Anda di halaman 1dari 44

Surat

An-Naas

Muwashafat yang ingin dicapai


Hafal surat Adh-dhuha sampai An-Naas
Tidak berhubungan dengan jin (p)
Tidak meminta tolong kepada orang yang
berlindung kepada jin (p)
Tidak menghadiri majlis dukun dan peramal
(p)
Mengimani rukun iman (s)
Tidak mengadu domba (p)
Tidak ghibah (p)
Menjauhi dosa besar (p)

I. TUJUAN UMUM
Memperkuat tali ikatan dengan
Kitabullah, dasar pemahaman yang
benar, penanaman cinta, penguasaan
untuk mengajarinya, merasa terikat
dengan taujihnya, mengamalkan
kandungannya, memburnikan sasaransasaran dengan menyesuaikan ruang
dan waktu, dan kembali kepada AlQuran ketika berselisih.

II. TUJUAN KHUSUS


1. Menjelaskan kosa kata dan
dilalahnya
2. Menjelaskan surat yang setara
dengan sepertiga surat dengan
menerangkan dalil-dalilnya dari
sunah
3. Mengenali surat-surat pengusir
syetan, pembatal sihir, dan penjaga
manusia dari godaan syetan

III. SASARAN AFEKTIF


1.
2.
3.
4.
5.
6.

Baik bacaannya, hafalan dan pemahaman


kandungan surat.
Meluruskan pemahaman yang salah yang ada di
Masyarakat.
Tetap bertawakal kepada Allah dan bergantung
kepadaNya
Senantiasa mempersiapakan diri untuk bertemu
Allah dengan bekal ketakwaan
Mencari petunjuk dari ayat-ayat Allah swt dalam
pembahasan ilmiah.
Menjauhi para penjajah nafsu orang munafik da
berlindung kepada Allah dari mereka

IV. SASARAN SIKOMOTORIK.


1.
2.

3.

Memperindah bacaan
surah Annas
selalu mewiridkan surat
Annas diwaktu pagi dan
petang
membacanya pada
waktu-waktu tertentu

IV. KEGIATAN PEMBELAJARAN


Pilihan kegiatan yang bisa diselenggarakan dalam halaqah
adalah:

1. Kegiatan Pembuka

Mengkomunikasikan tentang urgensi mengkaji Tafsir surat


An-Nas

2. Kegiatan Inti:

Kajian tentang Tafsir surat An-Nas


Berdikusi dan tanya jawab seputar pokok bahasan
tujuan Kognitif, afektif dan psikomotor

( lihat

Penekanan dari murobbi tentang nilai dan hikmah yang


terkandung dalam materi tersebut
3. Kegiatan Penutup:
Tugas mandiri (lihat kegiatan pendukung)
Evaluasi (dibuat soal sesuai tujuan khusus, afektif, dan
psikomotor)

V. PILIHAN KEGIATAN PENDUKUNG.


1. Belajar membaca surat Al-Quran dan menghapalnya
2. Mendokumentasikan film yang berbicara tentang
kehebatan Al-Quran.
3. Merangkum inti-inti surat dan menulisnya pada kertas di
dinding agar mudah dihafal .
4. Menulis cerita yang berkenaan dengan kemulian orang
yang bertaqwa dan kehinaan orang yang durhaka
5. Mengadakan Rihlah individu untuk merenungi ayat-ayat
Allah.
6. Mengadakan halaqah tahsin Al-Quran beserta tafsir untuk
remaja dan pemuda.
7. Membahas rahasia-rahasia dan mukjizat yang ada dalam
Al-Quran
8. Melengkapi buku-buku kaset video dan kaset tafsir yang
sederhana
9. Melengkapi kaset-kaset muratal di perpustakaan masjid

VI.

1.

2.
3.

4.

SARANA EVALUASI DAN MUTABAAH.

Menguji peserta sekitar hukumhukum tajwid baik teori maupun


praktek
Menguji hafalan surat setiap peserta
secara lafazh dan maknanya
Mengevaluasi perilaku peserta dan
komitmennya terhadap adab-adab
Al-Quran
Membuat format untuk mengevaluasi
keikutsertaan dalam kegiatankegiatan di atas

VII. SASARAN PEMBELAJARAN.


1. Paruh kedua dari Juz Amma (Al-ala s/d An-nas)
2. Menjelaskan makna dari kosakata dan dilalah yang ada
3. Menerangkan kesesuian risalah Islam dengan ciptaan
Allah.
4. Menyebutkan tugas-tugas Rasul dari kesimpulan surat
tersebut .
5. Menjelaskan kehancuran orang-orang zhalim dan
dampaknya dalam kemenangan dakwah para dai, dan
meluasnya dakwah islamiyyah.
6. Menerangkan rahasia dibalik ujian Allah, dan pengaruh
ujian tersebut terhadap manusia, dan bagaimana sikap
seorang mukmin menghadapinya.
7. Menjelaskan fadilah menyegerakan berbuat kebajikan.
8. Memaparkan peranan dai dalam menyebarluaskan akhlak
islami

Al-Muhtawa
) 3(
) 2(
) 1(


) 4(



)6(
) 5(

1. Katakanlah, "Aku berlidung kepada
Tuhan (yang memelihara dan menguasai)
manusia. 2. Raja manusia. 3. Sembahan
manusia. 4. Dari kejahatan (bisikan)
syaitan yang biasa bersembunyi, 5. Yang
membisikkan (kejahatan) ke dalam dada
manusia, dari (golongan) jin dan manusia.
6. Dari (golongan) jin dan manusia."

PENDAHULUAN
Menurut pendapat para ulama
di bidang tafsir, diantaranya
Ibnu Katsir, Asy Syafii dan Asy
Syaikh Abdurrahman As Sady
bahwa surat An-Naas
termasuk golongan surat
Makkiyah (turun sebelum
hijrah).

Surat An Naas merupakan salah satu Al


Muawwidzataini. Yaitu dua surat yang mengandung
permohonan perlindungan, yang satunya adalah surat
Al Falaq.
Kedua surat ini memiliki kedudukan yang tinggi
diantara surat-surat yang lainnya. Rasulullah SAW
bersabda:

Telah diturunkan kepadaku ayat-ayat yang tidak semisal dengannya yaitu Al


Muawwidataini (surat An Naas dan surat Al Falaq). (Muslim no. 814,
Tirmidzi no. 2827, Nasai no. 944)

Setelah turunnya dua surat ini, Rasulullah SAW


mencukupkan keduanya sebagai bacaan (wirid) untuk
membentengi diri dari pandangan jelek jin maupun manusia.
(Tirmidzi no. 1984, dari shahabat Abu Said ra)

Namun bila disebut Al Muawwidzat, maka


yang dimaksud adalah dua surat ini dan
surat Al Ikhlash. Al Muawwidzat, salah satu
bacaan wirid/dzikir yang disunnahkan untuk
dibaca sehabis shalat. Shahabat Uqbah bin
Amir membawakan hadits dari Rasulullah
SAW, bahwa beliau SAW bersabda:

Bacalah Al Muawwidzat pada setiap sehabis


shalat. (Abu Dawud no. 1523, dishahihkan oleh
Asy Syaikh Al Albani dalam Ash Shahihah no. 1514)

Al Muawwidzat juga dijadikan wirid/dzikir di waktu


pagi dan sore. Nabi saw bersabda: Barangsiapa yang
membacanya sebanyak tiga kali diwaktu pagi dan sore,
niscaya Allah subhanahu wataala akan mencukupinya
dari segala sesuatu. (Abu Daud no. 4419, Naasaai no.
5333, dan Tirmidzi no. 3399)
Demikian pula disunnahkan membaca Al Muawwidztat
sebelum tidur. Caranya, membaca ketiga surat ini lalu
meniupkan pada kedua telapak tangannya, kemudian
diusapkan ke kepala, wajah dan seterusnya ke seluruh
anggota badan, sebanyak tiga kali. (Bukhari 4630
Al Muawwidzat juga bisa dijadikan bacaan ruqyah
(pengobatan ala islami dengan membaca ayat-ayat Al
Quran). Dipenghujung kehidupan Rasulullah saw, beliau
dalam keadaan sakit. Beliau meruqyah dirinya dengan
membaca Al Muawwidzat, ketika sakitnya semakin parah,
maka Aisyah yang membacakan ruqyah dengan Al
Muawwidzat tersebut. (Al Bukhari no. 4085 dan Muslim
no. 2195)

HUBUNGAN SURAT

Hubungan surat An-Naas dengan


surat sebelumnya
Kedua-duanya sama-sama mengajarkan
kepada manusia, hanya kepada Allahlah menyerahkan diri dari segala
kejahatan
Surat Al-Falaq memerintahkan untuk
memohon perlindungan dari segala
bentuk kejahatan, sedang surat An-Naas
memerintahkan untuk memohon
perlindungan dari jin dan manusia.

TAFSIR
AYAT

Kosa Kata
Arti
1. Yang membisikkkan kata-kata
jahat di dada manusia.
2. Bentuk hiperbola dari kata AlKhunus yang berarti kembali atau
terlambat. Karena kalau ia diusir ia
mundur dan kembali.
3. Makhluk tersembunyi, tidak ada
yang
mengetahuinya
selain
Penciptanya.

Mufradat

.1
.2

.3

TAFSIR AYAT 1-3

Katakanlah (Wahai Muhammad): Aku


berlindung kepada Rabb manusia.

Raja manusia.

Sembahan manusia.

Tiga ayat diatas merupakan sebuah tarbiyah ilahiyah, Allah


memerintahkan kepada Nabi-Nya untuk memohon perlindungan
hanya kepada-Nya. Karena Dia adalah:
* Rabb (yaitu sebagai pencipta, pengatur, dan pemberi rizki),
* Al Malik (pemilik dari segala sesuatu yang ada di alam ini),
* Al Ilah (satu-satunya Dzat yang berhak diibadahi).
Dengan ketiga sifat Allah SWT ini, Nabi Muhammad diperintah
untuk memohon perlindungan hanya kepada-Nya, dari kejelekan
was-was yang dihembuskan syaithan dan dari kejahatan karena
kedengkian jin dan manuisa.
Sebuah pendidikan Rabbani, bahwa semua yang makhluk
Allah SWT adalah hamba yang lemah, butuh akan pertolonganNya SWT. Termasuk Nabi Muhammad SAW beliau adalah
manusia biasa yang butuh akan pertolongan-Nya. Sehingga
beliau adalah hamba yang tidak boleh disembah, bukan tempat
untuk meminta pertolongan dan perlindungan, dan bukan tempat
bergantung.

TAFSIR AYAT 4

Dari kejahatan
syaithan
biasa tersembunyi
bersembunyi.
Makna
Al was-was(bisikan)
adalah bisikan
yangyang
betul-betul
dan samar, Sementara makna al khannas adalah mundur.
Bagaimana maksud dari ayat ini?
Maksudnya, bahwasanya syaithan selalu menghembuskan bisikanbisikan yang menyesatkan manusia disaat manusia lalai dari berdzikir
kepada Allah SWT. Sebagaimana firman-Nya (artinya):
Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Rabb yang Maha
Pemurah (Al Quran), Kami adakan baginya syaitan (yang
menyesatkan). Maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu
menyertainya. (Az Zukhruf: 36)
Adapun ketika seorang hamba berdzikir kepada Allah subhanahu
wataala, maka syaithan bersifat khannas yaitu mundur dari
perbuatan menyesatkan manusia. Sebagaimana dalam firman-Nya
(artinya):
Sesungguhnya syaitan itu tidak mempunyai kekuasaan atas orangorang yang beriman dan bertawakkal kepada Rabb-nya. (An Nahl:
99)

Al Imam Ibnu Katsir di dalam


kitab tafsirnya ketika
membawakan penafsiran dari
Said bin Jubair dan Ibnu Abbas,
yaitu: Syaithan bercokol di
dalam hati manusia, apabila dia
lalai atau lupa maka syaithan
menghembuskan was-was
padanya, dan ketika dia
mengingat Allah subhanahu
wataala maka syaithan lari
darinya.

TAFSIR AYAT 5

Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia.


Inilah misi syaithan yang selalu berupaya menghembuskan waswas kepada manusia;
* Menghiasi kebatilan sedemikian indah dan menarik.
* Mengemas kebenaran dengan kemasan yang buruk.
Sehingga seakan-akan yang batil itu tampak benar dan yang
benar itu tampak batil.
Cobalah perhatikan, bagaimana rayuan manis syaithan yang
dihembuskan kepada Nabi Adam dan istrinya. Allah SWT kisahkan
dalam firman-Nya :
Maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk
menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka
yaitu auratnya, dan syaitan berkata: Rabb-mu tidak melarangmu
untuk mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak
menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal
(dalam al jannah/surga). (Al Araf: 20)

Demikian pula, kisah ketika Rasulullah shalallahu alaihi


wasallam sedang beritikaf. Shafiyyah bintu Huyay (salah
seorang istri beliau saw) mengunjunginya di malam hari. Setelah
berbincang
beberapa
saat,
maka
Rasulullah
saw
mengantarkannya pulang ke kediamannya. Namun perjalanan
keduanya dilihat oleh dua orang Al Anshar. Kemudian syaithan
menghembuskan ke dalam hati keduanya perasaan was-was
(curiga). Rasulullah saw melihat gelagat yang kurang baik dari
keduanya. Oleh karena itu Rasulullah saw segera mengejarnya,
seraya bersabda:

.



:
,

:

,

,

.

Tenanglah kalian berdua, dia adalah Shafiyyah bintu Huyay. Mereka


berdua berkata: Maha Suci Allah wahai Rasulullah. Maka Rasulullah
bersabda: Sesungguhnya syaithan mengalir di tubuh bani Adam sesuai
dengan aliran darah, dan aku khawatir dihembuskan kepada kalian
sesuatu atau keburukan. (H.R Muslim no. 2175)

Demikianlah watak syaithan selalu menghembuskan


bisikan-bisikan jahat ke dalam hati manusia. Apalagi Allah
subhanahu wataala dengan segala hikmah-Nya telah
menciptakan pendamping (dari kalangan jin) bagi setiap
manusia,
bahkan
Rasulullah
saw
juga
ada
pendampingnya. Sebagimana sabdanya shalallahu alaihi
wasallam:

:




:
.

Tidaklah salah seorang dari kalian kecuali diberikan seorang pendamping dari
kalangan jin, maka para shahabat berkata: Apakah termasuk engkau wahai
Rasulullah? Rasulullah shalallahu alaihi wasallam menjawab: Ya, hanya saja
Allah telah menolongku darinya, karena ia telah masuk Islam, maka dia tidaklah
memerintahkan kepadaku kecuali kebaikan. (Muslim no. 2814)

TAFSIR AYAT 6

Dari (golongan) jin dan manusia.


Dari ayat ini tampak jelas bahwa yang melakukan bisikan
ke dalam dada manusia tidak hanya dari golongan jin,
bahkan manusia pun bisa berperan sebagai syaithan. Hal
ini juga dipertegas dalam ayat lain:
Dan Demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu
syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebagian mereka
membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang
indah-indah untuk menipu (manusia) (Al Anam: 112)
Maka salah satu jalan keluar dari bisikan dan godaan
syaithan baik dari kalangan jin dan manusia adalah
sebagaimana firman Allah SWT: Dan jika syaithan
mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah
perlindungan kepada Allah. (Fushshilat: 36)

PENUTUP
Melalui surat ini jelas bagi kita bahwa
memohon pertolongan dan perlindungan
hanya kepada Allah subhanahu wataala
semata.
Mengakui bahwa sesungguhnya seluruh
makhluk berada di bawah pengaturan dan
kekuasaan-Nya subhanahu wataala.
Bahwa semua kejadian ini terjadi atas
kehendak-Nya SWT.
Dan
tiada
yang
bisa
memberikan
pertolongan dan menolak mudharat kecuali
atas kehendak-Nya subhanahu wataala pula.

Semoga Allah SWT


menjadikan kita sebagai
hamba-hamba-Nya yang
senantiasa meminta
pertolongan, perlindungan
dan mengikhlaskan seluruh
peribadahan hanya kepadaNya.

Dalam tafsir fi
Zhilalil Quran

: .

Memohon perlindungan yang disebutkan


pada surat ini adalah kepada Tuhan
manusia, raja manusia dan sembahan
manuisa.
Yang dimintakan perlindungan darinya
adalah
Jahatnya bisikan yang bersumber dalam
dada manusia; baik dari jin atau manuisa

Memohon perlindungan kepada


Tuhan, Raja dan Ilah akan
menghadirkan sifat-sifat Allah
yang dapat menolak segala
kejahatan secara umum dan
kejahatan bisikan secara khusus.

.

.






. .



. .
.
Ar-Rabb adalah murabbi (yang membimbing,
mengarahkan, memelihara dan melindungi.
Al-Malik adalah yang memiliki, yang menentukan dan
mengatur.
Al-Ilah adalah yang Maha tinggi, berkuasa dan
menekan.
Sifat-sifat ini dapat memberikan perlindungan dari
segala kejahatan yang berasal dari dada (hati), yang
kebanyakan manusia tidak mampu melakukannya karena
tersembunyi


.

Allah adalah Pengatur dan penata dari segala
sesuatu, pemilik dari segala sesuatu dan Ilah
(Tuhan) yang berhak disembah dari segala
sesuatu. Namun dikhususkan penyebutan beriring
dengan sebutan manusia membuat mereka
merasakan kedekatan terutama pada saat
memohon perlindungan dan penjagaan.




.


..

Allah dengan rahmat-Nya memberikan pengarahan


kepada Rasulullah saw dan umat untuk senantiasa
berlindung dan bersimpuh kepada-Nya, diiringi dengan
menghadirkan makna dari sifat-sifat-Nya dari berbagai
bisikan yang tersembunyi yang tidak memiliki kekuatan
untuk menghadapinya kecuali dengan pertolongan Allah;
Rabb, al-Malik dan al-Ilah. Karena bisikan tersebut hadir
dari arah yang tidak dapat mereka rasakan, datang dari
arah yang tidak mereka duga.



. . {

{ :
{ :
. {

. . {
{ :






!
Dalam nash disebutkan sifat pertama: Al-Was was alkhannas (bisikan orang yang kembali), dan menetapkan
pekerjaannya yang membisikkan di dada manusia kemudian
ditetapkan pula substansinya dari jin dan manusia.
Urutan ini membangkitkan perasaan sadar, hati-hati dan
perhatian untuk menjelaskan bisikan al-khannas, setelah
menyebutkan secara global karakternya pada awal pembicaraan;
ini untuk memberikan pemahaman akan pebuatan yang mengarah
pada kejahatan dan memberikan arahan untuk menolak atau
memantaunya!

. .



!

Dan kata jiwa ketika dipahami setelah adalah kesadaran dan
kehati-hatian bahwa bisikan al-khannas senantiasa membisikkan di
dalam dada manusia secara sembunyi-sembunyi dan rahasia, adalah
Jin yang tidak tampak, dan manusia yang selalu membisikkannya ke
dada manusia seperti yang dilakukan oleh jin.. Dan mereka
membisikkan itu seperti halnya bisikan syaitan.. Dan karena itu, jika
jiwa telah memahami ini maka akan tergerak untuk
mempertahankkannya, karena dirinya telah mengetahui celahnya,
tempat masuknya danjalannya!.

. .

Adapun bisikan jin kita tidak mengetahui bagaimana


caranya, namun kita mendapatkannya melalui dampak yang
terjadi di dalam tubuh setiap jiwa dan realita kehidupan.
Sebagaimana kita fahami bahwa perang antara Adam dan
Iblis adalah laten; dan syetan telah mengumandangkan
perang yang bersumber dari akhlak yang jahat di dalamnya,
oleh karena kesombongannya, kedengkitannya,
kebenciannya terhadap manusia! Dan syaitan telah meminta
izin kepada Allah dan Allah mengizinkan untuk melihat
adanya hikmah dibalik semua itu! Sementara manusia tidak
dibiarkan begitu saja, namun diberikan kepadanya benteng
dan menjadikan zikir sebagai tameng dan menjadikan
istiadzah sebagai senjata karena itu jika manusia lalu;
bentengnya, perangkatnya dan senjatanya maka pada
hakikatnya dia sendiri yang tercela!


Dari ibnu Abbas RA berkata: Nabi saw
bersabda: Syaitan selalu berada di hati
anak cucu Adam, jika ia berdzikir kepada
Allah maka ia akan menjauh namun jika
lengah maka ia akan membisiki (Jami AlUshul)

.
!

!

!

.

.

. .
!

Adapun manusia kita banyak tahu akan bisikan mereka. Dan


kita tahu bahwa ia lebih berbahaya dari bisikan syaitan!
- Teman yang jahat yang selalu membisikkan kejahatan ke dalam
hati dan akal teman lainnya dari arah yang tidak disangka dan
tidak dijaga, karena ia mengira adalah sahabat karibnya!
- Bawahan pejabat- yang jahat selalu membisikkan kepada
pemimpinnya sehingga ia akan melakukan segala kejahatan dan
kediktatoran serta kerusakan di muka bumi, menghancurkan dan
membinasakan tanaman dan keturunan
- Para pengadu domba (pengumpat) yang senantiasa menghiasi
dan membuat elok ucapannya, sehingga tampak seakan sebagai
kebenaran yang tidak ada keraguan di dalamnya.
- Para penjual syahwat yang selalu membisikkan melalui pintupintu syahwat, mempedaya yang tidak mampu ditolak kecuali
bagi siapa yang memiliki hati dan jiwa yang waspada dan
pertolongan Allah.
Dan para pembisik lainnya yang senantiasa bergentayangan
dan menyembunyikannya, masuk dari berbagai pintu hati yang
tersebut yang tidak disadari dan dirasa,.. Mereka adalah lebih jahat
dari jin dan lebih tersembunyi dari derap semut hitam!

.
!
. . { {
.
.
.
. :
. .
.
Bahwa manusia memang lemah dari menolak bisikan yang tersembunyi. Karena
itulah Allah memberikan petunjuk dengan perangkat, benteng dan senjata dalam perang
yang sangat mengerikan!
Ada pelajaran yang sangat penting dalam mensifati kata-kata Al-waswas yaitu
dengan Al-Khannas bahwa sifat ini dari satu sisi- menunjukkan tersembunyi dan samar
sehingga mendapatkan kesempatan yang baik untuk membisikkan dan merayu. Namun
dari sisi lain- mengisyaratkan kelemahannya dihadapan orang-orang yang sadar akan tipu
daya dan selalu melindungi pintu-pintu masuk yang ada di dadanya. Baik yang berasal dari
jin atau dari manusia, jika mampu dihadapai akan lambat dan kembali lagi sebagaimana
semula, lalu menutup dan bersembenyi. Atau seperti yang disabdakan oleh nabi saw: jika
ia berdzikir kepada Allah maka ia akan menjauh namun jika lengah maka ia akan
membisiki
Dari pelajaran ini akan memperkuat hati dalam menghadapi berbagai bisikan, karena
ia adalah lambat, lemah dihadapan orang yang beriman dan sadar terhadap perang ini.

.
. . .

:
{ :
:


. : .


.
. {

. .
.
. .
.
.
. .
.
. .