Anda di halaman 1dari 8

22 April 2014

SEL ELEKTROLISIS PENGARUH SUHU TERHADAP H, G, DAN S Siti Masitoh 1112016200006 M. Ikhwan Fillah, Raisa Soraya

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA JURUSAN ILMU PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2014

ABSTRAK
Reaksi elektrolisis, dimana perubahan non-spontan terjadi dengan mengalirkan arus listrik melalui sistem kimia, adalah termasuk elektrokimia. Reakai spontan reduksi-oksidasi (reaksi redoks) yang dapat manghasilkan listrik juga termasuk elektrokimia. Perubahan yang terjadi dalam suatu sistem kimia karena reaksi elektrolisis dan reaksi redoks dibahas dalam reaksi elektrokimia.

JURNAL KIMIA FISIKA II

Page 1

22 April 2014 Secara teoritis efisiensi arus sel elektrolisis tergantung pada arus elektrolisis, suhu,

kecepatan alir (kecepatan pengadukan), konsentrasi dan jenis anolyte, serta disain dari sel tersebut Dari data hsil praktiukum didapat ketika suhu 30oC nilai entropi sebesar 10138,9 J/mol, pada suhu 50oC nilai entropi sebesar 6083,36 J/mol, dan pada suhu 70oC nilai entropi sebesar 4345,25 J/mol. Dari data hasil praktikum tersebut terlihat bahwa nilai entropi berbanding terbalik dengan suhu, karena semakin besar suhu maka nilai entropi semakin kecil. Sedangkan untuk entalpi yang didapat dari hasil praktikum pada suhu 30oC nilai entalpi adalah sebesar 167 J, pada suhu 50oC nilai entalpi sebesar 168 J, dan pada suhu 70oC nilai entalpi sebesar 167,5 J.

PENDAHULUAN
Studi hubungan antara reaksi kimia dan aliran listrik disebut elektrokimia. Reaksi elektrolisis, dimana perubahan non-spontan terjadi dengan mengalirkan arus listrik melalui sistem kimia, adalah termasuk elektrokimia. Reakai spontan reduksi-oksidasi (reaksi redoks) yang dapat manghasilkan listrik juga termasuk elektrokimia. Perubahan yang terjadi dalam suatu sistem kimia karena reaksi elektrolisis dan reaksi redoks dibahas dalam reaksi elektrokimia (imc.kimia.undip.ac.id). Pada elektrokimia, elektroda tempat terjadinya reaksi kimia disebut katoda dan anoda. Pada katoda terjadi reaksi reduksi dan pada anoda reaksi oksidasi (imc.kimia.undip.ac.id). Oksidasi merupakan suatu proses di mana bilangan oksidasi unsur bertambah dan di mana electron terlihat di sisi kanan dari setengah-persamaan oksidasi. Reduksi merupakan sutu proses di mana bilangan oksidasi unsur menurun dan di mana electron terlihat di sisi kiri dari setengah-persamaan reduksi. Baik setengah-reaksi oksidasi maupun reduksi harus ada bersamasama. Selanjutnya, jumlah keseluruhan electron yang menyangkut rekasi oksidasi harus sama dengan jumlah keseluruhan elekton yang menyangkut proses reduksi (Petrucci, 2:1987).

JURNAL KIMIA FISIKA II

Page 2

22 April 2014 Dalam elektrolisis, sumber aliran listrik luar digunakan untuk mendesak elektron agar mengalir dalam arah yang berlawanan dengan aliran spontan. Jumlah perubahan kimia yang dihasilkan dalam suatu sel elektrolisis berbanding lurus dengan jumlah muatan listrik yang melalui sel, seperti yang dinyatakan dalam hukum Faraday dari elektrolisis. Banyak proses industry penting menggunakan proses elektrolisis (Petrucci, 40:1987). Reaksi redoks dan sel elektrokimia. Persamaan yang menytakan reaksi redoks dapat disetarakan dengan menggunakan metode ion elektron. Reaksi redoks melibatkan transfer elektron dari zat pereduksi ke zat pengoksidasi. Dengan menggunakan kompartemen yang terpisah, reaksi redoks dapat digunakan untuk menghasilkan elektron yang mengalir di bagian luar pada suatu susunan yang dinamakan sel galvanik (Raymond Chang, 193: 2003). Elektrolisis ialah proses di mana energi listrik digunakan untuk mendorong agar reaksi redoks yang nonspontan bias terjadi. Hubungan kualitatif antara arus yang dipasok dan produk yang terbentuk dirumuskan oleh Faraday. Elektrolisis merupakan cara utama untuk memproduksi logam aktif serta nonlogam aktif dan banyak lagi bahan kimia yang penting di industri (Raymond Chang, 193: 2003). Berlawanan dengan reaksi redoks spontan, yang menghasilkan perubahan energi kimia menjadi energi listrik, elektrolisis ialah proses yang menggunakan energi listrik agar reaksi kimia nonspontan dapat terjadi. Sel elektrolitik ialah alat untuk melaksanakan elektrolisis. Asas yang sama mendasari elektrolisis dan proses yang berlangsung dalam sel galvanik (Raymond Chang, 219: 2003).

BAHAN DAN METODE


a. Alat dan bahan 1. Power supply 2. Gelas kimia 3. Thermometer 4. Kaki tiga + kawat kasa 5. Pembakar spiritus
JURNAL KIMIA FISIKA II Page 3

22 April 2014 6. Multimeter 7. Kabel penghubung 8. Stopwatch 9. Neraca digital 10. Korek api 11. Amplas 12. Larutan CuSO4 0,1M 13. Elektroda C dan Cu

b. Metode Metode yang digunakan dalam praktikum ini adalah metode elektrolisis 1. Bersihkan masing-masing elektroda dengan mengampelas dan mencelupkannya atau membilasnya dengan akuades, kemudian keringkan dan timbang. 2. Masukkan larutan CuSO4 0,1M sebanyak 30 ml ke dalam gelas kimia. 3. Rangkai alat percobaan seperti pada gambar dan atur power supply pada tegangan 3 volt. 4. Pasang elektroda Cu pada katoda dan C pada anoda dan masukkan ke dalam larutan CuSO4 0,1M. 5. Panaskan larutan CuSO4 0,1M sampai suhu 30oC serta melakukan elektrolisis selama 2 menit dan menjaga suhu tetap konstan pada 30oC selama elektrolisis berlangsung serta mengamati perubahannya. 6. Catat arus dan tegangan listrik pada elektrolisis suhu 30oC. 7. Matika power supply, cuci elektroda Cu dengan air lalu keringkan dan timbang dengan neraca digital. 8. Lakukan langkah di atas dengan suhu larutan CuSO4 0,1M 50oC dan 70oC.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Data hasil pengamatan

JURNAL KIMIA FISIKA II

Page 4

22 April 2014

No

Suhu (T)

Kuat Arus (I)

Tegangan (V)

Waktu (t)

Massa Cu di katoda Sebelum elektrolisis Setelah elektrolisis 4,0038 gram 4,0145 gram 4,0224 gram

1 2 3

30oC 50oC 70oC

0,64 0,75 0,71

3,43 3,27 3,27

2 menit 2 menit 2 menit

3,8473 gram 3,9035 gram 3,9987 gram

Persamaan Reaksi Reaksi di Anoda 2H2O 4H+ + O2 + 4eReaksi di Katoda Cu2+ + 2e Cu

Perhitungan G Esel Esel G G S 30C = -n F Esel = Ered - Eoks = 0,337 v (-1,229 v) = 1,567 v = -2 mol e- /mol x 96500 C /mol e- x 1,576 v = -3,04 x = nF / = 2 mol e-/mol x 96500 C x (1,576 v/30 C) = 10138,9 J/mol S 50C = nF / = 2 mol e-/mol x 96500 C x (1,576 v/50 C) = 6083,36 J/mol S 70C = nF / = 2 mol e-/mol x 96500 C x (1,576 v/70 C) = 4345,25 J/mol H 30C H = G + T.S = -3,04 x + 30 x 10138,9
Page 5

J/mol

JURNAL KIMIA FISIKA II

22 April 2014 H H 50C H H H 70C H H = 167 J = G + T.S = -3,04 x = 168 J = G + T.S = -3,04 x = 167,5 J + 70 x 4345,25 + 50 x 6983,36

Pembahasan Praktikum kali ini mengenai sel elektrolisis di mana dalam praktikum ini diberikan beberapa perbedaan suhu terhadap larutan elektrolisis. Hal ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbedaan suhu terhadap H, G, dan S. Pada praktikum ini digunakan larutan CuSO4 dan elektroda C dan Cu, di mana elektroda C pada anoda dan Cu pada katoda, karena elektroda C bersifat inert, jadi pada praktikum ini elektroda Cu akan mengalami reduksi. Secara teoritis efisiensi arus sel elektrolisis tergantung pada arus elektrolisis, suhu,

kecepatan alir (kecepatan pengadukan), konsentrasi dan jenis anolyte, serta disain dari sel tersebut (Mulyono, 2: 2012). Pada praktikum ini hanya dilihat pengaruh suhunya saja terhadap entalpi, entropi dan G. Dalam praktikum ini diberikan variasi suhu yaitu 30oC, 50oC, dan 70oC. pada masing-masing suhu tersebut akan tejadi perbedaan nilai antara H, G, dan S. Berdasarkan rumus yang ada, suhu akan mempengaruhi entropi dan entalpi, sedangkan G tidak dipengaruhi karena dari rumus yang ada faktor suhu tidak mempengaruhi G. Dari data hasil praktikum didapat bahwa jika suhu larutan elektrolisis semakin tinggi maka entropi akan semakin kecil sedangkan entalpi makin besar, karena entropi berbanding terbalik dengan suhu sedangkan entalpi berbanding lurus dengan suhu. Dari data hsil praktiukum didapat ketika suhu 30oC nilai entropi sebesar 10138,9 J/mol, pada suhu 50oC nilai entropi sebesar 6083,36 J/mol, dan pada suhu 70oC nilai entropi sebesar
JURNAL KIMIA FISIKA II Page 6

22 April 2014 4345,25 J/mol. Dari data hasil praktikum tersebut terlihat bahwa nilai entropi berbanding terbalik dengan suhu, karena semakin besar suhu maka nilai entropi semakin kecil. Sedangkan untuk entalpi yang didapat dari hasil praktikum pada suhu 30oC nilai entalpi adalah sebesar 167 J, pada suhu 50oC nilai entalpi sebesar 168 J, dan pada suhu 70oC nilai entalpi sebesar 167,5 J.

KESIMPULAN
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan mengenai sel elektrolisis, maka didapat beberapa kesimpulan sebagai berikut: 1. Elektrolisis ialah proses di mana energi listrik digunakan untuk mendorong agar reaksi redoks yang nonspontan bias terjadi. Hubungan kualitatif antara arus yang dipasok dan produk yang terbentuk dirumuskan oleh Faraday. Elektrolisis merupakan cara utama untuk memproduksi logam aktif serta nonlogam aktif dan banyak lagi bahan kimia yang penting di industri. 2. Berlawanan dengan reaksi redoks spontan, yang menghasilkan perubahan energi kimia menjadi energi listrik, elektrolisis ialah proses yang menggunakan energi listrik agar reaksi kimia nonspontan dapat terjadi. Sel elektrolitik ialah alat untuk melaksanakan elektrolisis. Asas yang sama mendasari elektrolisis dan proses yang berlangsung dalam sel galvanic. 3. Dari data hasil praktikum didapat bahwa jika suhu larutan elektrolisis semakin tinggi maka entropi akan semakin kecil sedangkan entalpi makin besar, karena entropi berbanding terbalik dengan suhu sedangkan entalpi berbanding lurus dengan suhu.

DAFTAR PUSTAKA
Petrucci, Ralph H. 1987. Kimi Dasar Prinsip dan Terapan Modern Edisi Keempat-Jilid 3. Jakarta: Erlangga.

JURNAL KIMIA FISIKA II

Page 7

22 April 2014 Chang, Raymond. 2003. Kimia Dasar Konsep-konsep Inti Edisi Ketiga Jilid 2. Jakarta: Erlangga. Anonim. mata-kuliah/kimia-dasar-ii/bab-3-sel-elektrokimia. http://imc.kimia.undip.ac.id.

Diakses pada 7 April 2014. Pukul 21.28 WIB. Mulyono, Daryoko dkk. Optimasi Proses Reaksi Pembangkitan Ag2+ pada Proses Sel Elektrolisis berkapasitas Satu Liter. 2012. Diakses pada 28 April 2014. Pukul 18.40 WIB.

JURNAL KIMIA FISIKA II

Page 8