Anda di halaman 1dari 2

Etiologi Hemaptoe

Hemaptoe atau hemoptisis adalah ekspektorasi dari darah atau sputum berdarah yang
berasal dari paru atau trakheobronkial. Hemaptoe ini sering diragukan dengan perdarahan
dari mulut, kerongkongan, nasofaring dan saluran cerna.


Hemoptisis sering berasal dari bronkitis kronik, kanker paru ataupun bronkiektasis. Juga
dapat diakibatkan oleh inflamasi, infeksi, penyakit kardiovaskular, gangguan koagulasi
darah dan penyebab lain yang jarang, seperti ruptur aneurisma aorta. Sekitar 15% dari
penyebab hemaptoe tidak diketahui.


Penyebab hemoptisis masif yaitu: kanker paru, bronkiektasis, TB paru aktif ataupun cavitas
paru.



Bronkiektasis: hemoptisis yang terjadi dapat bervariasi, dari sputum bercampur
darah hingga pengeluaran darah segar. Pasien biasanya mempunyai batuk kronik yang
menghasilkan sputum (Khasnya berupa three layers sputum), sputum kental dan berbau.
Pada pasien juga akan ditemui ronkhi, demam, penurunan berat badan , fatiq, malaise dan
dispnue.
TB pulmonal: batuk dahak berdarah sering terjadi pada penyakit ini, dan hemoptisis
masif dapat terjadi pada TB paru lanjut. Temuan pada sistim pernafasan berupa batuk
kronik, dispnoe, pekak pada perkusi, peningkatan fremitus, dan dapat ditemukan suaran
nafas amforik. Juga dapat ditemukan keringat malam, malaise, fatiq, demam, anoreksia,
penurunan berat badan dan nyeri dada pleuritis.
Bronkitis kronik: gejala utamanya berupa batuk produktif selama minimal 3 bulan.
Sering kali hal ini menyebabkan bercak darah pada sputum, sedangkan hemoragik masif
jarang terjadi. Gejala lain yang dapat timbul berupa dispnoe, ekspirasi yang memanjang,
wheezing, penggunaan otot nafas tambahan, barrel chest dan takipnoe.
Ca laring: hemaptoe terjadi pada kanker ini, tetapi yang menjadi gejala utamanya
adalah suara serak. Temuan lain yang bisa didapatkan adalah disfagi, dispnoe, stridor,
limfadenopati servikal dan nyeri pada leher.
Ca paru: ulserasi dari bronkus mengakibatkan hemoptisis sebagai gejala awal dari
ca paru. Setelah itu, sebagai gejala lanjutan dapat ditemui adanya batuk produktif, dispnoe,
anorexia, penurunan berat badan, wheezing dan nyeri di dada.
Pneumonia: pada pneumonia pneumococcus dapat ditemukan pinkish/rusty
sputum, sedangkan pada pneumonia klebsiella dapat ditemukan dark-brown atau red
currant-jelly sputum
Abses paru: 50% penderita abses paru menghasilkan sputum berdarah akibat
ulserasi dari bronkus, nekrosis dan jaringan granulasi. Temuan lain yang bisa didapatkan
seperti batuk produktif dengan sputum purulen yang berbau, demam menggigil, anoreksia,
penurunan berat badan, sakit kepala, dispnoe dan nyeri dada yang sifatnya tumpul.
Bronkial adenoma: hemoptisis dapat terjadi pada 30% pasien, disertai dengan
batuk kronik dan wheezing lokal
Ruptur aneurisma aorta: jarang terjadi, akibat ruptur dari aneurisma aorta ke dalam
saluran trakeobronkial, yang dapat mengakibatkan hemaptoe dan kematian mendadak.
Udem pulmonal: udem paru kardiogenik ataupun non kardiogenik dapat
mengakibatkan produksi sputum berdarah yang juga disertai dengan dispnoe, orthopnoe,
anxietas, sianosis, ronkhi difus, gallop dan demam. Juga dapat terjadi takikardi, lethargi,
aritmia, takipnoe dan hipotensi.
Hipertensi pulmonal: hemoptisis, dispnoe saat exercise, dan fatiq terjadi secara
lambat pada pasien dengan hipertensi pulmonal. Juga terdapat nyeri dada seperti pada
angina pada saat exercise, nyeri dada dapat menjalar ke leher tetapi tidak ada penjalaran
ke lengan.
Gangguan pembekuan darah: seperti trombositopeni dan DIC. Selain hemaptoe,
pada penyakit seperti ini juga akan didapatkan perdarahan multisistim dan purpura pada
kulit.
Kontusio pulmonal: terjadi akibat trauma tumpul thoraks
Penyebab lain: SLE, trauma akibat tindakan diagnostik (bronkoskopi, laringoskopi,
biopsi paru)