Anda di halaman 1dari 23

REFERAT

RETENSI URIN
Disusun sebagai salah satu syarat menyelesaikan Kepaniteraan Klinik Senior SMF Ilmu Bedah di RSUD Dr. RM. Djoelham Binjai

Disusun Oleh : Sutiasih NPM. 09101059

Pembimbing : dr. David I Tambun, Sp.B

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR SMF ILMU BEDAH UNIVERSITAS ABDURRAB PEKANBARU RSUD DR. RM. DJOELHAM BINJAI 2014
1

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan referat ini dengan baik. Penulisan referat ini merupakan salah satu syarat mengikuti ujian Kepaniteraan Klinik Senior di SMF Ilmu Bedah RSUD Dr. RM. Djoelham Binjai. Penulis berharap referat ini bermanfaat untuk kepentingan pelayanan kesehatan, pendidikan, penelitian dan dapat dipergunakan dengan sebaik-baiknya oleh berbagai pihak yang berkepentingan. Dalam kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan ungkapan terima kasih kepada: 1. Dr. David I Tambun, Sp.B dan dr. Abdi Gunawan, Sp.B selaku dosen pembimbing yang telah memberikan bimbingan dalam penyusunan referat ini. 2. Rekan-rekan serta semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan referat ini. Penulis menyadari bahwa referat ini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, jika ada kesalahan dalam segi apapun penulis minta maaf, dan penulis dengan terbuka menerima saran dari pembaca, guna untuk memperbaiki semua kesalahan-kesalahan dalam penulisan referat ini.

Binjai,

Maret 2014

Penulis

DAFTAR ISI Kata pengantar ....................................................................................................... i Daftar Isi ................................................................................................................. ii Daftar Gambar ........................................................................................................ iii BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang ............................................................................................ 1 BAB II PEMBAHASAN 2.1 Anatomi Saluran Kemih ............................................................................. 2.1.1 Ginjal .............................................................................................. 2.1.2 Ureter .............................................................................................. 2.1.3 Vesica urinaria ................................................................................ 2.1.4 Uretra .............................................................................................. 2.2 Fisiologi Miksi (Berkemih) ........................................................................ 2.3 Retensi Urin ................................................................................................ 2.3.1 Definisi Retensi Urin ...................................................................... 2.3.2 Etiologi Retensi Urin ...................................................................... 2.3.3 Klasifikasi Retensi Urin ................................................................. 2.3.4 Patofisiologi Retensi Urin .............................................................. 2.3.5 Diagnosis Retensi Urin ................................................................... 2.3.6 Penatalaksanaan Retensi Urin ........................................................ 2.3.7 Komplikasi Retensi Urin ................................................................ 2.3.8 Prognosis Retensi Urin ................................................................... BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan ................................................................................................. 18 DAFTAR PUSTAKA 2 2 3 4 4 5 6 6 6 6 7 8 11 17 17

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Anatomi Saluran Kemih ..................................................................... 2 Gambar 2.2 Anatomi Ginjal ................................................................................... 3 Gambar 2.3 Anatomi Ureter, Vesica Urinaria, dan Uretra .................................... 4 Gambar 2.4 Kateterisasi ......................................................................................... 12 Gambar 2.5 Jenis Sistostomi Trokar ...................................................................... 13 Gambar 2.6 Memasukkan alat trokar ke dalam buli-buli ....................................... 14 Gambar 2.7 Melepaskan obturator ......................................................................... 14

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Traktus urinarius bagian bawah memiliki dua fungsi utama, yaitu: sebagai tempat untuk menampung produksi urine dan sebagai fungsi ekskresi. Fungsi normal kandung kemih memerlukan aktivitas yang terintegrasi antara sistem saraf otonomi dan somatik. Jaras neural yang terdiri dari berbagai refleks fungsi destrusor dan sfingter meluas dari lobus frontalis ke medula spinalis bagian sakral, sehingga penyebab neurogenik dari gangguan kandung kemih dapat diakibatkan oleh lesi pada berbagai derajat. Retensi Urin merupakan suatu keadaan darurat urologi yang paling sering ditemukan dan dapat terjadi kapan saja dan dimana saja. Bilamana retensi urin tidak ditangani sebagaimana mestinya, akan mengakibatkan terjadinya penyulit yang memperberat morbiditas penderita yang bersangkutan. Pada dasarnya tidak diperlukan peralatan maupun ketrampilan yang khusus untuk mendeteksi dan menangani penderita dengan retensi urin, apapun yang menyebabkan terjadinya kelainan tersebut. Salah satu penyebab retensi urine adalah BPH. Benign Prostat Hyperplasia merupakan penyakit yang sering diderita pada pria. Di klinik 50 % dijumpai penderita BPH berusia 60-69 tahun, yang menimbulkan gejala-gejala bladder outlet obstruction. Pada wanita salah satu komplikasi umum yang terjadi setelah proses persalinan, baik persalinan pervaginam atau sectio caesarea adalah retensi urin postpartum. Pada tahun 1998, dr. Kartono dkk dari FKUI-RSCM Jakarta melansir data bahwa terdapat 17,1% kejadian retensi urin pada ibu melahirkan yang telah dipasang kateter selama enam jam dan 7,1% untuk yang dipasang selama 24 jam pasca operasi sectio caesarea.

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Anatomi Saluran Kemih Saluran kemih terdiri dari: ginjal, pelvis renalis (pielum), ureter, buli-buli (vesika urinaria), dan uretra. Dinding alat-alat saluran kemih mempunyai lapisan otot yang mampu menghasilkan gerakan peristaltik.

Gambar 2.1 Anatomi Saluran Kemih 2.1.1 Ginjal Ginjal terletak pada dinding posterior abdomen (retroperitoneal), terutama didaerah lumbal kanan dan kiri columna vertebralis. Kedudukannya dari belakang mulai ketinggian vertebra torakalis ke-12 sampai vertebra lumbal ke-3. Ginjal kanan lebih rendah dari ginjal kiri. Bentuknya seperti kacang dengan warna coklat kemerah-merahan. Satuan fungsional ginjal disebut Nefron, terdapat 1.000.000 nefron dalam 1 ginjal. Setiap nefron terdiri dari glomerulus/badan malpighi. Glomerulus merupakan anyaman pembuluh darah dalam kapsula bowman dimana pembentukan urin berasal.

Gambar 2.2 Anatomi Ginjal Secara umum, ginjal terdiri dari beberapa bagian: Korteks, yaitu bagian ginjal di mana di dalamnya terdapat/terdiri dari korpus renalis/Malpighi (glomerulus dan kapsul Bowman), tubulus kontortus proksimal dan tubulus kontortus distalis. Medula, yang terdiri dari 9-14 pyiramid. Di dalamnya terdiri dari tubulus rektus, lengkung Henle dan tubukus pengumpul (ductus colligent). Columna renalis, yaitu bagian korteks di antara pyramid ginjal Processus renalis, yaitu bagian pyramid/medula yang menonjol ke arah korteks

2.1.1 Ureter Berupa 2 saluran pipa yang bersambung dengan ginjal berjalan ke kandung kemih (vesika urinaria). Panjang ureter 35-40 cm dengan diameter 3 mm. Ureter terdiri dari 3 lapisan, yaitu: a. Lapisan luar (fibrosa) b. Lapisan tengah yang berotot c. Lapisan dalam (lapisan mukosa)

2.1.2 Vesika Urinaria Pada dasar buli-buli, kedua muara ureter dan meatus uretra internum membentuk suatu segitiga yang disebut trigonum buli-buli. Buli-buli berfungsi menampung urin dari ureter dan kemudian mengeluarkannya melalui uretra dalam mekanisme berkemih. Kapasitas maksimal (volume) untuk orang dewasa + 350-450 ml. Kapasitas buli-buli pada anak menurut Koff: [Umur (tahun) + 2] x 30 ml. Bila buli-buli terisi penuh, verteks dan dinding atas terangkat dan membentuk suatu bantal yang lonjong dan pipih, yang dapat meluas sampai tepi atas simfisis pubis. Selama kontraksi otot kandung kemih, ketika dikosongkan selama berkemih, bentuknya menjadi bulat.

Gambar 2.3 Anatomi ureter, vesica urinaria, dan uretra

2.1.3 Uretra Uretra merupakan organ yang berfungsi untuk menyalurkan urin keluar dari buli-buli melalui proses miksi. Panjang uretra wanita 3-5 cm dengan diameter 8 mm, sedangkan panjang uretra pria dewasa 23-25 cm. Tonus otot sfingter uretra eksterna dan tonus otot levator ani berfungsi mempertahankan agar urin tetap berada di dalam buli-buli pada saat perasaan ingin miksi. Miksi terjadi bila tekanan intravesika melebihi tekanan intrauretra akibat kontraksi otot detrusor, dan relaksasi sfingter uretra eksterna. 8

2.2 Fisiologi Miksi (Berkemih) Proses pengosongan kandung kemih terjadi bila kandung kemih terisi penuh. Proses miksi terdiri dari dua langkah utama: 1. Kandung kemih secara progresif terisi sampai tegangan di dindingnya meningkat diatas nilai ambang, yang kemudian mencetuskan langkah kedua. Terjadinya distensi atau peningkatan tegangan pada kandung kemih mencetuskan refleks I yang menghasilkan kontraksi kandung kemih dan refleks V yang menyebabkan relaksasi uretra. 2. Timbul refleks saraf yang disebut reflek miksi (refleks berkemih) yang berusaha mengosongkan kandung kemih atau jika ini gagal setidaknya menimbulkan kesadaran dan keinginan untuk berkemih. Ketika proximal uretra mengalirkan urin maka akan mengaktifkan refleks II yang akan menghasilkan kontraksi kandung kemih dan IV sehingga stingfer eksternal dan uretra akan berelaksasi, sehingga urin dapat keluar. Jika tejadi distensi pada uretra yang bisa disebabkan karena sumbatan, atau kelemahan sfingter uretra maka akan mengaktifkan refleks III, sehingga kontraksi kandung kemih melemah. Reflek berkemih adalah refleks medulla spinalis yang seluruhya bersifat autonomik, tetapi dapat dihambat atau dirangsang di otak. Pusat yang lebih tinggi dapat mencegah berkemih, bahkan ketika refleks berkemih muncul, yaitu dengan membuat kontraksi tonik terus menerus pada sfingter eksternus kandung kemih sampai mendapat waktu yang baik untuk berkemih. Jika sudah tiba saat berkemih, pusat cortical dapat merangsang pusat berkemih sacral untuk membantu mencetuskan refleks berkemih dan dalam waktu yang bersamaan menghambat sfingter eksternus kandung kemih sehingga peristiwa berkemih dapat terjadi.

2.3 Retensi Urin 2.3.1 Definisi Retensi urin adalah keadaan dimana penderita tidak dapat

mengeluarkan urin yang terkumpul didalam buli-buli sehingga kapasitas maksimal dari buli-buli dilampaui. Definisi lain retensi urin adalah ketidakmampuan untuk melakukan urinasi meskipun terdapat keinginan atau dorongan terhadap hal tersebut.

2.3.2 Etiologi a. Kelemahan detrusor. cedera/gangguan pada sumsum tulang belakang, kerusakan serat saraf (diabetes melitus), detrusor yang mengalami peregangan/dilatasi yang berlebihan untuk waktu lama. b. Gangguan koordinasi detrusor-sfingter (dis-sinergi). cedera/gangguan sumsum tulang belakang di daerah cauda equina. c. Hambatan pada jalan keluar: o kelainan kelenjar prostat (BPH, Ca) o striktura uretra o batu uretra o kerusakan uretra (trauma) o gumpalan darah didalam lumen buli-buli (clot retention) dll.

2.3.3 Klasifikasi Klasifikasi retensi urin berdasarkan waktu terjadinya: a. Retensi urin akut Retensi urin yang akut adalah ketidakmampuan berkemih yang tibatiba dan disertai rasa sakit meskipun buli-buli terisi penuh. Kondisi yang terkait adalah tidak dapat berkemih sama sekali, kandung kemih penuh, terjadi tiba-tiba, disertai rasa nyeri, dan keadaan ini termasuk kedaruratan dalam urologi. Kalau tidak dapat berkemih sama sekali segera dipasang kateter.

10

b. Retensi urin kronik Retensi urin kronik adalah retensi urin tanpa rasa nyeri yang disebabkan oleh peningkatan volume residu urin yang bertahap. Misalnya lama-lama tidak bisa kencing. Pada pembesaran prostat, pembesaran sedikitsedikit, bisa kencing sedikit tapi bukan karena keinginannya sendiri tapi keluar sendiri karena tekanan lebih tinggi daripada tekanan sfingternya. Kondisi yang terkait adalah masih dapat berkemih, namun tidak lancar, sulit memulai berkemih (hesitancy), tidak dapat mengosongkan kandung kemih dengan sempurna. Retensi urin kronik tidak mengancam nyawa, namun dapat menyebabkan permasalahan medis yang serius di kemudian hari. Retensi urin dapat dibagi berdasarkan penyebab lokasi kerusakan saraf, yaitu: 1. Supravesikal. Berupa kerusakan pada pusat miksi di medulla spinalis sakralis S24 dan Th1- L1. Kerusakan terjadi pada saraf simpatis dan parasimpatis baik sebagian atau seluruhnya, misalnya: retensi urin karena gangguan persarafan. 2. Vesikal. Berupa kelemahan otot destrusor karena lama teregang, berhubungan dengan masa kehamilan dan proses persalinan, misalnya: retensi urin akibat iatrogenik, cedera/inflamasi, psikis. 3. Infravesikal. Berupa kekakuan leher vesika, striktur oleh batu kecil atau tumor pada leher vesika urinaria, misalnya : retensi urin akibat obstruksi.

2.3.4 Patofisiologi Proses berkemih melibatkan dua proses yang berbeda yaitu pengisian dan penyimpanan urin dan pengosongan kandung kemih. Hal ini saling berlawanan dan bergantian secara normal. Aktivitas otot-otot kandung kemih dalam hal penyimpanan dan pengeluaran urin dikontrol oleh sistem saraf otonom dan somatik. Selama fase pengisian, pengaruh sistem saraf simpatis terhadap kandung kemih menjadi bertekanan rendah dengan meningkatkan resistensi saluran kemih. Penyimpanan urin dikoordinasikan oleh hambatan

11

sistem simpatis dari aktivitas kontraktil otot detrusor yang dikaitkan dengan peningkatan tekanan otot dari leher kandung kemih dan proksimal uretra. Pengeluaran urin secara normal timbul akibat dari kontraksi yang simultan otot detrusor dan relaksasi saluran kemih. Hal ini dipengaruhi oleh sistem saraf parasimpatis yang mempunyai neurotransmiter utama yaitu asetilkholin, suatu agen kolinergik. Selama fase pengisian, impuls afferen ditransmisikan ke saraf sensoris pada ujung ganglion dorsal spinal sakral segmen 2-4 dan informasikan ke batang otak. Impuls saraf dari batang otak menghambat aliran parasimpatis dari pusat kemih sakral spinal. Selama fase pengosongan kandung kemih, hambatan pada aliran parasimpatis sakral dihentikan dan timbul kontraksi otot detrusor. Hambatan aliran simpatis pada kandung kemih menimbulkan relaksasi pada otot uretra trigonal dan proksimal. Impuls berjalan sepanjang nervus pudendus untuk merelaksasikan otot halus dan skelet dari sphincter eksterna. Hasilnya keluarnya urin dengan resistensi saluran yang minimal. Retensi postpartum paling sering terjadi. Setelah terjadi kelahiran pervaginam spontan, disfungsi kandung kemih terjadi 9-14 % pasien; setelah kelahiran menggunakan forcep, angka ini meningkat menjadi 38 %. Retensi ini biasanya terjadi akibat dari dis-sinergis antara otot detrusor-sphincter dengan relaksasi uretra yang tidak sempurna yang kemudian menyebabkan nyeri dan edema. Sebaliknya pasien yang tidak dapat mengosongkan kandung kemihnya setelah sectio cesaria biasanya akibat dari tidak berkontraksi dan kurang aktifnya otot detrusor.

2.3.5 Diagnosis Pada pasien dengan keluhan saluran kemih bagian bawah, maka anamnesis dan pemeriksaan fisik yang lengkap, pemeriksaan rongga pelvis, pemeriksaan neurologik, jumlah urin yang dikeluarkan spontan dalam 24 jam, pemeriksaan urinalisis dan kultur urin, pengukuran volume residu urin, sangat dibutuhkan. Fungsi berkemih juga harus diperiksa, dalam hal ini dapat digunakan uroflowmetry, pemeriksaan tekanan saat berkemih, atau dengan voiding cystourethrography.

12

a. Anamnesis o Tidak bisa kencing atau kencing menetes/sedikit-sedikit o Nyeri dan benjolan/massa pada perut bagian bawah o Riwayat trauma: "straddle", perut bagian bawah/panggul, ruas tulang belakang. o Pada kasus kronis, keluhan uremia b. Pemeriksaan Fisik Inspeksi: 1. Penderita gelisah 2. Benjolan/massa perut bagian bawah 3. Tergantung penyebab: batu di meatus eksternum,

pembengkakan dengan atau tanpa fistula didaerah penis dan skrotum akibat striktura uretra, perdarahan uretra pada robekan akibat trauma. Palpasi dan perkusi: 1. Teraba benjolan/massa kistik kenyal (undulasi) pada perut bagian bawah. 2. Bila ditekan menimbulkan perasaan nyeri pada pangkal penis atau menimbulkan perasaan ingin kencing yang sangat mengganggu. 3. Terdapat bunyi redup pada perkusi.

Dari palpasi dan perkusi dapat ditetapkan batas atas buli-buli yang penuh, dikaitkan dengan jarak antara simfisis-umbilikus. Tergantung penyebab: Teraba batu di uretra anterior sampai dengan meatus eksternum. Teraba dengan keras (indurasi) dari uretra pada striktura yang panjang Teraba pembesaran kelenjar prostat pada pemeriksaan colok dubur. Teraba kelenjar prostat letaknya tinggi bila terdapat ruptur total uretra posterior.

13

c. Pemeriksaan Penunjang 1. Foto polos abdomen dan genitalia: Terlihat bayangan buli-buli yang penuh dan membesar. Adanya batu (opaque) di uretra atau orifisium internum.

2. Uretrografi untuk melihat adanya striktura, kerobekan uretra, tumor uretra. 3. Ultrasonografi untuk melihat volume buli-buli, adanya batu, adanya pembesaran kelenjar prostat. 4. Pada retensi urin kronik, pemeriksaan yang diperlukan adalah: Urinalisis: untuk melihat adanya infeksi Sistoskopi yaitu penggunaan kamera fiberoptik pada uretra. Dengan sitoskopi dapat dilihat penyebab striktur, letaknya, dan karakter dari striktur. PSA (Prostate-Spesific Antigen) adalah tumor marker yang paling penting saat ini untuk deteksi dini, menentukan staging, dan monitoring pada penderita kanker prostat. PSA terdiri dari protein yang diproduksi oleh sel prostat untuk menjaga viskositas cairan semen. Urodinamik adalah suatu perangkat pemeriksaan obyektif untuk mengetahui fungsi kandung kemih dan merupakan pemeriksaan penunjang yang cukup akurat untuk

menentukkan jenis dan penyebab gangguan pada saluran kemih bagian bawah, seperti inkontinensia urin (beser kemih) atau retensi urin ( kesulitan berkemih). Pemeriksaan urodinamika simpel meliputi: Uroflowmetry,

Cystometrography dan pengukuran volume residual urin. Dengan memasukan kateter berisi transduser untuk

mengukur tekanan ke dalam kandungan kemih dan rektum dan kateter tersebut ddihubungkan dengan komputer. Kemudian memasukan cairan steril ke dalam kandungan kemih. Selama fase pengisian tersebut komputer akan memberikan informasi mengenai tekanan kandung kemih,

14

dan rektum, refleks kandungan kemih dan kapasitas kandungan kemih. Setelah kandung kemih penuh, semua perlengkapan dilepas dan dilanjutkan dengan pemeriksaan uroflowmetry, dimana pasien berkemih dan ditampung pada sebuah alat khusus untuk mengukur laju pancaran urine. Dan terakhir sisa urin yang masih tersisa di kandung kemih diukur volumennya. Rangkaian pemeriksaan ini relatif tidak lama, hanya memerlukan waktu 30 menit. Cystometrography. Tes dengan sinar-X ini untuk

memeriksa kandung kemih dan uretra setelah penyuntikan cairan kontras khusus melalui kateter pada kandung kemih. Cairan kontras berisi sifat-sifat khusus yang dapat dilihat melalui sinar-X yang diambil pada orang dalam berbagai posisi. Sinar-X juga diambil pada akhir tes selama urinasi.

2.3.6 Penatalaksanaan Bila diagnosis retensi urin sudah ditegakkan secara benar, penatalaksanaan ditetapkan berdasarkan masalah yang berkaitan dengan penyebab retensi urin. 1. Kateterisasi Kateterisasi Uretra adalah memasukkan kateter ke dalam buli-buli melalui uretra. Syarat-syarat: Dilakukan dengan prinsip aseptik Digunakan kateter nelaton/sejenis yang tidak terlalu besar jenis foley Diusahakan tidak nyeri agar tidak terjadi spasme dari sfingter. Diusahakan dengan sistem tertutup bila dipasang kateter tetap. Diberikan antibiotika profilaksis sebelum pemasangan kateter 1 x saja (biasanya tidak diperlukan antibiotika sama sekali). Kateter tetap dipertahankan sesingkat mungkin, hanya sepanjang masih dibutuhkan.

15

Gambar 2.4 Kateterisasi

Teknik kateterisasi: Kateter Foley steril, untuk orang dewasa ukuran 16-18 F. Desinfeksi dengan desinfektans yang efektif, tidak mengiritasi kulit genitalia (tidak mengandung alkohol) Anestesi topikal pada penderita yang peka dengan jelly xylocaine 24% yang dimasukkan dengan semperit 20cc serta "nipple uretra" diujungnya. Jelly tersebut sekaligus berperan sebagai pelicin. (Pada batu atau striktura uretra, akan dirasakan hambatan pada saat memasukkan jelly tersebut) Kateter yang diolesi jelly K-Y steril dimasukkan kedalam uretra. Pada penderita wanita biasanya tidak ada masalah. Pada penderita pria, kateter dimasukkan dengan halus sampai urin mengalir (selalu dicatat jumlah dan warna/aspek urin), kemudian balon dikembangkan sebesar 5-10 ml. Bila diputuskan untuk menetap, kateter dihubungkan dengan kantong penampung steril dan dipertahankan sebagai sistem tertutup. Kateter di fiksasi dengan plester pada kulit paha proksimal atau didaerah inguinal dan diusahakan agar penis mengarah kelateral, hal ini untuk mencegah terjadinya nekrosis akibat tekanan pada bagian ventral uretra di daerah penoskrotal.

16

2. Sistostomi suprapubik Suatu tindakan pembedahan untuk mengalirkan kencing melalui lubang yang dibuat di supra pubik untuk mengatasi retensi urin dan menghindari komplikasi. Macam sistostomi: trokar dan sistostomi terbuka. a. Sistostomi Trokar Indikasi: Kateterisasi gagal: striktura, batu uretra yang menancap (impacted). Kateterisasi tidak dibenarkan: robek uretra pasca trauma. Sebagian ahli berpendapat bahwa sistostomi pada pria lebih aman daripada kateter tetap karena penyulit akibat pemakaian kateter pada uretra dapat ditiadakan (uretritis, striktura, fistula) Syarat-syarat: Retensi urin dan buli-buli penuh, kutub atas lebih tinggi pertengahan jarak antara simfisis-umbilikus. Ukuran kateter Foley lebih kecil daripada celah dalam trokar (<> 20F)

Gambar 2.5 Jenis Sistostomi Trokar Langkah-langkah Sistostomi Trokar: 1. Desinfeksi lapangan operasi. 2. Mempersempit lapangan operasi dengan kain steril.

17

3. Injeksi (infiltrasi) anestesi lokal dengan lidocaine 2% mulai dari kulit, subkutis hingga ke fasia. 4. Insisi kulit suprapubik di garis tengah pada tempat yang paling cembung 1 cm, kemudian diperdalam sampai ke fasia. 5. Dilakukan pungsi percobaan melalui tempat insisi dengan semprit 10 cc untuk memastikan tempat kedudukan buli-buli. 6. Alat trokar ditusukkan melalui luka operasi hingga terasa hilangnya tahanan dari fasia dan otot-otot detrusor.

Gambar 2.6 Memasukkan alat trokar ke dalam buli-buli

7. Alat obturator dibuka dan jika alat itu sudah masuk ke dalam bulibuli akan keluar urin memancar melalui sheath trokar. 8. Selanjutnya bagian alat trokar yang berfungsi sebagai obturator (penusuk) dan sheath dikeluarkan melalui buli-buli sedangkan bagian slot kateter setengah lingkaran tetap ditinggalkan.

Gambar 2.7 Melepaskan obturator dan slot kateter setengah lingkaran ditinggalkan

18

9. Kateter Foley dimasukkan melalui penuntun slot kateter setengah lingkaran, kemudian balon dikembangkan dengan memakai aquadest 10 cc. Setelah balon dipastikan berada di buli-buli, slot kateter setengah lingkaran dikeluarkan dari buli-buli dan kateter dihubungkan dengan kantong penampung urin (urinbag). 10. Kateter difiksasikan pada kulit dengan benang sutra dan luka operasi ditutup dengan kain kasa steril. Jika tidak tersedia alat trokar dari Campbell, dapat pula digunakan alat trokar konvensional, hanya saja pada langkah ke-8, karena alat ini tidak dilengkapi dengan slot kateter setengah lingkaran maka kateter yang digunakan adalah NG tube nomer 12 F. Kateter ini setelah dimasukkan ke dalam buli-buli pangkalnya harus dipotong untuk mengeluarkan alat trokar dari buli-buli.

b. Sistostomi Terbuka Indikasi: Bila sistostomi trokar gagal Bila akan melakukan tindakan tambahan seperti mengambil batu di dalam bull-buli, evaluasi gumpalan darah, memasang "drain" di rongga retzii, dan sebagainya. Jika terdapat jaringan sikatriks/bekas operasi di daerah

suprasimfisis, pasca trauma di daerah panggul yang menciderai uretra atau buli-buli, dan adanya bekuan darah pada buli-buli yang tidak mungkin dilakukan tindakan per uretra. Langkah-langkah Sistostomi Terbuka: 1. Desinfeksi seluruh lapangan operasi. 2. Mempersempit daerah operasi dengan kain steril. 3. Injeksi anestesi lokal, jika tidak mempergunakan anestesi umum. 4. Insisi vertikal pada garis tengah + 3-5 cm diantara pertengahan simfisis dan umbilicus.

19

5. Insisi diperdalam sampai lemak subkutan hingga terlihat linea alba yang merupakan pertemuan fasia yang membungkus muskulus rektus kiri dan kanan. Muskulus rektus kiri dan kanan dipisahkan sehingga terlihat jaringan lemak, buli-buli dan peritoneum. Buli-buli dapat dikenali karena warnanya putih

dan banyak terdapat pembuluh darah. 6. Jaringan lemak dan peritoneum disisihkan ke kranial untuk memudahkan memegang buli-buli. 7. Dilakukan fiksasi pada buli-buli dengan benang pada 2 tempat. 8. Dilakukan pungsi percobaan pada buli-buli diantara 2 tempat yang telah difiksasi. 9. Dilakukan pungsi dan sekaligus insisi dinding buli-buli dengan pisau tajam hingga keluar urin, yang kemudian (jika perlu) diperlebar dengan klem. Urin yang keluar dihisap dengan mesin penghisap. 10. Eksplorasi dinding buli-buli untuk melihat adanya: tumor, batu, adanya perdarahan, muara ureter atau penyempitan leher bulibuli. 11. Pasang kateter Foley ukuran 20F-24F pada lokasi yang berbeda dengan luka operasi. 12. Buli-buli dijahit 2 lapis yaitu muskularis-mukosa dan seromuskularis. 13. Ditinggalkan drain redon kemudian luka operasi dijahit lapis demi lapis. Balon kateter dikembangkan dengan aquadest 10 cc dan difiksasikan ke kulit dengan benang sutra.

Penyulit Beberapa penyulit yang mungkin terjadi pada saat tindakan maupun setelah pemasangan kateter sistotomi adalah: 1. Bila tusukan terlalu mengarah ke kaudal dapat mencederai prostat. 2. Mencederai rongga/organ peritoneum.

20

3. Menimbulkan perdarahan. 4. Pemakaian kateter yang terlalu lama dan perawatan yang kurang baik akan menimbulkan infeksi, ekskrutasi kateter, timbul batu saluran kemih, degenerasi maligna mukosa buli-buli, dan terjadi refluks vesiko-ureter.

2.3.7 Komplikasi 1. Tegangan dari dinding buli-buli terus meningkat sampai tercapai batas toleransi dan setelah batas ini dilewati, otot buli-buli akan mengalami dilatasi sehingga kapasitas buli-buli melebihi kapasitas maksimumnya, maka kemampuan elastisitas vesica urinaria menurun. 2. Akibat residu urin yang tidak keluar secara tuntas akan menimbulkan kecenderungan untuk terbentuknya batu kandung kemih akibat kristalisasi dari urin. 3. Retensi urin yang berkepanjangan, terjadi peningkatan tekanan intra vesika yang menyebabkan terjadinya reflux, yang dapat menyebabkan terjadinya infeksi saluran kemih bagian atas (sistitis, pielonefritis, urosepsis). 4. Bila keadaan ini dibiarkan berlanjut, tekanan yang meningkat didalam lumen akan menghambat aliran urin dari ginjal dan ureter sehingga terjadi hidroureter dan hidronefrosis dan lambat laun terjadi gagal ginjal.

2.3.8

Prognosis Prognosis pada penderita dengan retensi urin akut akan bonam jika

retensi urin ditangani secara cepat.

21

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan Retensi urin merupakan ketidakmampuan seseorang untuk mengeluarkan urin yang terkumpul di dalam buli-buli hingga kapasitas maksimal buli-buli terlampaui. Retensi urin memberikan gejala gangguan berkemih, termasuk diantaranya kesulitan buang air kecil; pancaran kencing lemah, lambat, dan terputus-putus; ada rasa tidak puas, dan keinginan untuk mengedan atau memberikan tekanan pada suprapubik saat berkemih. Penanganan retensi urin dengan mengevakuasi urin dari kandung kemih. Urin dapat dikeluarkan dengan cara kateterisasi atau sistostomi buli-buli bila fasilitas/sarana untuk sistostomi baik trokar maupun terbuka tersedia.

22

DAFTAR PUSTAKA

Anatomi dan Fisiologi Saluran Kemih.http//www.scribd.com/doc/38991454/anatomiFisiologi-Ginjal Ganong. Review of medical Phisiologi. USA. McGraw-Hill companies. 2003 Guyton & Hall. Textbook of medical Phisiologi. 2003. Price, Sylvia dkk. Patofisiologi konsep klinis proses penyakit volume I1 2006. Retensi Urin Permasalahan dan Penatalaksanaannya. Widjoseno Gardjito Lab/UPF Ilmu Bedah FK Unair/RSUD Dr. Soetomo, Surabaya. Schwartz, Seymour I. 2009. Intisari Prinsip-prinsip Ilmu Bedah. Ed 6. EGC Jakarta. Suyono S, 2007, Buku Ajar Ilmur Penyakit Dalam, Jilid I, Edisi Ketiga, Balai Penerbit FKUI, Jakarta.

23