Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN PRAKTIKUM PENGARUH KELEBIHAN CAIRAN HIPOTONIS, ISOTONIS, DAN HIPERTONIS TERHADAP PEMBENTUKAN URINE

Laporan praktikum ini untuk memenuhi tugas pada mata kuliah Basic Science in Nursing III

Disusun oleh : Era Sucia 220110120146

Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Padjajaran 2013

Pengaruh Kelebihan Cairan Hipotonis, Isotonis, dan Hipertonis terhadap Pembentukan Urin

Nama NPM

: Era Sucia : 220110120146

Tanggal Praktikum : 21 Maret 2013 Partner : 1. Helda Fitria Wahyuni 2. Rizka Choirunnisa 3. Rias Ganjar Pratiwi 4. Ellys Suryani 5. Amelia Kristianti 6. Nurrachma Ariestanti 7. Arini Dinda Pratiwi 8. Anggi Widiastuti 9. Kinanti Devia 10. Leni Komariah 11. Entri Aprilia 12. Tiara Dwinda (220110120143) (220110120114) (220110120 (220110120 (220110120 (220110120147) (220110120149) (220110120155) (220110120112) (220110120 (220110120 (220110120

Tujuan Praktikum : Setelah mengikuti praktikum ini mahasiswa akan dapat menjelaskan perubahan jumlah urine dalam waktu tertentu sebagai dampak dari penambahan cairan hipotonis, isotonis, dan hipertonis.

Alat yang diperlukan : 1. Gelas ukuran 2. Cairan untuk diminum : Aqua 1 liter NaCl 0. 9% 1 liter Dextrose 10% 1 liter 3. urinometer

Tata Kerja Praktikum 1. Mintalah 3 orang mahasiswa untuk menjadi orang percobaan 2. Berikan kesempatan kepada ketiga orang percobaan untuk mengosongkan kandung kemihnya 3. Orang percobaan I diminta untuk minum Aqua 1000 ml, orang percobaan II minum NaCl 0.9%, dan orang percobaan III minum Dextrose 10% 4. Tunggulah jam., 1 jam, dan 2 jam kemudian untuk mengosongkan kembali kandung kemihnya 5. Catatlah jumlah masing-masing urine yang di keluarkan oleh ketiga orang percobaan 6. Adakah perbedaan jumlah dan berat jenis urine pada ketiga orang percobaan tersebut ? mengapa demikian, jelaskan mekanismenya !

Hasil Praktikum

1. Hasil praktikum pada naracoba I ( Minum Aqua 1 liter)

Vol urin (ml) jam 1 jam 2 jam Total 130 270 320 720

Berat jenis 1,03 <1 <1 -

2. Hasil praktikum pada naracoba II (minum NaCl 0,9% 1 liter) Vol urin (ml) jam 1 jam 2 jam Total 200 250 480 930 Berat jenis 1,03 <1 <1 -

3. Hasil praktikum pada naracoba III (minum Dextrosa 10% 1 liter) Vol urin (ml) jam 1 jam 2 jam Total 270 320 220 810 Berat jenis <1 <1 <1 -

Grafik Perubahan Volume Urin


600 500 400 300 200 100 0 30' 60' 120' Air Aqua NaCl Dextrose

Pembahasan

Dari hasil praktikum didapatkan hasil pada percobaan pertama yaitu pada naracoba yang meminum Air putih yang merupakan cairan hipotonis sebanyak 1 liter terdapat kenaikan pada setiap rentang waktu pengeluaran urin dan mendapatkan hasil akhir pengeluaran 780 ml urin. Pengarug cairan hipotonis sendiri terhadap pengeluara urin adalah osmolaritas menurun akan terjadi perpindahan air dari kapiler ke jaringan interstisiel sehingga terjadi odem dan sel membengkak mengakibatakan ADH akan tertahan dan pengeluaran urine seharusnya lebih banyak daripada keadaan normal. Pada percobaan kedua yaitu pada naracoba yang meminum pocari sweat (NaCl 0,9%) yang merupakan cairan isotonis sebanyak 1 liter terjadi perubahan

yang sama pada pada percobaan cairan hipotonis, mendapatkan hasil akhir pengeluaran 930 ml urin. Larutan isotonik sendiri merupkan suatu larutan yang mempunyai konsentrasi zat terlarut yang sama (tekanan osmotik yang sama) seperti larutan yang lain, sehingga tidak ada pergerakan air. Sementara itu, pada percobaan ketiga yaitu pada naracoba yang meminum air larutan gula (Dextrose 10%) yang merupakan cairan hipertonis sebanyak 1 liter terjadi kenaikan pada 1 jam pertama pengeluaran namun setelah itu volume urin yang keluar menurun yaitu dengan hasil akhir810 ml. Pengaruh cairan hipotonis terhadap pengeluaran urin adalah osmolaritas meningkat, sehingga terjadi penarikan air ke dalam pembuluh darah dan sel akan mengkerut mengakibatkan ADH meningkat dan pengeluaran urin seharusnya akan lebih sedikit daripada keadaaan normal

Berdasarkan uraian dan data diatas didapatkan hasil pengeluaran urin terbanyak adalah pada cairan isotonis. Namun, hal ini tidak sesuai dengan teori yang ada karena menurut teori pengeluaran urin paling banyak seharusnya pada naracoba yang meminum cairan hipertonik karena sifat cairan hipertonik yang dapat meningkatkan kadar osmolaritas sehingga mengakibatkn ADH tertahan dan volume urin meningkat. Pada pengeluaran urin pertama urin dari hasil kelebihan zat hipertonik memang paling banyak tetapi hasil akhir menunjukkan bahwa naracoba yang kelebihan cairan isotonik yang paling banyak mengluarkan urin. Faktor yang memengaruhi banyakanya volume urin yang keluar bukan hanya karena jenis zat yang diminum tetapi juga karena obat yang sedang dikonsumsi, makanan, suhu, dan juga aktivitas yang dilakukan sebelum pengeluaran urin.

Sementara itu pengaruh berat jenis urin terhadap banyaknya volume pengeluaran urin adalah berbanding terbalik, contohnya pada saat seseorang melakukan aktivitas fisik dan kehilangan banyak cairan tubuh melalui keringat mengakibatkan urin yang keluar akan lebih sedikit, sehingga konsentrasinya lebih tinggi dan berat jenis yang lebih besar pula. Normalnya berat jenis urin seseorang mempunyai rentang 1,010 1,025, namun padap raktikum ini kami tidak bisa mengidentifikasi berat jenis urin dengan akurat dikarenakan keterbatasan alat dan keterampilan kami dalam menggunakan urinometer. Perbahan warna juga terjadi pada masing urin yang diuji, pada ketiga jenis urin rata-rata pada pengeluaran urin pertama berwarna lebih pekat, warna urin yang lebih pekat ini diidentifikasi karena zat-zat yang disekresi oleh tubuh belum semua larut dalam cairan yang masuk yaitu

cairan hipotonis, isotonis, dan hipertonis. Hal ini juga bisa menjadi tolak ukur kekurangan cairan pada sesorang.

Kesimpulan

Dari hasil praktikum dan teori yang ada didapatkan kesimpulan bahwa kelebihan cairan hipotonis, isotonis, dan hipertonis berpengaruh pada pembentukan urin terutama pada volume urin yang dikeluarkan. Namun, pada praktikum ini kami belum dapat membuktikan teori yang sudah ada karena pengaruh beberapa faktor yaitu usia, obat yang sedang dikonsumsi, aktivitas, kondisi fisik, dan makanan dan minuman yang dikosumsi sebelum praktikum oleh naracoba, hal ini menyebabkan uji coba pada masing-asing naraacoba dengan jenis cairan yang berbeda-beda tidak berjalan dengan efektif.

Refrensi

http://file.upi.edu/Direktori/FPOK/JUR._PEND._KESEHATAN_&_REKREASI/PRODI._KEPERA WATAN/197011022000121HAMIDIE_RONALD_DANIEL_RAY/Bahan_Kuliah/CAIRAN_TUBUH. pdf http://www.pps.unud.ac.id/thesis/pdf_thesis/unud-403-1572444705tesis%20s2%20biomedik%20norman%20hidajah.pdf Scanlon, Valeri C. Dan Sanders, Tina. 1999. Buku Ajar Anatomi & Fisiologi Edisi 3. Jakarta : EGC.