Anda di halaman 1dari 38

Cara Menguji Transformator.Secara umum, para teknisi elektronika ketika menguji komponen menggunakan bantuan avometer.

Dengan alat ini dapat diketahui baik atau tidaknya suatu komponen. Pengujian sebelum perakitan sangat penting karena komponen yang dipasang atau disolder dan dihubungkan dalam keadaan baik semua. Transformator saat kita beli harus dan wajib untuk kita check apakah masih baik dan berfungsi. Karena untuk trafo biasanya tidak diberi garansi apabila rusak setelah dibeli. Hal ini dimungkinkan adanya pemutusan hubungan di gulungan/lilitan sekunder atau primer. Bagi para pemula, pengujian dengan avometer bisa dilakukan. Tetapi belum tentu semuanya mengetahui cara-caranya. Dalam kesempatan kali ini akan diuraikan bagaimana cara menguji transformator (trafo).

Meskipun transformator bentuknya tidak seberapa dan seperti tidak terjadi pemutusan hubungan, tetapi harus diuji terlebih dahulu sebelum dipasang atau disolder. Hal ini disebabkan transformator memiliki gulungan atau lilitan sekunder dan primer. Pada gulungan sekunder berkhir dengan tiga kaki. Untuk mengetahui putus tidaknya gulungan dapat dilakukan :

Mula-mula avometer disiapkan kemudian memutar saklar pada posisi Ohm meter. Selanjutnya memutar penyetel untuk memperoleh jarum pada angkal nol. Barulah pencolok hitam dihubungkan dengan kaki lainnya (pinggir kiri). Bila jarum penunjuk bergerak, berarti lilitannya baik. Kemudian pencolok merah dipindahkan pada kaki lainnya yang berada di pinggir. Apabila bergerak jarumnya, berarti lilitan atau gulungan sekunder dalam keadaan baik.

Selanjutnya memeriksa atau menguji gulungan primer yang hanya berkaki dua. Caranya sama dengan pengujian terhadap gulungan-gulungan sekunder. Jika jarum penunjuk bergerak-gerak berarti gulungan primer dalam keadaan baik. Semoga tulisan tentang cara menguji transformator ini bermanfaat bagi Anda, hobbyist dan praktisi elektronika, dan jangan lupa untuk memberikan komentar demi perbaikan dan kemajuan website (blog) ini. Terima kasih. Sumber : Dari berbagai sumber
Transformator tenaga adalah suatu peralatan tenaga listrik yang berfungsi untuk menyalurkan tenaga/daya listrik dari tegangan tinggi ke tegangan rendah atau sebaliknya (mentransformasikan

tegangan). Dalam operasi umumnya, trafo-trafo tenaga ditanahkan pada titik netralnya sesuai dengan kebutuhan untuk sistem pengamanan/proteksi, sebagai contoh transformator 150/70 kV ditanahkan secara langsung di sisi netral 150 kV, dan transformator 70/20 kV ditanahkan dengan tahanan di sisi netral 20 kV nya. Transformator yang telah diproduksi terlebih dahulu melalui pengujian sesuai standar yang telah ditetapkan. Klasifikasi Transformator tenaga dapat di klasifikasikan menurut: Pasangan:

Pasangan dalam Pasanga luar

Pendinginan Menurut cara pendinginannya dapat dibedakan sebagai berikut: (lihat Tabel 1) Fungsi/Pemakaian

Transformator mesin Transformator Gardu Induk Transformato

r Distribusi Kapasitas dan Tegangan Untuk mempermudah pengawasan dalam operasi trafo dapat dibagi menjadi: Trafo besar, Trafo sedang, Trafo kecil. Cara Kerja dan Fungsi Tiap-tiap Bagian Suatu transformator terdiri atas beberapa bagian yang mempunyai fungsi masing-masing: Bagian utama - Inti besi Inti besi berfungsi untuk mempermudah jalan fluksi, yang ditimbulkan oleh arus listrik yang melalui kumparan. Dibuat dari lempengan-lempengan besi tipis yang berisolasi, untuk mengurangi panas (sebagai rugi-rugi besi) yang ditimbulkan oleh Eddy Current. - Kumparan trafo Beberapa lilitan kawat berisolasi membentuk suatu kumparan. Kumparan tersebut diisolasi baik terhadap inti besi maupun terhadap kumparan lain dengan isolasi padat seperti karton, pertinax dan lain-lain. Umumnya pada trafo terdapat kumparan primer dan sekunder. Bila kumparan primer dihubungkan dengan tegangan/arus bolak-balik maka pada kumparan tersebut timbul fluksi yang menginduksikan tegangan, bila pada rangkaian sekunder ditutup (rangkaian beban) maka akan mengalir arus pada kumparan ini. Jadi kumparan sebagai alat transformasi tegangan dan arus. - Kumparan tertier Kumparan tertier diperlukan untuk memperoleh tegangan tertier atau untuk kebutuhan lain. Untuk kedua keperluan tersebut, kumparan tertier selalu dihubungkan delta. Kumparan tertier sering dipergunakan juga untuk penyambungan peralatan bantu seperti kondensator synchrone, kapasitor shunt dan reactor shunt, namun demikian tidak semua trafo daya mempunyai kumparan tertier.

- Minyak trafo Sebagian besar trafo tenaga kumparan-kumparan dan intinya direndam dalam minyak-trafo, terutama trafo-trafo tenaga yang berkapasitas besar, karena minyak trafo mempunyai sifat sebagai media pemindah panas (disirkulasi) dan bersifat pula sebagai isolasi (daya tegangan tembus tinggi) sehingga berfungsi sebagai media pendingin dan isolasi. Untuk itu minyak trafo harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:

kekuatan isolasi tinggi penyalur panas yang baikberat jenis yang kecil, sehingga partikel-partikel dalam minyak dapat mengendap dengan cepat viskositas yang rendah agar lebih mudah bersirkulasi dan kemampuan pendinginan menjadi lebih baik titik nyala yang tinggi, tidak mudah menguap yang dapat membahayakan tidak merusak bahan isolasi padat sifat kimia y

ang stabil. - Bushing Hubungan antara kumparan trafo ke jaringan luar melalui sebuah busing yaitu sebuah konduktor yang diselubungi oleh isolator, yang sekaligus berfungsi sebagai penyekat antara konduktor tersebut denga tangki trafo. - Tangki dan Konservator Pada umumnya bagian-bagian dari trafo yang terendam minyak trafo berada (ditempatkan) dalam tangki. Untuk menampung pemuaian minyak trafo, tangki dilengkapi dengan konservator. Peralatan Bantu - Pendingin Pada inti besi dan kumparan-kumparan akan timbul panas akibat rugi-rugi besi dan rugi-rugi tembaga. Bila panas tersebut mengakibatkan kenaikan suhu yang berlebihan, akan merusak isolasi di dalam trafo, maka untuk mengurangi kenaikan suhu yang berlebihan tersebut trafo perlu dilengkapi dengan sistem pendingin untuk menyalurkan panas keluar trafo. Media yang digunakan pada sistem pendingin dapat berupa: Udara/gas, minyak dan air. Pengalirannya (sirkulasi) dapat dengan cara :

Alamiah (natural) Tekanan/paksaan (forced).

Macam-macam dan sistem pendingin trafo berdasarkan media dan cara pengalirannya dapat diklasifikasikan seperti pada Tabel 1. - Tap Changer (perubah tap) Tap Changer adalah perubah perbandingan transformator untuk mendapatkan tegangan operasi sekunder sesuai yang diinginkan dari tegangan jaringan/primer yang berubah-ubah. Tap changer dapat dilakukan baik dalam keadaan berbeban (on-load) atau dalam keadaan tak berbeban (off load), tergantung jenisnya. - Alat pernapasan

Karena pengaruh naik turunnya beban trafo maupun suhu udara luar, maka suhu minyakpun akan berubah-ubah mengikuti keadaan tersebut. Bila suhu minyak tinggi, minyak akan memuai dan mendesak udara di atas permukaan minyak keluar dari dalam tangki, sebaliknya bila suhu minyak turun, minyak menyusut maka udara luar akan masuk ke dalam tangki. Kedua proses di atas disebut pernapasan trafo. Permukaan minyak trafo akan selalu bersinggungan dengan udara luar yang menurunkan nilai tegangan tembus minyak trafo, maka untuk mencegah hal tersebut, pada ujung pipa penghubung udara luar dilengkapi tabung berisi kristal zat hygroskopis. - Indikator Untuk mengawasi selama trafo beroperasi, maka perlu adanya indicator pada trafo sebagai berikut:

indikator suhu minyak indikator permukaan minyak indikator sistem pendingin indikator kedudukan tap dan sebagainya.

Peralatan Proteksi - Rele Bucholz Rele Bucholz adalah rele alat/rele untuk mendeteksi dan mengamankan terhadap gangguan di dalam trafo yang menimbulkan gas. Gas yang timbul diakibatkan oleh: a. Hubung singkat antar lilitan pada/dalam phasa b. Hubung singkat antar phasa c. Hubung singkat antar phasa ke tanah d. Busur api listrik antar laminasi e. Busur api listrik karena kontak yang kurang baik. - Pengaman tekanan lebih Alat ini berupa membran yang dibuat dari kaca, plastik, tembaga atau katup berpegas, berfungsi sebagai pengaman tangki trafo terhadap kenaikan tekan gas yang timbul di dalam tangki yang akan pecah pada tekanan tertentu dan kekuatannya lebih rendah dari kakuatan tangi trafo. - Rele tekanan lebih Rele ini berfungsi hampir sama seperti rele Bucholz, yakni mengamankan terhadap gangguan di dalam trafo. Bedanya rele ini hanya bekerja oleh kenaikan tekanan gas yang tiba-tiba dan langsung mentripkan P.M.T. - Rele Diferensial Berfungsi mengamankan trafo dari gangguan di dalam trafo antara lain flash over antara kumparan dengan kumparan atau kumparan dengan tangki atau belitan dengan belitan di dalam kumparan ataupun beda kumparan. - Rele Arus lebih Befungsi mengamankan trafo arus yang melebihi dari arus yang diperkenankan lewat dari trafo terseut dan arus lebih ini dapat terjadi oleh karena beban lebih atau gangguan hubung singkat. - Rele Tangki tanah

Berfungsi untuk mengamankan trafo bila ada hubung singkat antara bagian yang bertegangan dengan bagian yang tidak bertegangan pada trafo. - Rele Hubung tanah Berfungsi untuk mengamankan trafo bila terjadi gangguan hubung singkat satu phasa ke tanah. - Rele Termis Berfungsi untuk mencegah/mengamankan trafo dari kerusakan isolasi kumparan, akibat adanya panas lebih yang ditimbulkan oleh arus lebih. Besaran yang diukur di dalam rele ini adalah kenaikan temperatur. Pengujian Transformator Pengujian transformator dilaksanakan menurut SPLN50-1982 dengan melalui tiga macam pengujian, sebagaimana diuraikan juga dalam IEC 76 (1976), yaitu : - Pengujian Rutin Pengujian rutin adalah pengujian yang dilakukan terhadap setiap transformator, meliputi:

pengujian pengujian pengujian pengujian pengujian pengujian pengujian

tahanan isolasi tahanan kumparan perbandingan belitan Pengujian vector group rugi besi dan arus beban kosong rugi tembaga dan impedansi tegangan terapan (Withstand Test) tegangan induksi (Induce Test).

- Pengujian jenis Pengujian jenis adalah pengujian yang dilaksanakan terhadap sebuah trafo yang mewakili trafo lainnya yang sejenis, guna menunjukkan bahwa semua trafo jenis ini memenuhi persyaratan yang belum diliput oleh pengujian rutin. Pengujian jenis meliputi:

pengujian kenaikan suhu pengujian impedansi

- Pengujian khusus Pengujian khusus adalah pengujian yang lain dari uji rutin dan jenis, dilaksanakan atas persetujuan pabrik denga pmbeli dan hanya dilaksanakan terhadap satu atau lebih trafo dari sejumlah trafo yang dipesan dalam suatu kontrak. Pengujian khusus meliputi :

pengujian dielektrik pengujian impedansi urutan nol pada trafo tiga phasa pengujian hubung singkat pengujian harmonik pada arus beban kosong pengujian tingkat bunyi akuistik pengukuran daya yang diambil oleh motor-motor kipas dan pompa minyak.

Pengujian Rutin - Pengukuran tahanan isolasi

Pengukuran tahanan isolasi dilakukan pada awal pengujian dimaksudkan untuk mengetahui secara dini kondisi isolasi trafo, untuk menghindari kegagalan yang fatal dan pengujian selanjutnya, pengukuran dilakukan antara:

sisi HV - LV sisi HV - Ground sisi LV- Groud X1/X2-X3/X4 (trafo 1 fasa) X1-X2 dan X3-X4 )trafo 1 fasa yang dilengkapi dengan circuit breaker.

Pengukuran dilakukan dengan menggunakan megger, lebih baik yang menggunakan baterai karena dapat membangkitkan tegangan tinggi yang lebih stabil. Harga tahanan isolasi ini digunakan untuk kriteria kering tidaknya trafo, juga untuk mengetahui apakah ada bagian-bagian yang terhubung singkat. - Pengukuran tahanan kumparan Pengukuran tahanan kumparan adalah untuk mengetahui berapa nilai tahanan listrik pada kumparan yang akan menimbulkan panas bila kumparan tersebut dialiri arus. Nilai tahanan belitan dipakai untuk perhitungan rugi-rugi tembaga trafo. Pada saat melakukan pengukuran yang perlu diperhatikan adalah suhu belitan pada saat pengukuran yang diusahakan sama dengan suhu udara sekitar, oleh karenanya diusahakan arus pengukuran kecil. Peralatan yang digunakan untuk pengukuran tahanan di atas 1 ohm adalah Wheatstone Bridge, sedangkan untuk tahanan yang lebih kecil dari 1 ohm digunakan Precition Double Bridge. Pengukuran dilakukan pada setiap fasa trafo, yaitu antara terminal: Untuk terminal tegangan tinggi: a. Trafo 3 fasa - fasa A - fasa B - fasa B - fasa C - fasa C - fasa A b. Trafi 1 fasa - terminal H1-H2 untuk trafo double bushing - terminal H1-Ground untuk trafo single bushing Untuk sisi tegangan rendah a. Trafo 3 fasa

- fasa a - fasa b - fasa b - fasa c - fasa c - fasa a b. Trafo 1 fasa - terminal X1-X4 dengan X2-X3 dihubung singkat. Pengukuran dengan Wheatstone bridge digunakan untuk tahanan di atas 1 ohm. Rangkaian pengukuran dapat dilihat pada Gambar 1. Pada keadaan seimbang berlaku rumus: Rx adalah hagra tahanan belitan yang diukur = factor pengali. Pengukuran dengan Precition double bridge digunakan untuk tahanan yang lebih kecil dar 1 ohm. Rangkaian pengukuran seperti Gambar 2. Tahanan yang diukur Rx dapat dihitung dengan menggunakan rumus:

- Pengukuran perbandingan belitan Pengukuran perbandingan belitan adalah untuk mengetahui perbandingan jumlah kumparan sisi tegangan tinggi dan sisi tegangan rendah pada setiap tapping, sehingga tegangan output yang dihasilkan oleh trafo sesuai dengan yang dikehendaki. toleransi yang diijinkan adalah: a. 0,5 % dari rasio tegangan atau b. 1/10 dari persentase impedansi pada tapping nominal. Pengukuran perbandingan belitan dilakukan pada saat semi assembling yaitu setelah coil trafo di assembling dengan inti besi dan setelah tap changer terpasang, pengujian kedua ini bertujuan untuk mengetahui apakah posisi tap trafo telah terpasang secara benar dan juga untuk pemeriksaan vector group trafo. Pengukuran dapat dilakukan dengan menggunakan Transformer Turn Ratio Test (TTR), misalnya merk Jemes G. Biddle Co Cat. No.55005 atau Cat. No. 550100-47. - Pemeriksaan Vector Group Pemeriksaan vector group bertujuan untuk mengetahui apakah polaritas terminal-terminal trafo positif atau negatif. Standar dari notasi yang dipakai adalah ADDITIVE dan SUBTRACTIVE. - Pengukuran rugi dan arus beban kosong Pengukuran ini untuk mengetahui berapa daya yang hilang yang disebabkan oleh rugi histerisis dan eddy current dari inti besi (core) dan besarnya arus yang ditimbulkan oleh kerugian tersebut. Pengukuran dilakukan dengan memberikan tegangan nominal pada salah satu sisi dan sisi lainnya dibiarkan terbuka. - Pengukuran rugi tembaga dan impedansi Pengukuran ini bertujuan untum mengetahui besarnya daya yang hilang pada saat trafo beroperasi akibat dari tembaga (Wcu) dan strey loss (Ws) trafo yang digunakan. Pengukuran dilakukan dengan memberi arus nominal pada salah satu sisi dan pada sisi yang lain dihubung-singkat, dengan demikian akan terbangkit juga arus nominal pada sisi tersebut, sehingga trafo seolah-olah dibebani penuh. Perhitungan rugi beban penuh (Wcu) dan impedansi (Iz), dimana pada waktu pengukuran tahanan belitan (R), Wcu dan Iz dilakukan pada saat suhu rendah (udara sekitar (t)), maka Wcu dan Iz perlu dikoreksi terhadap suhu acuan 75C, dimana factor koreksi (a) adalah : - Pengujian tegangan terapan (Withstand Test) Pengujian ini dimaksudkan untuk menguji kekuatan isolasi antara kumparan dan body tangki. Pengujian dilakukan dengan memberi tegangan uji sesuai denga standar uji dan dilakukan pada: - sisi tegangan tinggi terhadap sisi tegangan rendah dan body yang di ke tanahkan - sisi tegangan rendah terhadap sisi tegangan tinggi dan body yang di ke tanahkan. - waktu pengujian 60 detik. - Pengujian tegangan induksi Pengujian tegangan induksi bertujuan untuk mengetahui kekuatan isolasi antara layer dari tiap-tiap belitan dan kekuatan isolasi antara belitan trafo. Pengujian dilakukan dengan memberi tegangan supply dua kali tegangan nominal pada salah satu sisi dan sisi lainnya dibiarkan terbuka. Untuk mengatasi kejenuhan pada inti besi (core) maka frekwensi yang digunakan harus dinaikkan sesuai denga kebutuhan. Lama pengujian tergantung pada besarnya frekwensi pengujian berdasarkan rumus: waktu pengujian maksimum adalah 60 detik.

- Pengujian kebocoran tangki Pengujian kebocoran tangki dilakukan setelah semua komponen trafo terpasang. Pengujian dilakukan untuk mengetahui kekuatan dan kondisi paking dan las trafo. Pengujian dilakukan dengan memberikan tekanan nitrogen (N2) sebesar kurang lebih 5 psi dan dilakukan pengamatan pada bagian-bagian las dan paking dengan memberikan cairan sabun pada bagian tersebut. Pengujian dilakukan sekitar 3 jam apakah terjadi penurunan tekanan. Pengujian Jenis (Type Test) - Pengujian kenaikan suhu Pengujian kenaikan suhu dimaksudkan untuk mengetahui berapa kenaikan suhu oli dan kumparan trafo yang disebabkan oleh rugi-rugi trafo apabila trafo dibebani. Pengujian ini juga bertujuan untuk melihat apakah penyebab panas trafo sudah cukup effisien atau belum. Pada trafo dengan tapping tegangan di atas 5% pengujian kenaikan suhu dilakukan pada tappng tegangan terendah (arus tertinggi), pada trafo dengan tapping maksimum 5% pengujian dilakukan pada tapping nominal. Pengujian kenaikan suhu sama dengan pengujian beban penuh, pengujian dilakukan dengan memberikan arus trafo sedemikian hingga membangkitkan rugi-rugi trafo, yaitu rugi beban penuh dan rugi beban kosong. Suhu kumparan dihitung berdasarkan rumus sebagai berikut: t adalah suhu sekitar pada saat akhir pengujian. - Pengujian tegangan impulse Pengujian impulse ini dimaksudkan untuk mengetahui kemampuan dielektrik dari sistem isolasi trafo terhadap tegangan surja petir. Pengujian impuls adalah pengujian dengan memberi tegangan lebih sesaat dengan bentuk gelombang tertentu. Bila trafo mengalami tegangan lebih, maka tegangan tersebut hampir didistribusikan melalui effek kapasitansi yang terdapat pada : - antar lilitan trafo - antar layer trafo - antara coil denga ground. - Pengujian tegangan tembus oli Pengujian tegangan tembus oli dimaksudkan untuk mengetahui kemampuan dielektrik oli. Hal ini dilakukan karena selain berfungsi sebagai pendingin dari trafo, oli juga berfungsi sebagai isolasi. Persyaratan yang ditentukan adalah sesuai denga standart SPLN 49 - 1 : 1982, IEC 158 dan IEC 296 yaitu: - > = 30 KV/2,5 mm sebelum purifying - > = 50 KV/2,5 mm setelah purifying Peralatan yang dapat digunakan misalnya merk Hipotronics type EP600CD. Cara pengujian: - bersihkan tempat sample oli dari kotoran dengan mencucinya dengan oli sampai bersih. - ambil contoh/sample oli yang akan diuji, usahakan pada saat pengambilan sample oli tidak tersentuh tangan atau terlalu lama terkena udara luar karena oli ini sanga sensitive. - tempatkan sample oli padaalat tetes. - nyalakan power alat tetes. - tekan tombol start dan counter akan mencatat secara otomatis sejauh mana kemampuan dielektrik oli tersebut. Setelah counter berhenti dan tombol reset menyala, tekan tombol reset untuk mengembalikan ke posisi semula.

- hasil pengujian tegangan tembus diambil rata-ratanya setelah dilakukan 5 (lima) kali dengan selang waktu 2 menit.

Kesimpulan
1. 2. 3. Kelayakan operasi dari suatu transformator daya dapat ditetapkan setelah melalui tahapan-tahapan pengujian berdasarkan standar yang berlaku. Ketelitian dari proses pengujian transformator daya sangan dipengaruhi oleh temperatur ruang serta ketepatan waktu pelaksanaannya. Keandalan transformator selama masa operasi, sangat ditentukan oleh cara pemeliharaannya, sehingga jadwal waktu pemeliharaan perlu dikaji lebih lanjut. q

Daftar Pustaka
1. 2. 3. 4. 5. 6. IEC 156/1963 Method for the determination of electric strength of insulating oils 1963 IEC 76/1976 Power Transformer 1976. P.T. Bambang Djaya Methode Pengujian Transformator Distribusi P.T. Bambang Djaya, Surabaya 1995. P.T. PLN Petunjuk Operasi dan Pemeliharaan untuk Transformator Tenagan Perusahaan Umum Listrik Negara, Jakarta 1981. SPLN 17 : 1979 Pedoman Pembebanan Transformator Terendam Minyak Jakarta, 1979. SPLN 50 - 1982 Pengujian Transformator Jakarta, 1982.

Transformator adalah alat yang dapat digunakan untuk menaikkan tegangan (step up) atau menurukan tegangan (step down) arus ac. Transformator terdiri dari kumparan kawat primer, kumparan kawat sekunder, dan inti besi. Apabila pada kumparan primer diberi arus ac maka pada kumparan sekunder akan timbul arus ac.

dilambangkan Perbedaan tegangan sekunder dengan tegangan primer tergatung dari perbandingan jumlah kumparan. Pada transformator step up jumlah kumparan sekunde lebih banyak dari jumlah kumparan primer. Sedangkan pada transformator step down, jumlah kumparan sekunder lebih sedikit dari jumlah kumparan primer. Transformator step down banyak digunakan pada peralatan elektronika seperti radio, tape, televisi ataupun charger hand phone. Sekarang fungsi transformator step down telah digantikan rangkaian elektronik yang disebut switching. Tranformator step up digunakan pada transmisi daya yaitu pengiriman energi listrik dari satu kota ke kota lain. Transmisi ini menggunakan tegangan tinggi arus kecil. Dengan arus kecil maka akan diperoleh efosiensi berupa penggunakan kawat yang relatif kecil dan kehilangan energi yang kecil pula.

Besarnya tegangan pada transformator sebanding dengan jumlah lilitannya kesebandingan itu dinyatakan dengan: V~ N atau Sedangan efisiensi adalah perbandingan daya sekunder dengan daya primer. Efisiensi maksimum adalah 100% yang berarti tidak ada energi yang hilang. Efisiensi dirumuskan sebagai: atau

Contoh : Sebuah transformator transformator dengan efisiensi 60% digunakan pada tegangan 220 volt. Transformator akan digunakan untuk mencatu audio dengan daya 60 watt dan tegangan 20 volt. a. apabila kumparan primer ditentukan 1000 lilitan, maka tentukanlah jumlah lilitan kumparan sekundernya! b. tentukan kuat arus minimum pada kumparan primer! Jawab: a. atau Ns = 91 lilitan. b. atau Ip = 6,6 A atau Ns = 90,9 lilit

Cobalah : Sebuah transformator transformator dengan efisiensi 80% dan memiliki perbandingan jumlah lilitan Ns:Np=250:1000. Apabila transformator akan digunakan untuk mencatu audio dengan daya 60 watt dan tegangan 20 volt. Tetukanlah arus primernya.

Contoh Menentukan Sambungan Trafo Daya


07:46 uj0ng No comments

1.

Sambungan untuk vector group Yy6.

(klik gambar untuk melihat lebih jelas) - Sambungan sisi primer A2 , B2 , C2. - Sambungan vector a1 , a2 , b1 , b2 , c1 , c2 sedemikian sehingga searah dengan r , s , t , yaitu a1 b1 c1 diganti. - Sambungan kumparan sekunder sesuai dengan hubungan vector sisi sekunder. 2. Sambungan untuk vector group Yd1. (klik gambar untuk melihat lebih jelas)

- Sambungan sisi primer A2 , B2 , C2.

- Hubungkan vector a2 a1 , b2 b1 , c2 c1 , membentuk sebangun dan searah dengan r, s, t ; yaitu a2 b1 , b2 c2 , c2 a1 . - Sambungan kumparan sekunder sesuai dengan hubungan vector sisi sekunder.

2. JENIS-JENIS DAN PRINSIP KERJA TRANSFORMATOR


3. JENIS-JENIS DAN PRINSIP KERJA TRANSFORMATOR

Gizha Ardizha Efendi Nasution Jurusan Teknik Industri, Universitas Gunadarma, Jakarta Email : Giya_kumeh@yahoo.com

Abstraksi: Paper ini berkaitan dengan jenis-jenis transformator. Jenis-jenis transformator disini menjelaskan step-up, step-down, autotransformator, autotransformator variabel, transformator isolasi, dan transformator pulsa. Penggunaan transformator yang digunakan untuk pengiriman tenaga listrik yang terdiri dari pasangan kumparan primer dan sekunder yang diisolasi (terpisah) secara listrik dan lilitan pada inti besi lunak. Arus induksi pada transformator mengalir melalui rangkaian sekunder ketika saklar pada rangkaian primer ditutup atau dibuka. Prinsip kerja pada transformator, apabila kumparan primer dihubungkan dengan tegangan (sumber), maka akan mengalir arus bolak-balik pada kumparan tersebut. Oleh karena itu kumparan mempunyai inti, arus yang menimbulkan fluks magnet yang juga berubah-ubah, akibatnya pada kumparan primer akan timbul GGL induksi ep.

Kata Kunci : transformator, jenis-jenis transformator, prinsip kerja transformator

I. Pendahuluan

Transformator adalah suatu alat listrik yang dapat memindahkan dan mengubah energy listrik satu atau lebih rangkaian listrik satu atau lebih rangkaian listrik ke rangkaian listrik yang lain, melalui suatu gendeng magnet berdasarkan prinsip induksi-elektromagnet. Transformator adalah alat yang digunakan untuk mengubah tegangan bolak balik (ac) dari suatu nilai tertentu ke nilai yang kita inginkan terdiri dari kumparan primer dan sekunder.

Gambar 1. Transformator

Perkembangan dan penerapan system transformator pada perumahan, perkantoran maupun pada kendaran yaitu mobil dewasa ini mengalami peningkatan yang pesat. Buktinya adalah banyak industry, perkantoran maupun kendaran dilengkapi dengan penggunaan transformator yang bertujuan untuk mengetahui informasi dan dapat menambah pengetahuan. System pesawat telepon yang paling sederhana memiliki komponen utama yaitu ISDN EXCHANGE, ISDN PRA, ISDN BRA, ISDN PHONE, ISDN PBX dan ISDN DATA TERMINAL.

II. Jenis-jenis Transformator

Berkaitan dengan topic yang dikaji yakni kegunaan transformator adalah alat untuk mengubah tegangan arus bolak balik menjadi lebih tinggi atau rendah. Transformator terdiri dari pasangan kumparan primer dan sekunder yang diisolasi (terpisah) secara listrik dan dililitkan pada inti besi lunak. Inti besi lunak dibuat dari pelat yang berlapis-lapis untuk mengurangi daya yang hilang karena arus pusar. Kumparan primer dan sekunder dililitkan pada kaki inti besi yang terpisah. Bagian fluks magnetic bocor tampak bahwa pada pasangan kumparan terdapat fluks magnetic bocor disisi primer dan sekunder. Secara lebih lengkap bisa dicermati pada gambar 2.[1]

Gambar 2. Bagan fluks magnetic bocor pada pasangan kumparan

Hasil diatas untuk mengurangi fluks magnet bocor pada pasangan kumparan digunakan pasangan kumparan seperti gambar diatas. Kumparan sekunder dililitkan pada kaki inti besi yang sama (kaki yang tengah), dengan lilitan kumparan sekunder terletak diatas lilitan kumparan primer, ditunjukkan pada fluks magnet bocornya, maka dapat dicermati pada gambar dibawah ini.

Gambar 3. Hubungan primer dan sekunder

Rumus untuk fluks magnet yang ditimbulkan lilitan primer adalah[2]: = x t (1) Dan untuk rumus GGL induksi yang terjadi dililitan sekunder adalah = N /t (2) Karena kedua kumparan dihubungkan dengan fluks yang sama, maka /t = Vp/Np = Vs/Ns (3) Dimana dengan menyusun ulang persamaan akan didapat Vp/Np = Vs/Ns (4)

Sedemikian sehingga Vp.Ip = Vs.Is (5)

Dengan kata lain, hubungan antara tegangan primer dengan tegangan sekunder ditentukan oleh perbandingan jumlah lilitan primer dengan lilitan sekunder.

Jenis-jenis transformator adalah [3]:

1. Step-Up

Gambar 4. Lambang transformator step-up

Transformator step-up adalah transformator yang memiliki lilitan sekunder lebih banyak daripada lilitan primer, sehingga berfungsi sebagai penaik tegangan. Transformator ini biasa ditemui pada pembangkit tenaga listrik sebagai penaik tegangan yang dihasilkan generator menjadi tegangan tinggi yang digunakan dalam transmisi jarak jauh.

2. Step-down

Gambar 5. Skema transformator step-down

Transformator step-down memiliki lilitan sekunder lebih sedikit daripada lilitan primer, sehingga berfungsi sebagai penurun tegangan. Transformator jenis ini sangat mudah ditemui, terutama dalam adaptor AC-DC.

3. Autotransformator

Gambar 6. Skema transformator

Transformator jenis ini hanya terdiri dari satu lilitan yang berlanjut secara listrik, dengan

sadapan tengah. Dalam transformator ini, sebagian lilitan primer juga merupakan lilitan sekunder. Fasa arus dalam lilitan sekunder selalu berlawanan dengan arus primer, sehingga untuk tarif daya yang sama lilitan sekunder bisa dibuat dengan kawat yang lebih tipis dibandingkan transformator biasa. Keuntungan dari autotransformator adalah ukuran fisiknya yang kecil dan kerugian yang lebih rendah daripada jenis dua lilitan. Tetapi transformator jenis ini tidak dapat memberikan isolasi secara listrik antara lilitan primer dengan lilitan sekunder. Selain itu, autotransformator tidak dapat digunakan sebagai penaik tegangan lebih dari beberapa kali lipat (biasanya tidak lebih dari 1,5 kali).

4. Autotransformator Variabel

Gambar 7. Skema Autotransformator Variabel

Autotransformator variabel sebenarnya adalah autotransformator biasa yang sadapan tengahnya bisa diubah-ubah, memberikan perbandingan lilitan primer-sekunder yang berubahubah.

5. Transformator Isolasi

Transformator isolasi memiliki lilitan sekunder yang berjumlah sama dengan lilitan primer, sehingga tegangan sekunder sama dengan tegangan primer. Tetapi pada beberapa desain, gulungan sekunder dibuat sedikit lebih banyak untuk mengkompensasi kerugian. Transformator seperti ini berfungsi sebagai isolasi antara dua kalang. Untuk penerapan audio, transformator jenis ini telah banyak digantikan oleh kopling kapasitor.

6. Transformator Pulsa

Transformator pulsa adalah transformator yang didesain khusus untuk memberikan keluaran

gelombang pulsa. Transformator jenis ini menggunakan material inti yang cepat jenuh sehingga setelah arus primer mencapai titik tertentu, fluks magnet berhenti berubah. Karena GGL induksi pada lilitan sekunder hanya terbentuk jika terjadi perubahan fluks magnet, transformator hanya memberikan keluaran saat inti tidak jenuh, yaitu saat arus pada lilitan primer berbalik arah.

7. Transformator Tiga Fasa

Transformator tiga fasa sebenarnya adalah tiga transformator yang dihubungkan secara khusus satu sama lain. Lilitan primer biasanya dihubungkan secara bintang (Y) dan lilitan sekunder dihubungkan secara delta ().

III. Prinsip Kerja Transformator Komponen Transformator (trafo) Transformator (trafo) adalah alat yang digunakan untuk menaikkan atau menurunkan tegangan bolak-balik (AC). Transformator terdiri dari 3 komponen pokok yaitu: kumparan pertama (primer) yang bertindak sebagai input, kumparan kedua (skunder) yang bertindak sebagai output, dan inti besi yang berfungsi untuk memperkuat medan magnet yang dihasilkan.[4]

Gambar 8. Bagian-Bagian Transformator

Gambar 9. Lambang Transformator

Prinsip kerja dari sebuah transformator adalah sebagai berikut. Ketika Kumparan primer

dihubungkan dengan sumber tegangan bolak-balik, perubahan arus listrik pada kumparan primer menimbulkan medan magnet yang berubah. Medan magnet yang berubah diperkuat oleh adanya inti besi dan dihantarkan inti besi ke kumparan sekunder, sehingga pada ujung-ujung kumparan sekunder akan timbul ggl induksi. Efek ini dinamakan induktansi timbal-balik (mutual inductance).[5]

Gambar 10. Skema transformator kumparan primer dan kumparan sekunder terhadap medan magnet

Pada skema transformator diatas, ketika arus listrik dari sumber tegangan yang mengalir pada kumparan primer berbalik arah (berubah polaritasnya) medan magnet yang dihasilkan akan berubah arah sehingga arus listrik yang dihasilkan pada kumparan sekunder akan berubah polaritasnya.

Gambar 11. Hubungan antara tegangan primer, jumlah lilitan primer, tegangan sekunder, dan jumlah lilitan sekunder

Hubungan antara tegangan primer, jumlah lilitan primer, tegangan sekunder, dan jumlah lilitan sekunder, dapat dinyatakan dalam persamaan[6]:

Vp/Vs = Np/Ns (6)

Vp = tegangan primer (volt) Vs = tegangan sekunder (volt) Np = jumlah lilitan primer Ns = jumlah lilitan sekunder

Simbol Transformator Berdasarkan perbandingan antara jumlah lilitan primer dan jumlah lilitan skunder transformator ada dua jenis yaitu[7]: 1. Transformator step up yaitu transformator yang mengubah tegangan bolak-balik rendah menjadi tinggi, transformator ini mempunyai jumlah lilitan kumparan sekunder lebih banyak daripada jumlah lilitan primer (Ns > Np). 2. Transformator step down yaitu transformator yang mengubah tegangan bolak-balik tinggi menjadi rendah, transformator ini mempunyai jumlah lilitan kumparan primer lebih banyak daripada jumlah lilitan sekunder (Np > Ns). Pada transformator (trafo) besarnya tegangan yang dikeluarkan oleh kumparan sekunder adalah: 1. Sebanding dengan banyaknya lilitan sekunder (Vs ~ Ns). 2. Sebanding dengan besarnya tegangan primer ( VS ~ VP). 3. Berbanding terbalik dengan banyaknya lilitan primer,

Vs ~ 1/Np (7)

Sehingga dapat dituliskan:

Vs = Ns/Np x Vp (8)

Penggunaan transformator

Transformator (trafo) digunakan pada peralatan listrik terutama yang memerlukan perubahan atau penyesuaian besarnya tegangan bolak-balik. Misal radio memerlukan tegangan 12 volt padahal listrik dari PLN 220 volt, maka diperlukan transformator untuk mengubah tegangan listrik bolak-balik 220 volt menjadi tegangan listrik bolak-balik 12 volt. Contoh alat listrik yang memerlukan transformator adalah: TV, komputer, mesin foto kopi, gardu listrik dan

sebagainya.[8]

IV. Kesimpulan

Kesimpulan dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa energy dipindahkan dari kumparan primer ke kumparan sekunder oleh magnetisasi dalam inti.

NOTASI V tegangan primer (ggl induksi V2 tegangan sekunder (ggl induksi) N jumlah lilitan primer N2 jumlah lilitan sekunder

V. Referensi

[2, 3] wiki. Rumus yang digunakan, dan Jenis-jenis transformator. Wikipedia; Jakarta.

Rumus yang digunakan yaitu fluks magnet yang ditimbulkan lilitan primer. Jenis-jenis transformator adalah step-up, step-down, autotransformator, autotransformator variabel, transformator isolasi, transformator pulsa, dan transformator tiga fasa.

[4, 5, 7, 8] edukasi.net. Prinsip kerja transformator, dan Penggunaan transformator. Edukasi.net; Jakarta.

Prinsip kerja transformator adalah kumparan primer yang dihubungkan dengan sumber tegangan bolak-balik, sehingga terjadi perubahan arus listrik pada kumparan primer yang menimbulkan medan magnet berubah. Penggunaan transformator pada kehidupan sehari-hari adalah transformator yang dapat mengubah tegangan listrik bolak-balik yang dari 220volt menjadi 120volt.

[1, 6] Kanginan, Marthen. Fisika 2B, Erlangga; Jakarta, 1994.

Kegunaan transformator adalah suatu alat yang berguna untuk mengubah tegangan arus bolak balik menjadi lebih tinggi atau rendah. Transformator terdiri dari pasangan kumparan primer dan sekunder yang diisolasi (terpisah) secara listrik. Mejelaskanp persamaan hubungan antara tegangan primer, jumlah lilitan primer, tegangan sekunder, dan jumlah lilitan sekunder.

Konfigurasi Hubungan Belitan Transformator 3 fasa


12:44 HaGe 3Komentar

Pada artikel Transformator di sini, telah dibahas mengenai klasifikasi transformator dan bagian-bagian transformator, dan kemudian diikuti dengan artikel selanjutnya tentang bagian-bagian transformator dan peralatan proteksinya di sini. Rangkaian artikel mengenai transformator dilengkapi pula dengan artikel mengenai perawatan dan pemantauan kondisi transformator saat bekerja di sini. Sedangkan artikel kali ini akan dibahas secara umum, HANYA mengenai hubungan-hubungan belitan pada transformator 3 fasa. Dan jika anda ingin mengetahui besarnya nilai tegangan, arus dan daya pada masingmasing hubungan, anda dapat membacanya pada artikel di sini. Transformator 3 fasa pada dasarnya merupakan Transformator 1 fase yang disusun menjadi 3 buah dan mempunyai 2 belitan, yaitu belitan primer dan belitan sekunder. Ada dua metode utama untuk menghubungkan belitan primer yaitu hubungan segitiga dan bintang (delta dan wye). Sedangkan pada belitan sekundernya dapat dihubungkan secara segitiga, bintang dan zig-zag (Delta, Wye dan Zig-zag). Ada juga hubungan dalam bentuk khusus yaitu hubungan open-delta (VV connection) Konfigurasi Transformator 3 Fasa Transformator hubungan segitiga-segitiga (delta-delta)

Gambar 1. Hubungan delta-delta (segitiga-segitiga). Pada gambar 1 baik belitan primer dan sekunder dihubungkan secara delta. Belitan primer terminal 1U, 1V dan 1W dihubungkan dengan suplai tegangan 3 fasa. Sedangkan belitan sekunder terminal 2U, 2V dan 2W disambungkan dengan sisi beban. Pada hubungan Delta (segitiga) tidak ada titik netral, yang diperoleh ketiganya merupakan tegangan line ke line, yaitu L1, L2 dan L3.

Dalam hubungan delta-delta (lihat gambar 1), tegangan pada sisi primer (sisi masukan) dan sisi sekunder (sisi keluaran) adalah dalam satu fasa. Dan pada aplikasinya (lihat gambar 2), jika beban imbang dihubungkan ke saluran 1-2-3, maka hasil arus keluaran adalah sama besarnya. Hal ini menghasilkan arus line imbang dalam saluran masukan A-B-C. Seperti dalam beberapa hubungan delta, bahwa arus line adalah 1,73 kali lebih besar dari masing-masing arus Ip (arus primer) dan Is (arus sekunder) yang mengalir dalam lilitan primer dan sekunder. Power rating untuk transformator 3 fasa adalah 3 kali rating transformator tunggal.

Gambar 2. Diagram Hubungan Delta-Delta Transformator 3 Fasa Dihubungkan Pembangkit Listrik dan Beban (Load) Transformator hubungan bintang-bintang (wyewye)

Gambar 3. Hubungan Belitan Bintang-bintang. Ketika transformator dihubungkan secara bintang-bintang, yang perlu diperhatikan adalah mencegah penyimpangan dari tegangan line ke netral (fase ke netral). Cara untuk mencegah menyimpangan adalah menghubungkan netral untuk primer ke netral sumber yang biasanya dengan cara ditanahkan (ground), seperti ditunjukkan pada Gambar 4. Cara lain adalah dengan menyediakan setiap transformator dengan lilitan ke tiga, yang disebut lilitan tertiary. Lilitan tertiary untuk tiga transformator dihubungkan secara delta seperti ditunjukkan pada Gambar 5, yang sering menyediakan cabang yang melalui tegangan dimana transformator dipasang. Tidak ada beda fasa antara tegangan line transmisi masukan dan keluaran (primer & sekunder) untuk transformator yang dihubungkan bintang-bintang.

Gambar 4. Hubungan bintang-bintang.

Gambar 5. Hubungan Bintang-bintang dengan belitan tertier. Transformator hubungan segitiga-bintang (delta-wye) Pada hubungan segitiga-bintang (delta-wye), tegangan yang melalui setiap lilitan primer adalah sama dengan tegangan line masukan. Tegangan saluran keluaran adalah sama dengan 1,73 kali tegangan sekunder yang melalui setiap transformator. Arus line pada phasa A, B dan C adalah 1,73 kali arus pada lilitan sekunder. Arus line pada fasa 1, 2 dan 3 adalah sama dengan arus pada lilitan sekunder.

Gambar 6. Hubungan Segitiga-Bintang (Delta-wye) Hubungan delta-bintang menghasilkan beda fasa 30 antara tegangan saluran masukan dan saluran transmisi keluaran. Maka dari itu, tegangan line keluaran E12 adalah 30 mendahului tegangan line masukan EAB, seperti dapat dilihat dari diagram phasor. Jika saluran keluaran memasuki kelompok beban terisolasi, beda fasanya tidak masalah. Tetapi jika saluran dihubungkan paralel dengan saluran masukan dengan sumber lain, beda phasa 30 mungkin akan membuat hubungan paralel tidak memungkinkan, sekalipun jika saluran tegangannya sebaliknya identik. Keuntungan penting dari hubungan bintang adalah bahwa akan menghasilkan banyak isolasi/penyekatan yang dihasilkan di dalam transformator. Lilitan HV (high Voltage/tegangan tinggi) telah diisolasi/dipisahkan hanya 1/1,73 atau 58% dari tegangan saluran.

Gambar 8. Skema Diagram Hubungan Delta-Bintang dan Diagram Phasor Transformator hubungan segitiga terbuka (open-delta) Hubungan open-delta ini untuk merubah tegangan sistem 3 fasa dengan menggunakan hanya 2 transformator yang dihubungkan secara opendelta. Rangkaian opendelta adalah identik dengan rangkaian delta delta, kecuali bahwa satu transformer tidak ada. Bagaimanapun, hubungan open-delta jarang digunakan sebab hanya mampu dibebani sebesar 86.6% (0,577 x 3 x rating trafo) dari kapasitas transformator yang terpasang.

Gambar 7. Hubungan Open Delta. Sebagai contoh, jika 2 transformator 50 kVA dihubungkan secara opendelta, kapasitas transformator bank yang terpasang adalah jelas 2x50 = 100kVA. karen terhubung open-delta, maka transformator hanya dapat dibebani 86.6 kVA sebelum transformator mulai menjadi overheat (panas berlebih). Hubungan open delta utamanya digunakan dalam situasi darurat. Maka, jika 3 transformator dihubungkan secara delta delta dan salah satunya rusak dan harus diperbaiki/dipindahkan, maka hal ini memungkinkan Transformator hubungan Zig-zag Transformator dengan hubungan Zig-zag memiliki ciri khusus, yaitu belitan primer memiliki tiga belitan, belitan sekunder memiliki enam belitan dan biasa digunakan untuk beban yang tidak seimbang (asimetris) - artinya beban antar fasa tidak sama, ada yang lebih besar atau lebih kecil-

Gambar 9. Hubungan Bintang-zigzag (Yzn5) Gambar 9 menunjukkan belitan primer 20 KV terhubung dalam bintang L1, L2 dan L3 tanpa netral N dan belitan sekunder 400 V merupakan hubungan Zig-zag dimana hubungan dari enam belitan sekunder saling menyilang satu dengan lainnya. Saat beban terhubung dgn phasa U dan N arus sekunder I2 mengalir melalui belitan phasa phasa U dan phasa S. Bentuk vektor tegangan Zig-zag garis tegangan bukan garis lurus,tetapi bergeser dengan sudut 60. Demikian sedikit ulasan mengenai konfigurasi hubungan belitan transformator 3 fasa, Semoga bermanfaat.
Transformator atau transformer atau trafo adalah komponenelektromagnet yang dapat mengubah taraf suatu tegangan AC ke taraf yang lain. Transformator bekerja berdasarkan prinsip induksielektromagnetik. Tegangan masukan bolak-balik yang membentangi primer menimbulkan fluks magnet yang idealnya semua bersambung dengan lilitan sekunder. Fluks bolak-balik ini menginduksikan GGL dalam lilitan sekunder. Jika efisiensi sempurna, semua daya pada lilitan primer akan dilimpahkan ke lilitan sekunder. Jenis-Jenis Transformator

Step-Up
Transformator step-up adalah transformator yang memiliki lilitan sekunder lebih banyak daripada lilitan primer, sehingga berfungsi sebagai penaik tegangan. Transformator ini biasa ditemui pada pembangkit tenaga listrik sebagai penaik tegangan yang dihasilkan generator menjadi tegangan tinggi yang digunakan dalam transmisi jarak jauh.

Step-Down
Transformator step-down memiliki lilitan sekunder lebih sedikit daripada lilitan primer, sehingga berfungsi sebagai penurun tegangan. Transformator jenis ini sangat mudah ditemui, terutama dalam adaptor AC-DC.

Autotransformator
Transformator jenis ini hanya terdiri dari satu lilitan yang berlanjut secara listrik, dengan sadapan tengah. Dalam transformator ini, sebagian lilitan primer juga merupakan lilitan sekunder. Fasa arus dalam lilitan sekunder selalu berlawanan dengan arus primer, sehingga untuk tarif daya yang sama

lilitan sekunder bisa dibuat dengan kawat yang lebih tipis dibandingkan transformator biasa. Keuntungan dari autotransformator adalah ukuran fisiknya yang kecil dan kerugian yang lebih rendah daripada jenis dua lilitan. Tetapi transformator jenis ini tidak dapat memberikanisolasi secara listrik antara lilitan primer dengan lilitan sekunder. Selain itu, autotransformator tidak dapat digunakan sebagai penaik tegangan lebih dari beberapa kali lipat (biasanya tidak lebih dari 1,5 kali).

Autotransformator variabel
Autotransformator variabel sebenarnya adalah autotransformator biasa yang sadapan tengahnya bisa diubah-ubah, memberikan perbandingan lilitan primer-sekunder yang berubah-ubah.

Transformator isolasi
Transformator isolasi memiliki lilitan sekunder yang berjumlah sama dengan lilitan primer, sehingga tegangan sekunder sama dengan tegangan primer. Tetapi pada beberapa desain, gulungan sekunder dibuat sedikit lebih banyak untuk mengkompensasi kerugian. Transformator seperti ini berfungsi sebagai isolasi antara dua kalang. Untuk penerapan audio, transformator jenis ini telah banyak digantikan oleh kopling kapasitor.

Transformator pulsa
Transformator pulsa adalah transformator yang didesain khusus untuk memberikan keluaran gelombang pulsa. Transformator jenis ini menggunakan material inti yang cepat jenuh sehingga setelah arus primer mencapai titik tertentu, fluks magnet berhenti berubah. Karena GGL induksi pada lilitan sekunder hanya terbentuk jika terjadi perubahan fluks magnet, transformator hanya memberikan keluaran saat inti tidak jenuh, yaitu saat arus pada lilitan primer berbalik arah.

Transformator tiga fasa


Transformator tiga fasa sebenarnya adalah tiga transformator yang dihubungkan secara khusus satu sama lain. Lilitan primer biasanya dihubungkan secara bintang (Y) dan lilitan sekunder dihubungkan secara delta ().

Prinsip kerja
Transformator bekerja berdasarkan prinsip induksi elektromagnetik. Tegangan masukan bolak-balik yang membentangi primer menimbulkan fluks magnet yang idealnya semua bersambung dengan lilitan sekunder. Fluks bolak-balik ini menginduksikan GGL dalam lilitan sekunder. Jika efisiensi sempurna, semua daya pada lilitan primer akan dilimpahkan ke lilitan sekunder. [sunting]Hubungan

Primer-Sekunder

Fluks pada transformator

Rumus untuk fluks magnet yang ditimbulkan lilitan primer adalah GGL induksi yang terjadi di lilitan sekunder adalah .

dan rumus untuk

Karena kedua kumparan dihubungkan dengan fluks yang sama, maka

dimana

dengan menyusun ulang persamaan akan didapat sedemikian hingga . Dengan kata lain, hubungan antara tegangan primer dengan tegangan sekunder ditentukan oleh perbandingan jumlah lilitan primer dengan lilitan sekunder. [sunting]Kerugian

dalam transformator

Perhitungan diatas hanya berlaku apabila kopling primer-sekunder sempurna dan tidak ada kerugian, tetapi dalam praktek terjadi beberapa kerugian yaitu: 1. kerugian tembaga. Kerugian dalam lilitan tembaga yang disebabkan oleh resistansi tembaga dan arus listrik yang mengalirinya. 2. Kerugian kopling. Kerugian yang terjadi karena kopling primer-sekunder tidak sempurna, sehingga tidak semua fluks magnet yang diinduksikan primer memotong lilitan sekunder. Kerugian ini dapat dikurangi dengan menggulung lilitan secara berlapis-lapis antara primer dan sekunder. 3. Kerugian kapasitas liar. Kerugian yang disebabkan oleh kapasitas liar yang terdapat pada lilitan-lilitan transformator. Kerugian ini sangat memengaruhi efisiensi transformator untuk frekuensi tinggi. Kerugian ini dapat dikurangi dengan menggulung lilitan primer dan sekunder secara semi-acak (bank winding) 4. Kerugian histeresis. Kerugian yang terjadi ketika arus primer AC berbalik arah. Disebabkan karena inti transformator tidak dapat mengubah arah fluks magnetnya dengan seketika. Kerugian ini dapat dikurangi dengan menggunakan material inti reluktansi rendah. 5. Kerugian efek kulit. Sebagaimana konduktor lain yang dialiri arus bolak-balik, arus cenderung untuk mengalir pada permukaan konduktor. Hal ini memperbesar kerugian kapasitas dan juga menambah resistansi relatif lilitan. Kerugian ini dapat dikurang dengan menggunakan kawat Litz, yaitu kawat yang terdiri dari beberapa kawat kecil yang saling

terisolasi. Untuk frekuensi radio digunakan kawat geronggong atau lembaran tipis tembaga sebagai ganti kawat biasa. 6. Kerugian arus eddy (arus olak). Kerugian yang disebabkan oleh GGL masukan yang menimbulkan arus dalam inti magnet yang melawan perubahan fluks magnet yang membangkitkan GGL. Karena adanya fluks magnet yang berubah-ubah, terjadi olakan fluks magnet pada material inti. Kerugian ini berkurang kalau digunakan inti berlapis-lapisan. [sunting]Efisiensi

Efisiensi transformator dapat diketahui dengan rumus Karena adanya kerugian pada transformator. Maka efisiensi transformator tidak dapat mencapai 100%. Untuk transformator daya frekuensi rendah, efisiensi bisa mencapai 98%. [sunting]Jenis-jenis [sunting]Step-Up

transformator

lambang transformator step-up

Transformator step-up adalah transformator yang memiliki lilitan sekunder lebih banyak daripada lilitan primer, sehingga berfungsi sebagai penaik tegangan. Transformator ini biasa ditemui pada pembangkit tenaga listrik sebagai penaik tegangan yang dihasilkan generator menjadi tegangan tinggi yang digunakan dalam transmisi jarak jauh. [sunting]Step-Down

skema transformator step-down

Transformator step-down memiliki lilitan sekunder lebih sedikit daripada lilitan primer, sehingga berfungsi sebagai penurun tegangan. Transformator jenis ini sangat mudah ditemui, terutama dalam adaptor AC-DC. [sunting]Autotransformator

skema autotransformator

Transformator jenis ini hanya terdiri dari satu lilitan yang berlanjut secara listrik, dengan sadapan tengah. Dalam transformator ini, sebagian lilitan primer juga merupakan lilitan sekunder. Fasa arus dalam lilitan sekunder selalu berlawanan dengan arus primer, sehingga untuk tarif daya yang sama lilitan sekunder bisa dibuat dengan kawat yang lebih tipis dibandingkan transformator biasa. Keuntungan dari autotransformator adalah ukuran fisiknya yang kecil dan kerugian yang lebih rendah daripada jenis dua lilitan. Tetapi transformator jenis ini tidak dapat memberikan isolasi secara listrik antara lilitan primer dengan lilitan sekunder. Selain itu, autotransformator tidak dapat digunakan sebagai penaik tegangan lebih dari beberapa kali lipat (biasanya tidak lebih dari 1,5 kali). [sunting]Autotransformator

variabel

skema autotransformator variabel

Autotransformator variabel sebenarnya adalah autotransformator biasa yang sadapan tengahnya bisa diubah-ubah, memberikan perbandingan lilitan primer-sekunder yang berubah-ubah. [sunting]Transformator

isolasi

Transformator isolasi memiliki lilitan sekunder yang berjumlah sama dengan lilitan primer, sehingga tegangan sekunder sama dengan tegangan primer. Tetapi pada beberapa desain, gulungan sekunder dibuat sedikit lebih banyak untuk mengkompensasi kerugian. Transformator seperti ini berfungsi sebagai isolasi antara dua kalang. Untuk penerapan audio, transformator jenis ini telah banyak digantikan oleh kopling kapasitor. [sunting]Transformator

pulsa

Transformator pulsa adalah transformator yang didesain khusus untuk memberikan keluaran gelombang pulsa. Transformator jenis ini menggunakan material inti yang cepat jenuh sehingga setelah arus primer mencapai titik tertentu, fluks magnet berhenti berubah. Karena GGL induksi pada lilitan sekunder hanya terbentuk jika terjadi perubahan fluks magnet, transformator hanya memberikan keluaran saat inti tidak jenuh, yaitu saat arus pada lilitan primer berbalik arah. [sunting]Transformator

tiga fase

Transformator tiga fase sebenarnya adalah tiga transformator yang dihubungkan secara khusus satu sama lain. Lilitan primer biasanya dihubungkan secara bintang (Y) dan lilitan sekunder dihubungkan secara delta ().

trafo sebagai step up/step down dear all, Kalau secara teori trafo step up bisa dijadikan step down dengan membalik input. Apakah secara praktek bisa di lakukan trafo daya step up difungsikan sebagai step down atau sebaliknya? makasih

addin- 08-18-2011 Re: trafo sebagai step up/step down dear all, Kalau secara teori trafo step up bisa dijadikan step down dengan membalik input. Apakah secara praktek bisa di lakukan trafo daya step up difungsikan sebagai step down atau sebaliknya? makasih Bisa dgn catatan hrs dilihat fungsinya. Contoh. Sebh listrik desa 200 kW akan mengirimkan daya ke desa sebelah dgn memakai teg 20 kV. Atas pertimbangan ekonomis dipakai trafo distribusi yg dibalik, primer 380 V hubungan Yn teg sekunder 20 kV delta. Tiba di desa sebelah diturunkan lagi dgn memakai trafo distribusi. Catatannya adalah pd jaringan 20 kV sebaiknya dipasang monitoring gangguan hub tanah, gangguan fase-fase bisa diamankan oleh fuse cut-out. Modelnya adalah memasang relay 64 V (over voltage ground fault). Krn 64 V ini tdk berarah, jadi hanya bisa memonitor saja. Namun kalo hanya 1 penyulang saja (hanya yg ke desa sebelah), mk 64 V bisa dibuat mentrip PMT. JB stuck- 08-31-2011 Re: trafo sebagai step up/step down dear all, Kalau secara teori trafo step up bisa dijadikan step down dengan membalik input. Apakah secara praktek bisa di lakukan

trafo daya step up difungsikan sebagai step down atau sebaliknya? makasih Bisa dgn catatan hrs dilihat fungsinya. Contoh. Sebh listrik desa 200 kW akan mengirimkan daya ke desa sebelah dgn memakai teg 20 kV. Atas pertimbangan ekonomis dipakai trafo distribusi yg dibalik, primer 380 V hubungan Yn teg sekunder 20 kV delta. Tiba di desa sebelah diturunkan lagi dgn memakai trafo distribusi. Catatannya adalah pd jaringan 20 kV sebaiknya dipasang monitoring gangguan hub tanah, gangguan fase-fase bisa diamankan oleh fuse cut-out. Modelnya adalah memasang relay 64 V (over voltage ground fault). Krn 64 V ini tdk berarah, jadi hanya bisa memonitor saja. Namun kalo hanya 1 penyulang saja (hanya yg ke desa sebelah), mk 64 V bisa dibuat mentrip PMT. maksudnya tidak berarah itu apa ya pak addin?? saya pernah dengar rele OCR directed / berarah juga tapi blum faham?? trus bukannya di trafo distribusi hubungan belitan sekunder nya harus Zig-zag? (agar beban seimbang)?? thankz addin- 09-04-2011 Re: trafo sebagai step up/step down dear all, Kalau secara teori trafo step up bisa dijadikan step down dengan membalik input. Apakah secara praktek bisa di lakukan trafo daya step up difungsikan sebagai step down atau sebaliknya? makasih Bisa dgn catatan hrs dilihat fungsinya. Contoh. Sebh listrik desa 200 kW akan mengirimkan daya ke desa sebelah dgn memakai teg 20 kV. Atas pertimbangan ekonomis dipakai trafo distribusi yg dibalik, primer 380 V hubungan Yn teg sekunder 20 kV delta. Tiba di desa sebelah diturunkan lagi dgn memakai trafo distribusi. Catatannya adalah pd jaringan 20 kV sebaiknya dipasang monitoring gangguan hub tanah, gangguan fase-fase bisa diamankan oleh fuse cut-out. Modelnya adalah memasang relay 64 V (over voltage ground fault). Krn 64 V ini tdk berarah, jadi hanya bisa memonitor saja. Namun kalo hanya 1 penyulang saja (hanya yg ke desa sebelah), mk 64 V bisa dibuat mentrip PMT. maksudnya tidak berarah itu apa ya pak addin?? saya pernah dengar rele OCR directed / berarah juga tapi blum faham?? trus bukannya di trafo distribusi hubungan belitan sekunder nya harus Zig-zag? (agar beban seimbang)?? thankz Maaf baru buka lagi, maklum lebaran. Begini pak. 64 V itu adalah Overvoltage ground fault. Pd sistem tdk ditanahkan, gangguan 1 ph tdk kelihatan krn arus yg ada hanya arus kapasitip (sangat kecil), shg dipasang 64V. Sumbernya dari

trafo 3 phase dihubung delta ttp ujung ph 3 tdk disambung dgn pangkal ph 1. Keduanya dimasukkan kedalam relay 64 V. Bila trjadi hubung tanah, kedua ttk ini bertegangan ttp tdk diketahui di daerah mana (tdk berarah), shg operasinya harus main cobacoba, itu kalau ada beberapa penyulang. Klo hnya 1 penyulNG, saya usulkan dibuat saja mentrip penyulang tsb. Trafo Distribusi sebaiknya Zig-zag utk Teg Rendahnya, ttp PLN sendiri banyak memasang hubungan yn. Demikian semoga sdh jelas ? JB stuck- 09-07-2011 dear all, Kalau secara teori trafo step up bisa dijadikan step down dengan membalik input. Apakah secara praktek bisa di lakukan trafo daya step up difungsikan sebagai step down atau sebaliknya? makasih Bisa dgn catatan hrs dilihat fungsinya. Contoh. Sebh listrik desa 200 kW akan mengirimkan daya ke desa sebelah dgn memakai teg 20 kV. Atas pertimbangan ekonomis dipakai trafo distribusi yg dibalik, primer 380 V hubungan Yn teg sekunder 20 kV delta. Tiba di desa sebelah diturunkan lagi dgn memakai trafo distribusi. Catatannya adalah pd jaringan 20 kV sebaiknya dipasang monitoring gangguan hub tanah, gangguan fase-fase bisa diamankan oleh fuse cut-out. Modelnya adalah memasang relay 64 V (over voltage ground fault). Krn 64 V ini tdk berarah, jadi hanya bisa memonitor saja. Namun kalo hanya 1 penyulang saja (hanya yg ke desa sebelah), mk 64 V bisa dibuat mentrip PMT. maksudnya tidak berarah itu apa ya pak addin?? saya pernah dengar rele OCR directed / berarah juga tapi blum faham?? trus bukannya di trafo distribusi hubungan belitan sekunder nya harus Zig-zag? (agar beban seimbang)?? thankz Maaf baru buka lagi, maklum lebaran. Begini pak. 64 V itu adalah Overvoltage ground fault. Pd sistem tdk ditanahkan, gangguan 1 ph tdk kelihatan krn arus yg ada hanya arus kapasitip (sangat kecil), shg dipasang 64V. Sumbernya dari trafo 3 phase dihubung delta ttp ujung ph 3 tdk disambung dgn pangkal ph 1. Keduanya dimasukkan kedalam relay 64 V. Bila trjadi hubung tanah, kedua ttk ini bertegangan ttp tdk diketahui di daerah mana (tdk berarah), shg operasinya harus main cobacoba, itu kalau ada beberapa penyulang. Klo hnya 1 penyulNG, saya usulkan dibuat saja mentrip penyulang tsb. Trafo Distribusi sebaiknya Zig-zag utk Teg Rendahnya, ttp PLN sendiri banyak memasang hubungan yn. Demikian semoga sdh jelas ?mav pak 64 v itu berati sumbernya memakai 64Volt atau hanya simbol?

JB stuck- 09-07-2011 Re: trafo sebagai step up/step down dear all, Kalau secara teori trafo step up bisa dijadikan step down dengan membalik input. Apakah secara praktek bisa di lakukan trafo daya step up difungsikan sebagai step down atau sebaliknya? makasih Bisa dgn catatan hrs dilihat fungsinya. Contoh. Sebh listrik desa 200 kW akan mengirimkan daya ke desa sebelah dgn memakai teg 20 kV. Atas pertimbangan ekonomis dipakai trafo distribusi yg dibalik, primer 380 V hubungan Yn teg sekunder 20 kV delta. Tiba di desa sebelah diturunkan lagi dgn memakai trafo distribusi. Catatannya adalah pd jaringan 20 kV sebaiknya dipasang monitoring gangguan hub tanah, gangguan fase-fase bisa diamankan oleh fuse cut-out. Modelnya adalah memasang relay 64 V (over voltage ground fault). Krn 64 V ini tdk berarah, jadi hanya bisa memonitor saja. Namun kalo hanya 1 penyulang saja (hanya yg ke desa sebelah), mk 64 V bisa dibuat mentrip PMT. maksudnya tidak berarah itu apa ya pak addin?? saya pernah dengar rele OCR directed / berarah juga tapi blum faham?? trus bukannya di trafo distribusi hubungan belitan sekunder nya harus Zig-zag? (agar beban seimbang)?? thankz Maaf baru buka lagi, maklum lebaran. Begini pak. 64 V itu adalah Overvoltage ground fault. Pd sistem tdk ditanahkan, gangguan 1 ph tdk kelihatan krn arus yg ada hanya arus kapasitip (sangat kecil), shg dipasang 64V. Sumbernya dari trafo 3 phase dihubung delta ttp ujung ph 3 tdk disambung dgn pangkal ph 1. Keduanya dimasukkan kedalam relay 64 V. Bila trjadi hubung tanah, kedua ttk ini bertegangan ttp tdk diketahui di daerah mana (tdk berarah), shg operasinya harus main cobacoba, itu kalau ada beberapa penyulang. Klo hnya 1 penyulNG, saya usulkan dibuat saja mentrip penyulang tsb. Trafo Distribusi sebaiknya Zig-zag utk Teg Rendahnya, ttp PLN sendiri banyak memasang hubungan yn. Demikian semoga sdh jelas ? pak maksudnya sistem yang tidak ditanahkan itu apa ya? apa maksudnya sistem itu DELTA..?? lalu pertimbangan suatu sitem ditanahkan & tidak itu apa?? RSM- 09-07-2011 Sistem tidak ditanahkan bisa delta bisa bintang, maunya yang disain. Itu maksud saya. Kayaknya saya sudah tulis diposting yang lalu-lalu deh tolong deh dicari. Nggak enak rasanya nulis berulang ulang untuk hal yang sama.

JB stuck- 09-07-2011 Sistem tidak ditanahkan bisa delta bisa bintang, maunya yang disain. Itu maksud saya. Kayaknya saya sudah tulis diposting yang lalu-lalu deh tolong deh dicari. Nggak enak rasanya nulis berulang ulang untuk hal yang sama. ok ok ok :roll: :lol: :lol: :lol: :lol: addin- 09-07-2011 dear all, Kalau secara teori trafo step up bisa dijadikan step down dengan membalik input. Apakah secara praktek bisa di lakukan trafo daya step up difungsikan sebagai step down atau sebaliknya? makasih Bisa dgn catatan hrs dilihat fungsinya. Contoh. Sebh listrik desa 200 kW akan mengirimkan daya ke desa sebelah dgn memakai teg 20 kV. Atas pertimbangan ekonomis dipakai trafo distribusi yg dibalik, primer 380 V hubungan Yn teg sekunder 20 kV delta. Tiba di desa sebelah diturunkan lagi dgn memakai trafo distribusi. Catatannya adalah pd jaringan 20 kV sebaiknya dipasang monitoring gangguan hub tanah, gangguan fase-fase bisa diamankan oleh fuse cut-out. Modelnya adalah memasang relay 64 V (over voltage ground fault). Krn 64 V ini tdk berarah, jadi hanya bisa memonitor saja. Namun kalo hanya 1 penyulang saja (hanya yg ke desa sebelah), mk 64 V bisa dibuat mentrip PMT. maksudnya tidak berarah itu apa ya pak addin?? saya pernah dengar rele OCR directed / berarah juga tapi blum faham?? trus bukannya di trafo distribusi hubungan belitan sekunder nya harus Zig-zag? (agar beban seimbang)?? thankz Maaf baru buka lagi, maklum lebaran. Begini pak. 64 V itu adalah Overvoltage ground fault. Pd sistem tdk ditanahkan, gangguan 1 ph tdk kelihatan krn arus yg ada hanya arus kapasitip (sangat kecil), shg dipasang 64V. Sumbernya dari trafo 3 phase dihubung delta ttp ujung ph 3 tdk disambung dgn pangkal ph 1. Keduanya dimasukkan kedalam relay 64 V. Bila trjadi hubung tanah, kedua ttk ini bertegangan ttp tdk diketahui di daerah mana (tdk berarah), shg operasinya harus main cobacoba, itu kalau ada beberapa penyulang. Klo hnya 1 penyulNG, saya usulkan dibuat saja mentrip penyulang tsb. Trafo Distribusi sebaiknya Zig-zag utk Teg Rendahnya, ttp PLN sendiri banyak memasang hubungan yn. Demikian semoga sdh jelas ?mav pak 64 v itu berati sumbernya memakai 64Volt atau hanya simbol? 64

V adalah simbol dari standar (lupa standar dari mana), misalnya saja utk Overcurrent memakai kode 51, kalau utk ground fault 51G, kalau tdk salah utkdifferential 87, under voltage 27, dst. Kalau tdk salah kode ini dari 1 sd 99. RSM- 09-08-2011 (64, 27,87 dll) adalah symbol dari ANSI Device No. dari 1 sampai 100. Mr.Arif- 09-16-2011 (64, 27,87 dll) adalah symbol dari ANSI Device No. dari 1 sampai 100. salam kenal bwt semuanya... ane mw tanya misal qta punya pembangkit terus mw dikoneksikan/jual ke PLN kira2 peralatan yg qta dibutuhkan apa saja? misal trafo type nya apa?dan kabel type apa? - apakah ada kapasitas minimal untuk bisa dijual ke PLN?klo ada brapa kapasitas yg diizinkan? terimakasih. RSM- 09-17-2011 Karena banyaknya kira2 yg anda tahu apa saja? Untuk memudahkan kita memberikan pengarahan. Mr.Arif- 09-18-2011 Karena banyaknya kira2 yg anda tahu apa saja? Untuk memudahkan kita memberikan pengarahan. maaf mksdnya banyaknya apa?pertanyaannya atw apa, jujur saya blm bgtu mengerti dgn masalah ini. sdikit yg saya tahu menggunakan penghantar Low Voltage Twisted Cable (LVTC). RSM- 09-18-2011 Maksudnya banyaknya parameter yang diperlukan. Kalau cuma tahunya twisted cable yah berarti anda tahunya tegangan rendah. Saya sudah jawab diposting yang lain dan pertanyaannya sama kok. Hari ini sebelum saya menjawab pertanyaan ini. Mr.Arif- 09-19-2011 Maksudnya banyaknya parameter yang diperlukan. Kalau cuma tahunya twisted cable yah berarti anda tahunya tegangan rendah.

Saya sudah jawab diposting yang lain dan pertanyaannya sama kok. Hari ini sebelum saya menjawab pertanyaan ini. bgmn jawabnya?postingannya bsa mnta url nya?

Kalau pakai trafo 5 ampere bisa gak y buat rangkaian inverter dengan daya 250 watt?
terus bisa g menghidupkan televisi?
2 tahun lalu

(Penentu Putusan) Lapor Penyalahgunaan

Sign in untuk Memilih Jawaban Terbaik Jawaban (2) Penjawab 1 Betul kata pak @Henkie.. Sumber tegangannya yg 12 volt mengharuskan Trafo yg dipakai adalah 250watt dibagi 12 volt : 20 amper lebih lah,sebab 12 x 20 baru 240 watt. Jika trafo 20A sulit,bisa saja dipakai trafo 10A tetapi sumber DC nya harus dinaikkan jadi 24volt dgn cara menyambung seri 2 aki. Dengan trafo 5A sangat susah mendapat 250watt.Yg dekat2 saja paling banter dgn batu 24volt DC utk menghasilkan 24x5=100watt. Berapa Amper trafo yg dibutuhkan bermula dari berapa Volt DC yg digunakan sebagai input.

o o

2 tahun lalu Lapor Penyalahgunaan

Penjawab 2 Kalau trafonya jenis inti besi dan cuma 5 amper, menggunakan tegangan 12 volt accu, maka hasilnya, secara ideal, tanpa memperhitungkan rugi-rugi karena panas, magnetik, hanya 5 amper di kali 12 volt sama dengan 60 Watt ! Kalau mau yang bisa 250 Watt, maka anda butuh trafo yang bisa menghasilkan arus 20.83 amper sedikitnya ! materi referensi:

NAMA PRODUK Trafo 2 Amp CT-18V Trafo Universal 220V / A. /

SPESIFIKASI step 230V 15V down @ / AC - Tegangan input primer: 110V / 50Hz. - Tegangan output sekunder: 9V

HARGA CT 1-49 Rp.32.000,00

18V. 50-99 Rp.29.500,00

- Arus output sekunder: maks. 2 100> Rp.27.000,00 Trafo 10 Amp 0-32V Trafo step down dengan 2 bagian 1-9 Rp.297.000,00 & 500 mA CT-18V sekunder

Belt

Tegangan

input

primer

(2

kumparan): 110V / 117V @ AC 50Hz. - Tegangan output sekunder 1: 10>Rp.285.000,00 12V / 15V / 18V / 20V / 25V / 28V 10 12V / 15V / 18V, / 32V, non CT. A. CT. - Arus output sekunder 1: maks. - Tegangan output sekunder 2: - Arus output sekunder 2: maks. 500 mA. Hybrid Transformer Telp Hybrid untuk dengan & Frekuensi Longitudinal FCC respon: balance part 3400Hz. sesuai 68. standar Telephone matching line Transformer 1-49 Rp.25.000,00 impedance pada Rx). 50> Rp.24.000,00

telepon

rangkaian antarmuka telepon (Tx 300

- Line impedance: Trafo 3 Amp CT-18V Trafo Universal step

600 ohm. CT 1-24 Rp.48.500,00

- Tx & Rx impedance: 600 ohm. down - Tegangan input primer: 110V / 120V / 220V / 240V @ AC 50Hz. - Tegangan output sekunder 6V / 12V 3A. 100> Rp.44.000,00 Trafo 1 Amp 0-18V Trafo Belt 220V / A. 100> Rp.21.000,00 Trafo 3 Amp 0-20V Trafo Universal 220V step / down @ non AC CT 1-24 Rp.48.500,00 9V / step @ 12V / down AC 15V / non CT 1-49 Rp.23.500,00 / 15V / - Arus output sekunder: maks. 18V. 25-99 Rp.46.000,00

- Tegangan input primer: 110V / 50Hz. 18V. 50-99 Rp.22.500,00 - Tegangan output sekunder: 6V

- Arus output sekunder: maks. 1

- Tegangan input primer: 110V / 240V 50Hz. - Tegangan output sekunder 6V / 20V. - Arus output sekunder: maks. 3A.

7,5V / 9V / 12V / 15V / 18V / 25-99 Rp.46.000,00

100> Trafo 5 Amp 0-20V Trafo Universal step down non CT 1-24

Rp.44.000,00 Rp.66.000,00

- Tegangan input primer: 110V / 120V / 220V / 240V @ AC 50Hz. - Tegangan output sekunder: 6V / 9V / 12V / 15V / 18V / 20V. 25-99 Rp.61.000,00 - Arus output sekunder: maks. 5 A. 100> Rp.59.000,00

Trafo 5 Amp CT & Trafo step down dengan 2 bagian 1-24 500 mA 0- sekunder - Tegangan input primer: 110V / 220V 12VUniversal.

Rp.66.000,00

@ AC 50Hz. - Tegangan output sekunder 1: 25-99 Rp.61.000,00 12V / 18V / 25V / 32V, CT. - Arus output sekunder 1: maks. 5 6V / 9V / 12V, non A. CT. - Tegangan output sekunder 2: - Arus output sekunder 2: maks. 500 mA. Trafo 500 mA 0- Trafo step down non CT - Tegangan input primer: 110V / 220V / 240V @ AC 50Hz. - Tegangan output sekunder: 3V 50-99 Rp.20.000,00 / 4,5V / 6V / 7,5V / 9V / 12V. - Arus output sekunder: maks. 500 mA. 100> Rp.19.000,00 down @ non AC CT 1-49 Rp.30.000,00 1-49 Rp.21.000,00 12V Universal. 100> Rp.59.000,00

Trafo 2 Amp 0-20V Trafo Universal 220V

step /

- Tegangan input primer: 110V / 240V 50Hz. - Tegangan output sekunder: 6V

/ 9V / 12V / 15V/ 18V / 20V. 50-99 Rp.28.500,00 - Arus output sekunder: maks. 2 A. 100> Rp.26.000,00

DAN JENIS LAINNYA