Anda di halaman 1dari 2

Gerson Yosef Tappang 270110110048 Kelas B

TUGAS HIDROGEOLOGI
A. Hidrogeologi Tambang Pada dasarnya hidrogeologi membahas menganai pergerakan dan kondisi air tanah, didalam dunia pertambangan, air tanah menjadi suatu masalah yang sangat penting bagi para engineer. Air tanah sangat mempengaruhi kegiatan pertambangan baik itu tambang terbuka, terlebih lagi tambang bawah tanah. B. Pumping Test Pumping test disebut juga dengan uji akuifer. Dimana maksud dari uji akuifer ini adalah untuk mengetahui ketetapan akuifer seperti koefisien permeabilitas dan koefisien penampungan (storage coefficient). Jadi, uji akuifer itu sangat penting untuk perencanaan sumur dan pengontrolannya. Jika koefisien permeabilitas itu digunakan sebagai koefisien transmisibilitas (Koefisien permeabilitas dikali dengan tebal akuifer), maka perhitungannya akan lebih mudah. Untuk mendapatkan hasil uji akuifer yang baik maka terutama diperlukan kondisi-kondisi sebagai berikut: Sumur pembuangan sedapat mungkin mempunyai konstruksi yang dapat mengeluarkan air tanah dari seluruh akuifer yang akan diuji. Permukaan air tanah sumur pembuangan harus terlihat dengan baik pada sumur-sumur pengamatan. Jadi saringan sumur pembuangan dan sumur-sumur pengamatan harus dipasang pada akuifer yang sama. Sumursumur pengamatan harus terletak pada bagian-bagian atas dan bawah dari gradien hidrolik dengan sumur pembuangan sebagai titik pusat. Rumus yang diterapkan untuk uji akuifer itu dibagi dalam 2 jenis, yakni rumus tidak keseimbangan dengan konsep waktu dan rumus keseimbangan tanpa konsep waktu. Tahapan pengujian akuifer yaitu : a. Pemompaan Uji Pendahuluan (Trial Pumping Test) Pertama-tama dilakukan uji pendahuluan yang dilakukan selama 3 jam berturut-turut dengan debit maksimum, dipasang pompa dengan debit pemompaan 3 liter/detik. Pada tahap ini dilakukan pengamatan terhadap penurunan muka asli air tanah pada sumur pengamatan. b. Pemompaan Uji Penurunan Bertingkat/ Uji Surut Muka Air Secara Bertahap (Step draw-down test). Air dapat dipompa secara berturut-turut dari sumur artinya kondisi besarnya pemompaan yang tetap dapat diperoleh pada permukaan air yang tetap. Jadi air yang keluar dari sumur diperkirakan pertama-tama terjadi pada penurunan permukaan air dan umumnya air yang keluar itu sama dengan besar pemompaan Selama waktu pemompaan itu kecil, kapasitas spesifik air yang keluar yakni besar pemompaan per-satuan penurunan permukaan air relatif besar. Akan tetapi jika pemompaan menjadi besar, maka besarnya air yang keluar tahap demi tahap menjadi kecil dan akhirnya kadang-kadang banyaknya pasir dan lumpur dalam air yang dipompa meningkat yang disebabkan oleh pergerakan yang terdapat dalam akuifer (Mori dkk., 1999). Hal ini menunjukan ketidakmampuan sumur dan untuk menghindarinya dilakukan uji surut muka air secara bertahap. Sebelum dilakukan uji surut muka air secara bertahap, sumur harus didiamkan selama minimum 12 (dua belas) jam, tanpa pemompaan. Besar air pemompaan ditingkatkan tahap demi tahap dan pada setiap besarnya pemompaan akan ditemukan permukaan air yang seimbang. Kemudian besarnya pemompaan dikurangi tahap demi tahap sampai ditemukan permukaan air yang seimbang. Pemompaan dilakukan tiap tahapannya selama 3 jam dengan besarnya debit pemompaan bertahap. Kemudian dari hasil pengujian tersebut dapat dinyatakan dengan grafik hubungan antara besarnya pemompaan air (Q) dengan besarnya penurunan permukaan air (s).

Gerson Yosef Tappang 270110110048 Kelas B c. Pemompaan Uji Menerus (Constant rate pumping test) Setelah itu dilakukan pengujian debit secara terus menerus selama + 48 jam, pengujian ini dilakukan untuk pengamatan penurunan muka air tanah dan apabila didapatkan penurunan muka air yang drastis serta mempengaruhi sumur-sumur lain yang ada maka dilakukan uji pemompaan dengan penurunan debit uji kuantitas air yang dapat dieksploitasi dari sumur produksi air tanah yang telah dibuat. Sasaran utama pelaksanaan uji pemompaan ini adalah : Menentukan kondisi sumur, yang meliputi: besaran kapasitas, jenis sumur, dan efisiensi pemompaan sumur. Menentukan parameter hidrolika akuifer. Pencapaian sasaran tersebut dilakukan melalui dua macam metode pemompaan , yaitu uji pemompaan bertahap ( step drawdown ) dan uji pemompaan menerus ( long period test ). Dari kedua metode pemompaan tersebut diatas, dapat terekam data-data sebagai berikut : Tinggi muka air tanah ( sebelum pemompaan ). Debit pemompaan. Penurunan muka air tanah. Waktu sejak pemompaan dimulai. Sifat fisik dan kimia air tanah. Kenaikan muka air tanah selama pemompaan dihentikan. Waktu setelah pemompaan dihentikan.

Perhitungan parameter hidrolika melalui data uji pemompaan menerus dapat dilakukan dengan menggunakan metode semi log plot Cooper and Jacob, 1946. Cara ini dlakukan dengan pengeplotan penurunan muka air tanah ( s ) terhadap logaritma waktu ( log t ), kemudian membuat suatu garis lurus regresi linear dari rangkaian data yang telah diplot. Berdasarkan data dari grafik tersebut dapat ditentukan nilai Transimifitas adalah satuan yang menunjukkan kecepatan aliran di bawah unit gradien hidrolik melalui sebuah penampang pada seluruh tebal jenuh suatu aquifer atau besarnya konduktifitas hidrolik. Transimifitas ( T ) : T = (2,3 Q)/(4 phi. As) Storatifitas / tanpa satuan merupakan nilai yang menyatakan volume air yang dapat dikeluarkan/ dimasukkan dari aquifer pada unit luar dan unit perubahan dasra dari muka laut. Storatifitas ( S ) : Dimana : T = Transimifitas ( L2 / T) Q = Debit pemompaan ( L3/ T ) s = Penurunan muka air tanah untuk suatu siklus log L S = Storatifitas ( tak berdimensi ) d. Uji Pemulihan (Recovery Test) Kemudian yang terakhir dilakukan recovery atau tahap pemulihan. Pada tahapan ini dapat dilihat apakah terjadi pengisian air tanah kembali atau tidak. to = Perpotongan garis regresi dengan sumbu x log T )T R = Jarak sumur pemompaan ke sumur pengamatan. S = 2,25. T. To/R^2