P. 1
Artikel Untuk TEMPO Tentang Soft Skill

Artikel Untuk TEMPO Tentang Soft Skill

|Views: 6|Likes:
Dipublikasikan oleh Lily Bertha Kartika

More info:

Published by: Lily Bertha Kartika on Jun 03, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/02/2014

pdf

text

original

Menggarap Soft Skill

Mata Rantai yang Semakin Dibutuhkan
Tawa dr. Lily Ridwan Sp.Rad berderai ketika ditanya untuk apa seorang Kepala Instalasi Radiologi seperti dirinya mau berpayah-payah ke Jakarta, demi menjalani studi Magister Manajemen Sumber Daya Manusia di Universitas Persada Indonesia Y.A.I. Padahal, kehidupannya sebagai dokter senior di RSUD Sele Be Solu Kota Sorong, Papua Barat, sudah mapan. “Jujur, saya sempat kewalahan dan stres karena harus belajar manajemen dari awal, karena kami nggak diajarin ini di Kedokteran. Tapi sungguh ilmu yang sangat berguna,” jawabnya. Selama ini ia mengaku hanya tahu soal pasien saja, namun sudut pandangnya berubah ketika belajar seluk beluk manajemen SDM selama hampir dua tahun. Menurutnya, selama ini kebanyakan dokter agak awam di bidang manajemen, karena terlalu sibuk berkonsentrasi pada bidang kerjanya. “Makanya biarpun usia saya sudah segini, saya bela-belain deh. Nggak praktek sementara waktu juga tak apalah, karena saya dapat ilmu yang bagus sekali disini dan akan kami bawa untuk mengembangkan rumah sakit kami,” ujar dr Lily Ridwan, sambil tersenyum. Setelah 2 tahun menempuh pendidikan MM Sumber Daya Manusia, dr. Andraini Lazarus pun mantap kembali ke Sorong membawa segudang ilmu, serta misi membenahi manajemen rumah sakit yang dipimpinnya. Sebagai Direktur di RSUD Sele Be Solu, ia melihat tantangan utamanya adalah bagiamana menempatkan SDM yang tepat sesuai kompetensinya. Selama ini menurutnya, yang namanya mengelola SDM dengan baik barulah dilakukan di kota-kota besar. Sebagai wilayah yang jauh dari pusat pemerintahan seperti Jakarta, pengembangan SDM di Sorong butuh kerja keras tersendiri.

“Sumber daya kami banyak, tapi belum di manage dengan baik. Disini kami belajar bahwa kepemimpinan itu bukan cuma soal pintar, tapi bagaimana membuat organisasi kami berkembang, punya link ke derah lain, juga dengan pusat, bahkan sampai ke luar negeri. Bagaimana memahami rekan sejawat, potensinya dan sebagainya, itu juga bagian dari (kepemimpinan) itu,” katanya tentang kedatangan 20 orang personil RSUD Sele Be Solu ke UPI Y.A.I untuk menempuh Magister Manajemen. Kebutuhan pada kepemimpinan yang komprehensif rupanya sudah didengungkan sejak lama. Dalam salah satu tulisannya ‘ Are Business School to Blame?’, Joel M. Podolny juga mengemukakan keresahannya akan peran sekolah bisnis di masa depan, utamanya menyikapi krisis ekonomi yang terjadi di Amerika Serikat. Dean and Vice President of Apple University di California ini menilai bahwa kurikulum sekolah bisnis di Eropa tampaknya menemui tantangan pada satu titik, yaitu ketika leadership masih diajarkan dalam konteks yang kuantitatif. Padahal, tulisnya, kepemimpinan adalah soal membentuk visi dan pola pikir, tapi bukan berarti memfokuskan diri pada terlalu banyak detil. Podolny melihat, sekolah-sekolah bisnis kala itu masih lebih banyak membekali mahasiswanya dengan kemampuan teknis, sehingga lulusannya cenderung tak bisa berkontribusi banyak untuk memecahkan persoalan krisis ekonomi yang terjadi. Itulah sebabnya, sekolah bisnis sudah waktunya mengintegrasikan kurikulum mengenai kepemimpinan, yaitu nilai-nilai dasar kepemimpinan yang merupakan soft skill, dengan fokus pada detil masalah sebagai hard skill. Pendapat Joel Podolny bukan satu-satunya. Dalam survey di akhir tahun 2010 yang dilakukan Quacquarelli Symonds Limited terhadap 5000 perekrut lulusan Master of Business Administration (MBA) di 35 negara, tampak bahwa kebutuhan perusahaan pada karyawan dengan kemampuan soft skill yang tinggi semakin menguat. Recruiters lulusan MBA yang sebagian besar berbasis di Asia itu kini mencari komponen kemampuan yang memungkinkan perusahaannya bisa berkompetisi lebih baik di iklim bisnis seperti saat ini. Apa saja komponen itu? Para recruiters menulis aspek interpersonal skills, communication skills, strategic thinking dan leadership adalah hal yang paling mereka cari dari para pelamar.

Tahun 2006, Quacquarelli juga pernah memperlihatkan hasil surveynya tentang Key MBA Skills: Importance versus Satisfaction, berdasarkan ranking para user. Dalam beberapa hal ternyata tingkat kebutuhan para recruiters lebih tinggi dibandingkan kepuasan, utamanya dalam hal people skills strategic thinking, leadership, experience dan entrepreneurship.

Sinergi yang Semakin Intens

Lantas, bagaimana dengan langkah sekolah bisnis dan kampus yang memiliki program Magister Manajemen di Indonesia? Sejumlah kampus dan sekolah bisnis yang diwawancara Tempo mengaku, soal kebutuhan soft skill di perusahaan – perusahaan di Indonesia, baik lokal maupun asing, juga menguat dalam kurun waktu 5 sampai 8 tahun terakhir. Dengarlah pendapat Agnes Diah, Manager HRD Indopacific Edelman. Setiap saat, puluhan surat lamaran datang padanya, termasuk mereka yang lulusan Magister Manajemen dari dalam dan luar negeri. Menurutnya, memiliki pendidikan yang lebih itu tentu saja sesuatu yang positif. “Tapi bagaimana mereka mampu menerapkan ilmunya dalam memberikan konsultasi ke klien kami, itu jauh lebih penting. Klien kami butuh practice nya seperti apa,” katanya. Pada akhirnya, menurut Bagus Kuncoro, HR & Corporate Affairs Director Fonterra Brands Indonesia, keputusan untuk menerima seseorang bekerja di perusahaannya bukan saja dari soal kualifikasi pendidikan. “Tapi juga melihat hasil interview serta presentasi yang dilakukannya,” ujar Bagus dalam jawabannya melalui surat elektronik.

Melihat kecenderungan ini, sinergi antara akademisi Magister Manajemen dengan kalangan industri tampaknya memang semakin rapat. Ini terlihat dari pertemuan regular yang dilakukan setiap 2 atau 3 tahun sekali dalam bentuk focus group discussion (FGD) diantara mereka. Di Binus Business School, misalnya, hasil diskusi dengan kalangan industri itu menjadi acuan yang cukup signifikan dalam melakukan modifikasi kurikulum kampus itu. Bahkan menurut Tatum S. Adiningrum, S.IP, M.Ed, Development Coordinator Binus Business School, pihaknya memposisikan komponen soft skill sebagai graduated competency dan graduated skill. Pentingnya muatan soft skill rupanya telah disadari Binus Business School sejak awal tahun 2009, sehingga pihaknya melakukan upaya akomodasi soft skill pada setiap mata kuliah. Tatum mencontohkan, soft skill dalam mata kuliah finance diaplikasikan melalui penugasan berbentuk project, dimana di dalamnya mahasiswa harus bekerja dalam team work, belajar mengenai leadership, negotiation dan sebagainya. Sementara di Universitas Indonesia, Prof. Rhenald Kasali, PhD, Ketua Program Magister Manajemen, telah mewanti-wanti agar sejak awal, karakter calon mahasiswanya menjadi prioritas utama. Ia ingin memastikan mahasiswa MM UI merupakan orang-orang yang bisa dididik dengan baik. “Kalau dia kaya tapi arogan, ibarat gelas, dia sudah penuh. Mau kita isi dengan apapun, dia akan masuk angin, padahal perutnya kosong. Arogansi itu akan sangat menghambat teman-temannya yang lain, bahkan menularkan perilaku buruk. Kami menolak yang begitu,” ujarnya. Selain soal soft skill, Rhenald juga memandang penting muatan life skill dimasukkan dalam mata kuliah dan itu dilakukan MM UI dalam beberapa tahun terakhir. Dalam konsep life skill, mahasiswa digembleng melalui sejumlah studi kasus yang muaranya pada creative thinking, enterpreneural thinking, risk thinking, leadership , sampai decision making . “Jadi mereka nggak manja. Saya ajak mahasiswa saya ke pulau buru untuk membuat SOP bagaimana integrated farming. Kami juga ajak mahasiswa bertemu dengan jaringan rumah usaha di Semarang. Mereka belajar tentang bagaimana di kampung ternyata ada yang bisa membangun multi level manusia

dengan bisnis cetakan. Jadi kami para dosen ini mengajak mahasiswa melakukan social change dan mengimplementasikan berbagai hal,” jelas Rhenald. Dari Sosis, Hingga Passport Tren industri masa depan akan kuat mengarah pada spesialisasi, dimana sektor industri dan jasa akan lebih berperan, sehingga unsur soft skill yang sangat beragam, menjadi keharusan yang harus dimiliki tiap individu yang terlibat di sektor-sektor itu, karena akan sangat berperan dalam seluruh alur proses bisnis. Diakui Ketua Asosiasi Perhimpunan Magister Manajemen Indonesia, Arief Daryanto,PhD, sektor pertanian pun kelak bukan lagi sekadar belajar bagaimana meningkatkan nilai tambah di budidaya, tapi juga bagaimana mengolahnya sebagai bagian dari creative agriculture sector. Ia mencontohkan, value added dalam agro industry plus servicenya, bisa juga dikembangkan dalam banyak hal misalnya agro tourism. “Jadi pertanian sudah mengarah pada agro industry dan agro service-nya, bagaimana mengolah, mengemas dan diperdagangkan. Bahkan di negara-negara maju, kontribusi jasa di bidang pertanian itu sudah jauh lebih besar daripada manufacture-nya, termasuk mengelola merk yang merupakan ranah jasa,” kata Arief, yang juga Direktur Program Pasacsarjana Manajemen dan Bisnis, Institut Pertanian Bogor. Soal kreativitas kampus dan sekolah bisnis dalam memaksimalkan potensi soft skill mahasiswanya juga mendatangkan banyak cerita menarik. Tatum S. Adiningrum, bercerita tentang salah satu mahasiswa Binus Business School yang membuat business plan dengan meproduksi sosis berbahan dasar sayuran. Sebagai rangkaian business plan, bisnis sosis itu juga harus memenuhi beragam criteria, misalnya selain produknya enak dimakan, harganya pun reasonable. “Mereka bikin juga prototype-nya, dilakukan uji rasa disini, hitungan bisnisnya seperti apa. Enterpreneurship skill adalah salah satu yang kami ingin mahasiswa memilikinya.

Tentu tidak semua dari mereka akan mengarah kesana, tapi minimal mereka semuanya dapat,” tukas Development Coordinator Binus Business School ini. Penilaian atas karya mahasiswa di akhir semester ini juga melibatkan penguji dari industry. Menurut Firdaus Alamsjah, Ph.D, Executive Dean Binus Business School, kehadiran penguji dari industri itu memacu mahasiswa untuk membuat business plan yang aplikatif, karena sangat menentukan kelulusan mereka. “Salah satu uniqueness yang kami inginkan dari lulusan kami adalah mereka lebih kreatif dan inovatif disbanding lulusan kampus lain, sehingga bisa menyelesaikan masalah – masalah bisnis. Oleh karena itu, inovasi adalah salah satu graduated quality kami,” tegas Firdaus. Di Prasetiya Business School, unsur soft skill juga digarap melalui kegiatan non perkuliahan, seperti kegiatan mahasiswa yang disebut sebagai management society, terdiri dari berbagai bidang mulai dari olahraga, sampai seni dan musik. Para pengurus yang hanya punya waktu 4 sampai 6 bulan masa jabatan, harus memutar otak untuk menyelenggarakan kegiatan yang menarik, termasuk membuat proposal, hingga mencari sponsorship. “Iklim kompetisinya dibangun sejak dini, dengan beragam cara. Sehingga mereka belajar bahwa dalam leadership itu banyak hal harus dikuasai, mulai dari team work skill, time management sampai problem solving dan itu sangat tidak mudah, “ kata Lukas Setia Atmaja, Ph.D, Associate Dean for Academic Affairs. Rhenald Kasali punya cerita lain lagi. Sambil tertawa, ia bertutur bagaimana bengongnya mahasiswanya ketika disuruh mengurus passport lalu berangkat keluar negeri. “Pertanyaan pertama mereka 10 tahun lalu adalah ‘uangnya darimana pak?’ dan saya jawab ‘saya tidak tahu’” katanya.

Menurutnya, dalam hidup ini, setahu saya hanya orang bodohlah yang selalu memulai pertanyaan hidup, apalagi memulai misi kehidupan dan tujuannya dari uang. Dan begitu seorang pemula bertanya uangnya dari mana, maka ia akan terbelenggu oleh constraint. Dan hampir pasti jawabannya hanyalah tidak ada uang, tidak bisa, dan tidak mungkin. Rhenald memang mewajibkan mahasiswanya punya passport dan pergi keluar negeri untuk mengubah cara pandang mereka, terutama yang berasal dari daerah dan belum pernah kemana-mana. Ia bercerita, salah seorang mahasiswa asal daerah yang awalnya didorongnya harus ke luar negeri, sekarang malah rajin bepergian. “Ia bergabung ke dalam kelompok PKI (Pedagang Kaki Lima Internasional) yang tugasnya memetakan pameran-pameran besar yang dikoordinasi pemerintah. Disana mereka membuka lapak, mengambil resiko, menjajakan aneka barang kerajinan, dan pulangnya mereka jalan-jalan, ikut kursus, dan membawa dolar. Saat diwisuda, ia menghampiri saya dengan menunjukkan pasportnya yang tertera stempel imigrasi dari 35 negara. Selain kaya teori, matanya tajam mengendus peluang dan rasa percaya tinggi. Saat teman-temannya yang lulus cum-laude masih mencari kerja, ia sudah menjadi eksekutif di sebuah perusahaan besar di luar negeri,” kenang Rhenald. Pakar SDM, Eileen Ranchman juga menyoroti pentingnya lulusan MM saat ini membekali diri dengan sebanyak mungkin unsur soft skill. “Memang untuk mencapai satu tujuan itu perlu hard skill, tapi bagaimana anda mempengaruhi orang lain itu perlu soft skill. Bagaimana cara berkomunikasi, presentasi, berinteraksi dalam sebuah organisasi, bagaimana menerapkan pendekatan tertentu seperti bersabar, termasuk menunggu,” Semua itu, tegas Eileen, merupakan pekerjaan rumah yang sangat penting bagi pengajar di kampus maupuns ekolah bisnis. “Jadi gelar saja bukan jaminan dan sesungguhnya tidak menentukan,” pungkasnya. Nah !

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->