Anda di halaman 1dari 15

Analisis Motivasi dan Hasil Belajar Siswa Kelas XI IPA SMAN 1 Kepanjen Kabupaten Malang terhadap Pembelajaran Quantum

Teaching- Mind Mapping pada Materi Sistem Koloid Nanda Elok Mayangsari

Abstrak

ABSTRAK

Mayangsari, Nanda Elok. 2011. Analisis Motivasi dan Hasil Belajar Siswa Kelas XI IPA SMAN 1 Kepanjen pada Pembelajaran Quantum Teaching-Mind Mapping pada Materi Sistem Koloid. Skripsi, Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Tri Maryami, M.Pd., (2) Herunata, S. Pd, M. Pd.

Kata Kunci: Pembelajaran Quantum Teaching-Mind Mapping, Motivasi Belajar, Hasil Belajar. Dalam proses belajar mengajar segala sesuatunya berarti, mulai dari setiap kata, pikiran dan asosiasi, serta sampai sejauh mana lingkungan itu dirubah, presentasi dan rancangan pengajaran, sejauh itu pula proses belajar berlangsung. Guru perlu mendalami keadaan siswa-siswanya dengan berusaha memahami berbagai kebutuhan yang diperlukan oleh siswanya. Kegiatan yang dilakukan siswa dipengaruhi oleh motivasi. Motivasi dapat diinterpretasikan dari tingkah laku yang dapat diketahui dari hasil belajar. Guru perlu menciptakan pembelajaran aktif yang dapat menimbulkan motivasi pada diri siswa agar siswa mempunyai prestasi yang optimal. Pembelajaran Quantum Teaching-Mind Mapping merupakan perpaduan pembelajaran dimana kegiatan dengan peran dan fungsinya yang saling mendukung untuk menunjang kegiatan pembelajaran yang lebih variatif dan bermakna. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui bagaimana motivasi belajar dan hasil belajar siswa yang diajar dengan pembelajaran Quantum Teaching-Mind Mapping dibandingkan siswa yang diajar dengan pembelajaran Quantum Teaching pada materi sistem koloid. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian eksperimental semu. Kelas eksperimen menggunakan pembelajaran Quantum Teaching-Mind Mapping dan kelas kontrol menggunakan pembelajaran Quantum Teaching. Populasi penelitian adalah semua siswa kelas XI SMA Negeri 1 Kepanjen tahun ajaran 2010/2011. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik tidak acak dengan pertimbangan penyamaan beban kelas, yaitu kelas XI IPA 1 sebagai kelas eksperimen dan kelas XI IPA 2 sebagai kelas kontrol. Instrumen penelitian

yang digunakan adalah instrumen perlakuan (silabus, RPP, hand out, dan worksheet) dan instrumen pengukuran (tes hasil belajar, angket motivasi dan lembar observasi). Instrumen tes hasil belajar terdiri dari 30 butir soal valid dengan nilai reliabilitas sebesar 0,73. Analisis data penelitian dilakukan dengan analisis deskriptif dan analisis statistik berupa uji t dan uji Mann Whitney dengan taraf signifikansi = 0,050. Analisis data dilakukan dengan bantuan program SPSS 16 for Window. Hasil penelitian menunjukan bahwa pembelajaran Quantum Teaching-Mind Mapping dapat berjalan dengan baik. Motivasi belajar kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan dengan motivasi belajar kelas kontrol. Pada kelas eksperimen, persentase keseluruhan siswa yang sangat termotivasi sebesar 72% sedangkan pada kelas kontrol hanya 56%. Berdasarkan uji t diperoleh nilai thitung sebesar 1,907 dan ttabel sebesar 1,670, sehingga motivasi belajar kelas eksperimen terbukti lebih baik dari kelas kontrol. Hasil belajar kognitif kelas eksperimen lebih baik dari pada kelas kontrol, dengan nilai rata-rata kelas eksperimen sebesar 82,4 sedangkan nilai rata-rata kelas kontrol sebesar 79,2. Hasil belajar afektif kelas eksperimen juga lebih baik dari pada kelas kontrol, dengan nilai rata-rata kelas eksperimen sebesar 78 sedangkan nilai rata-rata kelas kontrol sebesar 71. Hasil belajar psikomotor kelas eksperimen juga lebih baik dari pada kelas kontrol, dengan nilai rata-rata kelas eksperimen sebesar 82 sedangkan nilai rata-rata kelas kontrol sebesar 77. Berdasarkan uji Mann Whitney pada hasil belajar kognitif, afektif dan psikomotor membuktikan bahwa hasil belajar kognitif, afektif dan psikomotor kelas eksperimen lebih baik dari kelas kontrol.

Aplikasi Model Pembelajaran Quantum Learning Berbasis ESQ pada Hidrolisis Garam Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas XI SMAN 8 Malang FERLY . ROMINALISA

Abstrak

ABSTRAK

Rominalisa, Ferly. 2010. Aplikasi Model Pembelajaran Quantum Learning Berbasis ESQ pada Hidrolisis Garam Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas XI SMAN 8 Malang. Skripsi, Jurusan Kimia, FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Mohammad Sodiq Ibnu, M.Si (II) Drs. Muhadi

Kata kunci: quantum learning, ESQ, mind mapping, gaya belajar, hasil belajar

Agar mampu meningkatkan meningkatkan kualitas output pendidikan dan menciptakan suasana menyenangkan dalam pembelajaran, dibutuhkan model pembelajaran inovatif, sehingga menjadikan belajar menjadi aktivitas yang menyenangkan. Suasana menyenangkan dalam belajar dapat dilakukan dengan memaksimalkan semua kecerdasan siswa serta belajar dengan gaya belajar masing-masing siswa. Model pembelajaran Quantum Learning yang diibaratkan mengikuti konsep Fisika Quantum yaitu:E = mc2 dimana E = Energi (antusiasme, efektivitas belajar-mengajar,semangat), M = massa (semua individu yang terlibat, situasi, materi, fisik), c = interaksi (hubungan yang tercipta di kelas).Quantum Learning berbasis ESQ diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa, karena dapat memaksimalkan kinerja kedua belahan otak (otak kanan dan kiri) serta disesuaikan dengan teori kecepatan belajar. Penelitian ini merupakan 2 rancangan yaitu deskriptif dan pra eksperimental menggunakan rancangan One Group Pre Test and Post Test Group Design. Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA 4 SMA Negeri 8 Malang tahun ajaran 2008-2009 yang berjumlah 41 orang. Data yang diambil dalam penelitian ini, meliputi: (1) ) data mengenai gaya belajar siswa, (2) hasil belajar siswa yang diperoleh dari nilai pretest asam basa sebanyak 20 soal pilihan ganda (3) skor post tes hidrolisis garam sebanyak 20 soal pilihan ganda. Analisis data yang digunakan yaitu analisis deskriptif dan uji t untuk mengetahui perbedaan penerapan model pembelajaran terhadap peningkatan hasil belajar siswa. Hasil penelitian menunjukkan tingkat penguasaan konsep asam-basa siswa kelas XI IPA 4 SMA Negeri 8 Malang tergolong cukup dengan nilai rata-rata 63,90. Tingkat penguasaan

konsep hidrolisis garam tergolong baik dengan nilai rata-rata sebesar 80,60. Nilai t test (9,446) > t tabel (2,021) pada taraf signifikansi 0,05 dinyatakan Ho ditolak. Hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa terdapat pengaruh positif dari penerapan model Pembelajaran Quantum Learning berbasis ESQ yang ditunjukkan dengan hasil belajar yang lebih tinggi. Efektifitas Penerapan Model Inkuiri Terbimbing untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Kelas X SMAN Pademawu Pamekasan Pada Materi Pokok Reaksi Oksidasi dan Reduksi Dina Laurina

Abstrak

ABSTRAK Laurina, Dina. 2007. Efektifitas Penerapan Model Inkuiri Terbimbing untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Kelas X SMAN Pademawu Pamekasan Pada Materi Pokok Reaksi Oksidasi dan Reduksi. Skripsi, Program Studi Pendidikan Kimia, Jurusan Kimia, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. I Wayan Dasna, M.Si, M.Ed., (II) Drs. Rachmad Nugroho.

Kata Kunci:

inkuiri terbimbing, kemampuan berpikir kritis, reaksi oksidasi dan reduksi

Salah satu tujuan pendidikan adalah meningkatkan kemampuan siswa untuk berpikir kritis, membuat keputusan rasional tentang apa yang diperbuat atau apa yang diyakininya. Dalam proses inkuiri siswa belajar dan dilatih bagaimana mereka harus berpikir kritis sehingga kemampuan berpikir kritis siswa akan meningkat karena mereka selalu dihadapkan pada suatu informasi yang harus mereka analisis dan simpulkan. Penerapan model inkuiri terbimbing dapat digunakan sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui penerapan model inkuiri terbimbing dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa kelas X SMAN Pademawu Pamekasan pada materi pokok Reaksi Oksidasi dan Reduksi, mengetahui penerapan model inkuiri terbimbing dalam meningkatkan hasil belajar siswa kelas X SMAN Pademawu Pamekasan, dan mengetahui perolehan hasil belajar siswa kelas X melalui penerapan model inkuiri terbimbing di SMAN Pademawu Pamekasan. Penelitian ini menggunakan rancangan eksperimental semu (quasy experimental design) post test only dan rancangan deskriptif. Rancangan penelitian eksperimental semu bertujuan untuk mengungkapkan hubungan sebab akibat yaitu jika siswa diajar dengan pembelajaran model

inkuiri maka kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar siswa akan meningkat, dengan cara melibatkan kelompok kontrol disamping kelompok eksperimental (Lemlit, 2003:50). Rancangan deskriptif bertujuan untuk memperoleh gambaran secara nyata tentang sikap siswa terhadap pembelajaran inkuiri terbimbing. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar siswa yang signifikan antara pembelajaran dengan model inkuiri terbimbing dan model konvensional pada pembelajaran kimia materi pokok reaksi oksidasi reduksi. Hal ini berarti penerapan pembelajaran model inkuiri terbimbing lebih efektif dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar siswa SMAN Pademawu Pamekasan. Kualitas proses belajar siswa kelas X melalui penerapan model inkuiri terbimbing di SMAN Pademawu Pamekasan lebih tinggi dibandingkan dengan kualitas proses belajar siswa kelas kontrol. Sikap siswa terhadap pembelajaran model inkuiri terbimbing sangat positif. Hal ini terbukti dengan persentase angket sikap siswa sebesar 75% yang berarti bahwa siswa kelas X SMAN Pademawu Pamekasan menyukai pembelajaran model inkuiri terbimbing.

Analisis Buku Pelajaran Sains Kimia SMP Kelas VIII Ditinjau dari Penerapan Teori Konstruktivisme. Devi Ariyani Kartika

Abstrak

i ABSTRAK Kartika, Devi Ariyani. 2006. Analisis Buku Pelajaran Sains Kimia SMP Kelas VIII Ditinjau dari Penerapan Teori Konstruktivisme. Skripsi, Jurusan Pendidikan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Srini M. Iskandar, M.Sc., Ph.D., (II) Dra. Nazriati, M.Si. Kata kunci: Analisis, Buku Pelajaran, SMP Kelas VIII, Teori Konstruktivisme. Buku pelajaran merupakan salah satu sarana dalam proses belajar mengajar. Buku pelajaran diperlukan untuk mendukung proses belajar mengajar. Buku pelajaran dapat membantu siswa untuk lebih mudah memahami pelajaran yang diterimanya. Oleh karena itu, diperlukan buku pelajaran yang baik, yang dapat melibatkan dan menuntut siswa untuk berpikir kritis dan kreatif. Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah: (1) mengetahui seberapa jauh buku pelajaran sains kimia SMP kelas VIII telah memuat materi yang sesuai dengan GBPP mata pelajaran Kimia SMP kurikulum 2004, (2) mengetahui seberapa jauh buku pelajaran sains Kimia SMP kelas VIII telah memuat materi yang mengacu

kepada Teori Konstruktivisme, (3) mengetahui seberapa besar keterlibatan siswa terhadap pertanyaan dalam buku pelajaran sains Kimia SMP kelas VIII, (4) mengetahui seberapa besar relevansi gambar yang terdapat dalam buku pelajaran terhadap siswa, (5) mengetahui seberapa besar buku pelajaran sains Kimia SMP kelas VIII memenuhi persyaratan fisik buku yang baik yang meliputi: halaman judul, daftar isi, kata pengantar, daftar pustaka, dan indeks. Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif khususnya penelitian deskriptif analisis dokumenter. Obyek penelitian ini adalah 4 buah buku pelajaran Sains Kimia SMP Kelas VIII yang beredar di kota Malang, yaitu: buku yang diterbitkan oleh Depdiknas, Erlangga, Esis, dan Yudhistira yang diambil secara purposif. Proses pengumpulan data dilakukan dengan pengisian lembar pengamatan oleh peneliti, kemudian data yang diperoleh diolah dengan menggunakan teknik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase kesesuaian materi buku pelajaran dengan indikator kurikulum 2004 yang tertinggi adalah buku terbitan Erlangga, yaitu sebesar 92,6%. Untuk persentase yang paling tinggi mengenai kesesuaian materi buku pelajaran dengan penerapan Teori Konstruktivisme adalah buku pelajaran terbitan Yudhistira, yaitu sebesar 84,61%. Sedangkan nilai indeks terbesar mengenai keterlibatan siswa terhadap pertanyaan adalah buku pelajaran terbitan Yudhistira, yaitu sebesar 1,09. Untuk nilai indeks terbesar mengenai relevansi gambar dari suatu materi terhadap siswa adalah buku pelajaran terbitan Depdiknas, yaitu sebesar 2,39. Sedangkan dari data persyaratan sifat fisik buku dapat diketahui bahwa buku pelajaran terbitan Depdiknas lebih memenuhi kriteria dari persyaratan sifat fisik buku pelajaran yang ditentukan.

Analisis Kemampuan Siswa Kelas X Semester 2 SMAN 5 Malang dalam Menyelesaikan Soal-Soal dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris untuk Topik Ikatan Kovalen, Bentuk dan Kepolaran Molekul mutimatun nikmah

Abstrak

ABSTRAK

Nikmah, Mutimatun. 2009. Analisis Kemampuan Siswa Kelas X Semester 2 SMAN 5 Malang dalam Menyelesaikan Soal-Soal dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris untuk Topik Ikatan Kovalen, Bentuk dan Kepolaran Molekul. Skripsi, Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Effendy, Ph.D, (2) Dra. Surjani Wonorahardjo, Ph.D

Kata kunci: Kemampuan menyelesaikan soal, peran bahasa, ikatan kovalen, bentuk dan kepolaran molekul.

Salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan sehingga memiliki daya saing di tingkat nasional, regional, dan internasional adalah melalui pengembangan Sekolah Bertaraf Internasional (SBI). Menurut Depdiknas (2009:9), SBI merupakan sekolah yang telah memenuhi seluruh Standar Nasional Pendidikan (SNP) dan diperkaya dengan faktor X. Salah satu faktor X tersebut adalah penggunaan bahasa asing, khususnya bahasa Inggris. Sebelum menjadi SBI, beberapa sekolah yang telah memenuhi seluruh standar nasional pendidikan diberi mandat untuk melaksanakan program Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI). Terdapat beberapa tahapan dalam mengembangkan program RSBI yaitu tahap pendampingan tahun I, II, dan III, tahap pemberdayaan, dan tahap mandiri. SMAN 5 Malang sebagai subjek penelitian ini, telah memasuki tahap pendampingan tahun II. Oleh karena itu, proses pembelajaran bilingual (bahasa Indonesia dan bahasa Inggris) harus telah berjalan 50%. Ada dua macam ujian yang harus diikuti oleh siswa RSBI yaitu ujian nasional dan ujian RSBI. Di samping itu siswa boleh mengikuti ujian internasional untuk

memperoleh sertifikat internasional. Agar siswa sukses dalam ketiga jenis ujian tersebut, siswa harus dilatih menyelesaikan soal yang diberikan dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Pada tes yang demikian, soal yang berbahasa Indonesia memiliki pasangan soal yang diberikan dalam bahasa Inggris. Pasangan soal tersebut harus memiliki dasar konseptual yang sama sehingga benar-benar dapat mengukur dan membandingkan kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal baik yang diberikan dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan siswa kelas X Semester 2 SMAN 5 Malang dalam menyelesaikan soal-soal dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris untuk topik ikatan kovalen, bentuk dan kepolaran molekul baik soal tipe pilihan ganda maupun tipe uraian. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas X SMA Negeri 5 Malang tahun ajaran 2008/2009 dengan sampel kelas X-2 yang dipilih menggunakan teknik sampling random sederhana. Data penelitian ini adalah skor ratarata prestasi belajar yang diperoleh dari hasil ulangan yang menggunakan instrumen berupa soal-soal mengenai ikatan kovalen, bentuk dan kepolaran molekul yang diberikan dalam bentuk pilihan ganda dan uraian menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Berdasarkan hasil uji coba, instrumen tersebut memiliki validitas isi rata-rata sebesar 100% dan validitas butir soal rata-rata valid. Reliabilitas tes untuk soal tipe pilihan ganda topik ikatan kovalen sebesar 0,73 dan untuk topik bentuk dan kepolaran molekul sebesar 0,72 dengan rtabel sebesar 0,661 sedangkan untuk soal tipe uraian pada topik ikatan kovalen sebesar 0,97 dan untuk topik bentuk dan kepolaran molekul sebesar 0,98 dengan rtabel sebesar 0,917. Penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif untuk mengetahui kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris serta analisis menggunakan uji-t untuk menguji hipotesis penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal tipe pilihan ganda berbahasa Inggris lebih tinggi daripada soal tipe pilihan ganda yang berbahasa Indonesia (skor rata-rata untuk soal berbahasa Inggris sebesar 94,6, sedangkan untuk soal berbahasa Indonesia sebesar 83,9), (2) kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal tipe uraian berbahasa Inggris lebih tinggi daripada soal tipe uraian yang berbahasa Indonesia (skor rata-rata untuk soal berbahasa Inggris sebesar 81,0 sedangkan untuk soal berbahasa Indonesia sebesar 76,8), (3) terdapat perbedaan yang signifikan antara kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dimana kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal berbahasa Inggris lebih tinggi daripada soal yang berbahasa Indonesia baik untuk soal tipe pilihan ganda maupun uraian. Skor rata-rata tersebut di atas tingkat pencapaian minimal yaitu 75 sehingga dapat disimpulkan bahwa program RSBI SMAN 5 Malang, khususnya untuk mata pelajaran kimia, dapat dianggap berhasil. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, disarankan untuk lebih menyeimbangkan kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dengan memberikan latihan-latihan soal sebagaimana dalam penelitian ini baik berupa pre-test, posttest, maupun latihan-latihan soal selama proses pembelajaran berlangsung.

analisis kesulitan siswa dalam menyelesaikan soal-soal stoikiometri berdasarkan tahapan penyelesaian soal kelas X tahun ajaran 2008/2009 SMA Negeri 2 Trenggalek Mayasari Oktafa Rahmah

Abstrak

ABSTRAK Rahmah, Mayasari, Oktafa. 2009. Analisis Kesulitan Siswa dalam Menyelesaikan Soal- Soal Stoikiometri Berdasarkan Tahapan Penyelesaian Soal Kelas X Tahun Ajaran 2008/2009 SMA Negeri 2 Trenggalek. Skripsi, Jurusan Pendidikan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. H. Suhadi Ibnu, M.A.,Ph. D, (II) Drs. Ida Bagus Suryadharma, M.S. Kata kunci: analisis kesulitan, stoikiometri, tahapan penyelesaian soal. Salah satu tujuan pengajaran kimia di SMU adalah penguasaan konsep kimia. Namun siswa sering mengalami kesulitan dalam menguasai konsep tersebut. Guna mengetahui sejauh mana penguasaan siswa terhadap suatu konsep, dapat tercermin dari cara/teknik yang dilakukan siswa dalam memecahkan persoalan kimia, terutama persoalan yang bersifat matematis (stoikiometri). Metode penyelesaian soal dibagi menjadi empat tahap penyelesaian soal, yaitu tahap analisis soal, tahap perencanaan, tahap penyelesaian, dan tahap penilaian. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan tujuan untuk mengetahui letak kesulitan dan persentase siswa kelas X SMA Negeri 2 Trenggalek yang mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal- soal stoikiometri tiap tahap penyelesaian soal dan tiap sub pokok bahasan. Populasi penelitian ini yaitu siswa kelas X SMAN 2 Trenggalek tahun ajaran 2008/2009 yang terdiri dari 7 kelas. Sampel penelitian terdiri dari 3 kelas yaitu kelas X-D, XE, dan X-F yang diambil dengan teknik random rumpun (Cluster Random Sampling). Jumlah dari ketiga kelas tersebut adalah 105 siswa. Instrumen yang digunakan adalah tes essai yang terdiri dari 15 soal yang valid dengan koefisien reliabilitas 0,93. Data dianalisis secara deskriptif melalui penghitungan persentase. Hasil penelitian ini adalah (1) persentase kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal- soal stoikiometri berdasarkan tahap- tahap penyelesaian soal yaitu sebagai berikut: tahap analisis 94,29%, tahap perencanaan 82,53%, tahap penyelesaian 67,78%, dan tahap penilaian 59,13%, (2) persentase kemampuan siswa dalam memecahkan soal- soal stoikiometri adalah 75,93%, sedangkan (3) persentase kesulitan siswa pada tiap sub pokok bahasan yaitu: menentukan atom relatif (Ar) dan massa molekul relatif atau massa rumus relatif (Mr) 82,86%, mengkonversikan jumlah mol dengan jumlah partikel, massa zat dan volume gas 77,68%, menentukan kadar zat dalam senyawa 67,04%, menentukan rumus empiris dan rumus molekul senyawa 87,26%, menentukan perhitungan kimia dalam persamaan reaksi 81,90%, menentukan pereaksi pembatas 65,22%, dan menentukan rumus air kristal 63,57%. Kemungkinan ketidakmampuan yang terjadi pada siswa disebabkan karena siswa kurang memahami konsep sebelumnya yaitu konsep mol dan reaksi kesetimbangan. Hal ini terlihat dari pekerjaan siswa pada tahap perencanaan yang kurang tepat penyelesaiannya, sehingga mengakibatkan pada tahap berikutnya siswa mengalami kesulitan.

Analisis Pemahaman dan Kesalahan Konsep Materi Titrasi Asam Basa Berdasarkan Tingkatan Taksonomi Hasil Belajar pada Siswa Kelas XI IPA 4 SMA Negeri 3 Malang Tahun Ajaran 2011/2012 Fransiska Dwi Yunitasari

Abstrak

ABSTRAK

Yunitasari, Fransiska Dwi. 2012. Analisis Pemahaman dan Kesalahan KonsepMateri Titrasi Asam Basa Berdasarkan Tingkatan Taksonomi HasilBelajar pada Siswa Kelas XI IPA 4 SMA Negeri 3 Malang Tahun Ajaran2011/2012. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan IlmuPengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. H.Suhadi Ibnu, M.A., Ph.D, (II) Dr. H. Yudhi Utomo, M.si.

Kata kunci: pemahaman konsep, kesalahan konsep, titrasi asam basa, tingkatan taksonomi hasil belajar Kajian dalam ilmu kimia dimulai dari kajian konsep sehingga pemahamankonsep yang benar sangat diperlukan dalam mempelajari ilmu kimia. Individumemiliki respon yang berbeda-beda dalam menerima dan mengartikan setiapkonsep yang diajarkan. Konsepkonsep ilmu kimia yang bersifat abstrak dansaling berkaitan menyebabkan kesulitan bagi siswa untuk memahami konsepdengan benar. Kesulitan yang terjadi secara terus menerus dapat menimbulkanpemahaman yang berbeda dari pemahaman yang benar sehingga siswa dapatmengalami kesalahan konsep dalam kimia. Titrasi asam basa memiliki konsepyang sifatnya abstrak dan berkaitan dengan konsep sebelumnya. Dasar konseptitrasi asam basa adalah reaksi netralisasi, beberapa konsep yang berkaitan tentangtitrasi asam basa seperti konsep asam basa kuat/lemah, jumlah mol asam/basasetelah pengenceran, reaksi asam basa, larutan penyangga, dan hidrolisis garamyang semuanya merupakan konsep-konsep abstrak. Perkembangan pemahamankonsep melalui satu seri tingkatan. Tingkat pemahaman siswa dapat diukur darikemampuan siswa menjawab soal yang diklasifikasikan berdasarkan jenjangkognitif dari Bloom. Tingkatan kognitif pada taksonomi Bloom yaitu tingkatpengetahuan (C1), pemahaman (C2), aplikasi (C3), analisis (C4), evaluasi (C5),dan mencipta (C6).

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk: (1) mengetahuipemahaman materi asam basa berdasarkan tingkatan taksonomi hasil belajar padasiswa kelas XI IPA 4 SMA Negeri 3 Malang, (2) mengetahui kesalahan konseppada tingkatan taksonomi hasil belajar tingkat rendah materi titrasi asam basasiswa kelas XI IPA 4 SMA Negeri 3 Malang, (3) mengetahui kesalahan konseppada tingkatan taksonomi hasil belajar tingkat tinggi materi titrasi asam basasiswa kelas XI IPA 4 SMA Negeri 3 Malang. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kuantitatifdengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Pendekatan kuantitatif digunakanuntuk mendeskripsikan pemahaman siswa terhadap materi titrasi asam basa,sedangkan pendekatan kualitatif digunakan untuk mendeteksi kesalahan konseppada tingkatan taksonomi hasil belajar tingkat rendah dan tingkatan taksonomihasil belajar tingkat tinggi. Pemilihan sampel memakai teknik conveniencesampling. Sampel penelitian adalah siswa kelas XI IPA 4 SMA Negeri 3 Malangtahun ajaran 2011/2012 berjumlah 31 siswa. Sampel memiliki karakterisitiksebagai berikut: (1) sampel bukan kelas olimpiade, (2) sampel bukan kelas aktiforganisasi, dan (3) kelas sampel memiliki nilai rata-rata kimia rendah. Penelitianini menggunakan tes objektif dengan jumlah soal 17 butir dan memiliki 5alternatif jawaban.Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif. Analisis deskriptif digunakan untuk menjelaskan tingkat pemahaman sampel.Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) pemahaman materi titrasi asambasa siswa kelas berdasarkan tingkatan taksonomi hasil belajar tergolong tinggiXI IPA 4 tahun ajaran 2011/ 2012 SMA Negeri 3 Malang, rata-rata persentasesiswa yang menjawab benar sebesar 78,48% dengan rincian untuk persentasemasing-masing: (a) tingkatan taksonomi hasil belajar tingkat rendah sebesar80,97% yang terdiri dari: (1) jenjang kognitif pengetahuan (C1) sebesar 98,30%,(2) pemahaman (C2) sebesar 89,20%, dan (3) aplikasi (C3) sebesar 55,42%, (b)tingkatan taksonomi hasil belajar tingkat tinggi sebesar 75,87% yang terdiri dari:(1) jenjang kognitif analisis (C4) sebesar 83,05%, (2) evaluasi (C5) sebesar68,70%; (2) keslahan konsep pada tingkatan taksonomi hasil belajar tingkatrendah yang terdeteksi adalah: (a) titik ekivalen dan titik akhir titrasi adalah duaistilah yang berdiri sendiri dan tidak memiliki hubungan, (b) titik ekivalen terjadipada saat warna larutan berubah-ubah (belum stabil); (3) kesalahan konseptingkatan konsep tinggi yang terdeteksi adalah: (a) pH pada saat titik ekivalenuntuk semua jenis titrasi asam basa = 7, (b) pada saat mol asam = mol basa untuksemua jenis titrasi asam basa mengalami hidrolisis, (3) titik akhir pada grafikmerupakan titik akhir titrasi.

(Kode PENDMIPA-0016) : Skripsi Upaya Peningkatan Prestasi Belajar Siswa Melalui Model Kooperatif Tipe STAD Dengan Pendekatan PAIKEM Pada Materi Larutan Elektrolit Dan Non Elektrolit Siswa Kelas X Semester II SMA X BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Salah satu masalah besar dalam bidang pendidikan di Indonesia yang banyak dibicarakan adalah rendahnya mutu pendidikan yang tercermin dari rendahnya ratarata prestasi belajar, khususnya siswa Sekolah Menengah Atas (SMA). Masalah lain dalam bidang pendidikan di Indonesia yang juga banyak dibicarakan adalah bahwa pendekatan dalam pembelajaran masih terlalu di dominasi oleh guru (teacher centered). Guru lebih banyak menempatkan siswa sebagai obyek didik. Pendidikan kita kurang memberikan kesempatan kepada siswa dalam berbagai mata pelajaran, untuk mengembangkan kemampuan berfikir holistik (menyeluruh), kreatif, obyektif dan logis, belum memanfatkan quantum learning sebagai salah satu paradigma menarik dalam pembelajaran, serta kurang memperhatikan ketuntasan belajar secara individual. Demikian juga proses pendidikan kita, umumnya belum menerapkan pembelajaran sampai anak menguasai materi pembelajaran secara tuntas. Akibatnya, tidak aneh bila banyak siswa yang tidak menguasai materi pembelajaran meskipun sudah dinyatakan tamat dari sekolah. Tidak heran pula kalau mutu pendidikan secara nasional masih rendah. Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 dan Peraturan Pemerintah No. 25 Tahun 2000 tentang otonomi daerah telah mengatur pembagian kewenangan antara pemerintah pusat dan daerah dalam penyelenggaran pemerintah, termasuk di dalamnya bidang pendidikan. Berdasar UU tersebut maka pemerintah menetapkan suatu kurikulum baru bagi pendidikan nasional kita yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Kurikulum KTSP adalah kurikulum operasional yang dikembangkan di sekolah yang dijadikan sebagai pedoman pelaksanaan warga sekolah berdasarkan karakteristik dan potensi sekolah dan lingkungan serta kebutuhan peserta didik di sekolah tersebut (Sosialisasi KTSP, XXXX:6). Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, bahwa dalam kurikulum terbaru ini dikelompokkan 5 mata pelajaran : a. Kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia b. Kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian c. Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi d. Kelompok mata pelajaran estetika e. Kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga dan kesehatan Peningkatan mutu pendidikan berdasarkan kurikulum KTSP diarahkan untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia seutuhnya melalui : olah hati, olah pikir, olah rasa dan olah raga agar memiliki daya saing dalam menghadapi tantangan global. Berbagai upaya telah dilakukan untuk meningkatkan pemerataan kesempatan belajar bagi masyarakat dan meningkatkan mutu pendidikan pada semua jenjang, jalur dan jenis pendidikan. Upaya-upaya tersebut dilakukan karena disadari bahwa pendidikan merupakan usaha untuk mengembangkan seluruh potensi peserta didik agar mampu menguasai pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi termasuk ilmu kimia, telah menciptakan pemilihan materi, metode dan media pembelajaran, serta sistem pengajaran yang tepat. Guru selalu dituntut berinovasi dan memperbaiki proses belajar dan pembelajaran kelas yang selama ini telah dilakukan. Proses belajar mengajar harus dikelola dengan baik, maka akan menghasilkan pembelajaran yang bermakna (meaningfull learning), dan bukan sekedar pembelajaran yang hafalan saja (rote learning). Untuk mencapai suatu pembelajaran yang bermakna (meaning learning), salah satu pendekatan kontruktivisme memulai pelajaran d ari apa yang diketahui siswa. Untuk menjadikan suatu pembelajaran yang bermakna maka dalam suatu pembelajaran dapat menggunakan model pembelajaran kooperatif. Model belajar kooperatif salah satunya adalah belajar kooperatif model STAD (Student Teams Achievement Divisions). Belajar kooperatif model STAD mempunyai ciri, yakni belajar dilakukan melalui belajar kelompok, guru menyajikan informasi akademik baru kepada siswa, siswa dalam kelas tertentu dipecah menjadi kelompok dengan anggota 4-5 orang, setiap kelompok harus heterogen, yakni terdiri dari lakilaki dan perempuan, berasal dari berbagai suku, dan memiliki kemampuan yang tinggi, sedang, dan rendah (Slavin, XXXX: 144). Model pembelajaran STAD dikembangkan untuk membuat pelajaran menjadi suatu proses yang aktif bukan pasif. Model pembelajaran ini diberikan agar siswa mampu melakukan observasi sendiri, mampu menganalisis sendiri, dan mampu berfikir sendiri. Siswa bukan hanya mampu menghafal dan meniru pendapat orang lain, juga untuk merangsang agar berani dan mampu menyatakan dirinya secara aktif, bukan hanya pendengar yang pasif terhadap segala suatu yang dikatakan guru. Belajar kooperatif ditandai dengan adanya tugas bersama bagi

siswa, yang kemudian diterjemahkan menjadi tujuan yang harus dicapai kelompok. Kelompok yang efektif ditandai dengan suasana yang hangat dan produktivitas yang tinggi dalam pemenuhan tugas-tugas, tanpa adanya kelompok yang dikorbankan dan ditonjolkan (Joni, 1993). Dalam pembelajaran kimia di SMA banyak pokok bahasan yang menuntut siswa melaksanakan eksperimen, salah satunya adalah Larutan Elektrolit dan Non Elektrolit. Pembelajaran materi Larutan Elektrolit dan Non Elektrolit berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) harus sesuai dengan karakteristik konsep kimia yang menekankan pada ketrampilan proses. Dalam kurikulum ini disebutkan bahwa standar kompetensi yang harus dicapai oleh siswa adalah :Memahami sifat -sifat Larutan Elektrolit dan Non Elektrolit. Standar kompetensi ini dituangkan dalam kompetensi dasar, yaitu mengidentifikasi sifat Larutan Elektrolit dan Non Elektrolit berdasarkan data percobaan. Pencapaian kompetensi dasar tersebut dapat dikembangkan melalui pemilihan metode pembelajaran yang memberikan pengalaman belajar bagi siswa untuk menguasai kompetensi dasar yang telah ditentukan. Untuk itu dalam pembelajarannya perlu digunakan metode pembelajaran yang memberikan kesempatan siswa berpartisipasi secara aktif dalam kegiatan pembentukan konsep sehingga dapat meningkatkan pencapaian hasil belajar Metode STAD (Student Team Achievement Divisions) sebagai contoh metode pembelajaran kooperatif terbukti efektif jika digunakan pada pokok bahasan Larutan Elektrolit dan Nonelektrolit yang memerlukan pemahaman konsep. Dengan metode STAD ini, siswa dapat saling bantu membantu dalam kelompoknya dalam menguasai konsep pada materi tersebut. Disisi lain, metode pembelajaran STAD ini merupakan metode pembelajaran kooperatif yang kegiatan kelompoknya lebih mudah dikendalikan dan diawasi Keberhasilan proses belajar mengajar selain dipengaruhi oleh metode mengajar, dipengaruhi pula oleh aktivitas belajar siswa. Pada kegiatan itu siswa diarahkan pada latihan menyelesaikan masalah, sehingga akan mampu mengambil keputusan karena telah memiliki ketrampilan di dalam mengumpulkan informasi dan menyadari betapa perlunya meneliti kembali hasil belajar yang diperolehnya. Aktivitas belajar siswa merupakan salah satu faktor penting dalam kegiatan belajar. Hal ini mengingat bahwa kegiatan belajar mengajar diadakan dalam rangka memberikan pengalaman belajar kepada siswa. Jika siswa aktif dalam kegiatan tersebut kemungkinan besar akan dapat mengambil manfaat dari pengalaman tersebut dan memilikinya. Mengingat pentingnya aktivitas belajar siswa dalam kegiatan belajar mengajar, guru diharapkan dapat menciptakan situasi belajar mengajar yang lebih banyak melibatkan aktivitas belajar siswa, sedangkan siswa itu sendiri hendaknya dapat memotivasi dirinya sendiri untuk aktif dalam kegiatan belajar mengajar. Dengan adanya aktivitas belajar ini kemungkinan besar prestasi belajar yang dicapai siswa akan memuaskan. Di SMA X pokok bahasan Larutan Elektrolit dan Nonelektrolit diajarkan dengan menggunakan metode ceramah, sedangkan pada kurikulum KTSP menekankan pada pencapaian kompetensi dasar. Pencapaian kompetensi dasar dapat dikembangkan melalui pemilihan metode. Metode yang dipilih dalam penelitian ini adalah metode kooperatif. Salah satu metode kooperatif adalah metode STAD (Student Team Achievement Division) yang dilengkapi pendekatan PAIKEM. Pemilihan metode ini dirasa sangat kondusif bagi siswa SMA X. Hal ini menunjukkan bahwa siswa-siswanya masih individual, kerjasama antar siswa dalam belajar masih kurang sehingga perlu ditumbuhkan sikap kerjasama antar kelompok siswa karena dalam belajar kelompok jika ada seorang siswa yang belum memahami materi, maka teman sekelompoknya bertanggungjawab untuk menjelaskannya. Dengan penggunaan metode kooperatif tipe STAD ini diharapkan dapat menghasilkan prestasi belajar yang lebih baik. Sekolah Menengah Atas (SMA) X, merupakan salah satu sekolah di Kabupaten X. Berdasarkan pengamatan di kelas, khususnya kelas X-2 dan dari hasil wawancara dengan guru kimia di sekolah tersebut, serta hasil dari angket observasi kesulitan belajar kimia siswa, dapat diidentifikasi permasalahanpermasalahan yang terjadi. Berdasarkan hasil observasi tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut: 1. Guru masih menggunakan metode ceramah dalam menyampaikan materi pelajaran kimia, khususnya pada materi pembelajaran Larutan Elektrolit dan Non Elektrolit, yaitu dengan metode ceramah. 2. Kurangnya pemanfaatan media pembelajaran elektronik di ruang multi media yang telah tersedia di sekolah tersebut, khususnya untuk mata pelajaran kimia. 3. Kurang lengkapnya fasilitas alat dan bahan di Laboratorium Kimia. 4. Kondisi siswa yang kurang aktif dalam mengikuti pelajaran kimia. 5. Banyak siswa yang masih sulit memahami materi pembelajaran, salah satunya pada materi pembelajaran Larutan Elektrolit dan Non Elektrolit, sehingga berakibat rendahnya prestasi belajar kimia pada materi pembelajaran tersebut. Hal ini dapat dilihat dari data hasil uji kompetensi materi pembelajaran Larutan Elektrolit dan Non Elektrolit kelas X Ilmu Alam tahun pelajaran XXXX/XXXX pada ** BAGIAN INI SENGAJA TIDAK DITAMPILKAN ** Dari tabel 1 terlihat bahwa persentase ketuntasan masing-masing kelas yang diperoleh dari hasil nilai guru, hanya ada dua kelas yang mencapai Standar Ketuntasan Belajar Mengajar, yang mana SKBM Kimia untuk Kelas

X Ilmu Alam di SMA X sebesar 60. Dalam penelitian ini kelas yang digunakan sebagai tindakan kelas adalah kelas X-2. Kondisi siswa X-2 yang terdapat di SMA X adalah siswa yang kurang aktif, khususnya dalam mengikuti mata pelajaran kimia. Salah satu cara yang tepat untuk mengajak siswa agar lebih aktif adalah dengan siswa menerapkan pengetahuannya, belajar memecahkan masalah, mendiskusikan masalah dengan teman-temannya, mempunyai keberanian menyampaikan ide atau gagasan, dan mempunyai tanggung jawab terhadap tugasnya. Berdasarkan permasalahan-permasalahan tersebut, maka perlu diberikan suatu pendekatan pembelajaran yang alternatif untuk mengatasi kesulitan belajar tersebut, salah satunya adalah Pembelajaran Aktif Inovatif Kreatif dan Menyenangkan (PAIKEM). Fokus PAIKEM adalah pada kegiatan siswa di dalam bentuk group, individu dan kelas, partisipasi di dalam proyek, penelitian, penyelidikan, penemuan dan beberapa macam strategi yang hanya dibatasi dari imajinasi guru. Dalam pendekatan PAIKEM ini, guru memberikan latihan-latihan untuk membangkitkan semangat belajar siswa tentang apa yang dipelajari siswa sehingga memperoleh semangat belajar. Selain itu siswa juga dibekali ketrampilan untuk memecahkan masalah dalam bentuk latihan soal melalui tahapan yang sistematis. Karakteristik PAIKEM, meliputi : 1) Aktif : Pembelajaran ini memungkinkan peserta didik berinteraksi secara aktif dengan lingkungan, memanipulasi obyek-obyek yang ada di dalamnya, dalam hal ini guru terlibat aktif, baik dalam merancang, melaksanakan dan mengevaluasi proses pembelajaran. 2) Kreatif : Pembelajaran membangun kreatifitas peserta didik dalam berinteraksi dengan lingkungan, bahan ajar, dan sesama peserta didik, utamanya dalam menghadapi tantangan atau tugas-tugas yang harus diselesaikan dalam pembelajaran. Guru dituntut untuk kreatif, yaitu merancang dan melaksanakan PAIKEM, 3) Inovatif : Proses pembelajaran yang dirancang oleh guru dengan menerapkan beberapa metode dan teknik dalam setiap pertemuan. Artinya dalam setiap kali tatap muka guru harus menerapkan beberapa metode sekaligus. Namun dalam penerapannya harus memperhatikan karakteristik kompetensi dasar yang akan dicapainya, sehingga sangat dimungkinkan setiap kali tatap muka guru menerapkan metode pembelajaran yang berbeda. 4) Efektif : Efektifitas pembelajaran akan mendongkrak kualitas hasil belajar peserta didik, 5) Menyenangkan : Pembelajaran akan diharapkan dapat menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan dengan di dukung lingkungan aman, bahan ajar yang relevan, menjamin bahwa hasil belajar secara emosional lebih positif. Hal ini terjadi ketika dilakukan bersama dengan orang lain sebagai dorongan dan selingan humor serta istirahat dan jeda secara teratur. Selain itu, pembelajaran akan menyenangkan manakala secara sadar pikiran otak kiri dan kanan sadar, menantang peserta didik berekspresi dan berfikir jauh ke depan serta mengkonsolidasikan bahan yang sudah dipelajari dengan meninjau ulang dalam periode-periode yang relaks. Membangun metode pembelajaran PAIKEM sendiri bisa dilakukan dengan cara diantaranya mengakomodir setiap karakteristik diri. Artinya mengukur daya kemampuan serap ilmu masing-masing orang. Contohnya saja sebagian orang ada yang berkemampuan dalam menyerap ilmu dengan menggunakan visual atau mengandalkan kemampuan penglihatan, auditory atau kemampuan mendengar. Dan hal tersebut harus disesuaikan pula dengan upaya penyeimbangan fungsi otak kiri dan otak kanan yang akan mengakibatkan proses renovasi mental, diantaranya membangun rasa percaya diri siswa. Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan, mak a akan dilakukan penelitian dengan judul UPAYA PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR SISWA MELALUI MODEL KOOPERATIF TIPE STAD MELALUI PENDEKATAN PAIKEM PADA MATERI LARUTAN ELEKTROLIT DAN NON ELEKTROLIT SISWA KELAS X SEMESTER II SMA X TAHUN PELAJARAN XXXX/XXXX. B. Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas, dapat diidentifikasi masalah-masalah sebagai berikut: 1. Apakah model pembelajaran kooperatif tipe STAD melalui pendekatan PAIKEM sesuai untuk dilaksanakan pada materi pembelajaran Larutan Elektrolit dan Nonelektrolit? 2. Apakah model pembelajaran kooperatif tipe STAD melalui pendekatan PAIKEM dapat meningkatkan pemahaman siswa pada materi pokok Larutan Elektrolit dan Nonelektrolit? 3. Apakah model pembelajaran kooperatif tipe STAD melalui pendekatan PAIKEM dapat meningkatkan prestasi belajar siswa pada materi pokok Larutan Elektrolit dan Nonelektrolit? C. Pembatasan Masalah Agar penelitian ini mempunyai arah dan ruang lingkup yang jelas, maka perlu adanya pembatasan masalah. Berdasrkan latar belakang masalah dan identifikasi masalah yang ada maka penelitian ini dibatasi pada : 1. Subyek Penelitian Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X-2 semester II SMA X tahun pelajaran XXXX/XXXX. 2. Metode Penelitian

Metode pembelajaran yang digunakan dalam penelitian ini adalah model pembelajaran kooperatif tipe STAD. 3. Materi Pokok Materi pokok yang dipilih dalam pembelajaran ini adalah larutan elektrolit dan non elektrolit. 4. Penilaian Sistem penilaian yang digunakan dalam metode pembelajaran ini meliputi aspek kognitif, aspek afektif dan aspek psikomotorik. Nilai aspek kognitif diperoleh dari hasil tes awal, tes siklus satu dan tes siklus dua. Sedangkan Nilai afektif diperoleh dari angket afektif dan observasi terhadap presensi siswa, serta perilaku siswa dalam proses belajar mengajar. Aspek afektif hanya digunakan untuk mengetahui karakteristik siswa. D. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah, identifikasi masalah dan pembatasan masalah di atas, maka dapat disusun perumusan masalah sebagai berikut : Apakah model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan prestasi belajar siswa pada materi pokok Larutan Elektrolit dan Non Elektrolit? E. Tujuan Penelitian Dari perumusan masalah di atas, maka penelitian ini bertujuan untuk : Meningkatkan prestasi belajar siswa pada materi pokok Larutan Elektrolit dan Nonelektrolit menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD melalui pendekatan PAIKEM . F. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut : 1. Manfaat secara teoritis : a. Memberikan masukan kepada guru dan calon guru terhadap kemampuan kognitif dalam upaya meningkatkan prestasi belajar siswa. b. Sebagai masukan bagi sekolah dalam mengembangkan pembelajaran kooperatif tipe STAD melalui pendekatan PAIKEM untuk pembelajaranpembelajaran pada mata pelajaran eksak yang lain. 2. Manfaat secara praktis a.. Dapat digunakan sebagai referensi bagi studi kasus yang sejenis yang melibatkan pembelajaran kimia dengan Model pembelajaran kooperatif tipe STAD melalui pendekatan PAIKEM. b. Masukan bagi penelitian yang lain yang bermaksud melakukan penelitian lebih lanjut.

Ike Linawati 2009


Upaya peningkatan prestasi belajar siswa melalui model kooperatif tipe stad dengan pendekatan PAIKEM pada materi larutan elektrolit dan nonelektrolit siswa Kelas X Semester II SMA Muhammadiyah 2 Klaten Tahun Pelajaran 2008/2009 Drs. Haryono, M.Pd 2. Sri Yamtinah, S.Pd., MPd UNS-FKIP Jur. Pendidikan MIPA