Anda di halaman 1dari 37

Penyusunan Studi Kelayakan dan Master Plan PIP SEMARANG Tahun 2013

BAB VI KONSEP PENGEMBANGAN PIP SEMARANG

6.1. Konsep Tata Tapak 6.1.1. Konsep Intensitas Bangunan Lahan kampus PIP Semarang pada Tahun 2013 lebih kurang seluas 743.400 m2, dengan luas daerah terbangun (KDB) lebih kurang 21829,50 m2 atau 29,36%. Luasan RTH yang ada saat ini tersisa lebih kurang 17,27%. Sedangkan luasan terbesar adalah perkerasan halaman termasuk lapangan parkir, lapangan olah raga dan lapangan upacara dan perkerasan jalan dengan total luasan 56,44%. Gambaran lengkap luasan lahan dan bangunan yang ada pada saat ini di PIP Semarang dapat dilihat pada Tabel 4.7 pada Bab IV. Ditinjau dari KDB, kondisi intensitas bangunan PIP Semarang masih cukup memadai sesuai dengan ketentuan tata ruang setempat. Namun RTH yang tersedia kurang dari standar penyediaan RTH untuk kawasan perkotaan yang minimal 30% untuk RTH Publik dan Privat. Sedangkan luasan perkerasan lahan jauh melebihi standar penyediaan prasarana jalan. Sebagai dampak daripada kondisi ini, maka luasan daerah untuk peresapan air hujan pada lahan PIP sangat kurang, dan menjadi salah satu penyebab lamanya genangan air hujan yang terjadi pada lokasi lahan. Jarak antar massa bangunan pada beberapa kondisi eksisting lokasi kurang dari 3,00 meter bahkan hanya 2,00 meter. Ditinjau dari keselamatan kebakaran, jarak bangunan yang terlalu dekat akan lebih mempercepat penjalaran kebakaran. Meskipun demikian pengelola PIP berusaha mengantisipasi keadaan ini dengan memperbanyak jumlah hidran kebakaran khususnya pada lorong-lorong bangunan yang berdekatan. Ditinjau dari tampak/faade bangunan yang berdekatan sangat mengganggu estetika setiap bangunan. Selain itu dampak lain daripada saling berdekatannya massa bangunan satu dengan lainnya adalah berkurangnya kenyamanan bagi setiap pengguna bangunan ditinjau dari aliran udara, pencahayaan, penghawaan, dan gangguan pandangan. Oleh karena itu konsep penataan tapak untuk jarak-jarak antar bangunan sesuai dengan ketentuan minimum jarak antar bangunan untuk bangunan dengan ketinggian 6 lantai adalah 6.00 meter, dan seterusnya sesuai dengan Permen PU Nomor 26/PRT/M/2008 tentang Persyaratan Teknis Sistem Proteksi Kebakaran pada Bangunan

VI - 1

Penyusunan Studi Kelayakan dan Master Plan PIP SEMARANG Tahun 2013

Gedung dan Lingkungan, untuk memberikan ruang akses keselamatan kebakaran dan prasarana pemadam kebakaran, termasuk mobil PMK.

Gambar 6.1. Jarak antar bangunan gedung bertingkat Tabel 6.1. Jarak Minimum Antar Bangunan

Sumber: Permen PU Nomor 26/PRT/M/2008

6.1.2. Penataan Site/Zoning Zoning penataan massa pada kondisi eksisting tidak mengelompok sesuai dengan fungsi kegiatannya. Misalnya bangunan Pusat Administrasi dan Pimpinan PIP berdekatan dengan Asrama mahasiswa Putra. Asrama mahasiswa sendiri yang seharusnya terletak pada zona privat saat ini tersebar pada beberapa lokasi, bahkan berada pada zona publik yang mempunyai tingkat kebisingan lebih tinggi dan sedikitnya privacy. Fasilitas Poliklinik sebagai sarana pelayanan publik yang ada saat ini berada pada zona semi publik yang melintasi zona privat. Masyarakat sekitar yang hendak ke Poliklinik harus masuk melalui Lapangan Upacara dan garasi kendaraan. Sementara untuk Workshop dan garasi kendaraan yang seharusnya berada di zona semi publik berada pada zona semi privat yang harus melintasi zona privat.

VI - 2

Penyusunan Studi Kelayakan dan Master Plan PIP SEMARANG Tahun 2013

Fasilitas penunjang pendidikan seperti Perumahan Dosen dan Karyawan serta Wisma Tamu yang ada menempati lahan yang cukup luas di sisi selatan dan timur kompleks, berada pada zona semi publik dengan gangguan kebisingan dari luar, karena berdekatan dengan jalan lokal kota. Sementara itu lokasi-lokasi untuk laboratorium tersebar di sisi utara hingga sisi selatan kompleks PIP. Gambaran zoning penataan massa bangunan kompleks PIP Semarang dapat dilihat pada Gambar 6.2. dan Gambar 6.3.

VI - 3

Penyusunan Studi Kelayakan dan Master Plan PIP SEMARANG Tahun 2013

Gambar 6.2. Analisa Tatanan Massa dan Zoning Bangunan di dalam Kompleks PIP Semarang

Gambar 6.3. Analisa Zoning Massa Asrama Kompi PIP Semarang.

VI - 4

Penyusunan Studi Kelayakan dan Master Plan PIP SEMARANG Tahun 2013

Dengan mempertimbangkan efisiensi lahan dan tata letak bangunan eksisting yang baru, maka konsep zoning yang diusulkan untuk rencana pengembangan PIP Semarang hingga Tahun 2034 adalah memisahkan Zona untuk Pembentukan Taruna dan Zona untuk Diklat Lanjutan Pasis, serta Zona untuk kegiatan Administrasi Akademik dan Ketarunaan. Adapun konsep zoningnya adalah sebagaimana tergambar pada Gambar 6.4 di bawah ini.

Zona Privat (Taruna)

Zona Servis

Zona Privat (Taruna) Zona Buffer Zona Semi Publik (Pasis)

Zona Semi Privat (Taruna)

Zona Servis

Zona Buffer Zona Privat (DosenKaryawan) Zona Semi Privat (Taruna)

Zona Semi Privat (Taruna)

Gambar 6.4. Konsep Zoning PIP Semarang.

6.1.3. Konsep Penyediaan Ruang Terbuka Hijau Pada awal hingga pertengahan usia PIP Semarang ini, masih Nampak jejak tatanan massa membentuk cluster-cluster dengan orientasi pada RTH-RTH yang ada, meliputi RTH Lapangan Upacara, RTH Lapangan Sepak Bola dan RTH Lapangan Tennis. Pada tahun 2011 terdapat pengembangan Gedung Sistem Navigasi Terpadu dengan ketinggian 4 lantai, menempati lahan lapangan Tennis seluas dua lanes, sehingga mengurangi ketersediaan ruang terbuka hijau (RTH) yang ada. Proporsi penyediaan RTH pada setiap cluster kelompok bangunan tidak merata. Pada cluster bangunan Administrasi Pusat, Gedung Pollux, Auditorium, PMMK dan Asrama Kompi C, terdapat RTH dengan luasan sangat kecil, dan yang terluas dipergunakan untuk RTNH Lapangan Upacara dan lapangan olah raga bola. Pada saat siang hari udara disekitar RTNH terasa panas. Beberapa bangunan tanpa barrier RTH yaitu bangunan PMMK dan Gedung Administrasi Pusat. Padahal intensitas penggunaan bangunan-bangunan ini pada siang hari sangat tinggi, kecuali Gedung Auditorium yang jarang dipergunakan untuk keperluan kegiatan harian.

VI - 5

Penyusunan Studi Kelayakan dan Master Plan PIP SEMARANG Tahun 2013

Sebaliknya pada zona banguna-bangunan dengan intensitas kegiatan yang rendah pada siang hari, mempunyai RTH Lapangan Sepak Bola yang luas. Bangunan-bangunan yang mengelilinginya yaitu kompleks perumahan dosen dan karyawan, Asrama Kompi A dan Asrama Taruni, dan Kolam Renang.

Gambar 6.5. Analisis Ketersediaan dan Kebutuhan RTH PIP Semarang. Konsep penyediaan RTH PIP Semarang didasarkan pada analisis perhitungan RTH yang dilakukan pada Bab 3 sebelumnya, memperoleh luasan yang mendekati ideal 30% yaitu sebesar 28,51%. Upaya pendekatan ke luasan ideal dilakukan dengan memperluas permukaan hijau, sehingga permukaan peresapan air tetap terjaga. Perkerasan jalan direncanakan lebih efisien dengan memperpendek akses area servis dan pedestrian penghubung antar bangunan. Adapun konsep penyediaan RTH adalah sebagai berikut pada Gambar 6.6.

VI - 6

Penyusunan Studi Kelayakan dan Master Plan PIP SEMARANG Tahun 2013

Gambar 6.6. Konsep Penyediaan RTH PIP Semarang. Konsep penyediaan RTH PIP Semarang meliputi juga konsep pemanfaatan tanaman yang berfungsi sebagai pelindung/peneduh, barrier/penahan terhadap kebisingan, penyerap polusi udara, barrier untuk zona yang harus dipisahkan, pengarah sirkulasi, dan estetika taman. Pemilihan jenis tanaman mengikuti bentuk RTH yang direncanakan sebagai hasil bentukan massa-massa bangunan baru, mengikuti jenis tanah dan iklim mikro setempat. Konsep rencana RTH juga mempertimbangkan peningkatan fungsi taman sebagai salah satu ruang belajar Taruna pada zona-zona asrama. 6.1.4. Konsep Sirkulasi dan Aksesibilitas Sirkulasi pada kompleks PIP Semarang dibedakan menjadi sirkulasi kendaraan dan orang. Sirkulasi kendaraan terdiri dari kendaraan pribadi berupa mobil dan sepeda motor, kendaraan umum, kendaraan servis. Sedangkan sirkulasi orang dibedakan untuk sirkulasi pengguna fasilitas PIP dan sirkulasi tamu. Sirkulasi kendaraan mobil pribadi tamu dan dosen/karyawan hanya diperbolehkan berada pada sisi barat lahan PIP Semarang. Untuk sirkulasi kendaraan pribadi pengguna fasilitas perumahan boleh memasuki kawasan perumahan dosen dan karyawan pada zona perumahan di sisi selatan dan timur. Jalan lingkungan ke perumahan in juga dipergunakan oleh kendaraan servis untuk kegiatan penyediaan catering. Sedangkan kendaraan sepeda motor untuk mahasiswa training profesi dan tamu berada pada zona parkir sisi barat, dimana yang ada pada bagian utara berada pada zona publik, sedangkan pada sisi selatan berada pada zona privat. Kondisi parkir sepeda motor pada sisi selatan ini kurang menguntungkan dan mengganggu kegiatan belajar siswa pada Gedung Betelgeuse.

VI - 7

Penyusunan Studi Kelayakan dan Master Plan PIP SEMARANG Tahun 2013

Pintu masuk dan keluar untuk kendaraan mobil dibedakan. Kendaraan masuk dari sisi pintu utara, sedangkan kendaraan keluar dari sisi selatan. Sedangkan untuk sepeda motor masuk dan keluar dari sisi utara sama dengan pintu masuk mobil. Kendaraan servis juga masuk dari pintu utara. Untuk memudahkan pengontrolan secara tersentralisasi, disarankan pintu keluar dan masuk untuk kawasan PIP ini dari satu pintu saja, sedangkan pintu lainnya disediakan untuk kebutuhan darurat.

Sirkulasi Mobil Pribadi Sirkulasi Kendaraan Servis

Gambar 6.7. Analisa Sirkulasi Kendaraan pada PIP Semarang Pejalan kaki disediakan jalan dan koridor yang semuanya diperkeras. Namun untuk hubungan antara satu bangunan dengan bangunan lainnya, pedestrian yang disediakan tidak beratap, sehingga pada saat musim hujan pejalan kaki tidak terlindungi. Seharusnya setiap bangunan dengan bangunan lainnya dapat dihubungkan dengan koridor selasar beratap. Konsep penediaan pedestrian pejalan kaki untuk rencana pengembangan PIP Semarang hingga Tahun 2034 adalah menata pedestrian eksisting yang ada dengan mengurangi perkerasan yang tidak efektiv. Lebar pedestrian efektif 1.80 meter dengan

VI - 8

Penyusunan Studi Kelayakan dan Master Plan PIP SEMARANG Tahun 2013

diberi atap sehingga pejalan kaki terlindung dari hujan. Gambaran konsep pengembangan sirkulasi kendaraan dan orang dapat dilihat pada Gambar 6.8 di bawah ini.

Sirkulasi Mobil/Motor Sirkulasi Kendaraan Servis Sirkulasi Kendaraan PMK Sirkulasi Pejalan Kaki

Gambar 6.8. Konsep Sirkulasi Kendaraan dan Orang pada PIP Semarang Sirkulasi pejalan kaki disediakan pula untuk penyandang cacat dengan penyediaan ramp pada perbedaan ketinggian lantai dari trotoar di luar bangunan menuju ke dalam bangunan, dilengkapi dengan railing pembatas ramp untuk pegangan penyandang cacat sebagaimana dicontohkan pada Gambar 6.9 berikut ini.

Gambar 6.9. Contoh Railing Pembatas Ramp bagi Penyandang Cacat pada PIP Semarang

VI - 9

Penyusunan Studi Kelayakan dan Master Plan PIP SEMARANG Tahun 2013

6.1.5. Konsep Ketinggian Bangunan Evaluasi skala ruang pada kondisi susunan massa eksisting dibagi menjadi 2 yaitu skala ruang sisi luar (dekat dengan jalan raya) dan skala ruang sisi dalam (antar bangunan dalam area). 1. Skala Ruang Sisi Luar Ada 4 sisi yang akan dievaluasi yaitu sisi barat, utara, timur dan selatan a. Sisi barat Bangunan-bangunan PIP Semarang adalah Laboratorium Dynamic Positioning, ruang kelas Betelgeuse, ruang kelas Pollux, laboratorium skoci, dan laboratorium meti. Bangunan-bangunan tersebut memiliki ketinggian 2 hingga 4 lantai. Bangunan yang paling dekat dengan badan jalan adalah gedung Laboratorium Dynamic Positioning. Gedung ini memiliki pemunduran hanya 15,00 m dari badan jalan dengan tinggi bangunan keseluruhan adalah 20,00 m (termasuk atap) , maka bila dihitung skala ruang yang tercipta adalah D/H = /= (>1). Dengan demikian skala ruang di sisi barat masih terasa agak lebar. b. Sisi utara Bangunan-bangunan PIP Semarang yang berada di sisi utara adalah Laboratorium navigasi. Gedung Laboratorium navigasi memiliki tinggi total bangunan 15 m (termasuk atap) dengan pemunduran 15,00 m. Skala ruang yang tercipta di sisi utara PIP Semarang adalah sebagai berikut: D/H Gedung Laboratorium navigasi = 15/15 = 1,0 (=1)

Dari perhitungan, maka dapat dilihat bahwa skala ruang bangunan di sisi utara masih cukup lebar. c. Sisi timur Bangunan-bangunan PIP Semarang yang berada di sisi timur adalah asrama kompi F, engine hall, laboratorium bengkel, lab.komputer, poliklinik, asrama Bangunankompi C, asrama kompi B, dan komplek perumahan dinas.

bangunan tersebut memiliki ketinggian 2 lantai. Bangunan yang paling dekat dengan badan jalan adalah gedung asrama kompi B. Ada gedung yang tidak berada dalam satu tapak yaitu gedung asrama kompi F berada di seberang jalan kawasan pendidikan dengan ketinggian 3 lantai. Gedung tersebut memiliki pemunduran m dari badan jalan dengan tinggi bangunan keseluruhan adalah 12,00 m (termasuk atap) , maka bila dihitung skala ruang yang tercipta adalah D/H = /= (>1). Dengan demikian skala ruang di sisi barat masih terasa agak lebar.

VI - 10

Penyusunan Studi Kelayakan dan Master Plan PIP SEMARANG Tahun 2013

d. Sisi selatan Bangunan-bangunan PIP Semarang yang berada di sisi selatan adalah bangunan perumahan dinas. Bangunan-bangunan tersebut memiliki ketinggian 1 - 2 lantai. Bangunan yang paling dekat dengan badan jalan adalah gedung Maisone B. Gedung tersebut memiliki pemunduran 15,00 m dari badan jalan dengan tinggi bangunan keseluruhan adalah 12,00 m (termasuk atap) , maka bila dihitung skala ruang yang tercipta adalah D/H = /= (>1). Dengan demikian skala ruang di sisi barat masih terasa lebar. Pengaturan ketinggian bangunan dilakukan dengan menata jarak bangunan tinggi terhadap zona-zonanya. Untuk zona publik, disisi timur ketinggian bangunan sampai dengan 6 lantai dengan jarak minimum D = H sehingga fasade bangunan pada bagian atas masih dapat dilihat dengan nyaman dari jalan di sekitar kawasan. Untuk bangunan dengan ketinggian 8 lantai dimundurkan terhadap sempadan pagar kawasan sehingga masih tercapai D = H. Sedangkan untuk bangunan di sisi timur, utara dan selatan dengan kelas jalan lingkungan ketinggian bangunan 5 lantai dengan jarak D = 2/3 H. 6.2. Konsep Arsitektural Rancangan arsitektur sebuah kawasan pendidikan selain menekankan kelancaran dan keefektifan beroperasi unit/bagian secara menyeluruh dan intergratif juga memperhatikan penampilan arsitektur, yang berpengaruh pada respon subyektif pengguna maupun pengamat. Dalam perancangan sebuah kawasan pendidikan ada tiga aspek yang menjadi pertimbangan, yakni efektifitas (effectiviness), kedekatan/keterhubungan (contiguity), dan kemungkinan tumbuh/pengembangan (expansion). Ketiga aspek ini dikaji pada dua skala arsitektur sebagai berikut: 1. Ruang, yang memperhatikan permasalahan-permasalahan sirkulasi pengguna (civitas akademik, pengunjung, bahan/alat, kendaraan, informasi, dsb), kenyamanan pengguna secara umum maupun civitas akademik khususnya, dan fleksibilitas (kemampuan rancangan untuk tumbuh dan berubah). 2. Bangunan, yang melihat permasalahan-permasalahan citra/image (identitas dan kesan visual), kemudahan pengenalan (legibility) dan pencarian/berorientasi (wayfinding). Evaluasi pada dua skala arsitektur di atas (ruang dan bangunan) adalah untuk mengungkap permasalahan dan potensi arsitektural pada eksisting PIP Semarang.

6.2.1. Konsep Tampilan Arsitektur

VI - 11

Penyusunan Studi Kelayakan dan Master Plan PIP SEMARANG Tahun 2013

Evaluasi arsitektural dibatasi pada evaluasi terhadap kondisi fisik bangunan, sedangkan evaluasi fungsi akan diberikan pada bagian lain yang memfokuskan pada aspek program arsitektur (architectural programming). Beberapa bagian evaluasi yang terkait dengan evaluasi tata tapak akan dibahas secara umum. a. Kenyamanan Yang dimaksud dengan kenyamanan adalah tampilan bangunan yang mencerminkan adaptasi dengan iklim mikro dengan bukaan dan ventilasi silang sebanyak mungkin. Hal ini dapat diterapkan pada massa bangunan-bangunan yang ruangnya berjajar maksimum dua baris yang masih memungkinkan terjadinya pertukaran udara. Pada bangunan asrama taruna kenyamanan ruang hunian dicapai dengan memberikan perteduhan berupa selasar di sekeliling bangunan guna mengisolir terjadinya paparan sinar matahari langsung. Pada bangunan-bangunan yang direncanakan dengan massa yang kompak dan besar untuk mencapai kenyamanan optimal digunakan pengkondisian udara buatan, walaupun digunakan permukaan dinding dengan banyaknya bukaan kaca untuk mendapatkan kenyamanan penerangan matahari tidak langsung dan penghematan penggunaan energi listrik, khususnya untuk mengantisipasi pada saat kondisi listrik mengalami gangguan. b. Fleksibilitas Fleksibilitas penggunaan ruang direncanakan dengan konsep menggunakan sekat dinding non permanen sebanyak mungkin dan menghidari penggunaan sekat dinding permanen pada fungsi-fungsi ruang yang membutuhkan fleksibilitas tinggi. Ruang-ruang yang dimaksud adalah: Auditorium, dan ruang-ruang untuk pertemuan sedang dan besar, Ruang kerja dengan karyawan yang banyak, Kelas yang membutuhkan ruangan besar, Laboratorium yang membutuhkan ruangan yang tidak menghambat instalasi peralatan dan penggunaannya, dan Fungsi rekreatif untuk olah raga dan pertemuan untuk orang banyak 6.2.2. Skala Bangunan a. Citra (image) Dua hal penting yang dapat dicatat dari kesan visual yang dapat ditangkap dari PIP Semarang adalah pertama sudah berkurangnya kesan menerima yang diharapkan

VI - 12

Penyusunan Studi Kelayakan dan Master Plan PIP SEMARANG Tahun 2013

pada sebuah fasilitas pelayanan pendidikan pelayaran, kedua ketidak serasian pada sebagian arsitektur bangunan eksisting dengan bangunan baru. Walaupun secara umum kesan ramah, bersih, nyaman dan lapang yang diharapkan pada sebuah kawasan pendidikan sudah tercipta di PIP Semarang , kesan menerima di bagian depan komplek sudah mengalami penurunan kualitas. Arsitektur bangunan utama lebih menonjolkan fungsi awal sebagai kantor, administrasi dan rekam medik, yang kurang terintegrasi pada keseluruhan citra kawasan pendidikan pelayaran. Permasalahan kedua yang terkait dengan ketidakserasian arsitektur di dalam komplek PIP Semarang sesungguhnya timbul karena belum adanya panduan umum untuk pengembangan kawasan pendidikan pelayaran. Sehingga yang terjadi adalah setiap bangunan baru cenderung menampilkan kesan visual baru. Hal ini akan mempengaruhi citra komplek secara menyeluruh. Gaya arsitektur modern dengan penggunaan material ramah lingkungan dan modern dengan sentuhan Arsitektur bercirikan tradisional dan ornamen pada masa lalu perlu diterapkan untuk menciptakan citra kekhasan keadaan lokal dan lingkungannya. Ciri-ciri lokalitasnya dapat ditampilkan pada penggunaan elemen finishing bagian bawah bangunan, kolom, bagian luar jendela/pintu dan bagian atap. Sedangkan nuansa elemen arsitektur Jawa Tengah dapat diterapkan lebih kental pada bagian interior setiap bangunan, khususnya untuk bangunan Gedung Direktorat dan Gedung Auditorium. b. Kemudahan Pengenalan (Legibility) dan Pencarian/ Berorientasi (Wayfinding) Faktor lain yang terkait langsung dengan citra atau kesan visual arsitektur adalah kemudahan pengenalan dan pencarian/berorientasi. Perlu menghadirkan ikon khusus sebagai penanda keberadaan PIP Semarang pada lingkungannya sehingga dapat memberikan arahan yang jelas bagi pengguna. Pola tata masa di dalam bangunan dengan zoning yang jelas membantu kemudahan pengguna untuk berorientasi (wayfinding) dan menuju tempat/ bangunan yang dikehendaki. Sistem penandaan arah ataupun nama tempat/bangunan masih di rasa kurang di PIP Semarang. Pemberian nama pada tiap bangunan, peta atau penunjuk arah pada simpul-simpul sirkulasi selain untuk kemudahan kontrol keamanan, juga untuk menghindarkan pengguna untuk menempuh jalur-jalur sirkulasi yang tidak diperlukan.

VI - 13

Penyusunan Studi Kelayakan dan Master Plan PIP SEMARANG Tahun 2013

6.3.

Konsep Mekanikal dan Elektrikal Kebutuhan pengembangan mekanikal dan elekteikal pada PIP Semarang

didasarkan pada kebutuhan penyediaan/daya tampung maksimal taruna yang harus dilayani sesuai dengan SPM PIP, dan kebutuhan pasokan daya listrik dan sumber air untuk penyelenggaraan kegiatan rutin akademik. Untuk memenuhi kebutuhan mekanikal dan elektrikal yang direncanakan berikut ini adalah kebutuhan yang harus dipenuhi secara kuantitas. A. Perhitungan Kebutuhan Listrik Estimasi perhitungan daya listrik PIP Semarang hingga pada Tahun 2034 didasarkan pada perhitungan dengan pendekatan luas per meter persegi kebutuhan penerangan, beban pengkondisian udara (AC) untuk bangunan-bangunan gedung yang membutuhkan persyaratan ini, dan muatan untuk titik-titik sambungan listrik. Dari hasil perhitungan beban listrik yang direncanakan per-bangunan selanjutnya dihitung total kebutuhan daya untuk seluruh bangunan untuk mendapatkan gambaran kapasitas trafo yang harus disediakan dan kapasitas genset sebagai backupnya. Dari total kapasitas yang diperoleh disesuaikan dengan ketersediaan trafo dan genset di pasaran, selanjutnya dibagi ke dalam beberapa sub-zona pelayanan. Dari kondisi eksisting PIP disuplai daya dari 2 jalur PLN yang berasal dari Jl. Sriwijaya dan Jl. Mataram. Maka untuk penambahan daya yang dibutuhkan pada perhitungan rencana nantinya juga bersumber dari dua sambungan yang tersedia tersebut. B. Perhitungan Kebutuhan Air Conditioning Estimasi perhitungan kebutuhan AC untuk PIP Semarang hingga pada Tahun 2034 didasarkan pada kebutuhan pendinginan dari bangunan-bangunan yang membutuhkan persyaratan pengkondisian udara yang meliputi: 1) Gedung Direktorat pada Lantai 1 8. 2) Gedung Auditorium pada Lantai 2 6, Lantai 1 untuk kantin/pujasera menggunakan fan karena dinding bangunan terbuka. 3) Gedung Perkuliahan Betelgeuse Baru pada Lantai 2 5. Lantai 1 untuk parkir kendaraan bermotor, dan Lantai 6 untuk Aula menggunakan fan dengan ventilasi udara pada jendela sisi memanjang untuk mendapatkan penghawaan silang. 4) Gedung Perkuliahan Pollux Baru pada Lantai 1 5. Lantai 6 untuk Aula menggunakan fan dengan ventilasi udara pada jendela sisi memanjang untuk mendapatkan penghawaan silang. 5) Gedung Diklat Pasis pada Lantai 2 6. Lantai 1 untuk parkir kendaraan bermotor.

VI - 14

Penyusunan Studi Kelayakan dan Master Plan PIP SEMARANG Tahun 2013

6) Gedung Laboratorium Terpadu pada Lantai 1 3 untuk keseluruhan ruangan. 7) Gedung Poliklinik pada Lantai 1 3. 8) Apartemen Dosen pada Lantai 2 7. Lantai 1 untuk kebutuhan parkir kendaraan bermotor. 9) Rusun Karyawan hanya sebagai opsi diperhitungkan penyediaan daya untuk sambungan AC sebesar 50% dari jumlah seluruh unit hunian yang membutuhkan. Bentuk gedung Rusunnya sendiri dirancang dengan menggunakan sistem ventilasi mekanis. 10) Guest House pada Lantai 1 3. 11) Sedangkan untuk gedung-gedung asrama tidak memerlukan pengkondisian udara, kecuali hanya sistem ventilasi mekanis. Perhitungan instalasi tata udara untuk proyek ini bertujuan untuk mengkondisikan udara didalam ruangan sesuai dengan standar kenyamanan penghuni, atau pun keperluan kebutuhan pengkondisian peralatan yang ada diruangan. Sistem pengkondisian di dalam gedung ini meliputi usaha- usaha sebagai berikut : a) Menjaga dan mengatur temperatur udara didalam ruangan pada yang relatife konstan sesuai dengan standar kenyamanan penghuni ataupun kebutuhan bagi peralatan. b) Menjaga dan mengatur kelembaban relatif udara didalam ruangan pada batasbatas yang masih memenuhi sesuai dengan standar kenyamanan yang berlaku bagi penghuni ataupun kebutuhan peralatan. c) Membuat aliran udara luar yang segar dan bersih dalam jumlah yang sesuai dengan kebutuhan. d) Menambahkan udara luar yang segar dan bersih dalam jumlah yang sesuai dengan kebutuhan. e) Menjaga dan mengusahakan agar kebisingan maupun getaran getaran yang yang ditimbulkan oleh instalasi tata udara dan ventilasi mekanis, berada pada tingkat kebisingan yang rendah sesuai dengan noise level yang ditentukan bagi ruang-ruang tersebut. Sistem ventilasi mekanis yang akan dirancang antara lain adalah berupa: a) Mengadakan pertukaran udara secara mekanis/natural di ruang-ruang seperti, toilet/WC, dapur, dengan tujuan menambah oxygen dan membuang bau yang tidak sedap, menambahkan O2 serta menurunkan akumulasi panas (temperature) di ruang M&E.

VI - 15

Penyusunan Studi Kelayakan dan Master Plan PIP SEMARANG Tahun 2013

b) Memberikan tekanan lebih pada tangga kebakaran saat terjadi kebakaran. Dengan standard maksud agar asap tidak masuk kedalam tangga saat terjadi evakuasi. c) Melakukan pengendalian terhadap asap pada saat kebakaran pada lantai yang bersangkutan maupun lantai lainnya. Sistem tata udara pada bangunan-bangunan yang menggunakan pengkondisian udara dengan menggunakan AC Single Split/duct/center. Sistem tata udara yang direncanakan sesuai dengan standard yang berlaku. C. Perhitungan Kebutuhan Tata Suara 1) Dasar Perhitungan Sebagai dasar perencanaan digunakan referensi sebagai berikut : a. Peraturan Umum Instalasi Listrik (PUIL) 2000 b. Simens Catalog TS 1, part 4, 2nd edition c. Buyer, A Guide to electro acoustic Dasar Perencanaan ini dipilih sesuai dengan fungsi ruangan dan fungsi peralatan serta didasarkan pada beberapa patokan/asumsi sebagai berikut : 1. Noise Level Pantry 40 45 dB M/E Room 45 55 dB

Parkir 60 75 dB Lobby 40 60 dB Koridor Office 30 - 40 40 45 dB

2. Agar suara dari speaker terdengar jelas, maka sound levelnya minimal mempunyai margin 6 dB diatas noise level. Agar terdengar jelas dan enak untuk suara music maka margin haruslah 10 dB, sedangkan untuk suara panggilan/pengumuman, margin haruslah 15 20 dB diatas noise. Margin Sound level = Sound Level Noise level atau = Noise Level + Margin (dB)

3. Daya yang keluar dari Power Amplifier harus tidak lebih kecil dari jumlah daya yang diperlukan oleh loud speaker dalam keadaan emergency warning. Po (amplifier) > P (emergency) 4. Lebar Frekuensi untuk music Hifi 16 Hz 16 kHz Lebar frekuensi untuk paging/public address 100 Hz 10 kHz

VI - 16

Penyusunan Studi Kelayakan dan Master Plan PIP SEMARANG Tahun 2013

5. Karena kabel antara amplifier dan speaker cukup jauh maka dipilih pengiriman sinyal suara pada saluran independensi tinggi atau line sinyal voltage 100 volt. 6. Diusahakan digunakan sebanyak mungkin peralatan dengan spesifikasi yang sama, untuk memudahkan pemeliharan. 2) Sistem yang Dibutuhkan 1. Program : Car Call, Emergency/Evacuation, Paging. 2. Direncanakan sentral Sound System di ruang Kontrol kantor manajemen. Sentral Sound System diruang Kontrol digunakan untuk panggilan darurat (Emergency Paging) 3. Tanda bahaya dan Pengumuman Keadaan Darurat Keadaan darurat/bahaya misalnya karena adanya gejala sumber kebakaran, gangguan keamanan atau huru huru. Informasi yang disampaikan berupa penjelasan mengenai situasi, pengarahan untuk penyelamatan (evakuasi) atau tanda bahaya bila keadaan telah betul betul gawat. Cara menyampaikan bisa secara selektif atau all-call. Selektif dipilih bila untuk menghindari kepanikan dan kemacetan pada satu pintu atau jalan keluar. All-call dipilih bila keadaan sudah tak terkendali lagi. Emergency call merupakan prioritas pertama yang dapat meng-override semua siaran. 4. Car Call System Speaker tersebar diseluruh daerah parkir mobil. 3) Peralatan yang Dipakai 1. Mikrofon : alat transducer yang merubah kekuatan suara (audio), dari orang atau instrumen musik menjadi besaran arus listrik sehingga bias diperkuat / diproses oleh peralatan elektronik. 2. Pre-Amplifer : Alat elektronik yang memperkuat singnal listrik dari mikrofon atau dari sumber signal lainnya pada tahap awal (pendahuluan) sehingga tegangan output cukup kuat untuk di beri penguat daya (power). 3. Power Amplifier : Alat elektronik yang memperkuat tegangan output dari preamplifier sehingga di dapat daya output signal litrik yang kuat sesui kebutuhan. 4. Speaker : Alat transducer yang merubah sinyal listrik yang keluar dari power amplifier menjadi sinyal suara yang kuat sesui dengan kebutuhan pendengar.

VI - 17

Penyusunan Studi Kelayakan dan Master Plan PIP SEMARANG Tahun 2013

5. Mixing : Alat elektronik yang menampung beberapa input sumber sinyal audio untuk di perkuat oleh pre-amplifier baik secara bersamaan ataupun sendirisendiri berdasarkan pilihan operator. 6. Speaker selector : Alat unuk memilih kesaluran mana sinyal serentak keseluruh lantai (all- call). 7. M D F : Terminal utama untuk kabel-kabel yang keluar dan sentral sound system di lantai-lantai tertentu menuju ke masing-masing speaker, atau kabel sinyal dari program di tempat lain yang akan di interkoneksikan ke sentral tesebut. D. Perhitungan Kebutuhan Telepon/Data Komputer/CCTV Perhitungan kebutuhan telepon/data computer/CCTV didasarkan pada 1 (satu) pesawat cabang telephone /data computer/CCTV untuk melayani lantai seluas = 30 m2. Kebutuhan totalnya dihitung dengan mengalikan jumlah yang diperoleh pada setiap gedung ditambah dengan total kebutuhan pada gedung-gedung lainnya. E. Kebutuhan Air Bersih Estimasi perhitungan kebutuhan air bersih PIP Semarang hingga pada Tahun 2034 didasarkan pada kebutuhan untuk konsumsi air bersih pengguna bangunan gedung dan kebutuhan air bersih untuk pemadam kebakaran. 1) Untuk bangunan gedung dengan fungsi hunian yang terdiri dari Asrama Kompi A, B, C, D, E dan F, dan Rumah Susun Karyawan, Apartemen Dosen dan Guest House membutuhkan air bersih dengan standar pemakaian 120 L/orang.hari. Sedangkan untuk aktivitas non hunian pada lantai atas Asrama menggunakan standar penggunaan air bersih 40 L/orang.hari. 2) Untuk bangunan gedung dengan fungsi kelas dan laboratorium membutuhkan air bersih dengan standar pemakaian 80 L/orang.hari. 3) Untuk bangunan gedung dengan fungsi perkantoran dan auditorium menggunakan standar pemakaian air bersih sebesar 40 L/orang.hari. 4) Untuk kebutuhan pemadaman kebakaran diperlukan penyediaan air bersih dengan menggunakan standar dari Permen PU Nomor 20/PRT/M/2009 tentang Pedoman Teknis Manajemen Proteksi Kebakaran di Perkotaan dengan menggunakan rumus: suara akan diteruskan, apakah akan disalurkan per-lantai (selective) ataukah sekaligus

VI - 18

Penyusunan Studi Kelayakan dan Master Plan PIP SEMARANG Tahun 2013

Dimana: V ARK AKK FB = Volume total bangunan (M3) = Angka Klasifikasi Risiko Kebakaran = Angka Klasifikasi Konstruksi Bangunan Gedung = Faktor Bahaya dari Bangunan berdekatan sebesar 1,5 kali.

F. Kebutuhan Pengolahan Air Kotor Estimasi perhitungan kebutuhan pengolahan air kotor diperoleh dari konsumsi air bersih pada setiap bangunan dikalikan dengan dengan 80% untuk air yang dibuang. Hasil air kotor yang diolah menjadi air jernih dipergunakan kembali untuk kebutuhan penyiraman tanaman dan penggelontoran pada closet. Instalasi untuk pengolahan air kotor menggunakan Bio-tank. Air keluaran dari Bio-tank selanjutnya diolah di dalam bak penjernih untuk kebutuhan daur ulang diatas. 6.4. Konsep Struktur dan Konstruksi Perencanaan suatu struktur bangunan baru memerlukan kajian tersendiri terhadap model struktur yang direncanakan. Kajian tersebut dilakukan secara integrated antara struktur atas (upper structure) yang berupa rangka ruang maupun pada struktur bawah/pondasi (sub structure). Demikian pula halnya pada bangunan kampus PIP, dimana bangunan tersebut secara fungsional akan memanfaatkan beberapa peralatan untuk menunjang proses pembangunan mutakhir dengan berat struktur yang sangat signifikan. Pembebanan yang diberikan pada struktur terdiri dari berat sendiri struktur (balok, kolom, pelat beton, dinding bata), beban mati tambahan, beban hidup, beban angin, dan beban gempa. Besarnya beban yang digunakan dalam perencanaan struktur adalah sebagai berikut: 1. 2. Beban Mati. Berat sendiri struktur: pelat lantai, balok induk, balok anak, dan kolom. Beban mati tambahan: spesi, tegal, plumbing, ducting, plafon dan penggantung plafon. Beban Hidup. Beban hidup untuk gedung PIP ditentukan berdasarkan Peraturan Pembebanan Indonesia untuk Gedung 1983, yaitu: - Lantai dengan Ruang Pertemuan : 400 kg/m2

6.4.1. Konsep Sistem Struktur

VI - 19

Penyusunan Studi Kelayakan dan Master Plan PIP SEMARANG Tahun 2013

Koefisien reduksi pembebanan terhadap distribusi beban hidup, - Untuk perencanaan balok induk dan portal : 0,70 - Untuk peninjauan gempa 3. Beban Gempa. Peninjauan beban gempa pada perencanaan struktur bangunan PIP ini ditinjau secara analisa dinamis 3 dimensi. Fungsi response spectrum ditetapkan sesuai peta wilayah gempa untuk daerah Balikpapan adalah wilayah gempa 2 sebagaimana ketentuan dalam Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur Bangunan Gedung SNI 03 1726 2012 serta mempertimbangkan kondisi tanah dilokasi rencana bangunan akan dibangun yaitu jenis tanah liat dan gambut. Parameter-parameter perhitungan gaya gempa berupa base shear mengacu pada ketentuan yang telah diatur dalam SNI 03 1726 2012. Peraturan yang digunakan dalam merencanakan sistem struktur: a. Tata Cara Perhitungan Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung, SNI 03-28472002. Peraturan ini meliputi persyaratan-persyaratan umum serta ketentuanketentuan teknis perencanaan dan pelaksanaan struktur beton untuk bangunan gedung atau struktur bangunan lain yang mempunyai kesamaan karakter dengan struktur bangunan. b. Tata Cara Perhitungan Struktur Baja Untuk Bangunan Gedung, SNI 03-17292002. Peraturan ini meliputi persyaratan-persyaratan umum serta ketentuanketentuan teknis perencanaan dan pelaksanaan struktur baja untuk bangunan gedung atau struktur bangunan lain yang mempunyai kesamaan karakter dengan struktur bangunan. c. Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur Bangunan Gedung, SNI 03-1726-2012. Peraturan ini memuat syarat-syarat untuk perencanaan tahan gempa dari struktur-struktur gedung. d. Peraturan Beton Bertulang Indonesia 1971. Peraturan ini masih digunakan untuk mendukung Peraturan yang baru dan mengisi hal-hal yang tidak diatur dalam SNI 03-2847-2002. e. Peraturan Pembebanan Indonesia Untuk Gedung 1983. Peraturan ini berisi tentang segala ketentuan mengenai beban yang dikenakan pada suatu struktur. Dalam upaya melakukan perancangan diperlukan konsep rancangan yang mampu menjawab permasalahan dengan memahami syarat utama utilitas bangunan. Persyaratan : 0,30

VI - 20

Penyusunan Studi Kelayakan dan Master Plan PIP SEMARANG Tahun 2013

tersebut adalah bahwa rancangan bangunan dengan pemanfaatannya harus memenuhi 3 aspek penting yaitu: a. Keselamatan (Safety) b. Keberlanjutan (Sustainability) c. Keamanan (Security) Aspek keselamatan mencakup pengertian keselamatan jiwa dan kesehatan terhadap masyarakat umum dan staf pelaksana (operator) gedung. Aspek keberlanjutan ditujukan untuk minimalisasi dampak bagi lingkungan sekitarnya serta mengoptimalkan sisi operasional dan perawatan bagi fasilitas tersebut. Aspek keamanan ditujukan untuk melindungi fasilitas dari pihak-pihak yang tidak berkepentingan. Selain melindungi isi bangunan, faktor keamanan dimaksudkan juga untuk melindungi akses-akses terbatas terkait dengan uraian pada aspek keselamatan. 6.4.2. Konsep Perencanaan Pondasi Bangunan Dalam perencanaan Pondasi untuk suatu konstruksi dapat digunakan beberapa macam type pondasi . Pemilihan type pondasi ini didasarkan atas : Fungsi bangunan atas yang akan dipikul oleh pondasi tersebut Besarnya beban dan beratnya bangunan atas Keadaan tanah dimana bangunan tersebut akan didirikan Biaya dari pondasi yang dipilih Dengan penjelasan tersebut diatas, maka dapat dipilih suatu alternatif pondasi yang sesuai dengan kondisi di lapangan yang tentunya memenuhi kriteria dan sesuai dengan soil test yang dilakukan fihak laboratorium di lokasi tersebut. Secara umum ada dua tipe pondasi yang dapat digunakan, yaitu pondasi dangkal dan pondasi dalam. A. Pondasi Dangkal Pondasi dangkal dapat digunakan pada suatu bangunan yang mempunyai reaksi perletakan yang relatif kecil serta daya dukung tanah permukaan yang cukup tinggi. Berdasarkan kondisi tanah hasil soil test tipe pondasi dangkal yang dapat digunakan pada bangunan kampus PIP adalah tipe pondasi telapak (foot plate) yang terbuat dari beton bertulang. Ilustrasi dari pondasi dangkal tipe telapak beton dapat dilihat pada gambar berikut:

VI - 21

Penyusunan Studi Kelayakan dan Master Plan PIP SEMARANG Tahun 2013

Gambar 6.10. Ilustrasi Bentuk Pondasi Telapak Beton Bertulang B. Pondasi Dalam Pondasi dalam dapat digunakan pada bangunan kampus PIP yang mempunyai reaksi perletakan yang cukup besar. Penggunaan pondasi dalam tipe tiang pancang atau tiang bor secara umum dapat digunakan. Proses pelaksanaan pondasi dalam juga perlu diperhatikan. Untuk pelaksanaan pada daerah yang masih banyak terdapat lahan kosong dapat menggunakan mesin hammer. Sedangkan pelaksanaan pada wilayah yang sudah banyak terdapat bangunan di sekitarnya, pemasangan pondasi dalam harus menggunakan mesin hidrolis dengan sistem injeksi. Ilustrasi dari pondasi dalam tipe tiang pancang dapat dilihat pada gambar berikut.

VI - 22

Penyusunan Studi Kelayakan dan Master Plan PIP SEMARANG Tahun 2013

Gambar 6.11. Ilustrasi Bentuk Pondasi Tiang Pancang

6.4.3. Konsep Perencanaan Kolom Balok Kolom sebagai elemen tekan juga merupakan elemen penting pada konstruksi. Sistem post and beam terdiri dari elemen struktur horisontal (balok) diletakkan sederhana di atas dua elemen struktur vertikal (kolom) yang merupakan konstruksi dasar yang digunakan sejak dulu. Pada sistem ini, secara sederhana balok dan kolom digunakan sebagai elemen penting dalam konstruksi. Banyak faktor yang mempengaruhi beban tekuk (Pcr) pada suatu elemen struktur tekan. Faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut : 1. Panjang Kolom Pada umumnya, kapasitas pikul-beban kolom berbanding terbalik dengan kuadrat panjang elemennya. Selain itu, faktor lain yang menentukan besar beban tekuk adalah yang berhubungan dengan karakteristik kekakuan elemen struktur (jenis material, bentuk, dan ukuran penampang). 2. Kekakuan Kekakuan elemen struktur sangat dipengaruhi oleh banyaknya material dan distribusinya. Pada elemen struktur persegi panjang, elemen struktur akan selalu menekuk pada arah seperti yang diilustrasikan pada di bawah bagian (a). Namun bentuk berpenampang simetris (misalnya bujursangkar atau lingkaran) tidak

VI - 23

Penyusunan Studi Kelayakan dan Master Plan PIP SEMARANG Tahun 2013

mempunyai arah tekuk khusus seperti penampang segiempat. Ukuran distribusi material (bentuk dan ukuran penampang) dalam hal ini pada umumnya dapat dinyatakan dengan momen inersia (I). 3. Kondisi ujung elemen struktur Apabila ujung-ujung kolom bebas berotasi, kolom tersebut mempunyai kemampuan pikul-beban lebih kecil dibandingkan dengan kolom sama yang ujung-ujungnya dijepit. Adanya tahanan ujung menambah kekakuan sehingga juga meningkatkan kestabilan yang mencegah tekuk. Pengekangan suatu kolom pada suatu arah juga meningkatkan kekakuan. Fenomena tekuk pada umumnya menyebabkan terjadinya pengurangan kapasitas pikul-beban elemen tekan. Beban maksimum yang dapat dipikul kolom pendek ditentukan oleh hancurnya material, bukan tekuk. Kolom biasanya terdiri dari 2 jenis yaitu kolom pendek dan kolom panjang.Analisis pada kolom pendek dibagi atas analisa terhadap dua jenis beban yang terjadi pada elemen tekan tersebut, yaitu: a. Beban Aksial Elemen tekan yang mempunyai potensi kegagalan karena hancurnya material (tegangan langsung) dan mempunyai kapasitas pikul-beban tak tergantung pada panjang elemen, relatif lebih mudah untuk dianalisis. Apabila beban yang bekerja bertitik tangkap tepat pada pusat berat penampang elemen, maka yang timbul adalah tegangan tekan merata yang besarnya. b. Beban Eksentris Apabila beban bekerja eksentris (tidak bekerja di pusat berat penampang melintang), maka distribusi tegangan yang timbul tidak akan merata. Efek beban eksentris adalah menimbulkan momen lentur pada elemen yang berinteraksi dengan tegangan tekan langsung. Bahkan apabila beban itu mempunyai eksentrisitas yang relatif besar, maka di seluruh bagian penampang yang bersangkutan dapat terjadi tegangan tarik Aturan sepertiga-tengah, yaitu aturan yang mengusahakan agar beban mempunyai titik tangkap di dalam sepertiga tengah penampang (daerah Kern) agar tidak terjadi tegangan tarik. Analisis pada kolom panjang dibagi atas analisa terhadap dua faktor yang terjadi pada elemen tekan tersebut, yaitu :

VI - 24

Penyusunan Studi Kelayakan dan Master Plan PIP SEMARANG Tahun 2013

a. Tekuk Euler Beban tekuk kritis untuk kolom yang ujung-ujungnya sendi disebut sebagai beban tekuk Euler, yang dinyatakan dalam Rumus Euler .Dengan rumus tersebut, dapat diprediksi bahwa apabila suatu kolom menjadi sangat panjang, beban yang dapat menimbulkan tekuk pada kolom menjadi semakin kecil menuju nol, dan sebaliknya. Rumus Euler ini tidak berlaku untuk kolom pendek, karena pada kolom ini yang lebih menentukan adalah tegangan hancur material. Bila panjang kolom menjadi dua kali lipat, maka kapasitas pikulbeban akan berkurang menjadi seperempatnya. Dan bila panjang kolom menjadi setengah dari panjang semula, maka kapasitas pikul beban akan meningkat menjadi 4 kali. Jadi, beban tekuk kolom sangat peka terhadap perubahan panjang kolom. b. Tegangan Tekuk Kritis Beban tekuk kritis kolom dapat dinyatakan dalam tegangan tekuk kritis (fcr), yaitu dengan membagi rumus Euler dengan luas penampang A. Jadi persamaan tersebut adalah : Unsur L/r disebut sebagai rasio kelangsingan kolom. Tekuk kritis berbanding terbalik dengan kuadrat rasio kelangsingan. Semakin besar rasio, akan semakin kecil tegangan kritis yang menyebabkan tekuk. Rasio kelangsingan (L/r) ini merupakan parameter yang sangat penting dalam peninjauan kolom karena pada parameter inilah tekuk kolom tergantung. Jari-jari girasi suatu luas terhadap suatu sumbu adalah jarak suatu titik yang apabila luasnya dipandang terpusat pada titik tersebut, momen inersia terhadap sumbu akan sama dengan momen inersia luas terhadap sumbu tersebut. Semakin besar jari-jari girasi penampang, akan semakin besar pula tahanan penampang terhadap tekuk, walaupun ukuran sebenarnya dari ketahanan terhadap tekuk adalah rasio L/r. c. Kondisi Ujung Pada kolom yang ujung-ujungnya sendi, titik ujungnya mudah berotasi namun tidak bertranslasi. Hal ini akan memungkinkan kolom tersebut mengalami deformasi. d. Bracing Untuk mengurangi panjang kolom dan meningkatkan kapasitas pikul bebannya, kolom sering dikekang pada satu atau lebih titik pada panjangnya. Pengekang (bracing) ini merupakan bagian dari rangka struktur suatu bangunan gedung. Pada kolom yang diberi pengekang (bracing) di tengah tingginya, maka panjang efektif kolom menjadi setengah panjangnya, dan kapasitas pikul-beban menjadi empat kali lipat dibandingkan dengan kolom tanpa pengekang. Mengekang kolom

VI - 25

Penyusunan Studi Kelayakan dan Master Plan PIP SEMARANG Tahun 2013

di titik yang jaraknya 2/3 dari tinggi tidak efektif dalam memperbesar kapasitas pikul-beban kolom bila dibandingkan dengan mengekang tepat di tengah tinggi kolom. e. Kekuatan Kolom Aktual vs Ideal Apabila suatu kolom diuji secara eksperimental, maka akan diperoleh hasil yang berbeda antara beban tekuk aktual dengan yang diperoleh secara teoritis. Hal ini khususnya terjadi pada pada kolom yang panjangnya di sekitar transisi antara kolom pendek dan kolom panjang. Hal ini terjadi karena adanya faktor-faktor seperti eksentrisitas tak terduga pada beban kolom, ketidak-lurusan awal pada kolom, adanya tegangan awal pada kolom sebagai akibat dari proses pembuatannya, ketidakseragaman material, dan sebagainya. Untuk memeperhitungkan fenomena ini, maka ada prediksi perilaku kolom pada selang menengah (intermediate range). f. Momen dan Beban Eksentris Banyaknya kolom yang mengalami momen dan beban eksentris, dan bukan hanya gaya aksial. Untuk kolom pendek, cara memperhitungkannya adalah dinyatakan dengan M = Pe , dan dapat diperhitungkan tegangan kombinasi antara tegangan aksial dan tegangan lentur. Untuk kolom panjang, ekspresi Euler belum memperhitungkan adanya momen.

Gambar 6.12. Ilustrasi Bentuk Sambungan Kolom Balok 6.4.4. Sistem Infrastruktur Sistem infrastruktur yang perlu direncanakan meliputi mekanikal plumbing, elektrikal, sistem air bersih dan sanitasi lingkungan, sistem jaringan air kotor dan

VI - 26

Penyusunan Studi Kelayakan dan Master Plan PIP SEMARANG Tahun 2013

drainase, sistem pengolahan limbah dan sampah, sistem dinding panahan tanah terhadap galian dan timbunan, sistem perkerasan jalan dan jembatan, serta sistem dan jaringan telekomunikasi. 6.5. Konsep Sistem Utilitas Lingkungan Kelengkapan Jaringan Utilitas akan mendukung maksimalnya fungsi operasional suatu bangunan, gedung atau kawasan yang mencakup Instalasi Mekanikal, Elektrikal, Plumbing, Sistem Ventilasi dan Sistem Air Conditioning (MEP dan VHC). Lingkungan dengan fasilitas akademik yang didukung prasarana laboratorium akan membututuhkan sistem MEP dengan jaringan kompleks, sehingga harus merupakan suatu sistem yang handal karena terkait langsung oleh pelayanan. Adapun jaringan instalasi MEP tersebut adalah : 1. Mekanikal dan Plumbing a. Sistem Penyedian Air Bersih b. Instalasi Air Bekas dan Air Kolor c. Instalasi Perlawanan Kebakaran (Hydrandt dan Sprinkler) d. Elevator Escalator dan Dumb Waiter e. Sistem Generating Set (Genset) f. Instalasi Gas g. Instalasi Air Conditioning h. Sistem Pengolahan Limbah (STP) i. Sistem Drainage Site

2. Elektrikal a. Sistem Penyediaan Daya Listrik b. lnstalasi Penerangan dan Daya c. Sistem Penangkal Petir d. Instalasi Telepon e. Instalasi Pengindera Kebakaran (Fire Alarm) f. Instalasi Tata Suara g. Sistem Jaringan Komputer (LAN) h. lnstalasi Master Antena Televisi (MATV) i. Instalasi Closed Circuit Television (CCTV)

6.5.1. Sistem Air Bersih dan Sanitasi Lingkungan Kajian penyediaan dan distribusi air bersih meliputi kajian sebagai berikut:

VI - 27

Penyusunan Studi Kelayakan dan Master Plan PIP SEMARANG Tahun 2013

Kebutuhan air bersih untuk berbagai fungsi sarana bangunan dalam kawasan kampus Kebutuhan air bersih untuk fungsi laboratorium khusus Kebutuhan air untuk sistem pemadam kebakaran Kebutuhan air untuk sistem penggelontoran, penyiraman tanaman dan kebersihan Kajian sistem distribusi dan reservoir

Perancangan sistem/prasarana sanitasi didasarkan atas peraturan-peraturan dan standar-standar serta referensi-referensi sebagai berikut: Pedoman Plumbing Indonesia 1979. Peraturan Pokok Teknik Penyehatan mengenai air minum dan air buangan, rancangan 1968 Dirjen Cipta Karya, Direktorat Teknik Penyehatan. Peraturan Instalasi Air Minum dari PAM Jawa Tengah. Algemeene Voorwarden Voor Drink Water Instalatir (AVWI). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 173/Men.Kes/Per/VIII/77, tentang Pengawasan Pencemaran Air dari Badan Air untuk berbagai kegunaan yang berhubungan dengan kesehatan. Peraturan Perburuhan Departemen Tenaga Kerja. Peraturan peraturan lain yang berlaku setempat. SNI 03-6481-2000 Sistem Plambing 2000 Perencanaan dan Pemeliharaan sistem Plambing ( Soufyan & Morimura) National Plumbing Code Hand Book

Direncanakan kebutuhan air bersih bagi seluruh bangunan akan dicatu oleh jaringan air bersih PDAM, dan penampungan aliran air hujan ke dalam kolam penampung. Untuk menampung air bersih akan disediakan tangki bawah tanah (ground reservoir) di masing-masing bangunan yang dirancang menampung kebutuhan 1 (satu) hari operasional jika penyediaan air terjamin. Tetapi jika penyediaan kebutuhan air tidak selalu lancar, maka perlu dipertimbangkan untuk menambahkan faktor keamanan terhadap penyediaan air. Penyiraman taman dan cadangan pemadam kebakaran dengan penggunaan water level control agar cadangan untuk pemadam kebakaran tidak terpakai. 6.5.2. Sistem Jaringan Drainase dan Air Kotor Dalam merencanakan sistem dan jaringan drainase dan air kotor diperlukan kajian pendahuluan terhadap:

VI - 28

Penyusunan Studi Kelayakan dan Master Plan PIP SEMARANG Tahun 2013

Tinggi curah hujan Debit aliran permukaan Koefisien aliran permukaan Banjir tahunan

Penggunaan saluran drainase tipe U-gutter yang terbuat dari bahan beton pracetak sangat disarankan, seperti pada gambar berikut. Untuk U-gutter ini pada jarak tertentu dibuatkan lubang-lubang peresapan ke dalam permukaan tanah untuk mempercepat peresapan air ke dalam tanah manakala terjadi genangan. Pembangunan long storage dan bosem / tampungan air diperlukan dalam pembangunan saluran drainase kampus PIP. Long storage dan bosem ini berfungsi untuk menampung air sementara apabila debit aliran yang terjadi melebihi dari debit rencana. Pembangunan sistem pintu air juga perlu digunakan pada saat air menggenang tinggi di dalam PIP Semarang. Pintu air ini berfungsi untuk mengendalikan tinggi air di lingkungan kampus PIP pada saluran-saluran drainase dari dalam ke luar saluran kota, dan pada pintu-pintu keluar masuk kendaraan dan orang.

Gambar 6.13. Sistem saluran dari beton pracetak (U gutter) dengan lubang peresapan Dalam perencanaan drainase digunakan data dari stasiun pengamatan hujan yang diperoleh dari kantor Badan Meteorologi dan Geofisika di Semarang. Dari catatan data curah hujan harian maksimum diperoleh curah hujan harian maksimum sebagaimana berikut: Curah hujan untuk perencanaan adalah curah hujan harian maksimum dengan periode ulang 5 tahun. Untuk memperoleh curah hujan maksimum dengan periode ulang tertentu

VI - 29

Penyusunan Studi Kelayakan dan Master Plan PIP SEMARANG Tahun 2013

perlu dilakukan analisa frekuensi. Salah satu metoda analisis harga ekstrim adalah dengan menggunakan distribusi Gumbel. Untuk dapat melakukan analisis frekuensi ini diperlukan data dengan panjang minimum 10 tahun. Persamaan untuk analisis frekuensi dengan metoda Gumbel:

X Tr = X + K .S x
Dimana:

X Tr Tr

: besar curah hujan untuk periode ulang Tr tahun, dalam mm : periode ulang, dalam tahun : curah hujan harian maximum rata-rata, dalam mm : standar deviasi : faktor frekuensi

X
.S x
K

K=

YTr Yn Sn

Yn dan S n merupakan fungsi dari besar sampel/data.


Tr YTr = 0 , 834 + 2 , 303 log log T 1 r

A.

Perhitungan Debit Aliran

Untuk perhitungan debit aliran pada lahan dengan luas kurang dari 80 hektar dapat menggunakan persamaan debit rasional.

Q=

CIA 360
: debit dalam, m3/s

Dimana ; Q C : koefisien limpasan I : intensitas hujan, mm/jam A : luas lahan, hektar Intensitas curah hujan dapat diperoleh berdasarkan base curve dalam SNI No. 03-34241994 dan curah hujan maksimum harian 24 jam dengan periode ulang 5 tahun. Berdasarkan curah hujan harian maksimum 24 jam dan asumsi bahwa 90% dari curah hujan tersebut akan turun dalam empat jam, suatu kurva intensitas durasi hujan dapat

VI - 30

Penyusunan Studi Kelayakan dan Master Plan PIP SEMARANG Tahun 2013

diperoleh dengan menggeser koordinat dari base curve sebesar perbedaan intensitas hujan untuk durasi 4 jam. Untuk dapat memperoleh besar intensitas curah hujan perencanaan, maka diperlukan adanya waktu konsentrasi aliran. Waktu konsentrasi ini merupakan waktu yang diperlukan dari air dari titik terjauh menuju outlet dimana debit drainase akan dihitung.

Waktu konsentrasi dihitung dengan persamaan berikut : Tc = t1+t2 T1, Overland flow:

nd 2 t1 = 3 3.28 Lo S
dimana: t1 Lo nd S

0.167

= waktu aliran pada permukaan lahan, menit = panjang jalur lintasan di permukaan lahan, m = koefisien penghambat = slope permukaan lahan

Aliran pada saluran:

t2 =

L 60 V

dimana: t2 L V = waktu tempuh di saluran, menit = panjang saluran, m = kecepatan aliran yang direncanakan, m/s

Dengan menggunakan waktu konsentrasi maka dapat ditentukan besarnya intensitas curah hujan dengan menggunakan kurva intensitas durasi. Harga debit yang harus dialirkan dari suatu lahan dapat dihitung dengan persamaan rasional dengan menggunakan koefisien limpasan, C, yang sesuai. Harga koefisien limpasan C untuk berbagai jenis permukaan lahan adalah sebagaimana pada tabel dibawah ini.

VI - 31

Penyusunan Studi Kelayakan dan Master Plan PIP SEMARANG Tahun 2013

Tabel 6.2. Koefisien Limpasan No. Kondisi Tanah BAHAN 1 2 3 Jalan beton & aspal Jalan kerikil & jalan tanah Bahu jalan : - Tanah berbutir halus - Tanah berbutir kasar - Batuan masif keras - Batuan masif lunak TATA GUNA LAHAN 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Daerah perkotaan Daerah pinggir kota Daerah industri Permukiman padat Permukiman tidak padat Taman da kebun Persawahan Perbukitan Pegunungan 0,70 0,95 0,60 0,70 0,60 0,90 0,40 0,60 0,40 0,60 0,20 0,40 0,45 0,60 0,70 0,80 0,75 0,90 0,40 - 0,65 0,10 0,20 0,70 0,85 0,60 0,75 0,70 0,95 0,40 0,70 Permukaan Koefisien Pengaliran (C)

Sumber : Pedoman Sistem Drainase Jalan Pd. 02-2006-B, Dep. PU. Tabel 6.3. Curah Hujan Harian Maksimum dengan Berbagai Periode Ulang. T (years) 2 5 10 25 50 100 0.3665 1.4999 2.2502 3.1985 3.9019 4.6001 YT XT (mm) 92.0 120.5 139.4 163.2 180.9 198.4 I
4hrs

(mm/hr) 20.7 27.1 31.4 36.7 40.7 44.7

VI - 32

Penyusunan Studi Kelayakan dan Master Plan PIP SEMARANG Tahun 2013

Gambar 6.14. Kurva Intensitas Durasi Hujan. B. Dimensi Saluran Perhitungan dimensi saluran dilakukan dengan menggunakan persamaan aliran seragam sebagaimana berikut: Persamaan Manning:

1 A V= n P
Di mana:

2/3

n : kekasaran Manning A : luas penmapang basah, m2 P : panjang keliling basah, m S : kelandaian saluran Persamaan debit aliran (kontinuitas): Q=AV Di mana: Q : debit aliran, m3/s V : kecepatan aliran, m/s

6.5.3. Sistem Pengolahan Limbah Kajian timbulan dan pengumpulan limbah cair meliputi: Kajian timbulan air kotor dari sistem sarana sanitasi bangunan Kajian timbulan limbah cair dari sarana laboratorium dan workshop

VI - 33

Penyusunan Studi Kelayakan dan Master Plan PIP SEMARANG Tahun 2013

Unit timbulan air buangan dapat diperkirakan dengan mengacu pada jenis penggunaan lahan dan/atau bangunan tersebut Secara rinci unit timbulan untuk bermacam-macam penggunaan lahan/bangunan dijelaskan dalam Unit Timbulan Air Buangan untuk Berbagai Jenis Penggunaan Lahan Dalam rancangan jaringan pengumpul air buangan, Faktor Puncak perlu diperhitungkan untuk mengatasi jumlah air buangan rata-rata harian dan musiman yang sangat berfluktuasi. Faktor Puncak yang Disarankan, menyarankan faktor puncak untuk berbagai jenis pembangunan. Limbah B3 yang diproduksi dari laboratorium harus disimpan dengan perlakuan khusus sebelum akhirnya diolah di unit pengolahan limbah. Penyimpanan harus dilakukan dengan sistem blok dan tiap blok terdiri atas 22 kemasan. Limbah-limbah harus diletakkan dan harus dihindari adanya kontak antara limbah yang tidak kompatibel. Bangunan penyimpan limbah harus dibuat dengan lantai kedap air, tidak bergelombang, dan melandai ke arah bak penampung dengan kemiringan maksimal 1%. Bangunan juga harus memiliki ventilasi yang baik, terlindung dari masuknya air hujan, dibuat tanpa plafon, dan dilengkapi dengan sistem penangkal petir. Limbah yang bersifat reaktif atau korosif memerlukan bangunan penyimpan yang memiliki konstruksi dinding yang mudah dilepas untuk memudahkan keadaan darurat dan dibuat dari bahan konstruksi yang tahan api dan korosi untuk selanjutnya diangkut dan diolah oleh pihak ketiga. Mengenai pengangkutan limbah B3, Pemerintah Indonesia belum memiliki peraturan pengangkutan limbah B3 hingga tahun 2002. Namun, kita dapat merujuk peraturan pengangkutan yang diterapkan di Amerika Serikat. Peraturan tersebut terkait dengan hal pemberian label, analisa karakter limbah, pengemasan khusus, dan sebagainya.

6.5.4. Sistem Penanganan Sampah Pengelolaan sampah di kampus PIP dilakukan untuk mewujudkan lingkungan kampus yang bersih. Untuk mencapai proses pengolahan sampah yanyg berkelanjutan, perlu dilakukan kajian perencanaan pengelolaan sampah di kampus PIP dengan tetap mengedepankan pengelolaan yang berwawasan lingkungan. Perencanaan yang akan dilakukan mencakup pengumpulan, pewadahan, pengangkutan, dan pengolahan secara mandiri di lingkungan kampus yang direncanakan dikelola secara mandiri. Muara dari perencanaan pengelolaan sampah ini adalah pembangunan Instalasi Pengolah Sampah Terpadu (IPST) yang berlokasi dl dalam Komplek Kampus sendiri.Jenis pengolahan sampah pada IPST adalah pengolahan sampah organik dan

VI - 34

Penyusunan Studi Kelayakan dan Master Plan PIP SEMARANG Tahun 2013

anorganik.Sampah yang dihasilkan oleh kampus terlebih dahulu dipilah berdasarkan komponen organik dan anorganik, sebelumnya di sumber telah disediakan pewadahan yang terpilah yang disinkronisasikan dengan fasilitasi sarana pengumpulan/ pengangkutan yang terpilah juga. Selanjutnya secara umun sampah organik diolah menjadi kompos, diolah menjadi pupuk cair, ataupun dimanfaatkan sebagai bahan pakan ternak. Sedangkan sampah anorganik yang bernilai ekonomi dikumpulkan dan dljual ke bandar untuk didaur ulang. Sampah anorganik yang tidak bernllai ekonomi dibuang ke TPS sampah kota, atau apabila akan dikelola sendiri maka diperlukan pengadaan insinerator khusus untuk limbah medis dari poliklinik. Estimasi timbunan dan komposisi sampah: a. Timbunan sampah dari sumber gedung perkuliahan dan perkantoran b. Timbunan sampah dari sumber fasilitas umum c. Timbunan sampah dari sumber asrama d. Timbunan sampah dari sumber tempat umum dan lapangan terbuka Pelaksanaan pengangkutan sampah dalam perencanaan sampah ini yaitu mengangkut sampah dari bin kontainer dan kontainer dibawa menuju ke IPST. Jenis kendaraan pengangkut sampah yang digunakan untuk pola pengumpulan komunal langsung adalah jenis compactor truck dengan kapasitas 6 m3 dan arm roll truck yang berkapasitas 4 m3. Kendaraan jenis melakukan pengepresan sampah compactor truck memiliki kapasitas daya kelebihan dapat dapat sehingga tampungnya

ditingkatkan. Dalam pemuatan maupun pembongkaran sampah, compactor truck dan arm roll truck dilengkapi dengan lengan tarik hidrolik sehnigga dapat bergerak secara otomatis yang dikendalikan oleh sopir sehingga tidak bersentuhan langsung dengan sampah. Sampah diangkut dengan menggunakan compactor truck dan arm roll truck. Pola pengangkutan yang digunakan untuk kendaraan compactor truck adalah pola pengangkutan dengan sistem kontainer tetap.

6.6.

Konsep Pemgembangan Ruang Sosial Luasan ruang sosial sebagai wadah kegiatan olah raga dan kegiatan sosial lainnya

pada ruang lantai atas bangunan diestimasi akan dapat menampung kegiatan yang diharapkan agar para taruna tidak ada yang mempunyai waktu idle pada saat sore hari diluar jam perkuliahan. Dengan adanya ruang-ruang pada atap ini energi positif dapat

VI - 35

Penyusunan Studi Kelayakan dan Master Plan PIP SEMARANG Tahun 2013

tersalurkan dan ikatan sosial diantara taruna dalam satu angkatan menjadi kuat. Kompetisi antar angkatan secara positif juga akan dapat tercipta.

Gambar 6.15. Ruang Sosial di Lantai atas Bangunan Adapun estimasi luas ruang di lantai atas bangunan adalah sebagai berikut: Tabel 6.4. Luasan Ruang Sosial pada Lantai Atas Bangunan.
NO 1 NAMA BANGUNAN GEDUNG Asrama Kompi A Lantai 5 LUAS RUANG SERBAGUNA (m2) 1.525 ESTIMASI FUNGSI Futsal, Volley, Bulutangkis, Tennis Meja, Bela Diri Futsal, Volley, Bulutangkis, Tennis Meja, Bela Diri Futsal, Volley, Bulutangkis, Tennis Meja, Bela Diri Futsal, Bela Diri, Tennis Meja Tennis Meja, Bela Diri, Aula Seminar/OR Aula Seminar/OR Auditorium Aula Seminar

Asrama Kompi B Lantai 5

740

Asrama Kompi C Lantai 5

740

4 5 6 7 8 9 10

Asrama Kompi D Lantai 5 Asrama Kompi E Lantai 5 Asrama Taruni Lantai 4 Gedung Jurusan Teknika (Betelgeuse) Lantai 6 Gedung Jurusan Nautika (Pollux Baru) Lantai 6 Gedung Auditorium Lantai 6 Gedung Direktorat Lantai 8 TOTAL

450 450 450 1.565 1.565 1.350 1.290 10.125

Sumber: Hasil Analisis, 2013

VI - 36

Penyusunan Studi Kelayakan dan Master Plan PIP SEMARANG Tahun 2013

Dengan luas total 10.125 m2 dan dipergunakan oleh Taruna sejumlah 2.035 orang yang ada di darat, maka luasan rata-rata per siswa adalah 5 m2/orang, atau dua kali luas daripada kondisi eksisting.

6.7.

Konsep Pemgembangan Kesehatan Untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan Poliklinik PIP Semarang

ditingkatkan kelas pelayanannya dari Poliklinik Pratama pada saat ini menjadi Poliklinik Utama. Peningkatan kelas ini akan dibarengi dengan penambahan pelayanan Poli Rawat Jalan dengan penambahan Poli Spesialis Mata dan Poli Spesialis THT, selain Poli yang saat ini sudah ada yaitu Poli Umum, Poli Gigi, Poli Mata dan THT ( dengan status kerja sama). Kelengkapan Laboratorium ditambah untuk melayani pemeriksaan laboratorium lengkap. Laboratorium juga ditambah dengan peralatan rontgen dan ECG, selain Spirometri dan Audiometri. Sebagai upaya peningkatan kualitas pelayanan, Poliklinik akan dilengkapi dengan penambahan jumlah kamar menjadi 8 sampai 16 TT. Dan sebagai upaya peningkatan kualitas lingkungan akan dilengkapi dengan IPAL untuk limbah cair medis.

VI - 37