Anda di halaman 1dari 16

Pola Penyebaran Abses Akibat Infeksi Odontogen

Manusia biasanya hidup berdampingan secara mutualistik dengan mikrobiota rongga mulut.
Gigi dan mukosa yang utuh merupakan pertahanan pertama yang hampir tidak tertembus
apabila sistem kekebalan hospes dan pertahanan selular berfungsi dengan baik. Apabila sifat
mikroflora berubah, baik kualitas maupun kuantitasnya, apabila sistem kekebalan dan
pertahanan selular terganggu, atau kombinasi dari hal-hal tersebut diatas, maka infeksi dapat
terjadi (Pedersen, 1996).
Dalam praktik sehari-hari dapat kita temukan infeksi yang dapat bersifat akut maupun kronis.
Infeksi akut biasanya ditandai dengan pembengkakn dan rasa sakit yang hebat dengan
manifestasi berupa malaise dan demam berkepanjangan. Infeksi kronis dapat berkembang
dari penyembuhan sebagian keadaan akut, serangan yang lemah atau pertahanan yang kuat
infeksi kronis ditandai dengan ketidaknyamanan dalam berbagai tingkatan dan bukan berupa
rasa sakit yang hebat (Roeslan, 1994).
Infeksi sendiri merupakan masuknya kuman patogen atau toksin ke dalam tubuh manusia
serta menimbulkan gejala sakit. Infeksi odontogen adalah infeksi yang awalnya bersumber
dari kerusakan jariangan keras gigi atau jaringan penyangga gigi yang disebabkan oleh
bakteri yang merupakan flora normal rongga mulut yang berubah menjadi patogen
(Soemartono, 2000). Penyebaran infeksi odontogen ke dalam jaringan lunak dapat berupa
abses. Secara harfiah, abses merupakan suatu lubang berisi kumpulan pus terlokalisir akibat
proses supurasi pada suatu jaringan yang disebabkan oleh bakteri piogenik. Abses yang
sering terjadi pada jaringan mulut adalah abses yang berasal dari regio periapikal. Daerah
supurasi terutama tersusun dari suatu area sentral berupa polimorfonuklear leukosit yang
hancur dikelilingi oleh leukosist hidup dan kadang-kadang terdapat limfosit. Abses juga
merupakan tahap akhir dari suatu infeksi jaringan yang dimulai dari suatu proses yang
disebut inflamasi (Aryati, 2006).
Infeksi odontogenik dapat berasal dari tiga jalur, yaitu (1) jalur periapikal, sebagai hasil dari
nekrosis pulpa dan invasi bakteri ke jaringan periapikal; (2) jalur periodontal, sebagai hasil
dari inokulasi bakteri pada periodontal poket; dan (3) jalur perikoronal, yang terjadi akibat
terperangkapnya makanan di bawah operkulum tetapi hal ini terjadi hanya pada gigi yang
tidak/belum dapat tumbuh sempuna. Dan yang paling sering terjadi adalah melalui jalur
periapikal (Karasutisna, 2001). Infeksi odontogen biasanya dimulai dari permukaan gigi yaitu
adanya karies gigi yang sudah mendekati ruang pulpa (Gambar 1), kemudian akan berlanjut
menjadi pulpitis dan akhirnya akan terjadi kematian pulpa gigi (nekrosis pulpa). Infeksi
odontogen dapat terjadi secara lokal atau meluas secara cepat. Adanya gigi yang nekrosis
menyebabkan bakteri bisa menembus masuk ruang pulpa sampai apeks gigi. Foramen
apikalis dentis pada pulpa tidak bisa mendrainase pulpa yang terinfeksi. Selanjutnya proses
infeksi tersebut menyebar progresif ke ruangan atau jaringan lain yang dekat dengan struktur
gigi yang nekrosis tersebut (Cilmiaty, 2009).

Gambar 1 Ilustrasi keadaan gigi yang mengalami infeksi dapat menyebabkan abses
odontogen. (A) Gigi normal, (B) gigi mengalami karies, (C) gigi nekrosis yang
mengalami infeksi menyebabkan abses. Sumber : Douglas & Douglas, 2003
Infeksi odontogen dapat menyebar secara perkontinuatum, hematogen dan limfogen, yang
disebabkan antara lain oleh periodontitis apikalis yang berasal dari gigi nekrosis, dan
periodontitis marginalis. Infeksi gigi dapat terjadi melalui berbagai jalan: (1) lewat
penghantaran yang patogen yang berasal dari luar mulut; (2) melalui suatu keseimbangan
flora yang endogenus; (3) melalui masuknya bakteri ke dalam pulpa gigi yang vital dan steril
secara normal (Cilmiaty, 2009). Infeksi odontogen menyebar ke jaringan-jaringan lain
mengikuti pola patofisiologi yang beragam dan dipengaruhi oleh jumlah dan virulensi
mikroorganisme, resistensi dari host dan struktur anatomi dari daerah yang terlibat
(Soemartono, 2000).
Rute yang paling umum penyebaran peradangan adalah melalui kontinuitas jaringan dan
spasia jaringan dan biasanya terjadi seperti yang dijelaskan di bawah ini. Pertama, nanah
terbentuk di tulang cancellous dan tersebar ke berbagai arah yang memiliki resistensi jaringan
paling buruk. Penyebaran pus ke arah bukal, lingual, atau palatal tergantung pada posisi gigi
dalam lengkung gigi, ketebalan tulang, dan jarak perjalanan pus (Gambar 2), (Fragiskos,
2007).

Gambar 2 Ilustrasi penyebaran infeksi odontogen (dentoalveolar abcess) tergantung
pada posisi apeks gigi penyebab. (A) Akar bukal : arah penyebaran ke bukal. (B) Akar
palatal : arah penyebarannya ke palatal. Sumber : Fragiskos, 2007
Inflamasi purulen berhubungan dengan tulang alveolar yang dekat dengan puncak bukal atau
labial tulang alveolar biasanya akan menyebar ke arah bukal, sedangkan tulang alveolar yang
dekat puncak palatal atau lingual, maka penyebaran pus ke arah palatal atau ke lingual
(Fragiskos, 2007).
Akar palatal dari gigi posterior dan lateral gigi seri rahang atas dianggap bertanggung jawab
atas penyebaran nanah ke arah palatal, sedangkan molar ketiga mandibula dan kadang-
kadang dua molar mandibula dianggap bertanggung jawab atas penyebaran infeksi ke arah
lingual. Inflamasi bahkan bisa menyebar ke sinus maksilaris ketika puncak apeks gigi
posterior ditemukan di dalam atau dekat dasar antrum. Panjang akar dan hubungan antara
puncak dan perlekatan proksimal dan distal berbagai otot juga memainkan peranan penting
dalam penyebaran pus. Berdasarkan hal ini (Gambar 3), pus di mandibula yang berasal dari
puncak akar di atas otot mylohyoid dan biasanya menyebar secara intraoral, terutama ke arah
dasar mulut. Ketika puncak ditemukan di bawah otot mylohyoid (molar kedua dan ketiga),
pus menyebar ke ruang submandibular dan terjadi pembengkakan ekstraoral (Fragiskos,
2007).

Gambar 3 Ilustrasi penyebaran infeksi odontogen (dentoalveolar abcess) tergantung
pada posisi apeks gigi penyebab. (A) Penyebaran pus kea rah sinus maksilaris (B)
Penyebaran pus pada rahang bawah tergantung pada posisi perlekatan otot mylohyoid.
Sumber : Fragiskos, 2007
Pada fase selular, tergantung pada rute dan tempat inokulasi dari pus, abses dentoalveolar
akut mungkin memiliki berbagai gambaran klinis, seperti: (1) intraalveolar, (2) subperiosteal,
(3) submukosa, (4), subkutan, dan (5) fascia migratory cervicofacial (Gambar 4 dan 5).
Pada tahap awal fase selular ditandai dengan akumulasi pus dalam tulang alveolar yang
disebut sebgai abses intraalveolar. Pus kemudian menyebar keluar setelah terjadi perforasi
tulang menyebar ke ruang subperiosteal. Periode ini dinamakan abses subperiosteal, dimana
pus dalam jumlah terbatas terakumulasi di antara tulang dan periosteal. Setelah terjadi
perforasi periosteum, pus kemudian menyebar ke berbagai arah melalui jaringan lunak.
Biasanya menyebar pada daerah intraoral membentuk abses di bawah mukosa, yang disebut
abses submukosa. Terkadang, pus menyebar melalui jaringan ikat longgar dan setelah itu
terakumulasi di bawah kulit, bentukan ini disebut abses subkutan. Sedangkan di waktu
lainnya, pus menyebar ke ruang fascia, membentuk abses serous yang disebut abses spasia
wajah (Fragiskos, 2007).

Gambar 4 Ilustrasi rute perjalanan pus pada penyebaran infeksi odontogen (A) Abses
intraalveolar (B) Abses superiosteal. Sumber : Fragiskos, 2007

Gambar 5 Ilustrasi rute perjalanan pus pada penyebaran infeksi odontogen (A) Abses
submukosa (B) Abses subkutan. Sumber : Fragiskos, 2007

Ali Taqwim, Mahasiswa Profesi Kedokteran Gigi Universitas J ember
Ekstraksi (Pencabutan Gigi)
Instrumen ekstraksi
Tang dan elevetor adalah dua jenis alat yang biasa digunakan dalam pencabutan gigi sulung.
Pendekatan pembedahan harus segera dilakukan ketika mengeluarkan gigi dan alat;alatnya
juga harus di autoclave sebelu m digunakan.
Tang
Pemilihan dari tang ter gantung dari bentuk gigi, anatomi akar, jumlah akar, dan lokasinya di
dalam mulut. Tang yang tersedia di pasaran dibentuk untuk memenuhi faktor-faktor tersebut.
Tang yang digunakan dalam gigi sulung dibentuk secara spesifik dan lebih kecil dari tang
yang biasa digunakan pada gigi permanen.
Tang rahang atas
Tang yang digunakan ekstraksi gigi pada rahang atas memiliki handle yang sejajar dengan
blade pada sumbu aksial, meskipun handle pada tang molar atas lebih
Tang rahang bawah
Semua tang yang digunakan pada rahang bawah memiliki handle yang lurus dan sudut
terhadap blade. Bentukan dari blade untuk tang yang digunakan untuk ekstraksi gigi anterior
(insisiv & caninus) dan sisa akar sama dengan tang rahang atas, contohnya memiliki ujung
yang membulat untuk mencapai permukaan lingual dan labial dari gigi dengan satu akar.
Tang yang digunakan untuk molar sulung bawah memiliki dua beak pada blade yang didisain
agar sesuai dengan bagian bukal dan lingual bifurkasi akar, diantara akar mesial dan distal.
Teknik
Teknik ekstraksi yang sukses tergantung dari :
1. Penggunaan yang hati-hati dari kekuatan pencabutan yang terkontrol
2. Mendapatkan akses yang adekuat terhadap gigi
3. Membuat jalan ekstraksi yang tanpa halangan.
Derajat kekuatan yang dibutuhkan tergantung pada jumlah tulang yang terdapat disekitar gigi.
Biasanya kekuatan yang diperlukan lebih besar pada molar daripada gigi anterior. Berhati-
hatilah untuk memastikan blade dari tang memiliki kontak yang dekat dengan permukaan
akar. Kontak yang dekat dari keseluruhan bagian dalam dari tang pada mahkota gigi adalah
ideal, sama dengan jumlah tekanan yang diaplikasikan terhadap area yang lebih kecil dari
grip yang diterima dalam satu kontak poin dapat mematahkan akar atau menyebabkan tang
terlepas dari mahkota gigi
Posisi kursi gigi
Posisi kursi gigi adalah faktor yang penting bagi pasien dan operator. Posisi atau tinggi yang
salah akan mengarah pada ketidaknyamanan atau stress otot pada operator, yang dapat
menghasilkan kelelahan yang tidak perlu dan kemungkinan kegagalan ekstraksi pada pasien.
Untu ekstraksi dari gigi pada kuadran kiri bawah (molar bawah kiri) dan gigi anterior bawah,
posisi dalam pencabutan harus sejajar atau dibawah siku dengan kursi disandarkan kira-kira
30* terhadap lantai. Untuk pencabutan pada kuadran bawah kanan ( molar kanan bawah)
posisi pencabutan harus 6 inchi atau 15 cm dibawah siku dengan kursi sedikit diturunkan.
Posisi Operator
Seperti posisi kursi, posisi operator juga sangat penting dalam pencabutan. Menggunakan
posisi yang salah dalam pencabutan tidak hanya membuat ekstraksi gigi menjadi lebih sulit
tetapi juga dapat menyebabkan masalah punggung yang lama pada operator. Posisi operator
dideskripsikan sebagai posisi operator yang menggunakan tangan kanan, untuk operator yang
menggunakan tangan kiri, posisi ini harus dibalik. Ekstraksi dari keseluruhan gigi pada
rahang atas dan molar bawah kiri dan gigi depan dikeluarkan dengan posisi operator berdiri
menghadap pasien dan berdiri disisi kiri dari kursi gigi. Ekstraksi gigi dari molar bawah
kanan dilakukan dengan posisi operator berdiri pada sisi kanan belakang pasien.
Ekstraksi gigi pada rahang bawah
Insisif bawah central dan lateral dan caninus bawah : gigi ini memiliki satu akar yang
canderung memiliki mesiodistal yang rata. Digunakan tang anterior bawah gigi sulung.
Seperti yang dijelaskan sebelumnya tang rahang bawah memiliki blade yang bersudut
terhadap handle untuk memberikan kekuatan tekan vertikal untuk diaplikasikan dengan
efektif pada gigi. Pergerakan gigi sulung harus bucolingual dengan pencabutan secara rotasi.
Pada gigi molar bawah digunakan tang molar bawah sulung, pergerakannya bukolingaul dan
rotasi.
Fungsi tangan yang tidak memegang tang
Ekstraksi gigi merupakan prosedur yang menggunakan dua tangan, dan kontribusi dari tangan
yang tidak memegang tang tidak boleh diremehkan. Tangna yang tidak memegang tang
memiliki fungsi yang penting selama ekstraksi gigi. Yaitu sebagai berikut :
1. Menyisihkan pipi, lidah dan bibir dari lokasi ekstraksi, meningkatkan penglihatan dan akses
terhadap tempat operasi.
2. Melindungi pasien dari rusaknya jaringan sekitar.
3. Mendukung mandibula dan memberikan informasi kepada operator melalui tulang alveolar
terhadap kemajuan ekstraksi dengan transmisi pergerakan.
4. Dalam penyelesaian ekstraksi, jari-jari tangan menekan kedua sisi dari soket berguna untuk
mengurangi ketidaknyamanan setelah pencabutan, mempercepat penyembuhan dan
mengurangi pendarahan.
5. Juga bisa digunakan untuk mengalihkan perhatian pasien ketika menempatkan tang pada
gigi dengan menggunakan kalimat seperti saya akan memegang kedua sisi dari gigimu.
6. Memegang rahang anak agar tetap diam.

Robert Ireland, Clinical Textbook of Dental Hygiene and Therapy. 2006. Blackwell
Munksgaard

PATOFISIOLOGI INFEKSI GIGI
Infeksi gigi merupakan suatu hal yang sangat mengganggu manusia, infeksi biasanya dimulai dari
permukaan gigi yaitu adanya karies gigi yang sudah mendekati ruang pulpa, kemudian akan berlanjut
menjadi pulpitis dan akhirnya akan terjadi kematian pulpa gigi (nekrosis pulpa). Infeksi gigi dapat
terjadi secara lokal atau meluas secara cepat. Adanya gigi yang nekrosis menyebabkan bakteri bisa
menembus masuk ruang pulpa sampai apeks gigi. Foramen apikalis dentis pada pulpa tidak bisa
mendrainase pulpa yang terinfeksi. Selanjutnya proses infeksi tersebut menyebar progresif ke
ruangan atau jaringan lain yang dekat dengan struktur gigi yang nekrosis tersebut.
Penjalaran infeksi odontogen akibat dari gigi yang nekrosis dapat menyebabkan abses, abses ini
dibagi dua yaitu penjalaran tidak berat (yang memberikan prognosis baik) dan penjalaran berat
(yang memberikan prognosis tidak baik, di sini terjadi penjalaran hebat yang apabila tidak cepat
ditolong akan menyebabkan kematian). Adapun yang termasuk penjalaran tidak berat adalah serous
periostitis, abses sub periosteal, abses sub mukosa, abses sub gingiva, dan abses sub palatal,
sedangkan yang termasuk penjalaran yang berat antara lain abses perimandibular, osteomielitis, dan
phlegmon dasar mulut.
Gigi yang nekrosis juga merupakan fokal infeksi penyakit ke organ lain, misalnya ke otak menjadi
meningitis, ke kulit menjadi dermatitis, ke mata menjadi konjungtivitis dan uveitis, ke sinus maxilla
menjadi sinusitis maxillaris, ke jantung menjadi endokarditis dan perikarditis, ke ginjal menjadi
nefritis, ke persendian menjadi arthritis.
Infeksi odontogenik merupakan suatu proses infeksi yang primer atau sekunder yang terjadi pada
jaringan periodontal, perikoronal, karena traumatik atau infeksi pasca bedah. Tipikal infeksi
odontogenik adalah berasal dari karies gigi yang merupakan suatu proses dekalsifikasi email. Suatu
perbandingan demineralisasi dan remineralisasi struktur gig terjadi pada perkembangan lesi karies.
Demineralisasi yang paling baik pada gigi terjadi pada saat aktivasi bakteri yang tinggi dan dengan pH
yang rendah. Remineralisasi yang paling baik terjadi pada pH lebih tinggi dari 5,5 dan pada saliva
terdapat konsentrasi kalsium dan fosfat yang tinggi.
Sekali email larut, infeksi karies dapat langsung melewati bagian dentin yang mikroporus dan
langsung masuk ke dalam pulpa. Di dalam pulpa, infeksi dapat berkembang melalui suatu saluran
langsung menuju apeks gigi dan dapat menggali menuju ruang medulla pada maksila atau
mandibula. Infeksi tersebut kemudian dapat melobangi plat kortikal dan merusak jaringan superficial
dari rongga mulut atau membuat saluran yang sangat dalam pada daerah fasial.
Serotipe dari streptococcus mutans (cricetus, rattus, ferus, sobrinus) merupakan bakteri yang utama
dapat menyebabkan penyakit dalam rongga mulut. Tetapi meskipun lactobacilli bukan penyebab
utama penyakit, mereka merupakan suatu agen yang progresif pada karies gigi, karena mereka
mempunyai kapasitas produksi asam yang baik.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan penyebaran dan kegawatan infeksi odontogenik
adalah:
1. Jenis dan virulensi kuman penyebab.
2. Daya tahan tubuh penderita.
3. Jenis dan posisi gigi sumber infeksi.
4. Panjang akar gigi sumber infeksi terhadap perlekatan otot-otot.
5. Adanya tissue space dan potential space.

GEJALA KLINIS
Penderita biasanya datang dengan keluhan sulit untuk membuka mulut (trismus), tidak bisa
makan karena sulit menelan (disfagia), nafas yang pendek karena kesulitan bernafas. Penting untuk
ditanyakan riwayat sakit gigi sebelumnya, onset dari sakit gigi tersebut apakah mendadak atau
timbul lambat, durasi dari sakit gigi tersebut apakah hilang timbul atau terus-menerus, disertai
dengan demam atau tidak, apakah sudah mendapat pengobatan antibiotik sebelumnya.
Pada pemeriksaan fisik ditemukan tanda-tanda infeksi yaitu ;
Rubor : permukaan kulit yang terlibat infeksi terlihat kemerahan akibat
vasodilatasi, efek dari inflamasi
Tumor : pembengkakan, terjadi karena akumulasi nanah atau cairan exudat
Calor : teraba hangat pada palpasi karena peningkatan aliran darah ke area
infeksi
Dolor : terasa sakit karena adanya penekanan ujung saraf sensorik oleh jaringan
yang bengkak akibat edema atau infeksi
Fungsiolaesa :
terdapat masalah denagn proses mastikasi, trismus, disfagia, dan
gangguan pernafasan.
Infeksi yang fatal bisa menyebabkan gangguan pernafasan, disfagia, edema palpebra, gangguan
penglihatan, oftalmoplegia, suara serak, lemah lesu dan gangguan susunan saraf pusat (penurunan
kesadaran, iritasi meningeal, sakit kepala hebat, muntah).
Pemeriksaan fisik dimulai dari ekstra oral, lalu berlanjut ke intra oral. Dilakukan pemeriksaan
integral (inspeksi, palpasi dan perkusi) kulit wajah, kepala, leher, apakah ada pembengkakan,
fluktuasi, eritema, pembentukan fistula, dan krepitasi subkutaneus. Dilihat adakah limfadenopati
leher, keterlibatan ruang fascia, trismus dan derajat dari trismus. Kemudian diperiksa gigi, adakah
gigi yang caries, kedalaman caries, vitalitas gigi, lokalisasi pembengkakan, fistula dan mobilitas gigi.
Dilihat juga adakah obstruksi ductus Wharton dan Stenson, serta menilai kualitas cairan duktus
Wharton dan Stenson (pus atau saliva). Pemeriksaan oftalmologi dilakukan bila dicurigai mata
terkena infeksi. Pemeriksaan mata meliputi : fungsi otot-otot ekstraokuler, adakah proptosis, adakah
edema preseptal atau postseptal.
Pemeriksaan penunjang yang bisa membantu menegakkan diagnosis adalah pemeriksaan kultur,
foto rontgen dan CT scan (atas indikasi). Bila infeksi odontogen hanya terlokalisir di dalam rongga
mulut, tidak memerlukan pemeriksaan CT scan, foto rontgen panoramik sudah cukup untuk
menegakkan diagnosis. CT scan harus dilakukan bila infeksi telah menyebar ke dalam ruang fascia di
daerah mata atau leher.
DIAGNOSIS
Berdasarkan
anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang, ditegakkan diagnosis infeksi odontogen
apakah termasuk infeksi odontogen lokal / terlokalisir atau infeksi odontogen umum / menyebar.
TERAPI
Tujuan manajemen infeksi odontogen adalah :
Menjaga saluran nafas tetap bebas
dasar mulut dan lidah yang terangkat ke arah tonsil akan menyebabkan gagal nafas
mengetahui adanya gangguan pernafasan adalah langkah awal diagnosis yang paling penting
dalam manajemen infeksi odontogen
tanda-tanda terjadi gangguan pernafasan adalah pasien terlihat gelisah, tidak dapat tidur dalam
posisi terlentang dengan tenang, mengeluarkan air liur, disfonia, terdengar stridor
saluran nafas yang tertutup merupakan penyebab kematian pasien infeksi odontogen
jalan nafas yang bebas secara kontinu dievaluasi selama terapi
dokter bedah harus memutuskan kebutuhan, waktu dan metode operasi untuk
mempertahankan saluran nafas pada saat emergency (gawat darurat).
Operasi drainase
pemberian antibiotika tanpa drainase pus tidak akan menyelesaikan masalah penyakit abses
memulai terapi antibiotika tanpa pewarnaan gram dan kultur akan menyebabkan kesalahan
dalam mengidentifikasi organisme penyebab penyakit infeksi odontogen
penting untuk mengalirkan semua ruang primer apalagi bila pada pemeriksaan, ruang sekunder
potensial terinfeksi juga
CT scan dapat membantu mengidentifikasi ruang-ruang yang terkena infeksi
Foto rontgen panoramik dapat membantu identifikasi bila diduga gigi terlibat infeksi
Abses canine, sublingual dan vestibular didrainase intraoral
Abses ruang masseterik, pterygomandibular, dan pharyngea lateral bisa didrainase dengan
kombinasi intraoral dan ekstraoral
Abses ruang temporal, submandibular, submental, retropharyngeal, dan buccal disarankan
diincisi ekstraoral dan didrainase.
Medikamentosa
rehidrasi (karena kemungkinan pasien menderita dehidrasi adalah sangat besar)
merawat pasien yang memiliki faktor predisposisi terkena infeksi (contohnya Diabetes Mellitus)
mengoreksi gangguan atau kelainan elektrolit
memberikan analgetika dan merawat infeksi dasar bila pasien menderita trismus,
pembengkakan atau rasa sakit di mulut.
Identifikasi bakteri penyebab diharapkan penyebabnya adalah alpha-hemolytic Streptococcus dan
bakteri anaerob lainnya
kultur harus dilakukan pada semua pasien melalui incisi dan drainase dan uji sensitivitas
dilakukan bila pasien tidak kunjung membaik (kemungkinan resisten terhadap antibiotika)
Hasil aspirasi dari abses bisa dikirim untuk kultur dan uji sensitivitas jika incisi dan drainase
terlambat dilakukan
Menyeleksi terapi antibotika yang tepat
penicillin parenteral
metronidazole dikombinasikan dengan penicillin bisa dipakai pada infeksi yang berat
Clindamycin untuk pasien yang alergi penicillin
Cephalosporins (cephalosporins generasi pertama)
antibiotika jangan diganti selama incisi dan drainase pada kasus infeksi odontogen yang
signifikan
jika mediastinal dicurigai terkena infeksi harus dilakukan CT scan thorax segera dan konsultasi
kepada dokter bedah thorax kardiovaskular
ekstraksi gigi penyebab akan menyembuhkan infeksi odontogen

Tabel 1. Dental Infections That Require Systemic Antimicrobial Therapy

Endodontic infections of pulpal origin
Streptococcal gingivitis
Periodontal disease
Periodontal abscess
Periodontitis
Pericoronitis
Peri-implant disease
Serious fascial and deep neck infections
Acute herpes simplex
Candida infection treatment
OSTEMIELITIS
Osteomielitis rahang adalah suatu infeksi yang ekstensif pada tulang rahang, yang mengenai
spongiosa, sumsum tulang, kortex, dan periosteum. Infeksi terjadi pada bagian tulang yang
terkalsifikasi ketika cairan dalam rongga medullary atau dibawah periosteum mengganggu suplai
darah. Tulang yang terinfeksi menjadi nekrosis ketika ischemia terbentuk. Perubahan pertahanan
host yang mendasar terdapat pada mayoritas pasien yang mengalami ostemyelitis pada rahang.
Kondisi-kondisi yang merubah persarafan tulang menjadikan pasien rentan terhadap onset
ostemielitis, kondisi-kondisi ini antara lain radiasi, osteoporosis, osteopetrosis, penyakit tulang
Paget, dan tumor ganas tulang.
Komplikasi yang dapat terjadi akibat osteomielitis, serupa dengan komplikasi yang disebabkan oleh
infeksi odontogen, dapat merupakan komplikasi ringan sampai terjadinya kematian akibat
septikemia, pneumonia, meningitis, dan trombosis pada sinus kavernosus. Diagnosis yang tepat
amat penting untuk pemberian terapi yang efektif, sehingga dapat memberikan prognosis yang lebih
baik.
Osteomielitis pada maksilla jauh lebih jarang dibanding pada mandibula karena suplai darah ke
maksilla jaruh lebih ekstensif. Gangguan suplai darah merupakan sebuah faktor penting dalam
perkembangan ostemielitis. Mandibula menerima suplai darah utamanya dari arteri alveolar inferior.
Sumber sekunder adalah suplai periosteal yang melepaskan pembuluh-pembuluh nutrien yang
menembus tulang kortikal dan beranastomosis dengan cabang-cabang arteri alveolar .

Definisi:
Osteomielitis dental atau yang disebut osteomielitis pada tulang rahang adalah keadaan infeksi akut
atau kronik pada tulang rahang, biasanya disebabkan karena bakteri. Penyakit ini sulit untuk
didiagnosis dan diterapi. Gejala-gejala fisik pada penderita yang tidak dapat didiagnosis sebagai
penyakit khusus, seperti kelelahan, dan nyeri pada sendi atau edema pada jaringan di sekitar tulang
rahang sering disebabkan karena adanya infeksi bakteri yang tersembunyi pada tulang rahang yang
kumannya menyebarkan toksin ke jaringan sekitarnya.

Patogenesis, Tanda dan Gejala Klinik
Osteomielitis pada tulang rahang bermula dari infeksi dari tempat lain yang masuk ke dalam tulang
dan membentuk inflamasi supuratif pada medulla tulang, karena tekanan nanah (pus) yang besar,
infeksi kemudian meluas ke tulang spongiosa menuju ke daerah korteks tulang, dan akibatnya
struktur tulang rahang yang harusnya kompak dan padat jadi rapuh dan lubang-lubang seperti
sarang lebah dan mengeluarkan pus yang bermuara di kulit seperti fistel (terlihat seperti bisul) ,
kalau dibiarkan akibatnya bisa fatal, pada rahang yg rapuh ini bisa terjadi fraktur patologis.
Gejala awalnya seperti sakit gigi dan terjadi pembengkakan di sekitar pipi, kemudian pembengkakan
ini mereda, selanjutnya penyakitnya bersifat kronis membentuk fistel (saluran nanah yang bermuara
di bawah kulit) kadang tidak menimbulkan sakit penderita.

Diagnosis penyakit ini sering tidak terdeteksi dari pemeriksaan X-Foto baik digital maupun foto
panoramik. Pada sebagian besar kasus, tidak ditemukan adanya nyeri pada daerah wajah,
keengganan pihak medis untuk mencabut gigi yang busuk, serta budaya pasien yang sering menunda
mengobati giginya yang infeksi. Kesulitan dalam terapi osteomielitis adalah minimnya aliran darah
yang menuju daerah infeksi pada rahang tersebut, sehingga mencegah antibiotik mencapai
sasarannya.
Etiologi:
Penyebab utama yang paling sering dari osteomielitis adalah penyakit periodontal (seperti gingivitis,
pyorrhea, atau periodontitis, tergantung seberapa berat penyakitnya). Bakteri yang berperan
terhadap proses terjadinya penyakit ini yang tersering adalah Staphylococcus aureus, kuman yang
lain adalah Streptococcus dan pneumococcus. Penyakit periodontal juga dapat menyebabkan
penyakit jantung melalui perjalanan infeksinya. Kekurangan vitamin C dan bioflavanoid dapat
menyebabkan sariawan yang merupakan awal dari salah satu penyakit periodontal, dapat dicegah
dengan mengkonsumsinya secara cukup.
Penyebab osteomielitis yang lain adalah tertinggalnya bakteri di dalam tulang rahang setelah
dilakukannya pencabutan gigi. Ini terjadi karena kebersihan operasi yang buruk pada daerah gigi
yang diekstraksi dan tertinggalnya bakteri di dalamnya. Hal tersebut menyebabkan tulang rahang
membentuk tulang baru di atas lubang sebagai pengganti pembentukan tulang baru di dalam
lubang, dimana akan meninggalkan ruang kosong pada tulang rahang (disebut cavitas). Cavitas ini
ditemukan jaringan iskemik (berkurangnya vaskularisasi), nekrotik, osteomielitik, gangren dan
bahkan sangat toksik. Cavitas tersebut akan bertahan, memproduksi toksin dan menghancurkan
tulang di sekitarnya, dan membuat toksin tertimbun dalam sistem imun. Bila sudah sampai keadaan
seperti ini maka harus ditangani oleh ahli bedah mulut.
Penyebab umum yang ketiga dari osteomielitis dental adalah gangren radix. Setelah gigi menjadi
gangren radix yang terinfeksi, akan memerlukan suatu prosedur pengambilan, tetapi seringnya tidak
tuntas waktu pencabutan sehingga masih ada sisa akar yang tertinggal di dalam tulang rahang,
selanjutnya akan memproduksi toksin yang merusak tulang di sekitarnya sampai gigi dan tulang
nekrotik di sekitarnya hilang.
Pada pembedahan gigi, trauma wajah yang melibatkan gigi, pemakaian kawat gigi, atau pemasangan
alat lain yang berfungsi sebagai jembatan yang akan membuat tekanan pada gigi (apapun yang dapat
menarik gigi dari soketnya) dapat menyebabkan bermulanya osteomielitis.
Selain penyebab osteomielitis di atas, infeksi ini juga bisa di sebabkan trauma berupa patah tulang
yang terbuka, penyebaran dari stomatitis, tonsillitis, infeksi sinus, furukolosis maupun infeksi yang
hematogen (menyebar melalui aliran darah). Inflamasi yang disebabkan bakteri pyogenik ini meliputi
seluruh struktur yang membentuk tulang, mulai dari medulla, kortex dan periosteum dan semakin
parah pada keadaan penderita dengan daya tahan tubuh rendah.
Terapi:
Pada osteomielitis sebaiknya pasien dirawat inap di rumah sakit. Penanganan penyakit ini adalah
menghilangkan faktor penyebabnya, gigi yang terinfeksi segera diekstraksi, squester-squester tulang
matinya bila ada dibuang (squesterektomy) serta pemberian antibiotik adekuat. Prosedur ini
membutuhkan tindakan operasi supaya terbentuk penulangan baru yang sehat. Perbaikan keadaan
umum, nutrisi makanan, terapi vitamin, membantu mempercepat proses kesembuhan.
PENYAKIT GINGIVA DAN NECROTIZING ULCERATIVE GINGIVITIS (NUG)
Mikroorganisme yang menyebabkan penyakit gingival biasanya dapat dikontrol tanpa penggunaan
antibiotik sistemik. Perawatan klinis yang dapat dilakukan termasuk perawatan lokal yaitu dengan
menghilangkan kalkulus dan plak (biofilm bakteri) dan pemberian desinfektan pada cairan gingival.
Pasien membutuhkan keterangan tentang bagaimana cara merawat sendiri penyakit tersebut
dengan menjaga agar jumlah bakteri tetap terkontrol. Perawatan yang membantu termasuk kumur-
kumur sehari 2 kali dengan obat kumur, menyikat gigi dengan campuran pasta gigi yang
mengandung baking soda plus hydrogen peroksida dan atau kumur-kumur dengan air garam hangat
secara berkala.
Secara umum pemberian antimikrobial tidak direkomendasikan untuk gingivitis. Meskipun
streptococcal gingivitis dan necritizing ulcerative gingivitis (NUG) merupakan 2 tipe gingivitis yang
dapat diberikan terapi antimikrobial.
NUG sebelumnya disebut acute necrotizing ulcerative gingivitis (ANUG) juga dikenal sebagai Trench
mouth or Vincent's infection, merupakan suatu penyakit dengan rasa sakit yang sangat, berbau
busuk, penyakit ulseratif yang lebih sering terjadi pada orang yang mengalami stress berat dengan
keadaan kebersihan mulut yang sangat jelek. Hal ini dimanifestasikan secara akut, inflamasi, gusi
berdarah dan dihubungkan dengan adanya kehilangan dan kematian dari papilla interdental.
Halitosis dan demam sering ada, pemeriksaan mikrobiologis dari bakteri biofilms menemukan bahwa
dalam NUG terdapat bakteri spirochetes dan fusobacteria dalam jumlah yang sangat tinggi.
Managemen dari NUG termasuk pengambilan debridement secara besar-besaran pada semua gigi
dengan irigasi copius, bila dimungkinkan dapat menggunakan ultrasonic scaler. Aplikasi topikal juga
bisa diberikan dengan obat kumur antibakteri seperti 0.12 % chlorhexidine gluconate dan atau
kumur-kumur dengan larutan saline steril yang merupakan suatu perawatan efektif untuk
mengontrol rasa sakit dan adanya ulserasi dari NUG.
Antibiotika sistemik diperlukan jika terjadi simtom yang konstitusional seperti demam malaise (table
6). Pilihan antimikrobial harus mendasar, jika mungkin dilakukan tes suseptibilitas dan tes kultur
untuk flora subgingiva. Tes kultur juga harus diperoleh setelah dilakukan terapi untuk meyakinkan
bahwa sumber patogen telah hilang.
PERIODONTITIS (Lengkapnya pada bahasan Kelainan Jaringan Periodontal)
Debridmen, scalling dan root planning untuk mengangkat deposit subgingiva dan supergingiva
kalkulus dan plak gigi (bacterial biofilm) adalah tindakan yang perlu untuk mengintervensi penyakit
periodontitis ini. Tindakan ini dapat dilakukan pada saat kunjungan pertama. Antiseptik yang efektif
antara lain yaitu povidine, iodine, chlorhexidine, chloramines-T, atau larutan garam hangat.
Penggunaan antimikrobial sistemik merupakan indikasi utama untuk penyakit khronik periodontitis
dan aggressive periodontitis (lihat tabel 2 ). Pemberian antibiotik sistemik yang tepat harus
didasarkan pada tes kultur dan tes suseptibilitas pada flora subgingiva. Pemeriksaan kultur juga
harus dilakukan setelah terapi untuk meyakinkan bahwa sumber pathogen sudah tereleminasi /
hilang. Pemeriksaan kultur tersebut dilakukan jika keadaan memungkinkan.
PERICORONITIS
Pericoronitis merupakan suatu infeksi pada jaringan lunak perikoronal (opercula) yang bagian paling
besar / utama dari jaringan lunak tersebut berada di atas / menutupi mahkota gigi. Gigi yang sering
mengalami perikoronitis adalah pada gigi molar ketiga mandibula. Infeksi yang terjadi disebabkan
oleh adanya mikroorganisme dan debris yang terperangkap diantara mahkota gigi dan jaringan lunak
di atasnya. Pada umumnya perawatan kasus seperti ini dengan pemberian antibiotik merupakan hal
penting untuk dilakukan, agar mencegah meluasnya infeksi.
Terapi yang dilakukan secara lokal termasuk menghilangkan debridmen, melakukan irigasi dan
drainase pada daerah yang terkena (termasuk jika timbul abses), kemudian diikuti dengan grinding
atau pencabutan gigi yang berlawanan (antagonis). Setelah infeksi terkontrol, maka pada saat yang
tepat jika gigi tersebut terpendam (impekted) maka segera dilakukan tindakan pencabutan gigi
tersebut. Antimikrobial diberikan jika terjadi pembengkakan local dan difus, terjadi kenaikan suhu
tubuh dan terjadi trismus (tabel 2). Antimikrobial ini dapat diberikan secara local dan sistemik.
PERI-IMPLANT DISEASE
Kunci untuk meminimalkan kegagalan suatu implant merupakan tindakan yang tepat dengan
menetapkan diagnosis dan perawatan yang efektif pada penempatan suatu implant. Terapi esensial
termasuk control plak dan pengambilan semua deposit kalkulus secara professional dengan
menggunakan instrument mekanis. Terapi adjuvant termasuk melakukan kumur-kumur dengan
menggunakan chlorhexidine gluconate selama 30 detik setelah gogok gigi selama 21 hari. Antibiotik
dapat digunakan sebagai perawatan profilaksis pada saat suatu implant ditempatkan, atau pada
kasus terjadi peri-implant mucositis, peri-implantitis, dan kegagalan implant. Antibiotik yang
dianjurkan adalah clindamycin, amoxicillin / clavulanate atau metronidazole plus penicillin G atau
ampicillin atau macrolide.
ABSES PERIODONTAL
Merupakan inflamasi pada jaringan periodontal yang terlokalisasi dan mempunyai daerah yang
purulen. Abses periodontal dapat akut maupun kronis, abses yang akut sering menjadi kronis.
Penyakit ini diakibatkan oleh infeksi bakteri yang mengenai jaringan periodonsium. Penyakit
periodontal merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri yang terakumulasi di dalam
kalkulus (karang gigi) yang biasanya terdapat pada leher gigi. Kelainan yang paling banyak didapat
adalah kelainan dari gingiva karena gingiva terletak pada bagian permukaan sedangkan penyebab
yang paling menonjol adalah plak dan kalkulus (karang gigi). Di dalam mulut penuh dengan bakteri,
yang dengan mudah akan membentuk plak. Bentuk plak tipis dan tidak berwarna, dan kadang tidak
disadari bahwa plak telah terbentuk. Plak harus dibersihkan dengan menyikat gigi teratur, karena
plak lama kelamaan akan mengeras membentuk kalkulus (karang gigi), pada kondisi ini hanya bisa
dibersihkan oleh dokter gigi.

Karateristik Klinis:
Abses periodontal Akut:
Sekitar gingiva membesar, berwarna merah, oedem dan ada rasa sakit dengan sentuhan yang
lembut, permukaan gingiva mengkilat.
Biasanya terjadi kegoyahan gigi
Gigi sensitive terhadap perkusi
Ada eksudat purulen
Secara sistemis memperlihatkan adanya malaise, demam dan pembengkaan limponodi. Kadang-
kadang wajah dan bibir juga terlihat membengkak
Adanya rasa sakit pada daerah yang membengkak
Abses Periodontal Kronis:
Biasanya asimtomatik meskipun kadang-kadang merupakan lanjutan dari fase akut.
Etiologi:
Abses periodontal dapat dihubungkan dengan poket periodontal meskipun abses dapat terjadi
tanpa didahului oleh periodontitis. Perkembangan suatu abses periodontal terjadi ketika poket
menjadi bagian dari sumber infeksi.
Penyebab terjadinya abses periodontal adalah adanya plak, kalkulus, food debris, benda asing dan
pembuatan drainase yang salah. Bakteri plak pada poket periodontal menyebabkan iritasi dan
inflamasi, sehingga terjadi produk pus di dalam poket yang menyebabkan abses periodontal.
Perawatan Abses Periodontal:
Managemen abses periodontal termasuk menghilangkan debridemen dan pembuatan drainase
untuk pus. Terapi antimikrobial adalah penting ketika terjadi penyebaran penyakit secara lokal
maupun sistemik (tabel 2). Pencabutan gigi mungkin perlu dilakukan jika terapi antimikrobial gagal
dilakukan. Tahap perawatan abses periodontal adalah sebagai berikut:
Tahap 1:
Mereduksi abses dan inflamasi akut, membuat drainase dengan cara melakukan kuretase ke dalam
poket periodontal atau membuat garis insisi pada abses dan dapat juga dengan cara mencabut gigi
jika diperlukan untuk mengeluarkan eksudat purulen.
Tahap 2 :
Mereduksi poket dan mengambil jaringan granulasi yang menyebabkan abses, biasanya dengan cara
bedah flap periodontal.
Tahap 3 :
Terapi dengan antibiotik bila abses menyebabkan demam atau limfadenopati
DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2007. Ludwig's Angina. Wikipedia, The Free Encyclopedia.
http://www.en.wikipedia.org/wiki/ludwigangina
Ariji Y, Gotoh M, Kimura Y, Naitoh M, Kurita K, Natsume N, Ariji E. 2002. Odontogenic Infection
Pathway to The Submandibular Space: Imaging Assessment.
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.fcgi
A. W. Green, E. A. Flower dan N. E. New.. 2001.
Mortality Associated with Odontogenic Infection!. British Dental Journal.
http://www.nature.com/bdj/journal/vigo/n10/full/48010244.html
B. Dental Osteomyelitis.
http://www.health.com/dental_osteomyelitis/
Brook I, Hunter V, Walker RI. Synergistic effect of Bacterioides, Clostridium, Fusobacterium,
anaerobic cocci, and aerobic bacteria on mortality and induction of subcutaneous abscesses in mice.
J Infect Dis. 1984;149:924-928.
Evaldson G, Heimdahl A, Kager L, Nord CE. The normal human anaerobic microflora. Scand J infect
Dis Suppl. 1982;35:9-15.
Evy Indriani V., drg, Sp.BM. 2006. Mengenal Tanda-tanda Sepsis Akibat Infeksi Odontogenik. Bedah
Mulut dan Maxillofacial (Informasi dan diskusi mengenai penyakit serta kelainan di dalam Mulut dan
Rahang, perawatan serta rekonstruksinya)
Evy Indriani V., drg, Sp.BM. 2006. Penyakit Periodontal. Bedah Mulut dan Maxillofacial
(Informasi dan diskusi mengenai penyakit serta kelainan di dalam Mulut dan Rahang, perawatan
serta rekonstruksinya)
George K. B. Sandor, MD. 2006. Unilateral Facial Swelling caused by Ramsay Hunt Syndrome
Resembles Odontogenic Infection. Clinical Practice. http://www.cda-adc.com/jcda
Haruo Sakamoto, Hiroyuki Naito, Takayuki Aoki, Kazunari Karakida and Kazuo Shiiki. 1996.
Necrotizing fasciitis of the neck due to an odontogenic infection: A case report
http://www.springerlink.com/content/6772n7=22kul8u17/
Heimdahl A, von Konow L, Satoh T, Nord CE. Clinical appereance of orofacial infections of
odontogenic origin in relationto microbiological findings. J Clin Microbiol Immunol. 1991;16:123-125.
H.Thoma. Oral Pathology. St. Louis the CV Mosby Company,1990. Diseases of Jaws: Osteomyelitis of
The Jaws. p.859-78
KC Toran, Nath S, Shrestha S, Rana BBS JB. 2004. Odontogenic Origin of Necrotizing Fasciitis of Head
and Neck- a case report. Kathmandu University Medical Journal.
http://www.kumj.com.np/past/vol.2/isske4/361-363.pdf
Lin LJ., Chiu GK., Corbet EF. Are Periodontal Diseases Risk Factors for Certain Systemic Disorders-
What Matters to Medical Practitioners? Hongkong Med J.2003;9:31-37
Loesche WJ., Association of the Oral Flora with Important Medical Diseases. Curr Opin Periodontal.
1997;4:21-28.
Lynnus Peng, MD. 2006. Excerpt from Dental, Infections. E Medicine Word Medical Library.
http://www.emedicine.com/emerg/byname/dentalinfections.htm
Maestre-Vera JR. 2004. Treatment options in odontogenic infection. Med Oral Patol Oral Cir Bucal.
http://www.siumed.edu/surgery/otol/ppts/odontogenicinfections.ppt
Marvin Goldfogel, DDS. 2006. Gingivitis and Periodontits. Healthopedia.
http://www.healthopedia.com/gingivitis&periodontitis
Michael T. Brennan, DDS, MHS, Michael S. Runyon, MD, Jayne J. Batts, MD, Philip C. Fox, DDS, M.
Louise Kent, RN, Timothy L. Cox, DDS, H. James Norton, PhD and Peter B. Lockhart, DDS. 2006. JADA
Continuing Education : Odontogenic Signs and Symptoms as Predictors of Odontogenic Infection. A
clinical trial.
American Dental Association.
http://www.jada.ada.org/cgi/content/fulltext/137/1/62
Namavar F, Verweij AMJJ, Bal M, Martijn van Steenbergen TJ, de Graaf J, MacLaren DM. Effect of
anaerobic bacteria on killing of Proteus mirabilis by human polymorphonuclear leukocytes. Infect
Immun. 1983;40:930-935.
Namavar F, Verweij-van Vught AMJJ, Vel WAC, Bal M, MacLaren DM. Polymorphonuclear leukocyte
chermotaxis by mixed anaerobic and aerobic bacteria. J Med Microbiol. 1984;18:167-172.
Nino Zaya, MD. 2006. Diagnosis and Management of Odontogenic Infections.
Peter J. Aquilina, Anthony Lynham. 2003. Serious Sequele of Maxillofacial Infections. Royal Brisbane
Hospital, Spring Hill. http://www.mja.com.au/public/issues/179-10-171103/aqu10203.fm.pdf
Rahang Rontok Akibat Gigi Busuk. http://www.senyumsehat.wordpress.com/