Anda di halaman 1dari 39

PROFIL KOMODITAS JERUK

A.

Pendahuluan Jeruk merupakan salah satu buah utama di Indonesia. Dibandingkan dengan jenis buah-buahan yang lain, komoditas jeruk memiliki keunggulan kompetitif dari beberapa kriteria diantaranya: Kriteria pasar jeruk merupakan jenis buah yang paling disukai konsumen walaupun bukan yang paling banyak dikonsumsi. Jeruk disukai karena kandungan vitamin C-nya yang tinggi, citarasanya yang enak dan menyegarkan serta kemudahan mengkonsumsinya. Kriteria ekonomi Di pasaran, harga jeruk termasuk tinggi. Selain itu, pengusahaan jeruk relatif menguntungkan dengan masa payback period-nya pendek. Kriteria agronomi Jeruk termasuk tanaman yang mudah ditumbuhkan dan berproduksi dengan sebaran lingkungan agroklimat yang luas. Selain itu, dukungan teknologi budidaya maju pada jeruk realtif lebih tersedia. Kriteria penyediaan Pasokan jeruk dapat disediakan sepanjang tahun. Walaupun produksi jeruk adalah musiman, tetapi penyebaran areal yang luas memberikan kemungkinan jeruk berproduksi pada waktu yang berbeda. Selain itu, teknologi pengaturan produksi off season pada tanaman jeruk relative lebih mudah diimplementasikan.

B.

Produksi dan Produktivitas Jeruk sebagai komoditas unggulan nasional mempunyai peran yang penting dalam peningkatan devisa bagi negara. Produksi jeruk Siam/Keprok nasional tahun 2003 mencapai 1.441.680 ton dengan produktivitas 25,61 ton/ha. Sedangkan produksi jeruk besar Indonesia sebesar 88.144 ton dengan produktivitas 6,86 ton/ha. Total produksi jeruk Indonesia pada tahun 2003 mencapai 1.529.824 ton/ha atau meningkat 58,02 persen dari tahun 2002 sebesar 968.132 ton dengan peningkatan luas lahan panen

seluas 44,57 persen. Perkembangan produksi dan produktivitas jeruk tahun 1999 2003 disajikan pada tabel.
Tabel. Perkembangan Luas Panen, Produksi dan Produktivitas Jeruk (1999 2003)
Perkembangan 1999 Luas Panen (Ha) 25.210 Produksi (Ton) 449.531 Produktivitas (Ton/ha) 17,83 Sumber: Ditjen BP Hortikultura , 2004 2000 37.120 644.052 17,35 Tahun 2001 35.367 691.433 19,55 2002 47.824 968.132 20,24 2003 69.139 1.529.824 22,13

Produksi jeruk terbesar didominasi jeruk Siam. Produksi jenis-jenis jeruk yang lain seperti jeruk Keprok, Pamelo (Besar), Manis dan lain- lainnya jauh dibawah jeruk Siam. Beberapa sentra produksi jeruk yang saat ini dikenal sebagai sentra jeruk Siam dan Keprok antara lain Kabupaten Karo, Sambas, Garut, Barito Kuala, Tulang Bawang, Jember, Mamuju Utara, TTS. Sentra jeruk pamelo (besar) yang dikenal adalah

Kabupaten Magetan, Pangkep dan Sumedang, sedangkan untuk jeruk manis adalah Kabupaten Malang, Pacitan dan Pasuruan.

C.

Kawasan dan Sentra Produksi Pengembangan komoditas jeruk menyebar di seluruh wilayah di Indonesia. Sifat tanaman jeruk yang relatif cepat berbuah, produksi dan produktivitas yang cukup tinggi, daya adaptasi yang luas, serapan pasar yang cukup tinggi serta dukungan informasi dan teknologi perjerukan yang lebih maju merupakan beberapa

pertimbangan para petani maupun pekebun buah untuk memilih jeruk sebagai tanaman yang diusahakan. Pengembangan jeruk menyebar dari dataran rendah sampai dataran tinggi. Di dataran rendah hingga 700 m dpl, jeruk yang sesuai adalah jeruk Siam ( Citrus sinensis) dan jeruk besar atau pamelo (Citrus maxima). Di dataran tinggi diatas 700 m dpl, jeruk Keprok (Citrus reticulata ) lebih sesuai daripada jeruk Siam. Jeruk Keprok merupakan salah satu jeruk harapan yang nantinya mampu menggantikan pasar jeruk-jeruk impor (substitusi jeruk impor), seperti jeruk Keprok varietas Grabag, Tawangmangu, Batu 55, Garut, SoE, serta varietas introduksi seperti Jeruk Freemont, Sunkist dan Chokun. Jeruk di Indonesia sebagian besar diusahakan petani pada lahan- lahan

sempit/pekarangan dengan luasan rata-rata kurang dari 1 ha per petani. Pada kurun waktu 5-6 tahun terakhir, beberapa petani di sentra-sentra produksi jeruk telah berkelompok dengan luasan mencapai 50 Ha. Kelompok-kelompok tersebut

selanjutnya telah berkembang menjadi sebuah kawasan dengan luas mencapai 500 Ha. Namun demikian, pengembangan kawasan semacam ini masih sangat terbatas pada beberapa kabupaten sentra. Jumlah investor yang mengembangkan jeruk juga masih sangat sedikit. Luas sentra produksi jeruk tahun 2003 adalah 69.139 ha dengan produksi 1.529.824 ton dan produktivitas rata-rata 22,13 ton/ha. Dari kelompok buah-buahan, komoditas jeruk menempati urutan ke-3 setelah pisang dan mangga.

D.

Budidaya Tanaman Jeruk merupakan salah satu komoditas prioritas, yang perlu ditangani lebih terarah untuk dapat menghasilkan produksi dan mutu hasil yang tinggi serta

berkesinambungan. Kendala utama dalam upaya pengembangan tanaman jeruk adalah serangan organisme pengganggu tanaman (OPT), terutama CVPD. Dalam penyediaan benih jeruk bebas penyakit pemerintah telah berupaya memfasilitasi dengan : Membangun Blok Fondasi (BF) dan Blok Penggandaan Mata Tempel (BPMT) di dalam screen house, sehingga pohon induk terisolir dari serangga pembawa virus (vektor) Usaha lainnya adalah mencegah penyaluran benih dari daerah yang telah terkena CVPD ke daerah bebas CVPD Mengawasi perbanyakan benih melalui sistem sertifikasi benih Seiring dengan meningkatnya luas pertanaman jeruk setiap tahun maka kebutuhan benih jeruk untuk pertambahan luas tanam, penyulaman dan peremajaan di seluruh wilayah Indonesia diprediksikan meningkat setiap tahunnya (Tabel 1). Tabel . Kebutuhan benih jeruk tahun 2004-2009.
Tahun Ke terangan Luas tambah tanam (ha) Luas peremajaan (ha) 2 Luas penyulaman (ha) 3 Total luas 1+2+3 Kebutuhan benih (pohon) 13.415.732 17.574.608 23.022.737 30.159.785 39.509.319 51.757.208
1

2004 21.433 9.057,21 3.049,03 33.539,24

2005 28.077 11.864,94 3.994,23 43.936,17

2006 36.781 15.543,08 5.232,44 101.492,69

2007 48.184 20.361,43 6.854,50 75.399,93

2008 63.120 26.673,47 8.979,39 98.772,86

2009 82.688 34.942,25 11.763.00 129.393,25

Perbanyakan benih jeruk dapat dilakukan melalui tiga macam cara yakni perbanyakan secara generatif, vegetatif dan gabungan (cara generatif dan vegetatif). Perbanyakan benih jeruk secara generatif dilakukan dengan biji. Untuk mendapatkan benih bermutu varietas unggul, perbanyakan secara generatif tidak disarankan karena banyak sifat negatif yang muncul yang merupakan penyimpangan dari sifat induknya. Perbanyakan dengan biji hanya dilakukan untuk tujuan mendapatkan batang bawah. Perbanyakan benih jeruk secara vegetatif yang biasa dilakukan yaitu dengan mencangkok tanaman induk. Perbanyakan dengan cara ini, dari segi waktu menguntungkan karena dalam jangka 6 bulan sudah diperoleh benih siap tanam dan setelah tanaman berumur 2-3 tahun sudah dapat menghasilkan buah. Namun jika dilihat dari segi tenaga dan hasil perbanyakannya, perbanyakan dengan cara mencangkok mempunyai beberapa kelemahan antara lain: perakaran kurang kuat (tidak memiliki akar tunggang), hanya dapat dilakukan untuk mendapatkan benih dalam jumlah terbatas serta dapat merusak pohon induk. Gabungan perbanyakan benih generatif dan vegetatif dimaksudkan untuk menghasilkan benih yang terdiri dari komponen batang bawah (understump) dan batang atas (entres). Dengan perbanyakan gabungan ini maka dapat dipersatukan sifat-sifat unggul 2 tanaman yaitu sifat unggul dari batang bawah dan sifat unggul dari batang atas. Untuk itu, penyiapan batang bawah dan batang atas merupakan hal yang harus dilakukan dan diperhatikan dengan benar. Perbanyakan benih jeruk gabungan dapat dilakukan dengan okulasi, sambung pucuk dan susuan. Benih bermutu varietas unggul hanya dapat diperoleh melalui perbanyakan sistem klonal, yaitu dengan cara vegetatif yang berasal dari satu pohon induk (Pohon Induk Tunggal= PIT) merupakan varietas yang sudah dilepas oleh Menteri Pertanian. Untuk menghasilkan benih dari varietas/klon dalam jumlah besar, proses produksi benih dilakukan secara bertingkat melalui Blok Fondasi (BF), Blok Penggandaan Mata Tempel (BPMT), dan Blok Perbanyakan Benih (BPB). Tanaman jeruk sangat peka terhadap penyakit sehingga pembuatan BF dan BPMT jeruk harus menggunakan rumah kasa. Selain itu tanaman di BF diindeksing secara berkala sedangkan untuk tanaman di BPMT sebaiknya dibongkar (diganti dengan tanaman baru ) setiap tiga tahun. Untuk menjamin mutu benih maka dalam proses perbanyakannya harus mendapat pengawasan BPSBTPH yang ditandai dengan adanya label pada benih yang dihasilkan. Varietas jeruk yang dilepas dengan Keputusan Menteri Pertanian telah mencapai sebanyak 34 varietas yaitu Pangkajene Putih, Pangkajene Merah, Tejakula, Keprok Selayar, Keprok Siompu, Siem Banjar, Keprok Soe, Manis Kisar, Keprok Garut, Cikoneng ST, Siem Madu, Bali Merah, Manis Taji, Pamelo Raja, Pamelo Ratu, Criffa 01, Keprok Sipirok, Pamelo

Nambangan, Keprok Maga, P. Sri Nyonya, P. Mangetan, Troyer 415, Carrizo 442, Kunci 10, Keprok Pulau Tengah, Keprok Madura, Pacitan, Keprok Wangkang, Keprok Tawangmanggu, Siem Pontianak, Pamelo Astano, Pamelo Lidung, Pamelo Taliwang Putih dan Pamelo Taliwang Merah. Ketersediaan benih jeruk sampai bulan Juli 2005 berdasarkan laporan daerah yang masuk di BBIH 141.186 pohon sedangkan yang ada di penangkar yang terdaftar di BPSBTPH 1.114.174. Dari jumlah tersebut baru dapat memenuhi 6,34 % dari kebutuhan benih tahun 2005 yaitu 17.574.608 pohon. Penyaluran benih jeruk dari penangkar ke pengguna benih/petani dapat dilakukan dengan berbagai saluran yang umum sudah dilaksanakan oleh penangkar. Pola distribusi penyaluran tersebut digolongkan menjadi tiga macam : - Penangkar ke pengguna benih - Penangkar ke pengguna benih melalui pedagang benih - Penangkar ke pengguna benih melalui pedagang benih, dan perantara.

Pada pola penyaluran pertama, rantai distribusi/penyaluran pendek yaitu dari penangkar ke pengguna benih/petani biasanya terjadi pada wilayah pemasaran

setempat. Pengguna benih/petani pada wilayah tersebut biasanya sudah mengetahui penangkar benih yang terdapat di wilayahnya, karenanya petani biasanya yang mendatangi penangkar untuk memesan benih keperluannya. Pada pola penyaluran kedua, rantai distribusii/penyaluran menengah yaitu dari penangkar - pedagang benih - pengguna benih/petani terjadi pada wilayah setempat namun relatif dalam jumlah besar. Pola ini terbentuk karena adanya pesanan benih dalam jumlah cukup besar yang tidak dapat dipenuhi oleh satu orang penangkar atau pedagang benih. Oleh karena itu inisiatif untuk mengumpulkan benih dilakukan oleh pedagang benih/penangkar yang relatif modalnya lebih kuat.
Pada pola penyaluran ke tiga, rantai pemasaran panjang yaitu dari penangkar - pedagang benih - perantara - pedagang benih - pengguna benih/petani, biasanya terjadi pada pemasaran benih antar wilayah/propinsi. Karenanya perdagangan benih antar wilayah biasanya diperlukan perhitungan transportasi yang cermat untuk efesiensi. Dalam perdagangan/pemasaran benih buah-buahan tidak jarang bahwa penangkar juga merangkap sebagai pedagang benih bahkan ada yang merangkap sebagai perantara. Untuk mendukung ketersediaan benih jeruk kelembagaan perbenihan yang tersedia adalah Balai Benih Hortikultura dan penangkar benih sebagai lembaga penyedia/produsen, sedangkan

untuk mendapatkan benih bersertifikat telah ada BPSBTPH (Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura). Kedua lembaga perbenihan ini berada di bawah organisasi Dinas Pertanian di seluruh Indonesia, kecuali penangkar/produsen benih di luar organisasi Dinas Pertanian di daerah. Permasalahan dalam penyediaan benih jeruk : 1. Untuk memproduksi benih tanaman buah diperlukan waktu relatif lama antara 1 sampai 2 tahun tergantung dari komoditas, sedangkan permintaan benih seringkali mendadak. 2. Untuk memproduksi benih dalam skala besar belum dapat dipenuhi oleh penangkar benih karena keterbatasan modal, keterbatasan SDM terampil dalam menerapkan teknologi perbanyakan benih dan tidak ada jaminan pemasaran. 3. Sistem informasi perbenihan belum berjalan dengan baik, terutama tentang keberadaan sumber benih/mata tempel dari varietas-varietas unggul yang dikehendaki masyarakat sehingga ketersediaan sumber benih/mata tempel melimpah disuatu tempat tetapi kekurangan di tempat lain. 4. Penggunaan benih bermutu di tingkat petani masih rendah. 5. Kemampuan petani untuk membeli benih bersertifikat masih rendah.

Penerapan Teknologi Budidaya Teknologi budidaya jeruk relatif lebih maju dibanding teknologi komoditas buah yang lain. Teknologi maju budidaya jeruk sudah mulai dilakukan sejak persiapan lahan. Berikut teknologi budidaya yang perlu diterapkan pada usaha pengembangan jeruk : 1. Pemilihan Lokasi

a. Tanah - Tanaman jeruk dapat ditanam pada dataran rendah dengan ketinggian 1- 700 m dpl dan pada dataran tinggi dengan ketinggian > 700 - 1.400 m dpl - Tanah gembur, subur, drainase baik dengan kedalaman efektif > 60 cm - Kondisi lahan yang akan ditanami harus telah bebas dari tanaman jeruk yang sakit minimal dua tahun sebelum tanam. - Lokasi harus bersih dari tanaman pembawa vektor CVPD, Diaphorina citrii dan dari tanaman lain yang disukai hama tersebut seperti kemuning dan tapak doro. Lokasi kebun harus berjarak minimal 3 km dari tanaman atau kebun jeruk yang terserang CVPD. - pH tanah 5.0 7.0 b. Topografi - Derajat kemiringan lereng optimal yang membantu agar tanaman tidak tergenang air adalah 20%. Derajat kemiringan lereng maksimal yang diperbolehkan adalah 35%.

c. Iklim - Temperatur optimum 20 30 o C. Curah hujan 1500 2000 mm per tahun, bulan basah rata-rata 2-4 bulan dan bulan kering 3-5 bulan. 2. Penyiapan benih Pemilihan benih merupakan kunci sukses kebun jeruk. Oleh karena itu, harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut : a. Sumber benih harus memiliki persyaratan antara lain: - Benih dibeli dari penangkar yang jelas dan dapat dipercaya. Pemesanan perlu dilakukan jauh hari sebelum tanam agar bibit benar-benar siap ditanam (minimal 1 tahun) - Benih harus berlabel/bersertifikat. - Benih harus sesuai dengan agroklimat setempat - Benih berasal dari varietas yang memiliki pasar jelas saat ini dan peluang di masa depan - Benih harus bebas hama dan penyakit - Benih memiliki vigor yang baik b. Benih yang digunakan harus bermutu, dengan ciri-ciri: - Tinggi benih antara 60-75 cm dan diameter 1 1,5 cm - Warna batang hijau tua coklat, bentuk batang lurus dan tidak bercabang - Warna hijau daun mengkilat dan telah membentuk 3 trubus. - Benih asal okulasi sebaiknya telah berumur minimal 6 bulan atau lebih. - Benih bebas dari 7 penyakit sistemik, yaitu CVPD, Tristeza, Psorosis, Exocortis, Vein Enation, Tatter leaf, dan Xylosporosis. - Varietas unggul batang atas adalah varietas unggul yang dianjurkan. - Batang bawah yang dianjurkan yaitu JC, dan RL atau bisa digunakan Troyer, Carrizo, Volkameriana, Citromello, Cleopatra Mandarin (CM), dan Trifoliata Orange. 3. Penananaman Lubang tanam dibuat 1-2 bulan sebelum tanam. Ukuran lubang 60 x 60 x 40 cm. Dalam mengatur alur tanaman, diusahakan membujur Utara Selatan agar tanaman memperoleh intensitas sinar matahari maksimum. Untuk jeruk keprok jarak tanam 3 x 4 m, atau populasi 800 tanaman/ha. Jarak tanam untuk jeruk siem 4 x 5 m, atau populasi 500 tanaman/ha. Sebelum melakukan penanaman, tanah yang telah digali diberi ca mpuran pupuk kandang 20 kg dan pupuk dasar yang terdiri dari 100 gr pupuk phospat, dicampur merata dengan tanah.

4. Pemangkasan Pemangkasan tanaman dilakukan sejak tanaman belum berproduksi hingga tanaman berproduksi. Pemangkasan tanaman meliputi pemangkasan bentuk, dan pemangkasan pemeliharaan. Pemangkasan bentuk, dilakukan pada tahun pertama hingga ketiga saat tanaman belum berproduksi, untuk mendapat arsitektur tanaman yang ideal, percabangan yang seimbang, tersebar merata, kokoh, dan tahan angin,

sehingga setiap percabangan memperoleh curah sinar matahari optimal dan terjadi sirkulasi udara yang baik di sekitar tanaman. Percabangan awal untuk tanaman jeruk menggunakan pola 1-3-9. Percabangan pertama dianjurkan berada 60 m dari permukaan tanah. Pemangkasan pemeliharaan dilakukan pada tanaman yang telah berproduksi untuk mengurangi kerimbunan yang dapat menstimulasi pertumbuhan jamur, membuang ranting mati, ranting yang sakit, ranting yang tidak produktif (tunas air), ranting bekas tempat tumbuh buah, serta untuk merangsang pembentukan tunas-tunas baru yang akan membawa tunas-tunas generatif. Untuk memudahkan pemilihan ranting-ranting sehat yang perlu dipangkas dapat digunakan kriteria berikut; ranting-ranting yang memiliki sudut tumbuh keatas > 45 sebaiknya dipangkas, sedangkan yang memiliki sudut < 45 dapat dipelihara. Waktu pemangkasan pada tanaman produktif dilakukan setelah panen.

5. Pemupukan Pemupukan merupakan kegiatan pemberian nutrisi yang diperlukan tanaman agar dapat menghasilkan buah bermutu dalam jumlah optimal dengan tetap memperhatikan kesehatan tanaman dan kelestarian sumber daya alam. Penggunaan bahan penambah nutrisi tanaman, harus menggunakan bahan yang jelas sumber serta kandungannya. Tanaman jeruk memerlukan nutrisi yang diberikan melalui pemupukan, untuk mengembalikan zat hara yang telah digunakan untuk pertumbuhan tanaman hingga panen. Jumlah dan macam pupuk sangat dipengaruhi oleh umur tanaman, varietas, dan jenis tanah. Untuk menentukan jumlah dan jenis pupuk sebaiknya dilakukan analisis tanah dan jaringan tanaman. Analisis tanah dan jaringan tanaman dapat digunakan untuk identifikasi status hara, mengoreksi tingkat kritis dan memberikan perkiraan tambahan zat hara yang diperlukan. Tanaman jeruk membutuhkan pupuk organik, pupuk makro, dan pupuk mikro. Pupuk organik, diberikan saat awal tanam dan dua kali setahun yaitu sebelum musim kemarau dan sebelum musim penghujan. Pupuk makro terdiri dari N, P, K, Ca, Mg, dan S diberikan sesuai dengan kebutuhan, yaitu sebelum fase tunas pada periode tanaman belum berproduksi dan sebelum fase tunas dan fase kuncup bunga pada periode tanaman telah berproduksi. Pupuk N tinggi diberikan setelah panen dan atau pemangkasan. Menjelang berbunga diberikan pupuk P tinggi dan pada saat perkembangan buah diberikan pupuk K tinggi. Pupuk mikro (Cu, Zn, Fe, B, Mn) diberikan berdasar penampakan gejala pada daun. Perkiraan kebutuhan pupuk seperti pada tabel berikut. Tabel . Perkiraan kebutuhan pupuk per pohon Umur tanaman Pupuk Organik Pupuk N,P,K (tahun) (kg/phn) (kg/phn) 13 1 0,5 0,8 46 1 0,8 1,0 7 10 2 1,5 2,0 >10 2 2,0 3,0 Pupuk Mikro 3 cc/l (pohon) 10 5 10 35 23

Keteragan : 1 kaleng = 20 lt = karung beras Jumlah pupuk yang diberikan pada tanaman, harus dalam keadaan yang cukup, tidak berlebih maupun kurang, karena dapat menyebabkan terganggunya pertumbuhan tanaman. Gejala kelebihan dan kekurangan unsur hara dapat dilihat pada tabel Tabel . Gejala kekurangan dan kelebihan unsur hara Gejala No Uns ur Kekurangan 1. N Pertumbuhan vegetatif, pembentukan bunga dan buah terhenti Daun-daun tua menjadi hijau pucat kekuningan dan menjalar pada daun-daun muda Pucuk ranting mati dan pertumbuhannya tidak simetris/seimbang Daun berwarna hijau tua, lebar kebiruan, kusam tidak mengkilat Tanaman kerdil Pembentukan dan pemasakan buah terhambat Daun berpilin, berkerut, menguning dan gugur sebelum berbunga Tunas muda dan ranting mati Terdapat bercak kuning cekung pada kulit batang atau ranting Buah kecil, berkeriput, warna pucat, kulit tipis, dan kadang-kadang buah retak Daun kerdil dan kuntum bunga mati Tepi daun mengalami klorosis Ujung ranting mati Pangkal daun berwarna hijau gelap berbentuk huruf V bagian lainnya berwarna kuning Pada kekuragan berat, daundaun mengalami klorosis

Kelebihan

Daun berwarna hijau tua (tidak normal), kasar dan tebal Pembentukan bunga dan buah terhambat

3. K

2.

Kulit buah berkeriput

Kualitas buah jelek dan kasar Pemasakan buah lama dan buah menjadi asam

4.

Ca

Daun menguning secara keseluruhan

5.

Mg

Terdapat bercak-bercak kuning pada daun

dan gugur

6.

Zn

7. Fe

8.

Mn

9.

Cu

10.

Daun mengecil dan ujungnya lancip Daun muda berwarna pucat dan tulang daun tua hijau dengan warna kuning diantara tulang daun Pertumbuhan ranting terhambat/ melingkar/roset Ruas daun memendek Buah kecil, berwarna kuning pucat, sari buah sedikit Daun muda menguning kecuali pada tulang daun, mengecil dan tipis, tetapi daun tua tetap hijau Ranting tumbuh roset/melingkar dan dahan mati Buah kecil dan masam Sepanjang tulang daun hijau tua dan diantara tulang daun hijau muda agak menguning Tanaman kurang vigor Klorosis pada daun Sistem perakaran terganggu, rambut-rambut akar mati Daun berombak, tulang daun menebal Dahan dan ranting terbelah dan mengeluarkan getah Buah mengecil dan kulitnya tebal

Terjadi bintik-2 menguning pada daun Akar melebar Daun seperti terbakar dan rontok Sumber: Direktorat Tanaman Buah (2003)

11.

Mo

Ujung daun menguning, akhirnya membentuk bercak-2. Bila parah, daun mengecil, pupus pucat kecuali di sekitar tulang daun Ranting kering dan mati -

6. Pengairan Pengairan merupakan kegiatan yang mengatur tata air mikro termasuk penyediaan air bagi tanaman serta pembuangan kelebihan air. Air merupakan faktor yang sangat penting dalam budidaya jeruk. Air yang digunakan harus air yang memenuhi standar kualitas. Ketersediaan air dalam

jumlah yang sesuai akan meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman yang pada gilirannya akan menghasilkan buah bermutu. Kebutuhan air bagi tanaman jeruk pada usia produktif diperkirakan 50 liter per bulan atau 1,6 liter/hari. Kebutuhan air harus dipenuhi pada fase tunas pada tanaman belum berproduksi dan pada fase tunas, kuncup bunga dan pembentukan buah pada periode tanaman yang telah berproduksi. Kekurangan air dapat menyebabkan gugurnya daun dan buah, tunas, ranting dan pucuk menjadi layu bahkan mati. Kelebihan air, dapat menyebabkan pembusukan perakaran, dan bila terjadi pada fase pembungaan dapat mengakibatkan pecah buah dan buah ngapas. Upaya pengendalian kelebihan air dapat dilakukan dengan membuat saluran drainase. Sumber air irigasi pada kebun jeruk dapat berasal dari aliran sungai, air hujan ataupun dari sumur galian. Sistem pengairan dapat dilakukan melalui beberapa cara seperti : Air dialirkan secara manual, dengan ember, gembor dan langsung disiramkan ke tanaman Air dipompakan melalui pipa-pipa untuk disalurkan ke tanaman. Irigasi tetes atau irigasi springkle yang merupakan salah satu cara pengairan yang efisien. Penggunaan sistem ini dapat dipadukan dengan pemberian nutrisi tanaman. Titik tetes air dapat diletakkan sedekat mungkin dengan tanaman, untuk memberi hasil optimal dan menghindarkan terjadinya penguapan.

7. Pengendalian OPT Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) mencakup kegiatan yang dapat menyebabkan penurunan produksi dan mutu buah dengan memperhatikan aspek keamanan produk dan kelestarian lingkungan serta sumber daya alam. Pengendalian OPT dilakukan dengan penerapan prinsip Pengendalian Hama Penyakit Terpadu (PHT). PHT dapat dilakukan dengan cara : - Fisik yaitu mengendalikan organisme pengganggu secara manual. - Biologi dengan memanfaatkan peranan agensia hayati seperti predator dan patogen - Kultur teknis dengan penanaman varietas toleran, pengaturan jarak tanam, pengaturan drainase, pemupukan berimbang, penjarangan buah, dll. - Kimiawi dengan pestisida. Cara ini merupakan alternatif terakhir dengan mempertimbangkan ambang ekonomi. Jenis-jenis Hama dan Penyakit utama jeruk, Gejala dan pengendaliannya dapat dilihat pada tabel ..

Tabel ... Hama dan Penyakit Utama Je ruk, Gejala dan Pengendaliannya OPT Gejala/Ciri-ciri Pengendalian HAMA Kutu Loncat jeruk Daun berkerut dan - Cara Biologis: Predator menggulung, dan parasitoid (Diaphorina citri pertumbuhan tanaman - Cara kimiawi: Kuw.) terhambat. Juga sebagai dimethoate, vector CVPD monochrotopos, prefenosos, sihalotrin, metidation - Cara Kultur Teknis: melakukan eradikasi tanaman terserang dan tanaman inang spt Kemuning, tapak dara, dll Kutu Daun Coklat Daun berkerut dan - Cara Biologis: Predator (Toxoptera citricidus keriting serta dari famili Syrphidae Kirk) pertumbuhannya (Menochillus sp); terhambat. Pada bagian Cocinellidae, Kutu Daun Hitam tanaman disekitar Chrysophidae; (T. aurantii Boy) aktivitas kutu daun Lycocidae tersebut terlihat adanya - Cara parasitoid : Aphytis Kutu Daun Hijau kapang hitam yaitu sp atau entopatogen (Myzuz persicae Sulz) Capnodium sp Fusarium coccophilum dan (Aphys gossypii - Cara Kultur teknis: Glov) penggunaan mulsa jerami di bedengan pembibitan - Cara kimiawi: dimethoate, methidation, malathion, phosphamidon, diazinon Ulat Peliang daun Daun tampak mengkerut, - Cara Biologis: (Phyllocnistis citrella menggulung atau keriting, Trichogramma sp dan Stainton) terdapat bekas serangga Ageniapsis sp. ; berwarna keperakan, - Cara Kultur teknis: coklat atau hitam berupa memetik bagian tanaman garis atau jalur yang - Cara kimiawi: berkelok-kelok monocrotophos Kutu Sisik/kutu Daun berwarna kuning, - Cara Biologis: Aphytis Perisai chlorotis, sering gugur. lepidosaphes, (Lepidopsaphes Serangan berat Aspidiotiphagus citrinus beckii; Unispis citri) mengakibatkan ranting/ dan cendawan Fusarium cabang mengering serta coccophilum retak-retak pada kulit. - Cara kimiawi: Insektisida Serangan juga berakibat selektif. buah jatuh.

Ulat Penggerek Bunga Lubang bergaris pada dan Puru Buah buah (0,3-0,5 cm). (Prays sp.) Serangan pada bunga menyebabkan kerontokan, berakibat jatuh sebelum tua pada buah muda atau meninggalkan bekas berupa puru pada buah.

Ulat Penggerek Buah (Citripestis sagitifella Morre)

Tungau Merah (Brevipalpus spp; Aceria sheldoni; Tetranychus sp)

Trips (Scirtothrips citri Moulton)

Kutu Dompolan/Citrus mealy bug (Planococcus citri Risso)

- Cara Mekanis: pembungkusan buah yang sudah agak besar dan membuang buah yang sudah terserang. - Cara Biologis: Ageniapsis sp dan Enderus malayensis Ferr - Cara kimiawi: dengan Insektisida selektif pada saat telur belum menetas. Terlihat bekas pada - Cara Mekanis: daging buah yang pembungkusan buah saat mengeluarkan blendok, masih muda dan dan kadang-kadang membuang buah yang tertutup kotoran. Bagian sudah terserang dengan buah yang diserang interval 10 hari bagian bawah. kemudian menguburnya. - Cara Kimiawi: penyemprotan insektisida methomyl dan methidation pada buah berumur 2-5 hari Tangkai terserang - Cara kimiawi: berwarna perunggu. Pada propargite permukaan atas daun - Melakukan terdapat titik kuning atau eradikasi/sanitasi gulma coklat. Juga berakibat inang tungau banyak daun gugur. - Pemanfaatan predator/musuh alami Phytoseilus persinilis, Stetorus sp Daun Menebal, kedua sisi - Tajuk tanaman jangan melengkung ke atas dan terlalu rapat sehingga pertumbuhan abnormal. kelembaban udara Daun ujung tunas rendah. menghitam, kering dan - Pengurangan gugur. Meninggalkan penggunaan mulsa atau bekas coklat keabu-abuan jerami ada buah muda yang - Penggunaan insektisida terserang yang efektif pada saat tanaman sedang bertunas, berbunga dan pembentukan buah Menyerang tangkai buah - Pemanfaatan musuh dan bekasnya berwarna alami Symnus apiciflavus kuning lalu mongering Nuts dan parasitoid hingga buah berguguran Anagrus GreenHow, Bagian terserang dipenuhi Leptomastix lilin berwarna putih trilongifasciatus Gir.

seperti kapas

Lalat Buah (Dacus spp)

Kutu Penghisap daun (Helopheltis antonii Sign) PENYAKIT Citrus Vein Phloem Degeneration (CVPD) atau Huang Lung Bin (greening) Penyakit disebabkan Liberobacter asiaticum

- Mengatur kepadatan tajuk dan buah - Membuang cabang, buah yang terserang - Pengendalian dengan insektisida selektif. - Mengapur batang untuk mencegah semut Terjadi kerusakan pada - Pengendalian dilakukan buah dan mengundang dengan memasang pathogen menginfeksi perangkap yang diberi buah methyl eugenol - Membungkus buah dengan kertas, daun, plastic. Gejala bercak coklat dan - Pemanfaatan musuh biasanya menjadi nekrosis alami - Pengendalian dengan insektisida selektif Sebagian/seluruh tajuk berwarna kuning (tergantung intensitas serangan). Daun yang terserang lebih kaku, tebal, berdiri tegak dan terdapat warna hijau yang mengelompok tidak merata. Tulang daun menonjol berwarna gelap, daging daun berwarna kuning. Serangan yang berat mengakibatkan daun mengecil dan menghasilkan buah yang ukurannya kecil sebesar kelereng dengan biji buah berwarna hitam. Terdapat kerusakan pada jaringan pembuluh floem. Kerusakan pada jaringan floem, lekukan/celah pada jaringan kayu batang, cabang/ranting serta daun menguning. Daun-daun menjadi berwarna perunggu atau kuning dan gugur sedikit demi sedikit. Pertumbuhan terhambat. - Penanaman bibit bebas CVPD pada areal yang aman dari sumber penyakit, penggunaan mata tempel bebas CVPD, budidaya tanaman sehat, pengendalian serangga penular, eradikasi tanaman sakit dan sanitasi - Pada daerah endemic dianjurkan eradikasi total diikuti dengan masa tanpa tanaman jeruk dan Rutaceae - Cara kimiawi: oksitetrasiklin 1000 ppm.

Tristeza (Quick Decline) Penyakit virus

- pengendalian serangga penular, - penggunaan bibit sehat dan pamakaian mata tempel bebas penyakit, batang bawah tahan penyakit, - sanitasi, eradikasi tanaman sakit dan tanaman inang serangga

Busuk Pangkal Batang (Brown Rot Gummosis)

Penyebab: Phytophthora spp

Tanaman terserang akan memproduksi bunga berlebihan tanpa menjadi buah yang masak Timbulnya getah berwarna gelap/coklat pada kulit batang. Jaringan kayu berubah warna bahkan kambiumnya. Kulit batang menjadi cekung dan mengeluarkan blendok sehingga batang membusuk. Kematian tanaman terjadi apabila bercak pada kulit melingkari batang.

penular

- penggunaan batang bawah tahan terhadap Phytoptora misalnya Troyer dan Cleopatra Mandarin, - menjaga drainase tanah agar tetap baik dan mencegah penggenangan air disekitar pangkal batang - menanam dengan jarak yang agak renggang - menghindari penempelan yang terlalu rendah dan penanaman terlalu dalam - melabur batang dengan air kapur setinggi 1 m, jika belum terserang - membersihkan getah dengan kapur/fungisida sesuai anjuran

Diplodia (Bark rot/Diplodia Gummosis)

Busuk akar, busuk leher - Membersihkan peralatan dan mati ranting. pertanian yang akan - Serangan Diplodia digunakan dengan Basah: Tanaman karbolinium plantarum mengeluarkan blendok 8%, berwarna kuning emas - pemeliharaan tanaman dari batang atau cabang. dengan baik (drainase, Kulit yang terserang pupuk berimbang, dapat sembuh lagi menghindari pelukaan) - Serangan Diplodia - penggunaan obat penutup Kering : Kulit batang luka seperti karbolinium yang terserang paraffin, mongering, terdapat - Eradikasi atau celah kecil pada membongkar tanaman permukaan kulit dab sakit. bagian kulit/batang yang - Dianjurkan juga ada dibawahnya penggunaan Bubur berwarna hitam California. kehijauan Antraknosa Mati ranting dan bercak - Memperbaiki kondisi (Anthracnose) pada buah. Gejala mati tanah, ujung ranting dimulai dari - Sanitasi terhadap bagian Penyebab: Cendawan daun-daun di atau sisa tanaman yang Colletotrichum cabang/ranting berwarna menjadi sumber infeksi,

kuning, kemudian mati - Penggunaan bibit bukan dan gugur.Selain itu juga asal cangkokan, ditandai adanya bercak - Penggunaan fungisida coklat kemerahan atau efektif sesuai anjuran coklat kehitaman pada - Sebaiknya dihindari permukaan kulit buah. pemanenan sebelum Bercak-bercak berbentuk matang dan pemupukan bulat dan agak cekung, nitrogen berlebihan. mengeras serta kering. Pada bercak dijumpai bintik-bintik hitam. Embun/Kapang Jelaga Permukaan daun atau - Sanitasi terhadap tunas (Downy mildew) ranting muda tertutupi atau daun-daun terinfeksi oleh lapisan berwarna yang tidak produktif, Penyebab: putih. Jaringan dibawah - penghembusan dengan Capnodium citrii atau lapisan berwarna hijau tua serbuk belerang atau Meliola citricola kebasah-basahan. penggunaan fungisida Perkembangan daun efektif bila dijumpai terserang mengeriting serangan. atau mengalami penyimpangan bentuk, mengering meski tetap melekat pada ranting tanaman Jamur Upas Ranting/cabang terlihat - Sanitasi dengan seperti dilapisi oleh membuang bagian benang-benang mengkilat tanaman yang sakit, seperti sarang laba- laba. - menjaga kebersihan Daun-daun berguguran, kebun dan mencegah ranting dan cabang yang terjadinya kelembaban terserang mengalami tinggi, kematian - melabur bagian tanaman dengan fungisida efektif Sumber: Ditjen TPH dan PKBT-IPB, 1998; Ditjen BPH dan PKBT-IPB, 2002

gloeosporioides

8. Sanitasi Kebun Kebun jeruk harus bersih dari unsur-unsur yang dapat menjadi tempat tumbuh kembangnya berbagai hama, penyakit, dan gulma. Kegiatan sanitasi meliputi penyiangan. Penyiangan harus lebih intensif dilakukan pada musim penghujan. Biasanya kegiatan ini dilakukan bersamaan dengan pemberian pupuk dan pembumbunan. Upaya menjaga kebersihan kebun juga harus dilakukan terhadap rantingranting sisa pemangkasan dan bagian-bagian tanaman yang mengandung penyakit. Ranting-ranting dan sisa-sisa bagian tanaman ini diangkut ke luar areal kebun dan dimasukkan dalam lubang kemudian dibakar.

Upaya menjaga sanitasi kebun, juga dilakukan pada tanaman jeruk, seperti pembersihan batang dari jamur dan lainnya, dengan cara disikat atau dicuci.

9. Pengaturan Pembungaan Manipulasi pembungaan dilakukan untuk memperpanjang musim panen. Teknik induksi pembungaan dapat dilakukan melalui 4 cara, yaitu: a. Pengeringan dan pengairan Sesaat setelah panen raya berakhir, dilakukan pemangkasan pemeliharaan dan pembuangan tunas-tunas muda. Setelah tunas vegetatif yang muncul sesudah pemangkasan berhenti tumbuh, tanaman/kebun dikeringkan dan dijaga agar tidak terkena air selama + 2 3 bulan atau tanaman tampak mulai layu. Pengeringan dilakukan dengan pembuatan saluran drainase dan penutupan daerah perakaran dengan mulsa plastik. Pada saat tanaman mulai layu, secepatnya dilakukan penyiraman dengan ditambah pupuk urea (1/4 dosis anjuran). Keadaan layu tersebut jangan sampai melampaui titik layu permanen, karena tanaman akan mengalami kematian. Agar pembentukan bunga segera terjadi, setelah tanaman mengalami perlakuan tersebut segera disemprot dengan KNO 3 (Kalium nitrat) dengan konsentrasi 30 gr/l dan bunga akan muncul 1 - 2 bulan kemudian. b. Pelilitan/penjeratan batang Penjeratan dilakukan dengan melingkarkan kawat ke batang setinggi 50 cm dari leher akar dan ditarik kencang/keras, dengan menggunakan tang sampai sed ikit agak menekan kulit batang. Kira-kira 1 2 bulan kemudian kawat dilepas. Setelah kawat dilepas, selanjutnya tanaman disemprot dengan KNO 3 (Kalium nitrat) dengan konsentrasi 30 gr/l dan bunga akan muncul 1 bulan kemudian. c. Penggelangan/pengeratan, Penggelangan/pengeratan batang sebaiknya dilakukan pada musim hujan. Pengeratan ini dilaksanakan dengan mengerat/mengerok kulit batang tanaman utama selebar + 2 cm, setinggi 50 cm dari leher akar. Bekas luka ditutup dengan selotipe (plester) warna hitam. Plester dilepas setelah dua bulan lalu disemprot KNO 3 (Kalium nitrat) dengan konsentrasi 30 gr/l dan bunga akan muncul 1 bulan kemudian. d. Pemberian ZPT. Aplikasi ZPT dilakukan pada tanaman jeruk yang berada pada kondisi tanah tidak kekurangan air. ZPT yang digunakan adalah paclobutrazol (merek dagangnya Cultar atau Goldstar). ZPT diberikan pada dosis anjuran 4 7 cc/liter air. Waktu pemberiannya 2 3 bulan sebelum saat musim bunga dan disiramkan di sekitar akar di sekitar pangkal batang. Semakin besar ukuran tanaman, larutan yang diberikan semakin banyak. Dua bulan setelah itu disemprot KNO3 (Kalium nitrat) dengan konsentrasi 30 gr/l dan bunga akan muncul 1 bulan kemudian.

10. Penjarangan Buah Penjarangan buah dilakukan untuk mengatur jumla h dan ukuran buah serta mengatur masa berbuah. Jumlah buah ideal 3-4 buah/tangkai untuk keprok dan 6-8 buah/tangkai untuk siem. Penjarangan buah dilakukan saat buah berukuran sebesar kelereng. Buah yang diutamakan untuk dibuang adalah buah-buah yang menghadap ke atas dan yang memiliki diameter tangkai buah terlalu besar, karena buah-buah ini cenderung memiliki kandungan asam lebih tinggi dan gula yang lebih rendah, pertumbuhannya relatif lebih lambat, dan penampakannya kurang baik.

11. Pemanenan

E.

Panen dan Pasca Panen Jeruk merupakan salah satu jenis buah yang ketersediaanya hampir ada sepanjang tahun. Bulan puncak panen jeruk di lokasi sentra produksi jeruk ada yang sama (berhimpit), namun ada juga yang berbeda. Perbedaan bulan puncak panen di masingmasing sentra produksi provinsi tidak hanya pada bulannya, tetapi juga lama bulan puncak panen. Kondisi klimatologi dan perlakuan budidaya merupakan faktor yang turut mempengaruhi perbedaan bulan puncak panen di masing- masing lokasi sentra. Tabel berikut menginformasikan bulan puncak panen di Provinsi sentra jeruk di Indonesia pada tahun 2003. Tabel . Puncak Bulan Panen Jeruk di Provinsi Sentra Tahun 2003

No Provinsi Bulan Puncak Panen 1 Sumut Jan/Apr/Sept/Des 2 Jatim Jan/Apr/Sept/Des 3 Lampung Jan/Apr/Sept/Des 4 Kalsel Mar/Apr/Jun 5 Bali Jul/Sept/Okt 6 Sulsel Apr/Jun/Jul 7 Riau Mar/Jul/Okt 8 Sumsel Apr/Jun/Okt Sumber: Pola Produksi Hortikultura (Tanaman Buah), Ditjen Horti, 2004

Teknologi Panen Teknologi panen jeruk menyangkut beberapa perlak uan panen mulai dari penentuan waktu panen, cara panen (petik) dan pengangkutan hasil panen dari kebun ke gudang/bangunan pengumpul. Stadia yang tepat untuk panen merupakan hal yang penting untuk mendapatkan buah jeruk berkualitas tinggi. Buah jeruk harus dipanen ketika perkembangan fisik buah telah mencapai maksimum serta komponen kimiawi penyusunannnya telah terbentuk dengan jumlah yang sudah stabil. Tingkat ketuaan yang tepat dapat ditentukan atas dasar : umur buah, penampakan buah (ukuran, bentuk, warna kulit, duri dan sisik), warna biji, daging buah, tekstur, aroma dan rasanya kandungan kimiawi. Krite ria Panen - Buah harus dipanen dalam keadaan masak optimum (matang 80%), karena setelah dipetik rasa buah tidak akan berubah atau meningkat. - Ciri buah jeruk siem siap panen ditandai dengan warna buah hijau terang, dan terdapat semburat kuning paling tidak 1/3 bagian buah, dan tekstur agak lunak. - Ciri buah jeruk keprok siap panen, ditandai oleh warna buah yang kuning merata agak orange, tekstur buah agak lunak. - Kandungan juice minimal 33 40%. Cara Panen Untuk memperoleh buah jeruk dengan mutu baik perlu diperhatikan cara pemanenan berikut : Buah yang telah memenuhi kriteria panen, dipetik dengan menggunakan gunting panen/pisau tangkai buah disertakan 3-5 cm Setelah buah dipegang, seluruh tangkai buah dipotong habis, karena tangkai buah dapat melukai buah lain. Pemotongan harus hati- hati agar buah dan cabang tidak rusak, karena kerusakan tersebut dapat mengakibatkan pembungaan dan pertunasan berikutnya akan terganggu Buah harus diletakkan dengan hati- hati, jangan dijatuhkan Sistem Pilih Buah Buah jeruk akan mengalami kematangan yang tidak sama. Untuk mendapatkan buah yang seragam harus dipilih buah-buah yang sudah memenuhi kriteria panen saja.

Peralatan Panen - Gunting panen yang tajam dan bersih - Kantung wadah tempat buah yang baru dipetik, terbuat dari kain tebal. Tempat Buah Buah hasil panen diletakkan dalam kontainer plastik atau bambu dengan kapasitas 20-30 kg Diletakkan ditempat yang teduh Hindarkan agar buah dalam wadah tidak berlebihan sehingga buah tidak rusak dan memar.

Teknologi Pasca Panen Penanganan pasca panen merupakan sentuhan akhir dari buah jeruk yang dihasilkan agar buah memiliki nilai tambah dan daya tarik di dalam pemasaran. Kegiatan pasca panen pada jeruk meliputi : 1. Sortasi Awal dan Pencucian Sortasi awal dilakukan untuk memisahkan antara buah yang baik dan cacat, memotong tangkai buah yang terlalu panjang, serta membersihkan kotorankotoran yang melekat pada buah. Buah yang dicuci harus segera dikeringkan dengan menggunakan kain lap atau hembusan udara. Air yang digunakan untuk pencucian harus memenuhi standar baku dan bebas cemaran. 2. Penggunaan desinfektan Buah yang telah dicuci dan dikeringkan. Kalau perlu setelah penc ucian diikuti dengan perlakuan pencelupan dalam larutan desinfektan, seperti Biphenyl (Diphenyl) Sodium Orthophenol (SOPP), Thiabendazole (TBZ), Benomyl, Butylamin dan Imazalil. 3. Degreening (Optional) Degreening dilakukan untuk memberi warna yang seragam dan menarik pada kulit jeruk. Perlakuan degreening merubah warna kulit jeruk dari hijau menjadi kuning dan jingga. Degreening dilakukan dengan menggunakan Etilen pada konsentrasi 500 ppm, penyimpanan suhu kamar, RH 90-95% selama 42 -72 jam. Cara aplikasinya dengan penyemprotan gas etilen pada ruangan tempat buah yang disimpan. 4. Grading Grading adalah memilah- milahkan buah yang telah disortir dan dikelompokkan berdasarkan diameter buah (ukuran), bentuk dan keseragaman warna. Grading dapat dilakukan secara manual ataupun dengan alat sederhana maupun mesin.

5. Pengemasan Digunakan kotak kardus berukuran 10 kg berpenyekat dan berlubang Buah dibungkus dengan tissue atau kertas Setiap kotak diisi dengan buah dari grade yang sama Untuk mencegah serangan penyakit/pembusukan, dalam kemasan biasanya diberi potongan kertas yang sudah di- impregnasi dengan dyphenil. Bisa juga digunakan gas ethylen dibromida untuk mematikan larva lalat buah. Buah yang sudah dikemas difumigasi dengan ethylene d ibromida sebanyak 8 mg selama 2 jam Informasi seperti jumlah buah, berat buah, kualitas, tanda merk dagang tanggal panen, saat konsumsi terbaik dan lain- lain harus dituliskan pada kotak untuk memudahkan pembeli memilih buah yang sesuai.

F.

Pemasaran dan Distribusi Masalah utama yang dihadapi dalam pengembangan agribisnis komoditas jeruk pada beberapa sentra produksi adalah pemasaran. Banyak kasus di lapangan yang memperlihatkan bahwa tingginya minat masyarakat untuk mengembangan jeruk, tetapi tidak diimbangi dengan pasar dan informasi pasar yang memadai justru menimbulkan dampak yang tidak dikehendaki seperti harga jeruk di tingkat petani jatuh; perhatian petani terhadap mutu buah dan usaha peningkatan produksi menjadi rendah. Kasus seperti ini dapat dijumpai seperti di Luwu Utara (Sulsel), Mamuju Barat (Sulbar).Untuk itu usaha identifikasi kebutuhan pasar, mata rantai pemasaran, pendugaan biaya produksi dan strategi penentuan harga pemasaran secara tepat diketahui oleh para pelaku agribisnis jeruk. Pemahaman akan mekanisme pasar akan sangat membantu dalam menyusun strategi pemasaran dan alur distribusi jeruk di pasar baik pasar domestik maupun ekspor. Dan diakui bahwa hamper semua produk pertanian termasuk komoditas jeruk kurang akses terhadap pasar khususnya pasar ekspor. Kurangnya pengetahuan sistem dan cara-cara transaksi pasar antar pulau maupun ekspor menyebabkan terjadinya hambatan perluasan rantai penjualan jeruk di dalam negeri. Petani jeruk (produsen) umumnya segera menjual produknya ke pasar segera setelah matang panen. Petani ataupun pengusaha tersebut menghendaki hasil panen jeruknya dapat dibeli dengan harga yang layak dan dibayar secara kontan. Namun demikian, fenomena seperti itu sangat jarang dijumpai di sentra-sentra produksi jeruk di Indonesia. Justru sistem pemasaran dengan pola Ijon atau Tebasan lebih popular di mata petani jeruk. Keadaan ini memang sangat tidak kondusif untuk membangun

sistem agribisnis jeruk yang menguntungkan dan berkesinambungan. Oleh karena itu, keberadaan lembaga pemasaran alternative yang mau membeli dan memberikan jaminan pasar sebagaimana yang diharapkan para petani atau pengusaha jeruk merupakan upaya yang dapat ditempuh untuk memperbaiki kondisi tata niaga jeruk yang lebih baik di sentra-sentra produksi. Rantai tata niaga yang telibat dalam jalur distribusi jeruk di Indonesia sangat bervariasi di masing- masing sentra produksi. Namun demikian, secara umum p ihak-pihak yang terlibat dalam pemasaran jeruk mencakup petani (produsen); pedagang

pengumpul/penebas/perantara; agen (penumpul) lokal; agen penampung di daerah lain; pengecer dan konsumen. Saluran tata niaga yang banyajk dipraktekkan dalam dalam sistem pemasaran dan distribusi jeruk saat ini adalah: 1. Produsen pengecer konsumen 2. Produsen pengumpul pengecer konsumen 3. Produsen pengumpul agen lokal pengecer konsumen 4. Produsen pengumpul agen lokal agen daerah lain pengecer konsumen 5. Produsen agen lokal pengecer konsumen Efisien dan efektivitas rantai tataniaga jeruk akan sangat tergantung pada banyak tidaknya pihak yang terlibat dalam jalur pemasaran yang terkait dengan prinsip pembagian keuntungan; tingkat pengetahuan informasi pasar dan kemampuan pembiayaan petani di sentra produksi serta ketersediaan sarana prasarana transportasi (seperti jalan, pergudangan, cargo, dan lain sebagainya). Faktor- faktor diatas berdampak terhadap margin keuntungan yang diterima petani. Secara umum, petani jeruk hanya menerima harga sekitar 22 29 % dari harga yang dibayarkan konsumen. Harga jeruk di pasaran masih berfluktuasi sesuai besarnya penawaran. Saat panen raya yaitu pada bulan Maret sampai dengan Agustus harga jeruk turun dan naik kembali pada bulan September-Oktober sampai Februari. Pasar-pasar di pulau jawa masih merupakan target utama pemasaran jeruk yang diproduksi dari sentra-sentra produksi jeruk di Indonesia baik yang ada di pulau jawa sendiri maupun di luar jawa. Beberapa sentra produksi di luar jawa juga tetap mempertimbangkan pangsa pasar lokal, pasar antar pulau lainnya dan pasar luar negeri khususnya negera tetangga sebagai target pasarnya.

Hingga saat ini belum ada hasil penelitian maupun data yang secara resmi mempublikasikan jumlah permintaan riil pasar jeruk di Indonesia baik untuk pasarpasar tradisional, pasar induk, pasar modern maupun industri pengolahan. Namun demikian, sebagai gambaran berikut sekilas dipaparkan distribusi jeruk yang terjadi di Pasar Induk Kramatjati di Jakarta. Pasar Induk Kramatjati merupakan salah satu pasar yang banyak menerima pasokan jeruk baik dari dalam negeri maupun impor. Tidak Kurang dari 400 ton jeruk dari berbagai sentra produksi jeruk di Indonesia yang masuk ke pasar induk setiap harinya. dari jumlah tersebut, 5% merupakan jeruk impor dengan berbagai jenis. Dari pasar induk, jeruk-jeruk tersebut selanjutnya didistribusikan ke segmen pasar berikutnya melalui grosir, tengkulak maupun retailer. masing- masing segmen pada rantai perdagangan jeruk di pasar induk mendapat keuntungan sebesar 7 8% dari hasil penjualan. Siklus jeruk di pasar induk relatif cepat yaitu hanya berkisar 1-2 hari dan paling lambat 5 hari. Jeruk domestik yang masuk ke pasar induk Kramat jati antara lain jeruk Siam Medan, Siam Pontianak, Siam Palembang, Siam-sia m lain, jeruk Pamelo, jeruk Peras, jeruk Nipis, Lemon dan Limau. Jeruk-jeruk tersebut berasal dari sentra produksi di S umut, Sumsel, Sumbar, Lampung, Kalbar, Jabar, Jateng, Jatim dan Bali. Pasokan jeruk siam, nipis, limau dan peras ke pasar induk hampir ada setiap saat. Sedang untuk jeruk Pamelo, pasokan terjadi sejak bulan April dan berakhir pada bulan Juli. Jeruk Lemon mulai tampak pada awal bulan Juni. Jenis jeruk impor yang banyak mengisi pasar di dalam negeri adalah jeruk Lokham, PH, Sunkist, Chokun dan Santang. Volume jeruk Lokham mulai tinggi diawal bulan Mei dan berkurang sejak bulan Juli. Sedang jeruk PH dari Australia, mulai mengisi pasar sejak akhir bulan Juni. Jeruk Sunkist impor mengisi pasar domestik pada bulan Mei sampai Juli, sedangkan jeruk Chokun dan Santang mulai menurun pada akhir bulan Juni. Jeruk impor tersebut banyak berasal dari China, Pakistan, Australia dan Taiwan. Saat ini, jeruk Thailand juga mulai ditemukan di pasar Indonesia. Dalam neraca perdagangan internasional, jeruk merupakan komoditas buah impor yang patut mendapat perhatian mengingat angka impor jeruk ke Indonesia dalam lima tahun terakhir ini meningkat cukup tajam (baik dalam bentuk segar maupun hasil olahannya)

yaitu sebesar 36.775 ton pada tahun 1999 dan mencapai 59.358 ton pada tahun 2003. Volume impor jeruk segar menduduki posisi ke-2 setelah apel. Namun demikian, Jeruk Indonesia juga telah mampu menembus pasar luar negeri (ekspor) meskipun dalam volume yang relatif kecil. Volume ekspor jeruk Indonesia lebih banyak berupa produk jeruk segar. Pada tahun 2003, volume ekspor jeruk Indonesia mencapai 1.146 ton. Gambaran detil perkembangan ekspor impor jeruk di Indonesia disajikan pada gambar 2.

Gambar 2.a: Ekspor Jeruk Indonesia Tahun 1997 sampai 2003


Sumber: Ditjen BP Hortikultura, 2004

Gambar 2.b: Impor Jeruk Indonesia Tahun 1997 sampai 2003

Besarnya angka impor jeruk ini sebenarnya cukup memprihatinkan, mengingat potensi produksi jeruk dalam negeri sangat besar. Untuk itu berbagai upaya telah dilaksanakan dalam rangka mengotimalkan potensi jeruk dalam negeri agar menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Modernisasi industri perjerukan nasional mulai dari on farm hingga off farm merupakan langkah strategis yang harus segera dilaksanakan oleh seluruh stakeholder jeruk Indonesia termasuk diantaranya terhadap mana jemen produksi, pemasaran dan pembinaan petani serta kelembagaannya.

G. Kelembagaan Usaha Petani dan lembaga tani merupakan motor dinamika sistem agribisnis. Kemajuan petani dan pengembangan kelembagaan tani akan menjadi titik strategis ( entry point ) dalam pengembangan usaha agribisnis jeruk. Untuk itu segala sumber daya yang ada perlu diarahkan/diprioritaskan dalam rangka peningkatan profesionalisme dan posisi tawar petani (kelompok tani).

Hingga saat ini potret petani dan lembaga petani jeruk di Indonesia diakui masih belum sebagaimana yang diharapkan. Berikut merupakan beberapa hal yang masih melekat pada sosok petani dan lembaga petani di Indonesia, yaitu: - Masih minimnya wawasan dan pengetahuan petani baik terhadap masalah manajemen produksi maupun jaringan pemasaran. - Belum terlibatnya secara utuh petani dalam kegiatan agribisnis jeruk. Saat ini aktivitas petani masih terfokus pada kegiatan produksi (on farm). - Peran dan fungsi lembaga tani sebagai wadah organisasi petani masih berlum berjalan secara optimal. Anstisipasi dari perdagangan global dipandang perlu untuk membangun suatu kawasan agribisnis terpadu yang dapat menjawab tantangan dunia perdagangan saat ini. Sebagai jawabannnya maka dibentik suatu Forum berbasis kawasan yang dapat menghimpun potensi yang ada di wilayah pengembangan tersebut. Salah satu forum kawasan yang dibentuk yaitu JABALSUKANUSA yang meliputi kawasan-kawasan sentra produksi jeruk di pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan dan Sulawesi. Forum ini melibatkan sejumlah provinsi diantaranya Provinsi Jateng, DIY, Jatim, Bali, NTB, NTT, Kalteng, Kalsel, Kaltim, Sulsel, Sulbar, Sultra, Sulteng, Gorontalo dan Sulut. Salah satu komoditas buah yang dijadikan fokus pengembangan yaitu komoditas jeruk. Dalam Untuk mensukseskan program Kawasan Agribisnis Hortikultura JABALSUKANUSA tersebut sangat diharapkan peran serta para petani produsen, beserta kelembagaannya, pengusaha swasta/eksportir, pemerintah pusat dan setempat lembaga Pemerintah di negara tujuan ekspor. Dengan menyatukan segenap potensi daerah yang ada secara bersama-sama akan mampu memasuki pasar internasional dan memperkuat pasar domestic serta melindungi petani terutama menghadapi AFTA. Selain itu, dalam upaya menciptakan sinergisme antara pemerintah, swasta dan stakeholder yang bergerak dalam bodang agribisnis jeruk, telah dibentuk MJI (Masyarakat Jeruk Indonesia) sejak tahun 2002. Melalui aktivitas dalam MJI ini, diharapkan strategi, kebijakan dan tahapan pengembangan perjerukan Indonesia dapat diformulasikan sekaligus diimplementasikan bagi kemajuan agribisnis jeruk di Indonesia.

H. Upaya Penge mbangan Kegiatan pengembangan komoditas jeruk diarahkan pada sejumlah wilayah sentra produksi utama diseluruh Indonesia dengan mengacu pada potensi daerah masingmasing. Sasaran pengembangan yang tersebar pada sejumlah wilayah sentra produksi utama yaitu Provinsi Sumatera Utara; Sumatera Selatan, Jambi, Lampung, Jawa Barat; Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Timur; Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat. Berikut sejumlah kegiatan yang telah dilaksanakan hingga tahun 2005: Pengembangan areal pada daerah sentra produksi (66 kabupaten/kota) Berikut disajikan rekapitulasi pengembangan jeruk yang telah dikembangkan melalui dana dekosentrasi: Lampiran . Lokasi Penge mbangan Jeruk Dengan Bantuan Dana Dekonsentrasi
Provinsi 2002 1 NAD Sumut - Biruen - Matal 2 - Biruen - Aceh Tengah - Tapanuli Utara - Karo - Dairi - Matal - Nias - Pasaman - Agam - Padang Pariaman - Kep. Mantawai - Pesisir selatan - Karimun - Indragiri Hulu - Batanghari - Kota jambi - Tanjung Jabung Timur - Tebo - Muara Enim - Musi Rawas - Bengkulu Selatan - Tulang Bawang - Lampung Utara - Garut - Cilacap - Purbalingga - Sragen Kabupaten Lokasi Dekon (Tahun) 2003 3 - Biruen - Tapanuli Utara - Karo - Dairi - Matal - Nias - Langkat - Pasaman - Agam - Padang Pariaman - Kep. Mantawai - Pesisir selatan - Indragiri Hilir - Indragiri Hulu - Batanghari - Kota jambi - Tanjung Jabung Timur - Tebo - Muara Enim - Musi Rawas - OKI Bengkulu Lampung Jabar Jateng - Bengkulu Selatan - Tulang Bawang - Lampung Timur - Garut - Cilacap - Bengkulu Selatan - Tulang Bawang - Lampung Utara - Garut - Cilacap - Purbalingga - Sragen 2004 4 - Biruen - Tapanuli Utara - Karo - Nias - Langkat - Dairi - Matal - Agam - Kep. Mentawai - Pesisir Selatan - Padang pariaman - Pasaman Barat - Pasaman - Indragiri Hilir - Indragiri Hulu - Kota Jambi - Tebo - Tanjab Timur - Batanghari - Musi Rawas - OKU - Muara Enim - Bengkulu Selatan - Tulang Bawang - Lampung Utara - Garut - Kab. Semarang - Kab. Cilacap - Kab. Sragen 2005 5

Sumbar

- Pasaman

Riau Jambi

- Karimun - Indragiri Hulu - Kota Jambi

Sumsel

- Muara Enim

- Semarang Jatim - Ponorogo - Ponorogo - Magetan - Bangli - Karang Asem Kalbar Kalsel - Sambas - Barito Kuala - Banjar - Tapin - Sambas - Barito Kuala - Banjar - Tapin - Kota Banjar Baru - Hulu Sungai Tengah - Kutai Barat - Donggala - Parigi Moutong - Bulukumba - Selayar - Bantaeng - Pangkep - Sambas - Barito Kuala - Banjar - Tapin - Kota Banjar Baru - Hulu Sungai Tengah - Kutai Timur - Sukamaran - Donggala - Parigi Moutong - Morowali Sulsel - Bulukumba - Selayar - Bantaeng - Bulukumba - Mamuju - Bantaeng - Pangkep - Ponorogo - Magetan - Jember - Kulon Progo

- Kab. Purbalingga - Ponorogo - Magetan - Jember

DIY Bali

- Sambas - Barito Kuala - Tapin - Hulu Sungai Tengah - Kota Banjar Baru - Banjar - Kutai Timur - Sukamaran - Donggala - Morowali - Parigi Moutong - Bulukumba - Luwu Utara - Pangkep - Lingga - Mamuju Utara - Mamuju

Kaltim Kalteng Sulteng

- Donggala

Sulbar Sultra Maluku - Muna - Muna - Buton - Maluku Tengah - Maluku Tenggara Barat - TTS - TTU - Kupang - TTS - TTU - Kupang - Ende - Muna - Konawe Selatan - Maluku Tengah

- Muna - Konawe Selatan - Maluku Tengah

NTT

- TTS - TTU - Kupang - Ende - Nabire - Jayapura - Kerom - Halmahera Tengah - Halmahera Timur - Halmahera Barat - Kota Ternate - Pohuwato 63

- TTS - TTU - Kupang - Ende - Nabire - Jayapura - Kerom - Halmahera Tengah - Halmahera Timur - Halmahera Barat - Kota Ternate - Pohowato 66

Papua

Maluku Utara

- Kota Ternate

Gorontalo Jumlah

25

- Boalemo 54

Apresiasi penerapan SPO Jeruk yang berbasis GAP pada daerah sentra utama . Pemantapan dan pengembangan kemitraan dengan industri pengolah hasil.

Kegiatan yang akan dilakukan Didalam rangka pencapaian upaya pengembangan agribisnis jeruk di Indonesia, beberapa kegiatan yang akan dilakuan antara lain: 1. Sosialisasi dan Penerapan GAP/ Panduan Budidaya Buah yang Benar (PB3) dan SPO (Standar Prosedur Operasional) Jeruk Panduan Budidaya Buah yang Benar (GAP) bersifat umum, belum spesifik komoditi dan bersifat dinamis. Penerapan GAP buah (PB3) perlu dijabarkan dalam petunjuk teknis baku yang singkat, jelas dan praktis dari setiap tahapan kegiatan dan bersifat spesifik lokasi sehingga dapat diterapkan oleh pelaku di tingkat lapang. Petunjuk ini berupa Standar Prosedur Operasional (SPO) Jeruk. Dengan difasilitasi Direktorat Tanaman Buah, pada tahun 2004 telah disusun SPO Jeruk Siam Madu di Kabupaten Karo dan Dataran Tinggi Bukit Barisan. SPO ini diharapkan bisa menjadi acuan/contoh bagi daerah sentra jeruk lain yang akan menerapkan GAP. Saat ini beberapa lokasi sentra produksi jeruk di Indonesia telah merancang SPO jeruk spesifik lokasi seperti SPO Jeruk Siam Banjar Kabupaten Barito Kuala; SPO Jeruk Siam Madang Kabupaten Banjar Provinsi Kalsel; SPO Jeruk Siam Kabupaten Jember; SPO Jeruk Manis Kabupaten Malang; SPO Jeruk Pamelo Kabupaten Magetan Provinsi Jawa Timur; SPO Jeruk Siam Kabupaten Luwu dan SPO Jeruk Pamelo Kabupaten Pangkep Provinsi Sulawesi Selatan. 2. Pengembangan Kebun Jeruk Percontohan Kebun jeruk percontohan merupakan inti penerapan GAP/SPO serta dapat digunakan sebagai uji coba teknologi untuk menyusun SPO jeruk spesifik lokasi, sarana penyuluhan, diskusi, pelatihan dan magang. Kebun jeruk percontohan ini juga dapat memberikan inspirasi dan kesadaran petani akan pentingnya kebun yang dikelola dengan baik, membangkitkan jiwa profesionalisme, mendorong pengembangan agribisnis buah bermutu. Kebun jeruk percontohan perlu difasilitasi dan dibina oleh Dinas Pertanian Provinsi/Kabupaten, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP), Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH), Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB), Balai Penelitian Tanaman Buah (Balitbu), Loka Penelitian Tanaman Jeruk (Lolit Jeruk Tlekung), Bappeda Provinsi/Kabupaten dan berbagai instansi teknis terkait lainnya. 3. Pengembangan Sistem Mutu Buah-buahan. Kebun buah yang telah melakukan perbaikan manajemen produksi melalui penerapan GAP/SPO perlu mendapatkan legalitas/jaminan mutu sehingga diperlukan tersedianya aturan dan perangkat sistem jaminan mutu. Berkaitan dengan tersebut pengembangan sistem mutu buah-buahan perlu dilakukan melalui integrasi sistem mutu, penguatan lembaga sertifikasi, sosialisasi sistem mutu, harmonisasi sistem mutu dan pengoptimalan peran Lembaga Serifikasi Sistem Mutu (LSSM) hortikultura. a. Integrasi Sistem Mutu Departemen Pertanian sudah mencanangkan sistem sertifikasi pertanian Indonesia (SI SAKTI) yang merupakan sistem baru dalam penetapan standar mutu produk pertanian. Dalam rangka pelaksanaan SI SAKTI di beberapa provinsi (19 Provinsi) telah memiliki otoritas kompeten yang akan melaksanakan sertifikasi. Direktorat Jenderal Hortikultura juga telah mempersiapkan lembaga sertifikasi ialah Lembaga

Sertifikasi dan Sistem Mutu (LSSM). Indonesia juga sudah memiliki SNI (Standar Nasional Indonesia) termasuk SNI untuk jeruk Keprok tahun 1992. Namun demikian SNI jeruk Keprok ini belum dapat dioperasionalkan karena belum mengacu kepada CODEX. Sehingga pada tahun ini Direktorat Tanaman Buah Ditjen Hortikultura akan memperbaiki SNI untuk Jeruk Keprok dan menyusun SNI untuk Jeruk Siam. Komponen-komponen sistem mutu tersebut, perlu diintegrasikan agar dapat operasional di lapang. b. Penguatan Lembaga Sertifikasi Sistem Mutu Lembaga yang diberi wewenang untuk memberikan sertifikasi kebun yang menerapkan GAP perlu didayagunakan. Di dalam lembaga tersebut harus dilengkapi dengan tenaga yang profesional di bidang mutu dan tenaga/petugas baik dipusat (LSSM) maupun otoritas kompeten di daerah akan dilatih agar lembaga- lembaga tersebut dapat segera melakukan sertifikasi yang selanjutnya lembaga tadi terdaftar dan terakreditasi. c. Sosialisasi Sistem Mutu Sosialisasi pengembangan sistem mutu buah perlu dilakukan baik yang menyangkut kebijakan mutu, mekanisme dan lembaga yang mengatur sistem mutu kepada stakeholder agribisnis jeruk yang terkait. d. Harmonisasi Sistem Mutu Upaya lain yang kini sedang dilakukan oleh Departemen Pertanian dalam rangka pencapaian sistem mutu yaitu melalui harmonisasi sistem standar mutu buah di tingkat ASEAN. Hal ini dilakukan agar proses manajemen produksi dan produk jeruk Indonesia dapat diterima dan diterapkan oleh seluruh negara anggota ASEAN. I. Masalah dan Hambatan Permasalahan utama yang dihadapi dalam pengembangan jeruk adalah mutu buah jeruk yang dihasilkan oleh petani masih rendah. Hampir diseluruh sentra produksi jeruk, penerapan teknologi maju produksi jeruk juga belum optimal. Pada tabel berikut disajikan beberapa permasalahan mutu buah jeruk. Tabel ... Permasalahan Produksi dan Mutu Buah Jeruk
No 1 Permasalahan Bekas benturan pada permu kaan ku lit buah Penyebab Pencegahan/ Pengendalian Hindari menuang buah dari tempat yang terlalu t inggi Sebaiknya dasar keran jang diberi alas dan setiap tumpukan jeruk d iberi alas

Setelah dipetik buah dilempar langsung ke keran jang yang dilakukan untuk menghemat waktu dan tenaga. Penuangan buah jeruk dari keranjang pemetik ke lantai/bo x sortasi dari jarak yang terlalu tinggi. Sementara itu lantai tidak dialasi terlebih dahulu. Pada saat pengangkutan buah mengalami goncangan dan berbenturan satu sama lain s erta berbenturan dengan keranjang/ pengemasnya.

Cara penurunan keranjang dari truk/kendaraan pengangkut yang tidak hati-hati. Benturan tingkat lan jut yang lebih keras, misal buah dilempar/jatuh dari jarak yang cukup terlalu tinggi. Kemasan tanpa penyekat yang cukup untuk menahan satu sama lain saat terjadi goncangan dalam transportasi. Keranjang terlalu penuh, sehingga tumpukan antara keranjang menekan buah. Keranjang penuh buah diduduki/diin jak sehingga buah didalamnya tertekan. Keranjang dijatuhkan karena terlalu berat. Buah terlalu lama berada di bawah sinar matahari langsung selama d i kebun buah atau dalam truk. Suhu udara di tempat/gudang penyimpanan terlalu panas menyebabkan penguapan air berlebihan. Suhu terlalu t inggi dan RH terlalu rendah pada saat pengangkutan dari sentra/ produsen ke pasar Induk (seperti Kramatjati, Jakarta) yang memakan waktu cukup lama.

Memar buah

Hindari menuang buah dari


tempat yang terlalu t inggi dari lantai sortasi. Sebaiknya dasar keran jang atau kemasan dan setiap tumpukan diberi alas Tidak menduduki atau mengin jak keranjang jeruk. Pengunaan keranjang atau kemasan berukuran yang lebih kecil, misal @ 20 kg dilengkapi dengan penyekat/styrofoam


3 Keriput permu kaan kulit buah

Hindarkan buah dari sinar


matahari langsung Kondisikan ruang penyimpanan dengan suhu dan RH yang tepat (seharusnya suhu 14 o C dan RH 85%). Pemupukan dengan unsur K harus tepat

Ketidakseragaman ukuran

Belu m dilakukan penjarangan buah


di pohon sehingga terjadi persaingan unsur hara dalam ju mlah yang cukup. Grading tidak konsisten karena pedoman grading hanya berdasarkan perkiraan yang dilihat secara visual saja (cara bisa berbeda). Belu m diterap kannya grading yang sesuai standar prosedur operasional (SPO) atau yang telah ditetapkan oleh Departemen Pertanian.

Pemetikan buah
menggunakan panen pilih pada tingkat kematangan yang seragam dengan memperhatikan u mur buah secara tertib. Grading yang konsisten dengan memperhatikan SPO yang diterapkan oleh semua pedagang.

Ketidakseragaman bentuk

Buah terlalu banyak dalam satu


tangkai sehingga berdempetan dan tidak semua buah dapat berkembang dan mencapai bentuk yang optimal. Ketidakseragaman varietas jeru k yang ditanam petani dalam satu kebun. Ketidakjelasan sumber benih yang digunakan. Sengatan tungau dan serangan hama lain.

Pemilihan benih sumber yang


seragam dan varietas yang jelas. Penjarangan/pengurangan buah dalam satu tangkai. Pemupukan lebih tepat.

Kulit buah berwarna hijau

Secara agroklimat untuk mempero leh


warna jingga diperlukan thermo period min imal 6 o C yang tidak terdapat secara luas di Indonesia

Pemilihan lokasi yang tepat. Penggunaan Ethrel atau suhu


dingin

Ketidakseragaman warna

Pemanenan yang tidak


memperhitungkan tingkat kematangan buah dan umur buah sejak terbentuknya bunga sehingga tidak seluruh buah mencapai warna kuning yang optimu m. Pemupukan yang kurang baik terutama kebutuhan unsur mikro. Ketidakseragaman varietas jeru k yang ditanam petani dalam satu kebun. Pemangkasan pohon yang kurang baik.

Pemetikan buah pada tingkat Pemupukan yang lebih tepat. Pemilihan bibit dengan Pemangkasan yang baik
sehingga seluruh buah terkena sinar matahari. varietas yang jelas. kematangan yang seragam.


8 Rasa segar buah kurang (saat dikonsumsi)

Buah yang tidak disimpan dalam


ruangan dengan suhu dan RH yang sesuai sehingga memudahkan berkurangnya kadar air buah dan tingkat kesegaran. Buah disimpan di gudang dalam suhu rendah dalam waktu yang terlalu lama. Buah dipanen pada tingkat kematangan yang tidak tepat sehingga perimbangan PTT (Padatan Terlarut Total) dan AT (Asam Tertitrasi) belu m memberikan rasa man is segar.

Buah disimpan dalam


ruangan dengan suhu dan RH yang sesuai sehingga tingkat kesegaran buah dapat dipertahankan. Pemanenan buah pada tingkat kematangan yang seragam.

Kemanisan atau keasaman yang beragam.

Waktu pemanenan yang terlalu awal


sehingga belum optimu m tingkat kematangannya yang berimp likasi pada akualitas rasa. Petani menjual dengan sistem tebasan sehingga tidak dilakukan petik pilih pada jeru k yang dipanen. Pemupukan yang kurang baik terutama kebutuhan unsur mikro (Magnesium) yang mempengaruhi rasa daging buah harus mendapat perhatian.

Buah dipanen pada tingkat


kematangan yang tepat. Perlu pengubahan sistem pemanenan dengan menggunakan alat hand refraktometer untuk mengukur o Brix yang tepat. Pemupukan yang teratur memperhatikan kebutuhan nutrisi tanaman.

10. Terbakar Matahari/ Sunburn Permukaan buah tidak mu lus banyak bercak kecoklatan bekas terbakar

Setelah panen buah berada di bawah


kondisi panas dan matahari langsung. Transportasi menempuh jarak cukup jauh yang memungkinkan buah berada di bawah kondisi matahari terik dalam waktu lama.

Panen dilakukan pagi hari,


setelah dipanen buah sebaiknya langsung dibawah ke tempat teduh. Transportasi perlu memperhatikan waktu sampai lokasi penjualan (berhubungan dengan

11.

Pecah buah/Skin Splitting Buah terbelah pada bagian kulitnya secara longitudinal sehingga daging buah terlihat dari luar. Embun Jelaga (Capnodium citrii)

Stress air atau tingkat kelembaban


tanah yang berfluktuasi. Penyiraman atau turun hujan secara tiba-tiba pada saat siang hari/ matahari terik.

keseimbangan pemberian air dan transpirasi tanaman) Ketersediaan air harus terjaga. Penyemprotan CaCl2 pada buah.

12.

Permukaan kulit buah tampak kotor


karena lapisan berwarna hitam dan mengotori tangan apabila dipegang. Pada jeru k siem, embun jelaga in i lebih banyak dibanding pada jeruk keprok.

Pengendalian: 1. Mengontrol kutu daun dan kutu putih pada pertanaman 2. Membersihkan buah pada kegiatan pasca panen supaya penampilan buah lebih baik.

Pencegahan: 1. sanitasi terhadap daun dan tunas terinfeksi yang tidak produktif 2. Penghembusan tepung belerang 20-30 kg/ha; penyemprotan dengan kapur 13. Antraknosa (Colletotrichum gloeosporioides)

Buah berpenampilan t idak menarik


karena permu kaan keras dan kering dan tahap berikutnya buah menjadi lunak atau busuk, bercak-bercak coklat yang lunak sehingga buah tidak menarik.

Hindari pemanenan buah saat Penanganan secara hati-hati


saat pra panen dan pasca panen Pada saat pertengahan men jelang panen hindari pemupukan nitrogen yang berlebihan serta pertahankan kelembaban tanah. belum matang

14. Busuk Pangkal Buah/ Centre Rot Disease (Alternaria alternata) 15. Bercak Hi tam/Black Spot Disease (Guignardia citricarp)

Kelunakan/bercak co klat kehitaman


pada bagian pangkal jeruk (bekas tangkai buah) dan menurunkan daya simpan.

Hindari pemanenan buah saat


belum matang. Penanganan secara hati-hati saat pra panen dan pasca panen

Pada buah terdapat spot bundar


warna hitam dengan diameter 3 mm sehingga memberi kesan tidak higienis

Pengendalian: Aplikasi pestisida hanya efektif pada periode 20 minggu sejak jatuhnya mahkota bunga. Pencegahan: Penggunaan fungisida minimal 16-20 minggu setelah gugurnya mah kota bunga diikuti dengan fungisida eradikasi pada aplikasi kedua.

16 Kudis/Scab Disease (Elsinoe fawcetii)

Buah tampak t idak sehat karena pada


permu kaan terdapat cacat seperti kudis walaupun tidak sampai merusak bagian dalam buah.

Pengendalian: Aplikasi pestisida secara tepat Pencegahan:

Penggunaan fungisida secara spesifik tidak ada, untuk pencegahan dapat diaplikasikan fungisida yang sama dengan penyakit Black Spot dan melanose 17 Tri ps (Scirtothrips albomaculatus)

Kulit tidak mu lus karena terdapat


goresan kering disekitar pangkal buah/bagian lainnya yang terasa kasar apabila d ipegang.

Pengendalian: 1. Memonitor perkembangan populasi trips, terutama pada daun/tunas yang baru muncul karena trips menyukai bagian tersebut. 2. Pada bunga jeruk yang baru muncul, trips menyukai bagian mah kota dan caly x. 3. Apabila 5% buah terserang maka d ilakukan penyemprotan dengan akarisida.

Su mber:Ditjen BPH dan PKBT (2002)

Selain itu, beberapa permasalahan lain yang perlu diperhatikan dalam pengembangan komoditas jeruk yaitu: 1. Penyediaan benih bermutu masih sangat terbatas dan belum dapat memenuhi kebutuhan pada seluruh daerah sentra. 2. Teknologi budidaya yang benar belum diterapkan oleh petani secara optimal dan pada beberapa sentra produksi jeruk ditemukan adanya penggunaan pestisida yang tinggi sehingga dikawatirkan dapat meningkat. menyebabkan pencemaran lingkungan

3. Kelembagaan petani jeruk seperti asosiasi petani belum berfungsi dan lembaga permodalan yang dapat membantu petani belum berperan secara maksimal.

Sementara itu, sejumlah hambatan yang umumnya disebabkan oleh faktor diluar teknologi budidaya dan kemampuan SDM seperti : 1. Penyediaan sarana dan prasarana masih terbatas terutama dalam hal fasilitas irigasi (terutama pada musim kemarau), dan permodalan, Harga jual jeruk sering berfluktuasi terutama pada saat panen raya dan masih dikuasi oleh tengkulak. 3. Skala usaha masih relatif kecil sebagai akibat dari sempitnya lahan garapan yang dimiliki petani dan keterbatasan modal mengakibatkan usaha tani yang dikelola kurang efisien. 4. Mahalnya biaya transportasi dari sentra produksi ke sentra pemasaran

2.

J. Indikator dan Keberhasilan Pengembangan komoditas jeruk diarahkan untuk ketersediaan produksi sepanjang waktu dengan standar mutu sesuai permintaan konsumen dan pasar baik dalam negeri maupun luar negeri. Indikator dari program pengembangan jeruk adalah sebagai berikut : Peningkatan ketersediaan jeruk Penumbuhan sentra produksi yang sudah berkembang di 66 Kabupaten daerah sentra produksi Pemantapan sentra produksi pada areal yang telah mencapai luasan diatas ............ Ha (eriza) Peningkatan konsumsi perkapita saat ini mencapai 2,9 Kg/tahun Penyerapan tenaga kerja diperkirakan mencapai 160 ribu orang pada tahun 2005

Keberhasilan pengembangan jeruk dalam memenuhi permintaan konsumen dan meningkatkan pendapatan petani merupakan suatu hal yang sangat diharapkan. Tahapan keberhasilan dari program pengembangan jeruk adalah sebagai berikut : Penerapan teknologi budidaya anjuran Peningkatan kemampuan SDM pertanian di bidang teknologi dan manajerial Penguatan kelembagaan petani dan kelembagaan usaha Pengembangan dan pemantapan kemitraan pemasaran dengan pasar tertentu serta ikatan kerjasama dengan industri olahan Peningkatan kesadaran masyarakat untuk lebih mengkonsumsi jeruk dalam negeri

Analisa Usaha Tani Je ruk Siem (1 Ha) Di Kabupaten Tulang Bawang, Lampung (Status Minim Input) d
A. INPUT

TAHUN I No Uraian I Sarana Produksi 1 Benih 2 Pupuk Kandang 3 Pupuk Buatan 4 Pestisida - Insektisida - Fungisida - Herbisida

Satuan Btg kg kg lt kg lt

Jml Sat 500 25,000 150 2 2 1 x x x x x x

Harga Satuan Rp. Rp. Rp. Rp. Rp. Rp. 3,000 220 3,000 80,000 50,000 90,000 Jumlah I = = = = = = =

Jumlah 1,500, 000 5,500, 000 450,000 160,000 100,000 90,000 7,800, 000

II 1 2 3 4 5

Peralatan Produksi Gunting pangkas Hand Sprayer Cangkul Ember Garpu Tanah

bh bh bh bh bh

2 2 3 3 2

x x x x x

Rp. Rp. Rp. Rp. Rp.

25,000 250,000 50,000 10,000 50,000 Jumlah II

= = = = = =

50,000 500,000 150,000 30,000 100,000 830,000

III 1 2 3 4 5 6 7

Tenaga Kerja Persiapan lahan (pembuatan tabukan) Penanaman Penyiangan Pemupukan Penyemprotan Pemangkasan Pemanenan

Jml tabu Jml btg Jml btg Jml btg Jml btg Jml btg Jml btg

500 500 500 500 500 500 -

x x x x x x x

Rp. Rp. Rp. Rp. Rp. Rp. Rp.

15,000 1,000 500 100 300 1,000 Jumlah III

= = = = = = = = =

7,500, 000 500,000 250,000 50,000 150,000 500,000 8,950, 000 17,580,000

TOTAL Jumlah I - III

TAHUN II No Uraian I Sarana Produksi 1 Pupuk Kandang 2 Pupuk Buatan 3 Pestisida - Insektisida - Fungisida - Herbisida

Satuan kg kg lt kg lt

Jml Sat 25,000 150 2 2 1 x x x x x

Harga Satuan Rp. Rp. Rp. Rp. Rp. 220 3,000 80,000 50,000 90,000 Jumlah I = = = = = =

Jumlah 5,500, 000 450,000 160,000 100,000 90,000 6,300, 000

II 1 2 3 4 5

Tenaga Kerja Penyiangan Pemupukan Penyemprotan Pemangkasan Pemanenan

Jml Jml Jml Jml Jml

btg btg btg btg btg

500 500 500 500 -

x x x x x

Rp. Rp. Rp. Rp. Rp.

500 100 300 1,000 Jumlah II

= = = = = = =

250,000 50,000 150,000 500,000 950,000 7,250, 000

TOTAL Jumlah I - II TAHUN III Uraian Sarana Produksi Pupuk Kandang Pupuk Buatan Pestisida - Insektisida - Fungisida - Herbisida

No I 1 2 3

Satuan kg kg lt kg lt

Jml Sat 25,000 200 2 2 1 x x x x x

Harga Satuan Rp. Rp. Rp. Rp. Rp. 220 3,000 80,000 50,000 90,000 Jumlah I = = = = = =

Jumlah 5,500, 000 600,000 160,000 100,000 90,000 6,450, 000

II 1 2 3 4 5

Tenaga Kerja Penyiangan Pemupukan Penyemprotan Pemangkasan Pemanenan

Jml Jml Jml Jml Jml

btg btg btg btg btg

500 500 500 500 500

x x x x x

Rp. Rp. Rp. Rp. Rp.

500 100 300 1,000 500 Jumlah II

= = = = = = =

250,000 50,000 150,000 500,000 250,000 1,200, 000 7,650, 000

TOTAL Jumlah I - II

TAHUN IV No Uraian I Sarana Produksi 1 Pupuk Kandang 2 Pupuk Buatan 3 Pestisida - Insektisida - Fungisida - Herbisida

Satuan kg kg lt kg lt

Jml Sat 25,000 250 2 2 1 x x x x x

Harga Satuan Rp. Rp. Rp. Rp. Rp. 220 3,000 80,000 50,000 90,000 Jumlah I = = = = = =

Jumlah 5,500, 000 750,000 160,000 100,000 90,000 6,600, 000

II 1 2 3 4 5

Tenaga Kerja Penyiangan Pemupukan Penyemprotan Pemangkasan Pemanenan

Jml Jml Jml Jml Jml

btg btg btg btg btg

500 500 500 500 500

x x x x x

Rp. Rp. Rp. Rp. Rp.

500 100 300 1,000 5,000 Jumlah II

= = = = = = =

250,000 50,000 150,000 500,000 2,500, 000 3,450, 000 10,050,000

TOTAL Jumlah I - II

TAHUN V No Uraian I Sarana Produksi 1 Pupuk Kandang 2 Pupuk Buatan 3 Pestisida - Insektisida - Fungisida - Herbisida

Satuan kg kg lt kg lt

Jml Sat 25,000 250 2 2 1 x x x x x

Harga Satuan Rp. Rp. Rp. Rp. Rp. 220 3,000 80,000 50,000 90,000 Jumlah I = = = = = =

Jumlah 5,500, 000 750,000 160,000 100,000 90,000 6,600, 000

II 1 2 3 4 5

Tenaga Kerja Penyiangan Pemupukan Penyemprotan Pemangkasan Pemanenan

Jml Jml Jml Jml Jml

btg btg btg btg btg

500 500 500 500 500

x x x x x

Rp. Rp. Rp. Rp. Rp.

500 100 500 1,000 5,000 Jumlah II

= = = = = = =

250,000 50,000 250,000 500,000 2,500, 000 3,550, 000 10,150,000

TOTAL Jumlah I - II

B. No 1 2 3

OUTP UT ( Produksi tahun keTahun ke-3 Tahun ke-4 Tahun ke-5 Sat kg kg kg Jml Sat 10,000 20,000 30,000 Harga Satuan Rp. 1,000 Rp. 1,000 Rp. 1,000 Jumlah I Jumlah 10,000,000 20,000,000 30,000,000 60,000,000

x x x

= = = =

CAS H FLOW (Aliran Keuangan) Tahun Ke1 2 3 4 5 Jumlah

Biaya Produksi / Input 17,580,000 7,250, 000 7,650, 000 10,050,000 10,150,000 52,680,000

Pendapatan/Output 0 0 10,000,000 20,000,000 30,000,000 60,000,000

Selisih (17,580,000) (7,250,000) 2,350, 000 9,950, 000 19,850,000 7,320, 000

Catatan: Panen jeruk (siam) mulai dirasakan pada tahun ke-3 sejak tanam Input usaha tani jeruk (siam) di Kabupaten Tulang Bawang, Lampung tergolong rendah dibandingkan input sejenis di sentra produksi jeruk lain di Indonesia Dengan harga jual rata-rata Rp. 1.000,- (untuk input minimum), titik impas investasi petani jeruk (siam) di Kab. Tulang Bawang terlampaui setelah tahun ke-5 sejak tanam.