0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
179 tayangan5 halaman

Wirausaha Sosial: Inovasi untuk Perubahan

Dokumen tersebut membahas tentang konsep social entrepreneurship dan sosok Masril Koto sebagai salah satu contoh sosial entrepreneur di Indonesia. Social entrepreneurship adalah kegiatan wirausaha yang bertujuan untuk mengatasi masalah sosial dengan prinsip-prinsip bisnis. Masril Koto mendirikan lembaga keuangan khusus petani untuk memberikan pinjaman modal usaha kepada petani, sehingga banyak petani yang dapat meningkatkan taraf hidupnya.

Diunggah oleh

ANDR3_45
Hak Cipta
© Attribution Non-Commercial (BY-NC)
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
179 tayangan5 halaman

Wirausaha Sosial: Inovasi untuk Perubahan

Dokumen tersebut membahas tentang konsep social entrepreneurship dan sosok Masril Koto sebagai salah satu contoh sosial entrepreneur di Indonesia. Social entrepreneurship adalah kegiatan wirausaha yang bertujuan untuk mengatasi masalah sosial dengan prinsip-prinsip bisnis. Masril Koto mendirikan lembaga keuangan khusus petani untuk memberikan pinjaman modal usaha kepada petani, sehingga banyak petani yang dapat meningkatkan taraf hidupnya.

Diunggah oleh

ANDR3_45
Hak Cipta
© Attribution Non-Commercial (BY-NC)
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Nama NIM Mata Kuliah / Rombel

: Andreas Johan T W S : 1102412045 : Kewirausahaan / 02

Social Enterpreneur
Konsep social entrepreneurship dikenalkan antara lain oleh Robert Owen yaitu pendiri koperasi pertama dan Florence yang merupakan pendiri sekolah perawat pertama beberapa ratus tahun yang lalu dan berkembang pada tahun 1980an yang diawali oleh para tokoh-tokoh seperti Rosabeth Moss Kanter, Bill Drayton, Charles Leadbeater dan Profesor Daniel Bell dari Universitas Harvard yang sukses dalam kegiatan Social Entrepreneurship karena sejak tahun 1980 berhasil membentuk 60 organisasi yang tersebar di seluruh dunia. Social Entrepreneurship merupakan sebuah istilah turunan dari kewirausahaan. Gabungan dari dua kata, social yang artinya kemasyarakatan, dan entrepreneurship yang artinya kewirausahaan. Social Entrepreneurship menggabungkan inovasi, sumber daya dan kesempatan untuk mengatasi tantangan/problem sosial dan lingkungan dengan kewirausahaan. Jadi dapat diartikan social entrepreneur adalah individu-individu yang membangun wirausaha

berkelanjutan untuk mengatasi masalah sosial disekitarnya dengan menggunakan prinsip-prinsip kewirausahaan. Sedangkan pengertian yang sederhana dari Social Entrepreneur adalah seseorang yang mengerti permasalahan sosial dan menggunakan kemampuan entrepreneurship untuk melakukan perubahan sosial (social change), terutama meliputi bidang kesejahteraan (welfare), pendidikan dan kesehatan (healthcare) (Santosa, 2007). Dalam bahasa Indonesia, social entrepreneur disebut juga wirausaha sosial. Wirausaha sosial adalah orang-orang yang melakukan perubahan. Bersama dengan lembaga-lembaga, jaringan, dan komunitas masyarakat, mereka menciptakan solusi yang efisien, berkelanjutan, transparan, dan memiliki dampak yang terukur. Yang membedakan sosok social entrepreneur dengan entrepreneur lainnya adalah motivasi membangun usaha yang dilatarbelakangi adanya permasalahan sosial di lingkungan sekitarnya dan keuntungan usaha yang dihasilkan digunakan untuk menjaga keberlangsungan program kerja untuk mengatasi permasalahan sosial yang ada. Ciri-ciri pewirausaha sosial adalah mereka mau berkorban, segera bertindak jika ada permasalahan sosial di lingkungannya, memiliki sikap praktis, innovative, tekadnya kuat, berani

ambil resiko, melakukan perubahan social, berbagi keberhasilan dan yang terpenting mereka mau mengevaluasi diri sendiri. Tujuan utama Social Entrepreneurship adalah menciptakan sistem perubahan yang berkelanjutan (sustainable systems change), kunci pentingnya adalah inovasi, berorientasi pada kebutuhan masyarakat dan adanya perubahan system social masyarakat. Social entrepreneurship harus dapat menciptakan keuntungan, sehingga bukanlah organisasi nirlaba, karena dari keuntungan tersebut organisasi tersebut dapat mengembangkan dan membesarkan

pemberdayaan kepada masyarakat lebih besar dan luas lagi. Social Enterpreneurship mencoba melayani pasar yang belum digarap, menghilangkan kesenjangan dalam kesejahteraan, pendidikan, kesehatan, demografis dan peluang bekerja (Elkington, 2008). Jika business entrepreneurs mengukur keberhasilan dari kinerja keuangannya (keuntungan ataupun pendapatan) maka social entrepreneur keberhasilannya diukur dari manfaat yang dirasakan oleh masyarakat. Dari berbagai pengertian tersebut maka Social Entrepreneur sesungguhnya adalah agen perubahan (agent of change) yang mampu untuk: - Melaksanakan cita-cita mengubah dan memperbaiki nilai-nilai sosial - Menemu kenali berbagai peluang untuk melakukan perbaikan - Selalu melibatkan diri dalam proses inovasi, adaptasi, pembelajaran yang terus menerus - Bertindak tanpa menghiraukan berbagai hambatan atau keterbatasan yang dihadapinya - Memiliki akuntabilitas dalam mempertanggungjawabkan hasil yang dicapainya, kepada masyarakat. Terdapat 3 komponen yang menyusun social entrepreneurship. Tiga komponen yang dimaksud yaitu: 1. Private sector merupakan unsur bisnis pribadi dimana termasuk bagaimana menghasilkan keuntungan karena esensi bisnis adalah menciptakan nilai tambah dari usaha yang dimiliki dan mampu memberi keuntungan maksimal bagi pemiliknya. 2. Public sector berarti melibatkan pihak lain, dapat dikaitkan dalam konteks pemberdayaan masyarakat sekitar maupun pemanfaatan sumber daya yang ada. 3. Voluntary sector dimaknai sebagai fokus dari social entrepreneurship, yaitu sifatnya sukarela untuk membantu pihak lain dan bisa dimaksukkan sebagai bagian dari community development dalam sosial-ekonomi. Ketiga kompenen tersebut terintegrasi

dan membentuk social entrepreneurship tidak hanya sebagai kepentingan individu pebisnis, tetapi ditujukan pula bagi pemberdayaan masyarakat sekitar Pada awalnya, social entrepreneurship tidak menekankan pada usaha untuk menghasilkan laba atau non-profit dimana mempunyai inti pemberdayaan masyarakat yang bersifat sukarela, misalnya panti asuhan. Hingga akhirnya Muhammad Yunus, pendiri Grameen Bank di Bangladesh sekaligus berhasil meraih Nobel Perdamaian pada tahun 2006, sebagai salah satu social entrepreneur mampu menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat kurang mampu tidak hanya menghasilkan kesejahteraan dalam konteks sosial, namun juga mampu mendatangkan keuntungan finansial. Contoh konkretnya adalah 6 juta wanita terserap sebagai tenaga kerja dimana beralih dari pengemis menjadi pelaku UMKM. Sehingga akhir-akhir ini terjadi pergeseran social entrepreneurship yang semula dianggap merupakan kegiatan nonprofit (antara lain melalui kegiatan amal) menjadi kegiatan yang berorientasi bisnis

(entrepreneurial private-sector business activities). Social Entreprenuers makin berperan dalam pembangunan ekonomi karena ternyata mampu memberikan daya cipta nilainilai sosial maupun ekonomi, yakni : 1. Kesempatan Kerja Manfaat ekonomi yang dirasakan dari Social Entrepreneurship di berbagai negara adalah penciptaan kesempatan kerja baru yang meningkat secara signifikan. 2. Inovasi dan Kreasi Berbagai inovasi terhadap jasa kemasyarakatan yang selama ini tidak tertangani oleh pemerintah dapat dilakukan oleh kelompok Social Entrepereneurship seperti misalnya: penanggulangan HIV dan narkoba, pemberantasan buta huruf, kurang gizi. 3. Menjadi Modal Sosial Modal sosial merupakan bentuk yang paling penting dari berbagai modal yang dapat diciptakan oleh social entrepreneur karena walaupun dalam kemitraan ekonomi yang paling utama adalah nilai -nilai : saling pengertian (shared value), trust (kepercayaan) dan budaya kerjasama ( a culture of cooperation), kesemuanya ini adalah modal sosial. 4. Peningkatan Kesetaraan Salah satu tujuan pembangunan ekonomi adalah terwujudnya kesetaraan dan pemerataan kesejahteraan masayarakat. Di Indonesia sendiri terdapat beberapa sosok sosial entrepreneur atau pewirausaha sosial, misalnya seperti Masril Koto yang mendirikan bank khusus petani di Sumatera Barat. Dengan

pemberdayaan yang dilakukan oleh Masril Koto, banyak petani yang tadinya malas bertani karena banyaknya kendala seperti modal, pemasaran, saat ini mereka dapat menjadi petani yang dapat menghasilkan. Yang menarik dari dia adalah ia merupakan dosen S3 UI yang tak tamat pendidikan Sekolah Dasar (SD). Masril Koto merupakan anak pertama dari delapan bersaudara. Masril berperawakan kecil, berkulit sawo matang, berkumis lebat, bertampang lucu, dan murah senyum. Lelaki berkulit legam ini berasal dari Kecamatan Baso, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Ia adalah seorang yang tak tamat Sekolah Dasar (SD). Ia meninggalkan bangku SD saat berada di kelas 4 karena kendala keuangan. Ia hanya pernah mengikuti sekolah lapangan (SL) petani dari Dinas Pertanian Sumbar di Nagari Tabek Panjang, Kecamatan Baso, Kabupaten Agam. Di kampung halamannya, ia adalah petani dan peternak. Namun, sejak tahun 2006 ia adalah seorang banker. Masril juga seorang yang sederhana. Hal ini tercermin dari penampilannya dalam setiap acara. Misalnya, ia menggunakan sandal jepit saat menjadi pembicara dalam Seminar Nasional Inklusi Keuangan Kawasan Timur Indonesia di Hotel Sahid Makassar dan menggunakan kaos putih serta jaket dan celana kain hitam dalam acara Kick Andy yang menjadikan ia sebagai tamu paling sederhana di antara tamu lainnya. Masril Koto mendirikan Bank Tani atau Bank Petani dalam bentuk Lembaga Keuangan Mikro Agrobisnis (LKMA) Prima Tani di Nagari Koto Tinggi, Baso, Agam, Sumatera Barat. Dia bersama teman petani lainnya merintis lembaga keuangan itu sejak tahun 2002, namun setelah empat tahun kemudian (2006) baru resmi didirikan setelah Masril dan kawan-kawan petaninya mendapatkan pelatihan keuangan dalam bentuk akutansi sederhana dari Yayasan Alumni Fakultas Pertanian Universitas Andalas (AFTA), Padang. Sistim bank yang didirikannya itu diadopsi oleh pemerintah dan menjadi cikal bakal Program Pengembangan Usaha Agribisnis Pedesaan (PUAP) nasional. LKMA Prima Tani sendiri adalah tempat dimana para petani bisa mendapatkan pinjaman untuk tambahan modal usaha. Banyaknya petani yang sulit mencari pinjaman modal menginspirasi Masril untuk membentuk lembaga keuangan para petani yang disebutnya Bank Tani atau Bank Petani tersebut. Ia menjadi pendiri LKMA Prima Tani di Nagari Koto Tinggi dan 580 LKMA lain yang tersebar di seantero Sumatera Barat yang kesemuanya memiliki aset mencapai 100 miliar rupiah. Setiap LKMA yang dibinanya memiliki minimal 5 karyawan yang biasa diambil dari anak-anak petani, terutama mereka yang putus sekolah. Hal ini ditujukan

untuk mengurangi angka pengangguran. Masril Koto saat ini mempunyai asset 250 Milyar rupiah dengan karyawan 1500 orang.

Anda mungkin juga menyukai