Anda di halaman 1dari 51

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Struktur
Dalam perencanaan kayu harus dipenuhi syarat-syarat berikut:
1) Analisa struktur harus dilakukan dengan cara-cara mekanika teknik
yang baku.
2) Analisa dengan komputer, harus menunjukkan prinsip cara kerja
program dan harus ditunjukkan dengan jelas data yang dimasukkan
serta penjelasan data keluaran.
3) Percobaan model diperbolehkan bila diperlukan untuk menunjang
analisis teoritis.
4) Analisis struktur harus dilakukan dengan model-model matematis
yang menstimulasikan keadaan struktur yang sesungguhnya dilihat
dari segi sifat bahan dan kekuatan unsur-unsurnya.
5) Bila cara perhitungan menyimpang dari tata cara ini, maka harus
mengikuti persyaratan sebagai berikut:
a) Struktur yang dihasilkan dapat dibuktikan dengan perhitungan
dan atau percobaan yang cukup aman.
b) Tanggung jawab atas penyimpangan, dipikul oleh perencana
dan pelaksana yang bersangkutan.
c) Perhitungan dan atau percobaan tersebut diajukan kepada
panitia yang ditunjuk oleh pengawas lapangan, yang terdiri dari
ahli-ahli yang diberi wewenang menentukan segala keterangan
dan cara-cara tersebut. Bila perlu, panitia dapat meminta
diadakan percobaan ulang, lanjutan atau tambahan. Laporan
panitia yang berisi syarat-syarat dan ketentuan penggunaan
cara tersebut mempunyai kekuatan yang sama dengan tata
cara ini.
2

1.2 Beban dan Kombinasi Pembebanan
Beban nominal adalah beban yang ditentukan di dalam Pedoman
Perencanaan Pembebanan untuk Rumah dan Gedung.
Beban nominal yang harus ditinjau adalah:
D: dead load (beban mati) yang diakibatkan oleh berat konstruksi
permanen, termasuk dinding, lantai, atap, plafon, partisi tetap,
tangga dan peralatan layan tetap.
L : live load (beban hidup) yang ditimbulkan oleh penggunaan
gedung, termasuk pengaruh kejut tetapi tidak termasuk beban
lingkungan seperti angin, hujan dan lain-lain.
La (beban hidup atap) yang ditimbulkan selama perawatan oleh
pekerja, peralatan dan material, atau selama penggunaan biasa oleh
orang dan benda bergerak.
H (beban hujan), tidak termasuk yang diakibatkan oleh genangan air.
W : wind (beban angin) termasuk dengan memperhitungkan bentuk
aerodinamika bangunan dan peninjauan terhadap pengaruh angin
topan, puyuh dan tornado bila diperlukan.
E : earthaquake (beban gempa) yang ditentukan menurut SNI 03-
1726-1989 atau penggantinya.

1.3 Kombinasi Pembebanan
Kecuali ditentukan lain, struktur dan sambungannya harus
direncanakan dengan menggunakan kombinasi pembebanan berikut ini:
1,4 D (1)
1,2D + 1,6 L + 0,5 (La atau H) (2)
1,2 D + 1,6 (La atau H) + (0,5 L atau 0,8 W) (3)
1,2 D + 1,3 W + 0,5 L + 0,5 (La atau W) (4)
1,2 D 1,0 E + 0,5 L (5)
0,9 D (1,3 W atau 1,0 E) (6)
Pengecualian: faktor beban untuk L di dalam kombinasi pembebanan
pada persamaan (3), (4), (5) harus sama dengan 1,0 untuk garasi parkir,
3

daerah yang digunakan untuk pertemuan umum, dan semua daerah di
mana beban hidup lebih besar dari pada 5 KPa.

1.4 Kuat Acuan Berdasarkan atas Pemilihan Secara Mekanis
Pemilihan secara mekanis untuk mendapatkan medulus
elastisitas lentur harus dilakukan dengan mengikuti standar pemilihan
mekanis yang baku. Berdasarkan modulus elastisitas lentur yang
diperoleh secara mekanis, kuat acuan lainnya dapat diambil mengikuti
Tabel 1.1. Kuat acuan yang berbeda dengan Tabel 1.1 dapat digunakan
apabila ada pembuktian secara eksperimental yang mengikuti standar-
standar eksperimental yang baku.
Tabel 1.1. Nilai kuat acuan (MPa) berdasarkan atas pemilihan secara
mekanis pada kadar air 15 %
Kode
mutu
Modulus
elastisitas
Lentur (Ew)
Kuat
Lentur
(Fb)
Kuat tarik
// serat
(Ft)
Kuat
tekan //
serat (Fc)
Kuat
Geser
(Fv)
Kuat tekan
tegak lurus
serat Fc
E 26 25000 66 60 46 6.6 24
E 25 24000 62 58 45 6.5 23
E 24 23000 59 56 45 6.4 22
E 23 22000 56 53 43 6.2 21
E 22 21000 54 50 41 6.1 20
E 21 20000 56 47 40 5.9 19
E 20 19000 47 44 39 5.8 18
E 19 18000 44 42 37 5.6 17
E 18 17000 42 39 35 5.4 16
E 17 16000 38 36 34 5.4 15
E 16 15000 35 33 33 5.2 14
E 15 14000 32 31 31 5.1 13
E 14 13000 30 28 30 4.9 12
E 13 12000 27 25 28 4.8 11
E 12 11000 23 22 27 4.6 11
E 11 10000 20 19 25 4.5 10
E 10 9000 18 17 24 4.3 9

4

Tabel 1.2. Kode mutu dari beberapa kayu perdagangan
No Nama kayu Kadar air (%) Ew (MPa) Kode mutu
1 Kapur 12
15
13000
12854
E13
2 Kempas 12
15
18500
17526
E18
3 Keruing 12
15
14300
13616
E14
4 Merbau 15 15400 E16
5 Mersawa 12
15
15700
13490
E14
6 Ramin 12
15
15000
12983
E14
7 Balau 12
15
15000
12983
E14
8 Meranti 12
15
12200
11940
E12

Untuk kayu dengan serat tidak lurus dan atau mempunyai cacat kayu,
estimasi nilai modulus elastisitas lentur acuan dari Tabel 1.2 harus
direduksi dengan mengikuti ketentuan pada SNI 03-3527-1991 UDC
691.11 tentang Mutu Kayu Bangunan, yaitu dengan mengalikan estimasi
nilai modulus elastisitas lentur acuan dengan rumus:
Ew = 16.000
0.7
, dengan nilai rasio tahanan seperti pada Tabel 1.3.

Tabel 1.3. Nilai rasio tahanan
Kelas Mutu Nialai Rasio Tahanan
A
B
C
0,80
0,63
0,50
5

Nilai rasio tahanan kayu tergantung pada Kelas mutu kayu, sedangkan
kelas mutu kayu ditetapkan dengan mengacu pada Tabel 1.4.

Tabel 1.4. Cacat maksimum untuk setiap kelas mutu kayu
No Macam cacat Kelas mutu A Kelas mutu B Kelas mutu C
1 Mata kayu:
Terletak di muka
lebar
Terletak di muka
sempit

1/6 lebar kayu

1/8 lebar kayu

lebar kayu

1/6 lebar kayu

lebar kayu

lebar kayu
2 Retak 1/5 tebal kayu 1/6 tebal kayu tebal kayu
3 Pingul 1/10 tebal atau
lebar kayu
1/6 tebal atau
lebar kayu
tebal atau
lebar kayu
4 Arah serat 1:13 1:9 1:6
5 Saluran damar 1/5 tebal kayu
eksudasi tidak
diperlukan
2/5 tebal kayu tebal kayu
6 Gubal diperkenankan diperkenankan diperkenankan
7 Lubang serangga Diperkenankan
asal terpencar
dan ukuran
dibatasi dan
tidak ada tanda-
tanda serangga
hidup
Diperkenankan
asal terpencar
dan ukuran
dibatasi dan
tidak ada
tanda-tanda
serangga hidup
Diperkenankan
asal terpencar
dan ukuran
dibatasi dan
tidak ada
tanda-tanda
serangga hidup
8 Cacat lain (lapuk, hati
rapuh,retak melintang)
Tidak
diperkenankan
Tidak
diperkenankan
Tidak
diperkenankan

1.5 Kuat Acuan Berdasarkan Pemilihan Secara Visual
Pemilihan secara visual harus mengikuti standar pemilihan secara
visual yang baku. Apabila pemeriksaan visual dilakukan berdasarkan
atas pengukuran berat jenis, maka kuat acuan untuk kayu berserat
6

lurus tanpa cacat dapat dihitung dengan menggunakan langkah-
langkah sebagai berikut:
1. Kerapatan (dengan satuan kg/m
3
) pada kondisi basah (berat dan
volume diukur pada kondisi basah, tetapi kadar airnya lebih kecil
dari 30%) dihitung dengan mengikuti prosedur baku
=


: Wg = berat kayu basah
Vg = volume basah kayu
2. Kadar air, m % (m < 30 %), diukur dengan prosedur baku
m =

x 100 %
Wg dan Wd masing-masing adalah berat kayu basah dan berat kayu
kering oven.
3. Hitung berat jenis pada m % (Gm) dengan rumus:
Gm =

1.000 1+

100


4. Hitung berat jenis dasar (Gb) dengan rumus:
Gb =

1+0,265

; dengan a =
(30)
30

5. Hitung berat jenis pada kadar air15 % (G15) dengan rumus :
G15 =

10,133


6. Hitung estimasi kuat acuan Modulus Elastisitas Lentur dengan
rumus sebagai berikut:

(MPa) = 10.000
0.7

di mana G = G15
G adalah berat jenis kayu pada kadar air 15 %



7

BAB II
DASAR PERENCANAAN

2.1 Perencanaan Keadaan Batas
Komponen struktur beserta sambungan harus direncanakan
sedemikian sehingga tidak ada keadaan batas yang terlampaui pada
saat struktur tersebut memikul beban rencana yang bekerja.
Keadaan batas tahanan meliputi setiap tahanan yang diperlukan
(gaya atau tegangan) yang ditinjau pada setiap sistem struktur,
komponen struktur atau sambungannya.

2.2 Analisa Struktur
Pengaruh beban terhadap masing-masing komponen struktur dan
sambungannya ditentukan dengan metode analisa struktur elastik.
Analisa tersebut harus memperhitungkan keseimbangan, stabilitas,
kompatibilitas geometrik dan sifat material jangka pendek maupun
jangka panjang. Sebagai alternatif, analisis non linier atau inelastis
dapat digunakan selama data yang mendukung perilaku tersebut
tersedia dan disetujui oleh pihak yang berwenang.

2.3 Modulus elastisitas lentur
Untuk menentukan distribusi beban di dalam struktur statis tak
tentu dan untuk perhitungan lendutan dan keadaan layan lainnya,
harus digunakan nilai modulus elastisitas lentur rerata terkoreksi (Ew),
yang digunakan dalam perencanaan, bergantung pada penggunaannya.
Dalam kasus perencanaan di mana tahanan struktural atau stabilitas
ditentukan berdasarkan perhitungan maka harus digunakan nilai
persentil ke lima terkoreksi (E05) yang ditetapkan sebagai berikut:
E05 = 1,03 Ew {1-1,645(KVE)}
8

Dengan 1,03 adalah faktor koreksi dari nilai Ew yang ditabelkan kepada
nilai Ew beban geser, KVE =

"
adalah koefisien variasi nilai EW , yaitu
penyimpangan deviasi standar Ew dibagi dengan nilai rerata EW
Khusus untuk kayu glulam (kayu laminasi struktural), faktor
penyesuaian tersebut adalah 1,05. Modulus elastisitas lentur tidak
perlu dokoreksi terhadap faktor waktu ().

2.4 Kekangan Ujung
Perencanaan sambungan harus konsisten dengan asumsi yang
diambil dalam analisis struktur dan dengan jenis konstruksi yang dipilih
dalam gambar rencana. Dalam rangka sederhana semua sambungan
harus diasumsikan bersifat sendi kecuali bila dapat ditunjukkan melalui
eksperimen atau analisi bahwa sambungan tersebut dapat mengekang
rotasi. Pada kondisi beban rencana, sambungan harus mempunyai
kapasitas rotasi yang memadai untuk menghindari elemen penyambung
terbebani secara berlebihan.

2.5 Pembebanan Jangka Panjang
Analisis yang dilakukan pada struktur dan komponen struktur
yang mengalami deformasi akibat rangkak pada saat memikul beban
kerja, harus memperhitungkan terjadinya tambahan deformasi akibat
rangkak dalam masa layannya apabila deformasi tersebut
mempengaruhi tahanan atau layannya.

2.6 Kondisi Batas Tahanan
Perencanaan sistem struktur, komponen struktur, dan
sambungannya harus menjamin bahwa tahanan rencana di semua
bagain di semua komponen, dan sambungan struktur sama dengan atau
melebihi gaya terfaktor (Ru).

9

2.7 Gaya Terfaktor
Gaya-gaya pada komponen struktur dan sambungannya (Ru)
harus ditentukan dari kombinasi pembebanan sebagaimana diatur
dalam Tabel 2.1.

2.8 Tahanan Rencana
Tahanan rencana dihitung untuk setiap keadaan batas yang
berlaku sebagai hasil kali antara tahan terkoreksi (R), faktor tahanan
() , dan faktor waktu (). Tahanan rencana harus sama dengan atau
melebihi tahanan terfaktor (Ru):
Ru
Dengan R adalah tahanan terkoreksi untuk komponen struktur,
elemen, atau sambungan, seperti tahanan lentur terkoreksi (M),
tahanan geser terkoreksi (V), dan lain-lain.
Begitu pula Ru diganti dengan Mur, Vur dan sebagainya untuk
gaya-gaya pada komponen struktur atau sambungan.
Tahanan terkoreksi harus meliputi pengaruh semua faktor koreksi
yang berasal dari keadaan masa layan dan faktor-faktor koreksi lainnya
yang berlaku. Faktor tahanan (), yang digunakan dalam tata cara ini
dirangkum dalam Tabel 2.2
Faktor waktu yang digunakan dalam kombinasi pembebanan pada
persamaan (2) harus sesuai dengan yang tercantum didalam Tabel 2.1.








10

Tabel 2.1. Faktor Waktu ()
Kombinasi pembebanan Faktor waktu ()
1,4 D 0,6
1,2 D + 1,6 L + 0,5 (La atau H) 0,7 jika L dari gedung
0,8 jika L dari ruangan umum
1,25 jika L dari kejut
1,2 D + 1,6 (La atau H) + (0,5 L atau 0,8 W) 0,8
1,2 D + 1,3 W + 0,5 L + 0,5 (La atau H) 1,0
1,2 D 1,0 E + 0,5 L 1,0
0,9 D (1,3 W atau 1,0 E) 1,0
Catatan: Untuk sambungan = 1,0 jika dari kejut.

Tabel 2.2 Faktor tahanan ()
Jenis Simbul Nilai
Tekan c 0,90
Lentur

0,85
Stabilitas s 0,85
Tarik

0,80
Geser/punter

0,75
Sambungan

0,65

2.9 Keadaan Batas Kemampuan Layan
Sistem struktur dan komponen struktur harus direncanakan
dengan memperhatikan batas-batas deformasi, simpangan lateral,
getaran, rangkak, atau deformasi lainnya yang dapat mempengaruhi
layan gedung atau struktur kayu yang bersangkutan.
Perencanaan harus melakukan peninjauan terhadap keadaan
batas layan yang meliputi antara lain lendutan jangka pendek,
getaran,rangkak,perubahan deminsi dan pengaruh waktu lainnya.
Lendutan akibat beban-beban harus dibatasi sedemikian sehingga tidak
11

menimbulkan kerusakan pada elemen-elemen struktur atau non
struktur yang terkait.

2.10 Struktur yang Sudah Ada
Ketentuan perencanaan dalam tata cara ini dapat diterapkan
untuk mengevaluasi struktur yang sudah ada. Apabila gedung atau
struktur kayu diubah fungsi atau bentuknya maka harus dilakukan
tinjauan terhadap kemungkinan pengaruh-pengaruh akibat kerusakan
atau perlemahan yang disebabkan perubahan itu.

2.11 Syarat-Syarat Perencanaan
1) Luas bruto dan netto
Luas bruto (Ag) komponen struktur kayu dalam setiap
potongan adalah jumlah luas seluruh elemen penyusun
komponen struktur kayu yang diukur tegak lurus terhadap
sumbu komponen struktur.
Luas netto (An) komponen struktur kayu diperoleh dari luas
bruto dikurangi dengan jumlah material kayu yang hilang
karena adanya lubang bor, baut, paku, coakan, takik dan lain-
lain.
2) Stabilitas
Stabilitas harus dipenuhi oleh sistem struktur secara keseluruhan
maupun oleh komponen struktur pada sistem struktur tersebut.
Perencanaan terhadap stabilitas dilakukan dengan
memperhitungkan pengaruh beban yang ditimbulkan oleh
perubahan bentuk struktur atau komponen struktur sistem pemikul
beban lateral.
3) Pengekang lateral
Pada titik-titik tumpu balok, rangka dan komponen struktur kayu
lainnya,harus disediakan kekangan pada rotasi terhadap sumbu
12

longitudinalnya. Kecuali bila hal tersebut ternyata tidak diperlukan
berdasarkan analisa ataupun percobaan.
4) Kondisi acuan
Tahan acuan (R) dan tahanan acuan sambungan (Z) ditetapkan
berdasarkan kondisi acuan berikut ini:
a. Kondisi kering dengan kadar air setimbang, maksimum tidak
melebihi 19% untuk kayu massif dan 16% untuk produk-
produk kayu yang dilem, serta batas bawah kadar air
setimbang tahunan rerata adalah 6%
b. Nilai tahan acuan berlaku untuk kondisi terekspos secara
berkelanjutan pada temperatur hingga 38
0
C, atau temperatur
yang dapat mencapai 65
0
C pada komponen struktur dan
sambungan, atau temperatur sesaat yang melebihi 93
0
C pada
panel struktural. Komponen struktur kayu dan sambungannya
tidak diperkenankan untuk secara teru-menerus berada pada
temperature di atas 65
0
C. Panel struktur tidak diperkenankan
berada pada temperatur di atas 93
0
C kecuali untuk waktu yang
sangat pendek. Untuk kondisi temperatur diatas 38
0
C secara
berkelanjutan maka harus diberlakukan faktor koreksi
temperatur.
c. Komponen struktur tunggal atau sambungan tanpa pembagi
beban (load sharing) atau aksi komposit.
5) Tahanan terkoreksi
Tahanan terkoreksi dihitung sebagai berikut:
R = R C1C2.Cn
Dengan R adalah tahanan terkoreksi
R adalah tahanan acuan
Ci adalah faktor-faktor terkoreksi
6) Faktor koreksi untuk masa layan
Merupakan hasil perkalian dari beberapa faktor koreksi seperti
berikut:
13

Ci = CMCtCptCrt
Faktor koreksi untuk tahanan meliputi:
CM adalah faktor koreksi layan basah, untuk memperhitungkan
kadar air masa layan yang lebih tinggi dari pada 19% untuk
kayu massif dan 16% untuk produk kayu yang dilem.
Ct adalah faktor koreksi temperatur, untuk memperhitungkan
temperatur layan lebih tinggi daripada 38
0
C secara
berkelanjutan.
Cpt adalah faktor terkoreksi pengawetan kayu, untuk
memperhitungkan pengaruh pengawetan terhadap produk-
produk kayu dan sambungan. Nilai faktor koreksi ditetapkan
berdasarkan spesifikasi pemasok, ketentuan, atau tata cara yang
berlaku.
Crt adalah faktor koreksi tahan api, untuk memperhitungkan
pengaruh perlakuan tahan api terhadap produk-produk kayu
dan sambungan. Nilai faktor koreksi ditetapkan berdasarkan
spesifikasi pemasok, ketentuan atau tata cara yang berlaku.
7) Faktor koreksi tambahan untuk sambungan struktural
Sebagai tambahan dari faktor-faktor koreksi yang dibahas
sebelumnya, hal-hal berikut ini berlaku untuk sambungan:
Cdi adalah faktor koreksi diafragma, untuk memperhitungkan
peningkatan tahanan paku-paku yang digunakan pada struktur
diafragma.
Cg adalah faktor koreksi aksi kelompok, untuk memperhitungkan
pembebanan yang tidak merata dari baris alat pengencang
majemuk.
C adalah faktor koreksi geometri, untuk memperhitungkan geometri
sambungan yang tidak lazim.
Cd adalah faktor koreksi penetrasi, untuk menghitung reduksi tahan
alat pengencang.
14

Ceg adalah faktor koreksi serat ujung, untuk memperhitungkan
reduksi tahan alat pengencang yang dipasang pada serat ujung.
Cst adalah faktor koreksi pelat baja sisi, untuk sambungan geser
dengan pelat baja sisi berukuran 100 mm.
Ctn adalah faktor koreksi paku miring, untuk sambungan paku.

















15

BAB III
PERENCANAAN BATANG TARIK

Komponen struktur tarik yang mendukung beban aksial tarik maupun
desak sering dijumpai pada struktur rangka kuda-kuda. Gaya aksial tarik
maupun desak memiliki garis kerja gaya yang sejajar dan berimpit dengan
sumbu pajang batang. Secara umum, perencanaan komponen tarik bertujuan
untuk mengetahui luas penampang batang minimum yang diperlukan. Apabila
dimensi komponen struktur tarik telah ditetapkan maka analisis berupa cek
terhadap luas penampang yang telah ada dapat dilakukan.
Pada penentuan ukuran batang tarik harus diperhatikan adanya
perlemahan, karena adanya alat sambung, seperti paku, baut, pelat kokot dan
lain sebagainya. Dengan digunakan alat sambung tersebut akan mengurangi
adanya luas tampang dari batang, yaitu akibat adanya lubang di tempat alat
penyambung tersebut. Akibat adanya lubang, tegangan pada kayu tidak
merata lagi, tetapi akan timbul pemusatan tegangan di sekitar lubang
tersebut.
Bila dilihat dari diagram tegangannya, disekitar lubang jauh lebih besar
dari tegangan di tepi batang.

Mengingat adanya perlemahan karena adanya lubang alat penyambung,
maka dalam menentukan ukuran balok/batang perlu diingat adanya
16

perlemahan yang disesuaikan dengan alat sambung yang digunakan. Rumus
yang digunakan adalah sebagai berikut:
=


Daftar perlemahan batang dari macam-macam alat sambung antara lain:
1) Sambungan dengan paku : 10 15%
2) Sambungan dengan baut + gigi : 20 25%
3) Sambungan dengan pelat kokot atau pasak cincin : 20%
4) Sambungan dengan pasak dari kayu : 30%
5) Sambungan dengan perekat/Lim : 0%

PERENCANAAN KOMPONEN STRUKTUR TARIK:
3.1 Gaya Tarik Terfaktor
Komponen strukur tarik harus direncanakan dengan memenuhi
ketentuan sebagai berikut:
T
u

T
di mana : Tu adalah gaya tarik terfaktor
adalah faktor waktu
t adalah faktor tahanan tarik sejajar serat = 0.8
T adalah tahan tarik terkoreksi

3.2 Tahanan Tarik Terkoreksi
Sejajar serat
Tahanan tarik terkoreksi pada komponen struktur tarik konsentris,
T, ditentukan pada penampang tarik kritis. Tahanan tarik terkoreksi
adalah hasil dari perkalian kuat tarik sejajar serat terkoreksi dengan
luas penampang neto seperti pada persamaan berikut:
T =


di mana :

adalah kuat tarik sejajar serat terkoreksi


17

adalah luas penampang neto


Tegak lurus serat
Apabila gaya tarik tegak lurus serat tidak dapat dihindari maka
perkuatan mekanis harus diadakan agar mampu memikul gaya tarik
yang terjadi.

3.3 Kuat Tarik Terkoreksi
Kuat tarik sejajar serat terkoreksi diperoleh dengan cara
mengalikan kuat tarik sejajar serat acuan dengan nilai faktor koreksi
massa layan seperti pada persamaan berikut:

= CMCtCpCFCrtFt

3.4 Batang Tarik Tersusun
Mengenai batang tarik, baik tunggal maupun ganda, kekuatannya
sama, yang penting dalam konstruksi untuk batang tarik adalah luas
penampangnya. Untuk batang tarik ganda dengan ukuran panjang,
maka dalam penyatuan batang-batangnya digunakan perangkai (kloss).
Penggunaan kloss dimaksudkan supaya batang yang menahan beban
tarik bekerja lebih baik, bila ada beban-beban sekunder pada batang
tersebut.
Komponen struktur tersusun, termasuk batang mejemuk rangka
atap, batang diafragma, batang penyokong, dan komponen struktur
serupa, adalah komponen struktur yang terdiri dari dua atau lebih
elemen sejajar yang digabung dari bahan dengan tahanan dan kekuatan
yang sama. Tahanan komponen struktur tersusun tersebut harus
ditentukan sebagai jumlah dari tahan elemen masing-masing selama
tahanan sambungannya juga dapat menjamin terjadinya distribusi gaya
tarik aksial di antara elemen-elemen tersebut yang sebanding dengan
luas masing-masing elemen. Pengaruh perlemahan akibat sambungan
antar elemen harus ditinjau dalam perencanaan.
18

BAB IV
PERENCANAAN BATANG TEKAN

Elemen struktur dengan fungsi utama mendukung tekan sering
dijumpai pada struktur truss atau frame. Pada struktur truss sering dijumpai
pada kuda-kuda kayu, sedangkan struktur frame, elemen struktur ini lebih
dikenal dengan nama kolom
Perencanaan dimensi batang tekan lebih sulit dari pada perencanaan
batang tarik, karena perilaku tekuk lateral menyebabkan timbulnya momen
sekunder selain gaya aksial tekan. Perilaku tekuk ini dipengaruhi oleh nilai
kelangsingan kolom yaitu nilai banding antara panjang efektif kolom dengan
jari-jari girasi penampang kolom. Apabila nilai kelangsingan sangat kecil
(kolom pendek), maka serat-serat kayu pada penampang kolom akan gagal
tekan. Tetapi bila angka kelangsingan kolom sangat tinggi (kolom langsing),
maka kolom akan mengalami kegagalan tekuk dan serat-serat kayu belum
mencapai kuat tekannya atau bahkan masih ada pada kondisi elastik.
Kebanyakan kolom memiliki nilai kelangsingan diantara kedua nilai ekstrim
tersebut yang disebut intermediate column.
Ketahanan sebuah kolom tergantung pada perbandingan panjang dibagi
ukuran melintang. Kapasitas beban batas/limit dari sebuah kolom pendek
tergatung hanya pada kekuatan bahan yang dipakai dan hanya pada kekuatan
melintangnya.
Sebuah kolom panjang dapat runtuh akibat beban yang jauh lebih kecil
daripada beban batas (ultimit load) kolom pendek. Jika ditambah beban P yang
bekerja pada sebuah kolom panjang akan mencapai batas Pcr secara tiba-tiba
menjadi tidak stabil dan melengkung ke arah lateral, peristiwa ini yang disebut
tekuk (bukling).
19

Jika sebuah kolom mengalami penekukan, maka kolom itu tidak dapat
lebih jauh memikul penambahan beban. Untuk beban P > Pcr, kolom akan
mengalami deformasi terus-menerus hingga runtuh. Persamaan untuk beban
kritis pada kolom dengan ujung sendi telah ditentukan oleh ahli metematika
dari Swiss L.Euler (1783).
Pcr =

2


Keterangan:
E = Modulus Elastisitas Bahan Kolom
I = Momen Inersia Minimum dari Penampang
le = panjang efektif kolom (panjang tekuk)
Dengan membagi Pcr dengan luas penampang kolom maka didapat nilai
tegangan kritis:

atau

2





20

PERENCANAAN KOMPONEN STRUKTUR
Perencanaan batang tekan untuk komponen struktur yang mengalami gaya
tekan aksial dan gaya tekan tumpu sesuai standart SNI 2002 sebagai berikut:
4.1 Gaya Tekan Terfaktor
Komponen struktur tekan harus direncanakan sedemikian
sehingga:
Pu


di mana : Pu = gaya tekan terfaktor
= faktor waktu

= 0,9 adalah faktor tahanan tekan sejajar serat


P = tahanan terkoreksi
Tahanan koreksi adalah hasil dari perkalian tahanan acuan dengan
faktor-faktor koreksi.
Komponen struktur yang memikul gaya-gaya aksial setempat harus
mendapatkan pendetailan tahanan dan kesetabilan yang cukup pada
daerah bekerjanya gaya-gaya tersebut. begitu pula, komponen struktur
harus memiliki tahanan rencana lokal dan stabilitas pelat badan yang
cukup pada tumpuan balok dan pada lokasi gaya-gaya transversal yang
bekerja.

4.2 Panjang Efektif dan Kelangsingan
Panjang efektif kolom
Panjang kolom tidak terkekang atau panjang bagian kolom tidak
terkekang (l), harus diambil sebagai jarak pusat ke pusat pengekang
lateral. Panjang kolom tak terkekang harus ditentukan baik terhadap
sumbu kuat maupun terhadap sumbu lemah dari kolom tersebut.
Panjang kolom efektif = le
Pada arah yang ditinjau harus diambil sebagai Kel1 di mana Ke
adalah faktor panjang tekuk untuk komponen struktur tekan, l1 adalah
21

panjang total dalam bidang sumbu bebas bahan. Ke tergantung pada
kondisi ujung kolom dan ada atau tidak adanya goyangan.
Untuk kolom tanpa goyangan pada arah yang ditinjau, faktor
panjang tekuk (Ke), harus diambil sama dengan satu kecuali jika
analisis memperlihatkan bahwa kondisi kekangan ujung kolom
memungkinkan digunakannya faktor panjang tekuk yang lebih kecil
daripada satu.
Untuk kolom dengan goyangan pada arah yang ditinjau, faktor
panjang tekuk, harus lebih besar dari pada satu dan ditentukan
berdasarkan analisis mekanika dengan memperhitungkan kondisi
kekangan ujung kolom.
Nilai Ke untuk beberapa jenis kondisi kekangan ujung dan untuk
keadaan dengan goyangan serta tanpa goyangan dapat ditentukan
dengan menggunakan hubungan pada gambar berikut:


22

Kelangsingan kolom
Kelangsingan kolom adalah perbandingan antara panjang efektif
kolom pada arah yang ditinjau terhadap jari-jari girasi penampang
kolom pada arah itu, atau:
Kelangsingan =


Jari-jari girasi dihitung berdasarkan luas penampang bruto dan
menggunakan penampang transformasi jika digunakan penampang
komposit.
Nilai kelangsingan kolom

, tidak boleh melebihi 175


Jari-jari girasi penampang persegi :
r =

3
12
=
1
12
= 0,2887 b (b<d)
jari-jari girasi penampang bulat : r = 0,24 D
di mana : b = lebar penampang
d = tinggi tampang
D = diameter tampang
Tahanan kolom massif yang memikul gaya tekan konsentris
1. Nilai bahan rencana dan faktor-faktor rencana
Modulus elastisitas lentur yang digunakan dalam persamaan-
persamaan adalah nilai persentil ke lima terkoreksi, Eas, seperti
yang ditentukan untuk digunakan dalam perhitungan tahanan.
2. Tahanan kolom prismatik
Tahanan tekan kolom ditentukan berdasarkan kelangsingan
penampang kolom pada arah yang paling kritis. Tahanan tekan
kolom terkoreksi ditetapkan sebagai berikut:
P = CpAFc*
= CpPo


23

Faktor kesetabilan kolom (Cp) dihitung sebagai berikut:
Cp =
1+

1+


di mana :

05

2
=

05

2

di mana :
A adalah luas penampang bruto (mm
2
)

adalah kuat tekan terkoreksi sejajar serat (setelah dikalikan


semua faktor koreksi kecuali Cp )(N)

05

adalah nilai modulus elastik lentur terkoreksi pada persentil


ke lima, (MPa)
adalah tahanan tekuk kritis (Euler) pada arah yang ditinjau
(N)
Po adalah tahanan tekan aksial terkoreksi sejajar serat pada
kelangsingan kolom sama dengan nol, (N)
C = 0,80 untuk batang massif
= 0,85 untuk tiang dan pancang bundar
= 0,90 untuk glulam (kayu laminasi struktur) dan kayu
komposit struktural.

adalah faktor tahan tekan = 0,80

adalah faktor tahanan stabilitas = 0,85


Nilai modulus elastisitas lentur terkoreksi pada persentil kelima
(E05) untuk balok massif dihitung berdasarkan persamaan:

05

= 1,03

1 1,645

adalah modulus elastisitas lentur yang telah dikalikan


dengan faktor koreksi CM//, Ct//,Cpt// dan CF
KVE adalah nilai banding antara standar deviasi/penyimpangan
dengan nilai rata-rata dalam pengujian modulus elastisitas
24

lentur. Dari hasil pengujian untuk beberapa jenis kayu nilai
KVE diperoleh sebesar 0,2. Apabila nilai KVE sebesar 0,2
disubstitusi pada rumus di atas maka E05 = 0,69 EW

















25

BAB V
SAMBUNGAN

Karena alasan geometrik, pada konstruksi kayu sering diperlukan
sambungan yang berfungsi untuk memperpanjang batang kayu atau
menggabungkan beberapa batang kayu pada satu buhul. Kegagalan pada
sambungan dapat berupa: pecahnya kayu di antara dua alat sambung,
bengkoknya alat sambung itu sendiri, atau lendutannya sudah melampaui
nilai toleransi. Yang perlu mendapat perhatian dalam konstruksi kayu adalah
tempat-tempat sambungan, karena di tempat-tempat sambungan merupakan
titik terlemah.
Beberapa hal yang menyebabkan rendahnya kekuatan sambungan pada
konstruksi kayu:
1. Terjadinya pengurangan luas tampang
Pemasangan alat sambung seperti baut, pasak dan gigi menyebabkan
berkurangnya luas efektif penampang kayu yang disambung sehingga
kuat dukung batangnya menjadi lebih rendah bila dibandingkan dengan
batang yang berpenampang penuh.
2. Terjadinya penyimpangan arah serat
Pada buhul sering terdapat gaya yang sejajar serat pada satu batang,
tetapi tidak sejajar serat dengan batang yang lain. Karena kekuatan
kayu yang tidak sejajar serat lebih kecil dari pada yang sejajar serat,
maka kekuatan sambungan harus didasarkan [ada kekuatan kayu yang
tidak sejajar serat (kekuatan yang kecil)
3. Terbatasnya luas sambungan
Kayu memiliki kuat geser sejajar serat yang kecil sehingga mudah pecah
apabila beberapa alat sambung dipasang bersamaan. Oleh karena itu,
dalam penempatan alat sambung disyaratkan jarak minimum alat
26

sambung agar kayu terhindar dari kemungkinan pecah. Dengan adanya
ketentuan jarak tersebut, maka luas efektif sambungan (luas yang dapat
digunakan untuk penempatan alat sambung) menjadi berkurang dengan
sendirinya.
Efektifitas suatu alat sambung dapat diukur berdasarkan kuat dukung
yang disambung oleh sambungan dibandingkan dengan kuat ultimit kayu
yang di sambungnya.
Ciri-ciri alat sambung yang baik:
1. Pengurangan luas kayu yang digunakan untuk penempatan alat
sambung relatif kecil atau bahkan nol.
2. Memiliki nilai banding antara kuat dukung sambungan dengan kuat
ultimit batang yang disambung tinggi.
3. Menunjukkan perilaku pelelehan sebelum mencapai keruntuhan(daktail)
4. Memiliki angka penyebaran panas yang rendah
5. Murah dan mudah digunakan

5.1 Sambungan Baut
Alat sambung baut umumnya difungsikan untuk mendukung
beban tegak lurus sumbu panjangnya. Kekuatan sambungan baut
ditentukan oleh kuat tumpu kayu, tegangan lentur baut, dan angka
kelangsingan (nilai banding antara panjang baut pada kayu utama
dengan diameter baut). Bila kelangsingan kecil, baut sangat kaku dan
distribusi tegangan tumpu kayu di bawah baut akan terjadi secara
merata. Semakin tinggi angka kelangsingan baut, maka baut mulai
mengalami tekuk dan tegangan tumpu kayu terdistribusi secara tidak
merata. Distribusi tegangan terlihat seperti pada gambar berikut:


27



Perencanaan sambungan baut berdasarkan SNI-5 (2002) dengan urutan
sebagai berikut:
1) Tahanan Lateral
Tahanan lateral sambungan dengan alat sambung baut dihitung
dengan persamaan;
Zu

Z
di mana :
Zu = tahanan perlu sambungan
= faktor waktu sesuai tabel (faktor waktu, untuk tahanan
tarik alat pengencang = 1,0)

= faktor tahanan sambungan = 0,65 sesuai tabel

= tahanan terkoreksi sambungan, diperoleh dari hasil


perkalian antara tahan acuan sambungan dengan faktor -
faktor koreksi
2) Tahanan Lateral Acuan
Tahanan lateral acuan dari sambungan yang menggunakan
baut satu irisan dengan beban tegak lurus terhadap sumbu alat
pengencang dan dipasang tegak lurus sumbu komponen struktur,
diambil sebagai nilai terkecil dari nilai-nilai yang dihitung
menggunakan semua persamaan pada Tabel 5.1, yaitu nilai
tahanan lateral untuk sambungan yang terdiri atas dua komponen
sambungan dengan satu irisan. Sedangkan Tabel 5.2 untuk
sambungan tiga komponen dengan dua irisan. Tahanan lateral
acuan diambil nilai tahan acuan yang terkecil.







28

Tabel 5.1. Tahanan lateral acuan baut(Z)untuk satu alat satu
pengencang dengan satu irisan yang menyambung
dua komponen (tampang satu)
Mode Kelelahan Persamaan yang berlaku
Im
Z =
0,83


Is
Z =
0,83


II
Z =
0,93


dengan:
kl =

+2

2
1+

2
+

1+

1+


IIIm
Z =
1,04
3

1+2


dengan:
k2 = (-1)+21 +

+
2

1+2

2
3

2


IIIs
Z =
1,04
3

2+


dengan:
k3 = (-1)+
21+

+
2

2+

2
3

2


IV
Z =
1,04
2

31+


Catatan: Rt = tm/ts Re = Fem/Fes

= 1 +0,25

90

D = diameter baut

29

Tabel 5.2. Tahanan lateral acuan baut (Z) untuk satu baut
dengan dua irisan yang menyambung tiga komponen
(tampang dua)
Mode Kelelahan Persamaan yang berlaku
Im
Z =
0,83


Is
Z =
1,66


IIIm
Z =
2,08
4

2+


dengan: k4 = (-1)+
21+

2+

2
3

2

IV
Z =
2,08
2

31+


Catatan : Re = Fem/Fes

= 1+ 0,25(

90
0
)

3) Kuat Tumpu Kayu
Kuat tumpu untuk beberapa diameter (D) dan berat jenis
kayu (G) serta sudut terbesar dari arah gaya terhadap serat kayu
(tm : tebal kayu utama, ts; tebal kayu samping), dapat dilihat pada
Tabel 5.3.a.b.c.
Fem dan Fes adalah kuat tumpu kayu utama dan kayu
samping dengan satuan MPa.
Sejajar arah serat : Fe// = 77,25 G
Tegak lurus serat : Fe = 212 G
1,45
D
-0.5

Untuk sudut terhadap serat (

e//

e//

2
+
e





30

Tabel 5.3.a Kuat Tumpu kayu (Fe)(MPa) untuk baut
Berat
jenis
(G)
Sudut gaya terhadap serat kayu (derajat)
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90
0.50 38.63 32.75 35.42 32.37 29.22 26.57 24.45 22.95 22.07 21.77
0.55 42.49 41.61 39.28 36.17 32.97 30.13 27.87 26.27 25.12 25.00
0.60 46.35 45.48 43.15 40.01 36.73 33.79 31.42 29.72 28.70 28.36
0.65 50.21 49.36 47.04 43.89 40.56 37.53 35.06 33.28 32.21 31.85
0.70 54.08 53.23 50.95 47.81 44.45 41.35 38.81 36.96 35.84 35.47
0.75 57.94 57.12 54.87 51.76 48.39 45.25 42.65 40.75 39.59 39.20
0.80 61.60 61.00 58.81 55.73 52.38 49.72 46.59 44.63 43.44 43.04
0.85 65.66 64.89 62.75 59.74 56.41 53.26 50.60 48.62 47.41 47.00
0.90 69.53 68.78 66.71 63.77 60.49 57.36 54.70 52.70 51.48 51.06
0.95 73.39 72.67 70.67 67.82 64.61 61.52 58.87 56.88 55.64 55.22
1.00 77.25 76.56 74.65 71.89 68.77 65.74 63.12 61.14 59.91 59.49

Tabel 5.3.b Kuat Tumpu kayu (Fe)(MPa) untuk baut 5/8
Berat
jenis
(G)
Sudut gaya terhadap serat kayu (derajat)
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90
0.50
38.63 37.51 34.64 31.00 27.46 24.48 22.22 20.66 19.76 19.46
0.55
42.49 41.36 38.44 34.68 30.96 27.79 25.35 23.66 22.67 22.34
0.60
46.35 45.22 42.26 38.40 34.54 31.19 28.59 26.77 25.70 25.35
0.65
50.21 49.08 46.10 42.17 38.18 34.68 31.93 29.99 28.85 28.47
0.70
54.08 52.95 49.95 45.97 41.87 38.24 35.36 33.32 32.10 31.70
0.75
57.94 56.82 53.82 49.80 45.62 41.88 38.88 36.74 35.46 35.03
0.80
61.60 60.69 57.71 53.67 49.43 45.59 42.49 40.25 38.92 38.47
0.85
65.66 64.57 61.61 57.56 53.28 49.36 46.17 43.86 42.47 42.00
0.90
69.53 68.45 65.52 61.49 57.17 53.19 49.93 47.55 46.12 45.63
0.95
73.39 72.33 69.44 65.43 61.10 57.09 53.77 51.33 49.85 49.36
1.00
77.25 76.21 73.32 69.40 65.08 61.04 57.67 55.19 53.68 53.17

31

Tabel 5.3.c Kuat Tumpu kayu (Fe)(MPa) untuk baut 3/4
Berat
jenis
(G)
Sudut gaya terhadap serat kayu (derajat)
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90
0.50 38.63 37.30 33.96 29.86 26.01 22.87 20.53 18.96 18.05 17.76
0.55 42.49 41.14 37.71 33.43 29.35 25.98 23.44 21.71 20.71 20.39
0.60 46.35 44.99 41.48 37.06 32.77 29.17 26.45 24.57 23.49 23.13
0.65 50.21 48.84 45.28 40.72 36.25 32.45 29.55 27.53 26.36 25.97
0.70 54.08 52.69 49.09 44.42 39.79 35.81 32.73 30.59 29.34 28.92
0.75 57.94 56.55 52.91 48.16 43.38 39.24 36.01 33.74 32.41 31.96
0.80 61.60 60.42 56.75 51.93 47.03 42.79 39.36 36.97 35.57 35.10
0.85 65.66 64.28 60.61 55.73 50.72 46.29 42.79 40.29 38.82 38.32
0.90 69.53 68.15 64.48 59.56 54.46 49.86 46.29 43.69 42.15 41.64
0.95 73.39 72.02 68.36 63.41 58.25 53.60 49.86 47.17 45.57 45.03
1.00 77.25 75.90 72.25 87.29 62.07 57.33 53.49 50.72 49.06 48.51

4) Kuat Lentur Baut
National Design Specification (NDS) U.S untuk konstruksi
kayu (2001) mendefinisikan kuat lentur baut (Fyb) yaitu nilai
rerata antara tegangan leleh dan tegangan tarik ultimit pada
pengujian tarik baut, pada umumnya kuat lentur baut sebesar
320 MPa.
5) Geometrik Sambungan Baut
Untuk baut jarak tepi baut yang diperlukan jarak ujung,
dan jarak spasi alat pengencang yang diperlukan untuk
mengembangkan tahanan acuan harus sesuai dengan nilai
minimum pada Tabel 5.4.
Spasi tegak lurus arah serat antar alat-alat pengencang
terluar dalam suatu sambungan tidak boleh lebih besar daripada
127 mm kecuali bila ada ketentuan mengenai perubahan dimensi
kayu.

32

Tabel 5.4.Jarak tepi, jarak ujung dan persyaratan spasi
sambungan dengan baut
Beban Sejajar Arah Serat Ketentuan Dimensi Minimum
Jarak Tepi (bopt):
Im/D 6 1,5 D
Im/D < 6 yang terbesar dari 1,5 D atau
jarak antara baris alat
pengencang tegak lurus serat.
Jarak Ujung (aopt)
Komponen tarik 7 D
Komponen ujung 4 D
Spasi (Sopt)
Spasi dalam baris alat pengencang 4 D
Jarak antar baris alat pengencang 1,5 D < 127 mm (lihat catatan 2
& 3)
Beban Tegak Lurus Arah Serat Ketentuan Dimensi Minimum
Jarak Tepi (bopt)
Tepi yang dibebani 4 D
Tepi yang tidak dibebani 1,5 D
Jarak Ujung (aopt)
Spasi (Sopt) 4 D
Spasi dalam baris alat pengencang Lihat cacatan 3
Jarak antar baris alat pengencang
Im/D 2 2,5 D (lihat cacatan 3)
2 < Im/D < 6 (5 Im + 10 D)/8 (lihat catatan 3)
Im/D 6 5 D (lihat catatan 3)
Catatan:
1. Im adalah panjang pasak pada komponen utama pada suatu
sambungan atau panjang total pasak pada komponen
sekunder pada suatu sambungan.
33

2. Diperlukan spasi yang lebih besar untuk sambungan yang
menggunakan ring.
3. Untuk alat pengencang sejenis pasak, spasi tegak lurus arah
serat antar alat-alat pengencang terluar pada suatu
sambungan tidak boleh melebihi 127 mm, kecuali bila
digunakan pelat penyambung khusus atau ada ketentuan
mengenai perubahan dimensi kayu.

6) Faktor Koreksi Sambungan Baut
a) Faktor aksi kelompok
Bila suatu sambungan terdiri dari satu alat pengencang
baut, maka tahanan sambungan acuan harus dikoreksi
dengan Cg, untuk memperhitungkan ketakseragaman gaya
yang bekerja pada baut. Karena ada kecenderungan masing-
34

masing baut mendukung beban lateral yang tidak sama hal
ini disebabkan:
Jarak antar alat sambung baut yang kurang panjang
sehingga menyebabkan kuat tumpu kayu tidak terjadi
secara maksimal.
Terjadi distribusi gaya yang tidak merata antar alat
sambung baut. Baut yang paling ujung dalam satu
kelompok akan mendukung gaya yang lebih besar
daripada baut yang letaknya di tengan, serta akan
mencapai pliastis deformation lebih dulu. Sehingga
kemungkinan baut paling ujung akan gagal lebih dulu
sebelum baut ditengan mencapai plastis deformation.
Faktor yang mempengaruhi nilai Cg adalah: kemiringan
kurva beban dan sesaran baut (slip modulus), jumlah
baut, spasi alat sambung dalam satu baris, plastis
deformasi, dan perilaku rangkak (creep).
Cg =
1

=1

di mana :
nf = jumlah total alat pengencang dalam
sambungan
nr = jumlah baris alat pengencang dalam
sambungan
ai = jumlah alat pengencang efektif pada baris alat
pengencang i akibat ketakseragaman gaya yang
bekerja pada suatu baris alat pengencang,
bervariasi dari 1 hingga ni.
ni = jumlah alat pengencang dengan spasi yang
seragam pada baris ke i.

35

ai =
1
2

1+

1+1+
2

1+

1

m = u -
2
1
u = 1 +

+
1


di mana :
= mobulus beban untuk satu baut,
= 2,246
1,5
kN/mm
= spasi dalam baris alat pengencang, jarak pusat-ke
pusat antar alat pengencang didalam satu baris.

= kekakuan aksial, modulus elastisitas lentur


rerata komponen struktur utama dikalikan
dengan luas bruto penampang utama sebelum
dilubangi atau dicoak.

= kekakuan aksial, modulus elastisitas lentur


rerata komponen struktur utama dikalikan
dengan luas bruto penampang sekunder sebelum
dilubangi atau dicoak.

= nilai yang lebih kecil diantara

dan

= nilai yang lebih besar diantara

dan


Jika baut pada baris-baris yang berdekatan dipasang secara
berselang seling, maka Cg harus dihitung berdasarkan spasi
dalam baris alat pengencang pada baris-baris yang
berdekatan dan jarak antar baris alat pengencang. Hal-hal
berikut ini harus diperhitungkan:
Bila jarak antar baris alat pengencang lebih kecil
daripada atau sama dengan seperempat spasi dalam
36

baris alat pengencang dari baris-baris yang
berdekatan, maka baris-baris yang berdekatan
dianggap sebagai satu baris dengan jumlah baut, nir
sama dengan jumlah baut pada kedua baris tersebut.
untuk kelompok alat pengencang yang mempunyai
jumlah baris yang genap, prinsip ini digunakan untuk
setiap pasang baris, sedangkan untuk jumlah baris
yang gasal digunakan kombinasi pasangan-pasangan
baris yang menghasilkan nilai terkecil, seperti gambar
berikut:

Bila jarak antar baris alat pengencang lebih besar
daripada seperempat spasi dalam baris alat
pengencang pada baris-baris yang berdekatan, maka
jumlah baut pada setiap baris nir , adalah jumlah baut
dalam baris tersebut, seperti gambar diatas.
Menurut National Design Specification (NDS) US. Nilai faktor
koreksi Cg dapat dilihat pada tabel 5.5, untuk sambungan
37

yang perbandingan luas penampang kayu samping terhadap
kayu utama bernilai 1 atau .

Tabel 5.5 Nilai Faktor Koreksi Nilai Kelompok (Cg)
As/Am As Jumlah baut dalam satu baris



0.5
(in
2
) 2 3 4 5 6 7 8
5 0,98 0,92 0,84 0,75 0,68 0,61 0,55
12 0,99 0,96 0,92 0,87 0,81 0,76 0,70
20 0,99 0,98 0,95 0,91 0,87 0,83 0,78
28 1,00 0,98 0,96 0,93 0,90 0,87 0,83
40 1,00 0,99 0,97 0,95 0,93 0,90 0,87
64 1,00 0,99 0,98 0,97 0,95 0,93 0,91



1.0
(in
2
) 2 3 4 5 6 7 8
5 1,00 0,97 0,91 0,85 0,78 0,71 0,64
12 1,00 0,99 0,96 0,93 0.88 0,84 0,79
20 1,00 0,99 0,98 0,95 0,92 0,89 0,86
28 1,00 0,99 0,98 0,97 0,94 0,92 0,89
40 1,00 1,0 0,99 0,98 0,96 0,94 0,92
64 1,00 1,0 0,99 0,98 0,97 0,96 0,95

b) Faktor koreksi geometri
Faktor geometri (Ca) adalah nilai terkecil dari faktor-
faktor geometri yang dipersyaratkan untuk ujung atau
spasi dalam baris baut.
Jarak ujung:
Bila jarak ujung diukur dari pusat baut (a), lebih
besar atau sama dengan aopt pada tabel 5.4, maka

= 1,0
Bila

2
a < aopt maka Ca =


Spasi dalam baris alat pengencang:
Bila spasi dalam baris (s), lebih besar atau sama
dengan sopt pada tabel 5.4,maka

= 1,0.
38

Bila 3D s <

maka



5.2 Sambungan Gigi
Sambungan gigi banyak dijumpai dalam konstruksi kayu, yaitu
terutama untuk meneruskan gaya tekan pada sambungan-sambungan
yang membentuk sudut < 90
0
. Pada konstruksi kuda-kuda
sambungan gigi banyak dijumpai, seperti pada bagian ujung.
Macam sambungan gigi:
Sambungan gigi tunggal
Pada sambungan gigi tunggal, tm tidak boleh melebihi sesuatu batas
yaitu tm 1/3 h, dimana h adalah tinggi komponen struktur
mendatar. Panjang kayu muka lm harus memenuhi lm 1,5 h, tetapi
juga lm 200 mm.




39

Tahanan geser pada bagian kayu muka dapat dihintung dengan
persamaan sebagai berikut:

cos

1 +0,25


di mana :
Nu adalah gaya tekan terfaktor
adalah sudut antara komponen struktur diagonal terhadap
komponen struktur mendatar

adalah faktor tahan


adalah faktor waktu
adalah panjang kayu muka
adalah lebar komponen struktur mendatar

adalah kuat geser sejajar serat terkoreksi

adalah eksentrisitas pada penampang neto akibat adanya


coakan sambungan.
Sambungan gigi ganda (majemuk)
Pada sambungan gigi majemuk terdapat dua gigi dan dua panjang
kayu muka yang masing-masing diatur sebagai berikut:
dalamnya gigi pertama,

30 mm
dalamnya gigi kedua,


panjang kayu muka pertama, lm1 200mm dan lm2 4 tm2
yang mana h adalah tinggi komponen struktur mendatar.
Sambungan gigi majemuk dianjurkan digunakan bila 45
0
40



Tahan geser pada bagian kayu muka yang pertama dihitung
dengan persamaan sebagai berikut:
1,25

cos

1
+
2

1+0,25

2

Tahanan geser pada bagian kayu muka yang kedua dihitung
dengan persamaan sebagai berikut:

cos

1 +0,25


di mana:

adalah gaya tekan terfaktor


adalah sudut antara komponen struktur diagonal terhadap
komponen struktur mendatar

adalah faktor tahan


adalah faktor waktu
adalah panjang kayu muka rerata
41

1 adalah panjang kayu muka yang pertama
2 adalah panjang kayu muka yang kedua
adalah eksentrisitas rerata pada penampang neto akibat
adanya coakan sambungan
1 adalah eksentrisitas rerata pada penampang pertama akibat
adanya coakan sambungan

1
adalah luas bidang tumpu bagian kayu yang pertama

2
adalah luas bidang tumpu bagian kayu yang kedua
b adalah lebar komponen struktur mendatar

adalah kuat geser sejajar serat terkoreksi



5.3 Sambungan Paku
Alat sambung paku masih sering dijumpai pada struktur atap,
dinding atau pada struktur rangka rumah. Tebal kayu yang disambung
biasanya tidak terlalu tebal berkisar antara 20 mm sampai dengan 40
mm. Paku bulat merupakan jenis paku yang lebih mudah diperoleh dari
pada paku ulir (deformed nail) sehingga tahanan cabutnya lebih tinggi.
Tahanan lateral sambungan dengan alat sambung paku dihitung
berdasarkan ketentuan-ketentuan yang ada pada SNI-5 Tata cara
perencanaan konstruksi kayu (2002).
Sambungan harus direncanakan dengan persamaan:


di mana :

= tahanan perlu sambungan


= faktor waktu (untuk tahanan tarik alat pengencang = , )

= faktor tahanan sambungan = 0,65

= tahanan terkoreksi sambungan


Tahanan terkoreksi sambungan diperoleh dari hasil perkalian antara
tahan acuan sambungan dengan faktor-faktor koreksi.
42

A. Tahanan Lateral Acuan
Tahanan lateral acuan dari suatu sambungan yang menggunakan paku
baja satu irisan yang dibebani secara tegak lurus terhadap sumbu alat
pengencang dan dipasang tegak lurus sumbu komponen struktur, diambil
sebagai nilai terkecil dari nilai-nilai yang dihitung menggunakan semua
persamaan pada tabel 5.6. dan dikalikan dengan jumlah alat pengencang
(nt). untk sambungan yang terdiri atas tiga komponen sambungan dengan
dua irisan, tahanan leteral acuan diambil sebesar dua kali tahan lateral
acuan satu irisan yang terkecil.

Tabel 5.6 Tahan lateral acuan paku (Z) untuk satu alat pengencang dengan
satu irisan yang menyambung dua komponen.
Mode
Kelelahan
Persamaan yang berlaku
Is
Z =
3,3


IIIm
Z =
3,3
1

(1+2

)

dengan :

1
= 1 +21 +

+
2

1+2

2
3

2


IIIs
Z =
3,3
2

(1+2

)

dengan:

2
= 1 +
21 +

+
2

1 +2

2
3

2

IV
Z =
3,3
2

31+



43

Catatan:


p = kedalaman penetrasi efektif batang alat pengencang pada komponen
pemegang.
KD = 2,2 untuk D 4,3 mm
= 0,38 D + 0,56 untuk 4,3 mm < D < 6,4 mm
= 3,0 untuk D 6,4 mm
D = diameter paku
Fe = Kuat tumpu kayu
= 114,45
1,84
MPa (G = berat jenis kering oven)

= Kuat lentur paku



B. Kuat Tumpu Kayu
Nilai kuat tumpu kayu beberapa nilai berat jenis dapat dihat pada tabel
5.7, semakin besar nilai berat jenis kayu, maka semakin besar nilai kuat
tumpunya. Umumnya alat sambung paku digunakan pada kayu yang
mempunyai berat jenis tidak tinggi, hal ini karena mudahnya paku untuk
tekuk (buckling). Tekuk pada paku juga terjadi karena faktor angka
kelangsingan. Kelangsingan menjadi ciri khas alat sambung paku.

Tabel 5.7. Kuat Tumpu Paku (Fe)
Berat jenis 0,40 0,45 0,50 0,55 0,60 0,65 0,70
Fe (MPa) 21,21 26,35 31,98 38,11 44,73 51,83 59,40

C. Kuat Lentur Paku
Nilai kuat lentur paku dapat diperoleh dari supplier atau distributor
paku. Pengujian kuat lentur paku dilkukan dengan metode three point
bending test seperti pada ASTM F 1575-03. Untuk jenis paku bulat pada
44

umumnya, kuat lentur paku menurun dengan semakin meningkatnya
diameter paku.
Tabel 5.8. Kuat lentur paku untukberbagai diameter paku
Diameter Paku (mm) Kuat Lentur Paku (Fyb)(N/mm
2
)
D 3,6 689
3,6 < D 4,7 620
4,7 < D < 5,9 552
5,9 < D 7,1 483
7,1 < D 8,3 414
D > 8,3 310

D. Ukuran Paku
Dimensi paku meliputi diameter, panjang dan angka kelangsingan dapat
dilihat pada Tabel 5.9
Tabel 5.9. Berbagai diameter paku
Nama Paku Diameter Paku
(mm)
Panjang Paku
(mm)


2 BWG12 2,8 51 18
2,5 BWG11 3,1 63 20
3BWG10 3,4 76 22
3,5BWG9 3,8 89 23
4BWG8 4,2 102 24
4,5BWG6 5,2 114 22

E. Geometrik Sambungan Paku
Spasi minimum untuk paku pada suatu sambungan tunggal diatur
sebagai berikut:



45













a. Spasi dalam satu baris
Pada semua arah garis kerja beban lateral terhadap arah serat
kayu, spasi minimum antar alat pengencang dalam suatu baris
diambil:
10D bila digunakan pelat sisi dari kayu
Minimum 7D untuk pelat sisi dari baja
b. Spasi antar baris
Pada semua arah garis kerja beban lateral terhadap arah serat
kayu, spasi minimum antar baris adalah 5D.
c. Jarak ujung
Jarak minimum dari ujung komponen struktur ke pusat alat
pengencang terdekat diambil sebesar:
Untuk beban tarik lateral:
15D untuk pelat sisi dari kayu
10d untyuk pelat sisi dari baja
Untuk beban tekan lateral
10D untuk pelat sisi dari kayu
5D untuk pelat sisi dari baja
46

d. Jarak tepi
Jarak minimum dari tepi komponen struktur ke pusat alat
pengencang terdekat diambil sebesar:
4D pada tepi yang tidak dibebani
10D pada tepi yang dibebani

F. Faktor Koreksi Sambungan Paku
1. Kedalaman penetrasi
Tahanan lateral acuan dikalikan dengan faktor kedalaman
penetrasi (Cd). adapun nilai Koefisien penetrasi ditentukan dari
kedalaman (p)seperti pada gambar berikut.

Ketentuan untuk koefisien penetrasi sebagaimana dinyatakan berikut:
Penetrasi efektif batang ke dalam komponen pemegang p 6D
Cd = = 0
Untuk 6D p < 12D Cd = p/12D
Untuk p 12D Cd = 1,0
2. Serat ujung
Tahanan lateral acuan harus dikalikan dengan faktor serat ujung
Ceg = 0,67, untuk alat pengencang yang ditanamkan ke dalam serat
ujung kayu
47

3. Sambungan paku miring
Tahanan lateral acuan harus dikalikan dengan faktor paku miring,
Ctn = 0,83.
4. Sambungan diafragma
Faktor koreksi ini hanya berlaku untuk sambungan rangka kayu
untuk plyood seperti pada struktur diafragma dan shear wall (dinding
geser). Nilai faktor koreksi ini umumnya lebih besar 1,00.
Paku harus dipasang dengan cara dipukul. Paku miring harus
dipasang dengan membentuk sudut 30
0
terhadap komponen struktur
dan dimulai pada lokasi sepertiga panjang paku diukur dari tepi
komponen struktur yang dsambung.
Diameter lubang penuntun untuk paku tidak boleh
melebihi;),0,90D untuk G > 0,60 dan digunakan paku 3BWG10, asumsi
nilai faktor waktu 1,0.











48

BAB VI
BALOK LENTUR
Balok yang dibahas dalam hal ini adalah balok lentur murni dan geser
lentur.
Balok yang diklasifikasikan atau difabrikasi untuk digunakan pada bentang
tunggal tidak boleh digunakan untuk bentang majemuk atau konstruksi
kantilever kecuali bila hasil analisa rinci memperlihatkan bahwa komponen
struktur tersebut mempunyai tahanan yang cukup berkenaan dengan
perubahan perntukan penggunaan balok tersebut.
Balok yang memiliki perbandingan tinggi terhadap lebar lebih besar
daripada dua dan dibebani terhadap sumbu kuatnya harus memiliki bresing
lateral pada tumpuan-tumpuannya untuk mencegah terjadinya rotasi atau
peralihan lateral. Bresing lateral tidak diperlukan pada balok berpenampang
bundar, bujur sangkar, atau persegi panjang yang mengalami lentur terhadap
sumbu lemah saja. Bresing lateral harus dapat mencegah gerakan lateral sisi
tekan balok dan harus dapat mencegah rotasi balok pada lokasi-lokasi yang
dikekang. Sebagai alternatif untuk balok kayu masih, kekangan yang
digunakang untuk mencegah rotasi atau peralihan lateral ditentukan
berdasarkan nilai perbandingan tinggi nominal terhadap tebal nominal, d/b
sebagai berikut:
1) d/b 2 : tidak diperlukan pengekang lateral
2) 2< d/b < 5 : posisi tumpuan-tumpuannya harus dikekang menggunakan
kayu massif pada seluruh ketinggian balok
3) 5 d/b < 6 : sisi tekan harus dikekang secara menerus sepanjang balok
4) 6 d/b < 7 : pengekang penuh setinggi balok harus dipasang untuk
setiap selang 2400 mm kecuali bila kedua sisi tekan dan tarik dikekang
secara bersamaan atau bila sisi tekan balok dikekang pada seluruh
panjangnya oleh lantai dan pada tumpuan-tumpuannya diberikan
pengekang lateral untuk mencegah rotasi
49

5) d/b 7 : kedua sisi tekan dan tarik dikekang secara bersamaan pada
seluruh panjangnya.
6.1 Komponen struktur lentur
Komponen struktur lentur direncanakan sebagai berikut
Momen lentur:
Mu


dengan : Mu = momen terfaktor
= faktor waktu

= faktor tahanan lentur : 0,85


M = tahanan lentur terkoreksi
6.2 Tahanan Geser
Gaya Gerser Perlu
Apabila beban yang mengakibatkan lentur pada muka balok yang
belawanan dengan muka tumpuan maka seluruh beban yang terletak di
dalam jarak d (tinggi komponen) dari bidang muka tumpuan tidak perlu
diperhitungkan dalam menentukan gaya gerser perlu, kecuali dalam
perencanaan balok I berusuk. Untuk kondisi pembebanan lainnya dan
untukbalok I berusuk, gaya geser perlu harus diambil sebesar gaya
geser pada bidang muka tumpuan.
Untuk balok I berusuk dan balok I yang digunakan sebagai balok
sederhana, gaya geser perlu ditentukan dengan memperhitungkan
semua beban pada bentang bersih ditambanh setengah panjang
minmum tumpuan yang diperlukan. Apabila balok tersebut menerus
pada sebuah perletakan maka gaya geser perlu harus dihitung pada
pusat perletakan.
Apabila beban yang bekerja adalah beban bergerak tunggal maka
beban tersebut harus ditempatkan sejarak d dari bidang muka
perletakan dan diperhitungkan dalam menentukan gaya geser perlu.
50

Apabila beban yang bekerja adalah dua atau lebih beban bergerak maka
pola pembebanan harus ditempatkan sedemikian sehingga gaya geser
pada potongan sejarak d dari bidang muka perletakan adalah
maksimum.
Tahanan Geser Lentur
Tahanan geser terkoreksi dari suatu balok, V , dihitung dengan
persamaan sebagai berikut:


dengan :

: kuat geser sejajar serat terkoreksi


: momen inersia balok untuk arah gaya geser yang
ditinjau
: lebar penampang balok
momen statis penampang terhadap sumbu netral
Untuk penampang persegi panjang dengan lebar b dan tinggi d,
maka rumus tahanan geser didapat:

=
2
3

bd
6.3 Lendutan
Disamping akibat deformasi komponen struktur, lendutan dapat
terjadi karena pergeseran pada sambungan-sambungan. Untuk
membatasi perubahan-perubahan bentuk struktur bangunan secara
berlebihan, sehingga pergeseran masing-masing komponen struktur
terjadi sekecil mungkin.
Lendutan struktur bangunan akibat berat sendiri dan muatan tetap
dibatasi sebagai berikut:
Untuk balok-balok pada struktur bangunan yang
terlindung, lendutan maksimum , fmax
1
300

Untuk balok-balok pada struktur bangunan yang tidak
terlindung,lendutan maksimum , fmax
1
400

51

Untu balok-balok pada konstruksi kuda-kuda antara lain
gording dan kasau, lendutan maksimum, fmax
1
200

Untuk struktur rangka batang yang tidak terlindung,
lendutan maksimum, fmax
1
700

Dengan l adalah panjang batang bersih.