Anda di halaman 1dari 15

PERBANDINGAN KUALITAS GELATIN DARI TULANG IKAN TUNA, KULIT IKAN PARI DAN TULANG IKAN HIU

SEMINAR 1 SKS (PIT 4085)

Oleh : Benget R. Simanjuntak 09/283439/PN/11670

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI HASIL PERIKANAN

JURUSAN PERIKANAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS GADJAH MADA 2013

BAB I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Gelatin merupakan suatu jenis protein yang diekstraksi dari jaringan kolagen hewan yang terdapat pada kulit, tulang dan jaringan ikat. Gelatin dapat diperoleh dengan cara denaturasi panas dari kolagen. Pemanasan kolagen secara bertahap akan menyebabkan struktur rusak dan rantairantai akan terpisah. Berat molekul, bentuk dan konformasi larutan kolagen sensitif terhadap perubahan temperatur yang dapat menghancurkan makro molekulnya (Wiratmaja, 2006). Secara umum fungsi gelatin untuk produk pangan adalah sebagai zat pengental, penggumpal, pengemulsi, penstabil, pembentuk busa, menghindari sineresis, pengikat air, memperbaiki konsistensi, pelapis tipis, pemerkaya gizi, pengawet. Bahan baku yang banyak digunakan untuk industri gelatin konvensional adalah tulang dan kulit sapi dan babi. Banyak gelatin yang berasal dari kulit dan tulang babi, bahkan sebesar 41,4% produk gelatin dunia diekstraksi dari kulit babi. Permintaan gelatin telah meningkat selama bertahun-tahun. Laporan terkini mengindikasikan produksi gelatin dunia mendekati angka 326.000 ton per tahun, dimana gelatin dari kulit babi sebesar 46%, dari kulit sapi sebesar 29,4%, dari tulang sapi sebesar 23,1%, dan dari sumber lain sebesar 1,5% (Wiratmaja, 2006). Sedangkan kebutuhan dalam negeri, Indonesia mengimpor lebih dari 6.200 ton gelatin (tahun 2003) atau senilai US$ 6.962.237 dari berbagai negara (Perancis, Jepang, India, Brazil, Jerman, Cina, Argentina, dan Australia) dengan harga jual di pasar dalam negeri mencapai Rp 60.000 hingga Rp 70.000 setiap kilogramnya (Wiratmaja, 2006). Penggunaan gelatin cukup luas dalam berbagai aplikasi, tapi terdapat beberapa kendala bagi para konsumen untuk mengonsumsi produk-produk tersebut. Kendalanya tersebut diantaranya ialah kepercayaan yang dianut oleh konsumen, dimana umat Hindu dilarang untuk mengonsumsi sapi, serta umat Islam dan Yahudi dilarang untuk mengonsumsi segala produk yang berasal dari babi. Selain itu, terdapat pula kekhawatiran akan adanya penyakit sapi gila (mad cow), penyakit

mulut dan kuku (foot and mouth), dan kontaminasi Bovine Spongiform Encephalopathy (BSE). Oleh karena itu, perlu dipikirkan solusi/alternatif lain dalam pemilihan bahan baku gelatin yang aman dikonsumsi. Kulit dan tulang ikan berpotensi menggantikan peranan gelatin mamalia. Untuk mengatasi masalah tersebut dapat dilakukan Teknologi pengolahan gelatin dari tulang dan kulit sebagai bahan baku alternatif yang melimpah, murah, dan jelas kehalalannya. Tulang ikan dapat dimanfaatkan menjadi gelatin, dalam tulang terdapat kolagen sebesar 18,6% dari 19,86% unsur organik protein kompleks. Tulang ikan yang diambil dapat bersumber sebagai kolagen serta aman dan halal untuk dikonsumsi. Pembuatan gelatin dari tulang dan kulit ikan juga sudah banyak dilakukan. Penelitian yang memanfaatkan bagian tubuh ikan lain yang kaya kolagen sebagai sumber gelatin (Wijaya, 2001). Gelatin disebut miracle food, karena gelatin memiliki fungsi yang masih sulit digantikan dalam industri makanan maupun farmasi. Penggunaan gelatin untuk kebutuhan sahari-hari tidak dapat dihindari, karena lebih dari 60% total produksi gelatin digunakan oleh industri pangan, sekitar 20% industri fotografi dan 10% oleh industri farmasi dan kosmetik (Peranginangin, 2005). B. Tujuan Mengetahui metode ekstraksi gelatin serta karakteristik gelatin dari tulang ikan tuna, tulang hiu dan kulit pari dengan perendaman dalam larutan HCl. C. Manfaat Tambahan informasi pemanfaatan gelatin dengan kualitas tinggi bagi masyarakat dan pelaku industri khususnya industri pangan, mendapatkan alternatif pengolahan limbah perikanan (kulit ikan tuna, tulang ikan hiu dan kulit ikan pari) menjadi produk yang bernilai tinggi dan dapat menjadi acuan dan pedoman bagi industri pengolahan tuna, hiu dan pari dalam memberikan nilai tambah pada limbah industrinya.

BAB II. PEMBAHASAN

A. Pembuatan Gelatin Pada prinsipnya proses pembuatan gelatin dapat dibagi menjadi dua cara, yaitu proses asam (tipe A) dan proses basa (tipe B). Perbedaan kedua proses ini terletak pada proses perendamannya. Berdasarkan kekuatan ikatan kovalen silang protein dan jenis bahan yang diekstrak, maka penerapan jenis asam maupun basa organik dan metode ektraksi lainnya seperti lama hidrolisis, pH dan suhu akan berbeda-beda (Pelu et al., 1998). Hinterwaldner (1977) menyatakan bahwa proses produksi utama gelatin dibagi dalam tiga tahap: (1) Tahap persiapan bahan baku berupa penghilangan komponen non kolagen dengan atau tanpa pengurangan ikatan antara komponen kolagen; (2) Tahap preparasi gelatin, konversi kolagen menjadi gelatin; (3) Tahap pemurnian gelatin dengan penyaringan dan pengeringan. Pembuatan gelatin menggunakan tipe A menurut Marsaid (2011) yaitu perendaman dengan variasi 3 jenis larutan asam yaitu larutan HCl (Asam Klorida). Adapun prsedur penelitian sebagai berikut: 1. Persiapan Bahan Baku Ikan tuna dan ikan hiu segar diambil tulangnya sedangkan dikan pari diambil kulitnya, kemudian dibersihkan dari daging dan lapisan yang mengandung lemak. Kemudian dicuci dengan air mengalir hingga bersih. Berat tulang yang akan dianalisis 15 gram. 2. Preparasi Gelatin a. Degresing Tulang Ikan dicuci dengan air panas pada suhu 60o 70o C sampai 23 menit dan selanjutnya ditiriskan selama 3 menit. Tahap selanjutnya tulang tersebut dipotong potong kecil dengan ukuran 2 3 cm. b. Demineralisasi Tulang dan kulit direndam dalam larutan asam, yaitu HCL 4%, HCl 5 %, dan HCl 6%. Perendaman dilakukan selama 24 dan 36 jam. Tulang dan kulit yang telah direndam kemudian ditimbang dan dicuci air mengalir hingga pH menjadi netral (6-7).
4

c. Ekstraksi Tulang dan kulit dimasukkan ke dalam beaker glass dan ditambahkan aquadest dengan perbandingan kulit dan aquadest adalah 1 : 3. Kemudian tulang tersebut diekstraksi dalam waterbath pada suhu 80o-90oC selama 3 jam. Ekstrak disaring dengan kain katun berlapis empat untuk menghilangkan kotoran, kemudian filtrat yang diperoleh diukur. d. Pembuatan Gel Filtrat dimasukkan dalam lemari pendingin dengan suhu 40C-10oC selama 10 12 jam hingga membentuk gel. 3. Pemurnian Gelatin Gel dimasukkan kedalam tempat loyang oven yang dilapisi plastik mika untuk memudahkan pengambilan lapisan tipis gelatin. Gel dioven pada suhu 60oC selama 24 jam hingga terbentuk lapisan gelatin. Lapisan tipis gelatin yang diperoleh ditimbang dengan neraca analitis. B. Analisis Karakteristik Gelatin Pengamatan yang dilakukan yaitu analisis produk gelatin yang terpilih dari hasil akhir gelatin. Hasil analisis ini dibandingkan parameter mutunya dengan gelatin tulang ikan SNI. Parameter yang dibandingkan meliputi analisis proksimat gelatin (kadar air, abu, lemak dan protein) dan sifat fisikakimianya meliputi kekuatan gel, viskositas, pH, titik gel, titik leleh, titik isoelektrik dan derajat putih. 1. Analisis Proksimat Gelatin tulang dan kulit ikan yang terpilih dilakukan analisis proksimat yang meliputi kadar air, kadar abu, kadar lemak dan kadar protein. Gelatin tulang ikan tuna yang terpilih yaitu perlakuan perendaman HCl 6%, gelatin kulit ikan pari dengan perlakuan perendaman HCl 5%, dan gelatin tulang ikan hiu dengan perlakuan perendaman HCl 4%. Hasil analisis proksimat gelatin tulang ikan hiu, kulit ikan pari dan tulang ikan tuna (Nurilmala, 2004) dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Analisa proksimat gelatin tulang Komposisi Proksimat Gelatin No. Parameter(%) Tulang Tuna Tulang Hiu Kulit Pari SNI (1995) 1 Kadar air 6,54 10,77 13,98 Maks 16% 2 Kadar abu 1,93 5,14 5,635 Maks 3,25% 3 Kadar lemak 0,42 0,55 0,625 4 Kadar protein 91,01 86,13 83,76 a. Kadar air Nilai kadar air dari ketiga gelatin masih memenuhi standar mutu gelatin yaitu maksimal 16 % (SNI, 1995). Dengan kadar air sebesar 6,54%, gelatin tulang ikan tuna cenderung menyerap air jika disimpan pada suhu ruang untuk mencapai titik keseimbangan dengan kelembaban udara lingkungan. Pada kadar air 13% dan suhu 25oC gelatin mencapai titik keseimbangan dengan kelembaban udara lingkungan. b. Kadar abu Kadar abu dari ketiga jenis gelatin tulang ikan ini berbeda-beda, gelatin ikan tuna mempunyai nilai kadar abu 1,93%, kadar abu gelatin hiu 5,14% dan kadar abu ge1atin pari 5,635%. Tampak bahwa gelatin tulang ikan tuna yang memenuhi standar SNI (1995) yaitu maksimum 3,35 %, sedangkan gelatin ikan hiu dan ikan pari belum memenuhi standar SNI (1995). Dari hasil penelitian diperoleh bahwa gelatin ikan hiu dan ikan pari memiliki kandungan abu yang melebihi 3,25% yakni 5,14% dan 5,635%. Hal ini terjadi disebabkan oleh masih adanya komponen mineral yang terikat pada kolagen, yang belum terlepas saat proses pencucian sehingga ikut terekstraksi dan terbawa saat proses pengabuan (Astawan dan Aviana, 2002). Ditambahkan Peranginangin et al, (2004), tingginya kadar abu pada gelatin dapat dikarenakan masih adanya serbuk ossein yang terbawa dalam tulang hiu (elasmobranchii) saat proses penyaringan. c. Kadar lemak Berdasarkan data diketahui bahwa kadar lemak gelatin dari bahan dasar tulang rawan ikan pari mempunyai nilai yang cukup tinggi sebesar 0,625% dibandingkan dengan gelatin dari bahan tulang ikan tuna yaitu sebesar 0,42% dan hiu 0,55%. Hal ini dikarenakan kandungan bahan dasar yang berbeda kadar

lemaknya, kadar lemak tulang rawan ikan pari lebih besar dibandingkan dengan kadar lemak ikan tuna dan hiu. d. Kadar protein Hasil pengukuran kadar protein dari ketiga jenis bahan tulang yang berbeda didapatkan nilai tertinggi pada gelatin dengan bahan dasar tulang ikan tuna, yaitu sebesar 91,01 %. Tingginya kadar protein pada gelatin dari bahan dasar tulang tuna diduga berasal dari bahan dasarnya sendiri yang mempunyai kadar protein yang tinggi. Ikan tuna banyak mengandung protein yang merupakan ikan pelagis. e. Rendemen Rendemen merupakan salah satu parameter yang sangat penting dalam proses pembuatan gelatin. Perhitungan rendemen dilakukan untuk mengetahui persentase gelatin yang dihasilkan. Semakin banyak rendemen yang diperoleh menunjukkan semakin efisien perlakuan perendaman asam yang diberikan. Hasil rendemen gelatin tulang ikan hiu, kulit ikan pari dan tulang ikan tuna (Nurilmala, 2004) dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Rendemen gelatin ikan No. Gelatin Rendemen 1 Tulang tuna (HCl 6%) 19,90% 2 Kulit pari (HCl 5%) 19,00% 3 Tulang hiu (HCl 4%) 18,88% Perendaman tulang ikan hiu dengan konsentrasi HCl 4% menghasilkan rendemen gelatin yang paling rendah (18,88%). Hal ini diduga karena rendahnya konsentrasi HCl sehingga konversi kolagen menjadi gelatin tidak maksimal. Dari hasil hasil tersebut bahwa semakin tinggi konsentrasi asam klorida, maka rendemen yang dihasilkan makin tinggi. Tingginya rendemen yang dihasilkan diduga karena pengaruh jumlah ion H+ yang menghidrolisis kolagen dari rantai triple heliks menjadi rantai tunggal yaitu gelatin lebih banyak, semakin tinggi suhu ekstraksi akan menyebabkan kolagen terurai menjadi gelatin lebih banyak. Kecenderungan ini mencapai batasnya apabila ion H+ yang berlebih disertai suhu yang tinggi mendenaturasi kolagen yang terhidrolisis. Konsentrasi asam yang berlebih dan suhu yang tinggi menimbulkan adanya hidrolisis lanjutan sehingga sebagian gelatin turut terdegradasi dan

menyebabkan turunnya jumlah gelatin. Menurut Courts (1977), konversi kolagen menjadi gelatin dipengaruhi oleh suhu, waktu pemanasan dan pH. 2. Sifat Fisika-Kimia Hasil penelitian sifat fisika-kimia gelatin tulang ikan hiu, kulit ikan pari dan tulang ikan tuna (Nurilmala, 2004) dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3. Perbandingan sifat fisika-kimia gelatin tulang ikan tuna, ikan kakap hiu dan kulit ikan pari No. 1 2 3 4 5 6 7 Parameter Kekuatan gel (mm/kg.s) Viskositas (cP) pH Titik gel (oC) Titik leleh ( C) Titik isoelektrik Derajat Putih (%)
o

Tulang Tuna 79 6,9 4,8 7,61 19,48 7 10,7

Gelatin Kulit Pari 83 4,95 2,65 12,7 25,6 8 11

Tulang Hiu 79,75 5,3 3,35 12,45 25 7 9,9

a. Titik gel gelatin Titik gel adalah suhu pada waktu dimana larutan gelatin mulai membentuk gel (Stainsby, 1977). Berdasarkan hasil pengukuran terlihat nilai titik gel yang berbeda-beda, yaitu berkisar 7,61-12,7oC. Titik gel gelatin dipengaruhi oleh konsentrasi gelatin, pH dan besarnya molekul gelatin (Stansby,1977). b. Titik leleh gelatin Titik leleh adalah suhu ketika gelatin yang telah membentuk gel mencair ketika dipanaskan (Stansby, 1977). Berdasarkan hasil pengukuran diperoleh titik leleh gelatin dari tulang ikan tuna mempunyai nilai yang lebih rendah (19,84oC) dibandingkan gelatin kulit ikan pari 25,6oC dan tulang hiu sebesar 25oC. Semakin besar titik leleh, maka titik gel juga semakin besar. Rendahnya titik leleh disebabkan rendahnya kandungan asam amino prolin dan hydroksiprolin didalam gelatin mengakibatkan sedikitnya ikatan hydrogen dari gelatin terhadap air dalam larutan. Selain itu titik leleh dipengaruhi oleh konsentrasi gelatin dalam larutan, pH dan besarnya molekul gelatin (Stainsby, 1977).

c. Titik isoelektrik protein Titik isoelektrik protetin (pI) adalah pH dimana protein memiliki jumlah muatan ion positif dan negatif yang sama. Pada titik isoelektriknya, kelarutan protein rendah sehingga terjadi penggumpalan atau pengendapan protein. Dengan demikian titik isoelektrik gelatin penting untuk diketahui karena akan berpengaruh pada penggunaanya dalam berbagai produk terutama kaitannya dengan tingkat kelarutan gelatin, sebagai contoh kelarutan protein selalu minimum pada titik isoelektriknya. Berdasarkan hasil penelitian dan pengujian titik isoelektrik menunjukkan bahwa gelatin tulang ikan tuna sama dengan gelatin tulang hiu dan lebih rendah dibandingkan dengan titik isoelektrik gelatin kulit ikan pari. Gelatin yang dihasilkan dengan proses asam mempunyai titik isoelektrik yang lebih tinggi dibandingkan gelatin yang dihasilkan dengan proses basa. Titik isoelektrik gelatin juga erat kaitannya dengan viskositasnya, dimana viskositas gelatin terendah diperoleh pada pH titik isoelektriknya. Oleh karena itu untuk mendapatkan viskositas gelatin yang tinggi maka larutan yang digunakan untuk melarutkan gelatin tersebut hendaknya lebih besar atau lebih rendah dari pH titik isoelektriknya. d. Derajat putih Derajat putih merupakan gambaran umum dari warna gelatin, dimana derajat putih gelatin diharapkan mendekati 100%, karena gelatin yang bermutu tinggi tidak berwarna, sehingga aplikasi bisa lebih luas. Derajat putih gelatin ditentukan oleh bahan baku dan proses pembuata gelatin. Derajat putih gelatin akan berpengaruh pada aplikasi suatu produk (Glicksman, 1969). Hasil pengukuran derajat putih dari gelatin tulang ikan tuna lebih rendah dibandingkan dengan gelatin kulit pari namun lebih tinggi dari gelatin tulang hiu. Hal ini disebabkan bahan baku yang digunakan, kesegaran bahan baku akan mempengaruhi mutu dari gelatin tersebut dan juga dipengaruhi oleh proses pengeringan pada gelatin yang menggunakan suhu yang lebih. C. Pemanfaatan Gelatin di Bidang Industri Gelatin adalah protein yang mempunyai nilai gizi rendah karena pada gelatin tidak terkandung seluruh asam amino esensial pembentuk protein secara lengkap. Gelatin merupakan suatu protein yang tidak mengandung asam amino triptofan oleh
9

karena itu penggunaan gelatin lebih disukai karena sifat fisik kimianya bukan karena nilai gizinya. Kegunaan gelatin terutama untuk mengubah cairan menjadi padatan yang elastis atau mengubah bentuk sol menjadi gel. Reaksi pada pembentukan gel ini bersifat reversible kerena bila gel dipanaskan akan terbentuk sol dan bila didinginkan akan terbentuk gel lagi. Keadaan tersebut membedakan gelatin dengan gel dari pektin, alginat, albumin telur, dan protein susu yang gelnya irreversible (Marsaid, 2011). Penggunaan gelatin sudah meluas meliputi produk pangan dan non pangan. Sebagian besar dari total produksi gelatin diaplikasikan pada industri makanan dalam bentuk edible gelatin. Dalam pembuatan bakery, gelatin digunakan sebagai bahan penstabil dan pengisi. Pemanfaatan gelatin dalam produk non pangan ialah industri farmasi, teknik dan kosmetik. Pada bidang farmasi, gelatin digunakan dalam pembuatan kapsul, berperan sebagai agen pengikat untuk tablet dan pastilles, penyamar rasa pada pil, pengganti serum, mikroenkapsulasi vitamin, dan penstabil emulsi. Dalam industri teknik gelatin digunakan dalam bahan pembuatan lem, kertas, cat yang berperan sebagai pengikat, dan penstabil emulsi. Dalam industri kosmetika digunakan dalam lipstik, shampo dan sabun. Saat ini penggunaan gelatin sudah semakin meluas, baik untuk produk pangan maupun non pangan. Untuk produk pangan gelatin dapat dimanfaatkan sebagai bahan penstabil (stabilizer), pembentuk gel (gelling agent), pengikat (binder), pengental (thickener), pengemulsi (emulsifier), perekat (adhesive), whipping agent, dan pembungkus makanan yang bersifat dapat dimakan (edible coating). Industri pangan yang membutuhkan gelatin antara lain industri konfeksioneri, produk jelly, industri daging, industri susu, produk law fat, dan industri food supplement (Raharja, 2004). Gelatin juga digunakan dalam industri non pangan antara lain untuk pembuatan film, industri farmasi (kapsul lunak, cangkang kapsul dan tablet), industri teknik (bahan pembuat lem, kertas, cat, dan bahan perekat), dan juga digunakan dalam industri kosmetika (pemerah bibir, shampo dan sabun). Aplikasi gelatin terhadap produk pangan dan non pangan berdasarkan sifat fisik-kimianya dapat dilihat pada Tabel 4.

10

Tabel 4. Aplikasi gelatin terhadap produk pangan dan non pangan berdasarkan sifat fisik-kimia Kekuatan gel Produk Fungsi Viskositas Dosis (Bloom) Low-High Gelatin gums - Gelling agent 180-260 6-10% - Tekstur - Elastisitas Low-Medium Wine gum 100-180 2-6% - Gelling agent - Tekstur - Elastisitas Chewable sweet - Chewability 100-150 Medium-High 0.5-3% Medium-High Marsmallows - Stabilisasi 200-260 2-5% - Gelling agent Nugget - Chewability 100-150 Medium-High 2-5% Coating - Film Forming 120-150 High 0,2-1% Medium-High 0,2-1% Youghurt 200-250 - pengental - Gelling agent - Tekstur Low-Medium 0,2-1% Eskrim - Tekstur 100-200 - Stabilisasi Low-Medium Kapsul - Kapsul keras 150-280 - kapsul lunak 125-200 20-300 Tablet Pata gigi Kosmetik
Sumber : http://www.gelatin.co.za/gltn1.html#Gel-str dan www. Koshercom.org

D. Volume Bahan Baku Gelatin dari Limbah (Kulit dan Tulang) Ikan Kebutuhan gelatin dunia dari tahun ke tahun terus meningkat, pada tahun 1999 kebutuhan gelatin mencapai 254.000 ton. Hal ini menunjukkan bahwa untuk industri makanan, yaitu sebanyak 60%. Pada tahun 2002 produksi gelatin dunia tercatat 220.000 - 272.300 MT. Di Indonesia, kebutuhan gelatin dalam bidang industri tidak diketahui jumlahnya secara pasti. Namun gelatin yang digunakan industri-industri di Indonesia masih merupakan bahan impor dari beberapa negara Eropa dan Amerika dengan harga relatif tinggi (Marsaid, 2011). Ikan tuna mengandung daging sebesar 45%, tulang 15%, kepala 30%, sisa kulit dan sisik 10%. Jika didasarkan pada tingkat kenaikan produksi ikan tuna
11

sebesar 6,55 ton, maka limbah ikan tuna yang dihasilkan mengalami peningkatan rata-rata sekitar 4 ton atau sekitar 1 ton akan dihasilkan limbah berupa tulang ikan (PT Bonecom, 2005 cit. Wiratmaja, 2006). Tulang ikan dapat dimanfaatkan menjadi gelatin, di dalam tulang terdapat kolagen sebesar 18,6% dari 19,86% unsur organik protein kompleks. Gmez- Guilln (2002) menambahkan , 30% dari limbah industri pengolahan ikan berasal dari kulit dan tulang ikan. Proporsi tulang ikan terhadap tubuh ikan mencapai 12,4 %, sehinga diperkirakan gelatin yang dapat diperoleh dari 6703 ton tulang ikan adalah 804,6 ton.

12

BAB III. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Diantara ketiga kondisi tersebut, gelatin dari tulang ikan tuna dengan perendaman HCl 6% merupakan gelatin yang terbaik. Gelatin yang dihasilkan mempunyai karakteristik sebagai berikut : Viscositas 6,9 cps, kekuatan gel 79 mm/kg.s, Titik gel 7,6oC,titik leleh 19,48oC, titik isoelektrik 7, Rendemen 19,9 %, Nilai pH 4,8, Kadar Protein 91,01%, Kadar Lemak 0,42%, Kadar Abu 1,93% dan Kadar Air 6,54%. B. Saran Perlunya penelitian lebih lanjut terhadap aplikasi gelatin ikan pada produk seperti jelly atau permen.

13

DAFTAR PUSTAKA Astawan, M. dan T. Aviana. 2002. Pengaruh Jenis Larutan Perendam Serta Metode Pengeringan Terhadap Sifat Fisik, Kimia dan Fungsional Gelatin dari Kulit Cucut. Seminar Nasional PATPI. Malang 30-31 Juni 2002. Courts A dan P. Johns. 1977. Relationship between collagen and gelatin. Di dalam The Science and Technology of Gelatin. Ward AG dan Courts A, editors. New York: Academic Press. Damanik, A. 2005. Gelatin Halal, Gelatin Haram. Jurnal Halal LP POM MUI. No. 36 Maret 2001. Jakarta Gomez-Guillen, M.C., P. Montero. 2001. Extarction of gelatin from megrim (Lepidorhombus boscii) skins with several organic acids. J. Food Sci. 66 (2): 213-216. Glicksman, M. 1969. Gum Technology in The Food Industry. Academic Press, New York. Hinterwaldner, R. 1977. Technology of Gelatin Manufacture. Di dalam Ward, A.G dan A. Courts (ed). The Science and Technology of Gelatin. Academic Press, New York. Marsaid, Atmaja L. 2011. Karakterisasi Sifat Kimia, Fisik, dan Thermal Ekstrak Gelatin dari Tulang Ikan Tuna (Thunnus sp) pada Variasi Larutan Asam Untuk Perendaman. Tesis. Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya. Surabaya. Nurilmala M. 2004. Kajian potensi limbah tulang ikan keras (Teleostei) sebagai sumber gelatin dan karakterisasinya. Tesis. Bogor: Sekolah Pascasarjana, IPB. Peranginangin, R., N. Haq, W.F. Maruf & A. Rusli. 2004. Ekstraksi Gelatin dari Kulit ikan Patin (pangasisus hypopthalmus) Secara Proses Asam. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol. 10 No.3 tahun 2004. Peranginangin, R., Mulyasari, A. Sari dan Tazwir. 2005. Karakterisasi Mutu Gelatin yang Diproduksi dari Tulang Ikan Patin (pangasisus hypopthalmus) Secara Ekstraksi Asam. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol. 11 No.4 tahun 2005. Pelu, H., S. Herawati dan E. Chasanah. 1998. Ekstraksi Gelatin dari Kulit Ikan Tuna (Thunnus sp.) melalui Proses Asam. Jurnal Penelitian Perikanan IndonesiaVol. IV No. 2 Tahun 1998. Jakarta. Raharja, K. 2004. Manfaat Gelatin Ikan Pari (1). Di dalam Kedaulatan Rakyat Online.Com. 23 Desember 2004 SNI. 06-3735-1995. Mutu dan Cara Uji Gelatin. Dewan Standarisasi Mutu Pangan. Jakarta. Stansbsy, G. 1977. The gelatin gel and the sol-gel transformation. Di dalam The Science and Technology of Gelatin. Ward AG dan Courts A, editors. New York: Academic Press. Wijaya, H. 2001. Pengaruh Konsentrasi Asam Asetat dan Lama Perendaman Kulit Ikan Pari (Trygon spp) Pada Pembuatan Gelatin. Skirpsi. Teknologi Hasil
14

Perikanan Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor. Bogor. Wiratmaja, H. 2006.Perbaikan Nilai Tambah Limbah Tulang Ikan Tuna (Thunnus sp) Menjadi Gelatin Serta Analisis Fisika-Kimia. Skripsi. Teknologi Hasil Perikanan Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor. Bogor.

15