Anda di halaman 1dari 21

KERAMIK

Oleh :
Yogie Wiratama (1015041017)
Ade Okta Viani (1015041018)
Ferdian Retta W (1015041031)
Lisa Ardiana Saputri (1015041035)
Reza Asmitara (1015041046)
Ridho Hasyanah (1015041049)
Sandi Aryadi (1015041052)
Triyuni Susanti (1015041070)









J URUSAN TEKNIK KIMIA
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS LAMPUNG
2012

KATA PENGANTAR

Kami ucapkan puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat
dan ridhanya makalah ini sebagai salah satu tugas mata kuliah Bahan Konstruksi
Teknik Kimia dapat kami selesaikan. Terima kasih setulus-tulusnya kepada Ibu Panca
Nugrahini,S.T.,M.T. Dosen mata kuliah BKTK yang telah memberikan bantuan
dalam pemberian materi mata kuliah BKTK ini serta seluruh pihak yang telah
membantu dalam penulisan makalah ini.

Makalah ini kami tulis berdasarkan studi pustaka dari buku acuan dan internet yang
berkaitan dengan mata kuliah BKTK. Fokus pembahasan dari makalah ini adalah
tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan pengetahuan bahan mengenai Keramik.

Melalui makalah ini kami mengharapkan para pembaca dapat terbuka wawasannya
tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan keramik ( definisi kramik, klasifikasi
kramik, dan sifat kramik).
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu pembaca
harap maklum serta kami harapkan saran serta kritik yang bersifat membangun demi
kepentingan kita bersama.



Bandar Lampung, 25 April 2012


Penulis

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Keramik pada awalnya berasal dari bahasa yunani keramikos yang artinya suatu
bentuk dari tanah liat yang telah mengalami proses pembakaran.
Kamus dan ensiklopedia tahun 1950-an mendefinisikan keramik sebagai suatu
hasil seni dan teknologi untuk menghasilkan barang dari tanah liat yang dibakar,
seperti gerabah, genteng, porselin, dan sebagainya. Tetapi saat ini tidak semua
keramik berasal dari tanah liat. Definisi pengertian keramik terbaru mencakup
semua bahan bukan logam dan anorganik yang berbentuk padat. (yusuf, 1998:2).
Umumnya senyawa kerajinan keramik lebih stabil dalam lingkungan termal dan
kimia dibandingkan elemennya. Bahan baku keramik yang umum dipakai adalah
felspard, ball clay, kwarsa, kaolin, dan air. Sifat keramik sangat ditentukan oleh
struktur kristal, komposisi kimia dan mineral bawaannya. Oleh karena itu sifat
keramik juga tergantung pada lingkungan geologi dimana bahan diperoleh. Secara
umum strukturnya sangat rumit dengan sedikit elektron-elektron bebas.
Kurangnya beberapa elektron bebas keramik membuat sebagian besar bahan
keramik secara kelistrikan bukan merupakan konduktor dan juga menjadi
konduktor panas yang jelek. Di samping itu keramik mempunyai sifat rapuh,
keras, dan kaku. Keramik secara umum mempunyai kekuatan tekan lebih baik
dibanding kekuatan tariknya.

B. Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk mempelajari lebih lanjut tentang
keramik mengenai pengertian, klasifikasi dan sifat kramik.
BAB II
PEMBAHASAN
Keramik
Senyawa logam atau bukan logam yang mempunyai ikatan atom ionik dan
kovalen
Ikatan ionik dan kovalen menyebabkan keramik mempunyai titik lebur tinggi
dan bersifat isolator
Keramik memiliki karakteristik yang memungkinkannya digunakan untuk
berbagai aplikasi termasuk :
1. kapasitas panas yang baik dan konduktivitas panas yang rendah.
2. Tahan korosi
3. Sifat listriknya dapat insolator, semikonduktor, konduktor bahkan
superkonduktor
4. Sifatnya dapat magnetik dan non-magnetik
5. Keras dan kuat, namun rapuh.
Dua jenis ikatan dapat terjadi dalam keramik, yakni ikatan ionik dan kovalen. Sifat
keseluruhan material bergantung pada ikatan yang dominan.
KlasifikasiBahan keramik dapat dibedakan menjadi dua kelas : kristalin dan amorf
(non kristalin). Dalam material kristalin terdapat keteraturan jarak dekat maupun
jarak jauh, sedang dalam material amorf mungkin keteraturan jarak pendeknya
ada, namun pada jarak jauh keteraturannya tidak ada. Beberapa keramik dapat
berada dalam kedua bentuk tersebut, misalnya SiO2, (lihat gambar, a struktur yang
kristalin, b amorf).
J enis ikatan yang dominan (ionik atau kovalen) dan struktur internal (kristalin atau
amorf) mempengaruhi sifat-sifat bahan keramik.
A. Sifat keramik
Sifat yang umum dan mudah dilihat secara fisik pada kebanyakan jenis keramik
adalah britle atau rapuh, hal ini dapat kita lihat pada keramik jenis tradisional
seperti barang pecah belah, gelas, kendi, gerabah dan sebagainya, coba jatuhkan
piring yang terbuat dari keramik bandingkan dengan piring dari logam, pasti
keramik mudah pecah, walaupun sifat ini tidak berlaku pada jenis keramik
tertentu, terutama jenis keramik hasil sintering, dan campuran sintering antara
keramik dengan logam. Sifat lainya adalah tahan suhu tinggi, sebagai contoh
keramik tradisional yang terdiri dari clay, flint dan feldfar tahan sampai dengan
suhu 1200 c, keramik engineering seperti keramik oksida mampu tahan sampai
dengan suhu 2000 c. Kekuatan tekan tinggi, sifat ini merupakan salah satu faktor
yang membuat penelitian tentang keramik terus berkembang.
1. Sifat Mekanik
Keramik merupakan material yang kuat, keras dan juga tahan korosi. Selain itu
keramik memiliki kerapatan yang rendah dan juga titik lelehnya yang tinggi.
Keterbatasan utama keramik adalah kerapuhannya, yakni kecenderungan untuk
patah tiba-tiba dengan deformasi plastik yang sedikit. Di dalam keramik, karena
kombinasi dari ikatan ion dan kovalen, partikel-partikelnya tidak mudah bergeser.
Faktor rapuh terjadi bila pembentukan dan propagasi keretakan yang cepat.Dalam
padatan kristalin, retakan tumbuh melalui butiran (trans granular) dan sepanjang
bidang cleavage (keretakan) dalam kristalnya. Permukaan tempat putusyang
dihasilkan mungkin memiliki tekstur yang penuh butiran atau kasar. Material yang
amorf tidak memiliki butiran dan bidang kristal yang teratur, sehingga permukaan
putus kemungkinan besar terjadi. Kekuatan tekan penting untuk keramik yang
digunakan untuk struktur seperti bangunan. Kekuatan tekan keramik biasanya
lebih besar dari kekuatan tariknya. Untuk memperbaiki sifat ini biasanya keramik
di-pretekan dalam keadaan tertekan

2. Sifat termal
Sifat termal penting bahan keramik adalah kapasitas panas, koefisien ekspansi
termal, dan konduktivitas termal. Kapasitas panas bahan adalah kemampuan bahan
untuk mengabsorbsi panas dari lingkungan. Panas yang diserap disimpan oleh
padatan antara lain dalam bentuk vibrasi (getaran) atom/ion penyusun padatan
tersebut.
Keramik biasanya memiliki ikatan yang kuat dan atom-atom yang ringan. J adi
getaran-getaran atom-atomnya akan berfrekuensi tinggi dan karena ikatannya kuat
maka getaran yang besar tidak akan menimbulkan gangguan yang terlalu banyak
pada kisi kristalnya.
Hantaran panas dalam padatan melibatkan transfer energi antar atom-atom yang
bervibrasi. Vibrasi atom akan mempengaruhi gerakan atom-atom lain di
tetangganya dan hasilnya adalah gelombang yang bergerak dengan kecepatan
cahaya yakni fonon. Fonon bergerak dalam bahan sampai terhambur baik oleh
interaksi fonon-fonon maupun cacat kristal. Keramik amorf yang mengandung
banyak cacat kristal menyebabkan fonon selalu terhambur sehingga keramik
merupakan konduktor panas yang buruk. Mekanisme hantaran panas oleh elektron,
yang dominan pada logam, tidak dominan di keramik karena elektron di keramik
sebagian besar terlokalisasi.
Contoh paling baik penggunaan keramik untuk insulasi panas adalah pada pesawat
ruang angkasa. Hampir semua permukaan pesawat tersebut dibungkus keramik
yang terbuat dari serat silika amorf. Titik leleh aluminium adalah 660 oC. Ubin
menjaga suhu tabung pesawat yang terbuat dari Al pada atau dibawah 175 oC,
walaupun eksterior pesawat mencapau 1400 oC.

3. Sifat elektrik
Sifat listrik bahan keramik sangat bervariasi. Keramik dikenal sangat baik sebagai
solator. Beberapa isolator keramik (seperti BaTiO 3) dapat dipolarisasi dan
digunakan ebagai kapasitor. Keramik lain menghantarkan elektron bila energi
ambangnya dicapai, dan oleh karena itu disebut semikonduktor. Tahun 1986,
keramik jenis baru, yakni superkonduktor temperatur kritis tinggi ditemukan.
Bahan jenis ini di bawah suhu kritisnya memiliki hambatan =0. Akhirnya,
keramik yang disebut sebagai piezoelektrik dapat menghasilkan respons listrik
akibat tekanan mekanik atau sebaliknya.
Elektron valensi dalam keramik tidak berada di pita konduksi,sehingga sebagian
besar keramik adalah isolator. Namun, konduktivitas keramik dapat ditingkatkan
dengan memberikan ketakmurnian. Energi termal juga akanmempromosikan
elektron ke pita konduksi, sehingga dalam keramik, konduktivitasmeningkat
(hambatan menurun) dengan kenaikan suhu.
Beberapa keramik memiliki sifat piezoelektrik, atau kelistrikan tekan. Sifat ini
merupakan bagian bahan canggih yang sering digunakan sebagai sensor.
Dalambahan piezoelektrik, penerapan gaya atau tekanan dipermukaannya akan
menginduksipolarisasi dan akan terjadi medan listrik, jadi bahan tersebut
mengubah tekananmekanis menjadi tegangan listrik. Bahan piezoelektrik
digunakan untuk tranduser,yang ditemui pada mikrofon, dan sebagainya.
Dalam bahan keramik, muatan listrik dapat juga dihantarkan oleh ion-ion. Sifat ini
dapat diubah-ubah dengan merubah komposisi, dan merupakan dasar
banyakaplikasi komersial, dari sensor zat kimia sampai generator daya listrik skala
besar.Salah satu teknologi yang paling prominen adalah sel bahan bakar.
4. Sifat Optik
Bila cahaya mengenai suatu obyek cahaya dapat ditransmisikan, diabsorbsi, atau
dipantulkan. Bahan bervariasi dalam kemampuan untuk mentransmisikan cahaya,
dan biasanya dideskripsikan sebagai transparan, translusen, atau opaque. Material
yang transparan, seperti gelas, mentransmisikan cahaya dengan difus, seperti gelas
terfrosted, disebut bahan translusen. Batuan yang opaque tidak mentransmisikan
cahaya.
Dua mekanisme penting interaksi cahaya dengan partikel dalam padatan adalah
polarisasi elektronik dan transisi elektron antar tingkat energi. Polarisasi adalah
distorsi awan elektron atom oleh medan listrik dari cahaya. Sebagai akibat
polarisasi, sebagian energi dikonversikan menjadi deformasi elastik (fonon), dan
selanjutnya panas.
Seperti dalam atom elektron-elektron dalam bahan berada dalam tingkat-tingkat
energi tertentu. Absorbsi energi menghasilkan perpindahan elektron dari tingkat
dasar ke tingkat tereksitasi. Ketika elektron kembali ke keadaan dasar disertai
dengan pemancaran radiasi elektromagnetik.
Dalam padatan elektron yang energinya tertinggi ada dalam orbital-orbital dalam
pita valensi dan orbital-orbital yang tidak terisi biasanya dalam pita konduksi. Gap
antara pita valensi dan pita konduksi disebut gap energi.
Range energi cahaya tampak 1,8 sampai 3,1 eV. Bahan dengan gap energi di
daerah ini akan mengabsorbsi energi yang berhubungan. Bahan itu akan tampak
transparan dan berwarna. Contohnya, gap energi CdS sekitar 2,4 eV dan
mengabsorbsi komponen cahaya biru dan violet dari sinar tampak. Tampak bahan
tersebut berwarna kuning-oranye.
Bahan dengan gap energi kurang dari 1,8 eV akan opaque, sebab semua cahaya
tampak akan diabsorbsi. Material dengan gap energi lebih besar 3,1 eV tidak akan
menyerap range sinar tampak dan akan tampak transparan dan tak berwarna.
Cahaya yang diemisikan dari transisi elektron dalam padatan disebut luminesensi.
Bila terjadi dalam selang waktu yang pendek disebut flouresensi, bila didalam
selang waktu yang lebih panjang disebut fosforisensi.
Cahaya yang ditransmisikan dari satu medium ke medium lain, misalnya dari gelas
ke air akan mengalami pembiasan. Pembelokan cahaya ini adalah akibat
perubahan kecepatan rambat yang asal mulanya dari polarisasi elektronik. Karena
polarisasi meningkat dengan naiknya ukuran atom. Gelas yang mengandung ion-
ion berat (seperti kristal timbal) memiliki indeks bias yang lebih besar dari gelas
yang mengandung atom-atom ringan (seperti gelas soda).
Hamburan cahaya internal dalam bahan yang sebenarnya transparan mungkin
dapat mengakibatkan bahan menjadi translusen atau opaque. Hamburan semacam
ini terjadi antara lain di batas butiran, batas fasa, dan pori-pori.
Banyak aplikasi memanfaatkan sifat optik bahan keramik ini. Transparansi gelas
membuatnya bermanfaat untuk jendela, lensa, filter, alat masak, alat lab, dan
objek-objek seni. Pengubahan antara cahaya dan listrik adalah dasar penggunaan
bahan semikonduktor seperti GaAs dalam laser dan meluasnya penggunaan LED
dalam alat-alat elektronik. Keramik fluoresensi dan fosforisensi digunakan dalam
lampu-lampu listrik dan layar-layar tv. Akhirnya serat optik mentransmisikan
percakapan telepon dan data komputer yang didasarkan atas refleksi internal total
sinyal cahaya.

5. Sifat kimia
Salah satu sifat khas dari keramik adalah kestabilan kimia. Sifat kimia dari
permukaan keramik dapat dimanfaatkan secara positif. Karbon aktif, silika gel,
zeolit, dsb, mempunyai luas permukaan besar dan dipakai sebagai bahan
pengabsorb. Kalau oksida logam dipanaskan pada kira-kira 500 C, permukaannya
menjadi bersifat asam atau bersifat basa. Alumina g , zeolit, lempung asam atau S
2O 2 TiO 2 demikian juga berbagai oksida biner dipakai sebagai katalis, yang
memanfaatkan aksi katalitik dari titik bersifat asam dan basa pada permukaan.

6. Sifat fisik
Sebagian besar keramik adalah ikatan dari karbon, oksigen atau nitrogen dengan
material lain seperti logam ringan dan semilogam. Hal ini menyebabkan keramik
biasanya memiliki densitas yang kecil. Sebagian keramik yang ringan mungkin
dapat sekeras logam yang berat. Keramik yang keras juga tahan terhadap gesekan.
Senyawa keramik yang paling keras adalah berlian, diikuti boron nitrida pada
urutan kedua dalam bentuk kristal kubusnya. Aluminum oksida dan silikon
karbida biasa digunakan untuk memotong, menggiling, menghaluskan dan
menghaluskan material-material keras lain.

B. Klasifikasi keramik
Pada prinsipnya keramik terbagi atas:
1. Keramik tradisional
kerajinan keramik tradisional yaitu keramik yang dibuat dengan menggunakan
bahan alam, seperti kuarsa, kaolin, dll. Yang termasuk keramik ini adalah: barang
pecah belah (dinnerware), keperluan rumah tangga (tile, bricks), dan untuk industri
(refractory).
2. Keramik halus
Fine ceramics (keramik modern atau biasa disebut keramik teknik, advanced
ceramic, engineering ceramic, techical ceramic) adalah keramik yang dibuat
dengan menggunakan oksida-oksida logam atau logam, seperti: oksida logam
(al2o3, zro2, mgo,dll). Penggunaannya: elemen pemanas, semikonduktor,
komponen turbin, dan pada bidang medis. (joelianingsih, 2004)


C. Karakteristik struktur keramik










Struktur kristal keramik (terdiri dari berbagai ukuran atom yang berbeda atau
minimal terdiri dari 2 jenis unsur) merupakan salah satu yang paling kompleks dari
semua struktur bahan. Ikatan antara atom-atom ini umumnya ikatan kovalen
(berbagi elektron, sehingga ikatan ini kuat) atau ion (terutama ikatanantara ion
bermuatan, sehingga ikatan ini kuat). Ikatan ini jauh lebih kuat daripada ikatan
logam. Akibatnya, sifat-sifat seperti kekerasan dan ketahanan panas dan listrik
secara signifikan lebih tinggi keramik dari pada logam. Keramik dapat berikatan
kristal tunggal ataudalam bentuk polikristalin. Ukuran butir mempunyai pengaruh
besar terhadap kekuatan dan sifat-sifat keramik; ukuran butir yang halus (sehingga
dikatakan keramik halus), semakin tinggi kekuatan dan ketangguhannya.
Kebanyakan bahan pembentuk keramik memiliki ikatan ion, ikatan kovalen dan
ikatanantara. Sebagai missal, bagian ikatan ion dalam sistem Mg-O, Al-O, Zn-O
dan Si-O dapat dikatakan masing-masing 70%, 60%, 60% dan 50%. Yang sangat
menarik adalah bahwa pada
ReO3,V2O3 dan TiO, yang merupakan oksida dan tidak pernah menunjukkan sifat
liat ataudapat di deformasikan, tetapi memiliki hantaran listrik yang relatif dapat
disamakan dengan logam biasa.
Dalam Kristal yang rumit, berbagai macam atom berperan dan ikatannya
merupakan ikatan campuran dalam banyak hal. Struktur Kristal demikian dapat
dimengerti apabila mengingat bahwa Kristal tersusun oleh kombinasi dari
polyhedron koordinasi, dimana satuan kecil dari kation dikelilingi oleh beberapa
anion. Salah satu contoh adalah silikat yang merupakan bahan baku penting bagi
keramik.

D. Teknik pemerosesan keramik
a. Pembubukan
Bahan-bahan dasar keramik umumnya berbentuk bubukan. Bahan dasar tersebut
dapat diperoleh dengan metode konvensional atau non konvensional. Metode
konvensional misalnya kalsinasi; yaitu menguraikan suatu bahan padatan menjadi
beberapa bagian yang lebih sederhana; Milling yaitu menggiling atau
menghaluskan bahan; mixing yaitu mencampurkan beberapa bahan menjadi satu
bahan. Sedangkan metode nonkonvensional misalnya teknik larutan sepaerti
metode sol-gel, metode fase uap, atau dekomposisi garam. Dalam proses
pembubukan tersebut , seringkali harus ditambahkan bahan penstabil agar suhu
dapat diturunkan atatu bahan organik yang berfungsi sebagai pengikat atau
pelunak bubukan sehingga mudah dibentuk.


b. Pembentukan
Metode pembentukan ini bermacam-macam, misalnya metode pres isostatik dan
aksial; metode cetak lepas, yaitu dicetak hingga kering lalu dilepas; metode cetak
balut yaitu bahn dibiarkan tetap berada daalm cetakn atau cetak injeksi yaitu bahan
dimasukan ke dalam cetakan dengan cara diinjeksikan ke dalamnya.

c. Penekanan
Penekanan atau disebut juga kompaksi dilaukan untuk membentuk serbuk keramik
menjadi suatu bentuk padatan berupa pelet mentah. Pelet mentah adalah serbuk
yang telah menjadi bentuk padat tetapi belum disinter. Prosedur dasar penekanan
dibagi menjadi 3 yaitu:
Uniaxial
Serbuk dibentuk dalam cetakan logam dengan penekanan satu arah. Penenkanan
ini dapat memproduksi banyak pelet dan tidak mahal dibanding metode lain.
Berdasarka cara kerjanya, penekanan ini dibagi menjadi 3 yaitu : single action
uniaxial pressing, double action uniaxial pressing, dan uniaxial pressing with a
floating mould or die.
Isostatik: Penekanan serbuk dilakukan dengan menggunakan cairan.
Hot pressing:Penekanan dilakukan secar simultan denga perlakuan panas
pada serbuk.

d. Sintering
Sintering adalah metode pemanasan yang dilakukan terhadap suatu material (
biaasnya dalam bentuk serbuk) pada suhu dibawah titik lelehnya sehingga menjadi
bentuk padatan . Serbuk berubah menjadi padatan karena pada suhu tersebut
partikel-partikel akan saling melekat. Setelah disintering bentuk porositas berubah
cenderung berbrntuk bola. Selain itu semakin lama dipanaskan bentuk pori akan
semakin kecil. Karena itu ukuran sampel yang telah disinter akan semakin kecil
juga.
Sintering terbagi menjadi 2 jenis, yaitu berdassarkan ada tidaknya fase cair selama
proses sintering. Sintering yang terjadi disertai adanya fase cair disebut sintering
fase cair, dan sintering yang terjadi tanpa fase cair disebut sintering padat.
Tahap sintering dilakukan untuk memadat kompakan bahan, yang sudah dicetak
dan dikeringkan dengan suhu tinggi.

e. Anneling dan Aging
Anealing adalah proses pemanasan yang lebih rendah dari sebelumnya. Dengan
maksud agar parameter dan sifat yang diinginkan mencapai optimum. Sedangkan
aging adalah proses pendinginan selama beberapa waktu tertentu.

f. Tahap akhir
Pada tahap ini, bahan keramik dikenakan berbagai perlakuan akhir sehingga sipa
dipalikasika sesuai dengan sifat bahan yang diinginkan. Perlakuan tersebut
misalnya mengasah, memoles, memberi lapisan logam, memberi mantel untuk
perlindungan dan lain-lain.

Secara bagan proses pembuatan bahan keramik adalah :
Proses pembubukan atau penghalusan >Pembentukan >Pengeringan >
sintering >anealing dan aging >Aplikasi akhir.
E. Bahan Galian Industri Keramik
1. Kaolin

Kaolin merupakan masa batuan yang tersusun dari material lempung dengan
kandungan besi yang rendah, dan umumnya berwarna putih atau agak keputihan.
Kaolin mempunyai komposisi hidrous alumunium silikat (2H2O.Al2O3.2SiO2),
dengan disertai mineral penyerta. Proses pembentukan kaolin (kaolinisasi) dapat
terjadi melalui proses pelapukan dan proses hidrotermal alterasi pada batuan beku
felspartik. Endapan kaolin ada dua macam, yaitu: endapan residual dan
sedimentasi. Bahan Galian Industri Mineral yang termasuk dalam kelompok kaolin
adalah kaolinit, nakrit, dikrit, dan halloysit (Al2(OH)4SiO5.2H2O), yang
mempunyai kandungan air lebih besar dan umumnya membentuk endapan
tersendiri. Sifat-sifat mineral kaolin antara lain, yaitu: kekerasan 2 2,5, berat
jenis 2,6 2,63, plastis, mempunyai daya hantar panas dan listrik yang rendah,
serta pH bervariasi.

3. Felspar

Sebagai mineral silikat pembentuk batuan, felspar mempunyai kerangka struktur
tektosilikat yang menunjukkan 4 (empat) atom oksigen dalam struktur tetraheral
SiO2
yang dipakai juga oleh struktur tetraheral lainnya. Kondisi ini menghasilkan kisi-
kisi kristal seimbang terutama bila ada kation lain yang masuk ke dalam struktur
tersebut seperti penggantian silikon oleh aluminium. Terlepas dari bentuk
strukturnya, apakah triklin atau monoklin, felspar secara kimiawi dibagi menjadi
empat kelompok mineral yaitu kalium felspar (KAlSi3O8), natrium felspar
(NaAlSi3O8), kalsium felspar (CaAl2Si2O8) dan barium felspar (Ba Al2Si2O8)
sedangkan secara mineralogi felspar dikelompokkan menjadi plagioklas dan K-
felspar. Plagioklas merupakan seri yang menerus suatu larutan padat tersusun dari
variasi komposisi natrium felspar dan kalsium felspar. Plagioklas felspar hampir
selalu memperlihatkan kenampakan melidah yang kembar (lamellar twinning) bila
sayatan tipis mineral tersebut dilihat secara mikroskopis. Sifat optis yang progresif
sejalan dengan berubahnya komposisi mineralogi memudahkan dalam identifikasi
mineral-mineral felspar yang termasuk ke dalam kelompok plagioklas tersebut.
Na-plagioklas banyak ditemukan dalam batuan kaya unsur alkali (granit, sienit).
Andesin dan oligoklas terdapat pada batuan intermediate seperti diorit sedangkan
labradorit, bitownit dan anortit biasanya sebagai komponen batuan basa (gabro)
dan anortosit. Mineral yang termasuk kelompok K-felspar diklasifikasikan
berdasarkan suhu ristalisasinya, mulai dari sanidin (suhu tinggi), ortoklas,
mikroklin sampai adu-laria (suhurendah). Keempat mineral mempunyai rumus
kimia sama yaitu KAlSi3O8.

Bahan Galian Industri
ditemukan pada batuan beku asam seperti granit dan sienit, selain itu ditemukan
pula pada batuan metamorfosis dan hasil re-work pada batuan sedimen.
Keberadaan felspar dalam kerak bumi cukup melimpah. Walaupun demikian untuk
keperluan komersial dibutuhkan felspar yang memiliki kandungan (K2O +Na2O)
>10%. Selain itu, material pengotor oksida besi, kuarsa, oksida titanium dan
pengotor lain yang berasosiasi dengan felspar diusahakan sesedikit mungkin.
Felspar dari alam setelah diolah dapat dimanfaatkan untuk batu gurinda dan
felspar olahan untuk keperluan industri tertentu. Mineral ikutannya dapat
dimanfaatkan untuk keperluan industri lain sesuai spesifikasi yang ditentukan.
Industri keramik halus dan kaca/gelas merupakan dua industri yang paling banyak
mengkonsumsi felspar olahan, terutama yang memiliki kandungan K2O tinggi dan
CaO rendah.
Pasir Kuarsa
Pasir kuarsa adalah bahan galian yang terdiri atas kristal-kristal silika (SiO2) dan
mengandung senyawa pengotor yang terbawa selama proses pengendapan. Pasir
kuarsa juga dikenal dengan nama pasir putih merupakan hasil pelapukan batuan
yang mengandung mineral utama, seperti kuarsa dan feldspar. Hasil pelapukan
kemudian tercuci dan terbawa oleh air atau angin yang terendapkan di tepi-tepi
sungai, danau atau laut. Pasir kuarsa mempunyai komposisi gabungan dari SiO2,
Fe2O3, Al2O3, TiO2, CaO, MgO, dan K2O, berwarna putih bening atau warna
lain bergantung pada senyawa pengotornya, kekerasan 7 (skala Mohs), berat jenis
2,65, titik lebur 17150C, bentuk kristal hexagonal, panas sfesifik 0,185, dan
konduktivitas panas 12 1000C. Dalam kegiatan industri, penggunaan pasir
kuarsa sudah berkembang meluas, baik langsung sebagai bahan baku utama
maupun bahan ikutan. Sebagai bahan baku utama misalnya digunakan dalam
industri gelas kaca, semen, tegel, mosaik keramik, bahan baku fero silikon, silikon
carbide bahan abrasit (ampelas dan sand blasting). Sedangkan sebagai bahan
ikutan, misal dalam industri cor, industri perminyakan dan pertambangan, bata
tahan api (refraktori), dan lain sebagainya.

F. STRUKTUR BAHAN KERAMIK
Keramik adalah senyawa dari unsur-unsur logam dan bukan logam. Istilah
keramik (dari kata Yunani keramos, yang berarti pembuat barang tembikar tanah
liat, dan keramikos, artinya produk tanah liat) keduanya mengacun kepada bahan
dan produk keramik itu sendiri. Karena banyaknya kemungkinan kombinasi dari
unsur-unsur, beragam keramik sekarang tersedia untuk berbagai aplikasi industri
dan konsumen. Keramik paling awal digunakan untuk membuat tembikar dan batu
bata, sekitar sebelum 4.000 SM Keramik telah digunakan selama bertahun-tahun
dalam otomotif sebagai busi baik sebagai isolator listrik dan kekuatan terhadap
suhu yang tinggi. Mereka telah menjadi semakin penting dalam alat dan bahan-
bahan kuat bertahan, heat engines, komponen otomotif (seperti exhaust-port liners,
pelapis piston, dan cylinder liners). Struktur kristal keramik (terdiri dari berbagai
ukuran atom yang berbeda) merupakan salah satu yang paling kompleks dari
semua struktur bahan. Ikatan antara atom-atom ini umumnya ikatan kovalen
(berbagi elektron, sehingga ikatan ini kuat) atau ion (terutama ikatan antara ion
bermuatan, sehingga ikatan ini kuat). Ikatan ini jauh lebih kuat daripada ikatan
logam. Akibatnya, sifat-sifat seperti kekerasan dan ketahanan panas dan listrik
secara signifikan lebih tinggi keramik dari pada logam. Keramik dapat berikatan
kristal tunggal atau dalam bentuk polikristalin. Ukuran butir mempunyai pengaruh
basar terhadap kekuatan dan sifat-sifat keramik; ukuran butir yang halus (sehingga
dikatakan keramik halus), semakin tinggi kekuatan dan ketangguhannya.
Kebanyakan bahan pembentuk keramik memiliki ikatan ion, ikatan kovalen dan
ikatan antara. Sebagai missal, bagian ikatan ion dalam sistem Mg-O, Al-O, Zn-O
dan Si-O dapat dikatakan masing-masing 70%, 60%, 60% dan 50%. Yang sangat
menarik adalah bahwa pada ReO3,V2O3 dan TiO, yang merupakan oksida dan
tidak pernah menunjukkan sifat liat atau dapat di deformasikan, tetapi memiliki
hantaran listrik yang relatif dapat disamakan dengan logam biasa. Dalam Kristal
yang rumit, berbagai macam atom berperan dan ikatannya merupakan ikatan
campuran dalam banyak hal. Struktur Kristal demikian dapat dimengerti apabila
mengingat bahwa Kristal tersusun oleh kombinasi dari polyhedron koordinasi,
dimana satuan kecil dari kation dikelilingi oleh beberapa anion. Salah satu contoh
adalah silikat yang merupakan bahan baku penting bagi keramik
G. Kegunaan Keramik Industri

Keramik dinilai dari propertinya. Kegunaan keramik beragam disesuaikan dengan
kemampuan dan daya tahannya. Keramik dengan properti elektrik dan magnetik
dapat digunakan sebagai insulator, semikoncuktor, konduktor dan magnet.
Keramik dengan properti yang berbeda dapat digunakan pada aerospace, biomedis,
konstruksi bangunan, dan industri nuklir.
Beberapa contoh penggunaan keramik industri:
Peralatan yang dibuat dari alumina dan silikon nitrida dapat digunakan sebagai
pemotong, pembentuk dan penghancur logam.
Keramik tipe zirconias, silikon nitrida maupun karbida dapat digunakan untuk
saluran pada rotorturbocharger diesel temperatur tinggi dan Gas-Turbine Engine.
Keramik sebagai insulator adalah aluminum oksida (AlO3). Keramik sebagai
semikonduktor adalah barium titanate (BaTiO3) dan strontium titanate (SrTiO3).
Sebagai superkonduktor adalah senyawa berbasis tembaga oksida.
Keramik dengan campuran semen dan logam digunakan untuk pelapis pelindung
panas pada pesawat ulang-alik dan satelit.
Keramik Biomedical jenis porous alumina digunakan sebagai implants pada tubuh
manusia. Porous alumina dapat berikatan dengan tulang dan jaringan tubuh.
Butiran uranium termasuk keramik yang digunakan untuk pembangkit listrik
tenaga nuklir. Butiran ini dibentuk dari gas uranium hexafluorida (UF6).
Keramik berbasis feldspar dan tanah liat digunakan pada industri bahan bangunan.
Keramik juga digunakan sebagai coating (pelapis) untuk mencagah korosi.
Keramik yang digunakan adalah jenis enamel. Peralatan rumah tangga yang
menggunakan pelapisan enamel ini diantaranya adalah kulkas, kompor gas, mesin
cuci, mesin pengering.







BAB. III
KESIMPULAN

Adapun kesimpulan dari makalah ini adalah :
1. Keramik adalah Senyawa logam atau bukan logam yang mempunyai ikatan
atom ionik dan kovalen
2. Ikatan ionik dan kovalen menyebabkan keramik mempunyai titik lebur
tinggi dan bersifat isolator
3. Keramik terdiri dari
a. Keramik tradisional, disusun oleh tanah liat, silika dan feldspar.
Cth. bata, ubin, genteng dan porselen
b. Keramik murni atau teknik, disusun oleh senyawa murni.
4. KlasifikasiBahan keramik dapat dibedakan menjadi dua kelas : kristalin
dan amorf (non kristalin).









DAFTAR PUSTAKA

Karakteristik Struktur Keramik.http://fiqrotul.wordpress.com.karakteristik- struktur-
dan-sifat-keramik/
Keramik.
. 25 April 2012. Pukul 08.15
Http://id.wikipedia.org. 25 April 2012. Pukul 08.30
Klasifikasi Kramik. http://www.scribd.com/doc/45663649/keramik.25 April 2012.
Pukul 08.40
Makalah Keramik. http://www.kiwod.com/tag/makalah-keramik.25 April 2012.
Pukul 08.55
Sifat Keramik. http://ajank-sifajar.blogspot.com/2010/01/makalah-material-teknik-
keramik-nama.html. 25 April 2012. Pukul 09.15