami kelemahan dan latihan gerak pasif dengan bantuan keluarga, pada otot yang mengalami kelemahan seperti yang telah dianjurkan terapi (2) Memberikan motivasi pada pasien dan keluarga pasien supaya rajin berlatih sesuai program yang diberikan terapis. (3) Disarankan untuk tidak melakukan aktivitas berat dulu, yang menumpu pada kaki terlalu lama terutama kaki yang sakit jangan menumpu dahulu, jika jalan diusahakan jangan ada traptrapan dan jangan ditempat yang licin. (4) Pada saat jalan dengan kruk, hendaknya tungkai yang sakit digantung (NWB) selama sekitar 4-5 minggu atau dapat dilihat hasil foto ronsen apakah sudah terjadi penyambungan tulang yang patah/fraktur atau tulang sudah cukup kuat untuk menyangga berat tubuh, kemudian setelah itu dapat dilanjutkan dengan metode Partial Weight Bearing (PWB) yaitu kaki yang sakit menumpu tapi tidak penuh melainkan sebagian. Setelah menapak penuh dan dipastikan tulang tersebut sudah benar-benar kuat kemudian diteruskan dengan Full Weight Bearing(FWB). Diharapkan keluarga membantu memberi suport agar semangat dalam berlatih. 10. Evaluasi hasil terapi Evaluasi adalah tindakan untuk membandingkan data sebelum dan sesudah terapi agar lebih mudah dan lebih cermat dalam mengetahui perkembangan terapi.

BAB IV LAPORAN KASUS

4.1. Studi Kasus Seorang pasien post-op fraktur tibia sudah 1 bulan yang bernama Malik datang kepada fisioterapis dengan mengeluh Nyeri pada tungkai bawah kiri, kelemahan pada kelompok otot tibial yang mengakibatkan adanya kelainan gait dan penurunan sensoris. Apakah yang terjadi dengan pasien tersebut? 4.2. Problem Solving Untuk memecahkan masalah ini, kami menggunakan metode Pemeriksaan SOAP yaitu Subjektif, Objektif, Assesment, dan Planning
4.3. Pemeriksaan Subjektif Pada pemeriksaan subjektif ini kita hanya melakukan anamnesa yang meliputi identitas diri, keluhan utama, dan riwayat penyakit yang dimiliki oleh pasien. Keterangan Umum Penderita

Nama Umur Jenis kelamin Hobi Agama Pekerjaan Alamat

: Malik Gigih Prayogo : 20 tahun : Laki-laki : Futsal : Islam : Mahasiswa : Jl. Dharmahusada 20

Keluhan Utama Nyeri pada daerah sekitar tungkai bawah dan ankle, serta ankle tidak bisa menggerakkan

plantarflexi, tidak bisa menggerakkan inversi pada ankle, serta jari-jari kaki susah digerakkan dan lemas.

Riwayat Penyakit Sekarang

Post operasi fraktur tibia, luka frakturnya sudah sembuh tetapi untuk mobilisasi dan geraknya masih ada keluhan dan belum ada penanganan fisioterapi.

Riwayat Penyakit Keluarga

Tidak ada anggota keluarga yang memiliki penyakit yang sama seperti pasien

Riwayat Penyakit Dahulu

Tidak memiliki hipertensi, penyakit jantung, DM, gangguan paru (asma), tetapi memiliki riwayat trauma.

Status Sosial

Memiliki hubungan dan komunikasi yang baik dengan lingkungan sekitar Keuangan tercukupi

4.4. Pemeriksaan Objektif

Pemeriksaan Tanda Vital Nadi Tekanan Darah Frekuensi Nafas Temperatur : 85x/menit : 120/80 mmHg : 16x/menit : 37 0 C

Glasgow Coma Scale (GCS) Mata Bicara Motorik :4 :5 :6

1. Inspeksi Pada inspeksi diperhatikan sikap, bentuk, ukuran, dan gerak abnormalnya dan adanya tidaknya deformitas

2.

Palpasi Pasien disuruh mengistirahatkan atau merelakskan ototnya, kemudian kita

palpasi ototnya untuk mengetahui apakah ada nyeri tekan, spasme otot. Pada palpasi kali ini saudara Malik ditemukan adanya nyeri tekan, spasme otot dan peningkatan suhu pada daerah yang cedera. 3. Pemeriksaan Gerak Pasif Bagian dari ekstremitas pasien digerakkan pada persendiannya. Gerakan dibuat dengan tempo bervariasi mula-mula cepat kemudian lambat dilakukan oleh terapis. 4. Pemeriksaan Gerak Aktif

- Pemeriksaan Gerak Plantarflexi ankle - Pemeriksaan Gerak Inversi ankle - Pemeriksaan Gerak flexi hallux - Pemeriksaan Gerak Abd/Add hallux - Pemeriksaan Gerak Flexi PIP/DIP Finger - Pemeriksaan Gerak Abd/Add Finger 5. Pemeriksaan nyeri

Menggunakan skala VAS ( Verbal Analogue Scale) 0 keterangan : 0 : Tidak ada nyeri sama sekali. 10 : Nyeri tak tertahankan. Nyeri diam : 3 Nyeri tekan : 5 Nyeri gerak : 7 6. Antropometri test 10

Membandingkan pada tungkai bawah sisi yang sehat. Pada saudara Malik ditemukan adanya Atropi otot

7. Kognitif : Baik, pasien mampu menceritakan kronologis kejadian trauma dengan baik, mampu menjawab pertanyaan terapis, dan mampu mengingat memori jangka panjang dan jangka pendek dengan baik Intra personal : Pasien mampu menerima keadaan dirinya dan mempunyai keinginan serta motivasi yang tinggi untuk sembuh Inter personal : pasien dapat bekerja sama dengan terapis, pasien menjalankan latihan yang diajarkan oleh terapis, dan mampu melaksanakan program dengan baik.

4.5. ASSESSMENT Berdasarkan hasil pemeriksaan Subjektif dan objektif, bahwa saudara Malik diduga menderita Lesi Nervus Tibialis sesuai dengan gejala-gejala yang nampak

4.6. PLANNING Dengan sudah diketahuinya Assessment bahwa pasien menderita Lesi Nervus Tibialis. Maka Terapis merencanakan program latihan yang akan diberikan kepada pasien sebagai langkah pemecahan masalah. Program Fisioterapi TENS (hati-hati pasien ada penurunan sensoris) IR ES (Electrical Stimulation) Plantar Splint Terapi Latihan PROM seluruh sendi pada tungkai Terapi Latihan AROM (sesuai dengan nilai MMT = 2) *Posisi tidur telentang AROM Gerak plantar flexi ankle Gerak Inversi Gerak flexi hallux

Gerak Abd/Add hallux Gerak flexi PIP/DIP Finger *Posisi tidur miring Gerak plantarflexi ankle Gerak Inversi Gerak flexi hallux Gerak abd/add hallux Gerak flexi DIP/PIP Finger Gerak abd/add finger