Anda di halaman 1dari 64

GAMBARAN KENAIKAN KADAR HEMOGLOBIN POST TRANSFUSI DENGAN MENGGUNAKAN WHOLE BLOOD (WB) DAN PACKED RED CELL

(PRC) DI RS. IBNU SINA MAKASSAR PERIODE 1 JANUARI 31 DESEMBER 2011

KARYA TULIS ILMIAH Diajukan Guna Memenuhi Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar Sarjana Kedokteran OLEH : A. Koneng Pratiwi (110 209 0023) A. Fajar Apriani (110 209 0106)

PEMBIMBING: dr. Sri Julyani, M.Kes, Sp.PK dr. Irna Diyana. K

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA MAKASSAR 2012 1

ABSTRAK Andi Koneng Pratiwi dan Andi Fajar Apriani, Gambaran Kenaikan Kadar Hemoglobin Post Transfusi dengan Menggunakan Whole Blood dan Packed Red Cell di RS. Ibnu Sina Makassar Periode 1 Januari 31 Desember 2011 Selama Bulan September- November 2012, dibimbing oleh Sri Julyani dan Irna Diyana Kartika (xiii + 50 Halaman + 12 Tabel + 3 Gambar + Lampiran) Latar belakang : Transfusi adalah suatu proses pemindahan darah atau komponen darah dari seseorang (donor) ke orang lain (resipien) yang bertujuan untuk menggantikan atau menambah komponen darah yang hilang. Komponen darah yang dapat digunakan untuk menaikkan kadar hemoglobin yaitu whole blood dan packed red cell (PRC). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan kadar hemoglobin pasien post transfusi dengan menggunakan whole blood dan packed red cell di RS. Ibnu Sina Makassar Periode 1 Januari 31 Desember 2011 Metode Penelitian : Metode yang digunakan adalah deskriptif dengan desain penelitian cross-sectional. Data yang di ambil adalah data sekunder, kemudian diolah dengan menggunakan Microsoft Excel. Hasil penelitian : Dari hasil penelitian didapatkan bahwa kenaikan kadar Hb terendah yaitu 0,1 g/dl, dan kenaikan kadar Hb tertinggi yaitu 3,5 g/dl, dimana nilai tersebut adalah interval kenaikan kadar Hb, yang didasarkan pada jumlah rata-rata dari selisih kenaikan pre dan post transfusi dengan pembagi dua sehingga diperoleh interval angka 0,1 1,75 dan 1,76 3,5 g/dl. Pasien dengan transfusi whole blood (WB) mengalami peningkatan kadar Hb 0 1,75 g/dl sebanyak 80 % dan mengalami peningkatan Hb sebesar 1,76 3,5 g/dl sebanyak 20 %. Pasien dengan transfusi packed red cell (PRC) mengalami peningkatan kadar Hb 0 1,75 g/dl sebanyak 30 % dan mengalami peningkatan kadar Hb sebesar 1,76 3,5 g/dl sebanyak 70 %. Hal ini menunjukkan bahwa pasien yang ditransfusikan dengan menggunakan PRC mengalami kenaikan kadar Hb yang lebih tinggi dibandingkan dengan pasien yang ditransfusikan dengan menggunakan whole blood. Kesimpulan : Kenaikan kadar Hb pasien post transfusi dengan menggunakan PRC lebih tinggi dibandingkan dengan pasien post transfusi dengan menggunakan whole blood. Kata Kunci : Kadar Hemoglobin, Post Transfusi, Whole Blood, Packed Red Cell Sumber : 21 kepustakaan (1988-2011)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penulisan karya tulis ilmiah ini sebagai salah satu syarat menyelesaikan studi preklinik di Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia. Keberhasilan penyusunan karya tulis ilmiah ini adalah berkat bimbingan, kerja sama serta bantuan moril dan materiil dari berbagai pihak yang telah diterima penulis sehingga segala rintangan yang dihadapi selama penelitian dan penyusunan karya tulis ilmiah ini dapat terselesaikan dengan baik. Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih dan memberikan penghargaan yang setinggi-tingginya secara tulus dan ikhlas kepada yang terhormat : 1. Ayahanda Pimpinan Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia Prof.dr.H. Syarifuddin Wahid, Ph.D, Sp.PA (K), DFM, Sp.F beserta jajarannya. 2. DR. dr. Hj. Siti Maisuri T. Chalid, Sp.OG(K) selaku Wakil Dekan I Fakultas Kedokteran UMI 3. Ibunda Dr.dr.Sri Vitayani, Sp.KK selaku koordinator Karya Tulis Ilmiah atas arahan dan bimbingannya dalam penyempurnaan karya tulis ini. 4. Ibunda dr. Sri Julyani, M.Kes, Sp.PK dan ibunda dr. Irna Diyana K. selaku pembimbing yang dengan kesediaan, keikhlasan dan kesabaran meluangkan

waktunya untuk memberikan bimbingan dan arahan kepada penulis mulai dari penyusunan proposal sampai pada penulisan karya tulis ilmiah ini. 5. Ayahanda dr. Moch. Erwin, M.Kes selaku penguji dalam ujian proposal penelitian ini yang telah banyak memberi masukan kepada penulis. 6. Kakanda dr. Edward Pandu Wiriansya selaku sekretaris blok KTI yang senantiasa memberikan bimbingan kepada penulis untuk menyelesaikan karya tulis ilmiah ini. 7. Seluruh Dosen dan Staf Tata Usaha Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia. 8. Kepala RS. Ibnu Sina Makasssar yakni Prof. dr. Husni Tanra, Ph.D beserta jajarannya yang selama penelitian ini berlangsung telah membantu peneliti. 9. Keluarga besar FK UMI khususnya saudara-saudara seperjuangan dan senasib Angkatan 2009 (Hypoglossus) yang dalam suka maupun duka telah menemani penulis selama ini, khususnya teman-teman yakni Muthmainnah, Yunita Purnamasari, Dian Vebyanti, Sigit Dwi Pramono, Andi Tri Sutrisno, Dzul Ikram dan Nur Aisyah yang telah berjuang bersama-sama menuntut ilmu. 10. Semua pihak yang terkait dalam membantu proses penyelesaian karya tulis ilmiah ini. Teristimewa buat kedua orangtua tercinta serta seluruh keluarga yang telah memberikan semangat, memfasilitasi dan mengiringi langkah penulis dengan dukungan moril dan materil serta doa restu sehingga penulis dapat menyelesaikan

karya tulis ilmiah ini. Semoga amal dan budi baik dari semua pihak mendapatkan pahala dan rahmat yang melimpah dari Allah SWT. Sebagai manusia biasa, penulis menyadari sepenuhnya akan keterbatasan baik dalam penguasaan ilmu maupun pengalaman penelitian, sehingga karya tulis ilmiah ini masih jauh dari dari kesempurnaan. Untuk saran dan kritik yang sifatnya memmbangun dari berbagai pihak sangat diharapkan demi

penyempurnaan karya tulis ilmiah ini. Akhirnya penulis berharap semoga karya tulis ilmiah ini memberikan manfaat bagi semua pembaca. Amin

Makassar,

Desember 2012

Penulis

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ................................................................................... LEMBAR PERSETUJUAN ....................................................................... LEMBAR PENGESAHAN ........................................................................ ABSTRAK ................................................................................................... KATA PENGANTAR ................................................................................. DAFTAR ISI ................................................................................................ DAFTAR TABEL ....................................................................................... DAFTAR GAMBAR ................................................................................... DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................... BAB I 1.1 1.2 1.3 1.4 BAB II 2.1 2.2 2.3 2.4 2.5 PENDAHULUAN Latar Belakang .............................................................................. Rumusan Masalah ........................................................................ Tujuan Penelitian .......................................................................... Manfaat Penelitian ........................................................................ TINJAUAN PUSTAKA Tinjauan Umum tentang Hemoglobin .......................................... Dasar Dasar Transfusi ............................................................... Komponen Komponen Darah .................................................... Kerangka Teori ............................................................................. Kerangka Konsep .........................................................................

i ii iv v vi ix xi xii xiii

1 4 4 5

6 7 17 23 24

BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 3.2 3.3 3.4 3.5 3.6 3.7 Jenis Penelitian ............................................................................. Lokasi dan Waktu Penelitian ........................................................ Populasi dan Sampel Penelitian .................................................... Definisi Operasional dan Kriteria Objektif .................................. Pengumpulan Data ........................................................................ Pengolahan dan Analisis Data ...................................................... Etika Penelitian ............................................................................. 25 25 25 26 28 28 28

BAB IV GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 4.2 BAB V 5.1 5.2 5.3 Gambaran Umum Rumah Sakit Ibnu Sina ................................... Sarana dan Prasarana Rumah Sakit .............................................. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Sampel Penelitian ............................................ Hasil Penelitian ............................................................................. Pembahasan .................................................................................. 37 40 43 30 32

BAB VI PENUTUP 6.1 6.2 Kesimpulan ................................................................................... Saran ............................................................................................. 46 46 48

DAFTAR PUSTAKA .................................................................................. LAMPIRAN

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Indikasi Transfusi Darah Tabel 3.1 Batas Normal Kadar Hemoglobin Tabel 4.1 Sarana Gedung Rumah Sakit Ibnu Sina Tabel 4.2 Fasilitas Tempat Tidur Rawat Inap Rumah Sakit Ibnu Sina Tabel 4.3 Data Ketenagaan Rumah Sakit Ibnu Sina YW - UMI Tabel 5.1 Distribusi Frekuensi dan Persentasi Sampel Berdasarkan Umur Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi dan Persentasi Sampel Berdasarkan Jenis Kelamin Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi dan Persentasi Sampel Berdasarkan Diagnosis Penyakit Tabel 5.4. Distribusi Frekuensi dan Persentasi Sampel Berdasarkan Golongan Darah Tabel 5.5 Distribusi Peningkatan Kadar Hb Post Transfusi Whole Blood Tabel 5.6 Distribusi Peningkatan Kadar Hb Post Transfusi Packed Red Cell Tabel 5.7 Perbandingan Peningkatan Kadar Hb Post Transfusi dengan Menggunakan Whole Blood dan Packed Red Cell

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Kerangka Teori Gambar 2.2 Kerangka Konsep Gambar 4.1 Rumah Sakit Ibnu Sina YW UMI Makassar

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Lampiran 2 Lampiran 3 Lampiran 4

Biodata Penulis Berita Acara Ujian Proposal Karya Tulis Ilmiah Surat Izin dan Disposisi Pengambilan Data Penelitian Data Induk Penelitian Microsoft Excel

10

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sejak diterimanya transfusi sebagai cara pengobatan, pengertian bahwa darah mengalir di dalam sistem sirkulasi dan ruang intravaskuler dapat diisi cairan dari luar tubuh, perkembangannya lambat. Transfusi itu sendiri dikerjakan pertama kali pada tahun 1667. Kemudian selama Perang Dunia pertama dan sesudahnya, barulah transfusi sebagai alat pengobatan berkembang pesat.1 Menurut Peraturan Pemerintah No. 18 tahun 2002, definisi transfusi adalah suatu proses pemindahan darah atau komponen darah dari seseorang (donor) ke orang lain (resipien). Darah yang digunakan adalah darah manusia atau bagian-bagiannya yang diambil dan diolah secara khusus untuk tujuan pengobatan dan pemulihan kesehatan. Penyumbang darah adalah semua orang yang memberikan darah untuk maksud dan tujuan transfusi darah.2 Sekitar 92 juta donor darah dikumpulkan per tahun dari pendonor di seluruh dunia, baik yang berupa sukarelawan, dari pihak keluarga maupun donor bayaran. Kira-kira setengah dari jumlah ini berasal dari negara-negara maju.3 Berdasarkan data dari WHO 2008, secara universal terjadi

ketidakseimbangan dalam hal akses transfusi yang aman, antara negara-negara maju dan negara-negara berkembang. Empat puluh delapan persen dari 91.8 juta donor darah berasal dari negara-negara berpenghasilan tinggi. Empat puluh tiga negara-negara di benua Afrika dilaporkan mengumpulkan kurang lebih 4 juta unit kantong darah atau sama dengan 4.3 % dari jumlah total transfusi global.

11

Sedangkan Amerika Serikat, Cina, India, Jepang, Jerman, Rusia, Italia, Perancis, Korea Selatan dan Inggris menyumbangkan 65 % dari total donor darah global. Delapan puluh dua negara-negara lainnya dilaporkan hanya terdapat kurang dari 10 kasus transfusi per 1000 populasi, yang seluruhnya merupakan negara-negara dengan penghasilan rendah atau menengah, dimana 39 negara tersebut diantaranya terletak di Afrika, 9 negara di benua Amerika, 7 negara di Mediterania timur, 8 negara benua Eropa, 12 negara terletak di Pasifik Barat dan 7 negara Asia Tenggara.3 Transfusi darah merupakan salah satu bagian penting pelayanan kesehatan modern. Bila digunakan dengan benar, transfusi dapat menyelamatkan jiwa pasien dan meningkatkan derajat kesehatan. Keputusan melakukan transfusi harus selalu berdasarkan penilaian yang tepat dari segi klinis penyakit dan hasil pemeriksaan laboratorium4. Komponen darah yang biasa ditransfusikan ke dalam tubuh seseorang adalah sel darah merah, trombosit, plasma, sel darah putih. Transfusi darah bertujuan untuk menggantikan atau menambah komponen darah yang hilang atau terdapat dalam jumlah yang tidak mencukupi.5 Dalam garis besarnya, transfusi darah diberikan atas dasar untuk mengembalikan dan mempertahankan volume normal peredaran darah, misalnya oligemia karena pendarahan, trauma bedah atau kombustio, untuk mengganti kekurangan komponen seluler atau kimia darah, misalnya, trombositopenia, hipoprotrombonemia, hipofibrinogenemia, leukemia dan anemia.6

12

Pengaturan volume plasma tergantung kepada keseimbangan antara pengambilan cairan dan kehilangan cairan, serta penyebaran cairan tubuh. Setelah penggantian volume darah dalam jumlah besar, hemoglobin (Hb) resipien akan menggambarkan Hb donor. Untuk mendapatkan jumlah darah yang diperlukan untuk meningkatkan Hb pasien sampai nilai tertentu dapat dipakai rumus sebagai berikut5: V. darah res. Normal x Hb yang diinginkan V. Donor V. Donor = Hb. darah donor = volume darah donor yang diperlukan.

V. darah res. normal = vol. darah resipien yang normal (70-80 ml/ kg). Hb Hb whole blood Hb packed red cells = kadar hemoglobin dalam g/dl. (= g%). = 10 - 13 g/dL = 18 - 23 g/dL.7

Penggunaan darah untuk transfusi hendaknya selalu dilakukan dengan cara rasional dan efisien yaitu dengan memberikan hanya komponen darah / derivat plasma yang dibutuhkan saja. Misalnya, whole blood digunakan untuk

meningkatkan jumlah eritrosit dan volume plasma dalam waktu yang bersamaan, seperti pada pendarahan aktif dengan kehilangan darah lebih dari 25 30 % volume darah total, sedangkan packed red cell digunakan untuk meningkatkan jumlah sel darah merah pada pasien yang menunjukkan gejala anemia, yang hanya memerlukan sel darah merah pembawa oksigen saja, misalnya pada pasien gagal ginjal atau anemia karena keganasan.8

13

Kurangnya data mengenai perbandingan jumlah sel darah merah post transfusi dengan menggunakan komponen-komponen darah yang berbeda-beda serta indikasi pemberian dari masing-masing komponen darah tersebut, khususnya di Kota Makassar ini, merupakan alasan dilakukannya penelitian ini. Berdasarkan latar belakang di atas, maka peneliti tertarik untuk meneliti perbandingan kenaikan kadar hemoglobin post transfusi dengan menggunakan Whole Blood dan Packed Red Cell di RS. Ibnu Sina Periode 1 Januari 31 Desember 2011. 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka penulis membuat rumusan masalah sebagai berikut : Bagaimanakah Gambaran kenaikan Kadar Hemoglobin Post Transfusi dengan Menggunakan Whole Blood dan Packed Red Cell di RS. Ibnu Sina Makassar Periode 1 Januari 31 Desember 2011 ? . 1.3 Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Mengetahui peningkatan kadar hemoglobin pasien post transfusi dengan whole blood dan packed red cell di RS. Ibnu Sina Makassar Periode 1 Januari 31 Desember 2011. 2. Tujuan Khusus a. Mengetahui peningkatan kadar Hb post transfusi whole blood pada pasien yang dirawat di RS Ibnu Sina periode 1 Januari-31 Desember 2011

14

b.

Mengetahui peningkatan kadar Hb post transfusi packed red cell pada pasien yang dirawat di RS Ibnu Sina periode 1 Januari-31 Desember 2011

c.

Mengetahui perbedaan perbandingan kadar Hb post transfusi dengan menggunakan whole blood dan packed red cell di RS. Ibnu Sina periode 1 Januari 31 Desember 2011

1.4 Manfaat Penelitian Manfaat yang diharapkan dapat dicapai dalam penelitian ini adalah 1. Manfaat ilmiah Sebagai bahan referensi yang sangat berharga dalam menambah khasanah literatur studi tentang gambaran peningkatan kadar Hb post transfusi dengan menggunakan WB dan PRC di RS Ibnu Sina 2. Bagi peneliti Penelitian ini diharapkan dapat menambah pengalaman dan pengetahuan bagi penulis tentang gambaran peningkatan kadar Hb post transfusi dengan menggunakan WB dan PRC di RS Ibnu Sina 3. Bagi Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia Makassar Memberikan informasi dan pengembangan keilmuwan khususnya

gambaran peningkatan kadar Hb post transfusi dengan menggunakan WB dan PRC di RS Ibnu Sina 4. Bagi masyarakat Membuka wawasan masyarakat tentang peningkatan kadar Hb post transfusi dengan menggunakan WB dan PRC

15

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Umum tentang Hemoglobin Hemoglobin (Hb) adalah suatu protein yang kompleks yang tersusun dari protein globin dan senyawa non protein yaitu hem. Satu molekul hem

mengandung satu atom besi demikian juga satu protein globin yang hanya dapat mengikat satu molekul hem. Sebaliknya satu molekul hemoglobin terdiri atas empat buah kompleks globin dengan hem. Jadi, dalam tiap molekul hemoglobin terkandung empat atom besi. Hemoglobin berada didalam eritrosit yang berfungsi untuk mengikat oksigen di paru-paru dan melepaskan oksigen tersebut ke seluruh tubuh.9 Hemoglobin merupakan protein yang terdapat di dalam sel darah merah (SDM) dan berfungsi antara lain untuk mengikat dan membawa oksigen dari paru paru ke seluruh jaringan tubuh, mengikat dan membawa CO2 dari seluruh jaringan tubuh ke paru paru, memberi warna merah pada darah, dan mempertahankan keseimbangan asam-basa tubuh.10 Hemoglobin merupakan protein tetramer kompak yang setiap

monomernya terikat pada gugus prostetik Hem dan dan keseluruhannya mempunyai berat molekul 64.450 Dalton. Darah mengandung 7.8 11.2 mMol hemoglobin monomer 8/L (12,6 18.4 gr/dL), tergantung pada jenis kelamin dan umur individu.10 Penetapan kadar hemoglobin dalam darah secara kuantitatif dengan menggunakan metode Cyanmethemoglobin.10

16

Kadar Hb = Ru / Rs x konsentrasi standar (gr %) = g %

Keterangan : Ru
=

Reagent / absorban yang di ukur

Rs = Reagent / absorban standar Nilai hemoglobin normal berdasarkan umur dan jenis kelamin adalah 11 : Bayi baru lahir Enam bulan sampai enam tahun Lima tahun sampai 14 tahun Perempuan dewasa Laki-laki dewasa 2.2 Dasar-Dasar Transfusi Darah Transfusi ialah suatu proses pemindahan darah atau komponen darah dari seseorang (donor) ke orang lain (resipien).4 Transfusi darah merupakan pedang bermata dua, yang jika diberikan dengan tepat akan dapat menyelamatkan penderita, tetapi jika salah diberikan dapat menimbulkan efek samping yang disebut reaksi transfusi bahkan dapat menimbulkan kematian.12 2.2.1 Indikasi Transfusi darah Secara umum, dari beberapa panduan yang telah dipublikasikan, tidak direkomendasikan untuk melakukan transfusi profilaksis dan ambang batas untuk melakukan transfusi adalah kadar hemoglobin dibawah 7,0 atau 8,0 g/dL, kecuali untuk pasien dengan penyakit kritis.13 : 12-24 gr/dL : 10-15 gr/dL : 11-16 gr/dL : 12-16 gr/dL : 13.5-18 gr/dL

17

Transfusi diberikan untuk mengatasi anemia, menambah volume darah, atau memperbaiki imunitas. Namun, komponen normal dari membran eritrosit seseorang dapat memicu terbentuknya kompleks antigen-antibodi yang merusak tubuh pasien. Transfusi dilakukan terutama pada keadaan sebagai berikut: oxygencarrying capacity yang tidak adekuat, ketidakcukupan peran faktor pembekuan agar tercapai hemostasis yang adekuat, serta terdapatnya manifestasi perdarahan akibat trombositopenia.4 Keadaan oxygen-carrying capacity yang tidak adekuat dapat ditemukan pada anemia dan perdarahan. Namun, pada beberapa keadaan transfusi tidak dibutuhkan pada pasien anemia dengan kondisi stabil, mempunyai faktor resiko minimal atau tanpa disertai gejala-gejala tambahan. Ciri-ciri pasien keadaan oxygen carrying capacity yang tidak adekuat adalah denyut jantung >100x/menit, respirasi >30x/menit, keluhan pusing, lemah badan, dan nyeri dada.4 Dalam garis besarnya, transfusi darah diberikan atas dasar6 : 1. Untuk mengembalikan dan mempertahankan volume normal peredaran darah, misalnya oligemia karena pendarahan, trauma bedah atau kombustio 2. Untuk mengganti kekurangan komponen seluler atau kimia darah, misalnya anemia, trombositopenia, hipoprotrombonemia, hipofibrinogenemia, dan lainlain.

18

Keadaan anemia yang memerlukan transfusi darah adalah4: 1. Anemia karena pendarahan. Biasanya diambil batas Hb 7-8 gr %. Bila Hb telah turun sampai 4.5 gr %, maka penderita tersebut telah sampai dalam fase yang membahayakan, dan transfusi darah harus dilakukan secara hati-hati. 2. Anemia hemolitik Biasanya kadar Hb dipertahankan sampai batas penderita dapat mengatasi diri umumya kadar Hb sekitar 5 gr %. Hal ini untuk menghindari seringnya transfusi darah. 3. Anemia aplastik, leukemia, dan anemia refrakter 4. Anemia karena sepsis 5. Anemia pada orang yang akan mengalami operasi 6. Anemia pada kehamilan yang dekat dengan saat melahirkan Transfusi rasional diartikan sebagai pemilihan produk darah yang tepat, jumlah darah yang dibutuhkan adalah tepat, dan diberikan bagi pasien yang tepat. Penggunaan darah dan komponen darah yang rasional dan tepat dibutuhkan untuk menjamin ketersediaan darah serta menghindari resiko terpaparnya penyakit yang dapat ditularkan melalui transfusi.4 Oleh karena itu indikasi transfusi darah harus diketahui dengan baik. Indikasi pemberian transfusi darah lengkap atau komponen darah dapat dilihat pada tabel berikut ini4:

19

Tabel I : Indikasi Transfusi Darah Jenis Darah Whole Blood (WB) Indikasi 1. WB tidak diindikasikan untuk

pemakaian rutin 2. WB dapat diberikan pada keadaan tertentu (trauma ledakan), dimana

komponen tidak tersedia Eritrosit Gangguan oksigenasi jaringan akibat

penurunan kapasitas pengangkutan oksigen disirkulasi Trombosit 1. Pasien trombositopenia dengan

perdarahan aktif 2. Pasien dengan gangguan fungsi

trombosit dimana terapi lain tidak Plasma efektif Pasien trombositopenia yang akan invasif,

mengalami

prosedur/tindakan

pengganti defisiensi satu atau lebih faktor koagulasi bila faktor tunggal tidak tersedia. Sumber : dikutip dari kepustakaan4

20

2.2.2 Persiapan Transfusi Darah Persiapan transfusi adalah tahapan dalam layanan transfusi yang kurang mandapat perhatian. Padahal tahapan ini juga berperan penting, dan apabila dilaksanakan dengan baik dan benar, akan dapat menghindari atau mengurangi efek yang tidak diinginkan.4 Dalam persiapan transfusi ada beberapa tahapan, yaitu4: 1. Permintaan darah 2. Penyediaan darah 3. Pendistribusian darah 4. Persediaan sesaat sebelum pemberian transfusi 2.2.3 Prosedur Transfusi Darah Transfusi darah harus melalui prosedur yang ketat untuk mencegah efek samping (reaksi transfusi) yang dapat timbul. Prosedur itu adalah12: 1. Penentuan golongan darah ABO dan Rh. Baik donor maupun resipien harus memiliki golongan darah yang sama. 2. Pemeriksaan untuk donor terdiri atas: a. Penapisan (screening) terhadap antibodi dalam serum donor dengan tes antiglobulin indirek (tes Coombs indirek) b. Tes serologi untuk hepatitis (B&C), HIV, sifilis (VDRL) dan CMV 3. Pemeriksaan untuk resipien terdiri atas: a. Major side cross match: serum resipien diinkubasikan dengan RBC donor untuk mencari antibodi dalam serum resipien. b. Minor side cross match: mencari antibodi dalam serum donor.

21

4. Pemeriksaan klerikal (identifikasi): Memeriksa dengan teliti dan mencocokkan label darah resipien dan donor. Reaksi transfusi berat sebagaian besar timbul akibat kesalahan identifikasi (klerikal) 5. Prosedur pemberian darah, yaitu: a. Hangatkan darah perlahan-lahan b. Catat nadi, tensi, suhu, dan respirasi sebelum transfusi c. Pasang infus dengan infus set darah (memakai alat penyaring) d. Pertama diberi larutan NaCl fisiologik e. Pada 5 menit pertama pemberian darah, beri tetesan pelan-pelan, awasi adanya urtikaria,bronkospasme, rasa tidak enak, dan mengigil. Selanjutnya awasi tensi, nadi, suhu dan respirasi 6. Kecepatan transfusi, yaitu: a. Untuk pasien hipovolemi beri tetesan cepat b. Normovolemi beri 500 ml/6 jam c. Pada anemia kronik,penyakit jantung dan paru beri tetesan perlahanlahan 500ml/24 jam atau beri diuretika (furosemid) sebelum transfusi. 2.2.4 Komplikasi Transfusi Darah Reaksi yang dapat ditimbulkan akibat transfusi darah disebut sebagai reaksi transfusi. Reaksi transfusi darah ini dapat dibedakan atas reaksi cepat, reaksi lambat dan penularan penyakit infeksi.12,14,15

22

1.

Reaksi segera (immediate reactions), yaitu: a. Reaksi Hemolitik Reaksi hemolitik akibat lisis eritrosit donor oleh antibodi resipien. Reaksi ini dapat terjadi segera atau lambat. Reaksi segera yang mengancam jiwa berkaitan dengan hemolisis intravaskuler masif terjadi akibat antibodi yang mengaktifkan komplemen dari kelas IgM atau IgG, biasanya dengan spesialitas ABO. Reaksi yang berhubungan dengan hemolisis ekstravaskuler (misalnya antibodi imun Rh yang tidak mampu mengaktifkan komplemen) biasanya bersifat lebih ringan tetapi masih dapat mengancam jiwa.14 b. Reaksi Febril (febril reaction) Peningkatan suhu dapat disebabkan oleh antibodi leukosit, antibodi trombosit atau senyawa pirogen. Untuk menghindarinya, dapat dilakukan uji cocok silang antara leukosit donor dengan serum resipien pada pasien yang mendapat transfusi leukosit. Pemberian Prednisone 50 mg atau lebih sehari atau 50 mg kortison oral setiap 6 jam selama 48 jam sebelum transfusi dapat mencegah demam akibat transfusi.13 c. Reaksi Anafilaksis Risiko meningkat sesuai dengan kecepatan transfusi. Sitokin dalam plasma merupakan salah satu penyebab bronkokonstriksi dan vasokonstriksi pada resipien tertentu.15 Selain itu, defisiensi IgA dapat menyebabkan reaksi anafilaksis sangat berat. Reaksi ini terjadi dalam beberapa menit awal transfusi dan ditandai dengan syok (kolaps kardiovaskular), distress pernapasan dan tanpa demam.

23

Anafilaksis dapat berakibat fatal bila tidak ditangani dengan cepat dan agresif.15,16 d. Edema Paru Karena Volume Overload Kelebihan cairan menyebabkan gagal jantung dan edema paru. Hal ini dapat terjadi bila terlalu banyak cairan yang ditransfusikan, transfusi terlalu cepat, atau penurunan fungsi ginjal. Kelebihan cairan terutama terjadi pada pasien dengan anemia kronik dan memiliki penyakit dasar kardiovaskular.12 2. Reaksi lambat (delayed reaction), yaitu: a. Reaksi hemolitik lambat Reaksi hemolitik lambat timbul 5-10 hari setelah transfusi dengan gejala dan tanda demam, anemia, ikterik dan hemoglobinuria. Reaksi hemolitik lambat yang berat dan mengancam nyawa disertai syok, gagal ginjal dan Disseminated Intravascular Coagulation (DIC) jarang terjadi. Pencegahan dilakukan dengan pemeriksaan laboratorium antibodi sel darah merah dalam plasma pasien dan pemilihan sel darah kompatibel dengan antibodi tersebut.16,17 b. Purpura pasca transfusi Purpura pasca transfusi merupakan komplikasi yang jarang tetapi potensial membahayakan pada transfusi sel darah merah atau trombosit. Hal ini disebabkan adanya antibodi langsung yang melawan antigen spesifik trombosit pada resipien. Gejala dan tanda yang timbul adalah perdarahan dan adanya trombositopenia berat akut 5-10 hari setelah transfusi yang biasanya terjadi bila hitung trombosit <100.000/uL. Penatalaksanaan

24

penting terutama bila hitung trombosit kurang atau sama dengan 50.000/uL dan perdarahan yang tidak terlihat dengan hitung trombosit 20.000/uL. Pencegahan dilakukan dengan memberikan trombosit yang kompatibel dengan antibodi pasien.1,16,17 3. Penularan Penyakit Infeksi Pendonor mungkin membawa agen-agen penyakit infeksi di dalam darahnya, kadang-kadang tanpa memperlihatkan gejala-gejala dan tandatanda penyakit yang nyata. Penyakit-penyakit yang bisa ditularkan melalui transfusi diantaranya adalah HIV-1 dan HIV-2. HTLV-1 dan HTLV-2, Hepatitis B dan C, sifilis, penyakit Chagas, malaria, dan Sitomegalovirus.18 Resiko penularan penyakit infeksi melalui transfusi darah bergantung pada berbagai hal, antara lain prevalensi penyakit di masyarakat,

keefektifan skrining yang digunakan, status imun resipien dan jumlah donor tiap unit darah. Saat ini dipergunakan model matematis untuk menghitung risiko transfusi darah, antara lain untuk penularan HIV, virus hepatitis B dan C, dan virus human T-cell lymphotropic (HTLV). Model ini berdasarkan fakta bahwa penularan penyakit terutama timbul pada saat window period (periode segera setelah infeksi dimana darah donor sudah infeksius tetapi hasil skrining masih negatif ).1,13,16,17,18 2.2.5 Aferesis Aferesis dalam bidang Hematologi-Onkologi merupakan suatu tindakan pengambilan/pengumpulan komponen darah tertentu melalui penyadapan darah dengan mengembalikan komponen darah lainnya ke tubuh seseorang

25

menggunakan alat separasi sel. Tujuan tindakan aferesis ini adalah untuk mengambil sebagian komponen darah untuk diberikan pada orang lain (aferesis donor), atau mengurangi jumlah komponen darah yang berlebihan di dalam tubuh (aferesis terapeutik). Walaupun mula-mula digunakan untuk tujuan terapi, dalam perkembangannya sekarang aferesis lebih penting lagi untuk memperoleh komponen darah bagi transfusi (aferesis donor). Jenis tindakan pada aferesis dapat berupa cytaferesis (eritrositaferesis, lekaferesis, trombaferesis), plasmaferesis, dan prosedur transplantasi sel asal darah perifer (PBSCT).19 Tujuan utama tindakan aferesis adalah mengeluarkan hanya sebagian komponen darah, bisa berupa sel atau plasma saja. Dalam pengawasan yang baik, prosedur aferesis adalah tindakan yang aman.19 Komplikasi yang dapat terjadi berhubungan dengan vascular access, perubahan hemodinamik, problem mekanik berkaitan dengan instrumentasi, deplesi, komponen sel dan plasma, reaksi terhadap cairan dan plasma, reaksi terhadap cairan pengganti (termasuk antikoagulan), reaksi alergi,dan infeksi. Efek samping yang paling sering terjadi pada prosedur aferesis adalah hipokalsemia dengan gejala yang timbul berupa kesemutan bibir dan jari tangan, dada rasa tertekan, dan pandangan gelap.19 Kontraindikasi seseorang untuk menjadi donor aferesis antara lain adalah bila calon donor memiliki nilai hemoglobin (Hb)/hematokrit (Ht), lekosit, trombosit, dan albumin dibawah normal; golongan ABO/Rhesus tidak cocok, atau cross matching memberi hasil positif; darah donor terbukti mengandung HbsAg/antiHCV/HIV/VDRL/malaria, berat badan kurang, usia anak-anak atau

26

usia

tua,

menderita

penyakit

serius

(jantung/paru/ginjal

dan

lainnya).

Kontraindikasi prosedur aferesis terapeutik untuk seorang pasie adalah bila ada gangguan hemodinamik yang nyata atau keadaan umum sudah tidak baik lagi.19 2.3 Komponen-Komponen Darah 2.3.1 Darah Lengkap (Whole Blood) Darah lengkap ini berisi sel darah merah, leukosit, trombosit, dan plasma. Satu unit kantong darah lengkap berisi 450 mL darah dan 63 mL antikoagulan. Di Indonesia, 1 kantong darah lengkap berisi 250 mL darah dengan 37 mL antikoagulan, ada juga yang 1 unit kantong berisi 350 mL darah dengan 49 mL antikoagulan. Suhu simpan antara 10- 60 Celcius. Satu unit darah (250-450 ml) dengan antikoagulan sebanyak 15 ml/100ml darah.8 Dilihat dari masa penyimpanannya, maka whole blood dapat dibagi menjadi 2, yaitu darah segar (fresh blood), yaitu darah yang disimpan kurang dari 6 jam, masih lengkap menngandung trombosit dan factor pembeku, serta darah yang disimpan (stored blood), yaitu darah yang sudah disimpan lebih dari 6 jam.12 Darah dapat disimpan sampai dengan 35 hari. Pada darah simpan kandungan trombosit dan sebagian faktor pembeku (terutama faktor labil) sudah menurun jumlahnya.12 1. Indikasi Terdapat hanya beberapa keadaan klinis yang memerlukan transfusi darah lengkap. Darah lengkap harus dicadangkan untuk pendarahan medis atau bedah yang parah, misalnya selama pendarahan saluran makanan yang cepat atau pada trauma mayor saat diperlukan pemulihan daya angkut oksigen, volume, dan faktor

27

pembekuan. Bahkan pada syok hemoragik, kombinasi sel darah merah dan larutan kristaloid atau koloid biasanya efektif. Pada keadaan darurat, pergantian volume secara cepat biasanya mendahului penggantian sel darah merah dan cairan resusitasi bebas sel harus digunakan apabila jenis darah resipien sedang ditentukan. Bila defisit sel darah merah kritis, diindikasikan pemberian sel darah merah tipe O atau untuk spesifik tipe yang tidak dicocokkan terlebih dahulu.20 Darah lengkap berguna untuk meningkatkan jumlah sel darah merah dan volume plasma dalam waktu yang bersamaan, misalnya pada pendarahan aktif dengan kehilangan darah lebih demikian, pemberian darah dari 25-30 % volume darah total. Namun

lengkap pada keadaan tersebut hendaklah tidak

menjadi pilihan utama karena pemulihan segera volume darah pasien lebih penting daripada penggantian sel darah merah atau transfusi yang masih memerlukan waktu.8 2. Kontraindikasi Darah lengkap sebaiknya tidak diberikan pada pasien dengan anemia kronik yang normovolemik atau yang bertujuan meningkatkan sel darah merah.8 3. Dosis dan Cara Pemberian Dosis tergantung keadaan klinis pasien8. Menurut teori, satu unit darah lengkap pada orang dewasa akan meningkatkan Hb sekitar 0.5 0.6 g/dL4. Pada anak-anak, darah lengkap 8 mL/kg akan meningkatkan Hb sekitar 1 g/dL. Pemberian darah lengkap sebaiknya melalui filter darah dengan kecepatan tetesan tergantung keadaan klinis pasien, namun setiap unitnya sebaiknya diberikan dalam 4 jam.8

28

2.3.2 Sel Darah Merah Pekat (Packed Red Cell / PRC) Sel darah merah pekat merupakan komponen yang terdiri dari eritrosit yang telah dipekatkan dengan memisahkan komponen-komponen yang lain

sehingga mencapai hematokrit 70-80%, yang berarti menghilangnya 125-150 ml plasma dari satu unitnya6. PRC merupakan pilihan utama untuk anemia kronik karena volumenya yang lebih kecil dibandingkan dengan whole blood12. Setiap unit PRC mempunyai volume kira-kira 128-240 mL, tergantung pada volume kadar Hb donor dan proses separasi komponen awal. Dari volume tersebut, diperkirakan mengandung plasma 50 mL (20-150 mL), mempunyai hematokrit antara 50-56%, mengandung hemoglobin 42,5-80 g/dL dan kandungan Fe dalam hemoglobinnya 147-287 mg4. Packed Cells yang dibuat khusus di dalam kantong plastik pada saat segera setelah donasi darah diputar secara khusus sehingga terpisah dari komponenkomponen lainnya, jauh lebih baik dan lebih tahan lama disimpan. Sedangkan Packed Cells yang dibuat dengan cara pengendapan darah didalam botol lalu bagian plasmanya disedot keluar tidak menghasilkan komponen yang ideal karena sudah terbuka resiko kontaminasi pada waktu penghisapan. Waktu

penyimpanannya hanya sampai 24 jam didalam alat pendingin darah6. Transfusi PRC diberikan dengan maksud untuk memperbaiki pengiriman oksigen kejaringan yang membutuhkan. Sering ditemukan pasien dengan kadar Hb 7 g/dl akan tetapi suplai oksigen ke jaringan dinilai adekuat. Hal ini dapat terjadi karena terdapatnya respons terhadap keadaan anemia berupa adaptasi fisiologis seperti peningkatan cardiac output, perubahan viskositas darah,

29

perubahan aliran darah ke arteri koroner maupun otak. Namun hal ini tidak terjadi pada pasien berusia lanjut yang disertai anemia, penyakit jantung dan paru-paru. Oleh karena itu transfusi PRC dibutuhkan bagi pasien tersebut pada kadar Hb > 7g/dl.4 Pada tahun 2004, The New York State Departement Of Health memperbaharui pedoman pemberian transfusi PRC untuk kadar Hb yang lebih konservatif. Pedoman tersebut memuat kebijakan bahwa tranfusi PRC hanya diberikan bila terdapat indikasi secara klinis dan bersifat individual. Pedoman pemberian transfusi PRC yang rasional diberikan pada perdarahan akut karena pembedahan, trauma atau karena perdarahan, transfusi perioperatif, anemia kronis, dan kondisi- kondisi khusus. 1. Indikasi Indikasi mutlak pemberian Packed Red Cells (PRC) adalah bila Hb penderita 5 gr%5. Sel darah merah pekat ini digunakan untuk meningkatkan jumlah sel darah merah pada pasien yang menunjukkan gejala anemia, yang hanya memerlukan massa sel darah merah pembawa oksigen saja misalnya pada pasien dengan gagal ginjal atau anemia karena keganasan.8 Rekomendasi transfusi sel darah merah secara rasional yang merupakan rekomendasi Unit Pengkajian Teknologi Kesehatan Dirjen Yanmedik Departemen Kesehatan RI yaitu21 : a. Transfusi diindikasikan pada kadar Hemoglobin (Hb) <7 g/dl, terutama pada anemia akut. Jika pasien asimptomatik dan/atau ada terapi spesifik lainnya yang lebih tepat, maka batas kadar Hb yang lebih rendah dapat

30

diterima, misalnya anemia hemolitik autoimun dapat diterapi dengan steroid . b. Transfusi dapat dilakukan pada kadar Hb 7-10 g/dl apabila ditemukan tanda-tanda hipoksia atau hipoksemia yang ditemukan secara klinis (contoh gangguan kesadaran) dan laboratorium. c. Transfusi tidak dilakukan bila kadar Hb 10 g/dl, kecuali bila ada indikasi tertentu, misalnya penyakit yang membutuhkan kapasitas transport oksigen lebih tinggi (contoh: penyakit paru obstruktif kronik berat dan penyakit jantung iskemik berat). d. Transfusi pada neonatus dengan gejala hipoksia dilakukan pada kadar Hb 11 g/dL; bila tidak ada gejala batas ini dapat diturunkan hingga 7 g/. Jika terdapat penyakit jantung atau paru atau yang sedang membutuhkan suplementasi oksigen batas untuk memberi transfusi adalah Hb 13 g/dL Tujuan transfusi PRC adalah untuk menaikkan Hb pasien tanpa menaikkan volume darah secara nyata. Keuntungan menggunakan PRC dibandingkan

dengan darah jenuh diantaranya adalah menaikan Hb dapat diatur sesuai dengan yang diinginkan, mengurangi kemungkinan penularan penyakit, mengurangi kemungkinan reaksi imunologis, volume darah yang diberikan lebih sedikit

sehingga kemungkinan overload berkurang, dan komponen darah lainnya dapat diberikan pada pasien lain.5 2. Kontraindikasi Dapat menyebabkan hipervolemi jika diberikan dalam jumlah banyak dalam waktu singkat.8

31

3.

Dosis dan Cara pemberian Pada orang dewasa, 1 unit sel darah merah pekat akan meningkatkan Hb

sekitar 1 g/dL atau hematokrit 3-4%, sedangkan dosis pada neonatus dan anak biasanya diberikan 10-15 mL/kg, selama 2-3 jam akan meningkatkan sekitar 2-3 g/dL4. Pemberian sel darah ini harus melalui filter darah standar (170). Hematokrit yang tinggi dapat menyebabkan terjadinya hiperviskositas dan menyebabkan kecepatan transfusi menurun sehingga untuk mengatasinya maka diberikan salin normal 50-100ml sebagai pencampuran sediaan sel darah merah dalam CPD (citrate fosfat dekstrose) atau CPDA-1 (citrate fosfat dekstrose adenine) tetapi harus hati-hati karena dapat terjadi kelebihan beban.8 Jumlah PRC yang diperlukan untuk menaikkan Hb dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut5 : Jumlah PRC = Hb x 3 x BB

= selisih Hb yang diinginkan dengan Hb sebelum transfusi

BB = berat badan.5 Dosis transfusi darah didasarkan atas makin anemis seorang resipien, makin sedikit jumlah darah yang diberikan per et mal di dalam suatu seri transfusi darah dan makin lambat pula jumlah tetesan yang diberikan6. Di Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM Jakarta, dosis yang dipergunakan untuk menaikkan hemoglobin ialah dengan menggunakan modifikasi rumus empiris sebagai berikut6 : Kebutuhan darah (mL) = 6 x BB (kg) x kenaikan hemoglobin yang diinginkan

32

2.4 Kerangka Teori

Pasien dengan kadar Hemoglobin rendah transfusi Dilakukan transfusi

Transfusi dengan menggunakan whole blood

Transfusi dengan menggunakan Packed Red Cell

Peningkatan kadar hemoglobin

Umur Jenis Kelamin Diagnosis Penyakit Golongan Darah Jenis Sediaan Transfusi Jumlah Sediaan Darah yang Ditransfusikan

Keterangan :

= variabel yang tidak diteliti

= hubungan variabel yang diteliti

33

2.5 Kerangka Konsep

Transfusi dengan whole blood (darah lengkap) Kenaikan kadar Hb Transfusi dengan Packed Red Cell (PRC) (Hemoglobin)

Keterangan :

= variabel independen = variabel dependen = hubungan variabel yang diteliti

34

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan desain penelitian cross sectional, yang akan menggambarkan kadar hemoglobin (Hb) pasca transfusi dengan menggunakan Whole Blood (WB) dan Packed Red Cell (PRC) di RS. Ibnu Sina Makassar, yang dimaksudkan untuk mendeskripsikan data sebagaimana adanya. Data yang diperoleh dari hasil survey ini selanjutnya digambarkan berdasarkan tujuan yang ingin dicapai. 3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian 4. Lokasi Lokasi penelitian dilakukan di RS. Ibnu Sina Makassar 5. Waktu Penelitian Waktu penelitian terhitung dari 17 September 17 November 2012 3.3 Populasi dan Sampel 1. Populasi Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah semua pasien berdasarkan rekam medik telah melakukan transfusi WB dan PRC yang dirawat di RS Ibnu Sina periode 1 Januari 31 Desember 2011. 2. Sampel Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah semua pasien berdasarkan rekam medik telah melakukan transfusi WB dan PRC yang

35

dirawat di RS Ibnu Sina periode 1 Januari 31 Desember 2011 yang berjumlah sebanyak 35 orang. 6. Metode Sampling Teknik pengambilan sampel yang dilakukan adalah total sampling, yakni mengambil seluruh anggota populasi yang memenuhi kriteria sampel untuk dijadikan sampel penelitian. 7. Kriteria Sampel a. Seluruh rekam medik pasien transfusi darah yang tercatat di RS. Ibnu Sina Makassar perode 1 Januari 31 Desember 2011 b. Rekam medik yang memenuhi seluruh variabel yang diteliti. 8. Batasan Penelitian Dari jumlah sampel yang diperoleh berdasarkan rekam medik yaitu sebanyak 35 sampel, didapatkan bahwa usia temuda pasien yang dilakukan transfusi yaitu 17 tahun, dan usia tertua pasien transfusi yaitu 79 tahun. Berdasarkan umur pasien pada sampel ini, diketahui bahwa seluruh sampel yang didapatkan tergolong usia dewasa, dan tidak didapatkan pasien anakanak pada sampel ini. 3.4 Definisi Operasional dan Kriteria Objektif 1. Whole Blood (WB) Whole blood adalah darah lengkap yang berisi sel darah merah, leukosit, trombosit, dan plasma.

36

2. Packed Red Cell (PRC) Packed Red Cell adalah darah yang dipekatkan sehingga mencapai hematokrit 70-80% berarti menghilangnya 125-150 ml plasma dari satu unitnya. 3. Peningkatan Kadar Hemoglobin a. Whole Blood (WB) Satu unit darah lengkap akan meningkatkan kadar Hb : Orang dewasa Anak-anak b. Packet Red Cell (PRC) Satu unit komponen packed red cell akan meningkatkan kadar Hb : Orang dewasa Neonatus dan anak-anak : 1 g/dL : 2-3 g/dL : 0.5 0.6 g/dL : 1 g/dL

c. Selisih Kenaikan Kadar Hemoglobin Selisih kenaikan kadar Hemoglobin adalah nilai kenaikan kadar Hb sebelum dan setelah dilakukannya transfusi. Berdasarkan sampel yang diperoleh, diketahui bahwa kenaikan kadar Hb terendah yang didapatkan setelah transfusi pada sampel yaitu sebesar 0,1 g/dl dan tertinggi yaitu sebesar 3,5 g/dl. Angka tersebut merupakan interval kenaikan kadar Hb yang didasarkan pada jumlah rata-rata dari selisih kenaikan pre dan post transfusi dengan pembagi dua sehingga diperoleh interval angka 0,1 1,75 dan 1,76 3,5 g/dl.

37

3.5

Pengumpulan Data Data yang dikumpulkan adalah data sekunder. Data sekunder diperoleh

berdasarkan semua rekam medik pasien yang telah menjalani transfusi darah pada periode 1 Januari 31 Desember 2011. 3.6 Pengolahan dan Analisis Data Data yang telah disunting kemudian diolah menggunakan analisis deskriptif. Analisis deskriptif berfungsi untuk meringkas, mengklasifikasikan, dan menyajikan data. Analisis ini merupakan langkah awal untuk melakukan analisis dan uji statistik lebih lanjut. Data yang dikumpulkan diolah dengan menggunakan Microsoft Excel kemudian disajikan dalam bentuk tabel secara deskriptif. 3.7 Etika Penelitian Dalam melakukan penelitian, peneliti perlu membawa rekomendasi dari institusi oleh pihak lain dengan cara mengajukan permohonan izin kepada institusi/lembaga tempat penelitian yang dituju oleh peneliti. Setelah mendapat persetujuan, barulah peneliti dapat melakukan penelitian dengan menekankan masalah etika yang meliputi: 1. Tanpa nama (Anonimity) Kerahasiaan terhadap rekam medik yang dijadikan sampel dalam penelitian ini menjadi prioritas dengan cara tidak akan disebutkan namanya dalam hasil penelitian dan penamaan hanya dengan menggunakan kode.

38

2.

Kerahasiaan informasi (Confidentiality). Kerahasiaan informasi yang diberikan di rekam medik yang dijadikan

sampel dalam penelitian dijamin oleh peneliti.

39

BAB IV GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 GAMBARAN UMUM RUMAH SAKIT IBNU SINA Rumah sakit Ibnu Sina UMI merupakan Rumah Sakit Umum Swasta, yaitu eks Rumah Sakit 45 yang didirikan pada tahun 1988 berdasarkan Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan No. 6783/DK-

I/SK/TV.1/X/88, tanggal 05 Oktober 1988 dan pada hari senin tanggal 16 Juni 2003 telah dilakukan penyerahan kepemilikan dari Yayasan Andi Sose kepada Yayasan Wakaf UMI, yang ditanda tangani oleh Ketua Yayasan Andi Sose dan Ketua Yayasan Wakaf UMI Bapak Almarhum Prof. Dr. H. Abdurahman A. Basalamah SE, MSi. Berdasarkan atas Hak kepemilikan baru ini, maka nama Rumah Sakit 45 oleh Yayasan Wakaf UMI dirubah menjadi Rumah Sakit Ibnu Sina UMI.

Gambar 4.1. Rumah Sakit Ibnu Sina YW-UMI Makassar

40

Rumah Sakit Ibnu Sina YW-UMI dibangun diatas tanah 18.008 m2 dengan luas bangunan 12.025 m2, beralamat jalan Letnan Jenderal Urip Sumoharjo km 5 no. 264 Makassar, berdasarkan surat permohonan dari Yayasan Wakaf UMI Kepala Dinas Kesehatan Propinsi Sulawesi Selatan, menerbitkan surat izin uji coba penyelengaaan operasional Rumah Sakit bnu Sina YW-UMI pada tanggal 23 September 2003 No. 6703A/DK-IV/PTS-TK/2/IX/2003. Pada hari senin, tanggal 17 Mei 2004, Rumah Sakit bnu Sina YW-UMI diresmikan oleh Gubernur Sulawesi Selatan bapak H.M. Amin Syam, serta Rumah Sakit Ibnu Sina memperoleh Surat Izin penyelenggaraan Rumah Sakit dari departemen Kesehatan Republik Indonesia, berdasarkan keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. YM.02.04.3.5.4187, tanggal 26 September 2005. Sebagaimana diketahui bahwa Universitas Muslim Indonesia (UMI) sejak tahun 1991 telah memiliki Fakultas Kedokteran dan telah menghasilkan dokter umum, maka keberadaan Rumah Sakit bnu Sina YW-UMI akan lebih menambah dan melengkapi sarana/fasilitas pendidikan kedokteran, terutama pendidikan klinik bagi calon dokter umum dan calon dokter ahli. Dengan demikian diharapkan bahwa luaran dokter fakultas Kedokteran UMI pada masa mendatang akan lebih meningkatkan kualitas, keterampilan, dan ahlaq mulia serta memiliki integritas pengabdian yang tinggi bagi umat Islam dan masyarakat pada umumnya.

41

4.2 A.

SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT Gedung Rumah Sakit Ibnu Sina mempunyai luas tanah 18.008 m2 dengan luas gedung 12.025 m2. Tabel 4.1. Sarana Gedung Rumah Sakit Ibnu Sina No Nama Gedung 1 Gedung ICU, ICCU Kamar Operasi 2 Gedung Perawatan Administrasi 3 Gedung Poliklinik 2 lantai Umum, Poliklinik spesialis, Poliklinik Spesialis Konsultan 4 Gedung Perawatan 1 lantai 341.436 m2 808.04 m2 5 lantai 5.557 m2 Jumlah lantai Luas Lantai 1.085.28 m2

UGD, 2 lantai

Sumber : Profil rumah sakit Ibnu Sina tahun 2011

42

Fasilitas tempat tidur rawat inap terdiri dari 175 tempat tidur. Tabel 4.2. Fasilitas Tempat Tidur Rawat inap Rumah Sakit Ibnu Sina No 1 2 3 4 5 6 Kelas Kelas Super Vip Kelas Vip Kelas I A Kelas I B Kelas II B Kelas III Jumlah Kamar 2 17 9 28 8 9 73 Tempat Tidur 2 17 9 78 32 37 175 Presentase 1,14 % 9,71 % 5,14 % 44 % 18,2 % 21,1 % 100 %

Sumber : Profil rumah sakit Ibnu Sina tahun 2011 Fasilitas Tempat Tidur Bayi (Bassinet)=15 buah Bassinet. Fasilitas Tempat tidur ICU/ICCU = 10 buah tempat tidur. B. Keadaan Tenaga Kesehatan

Tabel 4.3. Data Ketenagaan Rumah Sakit Ibnu Sina YW-UMI No 1 2 3 4 5 Status Pegawai Pegawai Tetap Calon Pegawai Tetap (CPT) Honorer Tenaga Harian Lepas Tenaga Magang Total Sumber : Profil rumah sakit Ibnu Sina tahun 2011 Jumlah (orang) 88 7 158 123 15 391

43

Tabel 4.4. Ketenagaan Rumah Sakit Ibnu Sina Tahun 2011 No Kelompok/Unit Jumlah (Orang) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Dokter Spesialis Dokter Umum Perawat Bidan Bagian Rekam Medik Bagian Administrasi Medik Bagian Pelayanan Medik Apotek Laboratorium Radiology Fisioterapi / Rehabilitasi Medik Dapur / Gizi Teknisi Satpam Sopir Bagian Kesekretariatan Bagian Keuangan Bagian Akuntansi Bagian Rumah Tangga Bagian Pendidikan & Pembinaan Mental 31 9 165 16 16 5 4 18 13 7 3 30 13 20 7 6 12 3 9 3 Keterangan

44

21 22 23 24 25

Loundry Kamar Mayat K3 Bank Darah Petugas Lapangan Total

6 3 3 3 11 406 Pakarya

Sumber : Profil rumah sakit Ibnu Sina tahun 2011 C. Instalasi Rawat Jalan Instalasi Rawat Jalan adalah unit pelayanan yang menyediakan fasilitas dan menyelenggarakan kegiatan pelayanan rawat jalan dan terdiri dari Poliklinik Umum dan beberapa Poliklinik Spesialis dalam berbagai bidang disiplin ilmu kedokteran klinis. Poliklinik yang tersedia adalah : 1. Poliklinik Penyakit Dalam Pelayanan pada poliklinik penyakit dalam meliputi pelayanan rujukan penyakit dalam baik poliklinik umum, gawat darurat maupun rujukan dari luar Rumah Sakit Ibnu Sina. Termasuk penyakit kardiologi, penyakit paru-paru dan lain-lain. 2. Poliklinik Penyakit Bedah Memberkan pelayanan berbagai penyakit bedah yang meliputi Bedah Umum, Bedah Digestif, Bedah Tumor, Bedah Saraf, Bedah Orthopedi, Bedah Urologi, Bedah Plastik.

45

3. 4.

Poliklinik Penyakit Anak Poliklinik Kebidanan dan Penyakit Kandungan Memberikan pelayanan ibu hamil, Keluarga Berencana, penyakit kandungan, dan lain-lain.

5. 6. 7. 8. 9. 10. 11.

Poliklinik Penyakit Saraf Poliklinik Penyakit THT Poliklinik Penyakit Mata Poliklinik Penyakit Kulit dan Kelamin, serta Pelayanan Kosmetik Poliklinik Penyakit Gigi dan Mulut Poliklinik Konsultasi Gizi Poliklinik Umum Memberikan pelayanan rawat jalan kepada pasien umum, pegawai UMI, pegawai RS Ibnu Sina, pasien ASKES, pasien Jamkesmas, pasien mitra kerja.

46

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 5.1 Gambaran Umum Sampel Penelitian Setelah melakukan penelitian mengenai Perbandingan Kenaikan Kadar Hemoglobin Post Transfusi dengan Menggunakan Whole Blood dan Packed Red Cell (PRC) di RS. Ibnu Sina Makassar Periode 1 Januari 31 Desember 2011 yang dilakukan pada tanggal 17 September 17 November 2012, didapatkan jumlah sampel yang memenuhi kriteria yaitu sebanyak 35 sampel, yang terdiri dari 15 sampel whole blood dan 20 sampel Packed Red Cell (PRC). Berdasarkan sampel diatas, dapat ditentukan karateristik sampel berdasarkan umur, jenis kelamin, diagnosis, dan golongan darah sampel. Tabel 5.1. Distribusi Frekuensi dan Persentasi Sampel Berdasarkan Umur No. 1 2 3 Umur 0 14 tahun 15 49 tahun > 50 tahun Jumlah Sumber : Data Sekunder 2011 Berdasarkan tabel 5.1 diatas, diketahui bahwa jumlah sampel paling banyak berada pada umur > 50 tahun yaitu sebanyak 20 orang atau sebesar 57.14 % dari total sampel yang diperoleh, umur 15 49 tahun yaitu sebanyak 15 sampel atau sebesar 42.87 %, dan tidak didapatkan sampel pada golongan umur 0 14 tahun. Kategori Bayi & anak-anak Muda & dewasa Tua Frekuensi (N) 0 15 20 35 Persentase (%) 0 42.85 57.14 100

47

Tabel 5.2. Distribusi Frekuensi dan Persentasi Sampel Berdasarkan Jenis Kelamin No. 1 2 Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Jumlah Sumber : Data Sekunder 2011 Berdasarkan tabel 5.2 diatas, diketahui bahwa jumlah sampel paling banyak yaitu pasien berjenis kelamin wanita, yaitu sebanyak 23 sampel atau 65.71 % dari seluruh sampel yang didapatkan, sedangkan pasien berjenis kelamin laki-laki yaitu sebanyak 12 sampel atau 34.28 %. Tabel 5.3. Distribusi Frekuensi dan Persentasi Sampel Berdasarkan Diagnosis Penyakit No. 1 2 4 3 5 6 Neoplasma Pendarahan Akut Masif Penyakit Ginjal Anemia Kronik Trauma/pembedahan Kegawatdaruratan Obstetri Jumlah Sumber : Data Sekunder 2011 Diagnosis Frekuensi (N) 17 5 4 3 3 3 35 Persentase (%) 48.57 14.28 11.42 8.57 8.57 8.57 100 Frekuensi (N) 12 23 35 Persentase (%) 34.28 65.71 100

48

Berdasarkan tabel 5.3 diatas, dapat dilihat bahwa kasus neoplasma merupakan kasus terbanyak dilakukannya transfusi pada sampel ini, yaitu sebesar 17 sampel dari total 35 sampel yang diperoleh (48.57%), kasus dengan pendarahan akut yang masif sebanya 5 sampel (14.28%), penyakit-penyakit ginjal sebanyak 4 sampel (11.42%), sedangkan anemia kronik, kasus-kasus

trauma/pembedahan serta kasus kegawatdaruratan obstetric masing-masing sebanyak 3 sampel (8.57%). Tabel 5.4. Distribusi Frekuensi dan Persentasi Sampel Berdasarkan Golongan Darah No. 1 2 4 3 A B AB O Jumlah Sumber : Data Sekunder 2011 Berdasarkan tabel 5.4 diatas, dapat dilihat bahwa pasien yang memiliki golongan darah A merupakan sampel terbanyak dilakukannya transfuse pada penelitian ini, yaitu sebanyak 14 kasus (40%), diikuti pasien dengan golongan darah O, yaitu sebanyak 10 kasus (28.57%), golongan darah B yaitu sebesar 7 kasus (20%), dan paling sedikit yaitu yang bergolongan darah AB, sebanyak 4 kasus (11.42%). Golongan Darah Frekuensi (N) 14 7 4 10 35 Persentase (%) 40 20 11.42 28.57 100

49

5.2

Hasil Penelitian Setelah melakukan penelitian mengenai Perbandingan Kenaikan Kadar

Hemoglobin Post Transfusi dengan Menggunakan Whole Blood dan Packed Red Cell (PRC) di RS. Ibnu Sina Makassar Periode 1 Januari 31 Desember 2011 yang dilakukan pada tanggal 17 September 17 November 2012, didapatkan jumlah sampel yang memenuhi kriteria yaitu sebanyak 35 sampel, yang terdiri dari 15 sampel whole blood dan 20 sampel Packed Red Cell (PRC). Dari jumlah sampel diatas, diketahui bahwa kenaikan kadar Hb terendah yang didapatkan setelah transfusi pada sampel yaitu sebesar 0,1 g/dl, sedangkan kenaikan kadar Hb tertinggi yang diperoleh dari sampel diatas yaitu sebesar 3,5 g/dl. Angka tersebut merupakan interval kenaikan kadar Hb yang didasarkan pada jumlah rata-rata dari selisih kenaikan pre dan post transfusi dengan pembagi dua sehingga diperoleh interval angka 0,1 1,75 dan 1,76 3,5 g/dl. Berikut ini hasil penelitian yang telah dilakukan pengolahan data dengan menggunakan Microsoft Excel, dan hasilnya disajikan dalam bentuk tabel dan penjelasannya. Tabel 5.5 : Distribusi Peningkatan Kadar Hb Post Transfusi Whole Blood Mean Kadar Hb Sediaan Transfusi Pre Post N WB 8,96 10,05 12 % 80 N 3 % 20 N 15 % 100 Transfusi (gr/dl) 0 1,75 Selisih Kenaikan (gr/dl) 1,76 3,5 Total

Sumber : Data Sekunder 2011

50

Dari tabel 5.5 di atas dapat kita ketahui bahwa pasien yang mendapatkan transfusi whole blood (WB) mengalami peningkatan Hb 0 1,75 g/dl sebanyak 12 orang (80 %) sedangkan yang mengalami peningkatan Hb 1,76 3,5 g/dl sebanyak 3 orang (20 %). Dan nilai rata-rata kadar Hb sebelum ditransfusi yaitu 8,96 g/dl dan nilai rata-rata kadar Hb setelah ditransfusi adalah 10,05 g/dl. Tabel 5.6 : Distribusi Peningkatan Kadar Hb Post Transfusi Packed Red Cell Mean Kadar Hb Sediaan Transfusi Pre Post N PRC 6,88 9,09 6 % 30 N 14 % 70 N 20 % 100 Transfusi (gr/dl) 0 1,75 Selisih Kenaikan (gr/dl) 1,76 3,5 Total

Sumber : Data Sekunder 2011 Dari tabel 5.6 di atas dapat kita ketahui bahwa pasien yang mendapatkan transfusi packed red cell mengalami peningkatan Hb 0 1,75 g/dl sebanyak 6 orang (30 %) sedangkan yang mengalami peningkatan Hb 1,76 3,5 g/dl sebanyak 14 orang (70 %). Dan nilai rata-rata kadar Hb sebelum ditransfusi yaitu 6,88 g/dl dan nilai rata-rata kadar Hb setelah ditransfusi adalah 9.09 g/dl.

51

Tabel 5.7 : Perbandingan Peningkatan Kadar Hb Post Transfusi dengan Menggunakan Whole Blood dan Packed Red Cell Mean Kadar Hb Transfusi Sediaan Transfusi Pre Post Selisih N WB PRC 8,96 6,88 10,05 9,09 1,08 2,21 12 6 % 80 30 N 3 14 % 20 70 N 15 20 % 100 100 (gr/dl) Selisih Kenaikan (gr/dl) 0 1,75 1,76 3,5 Total

Sumber : Data Sekunder 2011 Dari tabel 5.7 di atas dapat kita ketahui bahwa pasien yang mendapatkan transfusi packed red cell (PRC) yang mengalami peningkatan Hb sebesar 0-1,75 g/dl lebih banyak yaitu 6 orang (30%) dibandingkan dengan yang mendapatkan transfusi whole blood yaitu 12 orang (80%), sedangkan untuk pasien yang mendapatkan transfusi packed red cell (PRC) yang mengalami peningkatan Hb sebesar 1,76-3,5 g/dl yaitu 14 orang (70%) dibandingkan dengan yang mendapatkan transfusi whole blood yaitu 3 orang (20%). Nilai rata-rata kadar Hb sebelum transfusi WB sebesar 8,96 g/dl, sedangkan PRC sebesar 6,88 g/dl. Nilai rata-rata kadar Hb setelah transfusi WB sebesar 10,05 g/dl, sedangkan PRC sebesar 9,09 g/dl. Nilai rata-rata kenaikan kadar Hb dengan menggunakan whole blood yaitu sebesar 1,08 g/dl, sedangkan nilai rata-rata kenaikan kadar Hb dengan menggunakan packed red cell yaitu sebesar 2,21 g/dl.

52

5.3

Pembahasan

5.3.1 Distribusi Peningkatan Kadar Hb Post Transfusi dengan Menggunakan Whole Blood Dari hasil penelitian di atas dapat kita ketahui bahwa pasien yang mendapatkan transfusi whole blood (WB) mengalami peningkatan kadar Hb 0 1,75 g/dl sebanyak 80 % sedangkan yang mengalami peningkatan Hb sebesar 1,76 3,5 g/dl sebanyak 20 %. Berdasarkan teori, satu unit whole blood pada orang dewasa akan meningkatkan Hb hanya sekitar 0,5 0,6 g/dL4 dan pada anak-anak, 8 mL/kg whole blood akan meningkatkan kadar Hb sekitar 1 g/dL saja8. Dapat dilihat bahwa kenaikan kadar Hb pada pasien-pasien yang ditransfusikan dengan menggunakan whole blood tidak mengalami kenaikan kadar Hb yang terlalu tinggi. Hal ini bisa disebabkan oleh pemberian sediaan whole blood dapat meningkatkan jumlah sel darah merah sekaligus volume plasma dalam waktu yang bersamaan, misalnya pada pendarahan aktif dengan kehilangan darah lebih dari 25-30 % volume darah total, sehingga kenaikan kadar Hb yang tercatat tidak terlalu signifikan8. 5.3.2 Distribusi Peningkatan Kadar Hb Post Transfusi dengan Menggunakan Packed Red Cell Berdasarkan tabel kenaikan kadar Hb dengan PRC diatas, dapat dilihat bahwa pasien yang mendapatkan transfusi dengan menggunakan packed red cell mengalami peningkatan Hb 0 1,75 g/dl sebanyak 30 % sedangkan yang mengalami peningkatan Hb sebesar 1,76 3,5 g/dl sebanyak 70 %. Menurut teori, pada orang dewasa 1 unit packed red cell akan meningkatkan kadar Hb sekitar 1

53

g/dL atau hematokrit sebesar 3-4%, dan pada neonatus dan anak biasanya diberikan 10-15 mL/kg, selama 2-3 jam akan meningkatkan sekitar kadar Hb sebesar 2-3 g/dL.4 Dapat dilihat bahwa kenaikan kadar Hb pada pasien-pasien yang ditransfusikan dengan menggunakan sediaan packed red cell mengalami kenaikan kadar Hb yang lebih tinggi. Hal ini dimungkinkan karena packed red cell mengandung konsentrasi hematokrit yang jauh lebih tinggi dan volume plasma yang kecil dibandingkan dengan whole blood, dimana PRC ini merupakan komponen yang terdiri dari eritrosit yang telah dipekatkan dengan memisahkan komponen-komponen yang lain sehingga mencapai hematokrit 70-80%, yang berarti menghilangnya 125-150 ml plasma dari satu unitnya.6 5.3.3 Perbandingan Peningkatan Kadar Hb Post Transfusi dengan

Menggunakan Whole Blood dan Packed Red Cell Dari hasil penelitian di atas, dapat dilihat bahwa pasien yang diberikan transfusi dengan menggunakan sediaan packed red cell (PRC) mengalami kenaikan kadar Hb post transfusi yang lebih tinggi dibandingkan dengan pasienpasien yang ditransfusi dengan menggunakan whole blood. Hal ini dapat dilihat dari persentase kenaikan kadar Hb post transfusi dengan sediaan packed red cell mengalami peningkatan Hb 0 1,75 g/dl sebesar 30 % saja, sedangkan yang mengalami peningkatan Hb 1,76 3,5 g/dl mencapai 70 %. Sebaliknya, pada pasien-pasien yang ditransfusikan dengan menggunakan whole blood,

peningkatan kadar Hb post transfusi mengalami peningkatan kadar Hb yang lebih rendah dibandingkan dengan yang menggunakan sediaan packed red cell, dimana peningkatan kadar Hb 0 1,75 g/dl sebanyak 80 % sedangkan yang mengalami

54

peningkatan kadar Hb 1,76 3,5 g/dl hanya sebesar 20 % saja. Hal ini sesuai dengan teori, yaitu kadar Hb seseorang yang ditransfusikan dengan menggunakan packed red cell mengalami kenaikan yang lebih tinggi dibandingkan dengan pasien-pasien yang ditransfusikan dengan menggunakan whole blood, dimana pada orang dewasa, 1 unit packed red cell akan meningkatkan kadar Hb sekitar 1 g/dL atau hematokrit 3-4%, dan pada neonatus dan anak biasanya diberikan 10-15 mL/kg, selama 2-3 jam akan meningkatkan sekitar 2-3 g/dL.4 Sedangkan dengan menggunakan sediaan whole blood, satu unitnya pada orang dewasa akan meningkatkan Hb hanya sekitar 0,5 0,6 g/dL,4 dan pada anak-anak, 8 mL/kg whole blood akan meningkatkan kadar Hb sekitar 1 g/dL saja.8

55

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang kami lakukan mengenai perbandingan kenaikan kadar hemoglobin post transfusi dengan menggunakan whole blood (WB) dan packed red cell (PRC) di RS. Ibnu Sina Makassar periode 1 Januari 31 Desember 2011, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : 1. Terjadi peningkatan kadar Hb pasien post transfusi whole blood 0 1,75 g/dl sebesar 80 % dan peningkatan kadar Hb 1,76 35 g/dl sebesar 20 %. 2. Terjadi peningkatan kadar Hb pasien post transfusi packet red cell 0 1,75 g/dl sebesar 30 % dan peningkatan kadar Hb 1,76 35 g/dl sebesar 70 %. 3. Mean selisih kadar Hb pre dan post transfusi PRC lebih tinggi yakni 2,21 gr/dl dibandingkan dengan menggunakan WB 1,08 gr/dl. 6.2 1. Saran Bagi para klinisi sebaiknya menggunakan Packed Red Cell (PRC) daripada Whole Blood (WB) dalam melakukan tranfusi karena berdasarkan hasil penelitian bahwa peningkatan kadar Hb lebih tinggi menggunakan PRC daripada WB. 2. Diharapkan bagi pihak rumah sakit menyediakan Whole blood (WB) dan Packed red cell (PRC) secara memadai untuk memenuhi permintaan transfusi darah yang semakin meningkat.

56

3.

Diharapkan bagi pihak rumah sakit pada bagian rekam medik untuk memperhatikan kelengkapan dan keseragaman pengisian data pada status penderita demi kepentingan pencatatan dan pelaporan tentang kadar Hb pasien post transfusi dengan menggunakan whole blood dan packet red cell.

57

DAFTAR PUSTAKA 1. Sudoyo W., Setiyohadi B., Alwi. I., Simadibahara M., Setiati S., Pencegahan dan Penanganan Komplikasi Transfusi Darah, dalam, Harmono M.T. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Edisi V, Jilid II, 2009, Jakarta : Interna Publishing, halaman 1198. 2. Departemen Kesehatan RI, Pedoman dan Pembinaan Pengawasan

Pelayanan Darah oleh Dinas Kesehatan. Jakarta : 2008. Direktorat Bina Pelayanan Medik Dasar, Direktorat Jenderal Bina Pelayanan Medik didapat dari URL : http://perpustakaan.depkes.go.id.pdf diakses pada 23 Maret 2012, halaman 5. 3. Blood Safety :Key Global Fact and Figures in 2011. Geneva : 2011. http://www.who.com.pdf diakses pada17 Maret 2012. 4. Dalimoenthe N. Z., Dasar-Dasar Transfusi Darah, Edisi 1, 2011, Bandung : Divisi Hematologi Klinik Departemen Patologi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran, halaman 52-53, 64-65,7175, 85. 5. Reksodiputro A.H.,, Tambunan K.L., Sudoyo A.W., 1994, Beberapa Masalah mengenai Transfusi Darah. CDK Darah. 95:14. 6. Hassan R., Alatas H., Latief A., Napitupulu P.M., Pudjiadi A., Ghazali M.V., Putra S.T., Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak 1, 2005, Jakarta : Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, halaman 483-484, 489.

58

7.

Rahardjo Kunto., 1988, Transfusi Darah: Beberapa Segi Yang Penting Untuk Klinikus. CDK.51:27.

8.

Sudoyo W., Setiyohadi B., Alwi I., Simadibahara M., Setiati S., Darah dan Komponen : Komposisi, Indikasi dan Cara Pemberian, dalam, Haroen Harlinda. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Edisi V, Jilid II, 2009, Jakarta : Interna Publishing, halaman 1190.

9.

Sadikin H.M., Biokimia Darah, 2002, Jakarta :Widya Medika, halaman 12,14-15,17.

10.

Soewoto H., Sadikin M., Kurniati M.M.V., Wanandi S.I., Retno D., Abadi P., Prijanti A.R., Harahap I.P., Jusman S.W.A., Biologi Molekuler I: Hemoglobin dan Sifat Membran, dalam, Soewoto H. Biokimia Eksperimen Laboratorium, 2001, Jakarta : Bagian Biokimia FKUI Widya Medika halaman 106.

11.

Kee J.L.F., Buku Saku Pemeriksaan Laboratorium dan Diagnostik, 1997, Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC halaman 114.

12.

Bakta I Made,

Hematologi Klinik Ringkas, 2006, Jakarta : EGC,

halaman 271-272, 274-278. 13. Sudoyo W., Setiyohadi B., Alwi I., Simadibahara M., Setiati S., DasarDasar Transfusi Darah, dalam, Djoerban Zubairi. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Edisi V, Jilid II, 2009, Jakarta : Interna Publishing, halaman 1186. 14. Hoffbrand A.V., Pettit J.E., Moss P.A.H., Kapita Selekta Hematologi, Edisi 4, 2005, Jakarta : EGC, halaman 293-294.

59

15.

Mehta A.B., Hoffbrand A.V., At a Glance Hematology, Edisi 2, 2005, Jakarta : Erlangga, halaman 91,93.

16.

National Blood Users Group. A Guideline for Transfusion of Red Blood Cells in Surgical Patients. Ireland :

2001.http://www.doh.ie/pdfdocs/blood.pdf. P. 11-14, 17 diakses pada 17 Maret 2012. 17. The Clinical Use of Blood : Handbook. Geneva : 2002.

http://www.who.int.pdf P. 70, 72, 74 diakses pada 17 Maret 2012. 18. The Clinical Use of Blood : in Medicine, Obstetrics, Paediatrics, Surgery & Anaesthesia, Trauma & Burns. Geneva : 2002. http://www.who.int.pdf P. 140, 142 diakses pada 17 Maret 2012. 19. Sudoyo W., Setiyohadi B., Alwi I., Simadibahara M., Setiati S., Aferesis Donor dan Terapeutik, dalam, Hukom R.A. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam,Edisi V, Jilid II, 2009, Jakarta : Interna Publishing,hal 1205-1207. 20. Isselbacher K.J., Braunwald E., Wilson J.D., Martin J.B., Fauci A.S., Kasper D.L., Golongan Darah dan Transfusi Darah, dalam, Klein H.G. Harrison Prinsip-Prinsip Ilmu Penyakit Dalam, Edisi 13, Volume 4, 2000, Jakarta : Buku Kedokteran EGC halaman 1990-1991. 21. Departemen Kesehatan RI, Pedoman Pengelolaan Bank Darah Rumah Sakit (BDRS). Jakarta : 2008. Direktorat Bina Pelayanan Medik Dasar, Direktorat Jenderal Bina Pelayanan Medik didapat dari URL : http://perpustakaan.depkes.go.id.pdf diakses pada 23 Maret 2012 halaman 44-45.

60

BIODATA PENULIS

Nama Lengkap Nama Panggilan NIM Tempat/Tanggal Lahir Suku/Bangsa Agama Jenis Kelamin Jurusan/Fakultas Universitas Nama Orang Tua a. Ayah b. Ibu

: Andi Koneng Pratiwi : Koneng : 110 209 0023 : Ujung Pandang, 27 Oktober 1991 : Bugis / Indonesia : Islam : Perempuan : Kedokteran : Universitas Muslim Indonesia

: dr. H. Andi Baso Sulaiman, Sp. THT-KL (K) : dr. Hj. Andi Nursanty Padjalangi, Sp.OG

61

Anak ke Alamat Telepon/HP Hobi e-mail Riwayat Pendidikan a. Tahun 1997-2003 b. Tahun 2003-2006 c. Tahun 2006-2009 d. Tahun 2009-Sekarang

: Tiga (3) dari Tiga (3) bersaudara : Jl. AP. Pettarani Komp. IDI Blok G/10 No.7 : 082 188 362 345 : Menonton film : akonengp@yahoo.com

: SD Negeri Kompleks IKIP I Makassar : SMP Nusantara Makassar : SMA Negeri 1 Makassar : Universitas Muslim Indonesia

e. Pengalaman Organisasi : OSIS SMA, BEM, AMSA

62

BIODATA PENULIS

Nama Lengkap Nama Panggilan NIM Tempat/Tanggal Lahir Suku / Bangsa Agama Jenis Kelamin Jurusan/Fakultas Universitas Nama Orang Tua a. Ayah b. Ibu

: Andi Fajar Apriani : Fajar : 110 209 0106 : Nunukan, 04 April 1990 : Bulungan / Indonesia : Islam : Perempuan : Kedokteran : Universitas Muslim Indonesia

: H. Andi Akhmad : Hj. Syamsuniar

63

Anak ke Alamat

: Dua (2) dari tiga (3) bersaudara : Jl. DR. Leimena, Perumahan Gapura Satelit Indah No. 18, Tello Baru

Telepon/HP Hobi e-mail Riwayat Pendidikan a. Tahun 1996-2002 b. Tahun 2002-2005 c. Tahun 2005-2008 d. Tahun 2009-Sekarang

: 081 347 710 423 : Menonton Film, Membaca Buku : belle.baida@yahoo.com

: SD Negeri 1 Nunukan : SMP Negeri 1 Nunukan : SMA Negeri 1 Nunukan : Universitas Muslim Indonesia

e. Pengalaman Organisasi : PMR, ROHIS, AMSA, AYR

64