Anda di halaman 1dari 7

DESKRIPSI DAN KLASIFIKASI BATUAN

DESKRIPSI BATUAN

Kondisi Kuat
tekan
(Kgf/cm
2
)
Test di Lapangan
Sangat Lemah (Very
Weak)
0.6 1.25 Mudah dipecahkan dengan tangan.
Dapat ditembus pisau hingga 5 mm.
Lemah
(Weak)
1.25 5.0 Pecah dengan menekankan palu pada
contoh. Tidak dapat ditembus dengan
pisau. Dapat digores dengan kuku ibu
jari.
Agak Lemah
(Moderately Weak)
50 - 125 Dapat dipecahkan diatas telapak tangan
dengan memukulkan palu keatas conto.
Dapat digores dengan pisau.
Agak Kuat (Moderately
Strong)
125 - 500 Dapat dipecahkan bila conto diletakkan
diatas benda pejal dan dipukul dengan
palu
Kuat
(Strong)
500 - 1000 Susah dipecahkan bila conto diletakkan
diatas benda pejal dan dipukul dengan
palu
Sangat Kuat
(Very Strong)
1000 -
2000
Perlu dipukul dengan palu berkali-kali
untuk meretakkan conto
Amat Sangat Kuat
(Extremely Strong)
> 2000 Conto hanya dapat disumbingkan
dengan palu

Parameter Istilah
Nilai Terang, Gelap
Warna Tambahan Kemerah-mudaan, Kemerahan,
Kekuning-kuningan, Kejingga-jinggaan,
Kebiru-biruan, Kecoklat-coklatan,
Kehijau-hijauan, Keabu-abuan.
Warna Utama Merah Muda, Merah, Kuning, Jingga,
Coklat, Hijau, Biru, Ungu, Putih, Abu-
abu, Hitam

Tingkat Deskripsi
I
Segar (Fresh). Tidak terlihat tanda-tanda pelapukan material
batuan, mungkin sedikit terjadi perubahan warna pada bidang
diskontinuitas utama
II
Agak Lapuk (Slightly Weathered). Terjadi perubahan warna yang
menunjukkan pelapukan material batuan dan bidang
diskontinuitas. Seluruh material batuan mungkin berubah warna
karena pelapukan.
III
Lapuk Sedang (Moderately Weathered) Kurang dari 50% material
batuan beralih ke tanah. Batuan segar atau sudah berubah warna
tetap ada sebagai bagian tak menerus atau batuan inti.
IV
Sangat Lapuk (Highly Weathered). Lebih dari 50% material batuan
beralih ke tanah. Batuan segar atau sudah berubah warna tetap
ada sebagai bagian tak menerus atau batuan inti.
V
Lapuk Sempurna (Completely Weathered). Seluruh material
batuan telah beralih menjadi tanah. Struktur massa asli sebagian
masih ada (intact).
VI
Tanah Residual (Residual Soil). Seluruh material batuan telah
beralih menjadi tanah. Struktur massa dan material fabric telah
hancur. Terjadi perubahan besar dalam volume tetapi tanah
belum mengalami transportasi berarti.

Struktur
Tipe Batuan Struktur
Sedimen Berlapis tebal (Bedded)
Berlapis tipis (Laminated)
Metamorfosa Foliasi (Foliated)
Pitaan (Banded)
Belahan (Cleavege)
Beku Masif (Massive)
Aliran (Flow banded)

Bentuk Partikel dan Komposisi

Angularity

(Kebersudutan)
Menyudut (Angular)
Agak Menyudut (Sub-Angular)
Agak bulat (Sub-rounded)
Bulat (Rounded)
Bentuk Ekuidimensional
Datar (Flat)
Melengkung (Elongated)
Datar dan Melengkung (Flat dan
Elongated)
Tak Beraturan (Irregular)
Tekstur Permukaan Kasar (Rough)
Halus (Smooth)

Komposisi partikel : Tergantung pada mineral dan atau jenis batuan yang
menbentuk butiran tersebut.

Diskontinuitas

Istilah umum untuk tiap diskontinuitas mekanis pada massa batuan yang memiliki
kekuatan tarik kecil atau tidak ada sama sekali. Merupakan gabungan dari jenis
kekar, bidang perlapisan yang lemah dan sesar. Sepuluh parameter yang dipilih
untuk menggambarkan diskontinuitas dan massa batuan diterangkan dibawah ini.
Digambarkan dengan kemiringan terbesar yang diukur terhadap horizontal dan
kemiringan yang diukur searah putaran jarum jam dari utara sebenarnya.

Diskripsi Spasi (mm)
Amat sangat rapat (extremely close spacng) < 200
Sangat rapat (very close spacing) 20 60
Rapat (Closely spacing) 60 600
Agak rapat (moderate spacing) 200 600
Jarang (wide spacing) 600 - 2000
Sangat jarang (very wide spacing) 2000 6000
Amat sangat jarang (extremely wide spacing) > 6000


Diskripsi Panjang di Permukaan
(m)
Sangat rendah (very low) < 1
Rendah (low) 1 3
Sedang (medium) 3 10
Tinggi (high) 10 20
Sangat tinggi (very high) > 20

Dinyatakan berdasarkan kekuatan batuan seperti yang disebutkan diatas.

Bukaan
(mm)
Deskripsi
< 0.1 Sangat rapat (very tight)
Tertutup 0.1 0.25 Rapat (tight)
0.25 0.5 Sebagian terbuka (partly open)
0.5 2.5 Terbuka (open)
Berselang 2.5 - 10 Agak lebar (moderately wide)
>10 Lebar (wide)
10 - 100 Sangat lebar (very wide)
Terbuka 100 - 1000 Amat sangat lebar (extremely wide)
>1000 Besar (Cavernous)

Material yang memisahkan dinding-dinding diskontinuitas batuan yang bersebelahan
seperti kalsit, klorit, lempung, lanau, breksi dan lain-lain.
Deskripsi kuantitatif material pengisi diperlukan seperti kekuatan, warna, plastisitas,
warna tanah/batuan, kondisi kadar air dan lain-lain seperti deskripsi untuk
tanah/batuan, sketsa dan foto juga diperlukan.

Diskontinuitas yang tidak terisi
Tingkat
Rembesan
Deskripsi
I Diskontinuitas sangat rapat dan kering, air hampir tidak
mungkin mengalir
II Diskontinuitas kering tanpa tanda-tanda aliran air
III Diskontinuitas kering tapi terlihat tanda-tanda aliran air
seperti bercak karat dan lain-lain.
IV Diskontinuitas sedikit basa tetapi tidak ada air bebas
V Diskontinuitas menunjukkan rembesan, tetesan air
dibeberapa tempat, tetapi tanpa aliran yang menerus
VI Diskontinuitas memeperlihatkan aliran air yang menerus
(perkirakan l/menit dan gambarkan tekanan misal
rendah, sedang, tinggi).


Diskontinuitas yang terisi
Tingkat
Rembesan
Deskripsi
I Material pengisi sangat terkonsolidasi dan kering, aliran
yang nyata tidak terjadi karena permeabilitas yang
rendah.
II Material pengisi lembab, tetapi tidak ada air bebas.
III Material pengisi basah, tetesan air di beberapa tempat.
IV Material pengisi menunjukkan tanda-tanda gerusan, air
mengalir terus menerus (perkirakan l/menit).
V Material pengisi tergerus dibeberapa tempat, air cukup
banyak mengalir melalui saluran akibat gerusan
(perkirakan l/menit dan gambarkan tekanan misal
rendah, sedang, tinggi).
VI Material pengisi terbilas seluruhnya, tekanan air sangat
tinggi terjadi, terutama pada saat pertama sekali
tersingkap (perkirakan l/menit dan gambarkan tekanan
misal rendah, sedang, tinggi).


MASSA BATUAN : MISALNYA DINDING TEROWONGAN

Tingkat
Rembesan
Deskripsi
I Dinding dan atap kering, tidak ada rembesan
teramati
II Rembesan kecil, tentukan tumpahan
III Aliran sedang, tentukan diskontinuitas dengan
aliran menerus (perkirakan l/menit per 10 m
panjang galian).
IV Aliran besar, tentukan diskontinuitas dengan
aliran kuat (perkirakan l/menit per 10 m
panjang galian).
V Aliran sangat besar, tentukan sumber aliran
yang besar (perkirakan l/menit per 10 m
panjang galian).
NO Deskripsi
I Pejal, terkadang ada kekar acak
II Satu set kekar
III Satu sesat kekar dan acak
IV Dua set kekar
V Dua set kekar dan acak
VI Tiga set kekar
VII Tiga set kekar dan acak
VIII Empat set kekar atau lebih
IX Batu pecah/hancur








Diskontinuitas individual utama harus dicatat satu persatu.

Indeks Ukuran Blok (I
b
)
Dapat diperkirakan dengan memilih beberapa ukuran blok tipikal dan mengambil
ukuran rata-ratanya.


Hitungan Join Volumetrik (J
r
)

Deskripsi J
r
(Join/m
2
)
Blok sangat besar (very large block) < 1
Blok Besar (Large block) 1 3
Blok Ukuran sedang (medium size
block)
3 10
Block kecil (small block) 10 30
Block sangat kecil (very small block) > 30

Nilai J
r
> 60 menunjukkan batu pecah,tipikal zona pecahan tanpa lempung


MASSA BATUAN

Ukuran dan
bentuk block
Deskripsi
Massive Sedikit kekar atau berspasi sangat lebar
Blocky Kurang lebih ekidimensional
Tabular Satu dimensi jauh lebih kecil dari dua yang
lain
Columnar Satu dimensi jauh lebih besar dari dua yang
lain
Irregular Banyak varisai ukuran dan bentuk blok
Crushed Banyak kekar


KLASIFIKASI BATUAN
Secara umum batuan dapat dibedakan menjadi 3 ,yaitu: Batuan Beku,Batuan
Sedimen, dan Batuan Metamorf.
1. Batuan Beku

Magma dapat mendingin dan membeku di bawah atau di atas permukaan
bumi. Bila membeku di bawah permukaan bumi, terbentuklah batuan yang
dinamakan batuan beku dalam atau disebut juga batuan beku intrusive (sering juga
dikatakan sebagai batuan beku plutonik). Sedangkan, bila magma dapat mencapai
permukaan bumi kemudian membeku, terbentuklah batuan beku luar atau batuan
beku ekstrusif.

Secara Umum klasifikasi batuan beku adalah sebagai berikut:


2. Batuan sedimen

Batuan sedimen adalah batuan yang terjadi karena pengendapan
materi
hasil erosi. sekitar 80% permukaan benua tertutup batuan sedimen, waluapun
volumnya hanya sekitar 5% dari volum kerak bumi.

Secara umum batuan sedimen dibagi atas 2 jenis batuan, yaitu :
1. Batuan Sedimen Klastik

Batuan yang berasal dari proses ilmiah, yang disebabkan oleh proses-proses seperti
:
a. Proses pelapukan, dapat berupa pelapukan mekanis atau pelapukan
kimiawi.
b. Proses pengangkutan/transportasi.
c. Proses pengendapan.

2. Batuan Sedimen Nonklastik
Yaitu batuan sedimen yang terbentuk oleh proses-proses penghabluran dari
suatu larutan yang jenuh akan kandungan kimia tertentu akibat suatu hasil
penguapan, proses penggantian serta endapan biokimia.
a. Adanya reaksi-reaksi kimia yang berlangsung
b. Penghabluran dari larutan jenuh, misal kadar garam tinggi di suatu danau
c. Proses Biokimia yang disebabkan aktifitas organisme yang ada
3. Batuan Metamorf
Batuan metamorf (atau batuan malihan) adalah salah satu kelompok
utama batuan yang merupakan hasil transformasi atau ubahan dari suatu tipe
batuan yang telah ada sebelumnya, protolith, oleh suatu proses yang
disebut metamorfisme, yang berarti "perubahan bentuk". Protolith yang dikenai
panas (lebih besar dari 150 Celsius) dan tekanan ekstrem akan mengalami
perubahan fisika dan/atau kimia yang besar. Protolith dapat berupa batuan
sedimen, batuan beku, atau batuan metamorf lain yang lebih tua. Beberapa contoh
batuan metamorf adalah gneis, batu sabak, batu marmer, dan skist.
Batuan metamorf menyusun sebagian besar dari kerak Bumi dan digolongkan
berdasarkan tekstur dan dari susunan kimia dan mineral (fasies metamorf) Mereka
terbentuk jauh dibawah permukaan bumi oleh tegasan yang besar dari batuan
diatasnya serta tekanan dan suhu tinggi. Mereka juga terbentuk oleh intrusi batu
lebur, disebut magma, ke dalam batuan padat dan terbentuk terutama pada kontak
antara magma dan batuan yang bersuhu tinggi.
Batuan metamorf dapat diklasifikasikan menjadi :
1. Batuan Metamorf Thermal, yaitu batuan yang mengalami metamorfosis
disebabkan oleh pengaruh temperatur (T) yang lebih dominan daripada tekanan (P)
dengan temperatur antara 400 - 800C. Contoh : Hornfels.
2. Batuan Metamorf Dynamo, yaitu batuan yang mengalami metamorfosis
disebabkan oleh pengaruh tekanan (P) lebih dominan daripada temperatur (T).
Contoh : Gneiss.
3. Batuan Metamorf Regional, yaitu batuan yang mengalami metamorfosis
disebabkan oleh pengaruh tekanan (P) dan temperatur (T) dimana kedua-duanya
sangat dominan terhadap terjadinya batuan tersebut. Contoh : Sekis mika.