Anda di halaman 1dari 2

REVIEW JURNAL MIKROBIOLOGI INDUSTRI

Peringkas NIM Jurusan Tanggal Topik GITA INDRIANI - 0402513012 S2, Pend. IPA Kimia (Kelas Reguler) 16 September 2013 Hidrolisis pati sagu dan fermentasi hidrolisatnya menjadi etanol. Rofiq Sunaryanto, Berti Hariasih Handayani, Ratu Safitri. Juni 2013 Enzymatic and Acid Hydrolysis of Sago Starch for preparation of Ethanol Production Mikrobiologi Indonesia Vol. 7, No.2 dan Hal. 68 74 Fermentasi etanol, disebut juga sebagai fermentasi alkohol, adalah proses biologi dimana gula seperti glukosa, fruktosa, dan sukrosa diubah menjadi energi seluler dan juga menghasilkan etanol dan karbon dioksida sebagai produk sampingan. Glukosa dibuat dengan jalan fermentasi dan hidrolisa. Pada proses hidrolisa biasanya menggunakan katalisator asam seperti HCl, asam sulfat. Bahan yang digunakan untuk proses hidrolisis adalah pati. Jurnal ini difokuskan pada hidrolisis pati sagu secara asam dan enzimatis dengan bantuan enzim -amilase dan Dextrozyme DX untuk menghasilkan hidrolisat berupa gula pereduksi dengan konsentrasi tertinggi yang akan digunakan sebagai substrat dalam fermentasi pembuatan etanol menggunakan S.cerevisiae. Tujuan dari penelitian tersebut adalah untuk mengetahui tingkat hidrolisis pati sagu dengan metode asam dan enzimatik dan untuk mengetahui profil produksi etanol menggunakan hidrolisat pati sagu yang dihasilkannya. Peneliti melakukan proses hidrolisis pati sagu dengan metode hidrolisis asam dan hidrolisis secara enzimatis. Untuk proses hidrolisis asam, pati sagu dibuat dengan berbagai konsentrasi dan dilakukan hidrolisis asam menggunakan asam asetat 2,5%. Selama inkubasi sampel diambil setiap 20 menit(0,20,40,60,80, dan 120 menit), dan konsentrasi gula reduksi diukur. Untuk proses hidrolisis secara enzimatis, dilakukan dengan 2 tahap (tahap pencairan & tahap saccharifisasi) dimana pada tahap pencairan menggunakan bantuan enzim -

Penulis Tahun Judul Jurnal Vol. dan Halaman Landasan Teori

Metode, Alat & bahan

Hasil

Kesimpulan

amilase dari Bacyllus amyloliquefaciens, kemudian pada tahap saccharifisasi menggunakan Dextrozyme DX (yaitu campuran glukomilase dari Aspergillus niger dan pullulanase dari Bacillus licheniformis. Selama inkubasi sampel diambil setiap 20 menit sekali dan konsentrasi gula reduksinya diukur. Dari kedua proses hidrolisis tersebut dipilih hidrolisat (hasil hidrolisis) dengan konsentrasi gula reduksi tertinggi untuk digunakan sebagai substrat dalam proses fermentasi etanol menggunakan S. cerevisiae. Kemudian konsentrasi etanol yang dihasilkan dianalisa menggunakan Gas Chromatography (GC). Sedangkan untuk analisa konsentrasi gula reduksi didalam sampel, menentukan aktivitas -amilase dan aktivitas Dextrozyme DX ditentukan dengan metoda Nelson & Somogyi. Dengan metode yang digunakan didapatkan hasil hidrolisis menggunakan asam sulfat pada 121oC selama 120 menit menghasilkan gula pereduksi 6,6% (b/v) sedangkan hidrolisis dengan menggunakan -amilase dan Dextrozyme DX menghasilkan konsentrasi gula pereduksi tertinggi berturut-turut 7% (b/v) dan 17,1% (b/v). Fermentasi hidrolisat pati sagu menggunakan isolate S. cerevisiae menghasilkan etanol dengan konsentrasi 7,98% (v/v). Gula pereduksi yang dihasilkan dari proses hidrolisis dalam penelitian ini rendah (6,6% untuk hidrolisis menggunakan 2,5% asam sulfat, 7% dan 17,1% untuk hidrolisis dengan menggunakan -amilase dan Dextrozyme DX). Padahal secara teoritis hidrolisis pati menjadi glukosa menghasilkan setidaknya 60% glukosa. Pada fermentasi etanol, produk yang dihasilkan juga cukup rendah. Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor, seperti kemampuan isolat dalam menghasilkan etanol (tipe isolat), terutama isolat S. cerevisiae seperti yang digunakan dalam penelitian ini belum pernah di uji sebagai isolat dalam industri dan keberadaan inhibisi dari produk etanol tersebut.