Anda di halaman 1dari 44

MAKALAH

URINOLOGI

NURPADILLAH (1301065)
NUR PRATIWI (1301060)
REDMI FERIS (1301076)
RENGGI MIRTAPERDANA (1301078)
SINDI ARLINA (1301093)
SOLEHA ULFA RAHIM (1301094)
SRI RAHAYU (1301095)
SUCI ANGRIANI (1301096)
SYAFRINA (1301098)
YUDINA ALAWIYAH HARAHAP (1301110)
UUT RATIH PRATIWI (1301103)

Nama Dosen : MIRA FEBRINA.M.Sc,Apt


Sekolah Tinggi IlmuFarmasi Riau
Pekanbaru
2016

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur saya ucapkan kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan
hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan Makalah Interpretasi Data Klinik ini dengan
tepat pada waktunya. Makalah ini di buat dengan tujuan sebagai Tugas Interpretasi Data Klinik
dengan judul Urinologi.
Makalah ini dibuat atas dasar pembelajaran bagi kita semua agar dapat lebih memahami
tentang Interpretasi Data Klinik tentang Urinologi. Kami berharap agar pembaca dapat
memahami makalah ini dengan baik .
Kami menyadari adanya kekurangan dan kekeliruan yang telah diperbuat dalam makalah
ini. Maka dari itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca semua agar
kami bisa lebih baik lagi menyajikan makalah ini dan dapat lebih sempurna lagi dalam
menyajikannyaa.
Akhir kata kami ucapkan terimakasih kepada pembaca semua sehingga makalah ini dapat
diselesaikan dengan baik.

Pekanbaru, 3 Oktober 2016

Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...........................................................................................................i
DAFTAR ISI.........................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang masalah.....................................................................................
1.2 Rumusan Masalah..............................................................................................
1.3 TujuanPenulisan.................................................................................................
BAB II ISI
2.1 Proses Pembentukan Urine..................................................................................
2.2 Pemeriksaan Urin ................................................................................................
2.3 Jenis-jenis spesimen urine ...................................................................................
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan ......................................................................................................
3.2 Saran ................................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Urine merupakan hasil metabolisme tubuh yang dikeluarkan melalui ginjal. Dari 1200 ml
darah yang melalui glomeruli per menit akan terbentuk filtrat 120 ml per menit. Filtrat tersebut
akan mengalami reabsorpsi, difusi dan ekskresi oleh tubuli ginjal yang akhirnya terbentuk satu
mili liter urine per menit.
Secara umum dapat dikatakan bahwa pemeriksaan urine selain untuk mengetahui
kelainan ginjal dan salurannya juga bertujuan untuk mengetahui kelainan-kelainan diberbagai
organ tubuh seperti hati, saluran empedu, pankreas, korteks adrenal, uterus dan lain-lain. Selama
ini dikenal pemeriksaan urine rutin dan lengkap. Yang dimaksud dengan pemeriksaan urine rutin
adalah pemeriksaan makroskopik, mikroskopik dan kimia urine yang meliputi pemeriksaan
protein dan glukosa.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Bagaimana Proses Pembentukan Urine?
1.2.2 Bagaimana melakukan Pemeriksaan Urin?
1.2.3 Apa saja Jenis-jenis spesimen urine?
1.3 Tujuan
1.3.1 Untuk mengetahui proses pembentukkan urin
1.3.2 Untuk mengetahui cara melakukan pemeriksaan urin
1.3.3 Untuk mengetahui jenis-jenis specimen urin

BAB II

ISI
2.1 Proses Pembentukan Urine
Urine atau air seni adalah cairan sisa yang diekskresikan oleh ginjal yang kemudian akan
dikeluarkan dari dalam tubuh melalui proses urinasi. Eksreksi urine diperlukan untuk membuang
molekul-molekul sisa dalam darah yang disaring oleh ginjal dan untuk menjaga homeostasis
cairan tubuh. Urine disaring didalam ginjal, dibawa melalui ureter menuju kandung kemih,
akhirnya dibuang keluar tubuh melalui uretra.

Ciri Ciri urine normal:


1. Volume
Urine rata rata : 1L 1,5L setiap hari; tergantung luas permukaan tubuh dan intake cairan.
2. Warna
Kuning bening oleh adanya urobilinogen. Secara normal warna dapat berubah, tergantung
jenis bahan/obat yang dimakan.
3. Bau
Urine baru memiliki bau khas sebab adanya asam asam yang mudah menguap. Urine yang
lama baunya tajam sebab adanya NH3 dari pemecahan ureum dalam urine. Bau yang busuk
karena adanya nanah dan kuman kuman. Sedangkan bau yang manis karena adanya asetan.
4. Berat jenis urine
Normal
Rata rata
5. pH urine

: 1,002-1,045
: 1,008

kurang lebih pH = 6 atau sekitar 4,8 7,5 dengan rekasi pada kertas lakmus: urine asam:
merah, urine basa: biru.

Faktor yang Mempengaruhi Proses Urinasi


Proses pembentukan urin dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor internal dan faktor
eksternal.

a. Faktor Internal
1) Hormon Antideuritik (ADH)
Hormon antideuritik dikeluarkan oleh kelenjar saraf hipofifis (neuroehipofisis).
Pengeluaran hormon ini ditentukan oleh reseptor khusus di dalam otak yang secara terus
menerus mengendalikan tekananan osmotik darah (kesetimbangan konsentrasi air dalam darah).
Oleh karena itu, hormon ini akan mempengaruhi proses reabsorpsi air pada tubulus kontortus
distal, sehingga permeabilitas sel terhadap air akan meningkat. Oleh karena cara bekerja dan
pengaruhnya inilah, hormon tersebut disebut sebagai hormon antideuritik.
Jika tekanan osmotik darah naik, yaitu pada saat dalam keadaan dehidrasi atau
kekurangan cairan tubuh (saat kehausan atau banyak mengeluarkan keringat), konsentrasi air
dalam darah akan turun. Akibat dari kondisi tersebut, sekresi ADH meningkat dan dialirkan oleh
darah menuju ke ginjal. ADH selain meningkatkan permeabilitas sel terhadap air, juga
mengkatkan permeabilitas saluran pengumpul, sehingga memperbesar sel saluran pengumpul.
Dengan demikian air akan berdifusi ke luar dari pipa pengumpul, lalu masuk ke dalam darah.
Keadaan tersebut akan berusaha memulihkan konsentrasi air dalam darah. Namun akibatnya,
urine yang dihasilkan menjadi sedikit dan lebih pekat.

2) Hormon Insulin
Hormon insulin adalah hormon yang dikeluarkan oleh pulau langerhans dalam pankreas.
Hormon insulin berfungsi mengatur gula dalam darah. Penderita kencing manis (diabetes
mellitus) memiliki konsentrasi hormon insulin yang rendah, sehingga kadar gula dalam darah
akan tinggi. Akibatnya terjadi gangguan reabsorpsi didalam urine masih terdapat glukosa.

3) Saraf
Stimulus pada saraf ginjal akan menyebabkan penyempitan duktus afferen. Hal ini
menyebabkan aliran darah ke glomerulus menurun dan tekanan darah menurun sehingga filtrasi
kurang efektif. Hasilnya urine yang diproduksi meningkat.

4) Tonus otot
Tonus otot yang memiliki peran penting dalam membantu proses berkemih adalah otot
kandung kemih, otot abdomen dan pelvis. Ketiganya sangat berperan dalam kontraksi
pengontrolan pengeluaran urine.

5) Usia
Pengeluaran urine usia balita lebih sering karena balita belum bisa mengendalikan
rangsangan untuk miksi dan makanan balita lebih banyak berjenis cairan sehingga urine yang
dihasilkan lebih banyak sedangkan pengeluaran urin pada lansia lebih sedikit karena setelah usia
40 tahun, jumlah nefron yang berfungsi biasanya menurun kira-kira 10% tiap tahun.

b. Faktor Eksternal

1) Zat-zat diuretik
Misalnya teh, kopi, atau alkohol dapat menghambat reabsorpsi ion Na+. Akibatnya ADH
berkurang sehingga reabsorpsi air terhambat dan volume urin meningkat.

2) Suhu lingkungan
Ketika suhu sekitar dingin, maka tubuh akan berusaha untuk menjaga suhunya dengan
mengurangi jumlah darah yang mengalir ke kulit sehingga darah akan lebih banyak yang menuju
organ tubuh, di antaranya ginjal. Apabila darah yang menuju ginjal jumlahnya samakin banyak,
maka pengeluaran air kencing pun banyak.

3) Gejolak emosi dan stress


Jika seseorang mengalami stress, biasanya tekanan darahnya akan meningkat sehingga
banyak darah yang menuju ginjal. Selain itu, pada saat orang berada dalam kondisi emosi, maka
kandung kemih akan berkontraksi. Dengan demikian, maka timbullah hasrat ingin buang air
kecil.

4) Jumlah air yang diminum


Jumlah air yang diminum tentu akan mempengaruhi konsentrasi air dalam darah. Jika
meminum banyak air, konsentrasi air dalam darah akan tinggi, dan kosentrasi protein dalam

darah menurun, sehingga filtrasi menjadi berkurang. Selain itu, keadaan seperti ini menyebabkan
darah lebih encer, sehingga sekresi ADH akan berkurang. Menurunnya filtrasi dan berkurangnya
ADH akan menyebabkan menurunnya penyerapan air, sehingga urine yang dihasilkan akan
meningkat dan encer.

5) Kondisi penyakit
Kondisi penyakit dapat memengaruhi produksi urine, seperti diabetes melitus.

6) Life Style dan aktivitas


Seorang yang suka berolahraga, urine yang terbentuk akan lebih sedikit dan lebih pekat
karena cairan lebih banyak digunakan untuk membentuk energi sehingga cairan yang
dikeluarkan lebih banyak dalam bentuk keringat.

Proses pembentukan urin meliputi tiga tahap, yaitu filtrasi glomerulus, reabsorbsi tubular,
dan sekresi tubular. Pembentukan urin dimulai ketika air dan berbagai bahan terlarut lainnya
disaring melalui kapiler glomerulus dan masuk ke kapsul glomerulus (kapsul Bowman).
Penyaringan bahan-bahan ini melalui dinding kapiler kurang lebih sama seperti pada
penyaringan yang terjadi pada ujung arteriol pada kapiler lain di seluruh tubuh. Hanya saja,
kapiler glomerulus bersifat lebih permeabel karena adanya fenestrae pada dindingnya.
Reabsorbsi tubular adalah proses dimana bahan-bahan diangkut keluar dari filtrate glomerulus,
melalui epitelium tubulus ginjal ke dalam darah di kapiler peritubulus. Adanya mikrovili di
tubulus proksimal akan meningkatkan luas permukaan yang bersentuhan dengan filtrat
glomerulus sehingga meningkatkan proses reabsorbsi. Berbagai bagian dari tubulus ginjal
berfungsi untuk mereabsorbsi zat yang spesifik. Sebagai contoh, reabsorbsi glukosa terjadi
terutama melalui dinding tubulus proksimal dengan cara transport aktif. Air juga direabsorbsi
dengan cepat melalui epitelium tubulus proksimal dengan osmosis. Sekresi tubular adalah proses

dimana bahan-bahan diangkut dari plasma kapiler peritubulus menuju ke cairan tubulus ginjal.
Sebagai hasilnya, jumlah zat tertentu diekskresikan melalui urin dapat lebih banyak daripada
jumlah zat yang diperoleh melalui filtrasi plasma di glomerulus (Sloane 2004).
Urin mengandung air dan garam-garam dalam jumlah sedemikian rupa sehingga terdapat
keseimbangan antara cairan ekstrasel dan cairan intrasel, asam dan basa yang merupakan sisasisa metabolisme yang tidak berguna lagi bagi tubuh, dan zat-zat yang dikeluarkan dari darah
karena kadarnya berlebihan.

2.2 Pemeriksaan Urin


Pemeriksaan urine merupakan pemeriksaan dasar pada pasien yang dicurigai mengalami
gangguan ginjal atau infeksi saluran kemih, selain itu juga dapat digunakan untuk evaluasi,
gangguan fungsi hati, gangguan hematologi dan diabetes mellitus.
Analisis urin secara fisik meliputi pengamatan warna urin, berat jenis cairan urin, pH, dan
suhu urin. Sedangkan analisis kimiawi dapat meliputi analisis glukosa, analisis protein, dan
analisis pigmen empedu. Untuk analisis kandungan protein ada banyak sekali metode yang dapat
digunakan, mulai dari metode uji Millon sampai kuprisulfa dan sodium basa. Analisis secara
mikroskopik, sampel urin secara langsung diamati di bawah mikroskop sehingga akan diketahui

zat-zat apa saja yang terkandung di dalam urin tersebut, misalnya kalsium phospat, serat
tanaman, bahkan bakteri (Lehninger 1982).

Nilai normal urin

2.2.1 Pengambilan Spesimen Urine


Wadah spesimen urine haruslah bersih, kering, dan bermulut lebar. Kalau spesimen urine
harus dikirim ke tempat lain,berapa pun lamanya, pengawet yang sesuai harus ditambahkan pada
spesimen tersebut, untuk mencegah tumbuhnya bakteri atau menetasnya telur viabel.
2.2.2 Pengawet spesimen urine
Sampel urine yang diambil di klinik dan langsung diperiksa tidak memerlukan pengawet
Kalau sampel urine,misalnya diambil untuk pendeteksian telur Schistosoma
haematobium, baru akan diperiksa beberapa jam lagi,sampel urine tersebut harus
"diasamkan" (asidifikasi urine) dengan menambahkan beberapa tetes asam asetat 10 %.

Ada bermacam-macam bahan pengawet yang dapat digunakan diantaranya : toluene,


thymol, formaldehid, asam sulfat pekat natrium bikarbonat.
2.2.3 Jenis-jenis spesimen urine

Spesimen urine pagi


Sampel urine pagi memiliki konsentrasi yang paling pekat. Pengumpulan sampel pada
pagi hari setelah bangun tidur, dilakukan sebelum makan atau menelan cairan apapun.
Urine satu malam mencerminkan periode tanpa asupan cairan yang lama, sehingga unsurunsur yang terbentuk mengalami pemekatan. Urine pagi baik untuk pemeriksaan sedimen
dan pemeriksaan rutin serta tes kehamilan berdasarkan adanya HCG (human chorionic

gonadothropin) dalam urine.


Speslmen urine sewaktu
Sampel urine sewaktu, yang dapat diambil kapan saja, dapat digunakan untuk

pemeriksaan skrining terhadap zat-zat yang merupakan indikator infeksi ginjal.


Spesimen urine 24 jam
Spesimen urine 24 jam disimpan di dalam botol bening berkapasitas 2 liter dan bertutup
sumbat. Pada hari pertama, setelah bangun pagi, pasien biasanya akan berkemih; urine ini
(urine pertama) tidak diambil sebagai sampel. Urine yang dikeluarkan sewaktu pasien
berkemih berikutnya, sepanjang hari tersebut, ditampung dalam botol. Urine pertama
pada hari berikutnya dijadikan sampel dan ditampung dalam botol. Botol berisi sampel
urine ini harus segera dikirim ke laboratorium. Ukurlah volume sampel urine tersebut

memakai gelas ukur dan catatlah hasilnya.


Spesimen urine porsi-tengah (midstream)
Pasien menampung kira-kira sebanyak 20 ml urine, ke dalam suatu wadah terbuka, saat

sedang berkemih; wadah ini harus langsung ditutup sesudahnya.


Spesimen urine terminal
Pasien menampung porsi terakhir urine yang dikeluarkannya ke dalam suatu wadah
terbuka. Spesimen urine yang diambil dengan kateter Pengambilan spesimen urine
dengan kateter harus dilakukan oleh dokter atau perawat terlatih. Spesimen yang diambil
dengan prosedur ini biasanya dipakai untuk uji-uji bakteriologis tertentu, terutama pada
pasienwanita. Namun, spesimen yang diambil dengan prosedur biasa (non-invasif),
setelah daerah genital dibersihkan dengan seksama, biasanya dapat dipakai juga untuk

tujuan tersebut.
Spesimen urine bayi

Urine dapat ditampung di dalam sebuah kantong plastik yang berperekat. Kantong plastik
ini direkatkan di sekeliling daerah genital selama 1-3 jam, tergantung pemeriksaan yang
diminta. Kantong kolostomi (colostomy bag) jaga dapat dipakai sebagai wadah spesimen
urine bayi.

2.2.4 Pemeriksaan spesimen urine


2.2.4.1 Berat jenis spesifik (Specifi c gravity)
Urinalisis dapat dilakukan sewaktu atau pada pagi hari. Pemeriksaan berat jenis urin dapat
digunakan untuk mengevaluasi penyakit ginjal pasien. Berat jenis normal adalah 1,001-1,030 dan
menunjukkan kemampuan pemekatan yang baik, hal ini dipengaruhi oleh status hidrasi pasien
dan konsentrasi urin. Berat jenis meningkat pada diabetes (glukosuria), proteinuria > 2g/24 jam),
radio kontras, manitol, dekstran, diuretik.
Nilai berat jenis menurun dengan meningkatnya umur (seiring dengan menurunnya
kemampuan ginjal memekatkan urin) dan preginjal azotemia. Penetapan berat jenis urin biasanya
cukup teliti dengan menggunakan urinometer. Apabila sering melakukan penetapan berat jenis
dengan contoh volume urin kecil maka sebaiknya menggunakan refraktometer.
Cara menggunakan dengan urinometer
Tuanglah urin dalam kondisi suhu kamar kedalam gelas urinometer. Jika terdapat busa
maka,buasa dibuang menggunakan sepotong kertas saring atau dengan setetes eter
Masukkanlah urinometer kedalam gelas itu. Agar urinometer itu bebas terapung pada
waktu dibaca harus ada cukup banyak urine dalam gelas tadi.
Putarlah urinometer dengan ibu jari atau telunjuk sehingga urinometer terapung dan tidak
menempel pada dinding kemudian bacalah berat jenisnya.
Cara dengan refraktometer
Menggunakan beberapa tetes urin

Index refraksi sesuatu cairan bertambah secara linear dengan banyaknya zat larut, jadi
index refraksi urine mempunyai hubungan erat dengan berat jenis urine yang juga
ditentukan oleh kadar zat larut.
Refraktometer yang khusus dibuat untuk pemakaian dalam laboratorium klinik
mempunyai skala berat jenis disamping skala index refraksi,sehingga hasil penetapan
berat jenis dapa dibaca langsung.

2.2.4.2 Warna urin


Warna urin dipengaruhi oleh konsentrasi, adanya obat, senyawa eksogen dan endogen,
serta pH.
Warna merah coklat menunjukkan urin mengandung hemoglobin, myoglobin, pigmen
empedu, darah atau pewarna. Dapat juga karena pemakaian klorpromazin, haloperidol,
rifampisin, doksorubisin, fenitoin, ibuprofen. Warna merah coklat dapat berarti urin
bersifat asam (karena metronidazol) atau alkali (karena laksatif, metildopa)
Warna kuning merah (pink) menunjukkan adanya sayuran, bit, fenazopiridin atau katartik
fenolftalein, ibuprofen, fenitoin, klorokuin
Warna biru-hijau menunjukkan pasien mengkonsumsi bit, bakteri Pseudomonas, pigmen
empedu, amitriptilin,
Warna hitam menunjukkan adanya, alkaptouria
Warna gelap menunjukkan porfi ria, malignant melanoma (sangat jarang)
Urin yang keruh merupakan tanda adanya urat, fosfat atau sel darah putih (pyuria),
polymorphonuclear (PMNs), bakteriuria, obat kontras radiografi .
Urin yang berbusa mengandung protein atau asam empedu
Kuning kecoklatan menunjukkan primakuin, sulfametoksazol, bilirubin,urobilin.

2.2.4.3 pH urin (normal 5,0-7,5)


Penetapan pH tidak banyak berarti dalam pemeriksaan penyaring. Akan tetapi pada
gangguan keseimbangan asam-basa.pemeriksaan pH urin segar dapat memberi petunujk kea rah
etiologi pada infeksi salauran kencing (ex;e.coli menyebabkan urine asam). pH urin
mempengaruhi terbentuknya kristal. Misalnya pada pH urin asam dan peningkatan specifi c
gravity akan mempermudah terbentuknya kristal asam urat .
pH alkalin disebabkan:

adanya organisme pengurai yang memproduksi protease seperti proteus, Klebsiella atau

E. coli
ginjal tubular asidosis akibat terapi amfoterisin
Penyakit ginjal kronik
Intoksikasi salisilat

pH asam disebabkan karena :

emfi sema pulmonal

diare, dehidrasi
kelaparan (starvation)
asidosis diabetic

Penetapan ph urine dapat menggunakan :


a. Menggunakan kertas lakmus
Urin asam akan mengubah warna kertas lakmus biru menjadi merah,dan urin urin basa
akan mengubah lakmus merah menjadi biru
b. Menggunakan kertas nitrazin
Kertas ini dapat digunakan untuk menentukan pH antara 4,5- 7,5. Skla warna memberi
kemungkinan membaca antara dua warna. Pada pH 4,5 warna kuning dan warna akan
berubah lambat laun menjadi biru pada pH yang lebih tinggi.
c. Menggunakan campuran indicator
2.2.4.4 Protein
Setiap hari sedikit protein (50mg-150mg/24 jam) akan terdapat di dalam urina normal.
Sebagian protein tersebut berasal dari albumin yang disaring di dalam glomerulus tetapi tidak
diserap di dalam tubula, sedangkan sisanya adalah glikoprotein dari lapisan sel saluran
urogenitalia. Normalnya jumlah protein dalam urina kurang dari 10 mg/dL dan tidak akan
terdeteksi dengan metode urinalisis yang biasa digunakan. Proteinuria (adanya protein dalam
jurnlah yang, dapat terdeteksi) biasanya menjadi petunjuk adanya luka pada membrane
glomerulus sehingga terjadi filtrasi atau lolosnya molekul protein ke dalam air kemih. Keadaan
ini harus dibedakan dengan proteinuria sementara yang mungkin terjadi pada keadaan demam
atau keadaan lain yang tidak membahayakan (disebut proteinuria ortostatis).
Hasil positif palsu dapat terjadi pada pemakaian obat berikut:

penisilin dosis tinggi,


klorpromazin,
tolbutamid
golongan sulfa

Dapat memberikan hasil positif palsu bagi pasien dengan urin alkali. Protein dalam urin dapat:

normal, menunjukkan peningkatan permeabilitas glomerular atau gangguan tubular

ginjal, atau
abnormal, disebabkan multiple myeloma dan protein Bence-Jones.

Cara pengujian protein


a. Uji Koagulasi dengan pemanasan menggunakan asam asetat
Urin contoh disaring lebih dahulu, pipet sebanyak 5 mL dan panaskan sampai mendidih.
Kekeruhan yang timbul dan berwarna putih dapat disebabkan oleh pretein, tetapi bisa juga oleh
fosfat. Tambahkan 1-3 tetes asam asetat 6%. Bila cairan menjadi jemih kembali maka kekeruhan
disebabakan oleh fosfat. Bila setelah penambahan asam itu kekeruhan makin nyata, penyebabnya
adalah protein di dalam urina.
Perkiraan kadar protein dalam air kemih menurut uji ini:
Cairan tetap jernih seperti awalnya

negatif (-)

Kekeruhan sangat tipis ()

0.01%

Kekeruhan jelas terlihat (+)

10-30 mg/dL

Kekeruhan lebih banyak (sedang) (++)

40-100 mg/dL

Sangat keruh (+++)

200-500 mg/dL

b. Uji Bang
Pipet 5 mL urin yang telah disaring lalu tambah dengan 2 mL pereaksi Bang, campur baikbaik dan panaskan. Bandingkan uji ini dengan uji koagulasi. Pereaksi Bang adalah larutan bufer
asetat pH 4.7.

c. Uji Asam Sulfosalisilat


Pipet urin yang telah disaring sebanyak 3 mL ke dalam tabung reaksi dan miringkan tabung
tersebut. Tambahkan perlahan-lahan pada dinding tabung reaksi 3 tetes pereaksi (25% asam
sulfosalisilat). Asam ini akan membentuk lapisan di bawah cairan urina; jangan
digoyang/dicampur. Perhatikan setelah 1 menit kekeruhan yang timbul di pertemuan antara
lapisan asam dan urina.
Kekeruhan yang sangat tipis, hampir tak terlihat = (biasanya 5 mg/dL)
Kekeruhan selanjutnya = 1+ hingga 4+
2.2.4.5 Glukosa
Korelasi antara urin glukosa dengan glukosa serum berguna dalam memonitor dan
penyesuaian terapi antidiabetik. Glikosuria dapat dibuktikan juga dengan cara spesifik yang
menggunakan enzim-enzim glukosa-oxida untuk merintis serentetan reaksi dan berakhir dengan
perubahan warna dalam reagens yang digunakan.
Glukosa merupakan senyawa gula yang paling serlng ditemukan dalam urine, terutama
pada pa.sien diabetes dan gagal ginjaI kronis. Glukosa merupakan senyawa pereduksi. Gukosa
mereduksi tembaga (ll) sulfat (berwarna biru) dalam larutan Benedict menjadi tembaga (I) oksida
(berwarna merah dan tak-Iarut).
Cara pemeriksaan glukosa :
a.

Cara benedict
Pipetkan 5 mllarutan Benedict ke dalam tabung reaksi.
Tambahkan 8 tetes urine ke dalam larutan tersebut dan kocok hingga homogen.
Didihkan larutan dengan memanaskannya di atas pemanas Bunsen atau lampu spiritus
selama 2 menit (Gbr. 7.5),atau taruh tabung reaksi tersebut di dalam gelas piala atau

wadah kaleng berisi air mendidih selama 5 menit.


Letakkan tabung reaksi pada raknya dan biarkan hingga dingin pada suhu kamar.

Amati perubahan warna larutan dan periksa apakah terdapat presipitat pada larutan
tersebut.

Cara menilai hasil


Negative (-)

Tetap biru jernih atau sedikit kehijau-hijauan dan

Positif + atau 1+

agak keruh
Hijau kekuningan-kuningan dan keruh (sesuai

Positif ++ atau 2+
Positif +++ atau 3+
Positif ++++ atau 4+

dengan pH 0,5-1 % glukosa)


Kuning keruh (1-1,5 % glukosa)
Jingga tau warna lumpur keruh (2-3,5 % glukosa )
Merah keruh (lebih dari 3,5 % glukosa)

b. Cara menggunakan carik celup


Carik celup dilekati kertas berisi dua macam enzim,yakni glukosa oxidase dan peroksida
bersama dengan semacam zat seperi o-tolidine yang berubah warna jika ia dioxidasi. Kalau ada
glukosa,maka oleh pengaruh glukosa-oxidasa glukosa menghasilkan asam glukonat dan
hydrogen peroksida oleh pengaruh peroxide hydrogen peroxide mengalihkan oxygen kepada otolidine yang berubah warna menjadi biru. Lebih banyak glukosa lebih tua warna biru yang
terjadi pada reaksi ini,sehingga penilaian semikuantatif juga mungkin.
c. Penetapan kuantitatif glukosa
5 ml reagen dimasukkan kedalam tabung rx lebar dengan diameter kira-kira 4 cm
Bubuhilah dengan 1-2 gram natriumbikarbonat dan 2 butir kaca
Panaskan diatas api kecil sampai cairan mendidih dambil tabung digoyangkan

Teteskan urin yang akan diperiksa 0,01ml,sewaktu meneteskan cairan tidak boleh

berhenti mendidih
Jika warna biru reagens mulai menghilang pemberian urin harus lambat : 30 detik

setiap tetes
Titrasi berakhir pada saat warna biru tidak kelihatan lagi.

Catatan :
Reagen kualitatif benedict : CuSo4.5aq 17,3 g; na sitrat 173 g; Na2CO3.oaq 1000g atau
Na2CO3.10aq 200g; aquades ad 1000ml.
Susunan reagen benedict kuantitatif : CuSO4.5 aq 18 g; Na2CO3. 0aq 100g atau
Na2CO3.10 aq 200 g; kaliumsulfosianat 125g; larutan kalium ferrosianida 5% 5 ml dan
aqua dest ad 1000ml.
2.2.4.6 Keton
Zat-zat keton atau benda-benda keton dalam urin ialah aceton, asam aceto-acetat dan asam
beta-hiroxibutirat. Keton ini dapat ditemukan pada urin malnutrisi, pasien DM yang tidak
terkontrol, dan pecandu alkohol. Terjadi pada :

gangguan kondisi metabolik seperti: diabetes mellitus, ginjal


glikosuria,
peningkatan kondisi metabolik seperti: hipertiroidism, demam, kehamilan
dan menyusui
malnutrisi, diet kaya lemak

Cara pemeriksaan keton


a. cara Rothera (satu modifikasi)
Percobaan ini berdasar kepada rx antara nitroprussida dan asam aceto-acetat atau aceton
yang menyusun suatu zat warna ungu. Reagen rothera : natriumnitroprussida 5g; amoniumsulfat
200g; campur baik-baik dengan menggerusnya dalam lumping dan simpanlah serbuk dalam
botolbersumbat.

Cara kerja :
Pipet 5 mL urina, tambahi kristal amonium sulfat sampai jenuh. Setelah itu tambahi dengan
2-3 tetes larutan natrium nitroprusida 5% dan 1-2 mL ammonia pekat. Perhatikan warna yang
terbentuk.warna ungu kemerah-merahan pada perbatasan kedua lapisan cairan menandakan
adanya zat keton. Makin cepat warna terjadi dan makin tua warbnanya maka makin banyak juga
jumlah zat ketonnya. Warna coklat diberi arti negative.
b. cara Gerhardt
Test ini berdasarkan kepada reaksi antara asam aceto-asetat dan ferri-chlorida yang
menyusun zat bewarna seperti anggur port (warna merah coklat). Dalam pengujian ini penting
menggunakan urin yang segar karna cara ini kurang peka apabila dibandingkan dengan cara
Rothera.
Cara kerja :
5 ml urin dimasukkan dalam tabung reaksi,kemudian teteskan larutan ferrichlorida 10 %
sambil mengocok isinya. Jika terbentuk presipitat putih ferrifosfat berhenti,saringlah cairan
tersebut. Filtratnya berikan beberapa tetes larutan ferrichlorida lagi,dan perhatikan jika adanya
warna merah coklat menandakan test ini positif.
c. cara carik celup
Penggunaan carik celup ini sebaiknya digunakan untuk mendeteksi positif (+) atau
negative (-) saja dari adanya zat keton. Sam seperti Rothera carik celup ini juga mengguankan
natrium nitroprussida sebai dasar reaksi untuk menimbulkan warna ungu dan urin yang
digunakan harus segar.

2.2.4.7 Calsium
Pemeriksaan terhadap jumlah calcium yang dikeluarkan bersama urin dapat mudah
dilakukan yaitu menggunakan reagens sulkowitch ( as oksalat 2,5g; ammonium oksalat 2,5g;
asam asetat glacial 5 ml dan aq dest ad 150 ml). untuk pengujian ini diperlukannya urin 24 jam.
Reagen ini mengendapakan calcium dalam bentuk calsiumoksalat tanpa calsiumfosfat oleh pH
reagen.
Cara kerja sulkowitch
Masukkan 3ml urin ke dalam masing-masing 2 tabung rxtabug rx yang kedua hanya
sebagai control
Tambahkan tabung rx pertama 3 ml reagens sulkowitch campurkan dan biarkan selama 23 menit
Bacalah hasil secara semikuantitatif

Negative Positif 1+
Positif 2+
Positif 3+

Tidak terjadi kekeruhan


Terjadi kekeruhan yang halus
Kekeruhan sedang
Kekeruhan agak berat yang timbul dalam waktu

Positif 4+

kurang dari 20 detik


Kekeruhan berat yang terjadi seketika

2.2.4.8 Chlorida
Penetapan jumlah klorida dalam urin 24 jam secara cepat dilakukan menurut Fantus. Pada
cara ini dilakukan titrasi memakai perak nitrat dengan ion sebagai indicator.
Cara Fantus

10 tetes urin dimasukkan kedalam tabung reaksi dengan memakai pipet tetes
Cuci pipet dengan aquades
Tambahakan 1 tetes kaliumkromat 20% dengan pipet tetes, Cuci pipet dengan aquades
Tambahkan setetes demi setetes secara terus menerus perak nitrat 2,9 % sampai warna

merah yang menetap


Hitunglah kadar klorida : jumlah tetes larutan perak nitrat yang dipakai sama dengan
jumlah gram NaCL per liter urin. Jika kadar itu hendak disebut dengan miliequevalent
perliter, maka angka itu dibagi 58,9 dan dikalikan 1000.

2.2.4.9 Penentuan Darah dalam Urin


Terdapat dua kemungkinan ditemukannya darah di dalam air kemih: pertama, hematuria
yakni adanya sel darah merah (eritrosit) dalam air kemih; dan yang ke dua, hemoglobinuria yaitu
bila air kemih mengandung hemoglobin.
Hematuria umumnya disebabkan oleh adanya luka di organ/saluran setelah ginjal (ureter,
kandung kemih, uretra). Sel-sel darah merah dapat langsung dilihat di bawah mikroskop setelah
urina disentrifus lebih dahulu. Terjadinya hemoglobinuria menandakan hemolisis dalam aliran
darah di dalam saluran kemih. Gejala ini lazim menyertai berbagai penyakit ginjal atau penyakit

pada saluran kemih. Darah (sel darah atau hemoglobin) yang jumlahnya sangat sedikit dalam air
kemih (hingga tidak terlihat mengubah warna air kemih) masih dapat dideteksi secara enzimatis
dengan kertas/gagang yang mengandung senyawa peroksida. Hemoglobin akan betindak sebagai
enzim yang menguraikan senyawa peroksida, dalam proses ini akan terjadi oksidasi terhadap
donor hidrogen yang ditambahkan (o-tolidin) ke dalam sistem, sehingga akan terbentuk warna
biru. Cara kimiawi menggunakan prinsip yang sama, hanya cara ini tidak terlalu sensitif karena
memerlukan hemoglobin yang relatif cukup banyak untuk menimbulkan hasil positif.
Cara pengujian darah dalam urin
a. Uji Benzidin (Uji Peroksidase)
Ke dalam 3 mL larutan benzidin 1% tambahka.n 1 mL H202 3% dan campur baik-baik
dengan cara memindah-mindahkan larutan antara dua tabung reaksi, selanjutnya dibagi ke dalam
dua tabung reaksi tersebut. Teteskan urina ke dalam salah satu tabung, sedang tabung yang lain
gunakan sebagai blanko. Perhatikan perubahan warna yang terjadi dan bandingkan dengan
blanko.

2.2.4.10 Penentuan Bilirubin dan Urobilinogen (Pigmen empedu) dalam Urin


Bilirubin, merupakan pigmen empedu utama, terbentuk dari penghanghancuran
hemoglobin yang berasal dari eritrosit yang telah usang. Dalam prosesnya bilirubin harus
dibuang ke luar tubuh; untuk itu metabolisme di dalam hepatosit akan mengubahnya menjadi
bilirubin diglukuronida (bilirubin ester) yang larut air untuk dikeluarkan bersama cairan empedu.
Di usus besar bilirubin ester akan direduksi oleh bakteri usus menjadi urobilinogen, pigmen tak
bewarna; sebagian akan diserap-balik melalui vena porta ke hati, urobilinogen yang tidak
diserap-balik ke hati akan teroksidasi sebagian menjadi urobilin dan pigmen berwarna
kecoklatan lainnya untuk dikeluarkan bersama tinja.
Ada sebagian kecil (1%) urobilinogen akan dikeluarkan melalui ginjal bersama air kemih.
Oleh karena itu bilirubin tidak akan terdeteksi di dalam air kemih individu normal dan sehat.

Adanya bilirubin dalam air kemih menandakan adanya gangguan patologis pada hati atau sistem
empedunya. Biasanya yang ditemui adalah bentuk larut-nya yaitu bilirubin ester. Sebaliknya
pada individu yang sehat akan terdapat urobilinogen dalam air kemihnya sebagai hasil
metabolism bilirubin. Kira-kira sebanyak 1-4 mg/24 jam uribilinogen dikeluarkan dalam air
kemih. Jumlah ini akan meningkat pada penyakit hemolisis (karena meningkatnya sintesis
bilirubin), pada penyakit hemolisis (akibai berkurangnya serap-balik oleh hepatosit), dan pada
gagal jantung. Adanya sumbatan oleh batu empedu, baik di kantung mau pun di saluran empedu,
akan menurunkan bahkan menihilkan urobilinogen dalam air kemih.
Cara pemeriksaan Bilirubin
a. Uji Bilirubin metode Hyman vd Bergh
Sebanyak 5 mL pereaksi diazo yang masih segar ditambah 5 mL urin beralkohol, bubuhi
setetes amonia pekat. Adanya bilirubin ditunjukkan oleh timbulnya warna merah eosin.
Catatan:
Reaksi ini kurang spesifik karena bila urina terlalu basa atau terlalu asam, zat lain daiam
urina juga akan memberi warna merah yang sama.
b. Uji Bilirubin metode Harrison modifikasi Watson & Hawkinson
Rendam kertas saring yang agak tebal dalam larutan barium klorida jenuh, keringkan, dan
guntinglah menjadi potongan kecil memanjang. Celupkan setengah bagian bawah potongan
kertas tersebut dalam urina, lalu angkat. Setetes pereaksi Fouchet (1 gram feriklorida dilarutkan
dalam cairan TCA 25% hingga 100 mL) dibubuhkan pada batas antara bagian yang basah dan
yang kering pada potongan kertas tersebut. Adanya bilirubin ditunjukkan oleh warna hijau atau
biru. Intensitas warna dipengaruhi oleh banyak sedikitnya bilirubin yang ada dalam urina.
c. Uji Urobilinogen and urobilin metode Schlessinger
Pipet 5 mL urin and tambahi 5 ml suspensi Zn-asetat jenuh beralkohol. Tetesi dengan
sedikit amonia, kocok and diamkan sebentar. Selanjutnya saringlah dengan kertas saring kering,

tampung filtratnya. Amati ada tidaknya fluorosensi pada filtrat; hal nii disebabkan oleh adanya
urobilin. Urobilinogen tidak memberi fluoresensi, tetapi setelah dibubuhi beberapa tetes larutan
Lugol akan menghasilkan fluorosensi juga. Hasilnya akan lebih nyata bila menggunakan lampu
UV.
2.2.4.11 Pemeriksaan Sedimen
Urin yang digunakan ialah urin pekat yaitu dengan berat jenis 1023 atau lebih tinggi,urin
pekat lebih mudah didapat bila memakai urin pagi sebgai bahan pemeriksaan.Unsure sediment
lazimnya dibagi atas 2 golongan : golongan organic (berasal dari jaringan atau organ) dan
golongan anorganik(tidak dari organ atau jaringan).
Unsur-unsur organic :

Sel epitel
Leukosit
Eritrosit
Silinder
Oval fat bodies
Benang lender

Silindroid
Spermatozoa
Potongan-potongan jaringan
Parasit-parasit
Bakteri-bakteri

Unsur-unsur anorganik :
Bahan amorf
Kristal-kristal dalam urine normal
Urin asam, natriumurat dan jarang sekali ciumsulfat.kristal asam urat biasnya

bewarna kuning muda


Dalam urin asam atau netral atau agak basa : calcium oksalat dan kadang-kadang

asam hipurat
Dalam urin basa atau kadang-kadang netral : ammonium magnesium fosfat

(tripelfosfat)
Dalam urin basa : calsiumkarbonat,amoniumbiurat dan calsiumfosfat
Kristal-kristal berasal dari obat seperti bermacam-macam sulfonamide
Kristal-kristal yang menunjukkan kepada keadaan abnormal : cystein,leucine, tyrosine,
cholesterol, bilirubin dan hematoidin.
Bahan lemak

Tes ini memberikan gambaran adanya infeksi saluran kemih, batu ginjal atau

saluran kemih, nefritis, keganasan atau penyakit hati. Sedimen urin dapat normal pada kondisi
preginjal atau postginjal dengan minimal atau tanpa proteinuria.

Implikasi klinik :
Cell cast

: Menunjukkan acute tubular necrosis.

White cell cast

: biasanya terjadi pada acute pyelonephritis atau interstitial

nephritis

Red cell cast

: timbul pada glomerulonefritis akut


RBC

: Peningkatan nilai menunjukkan glomerulonefritis,

vaskulitis, obstruksi

ginjal atau penyakit mikroemboli, atau

proteinuria
WBC

: peningkatan nilai menunjukkan penyakit ginjal dengan infl amasi

Bakteri

: jumlah bakteri > 105/mL menunjukkan adanya infeksi saluran

kemih.
Kristal

: meliputi kristal kalsium oksalat, asam urat, amorf, triple

fosfat. Adanya kristal menunjukkan peningkatan asam urat dan asam


amino

Prinsip pengujian

Urine mengandung berbagai sel dan kristal yang tersuspensi, yang dapat

dikonsentrasikan dengan sentrifugasi atau menegakkan wadah spesimen supaya partikel-partikel


yang tersuspensi tadi mengendap. Endapan urine yang terbentuk inidapat diperiksa di bawah
mikroskop.
Metode

Pengambilan spesimen

Untuk pemeriksaan mikroskopik urine, harus dipakai spesimen yang segar,

ditampung dalam wadah kering dan bersih.Dalam hal ini, spesimen urine porsi tengah
(midstream) yang paling baik dipakai (lihat bagian 7.1.1). Urine yang disimpan dalam kulkas
dapat mengimdung ekses endapan garam, kurang baik kalau dipakai untuk
pemeriksaanmikroskopik. Untuk pemeriksaan mikroskopik endapan urine, spesimen dapat
diawetkan dengan menambahkan 8-10 tetes larutan formaldehid 10% (reagen no. 28) per 300 ml

urine. Spesimen urine yang diawetkan dengan cara ini tidak bisa lagi dipakai tintuk pemeriksaan
lainnya.

Pembuatan preparat
1. Kocok spesimen urine perlahan-lahan dan tuangkan kira-kira sebanyak 11 ml ke dalam
tabung centrifuge.
2. Spesimen ini kemudian disentrifugasi pada kecepatan sedang (2000g) selama 5 menit.
3. Tuangkan supernatan, dengan membalikkan tabung secara cepat (jangan dik?cok),
ke_dalam tabung lain. (Supernatan ini dapat dipakai untuk uji biokimiawi.)
4. Suspensikan kembali endapan yang tersisa dengan menambahkansedikit akuades, kocok
hingga homogen.
5. Ambil setetes endapan dengan pipet Pasteur dan taruh pada kaca objek, lalu tutup dengan
penutup kaca objek.
6. Labeli kaca objek tersebut, dengan menuliskan nama pasien atau nomor identifikasi.
Dapat terlihat preparat dibawah mikroskop
Eritrosit (Gbr. 7.9)
Eritrosit dalam urine mungkin saja:

intak: cakram kecil kekuningan, tepinya lebih gelap (8 'Ilm);


menyusut (crenated): tepinya berduri, diametemya mengecil (5-6Ilm);
membengkak: cakram tipis, diameter membesar (9-10 Ilm).

Bentuk eritrosit sering kali berubah pada spesimen urine yang disimpan, tetapi hal

ini tidak memiliki makna diagnostik. Normalnya, urine hanya mengandung beberapa eritrosit.
Catatan: Eritrosit dapat ditemukan dalam urine perempuan kalau spesimen diambil
sewaktu menstruasi.
Leukosit (Gbr. 7.10)
Leukosit dalam urine mungkin saja:

intak: cakram jernih dan granuler, diameter 10-15 Ilm (inti mungkin terlihat);
berdegenerasi: bentuknya berubah, menyusut, granuia lebih sedikit;
pus: kelompokan sel-sel yang berdegenerasi.

Ditemukannya banyak leukosit dalam urine, terutama berkelompok,

mengindikasikan infeksi saluran kemih.

Pelaporan jumlah eritrosit dan leukosit yang ditemukan dalam endapan urine,dengan cara
teteskan endapan urine pada kaea objek dantutup dengan penutup kaea objek. Dengan
objektif x40, periksa deposit tersebut dan hitung banyaknya eritrosit dan leukosit per
lapangan pandang. Laporkan hasilnya seperti yang disajikan pada Tabel

Pelaporan jumlah eritrosit


Jumlah eritrosit perlapangan

Hasil

pandangan
0-10
10-30

Beberapa eritrosit (normal)


Ditemukan dalam jumlah

sedang
Ditemukan erittrosit dalam

>30

jumlah banyak
Pelaporan jumlah leukosit

Jumlah eritrosit perlapangan

Hasil

pandangan
0-10

Ditemukan beberapa leukosit

10-20

(normal)
Ditemukan dengan jumlah

20-30

sedang
Ditemukan dengan jumlah

20-30

banyak
Ditemukan banyak kelompok

(berdegenerasi,berkelompok)
>30 berkelompok

leukosit
Leukosit memenuhi keseluruhan
lapangan pandang

Sel pelvis renolis don ureter (Gbr. 7.11)

Sel-sel oval berukuran sedang, intinya tampakjelas.Kalau ditemukan banyak sel,

bersama-sama dengan leukosit dan filamen, sel-sel tersebut mungkin berasal dari ureter. Kalau
hanya ditemukan beberapa sel, sel-sel tersebut mungkin berasal dari pelvis renalis.
Sel ginjol (Gbr. 7.1'2)

Sel ginjal lebih keeil dibandingkan sel pelvis renalis (seukuran 1-2 leukosit) dan

sll.ngat granuler. Intinya berkilau dan tampakjelas. Di dalam urine, sel ginjal ini hampir selalu
ditemukan bersama-sama dengan protein.
Silinder

Silinder urine berbentuk silindris dan panjang, ditemukan hampir pada

keseluruhan lapangan pandang (padapengamatan dengan objektif x40) .Silinder hialin bening
dan agak berkilau; kedua ujungnya membulat atau meruncing (Gbr. 7.13). Silinder ini dapat
ditemukan pada orang sehat, sehabis melakukan aktivitas fisik yang berilt, dan ticiak memiliki
makna diagnostik. Silinder gran'uler lebih pendekdibandingkan silinder hialin, berisi granulagranula besar berwarna kuning pucat, dengan kedua ujungnya membulat (Gbr. 7.14), Granulagranula ini berasal dari sel epitel tubulus ginjal yang berdegenerasi dan tidak memiliki makna
diagnostic

Silinder granuler halus (Gbr. 7.15) memiliki granula-granula yang lebih keeil dan

tidak mengisi seluruh bagian silinder (a). Silinder ini harus dibedakan dengan silinder hialin,
yang tertutup sebagian oleh kristal fosfat amorf (b). Silinder darah (eritrosit) berisi banyak
ataupun beberapa eritrosit yang berdegenerasi, berwarna keeokelatan (Gbr. 7.16). Silih.der ini
ditemukan pada penyakit ginjal akut. Silinder pus (leukosit) (Gbr 7.17) seluruh bagiannya terisi
leukosit (a). Silinder ini harus dibedakan dengan silinder hialin, yang bisa saja mengandung
beberapa leukosit (b). SiEnder pus ditemukan pad a pasien infeksi g.i njal yang berat . 'Silinder
epitel berisi sel-sel epitel berwarna kuning pucat (Gbr. 7.18). (Agar sel-sel ini terlihat lebih jelas,
tambahkan setetes larutan asam asetat 10% (reagen no. 2) pada endapan.) Silinder epitel ini tidak

memiliki makna diagnostik. Silinder lemak merupakan silinder yang sangat berkilau dan
berwarna kekuningan; tepinya berlekuk-lekuk dan kedua ujungnya membulat (Gbr. 7.19).
Silinder ini la rut dalam eter, tetapi tidaklarut dalam asam asetat. Silinder lemak ditemukan pada
pasien penyakit ginjal yang berat. Silinder "palsu" (Gbr.7.20). Unsur-unsur berikut harus
dibedakan dengan silinder:
kelompokan kristal fosfat, ukurannya pendek dan terpotong rata (a); agregat mukus yang
bening, ujung-ujungnya meruncing seperti benang (b)

Kristal (Gbr. 7.22)

Kristal merupakan bentuk geometrik yang beraturan (a), tidak seperti debris

amorf, yang tersusun dari kelompokankelompokangr anula kecil dan berbentuk ireguler. (b).
Kristal urine tidak memiliki makna diagnostik, kecuali pada beberapa penyakit yang sangat
langka.

Endapan kristal yang normal Ko/sium oks%t (do/am urine osom) [Gbr. 7.23) .
Ukuran: 10-20 ~m (a) atau sekitar 50 ~m (b).
Bentuk: seperti amplop (a) atau seperti kacang (b) .
Warna: tidak berwarna, sangat berkilau.
Asom urat (do/am urine asom) [Gbr. 7.24]
Ukuran: 30-150 ).Im.
Bentuk: bervariasi (persegi, seperti intan, kubus, atau seperti mawar).

Warna: kuning ataumerah-kecokelatan.

Tripe/ fosfat (do/am urine neutral atau basal [Gbr. 7.25)


Ukuran : 30-150 J.lm.

Bentuk: segiempat (a) ata\} seperti daun pakis/bintang (b).


Warna: tidak berwarna, berkilau.
Urat (do/am urine basal (Gbr. 7.26)
Ukuran: sekitar 20 J.lm.
Bentuk: seperti kaktus (a) atau bundelan jarum (b).
Warna: kuning, berkilau.
Kristall.irat sering ditemukan bersama-sama dengan kristal fasfat.
Kalsium fosfat (da/am urine neutral atau basal (Gbr, 7.27)
Ukuran : 30-40 J.lm.
Bentuk: seperti bintang.
Warna : tidak berwarna.
Ka/sium karbonat (do/am urine neutral atau basal (Gbr. 7.28)
Ukuran: sangat keeil.

Bentuk: seperti biji padi atau jagung, berpasangan


Warna: tidak berwarna.
Penambahan larutan asam asetat 10% (reagen no. 2) akan melarutkan kristal sehingga
menimbulkan gelembung gas.
~als;um sulfaf (dalam urine asamJ (Gbr. 7.29)

Ukuran: 50-100 !-lm.


Bentuk: seperti prisma panjang atau bilah pisau, sol iter atau berkelompok. Dengan
mengukur pH urine, Anda dapat membedakan antarakristal kalsium sulfat dan kristal
kalsium tosfat.
Fosfat omorf (do/am urine baso) (Gbr. 7.30)

Fosfat amorfterlihat sebagai butiran-butiran keeil, berwarna keputihan, sering kali

tersebaL
Unsur ini larut dalam larutan asam asetat 10% (reagen no. 2) (satu tetes per satu tetes
endapan).
Urot omorf (d%m urine asom) (Gbr. 7.31)

Urat amorf terlihat sebagai butiran-butiran yang sangat keeil, berw.arna

kekuningan, tersusun dalam kelompokan kelompokan padat. Unsur ini tidak larut dalam larutan
as am asetat 10% (reagen no. 2), tetapi dapat larut kalau urine dipanaskan sebentar. (Urine yang
disimpan di dalam kulkas sering kali mengandimg banyak endapan urat.)
Endapan kristallainnya

Kristal-kristal berikut ini jarang ditemukan dalam urine. N amun, kristal-kristal ini

banyak ditemukan pada urine pasien penyakit tertentu.


Sistin (d%m urine asom) (Gbr. 7.32)
Ukuran: 30-60 !-lm.
Bentuk: lempengan heksagonal.
Warna: tidak berwarna, sangat berkilau.

Kristal sistin hanya ditemukanpada urine "segar" karena kristal ini larut dalam amoniiL

Kristal ini ditemukan pada pasien sistinuria, penyakit herediter yang sangat
langka.

Ko/esterol (do/am urine asom) (Gbr. 7.3;3)


Ukuran: 50-100 ~m.
Bentuk: lempengan persegi, dengan gerigi-gerigi pada salah satu sisinya.

Warna: tidak berwarna, berkilau.


Kristal kolesterol ditemukan pada urine pasien sindrom nefrotik.
Bilirubin (songot longko) (Gbr. 7.34)
Ukuran: sekitar 5 ~m .
Bentuk: persegi, seperti manik-manik, atau jarum.
Warna: cokelat.
Kalau kristal ini pitemukan dalam urine, uji kimiawi terhadap pigmen empedu
memberikan hasil positif.
Asetilsu/fonomid (do/am urine neutral otou osom)
Bentuk: bervariasi, tetapi seringnya seperti bundelanjarum .Kristal asetil sulfonamid
ditemukan pada urine pasien yang mengosumsi obat sulfonamid. Kristal ini dapat
menyebabkan kerusakan ginjal sehingga harus dilaporkan setiap kali ditemukan dalam
urine.
Jamur (Gbr. 7.35)
Ukuran: 5-12 ~m .
Bentuk: badan-badan oval atau bulat dengan ukuran bervariasi, ditemukan pada satu
lapangan pandang. Unsur ini harus dibedakan dengan eritrosit. Pertunasan mungkinjuga
terlihat. Jamur tidak larut dalam asam asetat dan kadang-kadang ditemukan dalam urine
yang ~ngandung glukosa. Jamur hanya dapat ditemukan pada spesimen urine "segar'.
telur dan larva parasit
Unsur-unsur parasit berikut dapat ditemukan dalam urine:

telur Schistosoma haematobium: ditemukan bersama-sama dengan eritrosit (Gbr. 7.36);

mikrofilaria Wuchereria bancrofti (lihat Gbr. 4.121): urine tampak


berwarna putih dan keruh.

BAB III

PENUTUP
3.1 Kesimpulan

Dengan menggunakan prosedur baik dan benar serta pengetahuan tentang

pengambilan spesimen urine, kita dapat mengetahui kandungan dan kelainan yang terdapat
dalam urine sehingga kita dapat lebih cepat mencegah dan menanggulanginya.

Pada proses pengambilan spesimen urine harus mempersiapkan alat-alatnya

dengan lengkap dan memberikan penjelasan tentang hal-hal yang akan dilakukan bila pasien
sadar serta mengetahui dengan baik tentang tata cara pelaksanaannya.
3.2.Saran

Daftar pustaka

Gandasoebrata R, 2008. Penuntun laboratorium klinik. Dian Rakyat,Jakarta.

Lehninger AL. 1982. Dasar-Dasar Biokimia Jilid 1. Suhartono MT, penerjemah.Jakarta:

Erlangga.
Sloane E. 2004. Anatomi dan Fisiologi untuk Pemula. Penerbit Buku. Jakarta: Penerbit

Buku Kedokteran EGC.


2011. Pedoman interpretasi Data klinik