Anda di halaman 1dari 10

I.

SKENARIO DAN TERMINOLOGI

A. SKENARIO Scott Antony Rush, 21 tahun, warga negara Australia, pada tahun 2005 terbukti melakukan penyelundupan 8,9 kilogram heroin murni cair ke Bali melalui Bandara Internasional Ngurah Rai bersama 8 rekannya yang lain yang dikenal dengan Bali Nine. Terhadap kejahatan yang dilakukannya, Jaksa Penuntut Umum menuntut Scott dengan hukuman Mati berdasarkan ketentuan pasal 82 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1997 tentang Narkotika. Terkait dengan masalah yang dihadapi oleh warganegaranya tersebut, pihak Australia melalui mekanisme Consular Assistant, menyediakan seorang advokat Denny Kailimang, S.H., M.H. untuk membantu Scott selama menjalani proses pengadilan. Dalam naskah pembelaannya, kuasa hukum Scott menyatakan bahwa pada prinsipnya penjatuhan hukuman mati adalah bertentangan dengan Second Optional Protocol to the International Covenant on Civil and Political Rights 1989 yang telah enter into force pada tanggal 11 Juli 1991 dan diratifikasi oleh 72 negara. Dalam second optional tersebut dijelaskan bahwa pada prinspinya hak hidup merupakan non derogable right yang tidak dapat dikurangi oleh siapapun termasuk oleh negara manapun. B. TERMINOLOGI 1. Konvensi adalah sebutan lain untuk perjanjian internasional. 2. Ratifikasi adalah salah satu bentuk pengesahan perjanjian internasional, dimana negara yang akan mengesahkan suatu perjanjian internasional turut menandatangani naskah perjanjian. 3. Consular Assistant adalah mekanisme yang digunakan suatu negara untuk melindungi warga negaranya yang menjalani proses peradilan diluar negara asalnya, dan perlindungannya tergantung pada kasus/persoalan yang dilakukannya. 4. Second Optional Protocol to the International Covenant on Civil and Political Rights adalah tambahan kedua atau perubahan dari protokol sebelumnya. 5. Non derogable right adalah hak yang tidak dapat dikurangi atau bersifat mutlak untuk diberikan. 6. Enter into force adalah saat berlaku mengikatnya suatu perjanjian internasional.

II.

TUJUAN PEMBELAJARAN Adapun tujuan pembelajaran dalam penulisan laporan ini adalah : 1. untuk mengetahui pengertian dan asas-asas hukum internasional; 2. untuk mengetahui sumber hukum internasional; dan 3. untuk mengetahui subjek dan objek hukum internasional.

III.

RUMUSAN MASALAH Rumusan masalah yang diajukan untuk menyelesaikan kasus ini adalah : 1. Sejauh apa batasan pengaruh hukum internasional terhadap hukum positif di Indonesia? 2. Apakah perkara ini dapat dibawa ke pengadilan internasional? 3. Apabila terjadi pertentangan antara undang-undang dengan hukum yang bersumber dari ratifikasi konvensi, manakah hukum yang harus diterapkan? 4. Sejauh apa mekanisme Consular Assistant dapat melindungi warga negaranya? 5. Apakah Second Optional Protocol to the International Covenant on Civil and Political Rights sudah diatur dan dapat berlaku di Indonesia? 6. Apakah ada pengecualian terhadap hak hidup yang merupakan non derogable right untuk kasus tertentu? 7. Apa hukuman yang tepat dijatuhkan bagi Scott Antony Rush? 8. Bagaimana nasib 8 rekannya yang lain?

PEMBAHASAN

1.

Sejauh apa batasan pengaruh hukum internasional terhadap hukum positif di Indonesia? Hukum internasional dibuat melalui dua jalan, yakni melalui praktek negara-negara (hukum adat internasional), dan melalui perjanjian yang dilakukan oleh negara-negara. 1) Dalam kasus ini, pembahasan dititikberatkan pada hukum internasional yang bersumber dari perjanjian internasional. Salah satu asas dalam perjanjian internasional adalah Pacta Sunt Servanda, yang berarti ketika suatu perjanjian disepakati, maka perjanjian tersebut harus dihormati dan berlaku seperti undang-undang bagi pihak yang mengikatkan dirinya. Hal tersebut termaktub dalam pasal 1338 KUHPerdata yang berbunyi, semua persetujuan yang dibuat sesuai undang-undang berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya. Dengan demikian, perjanjian internasional yang telah disepakati oleh negara-negara yang ingin mengikatkan dirinya dalam perjanjian, maka negara-negara tersebut haruslah menaati dan menjalankan isi perjanjian tersebut. Hukum internasional merupakan suatu tertib hukum koordinasi antara anggota-anggota masyarakat internasional yang sederajat. Anggota masyarakat internasional tunduk pada hukum internasional sebagai suatu tertib hukum yang mereka terima sebagai perangkat kaidah dan asas yang mengikat dalam hubungan antarmereka.2) Dengan demikian, bila dipertanyakan sejauh apa hukum internasional berpengaruh pada hukum nasional, jawabannya adalah saling mempengaruhi, karena ketika hukum internasional disetujui, maka hukum tersebut mengikat negara-negara tersebut seperti undang-undang. Apakah perkara ini dapat dibawa ke pengadilan internasional? Tidak. Pengadilan internasional hanya menangani kasus yang subjeknya negara, atau kasus yang merupakan extraordinary crime, seperti adanya pelanggaran HAM berat. Dalam pasal 2 KUHP dinyatakan bahwa Ketentuan pidana dalam perundang-undangan dengan Indonesia diterapkan bagi setiap orang yang melakukan tindak pidana di Indonesia.

2.

________________
1) Wallace, Rebecca M. 1993. Hukum Internasional. IKIP Semarang Press : Semarang. hal : 3 2) Kusumaatmadja, Mochtar dan Agoes, Etty R. 2010. Pengantar Hukum Internasional. PT. Alumni : Bandung. hal : 9

3.

Apabila terjadi pertentangan antara undang-undang dengan hukum yang bersumber dari ratifikasi konvensi, manakah hukum yang harus diterapkan? Ada beberapa teori mengenai hal ini. Teori hierarki Kelsen menyatakan bahwa ketentuan hukum berlaku dan mengikat berdasarkan ketentuan hukum atau prinsip hukum yang lebih tinggi yang akhirnya berdasarkan postulat fundamental. Postulat fundamental ini dapat merupakan bagian dari hukum internasional, dan dapat pula merupakan bagian hukum nasional. Di sisi lain, Starke memiliki pendapat yang berbeda dengan Kelsen. Menurut Starke, pengutamaan hukum nasional terhadap hukum internasional akan menimbulkan ketergantungan hukum internasional terhadap hukum nasional. Dengan demikian, Starke menolak bahwa hukum nasional lebih diutamakan dari hukum internasional. Pada logikanya, suatu negara tidak mungkin meratifikasi hasil perjanjian internasional apabila isi kesepakatan tersebut bertentangan dengan hukum negaranya. Perlu diketahui bahwa ketika suatu perjanjian ditandatangani, maka hal tersebut hanya berarti menyetujui. Penandatanganan bukan merupakan pengikatan diri sebagai negara pihak. Keterikatan terhadap perjanjian internasional dilakukan melalui pengesahan.3) Inilah yang disebut ratifikasi. Jadi, sangat kecil kemungkinan terjadinya pertentangan antara hukum nasional dengan hukum yang bersumber dari ratifikasi konvensi, mengingat proses ratifikasi isi konvensi tersebut tidaklah mudah dan singkat. Pengesahan dengan undang-undang memerlukan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat, dan pengesahan dengan Keputusan Presiden selanjutnya diberitahukan kepada Dewan Perwakilan Rakyat.4) Namun demikian, tidak menutup kemungkinan bahwa belakangan diketahui bahwa perjanjian internasional yang telah disepakati dan diratifikasi ternyata bertentangan dengan hukum atau peraturan perundang-undangan nasionalnya. Jika negara tersebut mengesampingkan perjanjian internasional, maka hal ini tentu akan menimbulkan dampak terhadap perjanjian internasional tersebut. Sebaliknya, jika mengutamakan perjanjian internasional, negara tersebut akan menghadapi masalah dalam negerinya yang tentu akan menimbulkan masalah dalam negerinya sendiri.5) Untuk itu, telah diatur dalam pasal 27 Internal Law and Observance of Treaties, yang menyatakan :

________________
3) Penjelasan atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional pasal 6 ayat (1) 4) Penjelasan atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional pasal 9 ayat (2) 5) Parthiana, I Wayan. 2005. Hukum Perjanjian Internasional. Penerbit Mandar Maju : Bandung. hal : 275

A party may not invoke the provisions of its internal law as justification of its failure to perform a treaty. Artinya, salah satu pihak tidak boleh menjadikan ketentuan dalam hukum nasionalnya sebagai pembenar atas kegagalannya dalam melaksanakan suatu perjanjian internasional. 4. Sejauh apa mekanisme Consular Assistant dapat melindungi warga negaranya? Consular Assistant adalah merupakan perlindungan yang diberikan pada warga negaranya yang berada di luar negeri. Consular Assistant bertugas memastikan bahwa hak-hak warga negaranya diberikan secara adil oleh negara penerima tersebut. Sehingga, sesuai kasus ini Consular Assistant melindungi hak warga negaranya dengan menyediakan seorang advokat untuk mendampingi warga negaranya dalam persidangan, demi terjaminnya hak warga negara tersebut. Namun demikian, proses persidangan tetap dijalankan sebagaimana mestinya. Apakah Second Optional Protocol to the International Covenant on Civil and Political Rights sudah diatur dan dapat berlaku di Indonesia? Menurut data yang dilansir United Nation Treaty Collection, Indonesia belum meratifikasi Second Optional Protocol to the International Covenant on Civil and Political Rights. Sekarang ada 76 negara yang telah meratifikasi SOP tersebut dan 4 negara yang masih menjadi participant, dapat dilihat dalam tabel berikut : Signature Ratification, Accession(a), Succession(d) 17 Oct 2007 a 22 Sep 2006 2 Sep 2008 2 Oct 1990 a 2 Mar 1993 22 Jan 1999 a 8 Dec 1998 5 Jul 2012 a 16 Mar 2001 25 Sep 2009 a 10 Aug 1999 25 Nov 2005 a 19 May 2000 a 26 Sep 2008 5 Aug 1997 a 5 Jun 1998 12 Oct 1995 a 10 Sep 1999 a 15 Jun 2004 a

5.

Participant Albania Andorra Argentina Australia Austria Azerbaijan Belgium Benin Bosnia and Herzegovina Brazil Bulgaria Canada Cape Verde Chile Colombia Costa Rica Croatia Cyprus Czech Republic

5 Aug 2002 20 Dec 2006 8 Apr 1991 12 Jul 1990 7 Sep 2000 11 Mar 1999

15 Nov 2001 14 Feb 1990

Denmark Djibouti Ecuador Estonia Finland France Georgia Germany Greece Guinea-Bissau Honduras Hungary Iceland Ireland Italy Kyrgyzstan Liberia Liechtenstein Lithuania Luxembourg Madagascar Malta Mexico Monaco Mongolia Montenegro Mozambique Namibia Nepal Netherlands New Zealand Nicaragua Norway Panama Paraguay Philippines Poland Portugal Republic of Moldova Romania Rwanda San Marino Sao Tome and Principe Serbia Seychelles Slovakia

13 Feb 1990

13 Feb 1990

13 Feb 1990 12 Sep 2000 10 May 1990 30 Jan 1991 13 Feb 1990

24 Feb 1994 5 Nov 2002 a 23 Feb 1993 a 30 Jan 2004 a 4 Apr 1991 2 Oct 2007 a 22 Mar 1999 a 18 Aug 1992 5 May 1997 a 1 Apr 2008 24 Feb 1994 a 2 Apr 1991 18 Jun 1993 a 14 Feb 1995 6 Dec 2010 a 16 Sep 2005 a 10 Dec 1998 a 27 Mar 2002 12 Feb 1992 29 Dec 1994 a 26 Sep 2007 a 28 Mar 2000 a 13 Mar 2012 a 23 Oct 2006 d 21 Jul 1993 a 28 Nov 1994 a 4 Mar 1998 a 26 Mar 1991 22 Feb 1990 25 Feb 2009 5 Sep 1991 21 Jan 1993 a 18 Aug 2003 a 20 Nov 2007 17 Oct 1990 20 Sep 2006 a 27 Feb 1991 15 Dec 2008 a 17 Aug 2004 6 Sep 2001 a 15 Dec 1994 a 22 Jun 1999

8 Sep 2000 13 Feb 1990 24 Sep 2012

9 Aug 1990 22 Feb 1990 21 Feb 1990 13 Feb 1990

20 Sep 2006 21 Mar 2000 13 Feb 1990 15 Mar 1990 26 Sep 2003 6 Sep 2000

22 Sep 1998

Slovenia South Africa Spain Sweden Switzerland The former Yugoslav Republic of Macedonia Timor-Leste Turkey Turkmenistan Ukraine United Kingdom of Great Britain and Northern Ireland Uruguay Uzbekistan Venezuela (Bolivarian Republic of)

14 Sep 1993 23 Feb 1990 13 Feb 1990

10 Mar 1994 28 Aug 2002 a 11 Apr 1991 11 May 1990 16 Jun 1994 a 26 Jan 1995 a 18 Sep 2003 a 2 Mar 2006 11 Jan 2000 a 25 Jul 2007 a 10 Dec 1999 21 Jan 1993 23 Dec 2008 a 22 Feb 1993

6 Apr 2004

31 Mar 1999 13 Feb 1990 7 Jun 1990

6.

Dengan belum diratifikasinya SOP tersebut oleh Indonesia, maka pasalpasal yang terdapat dalam SOP tersebut tidak dapat diterapkan di Indonesia dan dijadikan dasar hukum yang meringankan hukuman bagi Scott. Indonesia belum terikat secara hukum internasional untuk menghapuskan hukuman mati sesuai SOP tersebut. Apakah ada pengecualian terhadap hak hidup yang merupakan non derogable right untuk kasus tertentu? Non derogable right merupakan hak yang tidak dapat dikurangi oleh pihak manapun. Hak hidup yang merupakan non derogable right ditegaskan dalam pasal 28I ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945, yang berbunyi, Hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak untuk kemerdekaan pikiran dan hati nurani, hak beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi dihadapan hukum, dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun. Namun, untuk tindak pidana tertentu, penjatuhan hukuman mati tidaklah melanggar hak hidup yang merupakan non derogable right. Hak hidup yang dijamin adalah hak hidup bagi pihak-pihak yang tidak melakukan tindakan pidana yang diberlakukan hukuman mati terhadapnya menurut undang-undang. Dengan kata lain, hak hidup yang dijamin di sini adalah hak bagi pihak yang tidak melakukan tindak pidana yang dapat merugikan banyak orang, seperti halnya narkotika ini. Berdasarkan putusan Mahkamah Konstitusi, penjatuhan hukuman mati dalam undang-undang Narkotika tidak bertentangan dengan hak hidup. Alasan pertimbangan putusan ini adalah karena Indonesia telah terikat dengan Konvensi Internasional Narkotika dan Psikotropika, dan telah diratifikasi menjadi hukum

nasional dalam Undang-Undang Nomor 22 tahun 1997 tentang Narkotika. Dalam konvensi tersebut, Indonesia mengakui bahwa kejahatan narkotika merupakan extraordinary crime, sehingga penegakannya butuh perlakuan khusus, efektif dan maksimal. Ancaman hukuman mati dalam Undang-Undang Narkotika telah dirumuskan dengan hati-hati dan cermat, tidak diancamkan pada seluruh tindak pidana narkotika. Hanya produsen dan pengedar yang diancam hukuman mati.

KESIMPULAN DAN SARAN

I.

KESIMPULAN Hak hidup yang merupakan non derogable right pada dasarnya tidak dapat dicabut atau dikurangi pihak manapun. Hal ini sesuai dengan pasal 28I ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945. Namun, ada pengecualian terhadap tindak pidana tertentu yang dampaknya dirasakan sangat merugikan kepentingan banyak orang dan mengganggu ketertiban umum. Salah satu contohnya adalah kasus narkotika dan psikotropika. Indonesia telah meratifikasi isi Konvensi Internasional Narkotika dan Psikotropika, dan setuju bahwa kasus narkotika merupakan extraordinary crime yang penanganannya harus dilakukan dengan perlakuan khusus, efektif, dan maksimal. Pidana mati bagi produsen dan pengedar dinilai sesuai untuk menangani kasus narkotika dan psikotropika ini. Pidana mati disini tidaklah melanggar hak hidup yang merupakan non derogable right, mengingat dampak yang ditimbulkan dari tindak pidana narkotika ini sangatlah luas dan membahayakan banyak orang. Di samping itu, ancaman pidana mati hanya ditujukan bagi produsen dan pengedar, tidak bagi semua terpidana kasus narkotika dan psikotropika. SARAN Dalam hal ini, harus dilihat dan dipertimbangkan kedudukan serta peran Scott Anthony Rush dalam sindikat Bali Nine. Dalam suatu sindikat, tentu ada pihak yang berperan sebagai otak sindikat dan ada yang hanya berperan sebagai pelaku yang menuruti perintah. Jika terbukti Scott Anthony Rush adalah merupakan otak pelaku kegiatan penyelundupan heroin ini, maka hukuman mati dirasa tepat dijatuhkan baginya. Namun, jika Ia hanya merupakan pelaku yang menuruti perintah (dapat disebut kurir), maka hukuman mati tidaklah tepat. Dalam pasal 82 UU Nomor 22 tahun 1997 jo pasal 113 ayat (2) UU Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, ancaman hukuman pidana tidak terbatas hanya hukuman mati. Ada hukuman penjara seumur hidup, pidana penjara paling singkat 5 tahun, dan paling lama 20 tahun. Dengan demikian, dapat dipertimbangkan hukuman selain hukuman mati bagi Scott Anthony Rush apabila terbukti bahwa Ia bukanlah otak sindikat dalam kasus ini.

II.

DAFTAR PUSTAKA

Abdussalam, R. 2006. Hukum Pidana Internasional. Restu Agung : Jakarta Kusumaatmadja, Mochtar dan Agoes, Etty R. 2010. Pengantar Hukum Internasional. PT. Alumni : Bandung Parthiana, I Wayan. 2005. Hukum Perjanjian Internasional. Penerbit Mandar Maju : Bandung Istanto, Sugeng. 1994. Hukum Internasional. Universitas Atmajaya Yogyakarta : Yogyakarta Wallace, Rebecca M. 1993. Hukum Internasional. IKIP Semarang Press : Semarang Undang-Undang Dasar 1945 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Internal Law and Observance of Treaties Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional Undang-Undang Nomor 22 tahun 1997 UU Nomor 35 Tahun 2009 http://treaties.un.org/Pages/ViewDetails.aspx?src=TREATY&mtdsg_no=IV12&chapter=4&lang=en (10 Oktober 2012)