Anda di halaman 1dari 19

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah bayi dengan berat lahir kurang dari 2500 gram tanpa memandang usia gestasi. BBLR dapat terjadi pada bayi kurang bulan (< 37 minggu) atau pada bayi cukup bulan (Pudjiadi dkk., 2010). Berat badan lahir rendah (kurang dari 2.500 gram) merupakan salah satu faktor utama yang berkontribusi terhadap kematian perinatal dan neonatal. Menurut badan kesehatan (WHO), salah satu penyebab kematian bayi adalah bayi berat lahir rendah (BBLR), persoalan pokok pada BBLR adalah angka kematian perinatalnya sangat tinggi dibanding angka kematian perinatal pada bayi normal. Menurut WHO, BBLR merupakan penyebab dasar kematian dari dua pertiga kematian neonatus. Sekitar 16% dari kelahiran hidup atau 20 juta bayi pertahun dilahirkan dengan berat badan kurang dari 2.500 gram dan 90% berasal dari Negara berkembang. Indikator kesehatan yang berhubungan dengan kesejahteraan anak adalah Angka Kematian Bayi (AKB) merupakan salah satu indikator penting untuk menentukan derajat kesehatan masyarakat dan menilai keberhasilan pembangunan di bidang kesehatan. Angka kejadian BBLR di Indonesia sangat bervariasi antara satu daerah dengan daerah lain, yaitu berkisar antara 9%-30%, hasil studi di 7 daerah Multicenter diperoleh angka BBLR dengan rentan 2,1%-17,2%. Data yang diperoleh dari BPS Provinsi Jawa Timur menunjukkan bahwa AKB selama sepuluh tahun terakhir ini relatif menunjukkan angka yang menurun. AKB pada tahun 2011 adalah 29.24 per 1000 kelahiran hidup, menunjukkan angka yang menurun dari tahun sebelumnya yang sebesar 29.99 per 1.000 kelahiran hidup, namun tersebut masih jauh dari target MDGs tahun 2015, yaitu sebesar 23 per 1.000 Kelahiran Hidup. Medical Record RSUD Gambiran Kota Kediri BBLR pada tahun 2010 mencapai 337 kasus dengan berat badan lahir (<2.500) gram, tahun 2011 mencapai 363 kasus dengan berat badan lahir (<2.500) gram, dan pada tahun 2012, angka kejadian BBLR berjumlah 336 dari 1.888 kelahiran hidup, dan 46 bayi yang tercatat meninggal dunia dengan berat badan lahir (<2.500) gram.

Bayi yang lahir dengan berat badan rendah cenderung untuk mengalami bebagai masalah kesehatan, baik pada masa bayi maupun pada saat dewasa. Oleh karena itu sangat penting bagi seorang bidan untuk melakukan tindakan pencegahan timbulnya BBLR dan penatalaksanaan bayi BBLR sesuai prosedur yang berlaku.

1.2 1.2.1

Tujuan Tujuan Umum Mampu memberikan asuhan kebidanan dengan menggunakan sistem

manajemen kebidanan yang tepat pada bayi dengan Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR). 1.2.2 Tujuan Khusus

- Mampu memahami konsep dasar dan manajemen kebidanan pada Bayi Berat Lahir Rendah - Mampu mengidenfikasi masalah, diagnosa, dan kebutuhan bayi dengan Bayi Berat lahir Rendah Mampu mengantisipasi masalah potensial dan diagnosa lain.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah bayi dengan berat lahir kurang dari 2500 gram tanpa memandang usia gestasi. BBLR dapat terjadi pada bayi kurang bulan (< 37 minggu) atau pada bayi cukup bulan (Pudjiadi dkk., 2010). BBLR yaitu keadaan yang disebabkan oleh masa kehamilan kurang dari 37 minggu dengan berat badan yang sesuai atau bayi yang beratnya kurang dari berat semestinya menurut masa kehamilannya (Sarwono, 2007). BBLR adalah kelahiran bayi kurang dari 37 minggu, bayi yang beratnya kurang dari seharusnya umur kehamilan. Bayi yang lahir dengan berat badan rendah dan tidak sesuai dengan tuanya kehamilan (Mochtar, 1998). Bayi BBLR adalah berat badan kurang dari 2.500 gram yaitu karena umur hamil kurang dari 37 minggu atau berat badan lahir rendah dari semestinya sekalipun umur cukup atau karena kombinasi keduanya (Manuaba, 1998). 2.2 Epidemiologi Prevalensi BBLR diperkirakan sekitar 15% dari seluuruh kelahiran di dunia dengan batasan 3,3-38% dan lebih sering terjadi di negara-negara berkembang atau sosial ekonomi rendah. Secara statistic menunjukkan angka 90% kejadian BBLR didapatkan di Negara berkembang dan angka kematiannya 35 kali lebih tinggi disbanding bayi yang lahir dengan berat normal. BBLR termasuk factor utama dalam peningkatan morbiditas, mortalitas, dan disabilitas neonatus. Angka kejadian BBLR di Indonesia sangat bervariasi antara satu daerah dengan daerah lain, yaitu berkisar antara 9%-30%, hasil studi di 7 daerah Multicenter diperoleh angka BBLR dengan rentan 2,1%-17,2%. Angka ini lebih besar dari target BBLR yang ditetapkan pada sasaran perbaikan gizi menuju Indonesia sehat 2010 yakni maksimal 7%. 2.3 Gambaran Klinis Gambaran Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) tergantung dari umur kehamilan sehingga dapat dikatakan bahwa makin kecil bayi atau makin muda

kehamilan maka nyata. Sebagai gambaran umum dapat dikemukakan bahwa Berat Badan Lahir Rendah mempunyai karakteristik. Karateristik BBLR sebagai berikut: a. Berat Badan Lahir kurang dari 2.500 gram. b. Panjang badan kurang dari 45 cm. c. Lingkar dada kurang dari 33 cm. d. Lingkar kepala kurang dari 33 cm. e. Umur kehamilan kurang dari 37 minggu. f. Kepala reltif lebih besar dari badannya.

g. Kulit: tipis transparan, lanugo banyak terutama pada dahi, lemak subkutan kurang. h. Ubun-ubun dan sutura lebar. i. j. Tangisan lemah dan jarang Pernapasan belum teratur dan sering timbul apnea.

k. Daya isap lemah terutama dalam hari-hari pertama. l. Labia minora belum tertututp oleh labia mayora (pada wanita), testis belum turun (pada laki-laki). m. Pergerakan kurang dan lemah. n. Kepala tidak mampu bergerak. o. Pernapasan sekitar 45 sampai 50 x/menit p. Frekuensi nadi 100 sampai 140/ menit. (Alimul Aziz H, 2005) 2.4 Diagnosa a. Anamnesa Menanyakan pada ibu tentang riwayat kehamilan dan factor-faktor apa saja yang berpengaruh terhadap kejadian BBLR seperti umur ibu, HPHT, riwayat persalinan sebelumnya, komplikasi obstetric, dll. Gejala yang dialami seperti pembesaran uterus yang tidak sesuai dengan kehamilan, gerak janin yang lambat, dan pertambahan berat badan ibu yang lambat dan tidak sesuai dengan yang seharusnya (Mochtar, 1998). b. Pemeriksaan Fisik

Pada bayi BBLR akan dijumpai pemeriksaan fisik sebagai berikut (Usman, 2008): Antropometri: BB<2500 gram, PB<45 cm, LD<30 cm, LK<33 cm Kulit tipis, keriput, mengkilap dan lemak di bawah kulit sedikit Tulang rawan telinga masih lunak karena belum terbentuk sempurna

Gambar 2.1 Telinga bayi (kiri =kurang bulan; kanan=cukup bulan) Jaringan payudara belum terlihat, biasanya hanya titik gambar

Gambar 2.2 Payudara (a=kurang bulan; b=cukup bulan) Genitalia laki-laki: skrotum belum banyak lipatan dan biasanya testis belum turun

Gambar 2.3 Skrotum (a=kurang bulan; b=cukup bulan) Genitalia perempuan : labia mayor belum menutup labia minor

2.5

Klasifikasi

Ada beberapa cara dalam mengelompokkan BBLR (Proverawati dan Ismawati, 2010) : a. Menurut harapan hidupnya 1) Bayi berat lahir rendah (BBLR) dengan berat lahir 1500-2500 gram. 2) Bayi berat lahir sangat rendah (BBLSR) dengan berat lahir 1000-1500 gram. 3) Bayi berat lahir ekstrim rendah (BBLER) dengan berat lahir kurang dari 1000 gram. b. Menurut masa gestasinya 1) Prematuritas murni yaitu masa gestasinya kurang dari 37 minggu dan berat badannya sesuai dengan berat badan untuk masa gestasi atau biasa disebut neonatus kurang bulan sesuai untuk masa kehamilan (NKB-SMK). 2) Dismaturitas yaitu bayi lahir dengan berat badan kurang dari berat badan seharusnya untuk masa gestasi itu. Bayi mengalami retardasi pertumbuhan intrauterin dan merupakan bayi kecil untuk masa kehamilannya (KMK).

2.6

Etiologi Penyebab terjadinya BBLR secara umum bersifat multifaktorial. Namun,

penyebab terbanyak adalah kelahiran prematur (Proverawati, 2010). Berikut adalah factor-faktor yang berhubungan dengan BBLR (Kliegman et al., 2007): a. Faktor Ibu 1) Usia Ibu Usia reproduksi yang optimal bagi seorang ibu adalah 20-35 tahun karena pada usia tersebut organ reproduksi telah matang. Ibu yang hamil di usia <18 tahun akan berisiko mengalami komplikasi kehamilan yang berhubungan dengan kurang adekuatnya rahim dalam menerima janin serta mentalitas dari ibu hamil yang dianggap belum siap untuk menjadi ibu. Sedangkan usia >35 tahun juga beresiko melahirkan bayi BBLR dihubungkan dengan penurunan kualitas rahim akibat proses degenasi. Salah satu efek dari degenarasi adalah sklerosis pembuluh darah yang mengakibatkan aliran darah uteroplasenta menjadi tidak adekuat yang

pada akhirnya menyebabkan penurunan asupan nutrisi bagi janin (Cunningham et al., 2005). 2) Paritas Paritas tinggi beresiko melahirkan bayi BBLR akibat penurunan kualitas rahim yang timbul karena jaringan parut (bekas kehamilan terdahulu), akibatnya aliran uteroplasenta berkurang dan janin tidak mendapatkan nutrisi yang optimal untuk pertumbuhan dalam rahim. 3) Jarak kehamilan dekat (<2 tahun) Jarak kehamilan kurang dari 2 tahun dapat menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan janin menjadi kurang optimal, persalinan lama, dan perdarahan saat persalinan. Hal ini disebabkan karena kondisi rahim yang belum sepenuhnya pulih (Viktor, 2006; Kliegman et al., 2007). 4) Riwayat BBLR Riwayat kehamilan dan persalinan yang tidak normal yang pernah dialami ibu sebelumnya, seperti perdarahan, abortus, prematuritas, BBLR perlu diwaspadai karena cenderung akan berulang. 5) Kelainan anatomi uterus Riwayat BBLR berulang dapat terjadi biasanya pada kelainan anatomi uterus seperti septum uterus, biasanya septum pada uterus bersifat avaskuler dan akan menghambat pertumbuhan plasenta. Septum akan mengurangi kapasitas plasenta, sehingga pada akhirnya mengurangi aliran darah uteroplasenta. Dan berbagai kelainan uterus lainnya yang dihubungkan dengan kurang optimalnya tempat untuk pertumbuhan janin.

Gambar 2.4 Berbagai jenis kelainan anatomi uterus

6) Komplikasi kehamilan Beberapa perdarahan, komplikasi langsung dari kehamilan seperti dan anemia, lain-lain

preeklampsi/eklampsi,

hipertensi,

KPD,

(Cunningham et al., 2005). Perdarahan anterpartum pada kehamilan 28 minggu atau lebih dapat menyebabkan kelahiran premature (terminasi kehamilan) apabila

dianggap mengancam jiwa ibu, sehingga menghasilkan bayi BBLR. Anemia yang terjadi pada ibu hamil dapat mengurangi suplai oksigen bagi ibu sehingga ibu mudah terkena infeksi, rendahnya kadar oksigen yang dapat digunakan janin sehingga metabolisme akan melambat, pada akhirnya pertumbuhan janin akan terhambat. Dari penelitian yang dilakukan oleh Nelli (2008) di RSUD Rantauprapat, sebanyak 32 ibu melahirkan bayi BBLR, dan 32 diantaranya anemia. KPD juga dihubungkan dengan BBLR. KPD menyebabkan

oligohidramnion yang akan menekan tali pusat sehingga terjadi asfiksi dan hipoksia pada janin yang menyebabkan nutrisi janin berkurang. Preeklampsi dapat menjadi factor risiko terjadinya BBLR dihubungkan dengan penurunan aliran uteroplasenta. Hal ini terjadi karena pada keadaan preeklampsi, invasi trofoblas ke lapisan otot yang mengandung arteri spiralis gagal sehingga terjadi vasospasme, arteri yang seharusnya

mengalami remodeling tapi tetap kaku dan keras akhirnya menganggu aliran uteroplasenta (Cunningham et al., 2005). Infeksi saat hamil juga menjadi factor risiko. Misalnya infeksi malaria. Ibu yang menderita malaria saat hamil akan mengalami penghancuran sel darah merah yang banyak, yang pada akhirnya akan menyebabkan anemia. Infeksi juga dapat memperburuk kondisi plasenta sehingga terjadi penurunan alperfusi uteroplasenta (Prawirohardjo, 2008;

Manuaba, 2010). 7) Kehamilan kembar Pertumbuhan janin kembar bergantung pada beberapa hal, salah satunya adalah jenis kembar (monoamnion-monokorion, diamniondikorion, diamnion-monokorion, diamnion-dikorion). Hal ini berhubungan dengan transfer nutrient dari ibu ke janin. Besar kemungkinan terjadi persaingan transfer nutrisi sehingga janin yang sedikit mendapatkan suplay nutria akan terhambat pertumbuhannya . Bentuk kelainan pertumbuhan secara umum ditunjukkan dengan berat janin hamil kembar lebih rendah 700-1000 gram disbanding hamil tunggal dan pertumbuhan bersaing dari janin kembar sehingga dapat terjadi selisih berat badan sekitar 50-150 gram atau lebih (Manuaba, 2010).

Gambar 2.2 Jenis Kembar

8) Keadaan sosial ekonomi Kejadian tertinggi pada golongan sosial ekonomi rendah. Keadaan sosial ekonomi dikaitkan dengan pendapatan keluarga, mencerminkan

kemampuan masyarakat dari segi ekonomi dalam memenuhi kebutuhan dasar manusia, misalnya makanan yang bergizi. Wanita pada tingkat sosial ekonomi rendah mempunyai kemungkinan 50% lebih tinggi mengalami kelahiran premature. Frekuensi persalinan kurang bulan juga 2x lipat lebih tinggi pada pekerja buruh kasar. 9) Sebab Lain Kebiasaan ibu yang juga menjadi factor risiko BBLR yaitu, ibu yang merokok baik aktif maupun pasif dan ibu yang menggunakan NAPZA. Asap rokok diketahui dapat menyebabkan penurunan kualitas plasenta, seperti dalam penelitian yang dilakukan oleh Kusuma (2013), asap rokok terbukti menyebabkan kerusakan pembuluh darah maternalis sehingga pengiriman nutrsi dari ibu ke bayi menjadi tidak adekuat. b. Faktor Janin Kelainan janin, misalnya sindrom Edward, dimana rata2 berat lahir untuk kelainan ini adalah 2340 gram. c. Faktor plasenta Faktro plasenta antara lain: hidramnion, plasenta previa, solutio plasenta, sindrom tranfusi bayi kembar (sindrom parabiotik), ketuban pecah dini. d. Faktor lingkungan Lingkungan yang berpengaruh antara lain : tempat tinggal di dataran tinggi, terkena radiasi, serta terpapar zat beracun. 2.7 Komplikasi BBLR memerlukan perawatan khusus karena mempunyai permasalahan yang banyak sekali pada sistem tubuhnya disebabkan kondisi tubuh yang belum stabil (Surasmi, dkk., 2002). a. Ketidakstabilan suhu tubuh Dalam kandungan ibu, bayi berada pada suhu lingkungan 36C-37C dan segera setelah lahir bayi dihadapkan pada suhu lingkungan yang umumnya lebih

rendah. Perbedaan suhu ini memberi pengaruh pada kehilangan panas tubuh bayi. Hipotermia juga terjadi karena kemampuan untuk mempertahankan panas dan kesanggupan menambah produksi panas sangat terbatas karena pertumbuhan otototot yang belum cukup memadai, ketidakmampuan untuk menggigil, sedikitnya lemak subkutan, produksi panas berkurang akibat lemak coklat yang tidak memadai, belum matangnya sistem saraf pengatur suhu tubuh, rasio luas permukaan tubuh relatif lebih besar dibanding berat badan sehingga mudah kehilangan panas. b. Gangguan pernafasan Akibat dari defisiensi surfaktan paru, toraks yang lunak dan otot respirasi yang lemah sehingga mudah terjadi periodik apneu. Disamping itu lemahnya reflek batuk, hisap, dan menelan dapat mengakibatkan resiko terjadinya aspirasi. c. Imaturitas imunologis Pada bayi kurang bulan tidak mengalami transfer IgG maternal melalui

plasenta selama trimester ketiga kehamilan karena pemindahan substansi kekebalan dari ibu ke janin terjadi pada minggu terakhir masa kehamilan. Akibatnya, fagositosis dan pembentukan antibodi menjadi terganggu. Selain itu kulit dan selaput lender membran tidak memiliki perlindungan seperti bayi cukup bulan sehingga bayi mudah menderita infeksi. d. Masalah gastrointestinal dan nutrisi Lemahnya reflek menghisap dan menelan, motilitas usus yang menurun, lambatnya pengosongan lambung, absorbsi vitamin yang larut dalam lemak berkurang, defisiensi enzim laktase pada jonjot usus, menurunnya cadangan kalsium, fosfor, protein, dan zat besi dalam tubuh, meningkatnya resiko NEC (Necrotizing Enterocolitis). Hal ini menyebabkan nutrisi yang tidak adekuat dan penurunan berat badan bayi. e. Imaturitas hati Adanya gangguan konjugasi dan ekskresi bilirubin menyebabkan timbulnya hiperbilirubin, defisiensi vitamin K sehingga mudah terjadi perdarahan. Kurangnya enzim glukoronil transferase sehingga konjugasi bilirubin direk belum sempurna dan kadar albumin darah yang berperan dalam transportasi bilirubin dari jaringan ke

hepar berkurang. f. Hipoglikemi Kecepatan glukosa yang diambil janin tergantung dari kadar gula darah ibu karena terputusnya hubungan plasenta dan janin menyebabkan terhentinya pemberian glukosa. Bayi berat lahir rendah dapat mempertahankan kadar gula darah selama 72 jam pertama dalam kadar 40 mg/dl. Hal ini disebabkan cadangan glikogen yang belum mencukupi. Keadaan hipotermi juga dapat menyebabkan hipoglikemi karena stress dingin akan direspon bayi dengan melepaskan noreepinefrin yang menyebabkan vasokonstriksi paru. Efektifitas ventilasi paru menurun sehingga kadar oksigen darah berkurang. Hal ini menghambat

metabolisme glukosa dan menimbulkan glikolisis anaerob yang berakibat pada penghilangan glikogen lebih banyak sehingga terjadi hipoglikemi. Nutrisi yang tak adekuat dapat menyebabkan pemasukan kalori yang rendah juga dapat memicu timbulnya hipoglikemi. 2.8 Penatalaksanaan Konsekuensi dari anatomi dan fisiologi yang belum matang menyebabkan bayi BBLR cenderung mengalami masalah yang bervariasi. Hal ini harus diantisipasi dan dikelola pada masa neonatal. Penatalaksanaan yang dilakukan bertujuan untuk mengurangi stress fisik maupun psikologis. Adapun penatalaksanaan BBLR meliputi (Pillitteri, 2003; Wong, 2008): a. Dukungan respirasi Tujuan primer dalam asuhan bayi resiko tinggi adalah mencapai dan mempertahankan respirasi. Banyak bayi memerlukan oksigen suplemen dan bantuan ventilasi. Bayi dengan atau tanpa penanganan suportif ini diposisikan untuk memaksimalkan oksigenasi karena pada BBLR beresiko mengalami defisiensi surfaktan dan periadik apneu. Dalam kondisi seperti ini diperlukan pembersihan jalan nafas, merangsang pernafasan, diposisikan miring untuk mencegah aspirasi, posisikan tertelungkup jika mungkin karena posisi ini menghasilkan oksigenasi yang lebih baik, terapi oksigen diberikan berdasarkan kebutuhan dan penyakit bayi.

Pemberian oksigen 100% dapat memberikan efek edema paru dan retinopathy of prematurity. b. Termoregulasi Kebutuhan yang paling krusial pada BBLR setelah tercapainya respirasi adalah pemberian kehangatan eksternal. Pencegahan kehilangan panas pada bayi distress sangat dibutuhkan karena produksi panas merupakan proses kompleks yang melibatkan system kardiovaskular, neurologis, dan metabolik. Bayi harus dirawat dalam suhu lingkungan yang netral yaitu suhu yang diperlukan untuk konsumsi oksigen dan pengeluaran kalori minimal. Menurut Thomas (1994) suhu aksilar optimal bagi bayi dalam kisaran 36,5C 37,5C, sedangkan menurut Sauer dan Visser (1984) suhu netral bagi bayi adalah 36,7C 37,3C. Menghangatkan dan mempertahankan suhu tubuh bayi dapat dilakukan melalui beberapa cara, yaitu (Kosim Sholeh, 2005) : 1) Kangaroo Mother Care atau kontak kulit dengan kulit antara bayi dengan ibunya. Jika ibu tidak ada dapat dilakukan oleh orang lain sebagai penggantinya.
2) Pemancar pemanas 3) Ruangan yang hangat

4) Inkubator

c. Perlindungan terhadap infeksi Perlindungan terhadap infeksi merupakan bagian integral asuhan semua bayi baru lahir terutama pada bayi preterm dan sakit. Pada bayi BBLR imunitas seluler dan

humoral masih kurang sehingga sangat rentan denan penyakit. Beberapa hal yang perlu dilakukan untuk mencegah infeksi antara lain : 1) Semua orang yang akan mengadakan kontak dengan bayi harus melakukan cuci tangan terlebih dahulu. 2) Peralatan yang digunakan dalam asuhan bayi harus dibersihkan teratur. Ruang perawatan bayi juga harus dijaga kebersihannya. 3) Petugas dan orang tua yang berpenyakit infeksi tidak boleh memasuki ruang perawatan bayi sampai mereka dinyatakan sembuh atau disyaratkan untuk memakai alat pelindung seperti masker ataupun sarung tangan untuk mencegah penularan. d. Hidrasi Bayi resiko tinggi sering mendapat cairan parenteral untuk asupan secara

tambahan kalori, elektrolit, dan air. Hidrasi yang adekuat sangat penting pada bayi preterm karena kandungan air ekstraselulernya lebih tinggi (70% pada bayi cukup bulan dan sampai 90% pada bayi preterm). Hal ini dikarenakan permukaan tubuhnya lebih luas dan kapasitas osmotik diuresis terbatas pada ginjal bayi preterm yang belum berkembang sempurna sehingga bayi tersebut sangat peka terhadap kehilangan cairan. e. Nutrisi Nutrisi yang optimal sangat kritis dalam manajemen bayi BBLR tetapi terdapat kesulitan dalam memenuhi kebutuhan nutrisi mereka karena berbagai mekanisme ingesti dan digesti makanan belum sepenuhnya berkembang. Jumlah, jadwal, dan metode pemberian nutrisi ditentukan oleh ukuran dan kondisi bayi. Nutrisi dapat diberikan melalui parenteral ataupun enteral atau dengan kombinasi keduanya. Bayi preterm menuntut waktu yang lebih lama dan kesabaran dalam pemberian makan dibandingkan bayi cukup bulan. Mekanisme oral-faring dapat terganggu oleh usaha memberi makan yang terlalu cepat. Penting untuk tidak membuat bayi kelelahan atau melebihi kapasitas mereka dalam menerima makanan. Toleransi yang berhubungan dengan kemampuan bayi menyusu harus didasarkan pada evaluasi status respirasi, denyut jantung, saturasi oksigen, dan variasi dari kondisi normal dapat menunjukkan stress dan keletihan. Bayi akan mengalami

kesulitan dalam koordinasi mengisap, menelan, dan bernapas sehingga berakibat apnea, bradikardi, dan penurunan saturasi oksigen. Pada bayi dengan reflek menghisap dan menelan yang kurang, nutrisi dapat diberikan melalui sonde ke lambung. Kapasitas lambung bayi prematur sangat terbatas dan mudah mengalami distensi abdomen yang dapat mempengaruhi pernafasan. Kapasitas lambung berdasarkan umur dapat diukur sebagai berikut (Jones, dkk., 2005) :

f.

Stimulasi Sensori Bayi baru lahir memiliki kebutuhan stimulasi sensori yang khusus. Mainan

gantung yang dapat bergerak dan mainan- mainanyang diletakkan dalam unit perawatan dapat memberikan stimulasi visual. Suara radio dengan volume rendah, suara kaset, atau mainan yang bersuara dapat memberikan stimulasi pendengaran. Rangsangan suara yang paling baik adalah suara dari orang tua atau keluarga, suara dokter, perawat yang berbicara atau bernyanyi. Memandikan, menggendong, atau membelai memberikan rangsang sentuhan. Rangsangan suara dan sentuhan juga dapat diberikan selama PMK karena selama pelaksanaan PMK ibu dianjurkan untuk mengusap dengan lembut punggung bayi dan mengajak bayi berbicara atau dengan memperdengarkan suara musik untuk memberikan stimulasi sensori motorik, pendengaran, dan mencegah periodic apnea. g. Dukungan dan Keterlibatan Keluarga Kelahiran bayi preterm merupakan kejadian yang tidak diharapkan dan membuat stress bila keluarga tidak siap secara emosi. Orang tua biasanya memiliki kecemasan terhadap kondisi bayinya, apalagi perawatan bayi di unit perawatan

khusus mengharuskan bayi dirawat terpisah dari ibunya. Selain cemas, orang tua mungkin juga merasa bersalah terhadap kondisi bayinya, takut, depresi, dan bahkan marah. Perasaan tersebut wajar, tetapi memerlukan dukungan dari bidan. Bidan dapat membantu keluarga dengan bayi BBLR dalam menghadapi krisis emosional, antara lain dengan memberi kesempatan pada orang tua untuk melihat, menyentuh, dan terlibat dalam perawatan bayi. Hal ini dapat dilakukan melalui metode kanguru karena melalui kontak kulit antara bayi dengan ibu akan membuat ibu merasa lebih nyaman dan percaya diri dalam merawat bayinya. Dukungan lain yang dapat diberikan perawat adalah dengan menginformasikan kepada orang tua mengenai kondisi bayi secara rutin untuk meyakinkan orang tua bahwa bayinya memperoleh perawatan yang terbaik dan orang tua selalu mendapat informasi yang tepat mengenai kondisi bayinya. 2.9 Pertumbuhan Fisik BBLR a. Pengertian Pertumbuhan Pertumbuhan adalah pertambahan ukuran yang terjadi pada individu yang lebih muda pada semua spesies (Jones, dkk., 2005). Pertumbuhan adalah perubahan besar, jumlah , ukuran atau dimensi sel, organ maupun individu yang diukur dengan ukuran berat, ukuran panjang, umur tulang, dan keseimbangan metabolik (Chamley, dkk., 2005). b. Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Fisik Pertumbuhan fisik dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik dari dalam (dari bayi sendiri) maupun dari luar, antara lain (Jones et al., 2005) : 1) Asupan nutrisi yang tidak adekuat Pada periode awal setelah kelahiran, metabolisme yang belum stabil dapat menganggu penyerapan nutrisi yang mengakibatkan kegagalan pada tahap awal pertumbuhan. Asupan nutrisi dapat pula terganggu karena beberapa hal, termasuk adanya intoleransi makanan, dugaan NEC (Necrotizing Enterocolitis), atau gastro-oesophageal reflux yang parah.

2) Ketidakmatangan pencernaan dan penyerapan nutrisi Pada minggu pertama setelah kelahiran, BBLR yang menerima nutrisi enteral menunjukkan pertumbuhan yang kurang oleh karena fungsi pencernaan yang belum matang dan penyerapan lemak yang kurang baik. 3) Pembatasan cairan Pembatasan cairan mungkin diperlukan pada beberapa kondisi, akan tetapi dapat berakibat pada pertumbuhan bayi. Pertumbuhan menjadi terhambat, dan hal ini terjadi pada waktu pertumbuhan seharusnya sangatlah pesat. Oleh karena itu, pembatasan cairan harus dipertimbangkan dengan benar. 4) Peningkatan kebutuhan energi Ada beberapa keadaan yang dapat menyebabkan peningkatan kebutuhan energi, misalnya kedinginan atau stress fisik karena ketidaknyamanan yang dirasakan oleh bayi. Bayi dengan kondisi jantung tertentu dan beberapa penyakit paru kronis mengalami peningkatan penggunaan energi. Kontak

kulit secara langsung antara bayi dengan ibunya melalui PMK dapat mencegah bayi terjadi hipotermi karena terjadi perpindahan panas dari tubuh ibu ke bayinya sehingga suhu bayi selalu stabil. Selain itu, PMK akan membuat bayi menjadi lebih nyaman dan tida stress serta meningkatkan kemampuan dan kepercayaan diri ibu dalam merawat dan menyusui bayi. Hal ini dapat meminimalkan penggunaan energi oleh bayi sehingga energy yang ada dapat digunakan untuk pertumbuhannya. Bayi yang mengalami stress fisik dapat berakibat peningkatan denyut jantung dan pernafasan bayi sehingga meningkatkan kebutuhan tubuh akan oksigen dan energi. Bohnhorst dan Heyne (2001) meneliti tentang manfaat PMK terhadap pernafasan dan termoregulasi pada 22 bayi BBLR dengan usia gestasi antara 24-31 minggu didapatkan hasil pada pengukuran suhu rektal terdapat peningkatan suhu setelah dilakukan PMK dari 36,2-37,4C menjadi 36,638,6C.

5) Penggantian sodium yang tidak adekuat Bayi prematur mempunyai kebutuhan sodium yang tinggi karena fungsi ginjal yang belum matang sehingga memerlukan jumlah sodium yang lebih banyak untuk mempertahankan sodium serum tetap normal. 6) Kurang lemak susu Cara menyusui yang kurang benar, yaitu menyusui tetapi tidak sampai

payudara kosong dapat mengakibatkan asupan lemak susu berkurang karena kandungan ASI yang paling kaya akan lemak adalah ASI yang terakhir keluar. Melalui PMK ibu juga diajarkan cara menyusui yang benar sehingga ibu dapat menyusui dengan benar dan lebih percaya diri. 7) Pemberian steroid pasca lahir Pemberian steroid atau dexamethasone dapat mempengaruhi pertambahan berat dan panjang badan. Hal ini disebabkan obat meningkatkan katabolisme sehingga pemecahan protein dipercepat. Pada kondisi ini peningkatan asupan protein tidak terlalu bermanfaat karena dapat memicu stress metabolik. 8) Kurang aktivitas Kurang aktivitas dalam jangka waktu lama mempengaruhi pertambahan berat badan dan pertumbuhan tulang. Aktivitas ini bukan hanya aktivitas aktif tetapi juga pasif. Peran perawat sangat diperlukan dalam mengupayakan aktivitas pasif pada bayi, misalnya dengan mengubah posisi dan memberi pijatan ringan pada bayi. Pemberian aktivitas pasif pada bayi dapat dilakukan melalui PMK karena selama aktivitas ini ibu dianjurkan untuk memberikan sentuhan fisik secara lembut kepada bayi untuk merangsang psikomotor bayi. Penelitian yang dilakukan oleh Feldman dan Eidelman (2002) pada 73 bayi preterm yang dilakukan PMK secara termitten dan diikuti

perkembangannya selama 6 bulan, memberikan dampak positif pada perkembangan neurophysiological, kognitif, dan perkembangan motorik serta proses parenting. c. Penilaian pertumbuhan Fisik

Indikator pertumbuhan fisik dapat dinilai dari berat badan, panjang badan, lingkar kepala, lingkar lengan atas, dan lipatan kulit.Akan tetapi pengukuran yang paling mudah dan sering digunakan pada bayi untuk memantau dan menilai pertumbuhannya adalah kenaikan berat badan (Kosim Sholeh, 2005). Bayi akan kehilangan berat selama 7-10 hari pertama (sampai 10% untuk bayi dengan berat lahir 1500 gr dan 15% untuk bayi dengan berat lahir < 1500 gr ). Berat lahir biasanya tercapai kembali dalam 14 hari kecuali apabila terjadi komplikasi. Setelah berat lahir tercapai kembali, kenaikan berat badan selama tiga bulan seharusnya : 150-200 gr seminggu untuk bayi < 1500 gr ( misalnya 20-30 gr/hr) 200-250 gr seminggu untuk bayi 1500-2500 gr ( misalnya 30-35 gr/hari)

d. Cara mengukur berat badan BBLR Pengukuran berat badan bertujuan untuk menilai apakah pemberian nutrisi dan cairan sudah adekuat, mengidentifikasi masalah yang masalah yang berhubungan dengan BBLR, memantau pertumbuhan, serta menghitung dosis obat dan jumlah cairan. Pengukuran dilakukan dua kali seminggu (kecuali kalau diperlukan lebih sering) sampai berat badan meningkat pada tiga kali penilaian berturut-turut dan kemudian dinilai seminggu sekali selama bayi masih dirawat di rumah sakit. Kenaikan berat badan minimum 15 gr/kgBB/hari selama tiga hari. Peralatan yang digunakan adalah timbangan dengan ketepatan 5-10 gr yang dibuat khusus untuk menimbang bayi. Alat timbangan harus ditera sesuai petunjuk,atau lakukan peneraan sekali seminggu atau setiap kali alat dipindahkan tempatnya jika buku petunjuk tidak ada. 2.10 Prognosis Prognosis Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) tergantung dari berat ringannya masalah perinatal, misalnya masa gestasi, asfiksia, sindrom gangguan pernapasan, infeksi. Prognosis ini juga tergantung dari keadaan sosial ekonomi, pendidikan orang tua dan perawatan pada saat kehamilan, persalinan dan post natal, resusitasi, mencegah infeksi, mengatasi gangguan pernafasan dan

hipoglikemia (Prawirohardjo, 2006).