Anda di halaman 1dari 20

Asuhan Keperawatan Pada klien dengan Diabetes Melitus

Pengertian Diabetes mellitus adalah serangkaian gangguan dimana tubuh tidak mampu mengatur secara tepat pengolahan, atau metabolisme karbohidrat, lemak dan protein. Ini disebabkan oleh kekurangan baik sebagian maupun mutlak insulin hormone penting, yang dihasilkan dan dilepaskan oleh selsel khusus (dikenal sebagai selsel beta) yang terletak dibagian pancreas (Mewright, A. 2006 hal 143 ).

Diabetes mellitus (DM) merupakan sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia (Smeltzer, B. 2002 hal:1220).

Diabetes Melllitus (DM) adalah suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-duanya (Sudoyo W,A.dkk. 2009: hal: 1880).

Diabetes Mellitus adalah masalah yang mengancam hidup (kasus darurat) yang disebabkan oleh defisiensi insulin relative atau absolute ( Doenges,M.G.2001 hal: 726).

Etiologi Diabetes tipe I ditandai oleh penghancuran sel-sel beta pankreas. Kombinasi faktor genetika, imunologi dan mungkin pada lingkungan (misalnya : infeksi ataupun virus). Faktor genetik Faktor-faktor genetik penderita diabetes tidak mewarisi diabetes tipe I itu sendiri tetapi mewarisi suatu predisposisi atau kecendrungan genetik kearah terjadinya diabetes type I. Kecendrungan genetik ini ditemukan pada individu yang memiliki type antigen HLA (Human Leucocyte Antygen) tertentu. Resiko terjadinya diabetes type I meningkat 3-5 kali lipat pada indifidu yang memiliki salah satu dari type HLA ini. Faktor-faktor imunologi Pada diabetes type I terdapat bukti adanya suatu respon autoimun. Respon ini merupakan respon abnormal dimana antibodi terarah pada jaringan normal tubuh dengan cara bereaksi terhadap jaringan tersebut yang di anggap seolah-olah sebagai jaringan asing. Faktor lingkungan Hasil penelitian yang menyatakan bahwa virus atau toksin tertentu dapat memicu proses autoimun yang menimbulkan destruksi sel beta.

Diabetes type II faktor genetik diperkirakan memegang peranan penting dalam proses terjadinya resistensi insulin, selain itu terdapat pula faktor- faktor resiko seperti : Usia (resistensi insulin cendrung meningkat pada usia diatas 65 tahun), obesitas, riwayat keluarga, kelompok etnik (penduduk asli amerika memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk terjadinya diabetes type II).

Usia Resistensi insulin cenderung meningkat pada usia diatas 65 tahun Obesitas Pada penderita terdapat banyak orang yang gemuk yang sering timbul middleage (40-60) jika memakan kalori hanya untuk melakukan pekerjaan sehari hari maka sering kali gejala diabetes melitus timbul. Riwayat keluarga Kurang lebih 25 % dari penderita diabetes melitus mempunyai anggota keluarga yang menderita diabetes melitus, ini menunjukan faktor keturunan. Gaya hidup Pola makan yang tidak teratur akan terlalu banyak mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung kalori tanpa diiringi dengan olaraga atau aktifitas yang sesuai.

Patofisiologi Proses Penyakit Pada diabetes tipe I sel-sel beta dari pulau langerhans telah mengalami kerusakan gula dalam darah, sehingga dikenal dengan istilah Insulin Dependent Diabetes Mellitus (IDDM). Jika sehingga pankreas berhenti memproduksi insulin. Hal ini menyebabkan penderita harus mendapatkan suntikan insulin setiap hari selama hidupnya untuk mengatur metabolisme konsentrasi glukosa dalam darah cukup tinggi, ginjal tidak dapat menyerap kembali semua glukosa yang tersaring keluar, akibatnya, glukosa tersebut muncul dalam urin (glukosuria). Ketika glukosa yang berlebih di ekskresikan ke dalam urin, eksresi ini akan disertai pengeluaran cairan dan elektrolit yang berlebihan, keadaan ini dinamakan diuresis osmotik. Sebagai akibat dari kehilangan cairan yang berlebihan, pasien akan mengalami peningkatan dalam berkemih (poliuria) dan rasa haus (polidipsia). Defisiensi urin juga mengganggu metabolisme protein dan

lemak yang menyebabkan penurunan berat badan. Pasien dapat mengalami peningkatan selera makan (polifagia) akibat menurunnya simpanan kalori. Gejala lainnya mencangkup kelelahan dan kelemahan. Pada diabetes tipe II terjadi jika insulin hasil produksi pankreas tidak cukup atau sel-sel lemak dan otot tubuh menjadi kebal terhadap insulin, sehingga terjadi gangguan pengiriman gula ke sel tubuh. Diabetes tipe II dikenal dengan istilah Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM). Diabetes tipe II paling sering terjadi pada penderita diabetes yang berusia lebih dari 30 tahun dan obesitas. Akibat intoleransi glukosa yang berlangsung lambat (selama bertahuntahun) dan progresif, maka diabetes tipe II dapat berjalan tanpa terdeteksi. Jika gejalanya dialami pasien, gejala tersebut sering bersifat ringan dan dapat mencakup kelelahan, iritabilitas, poliuria, polidipsia, luka pada kulit yang lama sembuhnya, infeksi vagina atau pandangan yang kabur (jika kadar glukosanya sangat tinggi) (Smeltzer, C. 2002 hal 1223). Klsifikasi Klasifikasi diabetes mellitus adalah sebagai berikut: Tipe I : diabetes mellitus tergantung insulin/insulin dependent diabetes mellitus (IDDM) Tipe II : diabetes mellitus tidak tergantung insulin/insulin non dependent diabetes mellitus(NIDDM) Diabetes mellitus yang berhubungan dengan keadaan atau sindrom lainnya, seperti kelainana pankreas, kelainan hormonal, diabetes karena obat atau zat kimia, kelainan reseptor insulin dan kelainan genetik. Diabetes mellitus gestasional / gestational diabetes mellitus (GDM) / diabetes kehamilan intolerasi glukosa selama kehamilan, tidak dikelompokkan ke dalam NIDDM. Pada pertengahan kehamilan terjadi peningkatan hormon pertumbuhan dan hormone chronic somatomatropin (HCS).Hormon ini menigkat untu menghasilkan suplai asam amino dan glukosa ke fetus. Manifestasi Klinis

Tanda dan gejala yang khas secara umum : Poliuri (banyak kencing) Hal ini disebabkan oleh kadar glukosa darah meningkat sampai melampui daya serap ginjal terhadap glukosa sehingga terjadi osmotik diuresis yang banyak mengambil cairan dan elekrolit sehingga klien mengeluh banyak kencing. Polidipsi (banyak minum) Hal ini disebabkan pembakaran terlalu banyak dan kehilangan cairan banyak karena poliuri, sehingga untuk mengimbangi klien banyak minum. Poliphagi (banyak makan) Hal ini disebabkan karena glukosa tidak sampai ke sel sel yang membutuhkan sehingga sel mengalami starvasi (lapar). Respon yang terjadi klien akan terus menerus lapar. Walaupun sudah banyak makan tetap saja makanan tersebut hanya akan berada sampai pada pembuluh darah. Tanda dan gejala umum : penurunan berat badan, kelelahan, gatal gatal, mengantuk, kesemutan, obesitas dan terdapat luka yang lama sembuh. Berat badan menurun Akan timbul gejala lemas, cepat lelah, tenaga kurang. Hal ini disebapkan kehabisan glikogen yang telah dilebur jadi glukosa, maka tubuh berusaha mendapat peleburan zat dari bagian tubuh yang lain yaitu lemak dan protein karena tubuh terus merasakan lapar maka tubuh selanjutnya memecah cadangan makanan yang ada ditubuh termasuk yang berada dijaringan otot dan lemak sehingga klien dengan DM walaupun banyak makan akan tetap kurus. Mudah lelah Hal ini disebabkan karena kehabisan glikogen yang telah dilebur jadi glukosa maka tubuh berusaha mendapat peleburan zat dari bagian tubuh yang lain yaitu protein dan lemak. Pandangan kabur

Hal ini disebabkan oleh gangguan lintas polibi (glukosa-sarbitol fruktasi) yang disebabkan karena insufisiensi insulin. Akibat terdapat penimbunan sarbitol dari lensa, sehingga menyebabkan pembentukan katarak. Komplikasi Komplikasi pada Diabetes Mellitus dibagi menjadi : Komplikasi metabolik akut Komplikasi Diabetik (DKA) Diabetik Ketoasidosis adalah gangguan metabolik yang mengancam hidup secara potensi akut yang terjadi sebagai akibat dari defisiensi insulin yang lama, DKA merupakan komplikasi pada Diabetes Mellitus Tipe II.

Hiperglikemia Hiperosmolar Non Ketotik (HHNK) HHNK adalah metabolik yang mengancam hidup biasanya terjadi pada Diabetes Mellitus Tipe II. Hipoglikemia Hipoglikemia merupakan keadaan dengan glukosa darah dibawah 60 mg/dl. Ini terjadi bila terlalu banyak insulin / agen hipoglikemia oral yang dipergunakan bila obatobatan digunakan tetapi orang tersebut tidak makan. Komplikasi kronik jangka panjang Komplikasi mikrovaskuler (melibatkan pembuluh darah kecil) antara lain sebagai berikut : Retinopati diabetika Menyerang kapiler dan arteriora retina. Nefropati diabetika Menyerang glomerulus ginjal Komplikasi makrovaskuler (melibatkan pembuluh darah sedang dan besar) antara lain : Penyakit arteri koroner, infark miokard Penyakit serebrovaskuler seperti TIA (Transien Iskemik Attack) Neuropati diabetika Menyerang saraf saraf perifer

Penatalaksanaan Medis Tujuan utama pengobatan adalah usaha untuk menormalkan, mengontrol kadar gukosa darah, aktifitas insulin dan untuk mengurangi berkembangnya komplikasi vaskuler dan neuropati. Penatalaksanaan dalam menangani penyakit ini meliputi 5 komponen yaitu: Diet Diet dan pengobatan adalah pelaksanaan dalam pengontrolan gula darah pada penyakit Diabetes Mellitus.

Intake kalori Menentukan kebutuhan kalori dasar dengan mempetimbangkan usia, jenis kelamin, BB, dan tingkat aktivitas. Distribusi kalori Dalam pengaturan jumlah kalori harian, perencanaan pemberian makanan harus difokuskan. Olahraga Berpengaruh dalam menurunkan kadar glukosa darah dan mempengaruhi faktor resiko terhadap kardiovaskuler juga dapat meningkatkan pengambilan kadar gula dalam darah oleh otot tubuh dan meningkatkan penggunaan insulin, hal ini mengatur siklus darah dan sirkulasi darah. Kadar Gula Darah Monitor kadar gula darah dalam batas normal / tidak. Pengobatan Penggunaan insulin yang cukup pada Diabetes Mellitus Tipe II. diberikan terapi obat oral. Glucobay, glucopage, glibenklamid, metformin Pendidikan Kesehatan Apabila pasien pulang beri penyuluhan tentang penyakit dan perawatan Diabetes Mellitus

Pengkajian Keperawatan Pengkajian merupakan tahap awal dari proses keperawatan dimana data dikumpulkan melalui proses menyortir dan mengatur data yang dikumpulkan, mendokumentasikan data dalam format yang dapat dibuka kembali. Pengkajian merupakan data dasar pasien terdiri dari riwayat keperawatan, pemeriksaan fisik dan hasil pemeriksaan diagnostik. Data subjektif terdiri dari apa yang dilaporkan, diyakini, dan

dirasakan klien, sedangkan data objektif adalah apa yang dapat diobservasi contohnya tanda tanda vital, tingkah laku, pemeriksaan diagnostik. Pengkajian pada klien dengan Diabetes Mellitus : Data Biografi Yang terdiri atas nama, usia klien, jenis kelamin, dan tempat tinggal. Riwayat kesehatan Yang terdiri dari kesehatan masa lalu, kesehatan sekarang dan riwayat keluarga Aktifitas istirahat Gejala : Lemah, letih, sulit bergerak / berjalan, kram otot, tonus otot menurun, gangguan tidur, istirahat, takikardi dan takipnea pada keadaan istirahat atau dengan istirahat. Tanda : Letargi Disorientasi, takikardia dan takipnea, pada keadaan istirahat atau dengan

aktivitas,penurunan kekuatan oto, koma. Sirkulasi Gejala : Adanya riwayat hipertensi: infark miokard akut, klaudikasi, kebas, kesemutan pada ekstermitas ulkus pada kaki penyembuhan lama. Tanda : Takikardia, perubahan tekanan arah dan postral, hipertensi nadi yang menurun / tidak ada disritmia, kulit panas, kemerahan, mata cekung, krekels : DVJ (GJK). Integritas Ego Gejala : Lemah, letih, sulit bergerak atau berjalan, stres: tergantung pada orang lain, masalah finansial yang berhubungan dengan kondisi Tanda : Takikardi, takipnea, pada keadaan aktifitas / keadaan istirahat, letargi disorientasi, ansietas, peka ransang Eliminasi Gejala : Perubahan pola berkemih (poliuria), nokturia, rasa nyeri/terbakar, kesulitan berkemih (infeksi), ISK baru/berulang.nyeri tekan abdomen, diare.

Tanda

: Urine encer, pekak, kuning, poliuri (dapat berkembang menjadi oliguria/anuria jika terjadi hipoivolemia berat), Urin berkabut, bau busuk (infeksi), abdomen keras, adanya asites, bising usus lemah dan menurun: hiperaktif (diare). Makanan dan Cairan

Gejala

: Hilang nafsu makan, mual, muntah dan tidak mengikuti diet: peningkatan masukan glukosa/karbohidrat, penurunan berat badan lebih dari periode beberapa hari/minggu, haus.

Tanda

: Kulit kering/bersisik, turgor kulit jelek, kekakuan/distensi abdomen, muntah. pembesaran kelenjar tiroid (peningkatan kebutuhan metabolic dengan peningkatan gula darah), bau halitosis/manis, bau buah (napas aseton).

Nyeri / Ketidaknyamanan Gejala Tanda : Abdomen tegang atau nyeri (sedang/berat). : Wajah meringis dengan palpitasi tampak sangat berhati hati. Pernapasan Gejala : Merasa kekurangan oksigen, batuk dengan tanpa sputum purulen (tergantung adanya infeksi/tidak). Tanda : Lapar udara, batuk dengan tanpa sputum purulen (infeksi). rekuensi pernapasan cepat. Neurosensori Gejala Tanda : Pusing, sakit kepala, kesemutan, kelemahan pada otot, gangguan penglihatan. : Disorientasi, mengandung letargi, stupor / koma (tahap lanjut), gangguan memori (baru, masa lalu), kacau mental, refleksi tendom dalam (RTD) menurun (koma), aktivitas kejang (tahap lanjut dari Diabetk Ketoasidosis {DKA}). Keamanan Gejala Tanda : Kulit kering, gatal dan ulkus pada kulit. : Demam,diaphoresis, Kulit rusak, lesi/ulserasi. Menurunnya kekuatan umum/rentang gerak, parestesia/paralisis otot termasuk otot-otot pernapasan (jika kadar kalium menurun dengan cukup tajam). S Seksualitas Gejala : Rabas vagina (cenderung infeksi), masalah impoten pada pria, kesulitan pada wanita.

Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan lab: Glukosa darah : Meningkat 100-200 mg/dl,atau lebih. Aseton plasma (keton) : Positif secara mencolok. Asam lemak bebas : Kadar lipid dan kolesterol meningkat. Osmolatitas serum: Meningkat tetapi biasanya kurang dari 330 mOsm/l. Elektrolit: Natrium: Mungkin normal,meningkat atau menurun, Kalium, Normal atau peningkatan semu (perpindahan seluler), selanjutnya Akan menurun. Fosfor : Lebih sering menurun

Hemoglobin glikosilat: kadarnya meningkat 2-4 kali lipat dari normal yang mencerminkan kontrol DM yang kurang selama 4 bulan terakhir. Dan karenanya sangat bermanfaat dalam membedakan Diabetik ketoasidosis dengan kontrol tidak adekuat versus Diabetik Ketoasidosis yang berhubungan dengan insiden (mis, Infeksi Saluran Kemih baru).

Gas darah arteri: biasanya menunjukkan pH rendah dan penurunan pada HCO3 (asidosis metabolik) dengan kompensasi alkalosis respiratorik. Trombosit darah: Ht mungkin meningkat atau normal (dehidrasi): leukositois, hemokonsentrasi, merupakan respons terhadap stres atau infeksi. Ureum/kreatinin: mungkin meningkat atau normal (dehidrasi/penurunan fungsi ginjal).

Amilase darah: Mungkin meningkat yang mengindentifikasikan adanya pankreatitis akut sebagai penyebab dari Diabetik Ketoasidosis. Insulin darah: Mungkin menurun/bahkan sampai tidak ada (pada tipe 1) atau normal sampai tinggi (tipe II) yang mengindikasikan insufisiensi insulin/gangguan dalam penggunaanya (endogen/eksogen). Resisten insulin dapat berkembang sekunder terhadap pembentukan antibodi (autoantibodi).

Pemeriksaan fungsi tiroid: Peningkatan aktivitas hormon tiroid dapat meningkatkan glukosa dan kebutuhan akan insulin.

Urin: Gula dan aseton positif: berat jenis dan osmolalitas mungkin meningkat. Kultur dan sensitifitas: Kemungkinan adanya infeksi pada saluran kemih, infeksi pernapasan dan infeksi pada luka.

Diagnosa Keperawatan Diagnosa keperawatan merupakan tahap kedua dari tahap proses keperawatan, sering disebut juga sebagai analisa dan identifikasi masalah yang merupakan suatu proses analisa data dengan menggunakan penentu diagnosa keperawatan. Dimana pertimbangan, keputusan dan kesimpulan dibuat tentang makna dari data yang sudah dikumpulkan dalam upaya untuk menentukan apakah ada atau tidak intervensi keperawatan yang diperlukan.

Tipe konsep diagnose, ada 4 yaitu : Aktual, yaitu respon manusia saat ini terhadap kondisi kesehatan / proses kehidupan yang didukung oleh sekelompok batasan karakteristik (tanda dan gejala) dan termasuk faktor faktor (etiologi) yang mempunyai konstribusi terhadap perkembangan dan pemeliharaan diagnosa. Resiko, yaitu menunjukkan responsi manusia yang dapat timbul pada seseorang atau kelompok yang rentan dan ditunjang dengan faktor resiko yang member kontribusi pada peningkatan kerentanan. Keadaan sehat (potensial) yaitu menguraikan responsi manusia terhadap tingkat kesehatan pada individu atau kelompok yang mempunyai potensi peningkatan derajat kesehatan yang lebih tinggi. Sindrom yaitu diagnose keperawatan yang terdiri atas kelompok diagnose keperawatan aktual / resiko yang diperkirakan ada karena situasi atau peristiwa tertentu.

Diagnosa keperawatan pada klien dengan Diabetes Mellitus : Kekurangan volume cairan b/d diuresis osmotik, kehilangan gastric berlebihan:diare, muntah, masukan di batasi: Mual kacau mental. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d ketidak cukupan insulin, penurunan masukan oral, anoreksia, mual, peningkatan metabolism protein lemak. Resiko tinggi terjadinya infeksi b/d kadar glukosa tinggi, penurunan fungsi leukosit Resiko tinggi terhadap perubahan sensori perseptual b/d perubahan kimia endogen : ketidakseimbangan glukosa / insulin dan elekrolit Kelelahan b/d penurunan produksi energi metabolik, peningkatan kebutuhan energi Ketidakberdayaan b/d penyakit jangka panjang / progresif tidak dapat diobati Kurang pengetahuan tentang penyakit, prognosis dan kebutuhan pengobatan b/d kurang pemajanan, tidak mengenal informasi

Perencanaan Keperawatan Perencanaan adalah tahap ketiga dari proses keperawatan, dimana tujuan atau hasil ditentukan dari intervensi yang dipilih. Adapun rencana keperawatan adalah bukti tertulis dari tahap kedua dan tahaptahap keperawatan yang mengidentifikasi masalah atau kebutuhan pasien, tujuan hasil keperawatan dan intervensi untuk mencapai hasil yang diharapkan dan menangani masalah kebutuhan pasien. Permulaan untuk merencanakan keperawatan umumnya adalah membuat prioritas masalah sehingga perhatian perawat dan tindakan yang dilakukan difokuskan dengan tepat. Dalam menentukan prioritas masalah diurutkan berdasarkan hierarki maslow. Setelah memprioritaskan masalah pasien tetapkan tujuan tindakan. Adapun tujuan itu ada dua yaitu tujuan jangka panjang dan jangka pendek. Tujuan jangka panjang adalah tujauan yang tidak dicapai sebelum

pemulangan tetapi menentukan perhatian yang terus menerus dari pasien atau orang lain. Tujuan jangka pendek adalah tujuan yang biasanya harus dipakai sebelum pemulangan atau perpindahan ketingkat keperawatan yang akut. Tahap berikutnya dalam menentukan proses keperawatan adalah menentukan hasil. Dalam menentukan hasil harus terdiri dari SMART yaitu Spesifik, Measurable, Achivable, Reliable, Time. Perencanaan keperawatan pada klien dengan Diabetes Mellitus : Kekurangan volume cairan b/d diuresis osmotik : Volume cairan/hidrasi pasien seimbang

ujuan

riteria Hasil : Intake dan output cairan seimbang, turgor kulit elastis, pengisian kapiler baik, TTV dalam batas normal. : Observasi TTV tiap 8 jam Ukur intake dan output cairan setiap 8 jam Pertahankan untuk memberikan cairan paling sedikit 2500 ml/hari Kaji turgor kulit, suhu, warna dan kelembaban Catat hal hal yang dilaporkan seperti mual dan muntah Kolaborasi pemberian cairan dan pemeriksaan Laboratorium (elektrolit, DPL, BUN). Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d ketidkseimbangan insulin, penurunan intake oral : mual, nyeri abdomen : Kebutuhan nutrisi terpenuhi

ntervensi

ujuan

riteria Hasil : Berat badan stabil, makan habis satu porsi, tidak ada mual dan muntah, insulin cukup : Timbang berat badan setiap hari sesuai indikasi

ntervensi

Auskultasi bising usus Catat adanya nyeri abdomen / perut kembung, mual, muntah Berikan makanan cairan yang mengandung zat makanan dan elekrolit segera jika pasien sudah dapat mentoleransinya terus melalui pemberian cairan melalui oral Identifikasih makanan yang di sukai termasuk kebutuhan etnik/kultural. Libatkan keluarga pasien pada perencanaan makan sesuai indikasih. Kolaborasi dengan ahli diet untuk diet rendah kalori dan dan protein. Berikan pengobatan insulin sesuai program pengobatan Resiko tinggi infeksi (sepsis) b/d kadar glukosa tinggi penurunan fungsi leukosit : Infeksi tidak terjadi

ujuan

riteria Hasil : Tidak ada tanda tanda infeksi, TTV dalam batas normal, kadar glukosa dalam batas normal : Observasi tanda tanda infeksi Ganti balutan dengan teknik satu kali / sehari Observasi TTV tiap 8 jam Jaga kulit tetap kering, linen kering dan kencang Pertahankan teknik aseptic pada prosedur invasive Kolaborasi Pemeriksaan Lab, Pus, Lekosit, GDS. Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian antibiotik Resiko tinggi terhadap perubahan sensori perseptual b/d perubahan kimia endogen : ketidakseimbangan glukosa insulin dan elektrolit : Perubahan sensori perceptual tidak terjadi

ntervensi

ujuan

riteria Hasil : Berorientasi pada tempat dan nama, tidak terjadi cedera, TTV dalam batas normal :

ntervensi

Obervasi TTV Orientasi kembali (tempat, orang, waktu) sesuai dengan kebutuhan Dorong untuk melakukan kegiatan sehari hari sesuai kemampuan Lindungi pasien dari cidera (gunakan restrain) ketika tingkat kesadaran pasien terganggu Bantu pasien untuk ambulasi / perubahan posisi Berikan pengobatan sesuai dengan obat yang di tentukan untuk mengatasi diabetik ketoasidosis sesuai indikasi. Pantau nilai laboratorium, seperti glukosa darah, osmolalitas darah, Hb/Ht, ureum kreatinin. Kelelahan b/d penurunan produksi energy metabolik, peningkatan kebutuhan energi : status hipermetabolik / infeksi : Kelelahan tidak terjadi

ujuan

riteria Hasil : Klien dapat beraktivitas secara bertahap, TTV dalam batas normal : Hindari aktivitas yang menimbulkan kelelahan Diskusikan cara menghemat kalori selama mandi, berpindah tempat Tingkatkan partisipasi pasien dalam melakukan aktifitas sehari-hari. Tingkatkan periode istirahat Observasi TTV sebelum dan setelah melakukan aktivitas Ketidakberdayaan b/d penyakit jangka panjang yang tidak dapat diobati, ketergantungan pada orang lain. : Penyakit jangka panjang tidak terjadi

ntervensi

ujuan

riteria Hasil : Klien dapat menerima keadaan penyakitnya, klien mandiri : Anjurkan pasien / keluarga untuk mengekspresikan perasaannya tentang perawatan di rumah sakit Anjurkan pasien untuk membuat keputusan sehubungan dengan perawatannya

ntervensi

Tentukan apakah ada perubahan yang berhubungan dengan orang terdekat Tentukan tujuan/harapan dari pasien atau keluarga Kaji bagaimana pasien telah menangani masalahnya di masa lalu. Berikan dukungan pada pasien untuk ikut berperan serta dalam perawatan diri sendiri dan berikan umpan balik positif sesuai dengan usaha yang di lakukan.

Kurang pengetahuan mengenai penyakit prognosis dan kebutuhan pengobatan b/d tidak mengenal sumber informasi : Pengetahuan klien bertambah

ujuan

riteria Hasil : Klien mengerti tentang penyakit prognosis dan kebutuhan pengobatan : Ciptakan lingkungan saling percaya denagn mendengarkan penuh perhatian dan selalu ada untuk pasien Diskusikan tentang rencana diet, penggunaan makan tinggi serat dan cara untuk melakukan makan di luar rumah. Demonstrasikan cara pemeriksaan gula darah dengan menggunakanfinger stick dan berikan kesempatan kepada pasien untuk mendemonstrasikan kembali. Bekerja sama dengan pasien dalam menata tujuan belajar yang diharapkan Instruksikan pentingnya pemeriksaan secara rutin Berikan pendidikan kesehatan tentang pengertian, penyebab, tanda dan gejala, pencegahan Diabetes Mellitus

ntervensi

Pelaksanaan Keperawatan Pelaksanaan keperawatan merupakan tahap keempat dalam proses keperawatan dimana perawat melaksanakan tindakan keperawatan yang telah direncanakan sesuai dengan masalah keperawatan yang telah di rumuskan dimana kegiatan pelaksanaan, perawat yang akan melaksanakan juga meliputi dari persiapan untuk melakukan tindakan.

Ada tiga tipe tindakan keperawatan yaitu tipe tindakan independen (mandiri) yaitu tindakan yang di prakarsai oleh perawat untuk membantu klien mengatasi masalah, tipe tindakan dependen (ketergantungan) yaitu tindakan keperawatan yang dilakukan sesuai program dokter atau profesi lain, tindakan kolaboratif merupakan tindakan keperawatan atas dasar kerjasama dengan tim kesehatan lain.

Tindakan keperawatan sebagai dokumentasi dan dapat juga di perlukan sebagai pertanggung jawaban perawat secara legal terhadap asuhan keperawatan yang telah diberikan.

Evaluasi Keperawatan Evaluasi merupakan langkah akhir dari proses keperawatan. Tugas selama ini termasuk pencatatan pernyataan evaluasi dari revisi rencana tindakan keperawatan dan intervensi jika perlu lebih lanjt, pernyataan evaluasi memberikan informasih yang penting tentang pengaruh intervensi yang di rencanakan pada keadaan sehat klien.

Evaluasi keperawatan ini memiliki dua jenis yaitu : evaluasi formatif yaitu pernyataan formatif yang mereflesikan observasi perawat dan analisis terhadap klien, terhadap