Anda di halaman 1dari 2

Tugas

Nama : Dewi Anggraini P


NIM : 011012039

Gambar 1
Isapan bayi menimbulkan
rangsangan refleks pengeluaran
prolaktin
Pengeluaran prolaktin
dikendalikan oleh neuro
hipothalamo dopaminergik yang
mengeluarkan rangsangannya
melalui sistem partel, menuju
lobus anterior hipofisis.
Katekolamin dan Dopamin
merupakan hormon yang keluar
saat stress sebenarnya
menghambat pengeluaran
prolaktin, tetapi isapan bayi
dapat mengatasi hambatan
sehingga pengeluaran prolaktin tetap berlanjut. Stress ini juga akan menyebabkan vasokonstriksi
ductus dan kapiler-kapiler di alveoli mamae sehingga ASI sedikit yang keluar.
Isapan bayi dengan cepat dapat meningkatkan konsentrasi prolaktin dengan puncaknya tercapai
dalam waktu 20-40 menit. Isapan terus menerus akan menjamin pembentukan ASI yang
berkelanjutan. Isapan ini merangsang saraf aferen, kemudian hipotalamus akan mensekresikan
Prolactin releasing eptide yang merangsang hipofisis anterior mesekresi prolaktin. Prolaktin ini
mengaktifkan sekresi alveolus sekaligus mengeluarkan dan mempertahankan ASI.Di saat yang
sama hipofisis posterior akan mensekresi oksitosin yang berperan dalam penyemprotan ASI
melalui ductus dengan merangsang kontraksi sel mioepitel.






Gambar 2

1. Pengeluaran oksitosin dari neurohipofisis berdasarkan rangsangan isap dengan serat
sensorinya yang berada di sekitar areola mama dan nipel.
2. Serat sensori ini akan menimbulkan refleks neuroendokrin yang menuju neuron yang
terletak di hipotalamus khususnya pada nukleus paraventrikuler dan supraoptika.
3. Terjadi sekresi prolaktin di hipofisis anterior dan oksitosin di hipofisis posterior. Prolaktin ini
mengaktifkan sekresi alveolus sekaligus mengeluarkan dan mempertahankan ASI.Di saat
yang sama hipofisis posterior akan mensekresi oksitosin yang berperan dalam
penyemprotan ASI melalui ductus dengan merangsang kontraksi sel mioepitel.
Dengan adanya sekresi prolaktin,
sekresi GnRH turun sehingga pada
ibu yang menyusui eksklusif,
biasanya tidak terjadi ovulasi
4. Sumber produksi oksitosin dan
vasopresin berbeda satu sama lain
sehingga pada wanita yang tidak
mampu membentuk vasopresin akan
dapat mengeluarkan oksitosin secara
utuh.
5. Oksitosin sangat penting untuk dapat
menyemprotan ASI, yang
pengeluarannya dimulai dengan
isapan bayi. Kondisi yang diperlukan
sehingga ASI dapat dikeluarkan
adalah lumen alveolusnya harus penuh. Oksitosin akan merangsang mioephitel di sekitar
alveolus untuk mulai berkontraksi sehingga semprotan ASI dapat diteruskan menuju duktus.
6. Pada permulaan isapan, pengeluaran oksitosin dapat meningkat sehingga dapat
menimbulkan dua hal:
a. ASI keluar sampai menetes umumnya pada payudara yang tidak/belum mendapat
giliran memberikan ASI.
b. Rangsangan terhadap uterus sehingga lokia/gumpalan darah dapat dikeluarkan dan
timbulnya rasa sakit.
7. ASI yang telah memenuhi lumen alveolus harus segera dikeluarkan, karena sel alveolus yang
tertekan akan dapat segera mengalami nekrosis dan mudah terjadi infeksi. Selain itu
produksi ASI akan mengalami hambatan.
8. Isapan bayi, produksi ASI,pengosongan lumen alveolus merupakan mata rantai yang harus
dilakukan secara teratur sehingga pemberian ASI secara ekslusif dapat dilakukan minimal 4-6
bulan pertama.

Daftar pustaka : Manuaba, I.B.G.2007. Pengantar Kuliah Obstetri. Jakarta : EGC.