Anda di halaman 1dari 27

PEDOMAN MAHASISWA KEPERAWATAN

2012
KUMPULAN ASUHAN
KEPERAWATAN
(Askep Endometriosis)
WWW. S A K T Y A I R L A N G G A . WO R D P R E S S . C O M

w w w . s a k t y a i r l a n g g a . w o r d p r e s s . c o m

Page 2
REVIEW ANATOMI


Endometrium adalah lapisan dalam dinding kavum uteri yang berfungsi
sebagai bakal tempat implantasi hasil konsepsi. Selama siklus haid, jaringan
endometrium berproliferasi, menebal dan mengadakan sekresi, kemudian jika tidak
ada pembuahan / implantasi, endometrium rontok kembali dan keluar berupa darah /
jaringan haid.
Jika ada pembuahan / implantasi, endometrium dipertahankan sebagai tempat
konsepsi. Fisiologi endometrium juga dipengaruhi oleh siklus hormon-hormon
ovarium. Di dalam lapisan Endometrium terdapat pembuluh darah yang berguna
untuk menyalurkan zat makanan ke lapisan ini. Saat ovum yang telah dibuahi (yang
biasa disebut fertilisasi) menempel di lapisan endometrium (implantasi), maka ovum
akan terhubung dengan badan induk dengan plasenta yang berhubung dengan tali
pusat pada bayi.
Pada suatu fase dimana ovum tidak dibuahi oleh sperma, maka kurpus luteum
akan berhenti memproduksi hormon progesteron dan berubah menjadi korpus albikan
yang menghasilkan sedikit hormon diikuti meluruhnya lapisan endometrium yang

w w w . s a k t y a i r l a n g g a . w o r d p r e s s . c o m

Page 3
telah menebal, karena hormon estrogen dan progesteron telah berhenti diproduksi.
Pada fase ini, biasa disebut menstruasi atau peluruhan dinding rahim.

Definisi

Endometriosis merupakan suatu kondisi yang dicerminkan dengan
keberadaan dan pertumbuhan jaringan endometrium di luar uterus. Jaringan
endometrium itu bisa tumbuh di ovarium, tuba falopii, ligamen pembentuk
uterus, atau bisa juga tumbuh di apendiks, colon, ureter dan pelvis. ( Scott, R
James, dkk. 2002. Buku Saku Obstetri dan Gynekologi. Widya Medica: Jakarta ).
Endometriosis adalah radang yang terkait dengan hormon estradiol/estrogen
berupa pertumbuhan jaringan endometrium yang disertai perambatan pembuluh darah,
hingga menonjol keluar dari rahim (pertumbuhan ectopic) dan menyebabkan pelvic pain.
Endometriosis adalah suatu penyakit dimana bercak bercak jaringan
endometrium tumbuh di luar rahim. Padahal dalam keadaan normal endometrium
hanya ditemukan di dalam lapisan rahim (Henri, 2009: 1)
Endometriosis adalah suatu keadaan dimana jaringan mirip dengan dinding
rahim (endometrium) ditemukan ditempat lain dalam tubuh (Smeltzer, 2001).

w w w . s a k t y a i r l a n g g a . w o r d p r e s s . c o m

Page 4
Endometriosis juga dapat berupa suatu keadaan dimana jaringan
endometrium yang masih berfungsi terdapat di luar kavum uteri dan di luar
miometrium (Prawirohardjo, 2008).
Definisi lain tentang endometriosis yaitu terdapatnya kelenjar-kelenjar dan
stroma endometrium pada tempat-tempat di luar rongga rahim. Implantasi
endometriosis bisa terdapat pada ovarium, ligamen latum, Cavum Douglasi, tuba
Fallopii, vagina, serviks, pada pusat, paru-paru, dan kelenjar-kelenjar limfa
(Rayburn, 2001).

Klasifikasi













Sumber : googe.wikipedia.com
Menurut topografinya endometriosis dapat digolongkan, yaitu sebagai
berikut:
1. Endometriosis Interna, yaitu endometriosis di dalam miometrium, lazim
disebut Adenomiosis.
2. Endometriosis Eksterna, yaitu endometriosis di luar uterus, lazim disebut
true endometriosis
Menurut letaknya endometriosis dapat digolongkan menjadi 3 golongan,
yaitu :

w w w . s a k t y a i r l a n g g a . w o r d p r e s s . c o m

Page 5
1. Endometriosis genetalia interna, yaitu endometriosis yang letaknya di dalam
uterus.
2. Endometriosis eksterna, yaitu endometriosis yang letaknya di dinding
belakang uterus, di bagian luar tuba dan di ovarium.
3. Endometriosis genetalia eksterna, yaitu endometriosis yang letaknya di pelvio
peritonium dan di kavum douglas, rekto sigmoid, kandung kencing.
Tingkatan Endometriosis
Secara garis besar endometriosis ini dibagi menjadi empat tingkatan
berdasarkan beratnya penyakit :
1. Stage 1 : Lesi besrsifat superficial, ada perlengketan di permukaan saja
2. Stage 2 : Adanya pelengketan sampai di daerah cul-de-sac
3. Stage 3 : Sama seperti stage 2, namun disertai endometrioma yang kecil pada
ovarium dan ada perlengketan juga yang lebih banyak.
4. Stage 4 : Sama seperti stage 3, namun disertai endometrioma yang besar dan
perlengketan yang sangat luas.

Etiologi
Ada beberapa faktor resiko penyebab terjadinya endometriosis, antara lain:
1. Wanita usia produktif ( 15 44 tahun )
2. Wanita yang memiliki siklus menstruasi yang pendek (<27 hari)
3. Menstruasi yang lama (>7 hari)
4. Spotting sebelum menstruasi
5. Peningkatan jumlah estrogen dalam darah
6. Keturunan : memiliki ibu yang menderita penyakit yang sama.
7. Memiliki saudara kembar yang menderita endometriosis
8. Terpapar Toksin dari lingkungan
9. Biasanya toksin yang berasal dari pestisida, pengolahan kayu dan produk
kertas, pembakaran sampah medis dan sampah-sampah perkotaan.

Manifestasi Klinis

w w w . s a k t y a i r l a n g g a . w o r d p r e s s . c o m

Page 6
Tanda dan gejala endometriosis antara lain :
1. Nyeri
a. Dismenore sekunder
b. Dismenore primer yang buruk
c. Dispareuni / nyeri ovulasi
d. Nyeri pelvis terasa berat dan nyeri menyebar ke dalam paha, dan nyeri
pada bagian bawah abdomen selama siklus menstruasi.
e. Nyeri akibat latihan fisik atau selama dan setelah hubungan seksual
f. Nyeri pada saat pemeriksaan dalam oleh dokter.
2. Perdarahan abnormal
a. Hipermenorea
b. Menoragia
c. Spotting sebelum menstruasi
d. Darah menstruasi yang bewarna gelap yang keluar sebelum menstruasi
atau di akhir menstruasi
3. Keluhan buang air besar dan buang air kecil
a. Nyeri sebelum, pada saat dan sesudah buang air besar
b. Diare, konstipasi dan kolik

Patofisiologi
Endometriosis dipengaruhi oleh faktor genetik. Wanita yang memiliki ibu
atau saudara perempuan yang menderita endometriosis memiliki resiko lebih
besar terkena penyakit ini juga. Hal ini disebabkan adanya gen abnormal yang
diturunkan dalam tubuh wanita tersebut.
Gangguan menstruasi seperti hipermenorea dan menoragia dapat
mempengaruhi sistem hormonal tubuh. Tubuh akan memberikan respon berupa
gangguan sekresi estrogen dan progesteron yang menyebabkan gangguan
pertumbuhan sel endometrium. Sama halnya dengan pertumbuhan sel
endometrium biasa, sel-sel endometriosis ini akan tumbuh seiring dengan
peningkatan kadar estrogen dan progesteron dalam tubuh.

w w w . s a k t y a i r l a n g g a . w o r d p r e s s . c o m

Page 7
Faktor penyebab lain berupa toksik dari sampah-sampah perkotaan
menyebabkan mikroorganisme masuk ke dalam tubuh. Mikroorganisme tersebut
akan menghasilkan makrofag yang menyebabkan resepon imun menurun yang
menyebabkan faktor pertumbuhan sel-sel abnormal meningkat seiring dengan
peningkatan perkembangbiakan sel abnormal.
Jaringan endometirum yang tumbuh di luar uterus, terdiri dari fragmen
endometrial. Fragmen endometrial tersebut dilemparkan dari infundibulum tuba
falopii menuju ke ovarium yang akan menjadi tempat tumbuhnya. Oleh karena
itu, ovarium merupakan bagian pertama dalam rongga pelvis yang dikenai
endometriosis.
Sel endometrial ini dapat memasuki peredaran darah dan limpa, sehingga sel
endomatrial ini memiliki kesempatan untuk mengikuti aliran regional tubuh dan
menuju ke bagian tubuh lainnya.
Dimanapun lokasi terdapatnya, endometrial ekstrauterine ini dapat
dipengaruhi siklus endokrin normal. Karena dipengaruhi oleh siklus endokrin,
maka pada saat estrogen dan progesteron meningkat, jaringan endometrial ini
juga mengalami perkembangbiakan. Pada saat terjadi perubahan kadar estrogen
dan progesteron lebih rendah atau berkurang, jaringan endometrial ini akan
menjadi nekrosis dan terjadi perdarahan di daerah pelvic.
Perdarahan di daerah pelvis ini disebabkan karena iritasi peritonium dan
menyebabkan nyeri saat menstruasi (dysmenorea). Setelah perdarahan,
penggumpalan darah di pelvis akan menyebabkan adhesi/perlekatan di dinding
dan permukaan pelvis. Hal ini menyebabkan nyeri, tidak hanya di pelvis tapi juga
nyeri pada daerah permukaan yang terkait, nyeri saat latihan, defekasi, BAK dan
saat melakukan hubungan seks.
Adhesi juga dapat terjadi di sekitar uterus dan tuba fallopii. Adhesi di uterus
menyebabkan uterus mengalami retroversi, sedangkan adhesi di tuba fallopii
menyebabkan gerakan spontan ujung-ujung fimbriae untuk membawa ovum ke
uterus menjadi terhambat. Hal-hal inilah yang menyebabkan terjadinya infertil
pada endometriosis.

w w w . s a k t y a i r l a n g g a . w o r d p r e s s . c o m

Page 8

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan yang dilakukan untuk membuktikan adanya endometirosis ini
antara lain:
1. Uji serum
a. CA-125 : sensitifitas atau spesifisitas berkurang
b. Protein plasenta 14 : mungkin meningkat pada endometriosis yang
mengalami infiltrasi dalam, namun nilai klinis tidak diperlihatkan.
c. Antibodi endometrial : sensitifitas dan spesifisitas berkurang
2. Teknik pencitraan
a. Ultrasound : dapat membantu dalam mengidentifikasi endometrioma
dengan sensitifitas 11%
b. MRI : 90% sensitif dan 98% spesifik
c. Pembedahan : melalui laparoskopi dan eksisi.

Penatalakasaan
Terapi yang dilakukan ditujukan untuk membuang sebanyak mungkin jaringan
endometriosis, antara lain:
1. Pengobatan Hormonal
Pengobatan hormaonal dimaksudkan untuk menghentikan ovulasi, sehingga
jaringan endometriosis akan mengalami regresi dan mati Obat-obatan ini
bersifat pseudo-pregnansi atau pseudo-menopause, yang digunakan adalah :
a. Derivat testosteron, seperti danazol, dimetriose,
b. Progestrogen seperti provera, primolut
c. GnRH
d. Pil kontrasepsi kombinasi.
Namun pengobatan ini juga mempunyai beberapa efek samping.
Obat Efek samping Obat
Pil KB Pembengkakan perut, nyeri payudara, Pil KB

w w w . s a k t y a i r l a n g g a . w o r d p r e s s . c o m

Page 9
kombinasi
estrogen-
progestin
peningkatan nafsu makan, pembengkakan
pergelangan kaki, mual, perdarahan diantara 2
siklus menstruasi, trombosis vena dalam
kombinasi
estrogen-
progestin
Progestin
Perdarahan diantara 2 siklus menstruasi,
perubahan suasana hati, depresi, vaginitis
atrofika
Progestin
Danazole
Penambahan berat badan, suara lebih berat,
pertumbuhan rambut, hot flashes, vagina
kering, pembengkakan pergelangan kaki,
kram otot, perdarahan diantara 2 siklus,
payudara mengecil, perubahan suasana hati,
kelainan fungsi hati, sindroma terowongan
karpal
Danazole
Agonis GnRH
Hot flashes, vagina kering, pengeroposan
tulang, perubahan suasana hati
Agonis GnRH

2. Pembedahan
Bisa dilakukan secara laparoscopi atau laparotomi, tergantung luasnya
invasi endometriosis.
Pada endometriosis sedang atau berat mungkin perlu dilakukan
pembedahan. Endometriosis diangkat sebanyak mungkin, yang seringkali
dilakukan pada prosedur laparoskopi. Pembedahan biasanya dilakukan pada
kasus berikut:
1. Bercak jaringan endometrium memiliki garis tengah yang lebih besar dari
3,8-5 cm
2. Perlengketan yang berarti di perut bagian bawah atau panggul
3. Jaringan endometrium menyumbat salah satu atau kedua tuba
4. Jaringan endometrium menyebabkan nyeri perut atau panggul yang
sangat hebat, yang tidak dapat diatasi dengan obat-obatan.

w w w . s a k t y a i r l a n g g a . w o r d p r e s s . c o m

Page 10
Untuk membuang jaringan endometrium kadang digunakan elektrokauter atas
sinar laser. Tetapi pembedahan hanya merupakan tindakan sementara, karena
endometriosis sering berulang.
3. Laparoscopy
Laparoscopy adalah prosedur operasi yang paling umum untuk
diagnosis dari endometriosis. Laparoscopy adalah prosedur operasi minor
(kecil) yang dilakukan dibawah pembiusan total, atau pada beberapa kasus-
kasus dibawah pembiusan lokal. Ia biasanya dilakukan sebagai suatu prosedur
pasien rawat jalan. Laparoscopy dilakukan dengan pertama memompa perut
dengan karbondioksida melalui sayatan kecil pada pusar.
Sebuah alat penglihat (laparoscope) yang panjang dan tips kemudian
dimasukan kedalam rongga perut yang sudah dipompa untuk memeriksa perut
dan pelvis. Endometrial implants kemudian dapat dilihat secara langsung.
Selama laparoscopy, biopsi-biopsi (pengeluaran dari contoh-contoh jaringan
kecil untuk pemeriksaan dibawah mikroskop) dapat juga dilakukan untuk
diagnosis. Adakalanya biopsi-biopsi yang diperoleh selama laparoscopy
menunjukan endometriosis meskipun tidak ada endometrial implants yang
terlihat selama laparoscopy.

Gambar 2. Penampakan pada laparoskopi
4. Eksisi

w w w . s a k t y a i r l a n g g a . w o r d p r e s s . c o m

Page 11
5. Biopsi endometrium
6. Ovarektomi (pengangkatan ovarium) dan histerektomi (pengangkatan rahim)
hanya dilakukan jika nyeri perut atau panggul tidak dapat dihilangkan dengan
obat-obatan dan penderita tidak ada rencana untuk hamil lagi. Setelah
pembedahan, diberikan terapi sulih estrogen. Terapi bisa dimulai segera setelah
pembedahan atau jika jaringan endometrium yang tersisa masih banyak, maka
terapi baru dilakukan 4-6 bulan setelah pembedahan.

Prognosis
Endometriosis pada umumnya terjadi pada usia reproduksi, walaupun
demikian telah ditemukan pula endometriosis pada usia remaja dan pasca
menopause. Endometriosis diperkirakan terjadi pada 10-15% wanita subur yang
berusia 25-44 tahun, 25-50% wanita mandul dan bisa juga terjadi pada usia
remaja. Endometriosis yang berat bisa menyebabkan kemandulan karena
menghalangi jalannya sel telur dari ovarium ke rahim.
Endometriosis bisa diturunkan dan lebih sering ditemukan pada keturunan
pertama (ibu, anak perempuan, saudara perempuan). Faktor lain yang
meningkatkan resiko terjadinya endometriosis adalah memiliki rahim yang
abnormal, melahirkan pertama kali pada usia diatas 30 tahun dan kulit putih.


w w w . s a k t y a i r l a n g g a . w o r d p r e s s . c o m

Page 12
WOC ENDOMETRIOSIS


Gangguan menstruasi
(hipermenorea dan
menoragia)
Gangguan sistem hormonal tubuh
Gangguan sekresi,
estrogen dan progesteron
Gangguan pertumbuhan sel
endometrium
Terbentuk fragmen
endometrial
Jaringan endometirum
tumbuh di luar uterus
(endometrial
extrauterine)
Faktor Genetik
Faktor eksternal : Toksik
Mikroorganisme
menghasilkan
makrofag
Respon imun
Pertumbuhan sel-sel
abnormal meningkat
Merangsang
perkembangbiakan sel-sel
abnormal meningkat
Mikroorganisme
masuk ke dalam
tubuh
ENDOMETRIOSIS
Dari infundibulum
tuba falopi
Ovarium
Masuk peredaran
darah & Lumpa
Mengikuti aliran
regional tubuh
Nekrosis jaringan
endometrial

w w w . s a k t y a i r l a n g g a . w o r d p r e s s . c o m

Page 13
(

























ENDOMETRIOSIS
MK : NYERI AKUT
Perdarahan di pelvic
Nyeri saat
menstruasi
(dysmenorea)
Penggumpalan
darah
Adhesi di
dinding pelvic
Iritasi peritonium
Nyeri koitus
Adhesi ke
uterus
Retroversi
uteri
Adhesi di
tuba fallopii
Gerakan
spontan
ujung-ujung
fimbriae
Gerakan
ovum ke
uterus lambat
MK : GANGGUAN
KONSEP DIRI
Infertil
Perdarahan
banyak
MK : ANEMIA
Sakit kepala,
pusing
Kelemahan
MK :
INTOLERANSI
AKTIFITAS
jumlah eritrosit, Fe
MK : GANGGUAN
POLA SEKSUAL
Ovum tertahan di
saluran ekstra
uterine

w w w . s a k t y a i r l a n g g a . w o r d p r e s s . c o m

Page 14
ASUHAN KEPERAWATAN

Pengkajian
1. Data demografi
Nama, tempat tanggal lahir, umur, jenis kelamin, agama/suku, warga negara,
bahasa yang digunakan, dan penanggung jawab yang meliputi nama, alamat,
dan hubungan dengan klien.
2. Riwayat Kesehatan Dahulu
Pernah terpapar agen toksin berupa pestisida, atau pernah ke daaerah
pengolahan katu dan produksi kertas, serta terkena limbah pembakaran
sampah medis dan sampah perkotaan.
3. Riwayat kesehatan sekarang
a. Dysmenore primer ataupun sekunder
b. Nyeri saat latihan fisik
c. Dispareun
d. Nyeri ovulasi
e. Nyeri pelvis terasa berat dan nyeri menyebar ke dalam paha, dan nyeri
pada bagian abdomen bawah selama siklus menstruasi.
f. Nyeri akibat latihan fisik atau selama dan setelah hubungan seksual
g. Nyeri pada saat pemeriksaan dalam oleh dokter
h. Hipermenorea
i. Menoragia
j. Nyeri sebelum, sesudah dan saat defekasi.
k. Konstipasi, diare, kolik
4. Riwayat kesehatan keluarga
Memiliki ibu atau saudara perempuan (terutama saudara kembar) yang
menderita endometriosis.
5. Riwayat obstetri dan menstruasi

w w w . s a k t y a i r l a n g g a . w o r d p r e s s . c o m

Page 15
Mengalami hipermenorea, menoragia, siklus menstruasi pendek, darah
menstruasi yang berwarna gelap yang keluar sebelum menstruasi atau akhir
menstruasi.
6. Review of system
Breath : Tachikardi
Blood : Anemia
Brain : -
Bladder : Oliguri
Bowel : Konstipasi
Bone : Nyeri
Reproduction system : Nyeri saat menstruasi dan koitus.

Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul :
1. Nyeri akut berhubungan dengan peluruhan endometrium dan endometriosis
saat menstruasi.
2. Syok hipovolemik berhubungan dengan perdarahan massif per vaginam saat
menstruasi
3. Gangguan pola seksual berhubungan dengan rasa nyeri saat melakukan
hubungan seksual
4. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan infertile

Intervensi
1. Nyeri akut berhubungan dengan peluruhan endometrium dan endometriosis
saat menstruasi.
Tujuan: setelah diberikan asuhan keperawatan nyeri klien akan berkurang.
Kriteria evaluasi:
a. Klien mengatakan nyeri berkurang
b. Klien tidak memegang punggung, kepala atau daerah
lainnya yang sakit, keringat berkurang.

w w w . s a k t y a i r l a n g g a . w o r d p r e s s . c o m

Page 16
Intervensi Rasional
1. Bantu pasien menemukan posisi
nyaman.
2. Bantu untuk melakukan tindakan
relaksasi, distraksi, massage.


3. Pantau/ catat karakteristik nyeri (
respon verbal, non verbal, dan
respon hemodinamik) klien.
4. Kaji lokasi nyeri dengan memantau
lokasi yang ditunjuk oleh klien.
5. Kaji intensitas nyeri dengan
menggunakan skala 0-10.



6. Kolaborasi pemberian analgetik (
ibuprofen, naproksen, ponstan) dan
Midol.
7. Tunjukan sikap penerimaan respon
nyeri klien dan akui nyeri yang klien
rasakan.

1. Memodifikasi reaksi fisik dan psikis
terhadap nyeri
2. Meningkatkan relaksasi, membantu
untuk memfokuskan perhatian, dan
dapat meningkatkan kemampuan
koping
3. Untuk mendapatkan indicator nyeri.


4. Untuk mendapatkan sumber nyeri.

5. Nyeri merupakan pengalaman
subyektif klien dan metode skala
merupakan metodeh yang mudah
serta terpercaya untuk menentukan
intensitas nyeri.
6. Analgetik tersebut bekerja
menghambat sintesa prostaglandin
dan midol sebagai relaksan uterus.
7. Ketidakpercayaan orang lain
membuat klien tidak toleransi
terhadap nyeri sehingga klien
merasakan nyeri semakin meningkat.

2. Syok hipovolemik berhubungan dengan perdarahan massif per vaginam saat
menstruasi.
Tujuan: Perdarahan tidak menyebabkan syok hipovolemik.
Kriteria hasil:
a. Menunjukan perfusi yang adekuat

w w w . s a k t y a i r l a n g g a . w o r d p r e s s . c o m

Page 17
b. Sesuai dengan bukti tanda vital stabil
c. Pengisian kapiler baik
d. Hb : 12-16 gr/dl.
Intervensi Rasional
Mandiri:
1. Anjurkan pada klien untuk bedrest
2. Tinggikan kaki pasien (posisi syok)

3. Pantau tanda vital, palpasi nadi perifer
Mandiri:
1. Menghemat pengguaan oksigen dan energi
2. Agar aliran darah di daerah ekstremitas bisa
mengalir ke arah jantung
3. Membantu mengidentifikasi indikasi awal
shock
Kolaborasi:
1. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian
cairan IV : RL, ringer acetat, normosal.
2. Kolaborasi untuk penambahan darah

3. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk pemenuhan
nutrisi

4. Awasi pemeriksaan laboratorium, misalnya
Hb/Ht dan jumlah SDM, GDA
Kolaborasi:
1. Mengembalikan cairan elektrolit.

2. Mengembalikan volume plasma dan
tekanan osmotik.
3. Memenuhi kebutuhan nutrisi yang
terhambat karena kekurangan sel darah
merah.
4. Pemeriksaan laboratorium dapat membantu
menentukan rencana intervensi dalam
penentuan pengobatan yang diperlukan
klien.

3. Gangguan pola seksual berhubungan dengan nyeri saat berhubungan seksual
Tujuan : Klien dapat melakukan hubungan seksual dengan nyeri terantisipasi
Kriteria hasil: penurunan skala nyeri kurang dari 5 dari rentang 1-10
Intervensi Rasional
1. Kaji riwayat seksual dalam kehidupan
pasien dan periksa hubungan dengan
1. Mengkaji riwayat seksual klien digunakan
untuk menetukan tindakan keperawatan.

w w w . s a k t y a i r l a n g g a . w o r d p r e s s . c o m

Page 18
pasangan seksualnya
2. Berikan informasi terhadap berubahnya pola
seksualitas akibat penyakit yang diderita
3. Perawat berkolaborasi dengan terapis
dengan perencanaan modifikasi perilaku
untuk membantu pasien yang berhasrat
menurunkan perilaku seksual yang berbeda
4. Health education pada klien dan
pasangannya

2. dengan memberikan informasi pasien dapat
mengetahui penyakitnya
3.Terapis dapat membantu memulihkan
kebiasaan klien serta melatihnya untuk kembali
normal.

4.Memposiskan klien dan keluarga sebagai
support system

4. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan infertil
Tujuan: setelah diberikan asuhan keperawatan citra diri klien akan meningkat.
Kriteria evaluasi:
a. Klien mengatakan tidak malu, merasa berguna, penampilan klien rapi,
b. Klien menunjukkan sikap menerima apa yang sedang terjadi.
Intervensi Rasional
1. Bina hubungan saling percaya dengan
klien.

2. Dorong klien untuk mengekspresikan
perasaan, pikiran, dan pandangan
tentang dirinya.
3. Diskusikan dengan system pendukung
klien tentang perlunya menyampaikan
nilai dan arti klien bagi mereka.
4. Gali kekuatan dan sumber-sumber yang
ada pada klien dan dukung kekuatan
tersebut sebagai aspek positif.

1. klien dengan mudah mengungkapkan
masalahnya hanya kepada orang yang
dipercayainya.
2. meningkatkan kewaspadaan diri klien
dan membantu perawat dalam membuat
penyelesaian.
3. penyampaian arti dan nilai klien dari
system pendukung membuat klien
merasa diterima.
4. mengidentifikasi kekuatan klien dapat
membantu klien berfokus pada
karakteristik positif yang mendukung
keseluruhan konsep diri.

w w w . s a k t y a i r l a n g g a . w o r d p r e s s . c o m

Page 19
5. Informasikan dan diskusikan dengan
jujur dan terbuka tentang pilihan
penanganan gangguan menstruasi
seperti ke klinik kewanitaan, dokter
ahli kebidanan.
5. Jujur dan terbuka dapat mengontrol
perasaan klien dan informasi yang
diberikan dapat membuat klien mencari
penanganan terhadap masalah yang
dihadapinya.





w w w . s a k t y a i r l a n g g a . w o r d p r e s s . c o m

Page 20
STUDI KASUS
Contoh Kasus
Ny.C sudah menikah, pada usia 24 tahun dan mempunyai anak usia 1,5
tahun. Klien mengeluh nyeri pada daerah kuadran kiri bawah pada saat menstruasi.
Sekarang klien menggunakan alat kontrasepsi IUD, menstruasinya biasanya
banyak dari hari pertama sampai hari keempat, setiap hari klien ganti pembalut
lebih dari lima kali.
Klien menceritakan bahwa selama kehamilan klien tidak pernah merasakan
nyeri. Rasa nyeri saat menstruasi dimulai ketika klien berusia sekitar 18 tahun,
klien tidak merokok dan tidak mengkonsumsi alkohol. Dari dokter klien di
diagnosa endometriosis.

Pengkajian
a. Identitas
Nama: Ny. C
Umur: 24 tahun
Jenis kelamin: P
Alamat: Surabaya
Pekerjaan: Ibu rumah tangga
b. Keluhan Utama
Klien mengeluh nyeri pada daerah kuadran kiri bawah pada saat menstruasi.
c. Riwayat penyakit sekarang
Menstruasi yang dialami klien biasanya banyak dari hari pertama sampai hari
keempat, setiap hari klien ganti pembalut lebih dari lima kali.
d. Riwayat kehamilan dan kelahiran
Klien menceritakan bahwa selama kehamilan klien bebas dari rasa
nyeri. Rasa nyeri saat menstruasi dimulai ketika klien berusia sekitar 18
tahun.
e. Riwayat penyakit lalu
Tidak ada

w w w . s a k t y a i r l a n g g a . w o r d p r e s s . c o m

Page 21
f. Review of system
Breath : Tachikardi
Blood : Anemia
Brain : -
Bladder : Oliguri
Bowel : Konstipasi
Bone : Nyeri
Reproduction system : Nyeri saat menstruasi dan koitus.

Analisa Data
No. Data Etiologi Masalah Keperawatan
1. DS:
Klien mengeluh sakit pada
perut bagian kiri bawah
pada saat menstruasi
DO:
Klien memegangi perut
bagian kiri bawahnya
sambil menunjukan ekspresi
kesakitan
Endometriosis

Peningkatan respon thd FH
dan LSH

Menstruasi

Kontraksi otot-otot rahim
Nyeri
2. DS:
Menstruasi yang dialami
klien biasanya banyak dari
hari pertama sampai hari
keempat
DO:
Setiap hari klien ganti
pembalut lebih dari empat
kali
Endometriosis

Pendarahan per vagina masif
saat menstruasi


Syok hipovolemik

w w w . s a k t y a i r l a n g g a . w o r d p r e s s . c o m

Page 22
3. DS: Klien mengaku nyeri
saat berhubungan seksual
dengan suaminya.
DO:
Endometriosis

Nyeri pada pelvis
Gangguan pola seksual
4. DS : Klien mengaku rendah
diri karena tidak bisa hamil.
DO: Klien murung, tidak
ada kontak mata dan sering
menangis.


Endometriosis

Adhesi di tuba fallopii

Gerakan spontan ujung-ujung
fimbriae

Gerakan ovum ke uterus lambat

Ovum tertahan di saluran ekstra
uterine

Infertil
Gangguan citra tubuh

Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul :
1. Nyeri akut berhubungan dengan peluruhan endometrium dan endometriosis
saat menstruasi.
2. Syok hipovolemik berhubungan dengan perdarahan massif pervaginam saat
menstruasi.
3. Gangguan pola seksual berhubungan dengan rasa nyeri saat melakukan
hubungan seksual
4. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan infertile

w w w . s a k t y a i r l a n g g a . w o r d p r e s s . c o m

Page 23

Intervensi
1. Nyeri akut berhubungan dengan peluruhan endometrium dan endometriosis
saat menstruasi.
Tujuan: setelah diberikan asuhan keperawatan nyeri klien akan berkurang.
Kriteria evaluasi:
a. Klien mengatakan nyeri berkurang
b. Klien tidak memegang punggung, kepala atau daerah lainnya yang
sakit, keringat berkurang.
Intervensi Rasional
1. Bantu pasien menemukan posisi nyaman.

2. Bantu untuk melakukan tindakan relaksasi,
distraksi, massage.

3. Pantau/ catat karakteristik nyeri ( respon
verbal, non verbal, dan respon hemodinamik)
klien.
4. Kaji lokasi nyeri dengan memantau lokasi
yang ditunjuk oleh klien.
5. Kaji intensitas nyeri dengan menggunakan
skala 0-10.


6. Kolaborasi pemberian analgetik ( ibuprofen,
naproksen, ponstan) dan Midol.

7. Tunjukan sikap penerimaan respon nyeri
klien dan akui nyeri yang klien rasakan.
1. Memodifikasi reaksi fisik dan psikis
terhadap nyeri
2. Meningkatkan relaksasi, membantu
untuk memfokuskan perhatian, dan
dapat meningkatkan kemampuan koping
3. Untuk mendapatkan indicator nyeri.


4. Untuk mendapatkan sumber nyeri.

5. Nyeri merupakan pengalaman subyektif
klien dan metode skala merupakan
metodeh yang mudah serta terpercaya
untuk menentukan intensitas nyeri.
6. Analgetik tersebut bekerja menghambat
sintesa prostaglandin dan midol sebagai
relaksan uterus.
7. Ketidakpercayaan orang lain membuat
klien tidak toleransi terhadap nyeri

w w w . s a k t y a i r l a n g g a . w o r d p r e s s . c o m

Page 24
sehingga klien merasakan nyeri semakin
meningkat.

2. Syok hipovolemik berhubungan dengan perdarahan massif per vaginam saat
menstruasi
Tujuan: Perdarahan tidak menyebabkan syok hipovolemik
Kriteria hasil:
a. Menunjukan perfusi yang adekuat
b. Sesuai dengan bukti tanda vital stabil
c. Pengisian kapiler baik
d. Hb : 12-16 gr/dl.
Intervensi Rasional
Mandiri:
1. Anjurkan pada klien untuk bedrest
2. Tinggikan kaki pasien (posisi shyok)

3. Pantau tanda vital, palpasi nadi perifer
Mandiri:
1. Menghemat pengguaan oksigen dan energi
2. Agar aliran darah di daerah ekstremitas bisa
mengalir ke arah jantung
3. Membantu mengidentifikasi indikasi awal
shock
Kolaborasi:
4. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian
cairan IV : RL, ringer acetat, normosal.
5. Kolaborasi untuk penambahan darah

6. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk pemenuhan
nutrisi

7. Awasi pemeriksaan laboratorium, misalnya
Hb/Ht dan jumlah SDM, GDA
Kolaborasi:
4. Mengembalikan cairan elektrolit.

5. Mengembalikan volume plasma dan
tekanan osmotik.
6. Memenuhi kebutuhan nutrisi yang
terhambat karena kekurangan sel darah
merah.
7. Pemeriksaan laboratorium dapat membantu
menentukan rencana intervensi dalam
penentuan pengobatan yang diperlukan

w w w . s a k t y a i r l a n g g a . w o r d p r e s s . c o m

Page 25
klien.

3. Gangguan pola seksual berhubungan dengan nyeri saat berhubungan seksual
Tujuan : Klien dapat melakukan hubungan seksual dengan nyeri terantisipasi
Kriteria hasil: penurunan skala nyeri kurang dari 5 dari rentang 1-10
Intervensi Rasional
1. Kaji riwayat seksual dalam kehidupan
pasien dan periksa hubungan dengan
pasangan seksualnya
2. Berikan informasi terhadap berubahnya pola
seksualitas akibat penyakit yang diderita
3. Perawat berkolaborasi dengan terapis
dengan perencanaan modifikasi perilaku
untuk membantu pasien yang berhasrat
menurunkan perilaku seksual yang berbeda
4. Health education pada klien dan
pasangannya
1. Mengkaji riwayat seksual klien digunakan
untuk menetukan tindakan keperawatan.

2. Dengan memberikan informasi pasien dapat
mengetahui penyakitnya.
3. Terapis dapat membantu memulihkan
kebiasaan klien serta melatihnya untuk
kembali normal.

4. Memposiskan klien dan keluarga sebagai
support system

4. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan infertil
Tujuan: setelah diberikan asuhan keperawatan citra diri klien akan meningkat.
Kriteria evaluasi:
c. Klien mengatakan tidak malu, merasa berguna, penampilan klien rapi,
d. Klien menunjukkan sikap menerima apa yang sedang terjadi.
Intervensi Rasional
1. Bina hubungan saling percaya dengan klien.


2. Dorong klien untuk mengekspresikan
1. klien dengan mudah mengungkapkan
masalahnya hanya kepada orang yang
dipercayainya.
2. meningkatkan kewaspadaan diri klien

w w w . s a k t y a i r l a n g g a . w o r d p r e s s . c o m

Page 26
perasaan, pikiran, dan pandangan tentang
dirinya.
3. Diskusikan dengan system pendukung klien
tentang perlunya menyampaikan nilai dan arti
klien bagi mereka.
4. Gali kekuatan dan sumber-sumber yang ada
pada klien dan dukung kekuatan tersebut
sebagai aspek positif.

5. Informasikan dan diskusikan dengan jujur
dan terbuka tentang pilihan penanganan
gangguan menstruasi seperti ke klinik
kewanitaan, dokter ahli kebidanan.
dan membantu perawat dalam membuat
penyelesaian.
3. penyampaian arti dan nilai klien dari
system pendukung membuat klien
merasa diterima.
4. mengidentifikasi kekuatan klien dapat
membantu klien berfokus pada
karakteristik positif yang mendukung
keseluruhan konsep diri.
5. Jujur dan terbuka dapat mengontrol
perasaan klien dan informasi yang
diberikan dapat membuat klien mencari
penanganan terhadap masalah yang
dihadapinya.



w w w . s a k t y a i r l a n g g a . w o r d p r e s s . c o m

Page 27
DAFTAR PUSTAKA

Alam, Syamsir dan Hardibroto Iwan. 2007. Endometriosis. Gramedia Pustaka
Utama: Jakarta

Bobak. Lowdermik. Jensen. 2005. Buku Ajar Keperawatan Maternitas. Jakarta :
EGC. Disitasi dari http://asuhan-keperawatan-
patriani.blogspot.com/2008/12/ulcus-endometriosis .html

Doenges, Marilynn.E.2001.Rencana Keperawatan. Jakarta: EGC. Disitasi dari
http://asuhan-keperawatan-patriani.blogspot.com/2008/12/ulcus-
endometriosis .html

Scott, R James, dkk. 2002. Buku Saku Obstetri dan Gynekologi. Widya Medica:
Jakarta

Nuary, derry. 2011. Asuhan Keperawatan Endometriosis. http://asuhan-kebidanan-
keperawatan.blogspot.com/2011/03/askep-endometriosis_1709.html.
Diakses pada tanggal 10 Oktober 2011

Hidayat. 2009. Askep endometriosis.
http://hidayat2.wordpress.com/2009/04/10/askep-endometriosis/. Diakses
pada tanggal 8 Oktober 2011

Anonim. 2009. Endometriosis. http://askep-
ners.blogspot.com/2009/02/endometriosis.html. diakses pada tanggal 8
Oktober 2011

Anonim. 2010. Endometriosis. http://id.wikipedia.org/wiki/Endometriosis. Diakses
pada tanggal 8 Oktober 2011