Anda di halaman 1dari 4

NAMA NIM MATA KULIAH

: ANI NURHAYATI : 1211305013 : HUKUM INTERNASIONAL

ANALISIS TRANSISI MASYARAKAT INTERNASIONAL DAN PENGARUHNYA TERHADAP HUKUM INTERNASIONAL

Masyarakat internasional bertransisi di indkatori oleh tiga hal yaitu : 1. Peta Bumi Politik / Geopolitik Masyarakat Internasional mengalami berbagai perubahan yang besar dan pokok ialah perbaikan peta bumi politik yang terjadi terutama setelah Perang Dunia II. Proses ini sudah dimulai pada permulaan abad XX mengubah pola kekuasaan politik di dunia. Timbulnya negara-negara baru yang merdeka, berdaulat dan sama derajatnya satu dengan yang lain terutama sesudah Perang Dunia. Apabila dikaitkan dengan hukum internasional, Sebagai contoh :

Negara-negara yang sudah merdeka atau berdaulat bisa ikut dalam perjanjian internasional, contohnya : a. Perjanjian antara Republik Indonesia dengan RRC (Republik Rakyat Cina) pada tahun 1955 tentang penyelesaian dwikenegaraan. b. Perjanjian antara Indonesia dengan Muangthai tentang garis batas Laut Andaman di sebelah utara Selat Malaka pada tahun 1971. c. Perjanjian ekstradisi antara Republik Indonesia dan Malaysia pada tahun 1974. d. Perjanjian antara Republik Indonesia dan Australia mengenai pertahanan dan keamanan wilayah kedua Negara pada tanggal 16 Desember 1995.

Kekuasaan laut, misalnya saja indonesia sebelum merdeka berdasar Ordonantie (UU Belanda) 1939, yaitu penentuan lebar laut sepanjang 3 mil laut dengan cara menarik garis pangkal berdasarkan garis air pasang surut atau countour pulau / darat. Ketentuan ini membuat Indonesia bukan sebagai negara kesatuan, karena pada setiap wilayah laut terdapat laut bebas yang berada di luar wilayah yurisdiksi nasional. Berbeda halnya Setelah Indonesia merdeka berdasar Deklarasi Juanda, 13 Desember 1957 , yaitu

Cara penarikan batas laut wilayah tidak lagi berdasarkan garis pasang surut (low water line), tetapi pada sistem penarikan garis lurus (straight base line) yang diukur dari garis yang menghubungkan titik - titik ujung yang terluar dari pulau-pulau yang termasuk dalam wilayah RI. Penentuan wilayah lebar laut dari 3 mil laut menjadi 12mil laut. Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) sebagai rezim Hukum Internasional, di mana batasan nusantara 200 mil yang diukur dari garis pangkal wilayah laut Indonesia. Dengan adanya Deklarasi Juanda, secara yuridis formal, Indonesia menjadi utuh dan tidak terpecah lagi.

Nasionalisasi Nasionalisasi secara harfiah diartikan sebagai usaha pengambilalihan asset oleh Negara berdasarkan motif politik atau ekonomi. Contoh :

Nasionalisasi asset migas Iran pasca revolusi 1979, dengan pembentukan NIOC (National iran oil company), dilakukan dengan pembayaran kompensasi kepada perusahaan pemilik sebelumnya (inggris-amerika konsorsium).

Nasionalisasi asset migas Qatar tahun 1974 dengan pembentukan QGPC dan mengambilalih 100% resources migas Negara.

Nasionalisasi asset migas Indonesia ditahun 1960 dengan pengambilalihan asset Shell melalui pembayaran kompensasi sebesar 110 juta dolar. Berbarengan juga dengan pengambilalihan asset stanvac dan caltex. Hasil akhir dari proses ini adalah PSC term yang berlaku sekarang dimana Negara berhak atas 80% dari nett profit (atau +/- 60% dari gross revenue)

Nasionalisasi asset migas Bolivia dengan mengambilalih 51% sharing migas dan menegosiasi ulang kontrak kerjasama migas dengan menaikkan keuntungan Negara menjadi 54% dari total revenues. Sampai sejauh ini tidak ada respon negative dari Kontraktor, kecuali ancaman petrobras untuk memperkarakan Bolivia jika Negara ini menaikkan harga ekspor gas (Brasil dan Argentina adalah dua Negara tujuan utama ekspor gas Bolivia)

Nasionalisasi asset migas Venezuela dengan pembayaran kompensasi kepada Kontraktor dan menegosisasi ulang kontrak kerjasama migas dengan menaikkan sharing pemerintah menjadi minimal 60%. Respon positif didapat dari Total (yang bersedia menerima kompensasi sebesar USD 834 juta), ENI (kompensasi USD 700 juta) dan Statoil (USD 266 juta) sementara respon negative didapat dari Exxon mobil yang menolak kompensasi USD 715 juta dan meminta USD 2 milyar. Penolakan Exxonmobil berbuah pembekuan asset migas venezuela sampai saat ini.

2. Kemajuan Teknologi

Kemajuan teknologi ini mempunyai akibat yang besar sekali terhadap perkembangan masyarakat Internasional dan hukum Internasional. Kemajuan teknik dalam berbagai alat perhubungan menambah mudahnya perhubungan yang melintasi batas negara. Kemajuan teknologi persenjataan menimbulkan berbagai masalah baru dan keharusan meninjau kembali ketentuan mengenai hukum perang contohnya Israel dengan persenjataan Nuklirnya. Negara Israel memiliki pembangkit nuklir di bagian selatan kota Dimona, di gurun Negev, dan diyakini memiliki persenjataan dengan hulu nuklir yang luar biasa. Program nuklir militer dan produksi hulu ledak nuklir oleh rezim Zionis Israel merupakan ancaman serius bagi keamanan dan perdamaian dunia. Negara-negara dunia telah lama mengkhawatirkan program nuklir ilegal Israel dan kini kekhawatiran itu juga dirasakan oleh Barat. Sehingga munculah perjanjian pelarangan penyebaran persenjataan nuklir tersebut karena di khawatirkan akan memicu adanya perang. Seperti yang diketahui bahwa Iran yang dipersenjatai dengan nuklir merupakan masalah keamanan yang dihadapi oleh negara Israel. Hal tersebut juga berlaku untuk untk wilayah ruang angkasa. Dimana Pada permulaan awal November 1963, majelis umum menerima sesuatu resolusi mengenai pelucutan senjata (res.1149-Xll) yang berisikan kepeduliannya atas bahaya penggunaan angkasa luar untuk tujuan militer. Kemudian dalam semangat yang sama, majelis umum pada tanggal 17 oktober 1973 menerima resolusi yang meminta Negara-negara anggota untuk tidak menempatkan di orbit benda-benda yang membawa senjata nuklir atau senjata pemusnah missal lainnya. Perkembangan teknologi dan akibatnya mau tidak mau harus di ikuti dan dilayani oleh para sarjana ilmu hukum Internasional.

3. Struktur Masyarakat Internasional

Perubahan dalam struktur organisasi masyarakat internasional ini sangat penting karena berlainan dengan kedua golongan perubahan yang tersebut terdahulu dan tidak kurang peliknya, karna mempunyai akibat langsung terhadap struktur masyarakat internasional yang didasarkan atas negara yang berdaulat. Perkembangan yang penting dalam golongan ini adalah timbulnya berbagai organisasi atau lembaga internasional yang mempunyai eksistensi terlepas dari negara-negaranya diantaranya yaitu PBB, ASEAN, NATO, OKI. Dipihak lain, ada perkembangan yang memberikan kompetensi hukum kepada para individu dalam beberapa hal tertentu. Kedua gejala ini menunjukan bahwa disamping mulai terlaksananya satu masyarakat internasional dalam arti yang benar dan efektif berdasarkan asas kedaulatan, kemerdekaan dan persamaan derajat antar negaranegara. Sehingga dengan demikian terjelma hukum internasional sebagai hukum koordinasi, timbul suatu kompleks kaidah yang lebih memperhatikan ciri ciri hukum subordinasi. Kita menyaksikan suatu proses pemusatan kekuasaan dan wewenang pada organisasi - organisasi internasional lepas dari negara-negara sehingga masyarakat internasional kini tidak lagi identik dengan masyarakat antarnegara. Perkembangan ini sangat menarik karena mempunyai akibat bagi sistematik pembahasan hukum internasional.