Anda di halaman 1dari 13

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Sejarah akuntansi dan para akuntan memperlihatkan perubahan secara terus menerus, yang pada awalnya, akuntansi tidak lebih dari sistem pencatatan untuk jasa perbankan tertentu dan skema pemungutan pajak. Timbulnya perusahaan modern mendorong pelaporan keuangan dan auditing secara periodik. Akuntansi dalam perubahannya juga memberikan informasi untuk pengambilan keputusan kepada pasar surat berharga umum domestik dan internasional yang sangat besar. Akuntansi juga memperluas lingkupnya terhadap konsultasi manajemen dan menggabungkan teknologi informasi yang makin berkembang ke dalam sistem prosedurnya. Oleh karena pentingnya fungsi akuntansi dalam kehidupan bisnis dan keuangan membuat akuntansi harus memberikan respon terhadap kebutuhan masyarakat akan informasi yang terus berubah dan mencerminkan kondisi budaya, hukum, sosial, politik dari masyarakat tempat dia beroperasi. Akuntansi internasional merupakan akuntansi yang digunakan untuk transaksi internasional, perbandingan prinsip akuntansi antar negara yang berbeda dan harmonisasi sebagai standar akuntansi dalam kewenangan pajak, auditing, dan bidang akuntansi lainnya, oleh karena itu akuntansi harus berkembang agar mampu memberikan informasi yang diperlukan dalam pengambilan keputusan di perusahaan pada setiap perubahan lingkungan bisnis. Tujuan untuk mengetahui bagaimana dan mengapa akuntansi

berkembang adalah untuk supaya kita dapat memahami dengan lebih baik sisem akuntansi suatu negara dengan mengetahui faktor-faktor dasar yang mempengaruhi perkembangannya. Pengetahuan mengenai faktorfaktor dasar yang mempengaruhi perkembangan dari akuntansi membantu kita untuk

memahami perbedaan dari suatu tempat ke tempat yang lain di dunia, sehingga faktor-faktor tersebut juga dapat menjelaskan perbedaan dan persamaan tersebut. Selain itu akuntansi bereaksi terhadap lingkungannya, lingkungan budaya, ekonomi, hukum dan politik yang berbeda-beda menghasilkan sistem yang serupa juga. Klasifikasi merupakan dasar untuk memahami dan menganalisis mengapa dan bagaimana sistem akuntansi berbeda-beda. Kita juga dapat menganalisis apakah sistem tersebut cenderung menyatu atau berbeda. Tujuan klasifikasi adalah untuk mengelompokkan sistem akuntansi keuangan menurut karakteristik khususnya. Klasifikasi mengungkapkan struktur dasar dimana anggota-anggota kelompok memiliki kesamaan dan apa yang membedakan kelompok-kelompok yang beraneka ragam satu sama lain. Dengan mengenali kesamaan dan perbedaan, pemahaman kita mengenai sistem akuntansi akan lebih baik. Klasifikasi merupakan cara untuk melihat dunia. 1.2 Tujuan penulisan makalah ini adalah: 1. Untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi perkembangan akuntansi 2. Untuk memahami empat dimensi akuntansi menurut hasil analisis Hofstede dan Gray 3. Untuk memahami klasifikasi akuntansi internasional 4. Untuk mengetahui empat pendekatan terhadap perkembangan akuntansi 5. Untuk memahami klasifikasi akuntansi internasional dari sistem hukum dan praktik

1.3 Manfaat Adapun manfaat dari makalah ini adalah: 1. Dapat meningkatkan wawasan dan pengetahuan mengenai faktorfaktor yang mempengaruhi perkembangan akuntansi 2. Mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan internasional klasifikasi akuntansi

BAB II PEMBAHASAN II.1. PERKEMBANGAN

II. 2. Klasifikasi A. Akuntansi Internasional dan Sistem Pelaporan di Klasifikasikan dalam Dua Kategori Penelitian mengenai pengklasifikasian sistem akuntansi memiliki dua bentuk utama yaitu pendekatan deductive / judgmental dan pendekatan inductive/empirict 1. Pendekatan Deductive / Judgmental Pendekatan deductive mengidentifikasikan faktor lingkungan yang relevan dan mengkaitkan itu dengan praktek akuntansi nasional, pengkelompokan internasional atau pola perkembangan yang diajukan. Pendekatan ini diajukan dari anilisa lingkungan yang dilakukan oleh Mueller dalam bukunya International Accounting . Dimana Muller mengajukan empat pendekatan yang berbeda-beda terhadap perkembangan akuntansi di negara-negara barat dengan sistem ekonomi berorientasi pasar. a. Pendekatan Approach) Pada pendekatan ini praktik akuntansi bertujuan untuk meningkatkan tujuan makroekonomi nasional. Tujuan perusahaan yang biasanya mengikuti dan bukan memimpin kebijakan nasional karena perusahaan bisnis mengkoordinasikan kegiatan mereka dengan kebijakan nasional makroekonomi (Under The Macroeconomic

Cotoh: untuk mendorong perkembangan industri tertentu, suatu negara membuat kebijakan seperti mengizinkan penghapusan pengeluaran modal secara cepat pada beberapa industri. Negara Swedia, Prancis, dan Jerman menganut pendekatan ini. b. Pendekatan Approach). Pada pendekatan ini, akuntansi berkembang dari prinsip-prinsip mikroekonomi. Fokusnya terletak pada entitas perusahaan secara individu yang memiliki tujuan untuk bertahan hidup dengan mempertahankan modal fisik yang dimiliki dan memisahkan secara jelas modal dari laba untuk mengevaluasi dan mengendalikan aktivitas usaha. contoh negara yang memakai pendekatan ini adalah Belanda. c. Pendekatan disiplin independent (Under The Independent Approach) Akuntansi berasal dari praktek bisnis dan berkembang secara ad hoc, dengan dasar perlahan-lahan dan pertimbangan, coba-coba, dan kesalahan. Akuntansi dipandang sebagai fungsi jasa yang konsep dan prinsipnya diambil dari proses bisnis yang dijalankan dan bukan dari cabang keilmuan seperti ekonomi. Akuntansi sebagai fungsi jasa dari bisnis memberikan ruang yang cukup untuk menyimpulkan bahwa akuntansi dapat membangun kerangka yang berguna bagi dirinya yang disaring dari proses bisnis yang dilayaninya. Jika hal ini mungkin dilakukan, maka akuntansi dapat bergantung pada dirinya sendiri menjadi sesuatu disiplin yang independen. Negara Amerika dan Inggris merupaka contoh negara yang menganut pendekatan ini. d. Pendekatan keseragaman akuntansi (Under The Uniform Approach) Secara umum pendekatan ini digunakan di negara-negara dengan keterlibatan pemerintah yang besar dalam perencanan ekonomi, dimana akuntansi digunakan antara lain untuk mengukur kinerja, mikroekonomi (Under The Microeconomic

mengalokasikan sumber daya, mengumpulkan pajak dan mengendalikan harga. Sehingga dalam pendekatan ini akuntansi distandarisasi dan digunakan sebagai alat untuk kendali administratif oleh pemerintah pusat. Hal ini dikarenakan keseragaman dalam pengukuran,

pengungkapan dan penyajian akan memudahkan informasi akuntansi dalam mengendalikan seluruh jenis bisnis. Klasifikasi yang dilakukan G. G. Mueller yang dimuat dalam The International Journal of Accounting (Spring 1968) yang menggunakan penilaian

perkembangan ekonomi, kompleksitas bisnis, situasi social politik serta sistem hukum, membagi Negara-negara ke dalam 10 kelompok berdasarkan sistem akuntansi yaitu: 1. Amerika Serikat / Kanada / Belanda 2. Negara-negara persemakmuran Inggris 3. Jerman / Jepang 4. Daratan Eropa (Tidak termasuk Jerman Barat, Belanda dan Skandinavia) 5. Skandinavia 6. Israil / Meksiko 7. Amerika Selatan 8. Negara Berkembang 9. Afrika (tidak termasuk Afrika Selatan) 10. Negara-negara Komunis 2. Pendekatan inductive Dalam pendekatan inductive praktek akuntansi individual dianalisa, pola perkembangan atau pengkelompokan diidentifikasi, dan di akhir, penjelasan dibuat dari sudut pandang ekonomi, sosial, politik, dan faktor-faktor budaya.

Para peneliti Nair dan Frank dalam The Accounting Review (Juli 1980) membagi negara-negara ke dalam 5 Group besar yaitu (1) model persemakmuran Inggris, (2) model Amerika Latin / Eropa Selatan, (3) model Eropa Utara dan Tengah, (4) model Amerika Serikat dan (5) Chili berdasarkan perbedaan dalam praktek pengungkapan dan penyajian. Nair dan Frank juga menilai tingkat hubungan pengelompokkan Negara-negara tersebut dengan sejumlah variable seperti bahasa, struktur ekonomi dan perdagangan. Ternyata terdapat perbedaan antara pengungkapan dan pengukuran di masing-masing kelompok Negara tersebut. Sementara Nobes dalam Journal of Business Finance and Accounting(Spring 1983) mengidentifikasi faktor-faktor yang membedakan sistem akuntansi yaitu: 3. Tipe pemakai laporan keuangan yang dipublikasikan. 4. Tingkat kepastian hukum. 5. Peraturan pajak dalam pengukuran. 6. Tingkat konservatisme. 7. Tingkat keketatan penerapan dalam historical cost. 8. Penyesuaian replacement cost. 9. Praktek konsolidasi. 10. Kemampuan untuk memperoleh provisi. 11. Keseragaman antar perusahaan dalam menerapkan peraturan. B. Pengklasifikasian akuntansi dilakukan sesuai dengan sistem hukum suatu negara.

1.

Akuntansi dalam negara-negara hukum umum yang berorientasi terhadap penyajian wajar, transparansi dan pengungkapan penuh dan pemisahan antara akuntansi keuangan dan pajak. Akuntansi hukum umum sering disebut sebagai Anglo Saxon. Akuntansi ini berawal dari inggris dan kemudia diekspor ke negara-negara seperti: Australia, Kanada, Hongkong, India, Malaysia, Pakistan dan Amerika Serikat.

2.

Akuntansi dalam negara-negara yang menganut kodifikasi hukum memiliki karakteristik berorientasi legalistik, tidak membiarkan pengungkapan dalam jumlah kurang, dan kesesuaian antara akuntansi keuangan dan pajak. Akuntansi kodofikasi hukum disebut dengan Kontinental, legalistik atau seragam secara makro. Akuntansi ini ditemukan di negara-negara Eropa kontinental dan bekas koloni mereka di Asia, Afrika dan Amerika seperti Perancis, Jerman, Belanda dan Thailand dan Jepang.

C. Pengklasifikasian Akuntansi Dilakukan Sesuai dengan Sistem Praktik (Penyajian Wajar versus Kepatuhan Hukum) Adanya perbedaan akuntansi yang semakin hilang pada tingkat nasional disebabkan oleh beberapa hal antara lain: 1. Pentingnya pasar saham sebagai sumber keuangan terasa semakin berkembang di seluruh dunia. Modal sifatnya semakin menjadi global, sehingga menuntut adanya standar laporan keuangan perusahaan yang diakui secara mendunia. 2. Ratusan perusahaan saat ini mencatat sahamnya pada bursa efek diluar negara asalnya sehingga harus adanya laporan yang menggunakan prinsip akuntansi dan berisi pengungkapan yang ditujukan kepada investor internasional. Tahun 2005, seluruh perusahaan Eropa yang terdaftar diwajibkan untuk mengadopsi standar Pelaporan Keuangan Internasional dalam setiap laporan mereka yang terkonsolidasi. 3. Beberapa negara yang menganut kodifikasi hukum, secara khusus Jerman dan Jepang, mengalihkan tangung jawab pembentukan

standar akuntansi dari pemerintah kepada kelompok sektor swasta yang profesional dan independen. Perbedaan penyajian wajar dan kepatuhan terhadap hukum mengalami banyak permasalahan. Ini menyangkut penyesuaian yang dilakukan terhadap

pemberlakuan IFRS sebagai dasar penyajian. Beberapa masalah diantaranya a. Depresiasi, dimana beban ditentukan berdasarkan penurunan kegunaan aktiva selama masa manfaat ekonomi (penyajian wajar) atau jumlah yang ditentukan untuk tujuan pajak (kepatuhan hukum). b. Sewa guma usaha yang memiliki substansi pembelia aktiva tetap (properti) diperlakukan seperti itu (penyajian wajar) atau diperlakukan seperti sewa guna usaha operasi yang biasa (kepatuhan hukum) c. Pensiun dengan biaya yang diakui pada saat dihasilkan oleh karyawan (penyajian wajar) atau yang dibebankan menurut dasar dibayar pada saat karyawan berhenti bekerja (kepatuhan hukum) Isu penting yang terjadi pada saat ini adalah tentang pemberlakuan IFRS sebagai dasar penyajian. Sehingga negara-negara yang belum melakukan penyajian wajar melakukan penyesuaian terhadap laporannya. Perbedaan antara penyajian wajar dan kesesuaian hukum menimbulkan pengaruh yang besar terhadap banyak permasalahan akuntansi. Akuntansi hukum umum berorientasi pada kebutuhan pengambilan keputusan oleh investor luar. Akuntasi kepatuhan hukum dirancang untuk memenuhi ketentuan yang dikenakan pemerintah seperti perhitungan laba kena pajak atau mematuhi rencana ekonomi pemerintah nasional. Pengukuran yang konservatif

mamastikan bahwa jumlah yang hati-hati dibagikan. Akuntansi kepatuhan hukum akan terus digunakan dalam laporan keuangan perusahaan secara individu yang ada di Negara-negara hukum kode di mana laporan konsolidasi menerapkan pelaporan dengan penyajian wajar. Dengan cara ini, laporan

konsolidasi dapat memberikan informasi kepada investor sedangkan laporan perusahaan individual untuk memenuhi ketentuan hukum. IFRS juga ditunjukan untuk penyajian yang wajar. Secara khusus, IFRS relevan bagi perusahaan-perusahaan yang mengandalkan pasar modal internasional untuk memperoleh pendanaan. Akuntansi penyajian wajar ditemukan di Inggris, Amerika Serikat, Belanda dan negara-negara lain yang dipengaruhi dengan ikatan politik dan ekonomi dengan negara-neegara tersebut diatas seperti, Kanada, Meksiki dan Filipina. Seluruh perusahaan Eropa yang terdaftar telah mengikuti penyajian keuangan wajar dalam berbagai laporannya yang telah terkonsolidasikan, karena mereka telah beralih ke standar IFRS sejak 2005, dan sekaran IFRS merupakan standar acuan yang sedang dikembangkan di China dan Jepang.

BAB III KESIMPULAN

REFERENSI Frederick D.S. Choi, dan Gary K. Meek, International Accounting, Akuntansi Internasional, Edisi 6, Jakarta: Salemba Empat, 2010 Frederick D.S. Choi, dan Gary K. Meek, International Accounting 7th Edition, Jakarta: Salemba Empat, 2011 http://dholphinwahyu.blogspot.com/2011/04/perkembangan-dan-klasifikasiakuntansi.html (diakseses 18 Februari 2013) http://harnityastuti.blogspot.com/2011/03/perkembangan-dan-klasifikasiakuntansi.html (diakses 18 Februari 2013) http://khair2120.wordpress.com/2011/02/19/klasifikasi-akuntansi-internasional/ (diakses 18 Februari 2013) http://adityapippo.blogspot.com/2012/05/akuntansi-internasional.html (diakses 18 Februari 2013) http://irsan90.wordpress.com/2012/03/26/pengantar-akuntansi-internasional/ (diakses 18 Februari 2013)

http://saveandsound.wordpress.com/2012/02/13/sistem-hukum-eropakontinental/ (diakses 18 Februari 2013)

http://vivi-oktaviani.blogspot.com/2011/04/perkembangan-dan-klasifikasiakuntansi.html (diakses 18 Februari 2013)